Friday, December 11, 2009

Menurut Papa, Masa Depan Yang Ada Harus Dijalani Dengan Tenang dan Dengan Tetap Berpikiran Rasional

Sebuah pendapat putri Pdt. Ioanes Rakhmat

oleh Areta S. Kh. Rakhmat
Siswi kelas 3 SMP Penabur, Jakarta

Ayah kami, Ioanes Rakhmat, adalah sosok seorang ayah yang tegas dalam segala sesuatunya. Orangnya rajin, tekun dan sudah berusaha bekerja mencari nafkah sejak beliau masih duduk di bangku sekolah SMA dulu. Beliau adalah orang yang cerdas, berpikiran luas, kritis, dan tak suka dibatasi dalam pemikirannya. Papa tidak sungkan dan sangat gigih dan berani dalam membela pikirannya demi, katanya, kemajuan masyarakat dan demi kebenaran yang kata papa tidak pernah bisa dikuasai seorang pun sepenuh-penuhnya.

Papa memiliki banyak prestasi sejak muda dan saat ini telah memperoleh gelar kesarjanaan yang tinggi. Hal tersebut sangatlah mengagumkan. Kami sangat kagum dengan pikirannya yang luas. Kami sungguh mengetahui bahwa pikirannya itu benar, dan kami percaya bahwa yang dilakukan atau ditulis oleh papa kami hanyalah apa yang dianggapnya benar dan tidak mengada-ada. Kami mendukungnya dalam hal itu, dan kami tahu bahwa semua itu benar dari cerita dan wejangan beliau berpanjang lebar, bukan satu atau dua kali, yang disampaikannya teristimewa kalau kami sedang dalam perjalanan pulang dari kota Bandung yang kadang-kadang kami kunjungi dalam satu atau dua bulan sekali. Kami sangat kagum atas pemikirannya yang luas yang suka dibeberkannya kepada kami. Menurut papa banyak sekali hal baik di dunia ini yang sebenarnya dapat dicapai jika semua orang memiliki ilmu pengetahuan yang luas serta cenderung menjalani kehidupan dengan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebaikan.

Menurut beliau, seharusnya segala yang tertera dalam Alkitab itu, jika merupakan fakta, harus bisa ditumpukan pada ilmu pengetahuan. Jadi, bukan hanya sekadar suatu kepercayaan belaka yang tak masuk akal jika dipikirkan dengan logika. Seorang Kristen memang berpegang pada Alkitab sebagai pedomannya, namun menurutnya tak semua hal dalam Alkitab dapat diterima. Ada banyak hal di dalamnya yang memang harus dipikirkan kembali dengan menggunakan aturan logika. Menurut saya itulah cara berpikir seorang pemikir seperti papa. Namun bukan berarti semua orang akan dapat dan harus ikut berpikir sesuai dengan pandangan papa itu. Seorang Kristen sudah sepatutnya mengimani apa yang tertera dalam Alkitab jika apa yang tertera di situ berguna buat kehidupan manusia. Tidak hanya dalam agama Kristen, dalam agama-agama lain yang memiliki Kitab Suci yang berbeda pun seharusnya demikian. Dalam bermasyarakat pun kita tidak boleh membeda-bedakan orang-orang yang berbeda agama, karena sesungguhnya sebagai manusia kita semua ini sama. Menurut saya, tak ada agama yang salah, juga tak ada agama yang paling benar. Masing-masing umat beragama mempunyai satu Allah sendiri yang mereka yakini, yang tidak sama dengan Allah umat beragama lain.

Roda kehidupan memang selalu berputar. Tak mungkin seseorang bisa berada di puncak terus sepanjang kehidupannya. Prinsip itulah yang diyakini dan diterapkan papa dalam menjalani kehidupannya. Jadi, kalaupun sekarang ini beliau harus pensiun dari gereja, hal tersebut tak dijadikannya sebagai suatu beban ataupun suatu hal yang ditakuti. Menurut papa, masa depan yang ada harus dijalani dengan tenang dan dengan tetap berpikiran rasional. Saya menyetujuinya. Demikian pendapat saya untuk menutup tulisan pendek ini. Semoga papa dan warga gereja suka membacanya.

Thursday, December 10, 2009

Kita Membutuhkan Lebih Banyak Lagi Sosok seperti Pak Ioanes Sehingga Keberagamaan Yang Kita Jalani Akan Makin Lebih Cerdas, Kritis dan Dinamis . . .

Sebuah opini pribadi tentang Pak Ioanes Rakhmat

oleh Noviany Lucian Thenu

Anggota Gereja Kemah Abraham


Ketika saya bertemu pertama kali dengan Pak Ioanes Rakhmat di acara kelas midrash Gereja Kemah Abraham asuhan Abuna Jusuf Roni , saya melihatnya sebagai suatu sosok yang tidak takut untuk berpikir kritis dan seorang yang konsisten dalam pemikiran. Sosok pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan di dalam mendorong jemaat untuk lebih membuka wawasan dalam berpikir dan makin bertumbuh dalam iman. Menurut saya, jemaat yang bertumbuh adalah jemaat yang bisa berpikir kritis dan bisa menunjukkan jati diri sebagai orang Kristen melalui perbuatan-perbuatan nyata di tengah masyarakat yang majemuk di negeri Indonesia dewasa ini.


Salah satu pandangan Pak Ioanes yang membuat saya tertarik adalah bahwa kekristenan Yahudi perdana perlu dikenal dengan benar oleh gereja-gereja di Indonesia sekarang ini. Kenyataannya adalah selama ini informasi dan data mengenai Judeo-Christianity susah ditemukan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Dalam sepuluh kali tatap muka kelas midrash yang di bawakan oleh Pak Ioanes, yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, informasi dan analisis teks-teks kuno tentang kekristenan Yahudi telah diberikannya dengan sistimatis dan mencerahkan. Hemat saya, Pak Ioanes telah berhasil memberi banyak pemaparan yang sangat menarik mengenai konflik-konflik yang terjadi antara para pembela kekristenan Yahudi awal yang mempertahankan Taurat Musa dan Rasul Paulus yang memberitakan suatu injil lain yang membebaskan orang Kristen dari Taurat Musa.


Semua pengetahuan yang saya dapat tentang kekristenan Yahudi perdana selama pertemuan sepuluh kali itu membuat saya menginsafi bahwa sejak awalnya gereja Kristen itu memang majemuk, tidak satu warna dan tidak satu aliran, dan karenanya tidak ada satu aliran pun yang boleh mengklaim diri sebagai aliran yang terbenar.

Melalui Pak Ioanes, saya makin terbina untuk menjadi seorang Kristen yang tidak fanatik, beriman membuta, tetapi menjadi seorang Kristen yang toleran terhadap perbedaan berbagai macam pokok teologis, sambil terus-menerus membentuk jati diri yang makin dewasa yang dicirikan oleh ketenangan bersikap dan keterbukaan pikiran.
Itulah hal berguna yang saya telah terima dari Pak Ioanes, meskipun saya belum lama mengenalnya, sejak beliau akrab dengan Abuna Jusuf Roni.

Walaupun tidak dapat dipungkiri juga, kadang kala pemikiran-pemikiran yang dipaparkan Pak Ioanes cukup menggoncangkan kehidupan beragama seseorang, khususnya seseorang yang ingin bertahan mati-matian dalam kepercayaannyan yang lama.

Saat ini dan untuk masa yang akan datang, kita membutuhkan lebih banyak lagi sosok seperti Pak Ioanes di Indonesia, sehingga keberagamaan yang kita jalani akan makin lebih cerdas, kritis dan dinamis.


Kiranya Tuhan selalu memberikan hikmat dan kebijaksanaan kepada Pak Ioanes Rakhmat sehingga di masa yang akan datang pemikiran-pemikirannya bukan saja membuka cakrawala dan memberikan pencerahan kepada umat Kristen, tetapi juga bisa memperkokoh fondasi-fondasi iman yang dinamis.


Selamat memasuki masa emeritasi bagi Pak Ioanes.

Tuesday, December 8, 2009

Bagi Pak Io, Iman Itu Harus Dikoreksi Oleh Akal Budi…. Mengapa?

Sebuah opini seorang sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

oleh Hendi Rusli,
mahasiswa STT Cipanas


Rabu siang tanggal 7 Oktober 2009 yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke HP saya. Kaget sekaligus bangga membaca sebuah SMS dari seorang sahabat yang saya kagumi. Dalam pesan itu, Pak Io (begitu orang menyapanya sebagai tanda keakraban) meminta saya untuk menulis sebuah opini singkat tentangnya untuk buku acara kebaktian emeritasi beliau pada 23 November 2009 yang akan datang. Dengan senang hati saya terima tawaran beliau.

Kurang lebih sudah satu setengah tahun saya mengenal Pak Io. Dia dikenal sebagai seorang pemikir Kristen liberal, humanis, dan ahli tafsir Perjanjian Baru. Usia persahabatan yang kami jalani dapat dikatakan masih relatif muda. Namun, sungguh pun demikian kami adalah dua orang teman yang selalu berbagi, saling percaya dan juga saling menyediakan waktu.

Beberapa tahun sebelum berkenalan dengan Pak Io, saya telah banyak membaca tulisan-tulisan beliau. Baik dalam jurnal-jurnal teologi, artikel-artikel maupun dalam tulisan-tulisannya di beberapa blognya. Beliau memang sudah cukup dikenal sebagai seorang penerjemah buku dan juga seorang penulis. Pemikiran-pemikiran beliau begitu tajam, sistematis dan kritis. Semua orang yang mau menggunakan nalarnya pasti senang membaca tulisannya.

Namun di sisi lain, banyak orang yang berpandangan negatif tentang beliau yang dianggap mereka sebagai seorang yang liberal, tidak beriman, kontroversial dsb. Menurut hemat saya, mereka yang beranggapan demikian sesungguhnya tidak mengenal Pak Io. Siapa yang dapat mengukur iman seseorang? Dan apakah pengalaman iman orang lain harus sama dengan pengalaman iman saya? Atau dengan pengalaman iman Saudara? Tentunya tidak! Bagi Pak Io, iman itu harus dikoreksi oleh akal budi…. Mengapa? Karena iman seseorang dibentuk oleh dogma-dogma keagamaan yang dapat salah, yang seringkali mengkotak-kotakkan, memenjarakan pikiran dan eksklusif, menyingkirkan yang berbeda. Akal budi dapat mengoreksi dan menuntun iman yang membabi-buta, sempit, dan merasa paling unggul, kepada iman yang inklusif, pluralis, terbuka dan universal. Dan Pak Io sudah mencapai tingkat iman yang sedemikian itu.

Selama saya mengenal dan bersahabat dengan Pak Io, relasi kami satu sama lain sangat baik. Kependetaan beliau tidak nampak dalam suatu kerangka yang formalistik dan juga tidak dipandangnya sebagai suatu jabatan yang sakral, sebab baginya yang sakral hanya Tuhan seorang; sementara kebanyakan orang membanggakan jabatan kependetaan ini. Gelar doktor dan jabatan kependetaannya tidak menjadi jarak bagi relasi kami, meskipun saya berstatus sebagai seorang mahasiswa di STT Cipanas. Dia menganggap saya setara dengannya, menghargai pendapat saya dan menggembalakan nalar saya supaya saya dapat berpikir kritis.

Pemahaman beliau mengenai dogma-dogma yang saya pegang selama ini begitu berbeda. Hal ini sungguh memberi banyak pembaharuan dan pencerahan bagi kehidupan beriman dan bernalar saya. Banyak di antara tulisan-tulisan beliau telah dan sedang mengubah paradigma saya dalam berteologi. Mungkin juga paradigma banyak orang. Kita pun seharusnya perlu belajar seperti beliau, berani berpikir dan menerobos batas-batas dogma yang seringkali mengekang dan memenjarakan nalar kita. Gereja dapat berkembang, dinamis dan terbuka terhadap perubahan dan perkembangan zaman jika para pemimpinnya melakukan hal yang sama.

Akhir kata saya mengucapkan selamat kepada Pak Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat yang telah menyelesaikan tugas dan pelayanan strukturalnya di Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat. Semoga pelayanan Bapak selanjutnya dan seterusnya di manapun dan kapanpun dapat menjadi berkat, dirasakan dan membekas pada orang-orang yang Bapak tantang untuk terus-menerus berpikir kritis. Harapan saya, Bapak dapat mengembangkan terus pemikiran-pemikiran Bapak yang mencerahkan untuk menjadikan makin banyak orang (Kristen dan non-Kristen) cerdas beragama, kritis dan progresif. Kiranya Tuhan Memberkati.

Monday, December 7, 2009

Pak Ioanes ... Hidup dalam Ketegangan antara Fides dan Saeculum

Sebuah opini seorang rekan tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

Budiman Heryanto,
Pendeta GKI dan pembaca blog-blog Ioanes Rakhmat


Saya pertama kali mengenal Pak Ioanes Rakhmat (IR) waktu masih di SMA lewat majalah Kairos. Saya rutin meminjam majalah itu dari seorang penatua di GKI Guntur Bandung, tempat saya berjemaat. Saya tertarik pada pemikiran Pak IR. Waktu itu dia sedang terlibat debat dengan seorang warga GKI di kolom Surat Pembaca. Artikel serialnya tentang Yesus sejarah selalu saya ikuti. Walau dengan banyak pertanyaan di kepala.


Keinginan saya menempuh studi teologi semakin terdorong oleh pandangan-pandangan Pak IR. Tapi, ketika saya masuk di tahun 1998 ke suatu sekolah teologi di Jakarta, Pak IR sedang studi di Belanda. Karena itu saya tidak menikmati pengalaman mengeksplorasi teologi biblika bersama Pak IR. Ada kalangan yang menyebut Pak IR seperti Rudolf Bultmann; seorang teolog besar kebangsaan Jerman yang dianggap liberal. Orang mudah menganggap seseorang liberal bahkan sesat tanpa pernah memeriksa secara utuh pemikirannya. Seperti Bultmann yang kadung dicap liberal karena upaya demitologisasi yang disalahpahami sebagai “penghilangan yang sakral, yang misteri, dalam pembacaan Alkitab”. Saya berpikir, pasti GKI bangga memiliki seorang pendeta seperti diri Pak IR. Setahu saya, hanya ada 2 orang penekun kajian Yesus sejarah di Indonesia, yakni Romo Martin Harun, dan Pak IR.


Perjumpaan tatap muka kali pertama saya dengannya terjadi saat dia kembali dari Belanda sekitar tahun 2002. Dia banyak diam dan kami belum saling mengenal. Baru pada tahun 2005 setelah dia merampungkan disertasi doktornya, kami saling mengenal. Lewat disertasinya yang unik bagi saya, saya makin mengenal Pak IR. Dia menantang dan mematahkan teori John Dominic Crossan, pakar Yesus sejarah kenamaan dari Amerika Serikat dan salah seorang pendiri komunitas Jesus Seminar.


Belakangan ini, Pak IR aktif menjadi penerjemah, pembicara dan penulis. Ada tiga blog pribadi di Internet yang dia bangun; dan satu blog kolektif. Blog pertama, The Freethinker Blog, dibangun untuk memublikasikan pemikirannya dalam bidang biblika dan teks-teks keagamaan di luar kanon Alkitab. Blog kedua, The Critical Voice Blog, didirikan untuk memublikasi pemikiran dan keprihatinannya yang lebih meluas di bidang-bidang keagamaan, sosial, politik, sains, seni, dst. Blog ketiga, The Jesus Blog, dia bangun atas dorongan banyak pihak yang ingin mendalami kajian Yesus sejarah dan kajian Yesus kontekstual. Yang terakhir, dia bangun sebuah blog kolektif, The Countertheocracy Blog, yang berhasil menggalang duapuluhan cendekiawan Indonesia yang menghendaki Indonesia tetap majemuk dan mengusung Pancasila dan demokrasi dan bersifat non-teokratis.

Ada beberapa tulisan Pak IR yang mempertajam kesadaran orang tentang politik agama yang sedang dijalankan lewat berbagai produk hukum di Indonesia belakangan ini. Pak IR meluaskan visi dan pokok penelitiannya, dari kajian biblika, ke kajian Yesus sejarah, lalu ke kajian kekristenan Yahudi perdana sampai ke kajian politik dan kemanusiaan. Hal ini mengingatkan saya pada pemikiran seorang teolog besar Katolik kebangsaan Belgia, Edward Schillebeeckx, yang menyatakan bahwa teologi adalah suatu janji dan ikatan kepada kehidupan, kepada semua yang menjerit demi kehidupan.


Dengan ini semua, apa yang Pak IR cari? Rupanya dia mencoba menemukan aksentuasi iman dalam ranah sekular, atau malah sebaliknya, menemukan yang sekular dalam ranah keimanan. Seperti ditelaah oleh Charles Taylor, dalam The Secular Age (2008), dalam masyarakat sekular agama tidak pernah benar-benar hilang. Yang terjadi adalah masyarakat sekular hanya melakukan represi terhadap agama. Agama mengendap di bawah permukaan. Teori Sigmund Freud mengenai alam bawah sadar sangat relevan untuk menjelaskan hal ini. Agama itu seperti mimpi buruk yang ditekan ke alam bawah sadar sekularisme. Tetapi pengalaman-pengalaman yang direpresi ke alam bawah sadar sesungguhnya tidak benar-benar terkungkung. Ada momen-momen tertentu di mana pengalaman-pengalaman itu bocor dan mencuat ke luar. Represi terhadap alam bawah sadar selalu merupakan represi yang gagal. Agama yang dipinggirkan dan direpresi selalu menemukan berbagai cara untuk tampil kembali ke permukaan. Tetapi sesuatu yang telah mengalami peminggiran dan represi itu tidak muncul kembali dalam bentuk yang benar-benar sama dengan bentuk sebelumnya. Trend beragama yang muncul dalam era globalisasi ini adalah sesuatu yang lain dari agama sebelumnya. Jonathan Benthall menyebut semua hal ini dengan istilah “para-religion”. Para-religion adalah suatu cara baru presentasi doktrin agama; seolah-olah presentasi ini mengandung karakter sebuah agama tradisional tetapi sesungguhnya berbeda. Barangkali Pak IR memang sedang menggeluti para-religion ini.


Pak IR, meskipun tampil tanpa selubung sebagai seorang pemikir liberal, bagaimana pun juga dia adalah seorang gembala gereja. Dia hidup dalam ketegangan antara fides dan saeculum; antara iman dan dunia. Tidak menampik dunia, bahkan memperhitungkannya dengan serius, tetapi tidak juga melepaskan ranah “misteri” dari iman itu sejauh dia memandang misteri ini ada. Selamat memasuki masa emeritasi, Pak IR. Selamat menggembalakan umat dan dunia “dalam kemasan yang baru”.

Saturday, December 5, 2009

Bagi Pak Ioanes… Akal Budi Adalah Sebuah Karunia Yang Tidak Boleh Disia-siakan!

Sebuah Opini seorang Pendeta GKP Rangkasbitung tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

Oleh Pdt. Demianus Nataniel

Ketika saya tengah menemani anak kami yang sedang berlatih badminton, ada sebuah SMS masuk ke HP saya, yang ternyata berasal dari Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, seorang pendeta yang saya kenal antara lain melalui tulisan-tulisannya baik yang dipublikasikan lewat surat kabar, majalah, buku-buku, maupun dalam beberapa blog pribadinya di Internet. Pak Ioanes menginformasikan bahwa pada tanggal 23 November 2009 dia akan memasuki masa emeritasi sebagai seorang pendeta GKI Sinode Wilayah Jawa Barat. Berita tersebut tentu membuat banyak pertanyaan muncul karena di gereja tempat saya menjadi pendeta, yakni Gereja Kristen Pasundan, orang yang seusia Pak Ioanes, usia yang relatif masih muda, tidak lazim menerima penghargaan emeritus. Di Gereja Kristen Pasundan faktor yang paling penting untuk menentukan seorang pendeta dapat memasuki masa emeritasi adalah usia. Dan setahu saya hal yang sama juga berlaku di Gereja Kristen Indonesia, tempat Pak Ioanes ditahbiskan menjadi seorang pendeta. Jadi perayaan emeritasi Pdt. Ioanes Rakhmat kemungkinan adalah suatu perayaan yang luar biasa, dalam arti tidak lazim, atau kalaupun ada pastinya jarang terjadi.

Peristiwa yang tampaknya kurang lazim ini mendorong saya membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah dibuatnya. Dalam catatan saya, Pak Ioanes ternyata telah menulis banyak tema antara lain yang terkait dengan tafsir Alkitab, Yesus sejarah, sejarah gereja perdana, filsafat, peristiwa-peristiwa aktual seperti Pemilu 2009 di Indonesia, polemik RUU Jaminan Produk Halal, dan lain sebagainya. Dan setelah menyimak kembali tulisan-tulisannya maka saya berkata dalam hati bahwa memang wajar jika akan berlangsung suatu peristiwa luar biasa terkait dengan keberadaannya sebagai seorang pendeta, karena ternyata pemikiran-pemikirannya sekaligus bagaimana dia menyampaikannya
memang tidak biasa.

Ada banyak hal menarik yang sesungguhnya saya dapatkan dari isi dan gaya penulisan Pak Ioanes. Dalam sebuah blog pribadinya, misalnya, beliau mengklaim sebagai seorang
freethinker, seorang rasionalis serta tidak mau terikat pada dogma gerejawi tertentu walaupun dia seorang pendeta. Sebuah klaim yang menurut saya sangat berani untuk disampaikan oleh seorang pendeta secara terbuka di hadapan umum. Di sinilah salah satu kekhasan Pak Ioanes sebagai seorang pendeta, yakni memiliki sikap yang mungkin sulit atau mungkin juga belum dapat diterima oleh kalangan gereja pada umumnya yang diakui atau tidak, disadari atau tidak, mengikatkan diri pada suatu dogma tertentu yang disusun sekian abad lampau di tempat lain.

Penolakannya untuk tidak dikuasai oleh dogma apapun tampaknya bukan tiba-tiba atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Alasan pertama yang mendorong sikapnya sebagai seorang yang berpikir bebas adalah rasa syukur yang dalam terhadap karunia akal yang diterimanya. Baginya akal budi adalah sebuah karunia yang tidak boleh disia-siakan oleh manusia. Akal adalah alat yang diterima manusia untuk mengetahui dan mengenal segala sesuatu. Kerja akal pula yang tampaknya dapat mengasah kepekaan hati nurani manusia. Berbagai tulisannya yang memuat tafsiran terhadap kisah penciptaan manusia, misalnya, menunjukkan suatu keyakinan Pak Ioanes bahwa Allah memang menugaskan manusia untuk bekerja, mengusahakan apa yang Allah percayakan dengan memanfaatkan akal budi yang sudah Allah berikan bagi manusia. Sebuah kekeliruan besar jika akal dihambat untuk bekerja. Penolakan terhadap penggunaan akal sebagai salah satu alat untuk mengenal Allah adalah pengingkaran terhadap kasih Allah.

Alasan berikutnya yang tampaknya memengaruhi sikap Pak Ioanes saat ini adalah kekagumannya pada teks-teks Alkitab. Baginya teks-teks Alkitab adalah literatur yang sangat berharga untuk memahami dunia pada masa lalu, termasuk komunitas-komunitas gereja perdana yang menjadi konteks lahirnya teks-teks Perjanjian Baru. Sebagai teks-teks yang lahir dari masa lalu maka teks-teks Alkitab harus diperlakukan dengan baik, tidak seenaknya. Perbedaan waktu dan tempat yang jauh dari saat ini dan dari konteks sosial kehidupan masa kini mengharuskan penggunaan banyak alat untuk memahami teks-teks Alkitab. Berbagai disiplin ilmu yang ada, dia hargai dan dipakai untuk memahami dengan baik apa yang terjadi di masa lalu. Hasilnya, dia menemukan bagaimana manusia merefleksikan hidupnya, masyarakat dan lingkungannya, keyakinannya, Tuhannya dan lain sebagainya. Teks-teks Alkitab juga telah menunjukkan pada Pak Ioanes bahwa manusia adalah makhluk yang rentan melakukan kekeliruan. Dan sebagai kumpulan teks yang ditulis oleh tangan manusia Alkitab pun sangat mungkin keliru. Ada pesan-pesannya yang sudah tidak lagi relevan dengan konteks masyarakat saat ini. Hal inilah yang seharusnya membuat manusia semakin terbuka dalam menggunakan akal berikut hati nuraninya agar kekeliruan yang telah dilakukan oleh orang-orang di masa lalu sebagaimana terungkap dalam Alkitab tidak lagi berulang saat ini.

Sejalan dengan alasan tersebut di atas dan yang menurut saya tampaknya sangat memengaruhi Pak Ioanes dalam mengambil posisi tersebut di atas adalah kesetiaannya pada ilmu pengetahuan, khususnya pada ilmu dan pendekatan metodik dalam penjelajahan dan penelitian tanpa akhir terhadap teks-teks Alkitab, yang pada gilirannya membuat dia begitu kagum dan jatuh cinta kepada Yesus yang dikisahkan dalam Alkitab. Kekagumannya dan kecintaannya kepada Yesus yang dikisahkan dalam Alkitab membuat Pak Ioanes berusaha semakin mengenal siapa Yesus. Dia kemudian menjadi tidak puas hanya mengenal Yesus dari catatan-catatan dalam Alkitab, yang menurutnya hanya mewakili pendapat kelompok-kelompok tertentu atau sebagian gereja di abad-abad pertama saja. Berbagai tradisi, literatur, lukisan atau apapun itu yang memuat pembicaraan tentang Yesus, dia gali, dia pelajari dan direkonstruksi sedemikian rupa sehingga menghasilkan sosok Yesus yang dia kagumi dan cintai itu. Dari usaha kerasnya itulah Pak Ioanes menemukan Yesus yang humanis, Yesus yang kritis, Yesus yang periang, Yesus yang meski hidup dalam tradisi Yahudi tetapi tidak mau dikuasai oleh tradisi Yahudi sekaligus dogma-dogma di dalamnya. Yesus yang inilah yang kemudian menjadi teladan bagi Pak Ioanes dalam berkarya. Dengan kata lain tampaknya sikap Pak Ioanes saat ini terinspirasi oleh sikap Yesus yang dia kagumi dan cintai.

Dari catatan-catatan mengenai pemikiran-pemikiran Pak Ioanes yang telah diuraikan dengan singkat di atas, maka dapat dimengerti jika dia diperlakukan cukup istimewa dengan peristiwa emeritasinya di akhir tahun 2009 ini. Pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa diungkapkan olah banyak orang secara terbuka rasanya dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun, termasuk gereja-gereja saat ini.

Pertama, pemikiran-pemikiran Pak Ioanes sesungguhnya menantang gereja-gereja untuk lebih mengenal Yesus, yang diyakini gereja sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Upaya pengenalan ini juga menuntut keberanian untuk bersikap kritis dan terbuka terhadap segala sesuatu yang ada pada diri gereja, termasuk pada dogma-dogma yang dipegang selama ini. Kedua, pemikiran-pemikian Pak Ioanes sesungguhnya mengundang kita semua untuk mau memanfaatkan apa pun yang kita yakini telah Tuhan karuniakan, termasuk dan terutama untuk menggunakan akal budi semaksimal mungkin serta hati nurani dalam menyikapi kehidupan ini.

Akhirnya, dalam kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan ucapan selamat memasuki masa emeritus kepada Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat. Saya yakin dengan emeritasi yang diberikan kepadanya, Pak Ioanes justeru dapat lebih leluasa berpikir dan berkarya. Membagikan ilmu-ilmunya bagi siapapun. Selamat Pak Ioanes... Tuhan memberkati.

Thursday, December 3, 2009

Pak Ioanes … Seorang Yang Biasa Menulis dengan Gamblang, Kontroversial dan Menantang…

Sebuah opini pribadi seorang rekan tentang Pak Ioanes Rakhmat

oleh Hortensius Florimond

Staf Departemen Penerjemahan Lembaga Akitab Indonesia


Pak Ioanes Rakhmat mengundang saya untuk sedikit memberikan sebuah kesan atau opini pribadi tentang pemikirannya. Perkenalan langsung pribadi dengan beliau boleh dikata hanya sebentar, waktu kami duduk bersama dalam satu tim berkaitan dengan suatu proyek penerbitan Alkitab Edisi Studi dari Lembaga Alkitab Indonesia. Selebihnya, beliau saya kenal lewat tulisan-tulisannya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa tulisan-tulisan beliau umumnya menggelitik dan “berani”. Melihat namanya sebagai pengarang sebuah tulisan, isi dan nadanya sudah dapat diantisipasi: membongkar dan kontroversial! Saya tidak akan heran kalau ada golongan konservatif yang mencapnya “super-liberal”, atau kalau ada kalangan militan ortodoks yang melabelnya “heretik”, dll.


Karena tulisan-tulisan beliau merambah ke berbagai ranah: teologi agama, pluralisme, kekristenan perdana, Yesus historis, politik, dll, maka sebenarnya sulit sekali untuk menduga bidang apa yang menjadi spesialisasi beliau. Pengetahuannya sungguh luas, dialognya dengan berbagai penulis dan literatur amat intensif. Berapa banyak dosen teologi di Indonesia yang masih giat membaca dan meng-upgrade diri setelah selesai studinya? Satu-satunya yang jelas: nadanya gamblang, isinya menantang! Masalahnya lalu ada pada para pembacanya: mau ditantang atau mau tetap terlena dalam bingkai dan paradigma pemahaman lama?


Secara umum, tulisan-tulisan beliau berciri “membongkar”. Dan yang dibongkar bukanlah hal-hal sepele, tetapi fundasi, apa yang selama ini dianggap dasar keyakinan dan pemahaman. Pada titik inilah beliau akan dilawan oleh kaum fundamentalis yang per definitionem adalah kaum ber-dasar. Bagi orang yang kehidupan dan keyakinannya dibangun di atas dasar-dasar yang dianggapnya kokoh, sakral, tak mengenal perubahan dan abadi, tulisan-tulisan beliau pastilah “mengganggu”. Tentu saja ada harapan pada saya dan juga pada dirinya bahwa tahap “membongkar” ini hanyalah sebuah tahap awal. Selanjutnya ditunggu sebuah tahap “membangun kembali”, tahap di mana Pak Ioanes mulai merumuskan pendapat dan keyakinannya secara baru, inovatif, positif, pro-aktif dan non-reaktif.

Mengapa fundamentalisme merebak? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab. Para sosiolog berbicara tentang fundamentalisme sebagai sebuah produk sekaligus sebuah reaksi terhadap modernisme. Modernisme menghasilkan manusia dan masyarakat tanpa-akar, dimana polis atau kota kehilangan fundasinya. Fundamentalisme bereaksi dan melawan masyarakat nirfundasi seperti ini. Bagi kalangan fundamentalis, dunia akademis mereka, seperti teologi mereka, sebagai sebuah polis mini, juga harus mapan, established, dengan fundasi-fundasi. Mereka, karenanya, tidak mau atau malas mempertanyakan rumusan dan bahasa, apalagi kalau rumusan-rumusan itu sudah disakralkan berabad-abad. Padahal teologi sendiri mengajarkan bahwa bahasa dan rumusan teologis selalu bersifat analogis dan metaforis. Rumusan-rumusan tersebut hanya bersifat “menunjuk” pada Realitas, bukan Realitas itu sendiri. Oleh karena itu, ranah bahasa atau ranah rumusan ini harus selalu terbuka untuk di-diskursus-kan, untuk di-dialog-kan, dipertanyakan kembali, dll. Sayangnya, kalangan keagamaan fundamentalis sering mencampurkan Realitas dan rumusan. Mempertanyakan rumusan sering disamakan oleh mereka dengan meragukan Realitas.

Fundamentalisme ternyata kuat mengakar bukan saja dalam penghayatan agama, tetapi juga dalam penalaran agama (yang kita sebut teologi).
Bagi saya, tulisan-tulisan Pak Ioanes Rakhmat adalah awasan atau peringatan yang bijak untuk orang tidak jatuh ke dalam fundamentalisme teologis. Tulisan-tulisan beliau mengajarkan saya bahwa diskursus teologis menyangkut topik apapun harus selalu terbuka. Semua fundasi dan praandaian teologis tidak pernah boleh menjadi kata akhir. Tentu saja prinsip yang sama dipandang Pak Ioanes berlaku juga untuk pendapat dan keyakinannya. Semangat dan mental “keterbukaan” ini kiranya perlu kita kembangkan di bumi nusantara, di mana kebhinnekaan sudah menjadi warisan kita. Beragama dan berteologi secara fundamentalistis adalah sebuah ironi besar di tengah bangsa dan masyarakat kita yang bhinneka.

Tuesday, December 1, 2009

Berjalan Bersama Pak Ioanes . . . Pada Awalnya, dan Pada Akhirnya, Adalah Pesta Merayakan Kemanusiaan

Sebuah catatan kecil bagi Pdt. Ioanes Rakhmat memasuki masa emeritasi

Oleh Leonard Andrew Immanuel
Pendeta GKI dengan basis Jemaat Sidoarjo;
Pemikir Kristen Liberal dengan minat pada kajian masyarakat sekular dan plural

Dalam blog pertamanya, yang dinamakan The Freethinker Blog, Pdt. Ioanes Rakhmat (IR) menjelaskan tentang dirinya dalam profil antara lain sbb:

I am a freely wandering soul, a homeless mind, a pure spirit, committed to articulating liberal, progressive and critical voices in the realm of religion and related fields within the cultural context of modern Indonesia.

Although I am an ordained servant of the Christian god, I incline to take the position of a rationalist and antidogmatic freethinker. After understanding and knowing me rightly, hopefully you will see the world and yourself in a different way.

It is my calling and my destiny to be together with you in reaching the enlightening Sun in front of us so that we shall not be overcome by inner darkness and intellectual blindness.

Beberapa hal dapat saya katakan di sini. Pdt. Ioanes Rakhmat (IR) adalah seorang humanis. Dia mencintai manusia dan membela dengan gigih martabat kemanusiaan. Misalnya, penolakannya atas soteriologi salib menegaskan keberpihakannya pada kemanusiaan yang bebas. Baginya, manusia bermartabat justru karena kebebasannya. Dan kebebasan manusia berpuncak pada aktivitas berpikir secara rasional sembari menjaga jarak dari keyakinan orang ramai yang tak teruji, atau tak boleh diuji. IR yakin, bahwa hanya kalau manusia bebas maka dia dapat bertanggungjawab atas keyakinannya sendiri.

Kita melihat di sini sebuah sikap modern dan sekuler. Sikap untuk selalu menolak otoritas manapun sebagai penentu keyakinan pribadi, sejauh bila otoritas itu menolak untuk diuji. Inilah sikap sekuler dan liberal, yang sebenarnya sudah lahir pada zaman Sokrates ketika dia mengajak kaum muda Athena untuk meneliti hidup mereka. Tetapi bahkan sejak zaman Sokrates pula, karya intelektual yang digarap dalam semangat kebebasan cenderung dilihat sebagai suatu ancaman bagi tatanan masyarakat dan agama mapan. Bila demikian, apakah sesungguhnya kebebasan berpikir memajukan atau justru mengancam peradaban? Dan adakah dasar moral yang paling kokoh untuk mendukung kebebasan berpikir kalau bukan demi martabat dan pemuliaan kemanusiaan itu sendiri?

Di sini kita tiba pada suatu konflik klasik yang mungkin belum tuntas antara iman dan ilmu pengetahuan. Saya yakin bahwa konflik ini sesungguhnya semu belaka. Iman menjadi teramat penting bagi peradaban ketika iman ini berubah menjadi suatu kekuatan sosial yang mengikat dan membentuk sebuah identitas sosial. Demikian juga dengan ilmu pengetahuan yang menjelma sebagai “api ilahi” yang telah direbut manusia dan yang menentukannya sebagai tuan atas hidupnya sendiri; manusia menjadi “dewasa” dan kini dia tidak perlu meminta perlindungan dari otoritas ilahi manapun. Serentak dengan ini, penghayatan terhadap Tuhan dalam iklim religiositas modern berubah. Langit Tuhan runtuh dan kini orang hanya bisa menemukan (atau lebih tepat: memperjuangkan) Tuhan dalam puing-puing tragedi kemanusiaan atau dalam hidup sehari-hari yang banal. Tuhan hanya bisa ditemukan di belakang punggung orang lain, dalam semangat solidaritas membangun kehidupan duniawi yang lebih adil! Apakah ini tanda keruntuhan agama? Ya, bila dengan istilah tersebut dimaksudkan struktur sosial yang mapan dan selalu menjamin makna hidup kaum percaya. Tetapi bila yang dimaksudkan dengan agama kira-kira sama dengan yang dipahami oleh Emmanuel Levinas sebagai relasi yang tak mudah antara kita dengan the very Other who dwells amongst us, maka agama menemukan energi vitalnya kembali, bukan hanya sebagai penanda atas yang Lain, tetapi juga penanda atas makna sejati subjektivitas manusia. Manusia hanya bisa menjadi subjek bila dia dengan bebas berdiri di hadapan orang lain dan menjawab panggilan terhadapnya. Kemungkinan akan hal tersebut hanya didapat dalam iklim sekuler dan liberal. Makin bebas seseorang maka makin besar tanggungjawabnya dan makin sejati pula subjektivitasnya, yaitu kondisi moral yang menjadikannya sebagai sang Subjek.

Maka hanya jika manusia adalah sang Subjek, dia dapat memberi jawaban kepada sesama dan Tuhan. Menjadi Subjek berarti menjadi (diri-)sendiri. Menjadi sendiri adalah hal-ihwal menjadi individu. Individualitas mengandung konsekuensi tertentu. Artinya, individualitas selalu bertautan dengan matra tanggungjawab. Ini sebuah tautologi, sebab hanya individu yang dapat mengambil tanggungjawab, dan mereka yang berani mengambil tanggungjawab memiliki kemungkinan terbesar untuk tumbuh sebagai individu.

Menjadi individu bukan hanya suatu panggilan tetapi juga suatu pilihan. Tetapi itu pilihan yang sulit karena membuat mereka yang memilihnya sekaligus harus menerima suatu sisi lain dari sebuah mata uang yang sama, yaitu penderitaan hidup sebagai individu. Hanya dalam pengertian inilah kita bisa menerima profil diri IR sebagai “a homeless mind”. Yaitu sikap mental yang bersedia untuk meninggalkan kenyamanan yang diberikan oleh kepastian doktrin gereja. Dia memilih untuk selalu menaruh keyakinannya dalam situasi “terjaga”, semacam keterarahan kepada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sampai tuntas. Sebuah pikiran yang tak bersarang, bukan karena dia tidak punya komitmen pada apa pun, tetapi karena dia menyadari bahaya fundamentalisme yang mengintai setiap pikiran yang berumah, yang telah capek bertualang dan memilih untuk tidur dalam sikap berpuas diri. Namun justru pikiran yang berumah ini melahirkan kemapanan dan ketenangan hidup karena hidup telah dikalkulasi dan kebenaran telah dikantongi dalam saku doktriner gereja. Sementara pikiran yang tak bersarang adalah sikap mental untuk melawan fundamentalisme justru pada akarnya, yaitu sifat puas diri, yang sebenarnya adalah sebuah pemberhalaan.

Tetapi kita juga tahu, berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari, bahwa Hidup itu lebih besar dari Kebenaran. Secara intuitif Plato berpendapat, dalam buku ke VI Republik, dengan meminjam mulut Sokrates yang menjelaskan kepada Glaukon, bahwa kendatipun kebenaran hanya bisa diperoleh dari pengetahuan (epistēmē), dan bukan dari opini (doksa), namun tokh kebenaran tetap bersumberkan pada Kebaikan (agathon epekeina tēs ousias). “Ousia” (being), dalam sejarah filsafat Barat yang panjang, telah dimaknai sebagai lokus dari Kebenaran, sehingga Levinas, Derrida dan Jean-Luc Marion kerap merumuskan-ulang pikiran ini sebagai “the Good exists beyond the Truth” atau “Otherwise than Being”. Itu berarti the Good berada dalam kawasan Sang Maha Lain. Dengan demikian Plato menjangkarkan upaya intelektual pada relasi terhadap yang Lain.

Konsekuensinya serius. Bila, secara ontologis dan epistemologis Kebaikan selalu melampaui Kebenaran, maka ada dua hal yang mau dikatakan disini: pertama, bahwa semenjak Kebaikan menjadi ibu yang melahirkan Komunitas, yaitu ikatan berbagai relasi terhadap yang lain, maka Kebenaran dipanggil untuk melayani bisnis ontologis dari Kebaikan, yaitu persekutuan. The brotherhood of Men bukanlah the fellowship of the Truth melainkan the fellowship of the Good. Memang ada banyak tuduhan menyatakan bahwa Kebenaran dapat menjadi sebuah bisnis privat dari pikiran yang tak berumah; tapi ikhtiar intelektual macam ini memang terbukti memajukan peradaban dan memperbesar cahaya penguasaan manusia atas alam, tubuh dan dunia batinnya. But, is there any homeless mind whose need not dwells at the same time on the societal level? Saya rasa tidak. Atau setidak-tidaknya, komitmen kepada Kemanusiaan adalah pernyataan tegas tentang takdir bagi setiap ikhtiar intelektual untuk selalu mengambil rute pulang pada suatu kepentingan bersama. Bahwa Kemanusiaan adalah rumah bagi Kebenaran. Bahwa intellectual exercises bukan hanya bertujuan untuk memperoleh kebenaran, tetapi juga menuju dan memperjuangkan relasi sosial dengan yang lain. Bahwa kinerja sains ditujukan untuk kepentingan moral, yaitu pembangunan Komunitas dan bukan demi akumulasi penguasaan teknis sains itu sendiri.

Kedua, bila Kebaikan bersifat melampaui (sich!) Kebenaran, maka dimensi eskatologis tidak dapat tidak mengemuka dan harus selalu dipertahankan, bahkan dalam semua intellectual exercises. Eskatologi Kebaikan adalah inti moralitas Kebenaran. Kebenaran hanya bisa benar sejauh kebenaran mengejar cakrawala Kebaikan yang melampauinya sekaligus mengondisikannya. Dan keberanian untuk menunda konklusi final serta kesediaan untuk merumuskan Kebenaran dalam the fellowship of the Good adalah moral virtue bagi setiap hamba Kebenaran. Dengan demikian, kaum intelektual dipanggil untuk bersabar dan mau berjalan mencari “the enlightening Sun” di dalam dan bersama-sama dengan Komunitas, termasuk juga bersama-sama persekutuan orang beriman.

Dalam The Jesus Blog, kita berjumpa dengan IR sebagai seorang pencinta Yesus dari Nazaret. Yang dia cari, pertama-tama, bukan Yesus yang sudah dikantunginya dalam “saku kristologis”, melainkan Yesus yang hidup, yang tak dapat ditangkap dengan mudah. Yesus yang selalu luput dari genggaman akal dan justru karena itu memanggil kita untuk mencarinya terus-menerus bersama sang pakar Yesus sejarah. Dalam The Jesus Blog, kita melihat sedemikian banyaknya “wajah Yesus”. Ada Yesus Asia, Yesus Afrika, Yesus Muslim, Yesus Bodhisattva, Yesus dengan kulit gelap mendekati Yesus Yahudi pada abad pertama Masehi, bahkan Yesus Perempuan, dll. Semua wajah Yesus ini merupakan medan petualangan yang menarik bagi mereka yang berminat untuk melakukan upaya kontekstualisasi kristologi (atau: yesusologi?).

Namun bagi saya, tantangan intelektual terbesar yang diberikan oleh IR dan harus dijawab oleh para pemikir Kristen adalah soteriologi salib. IR menolak soteriologi salib karena soteriologi ini merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia pada dirinya sendiri untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri. Dan yang dia maksudkan dengan term “keselamatan” adalah suatu perubahan watak, karakter dan moralitas manusia sementara dia masih hidup dalam dunia ini sekarang ini.

Saya bisa menerima penolakan IR atas bahaya soteriologi salib meremehkan kemampuan manusia untuk memilih suatu keputusan yang baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Bahaya tersebut mengintai dengan kuatnya, dan bisa melahirkan sebuah sikap manipulatif terhadap Yesus atau Allah. Bahwa Allah melalui Yesus telah menyelesaikan segalanya untuk saya, dan tidak ada apapun yang perlu saya lakukan untuk menyelamatkan hidup saya dan dunia saya ini. Tentu saja “kesalehan” semacam ini bukannya tidak bermasalah. IR konsekuen dengan sikap sekulernya yang mengemansipasi manusia di hadapan kuasa ilahi dan alam. Tetapi kita juga tahu bahwa humanisme positivistik sama lemahnya dengan antihumanisme. Sekali lagi, bandul neraca keselamatan perlu menemukan titik imbangnya. Antihumanisme Protestan, bila diolah dengan kreatif, malah mungkin dapat meningkatkan martabat kemanusiaan. Sebab antihumanisme ini dapat berfungsi sebagai kritik atas kemanusiaan yang antroposentrik dan cenderung membabat habis segenap kategori-kelainan. Chauvinisme dan “Hitlerisme” Nazi-Jerman yang bertumpu pada kekuatan manusia Aryan pada Perang Dunia II justru menjadi suatu impetus kritik dan revolusi teologis Barthian yang menekankan kembali dimensi otoritatif Allah dan Kristus di dalam Gereja-yang-Mengaku (Bekennende Kirche).

Akhirnya, saya melihat, bahwa problem soteriologi salib musti dijawab dengan lebih serius. Apakah Kekristenan masa kini masih dapat menerima logika kekerasan pada cara Allah yang menggunakan kematian Yesus yang mengerikan sebagai jalan keselamatan bagi manusia? Logika kekerasan salib ini masih berkubang pada kosmologi masyarakat agraris yang, di semua budaya dunia, selalu membutuhkan “tumbal” sebagai ganti sasaran pelampiasan hukuman atau sebagai “makanan-ilahi”, sesajen, dan, pada saat yang sama, mengalihkan perhatian yang ilahi pada hidup manusia, serta memungkinkan manusia untuk mempunya kesempatan menjalankan bisnisnya dengan aman dan lancar. Saya yakin, salib Yesus harus dimaknai ulang sebagai suatu konsekuensi radikal dari identitas Allah sebagai Pemberian-Diri dan Kemurahan-Hati. Bahwa Salib adalah suatu risiko yang diterima Allah pada diri-Nya sendiri karena Dia mencintai kita. Bahwa salib adalah ungkapan par excellence tentang kelemahan Allah; bahwa Dia bersolider dengan kita dan mencapai kawasan yang lebih manusiawi daripada diri kita manusia. Bahwa pada Salib kita merayakan kelemahan Allah dan Cinta-Nya sekaligus. Maka keselamatan tidak lagi bermakna mesianisme Yesus atas dunia, tetapi mesianisme setiap Subjek yang menghidupi model Pemberian-Diri dan Kemurahan-Hati itu kepada setiap makhluk yang dijumpainya dalam hidupnya yang fana. Proposal Yakobus tentang aksi amal pada sesama dapat ditampung dalam ruang “soteriologi-solidaritas” ini.

Terakhir, IR adalah pencinta keragaman budaya dan demokrasi. Dia percaya pada visi para pendiri bangsa, yang merumuskan Pancasila sebagai suatu purata kencana, suatu jalan tengah, untuk mengelola keragaman budaya bangsa Indonesia. Dalam The Countertheocracy Blog kita melihat meretas dan terbentuknya sebuah komunitas epistemis sekuler dan liberal/progresif. Mereka (kurang lebih 27 orang) yang menjadi para kontributor blog ini semuanya memiliki sebuah mimpi yang sama: sebuah Indonesia yang maju, yang memperlakukan semua orang setara di hadapan hukum, serta menghormati perbedaan. Saya rasa ini juga yang harus menjadi the cause of GKI. Bahwa bisnis terpenting Gereja Kristen Indonesia adalah keindonesiaan itu sendiri di bawah sebuah payung besar kemanusiaan. Masa depan Indonesia adalah masa depan GKI. Dan masa depan kemanusiaan adalah masa depan Kekristenan. Dalam hal yang terakhir ini, orang tidak perlu ragu-ragu untuk berjalan bersama dengan IR.

Semoga dengan emeritasi ini, Pdt. Ioanes Rakhmat makin mempunyai banyak waktu untuk mengabdikan dirinya pada cahaya kemanusiaan, melalui studi keilmuan yang diletakkan dalam bentangan horizon eskatologi Kebaikan. Pada awalnya, dan pada akhirnya, adalah pesta merayakan kemanusiaan.

Monday, November 30, 2009

“Ilmu Pengetahuan” dan “Berpikir Progresif”... Itulah Kata-kata Kunci untuk Mengenal Ioanes Rakhmat

Opini seorang sahabat tentang Ioanes Rakhmat

oleh Cindar Prawijaya

Warga GKI, teman diskusi dan pembaca setia blog-blog Ioanes Rakhmat






Hanya ada satu kebaikan, yaitu ilmu,

dan satu keburukan, yaitu kebodohan.

(Sokrates)


Tidak ada alasan bagi seorang Ioanes untuk tidak menjadi progresif. Baginya, menjadi progresif berarti selalu bergerak ke depan, berpikir maju di berbagai lini kehidupan dan bersedia untuk selalu mereformasi diri khususnya di bidang wawasan keilmuan dan perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih setia pada kebenaran, baik dari sudut pandang keilmuwan, keagamaan maupun dari sudut pandang sosial kemasyarakatan.


Ilmu adalah urat nadi kehidupannya. Dan karena itu mencari ilmu bukan saja suatu keharusan, tapi sudah menjadi suatu kebutuhan hakikinya. Tentu saja yang dimaksud ilmu oleh Pak Ioanes bukan hanya ilmu agama dalam pengertian sempit, tetapi lebih dari itu, yakni semua ilmu yang memberi manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas.


Saat ini, berkembang sebuah wacana Kristen progresif di Indonesia yang banyak menimbulkan polemik. Justru di situ saya melihat Pak Ioanes sebagai salah satu pemikir yang berada di garis depan wacana tersebut. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena belum lama ini beliau mengajak saya dan beberapa teman lain membangun sebuah jaringan, sebuah jaringan yang kami beri nama “Krispro”, yaitu sebuah singkatan dari Kristen progresif. Apa yang sebenarnya ingin dicapai Krispro? Kalau kita merujuk ke motto Krispro, yakni Be religiously critical and enlightened, yang berarti “Jadilah agamawan yang kritis dan tercerahkan”, maka motto ini memberi sebuah pesan supaya kita, sebagai orang beragama, mau berproses menjadi kritis dalam berpikir dan akhirnya tercerahkan dan cerdas dalam beragama. Sesuatu yang belum kita peroleh, tetapi kita didorong untuk berusaha memperolehnya.


Nah, untuk memperoleh yang belum diperoleh ini, Pak Ioanes rela menjalani sebuah proses panjang, sebuah proses perubahan pemikiran, sebuah proses memperluas definisi dan interpretasi, dan memberikan tafsir baru terhadap pandangan-pandangan Kristen yang lahir dan tumbuh pada masa awal kekristenan di Eropa agar lebih relevan dalam konteks masyarakat Kristen dan dunia saat ini di zaman yang sudah berubah dan di tempat lain. Tentu ini bukan sebuah pekerjaan yang simpel seperti kita membalikkan telapak tangan. Hampir di segala tempat di sana-sini, pemikiran-pemikiran baru keagamaan di kalangan berbagai macam umat beragama selalu berbenturan dengan ajaran-ajaran keagamaan tradisional yang dipertahankan mati-matian oleh kalangan konservatif. Demikian juga halnya dengan pemikiran-pemikiran Pak Ioanes. Hal ini bisa dipahami, karena pemikiran Pak Ioanes dapat dikata tergolong “berbahaya” jika diperhadapkan pada ortodoksi Kristen yang dimapankan. Maka tak heran jika ada kelompok-kelompok Kristen tertentu yang merasa amat sangat terganggu; malah ada yang merasa telah kehilangan pegangan keimanan mereka karena gagasan-gagasan baru Pak Ioanes.


Lalu apa yang terjadi pada diri Pak Ioanes? Beliau harus menerima satu dua konsekuensinya, yaitu ditarik dari pekerjaannya sebagai dosen, dan juga berproses memasuki masa emeritasi, yang berarti beliau harus melepaskan jabatan strukturalnya sebagai seorang pendeta. Sungguh luar biasa untuk seorang seperti Pak Ioanes yang tidak mempunyai kekuatan politis apa-apa, yang tidak mempunyai massa atau kelompok fanatik manapun sebagai para pendukungnya. Namun, dia bersyukur atas semuanya. Yang terpenting baginya adalah dia masih memiliki suatu kebebasan untuk berpikir, sebuah karunia paling berharga bagi semua insan yang dilahirkan merdeka.


Walaupun banyak orang telah menyatakan akan memberi dukungan kepadanya dalam menghadapi orang-orang yang antipati kepadanya, dengan halus Pak Ioanes menolak semuanya, dengan alasan dia ingin menghadapi semua persoalannya sendirian, dengan seluruh kemampuannya. Sungguh sebuah sikap yang terpuji dan teruji ; teruji oleh pendiriannya yang kokoh, teruji oleh ketegarannya dan kebesaran jiwanya, dan juga oleh keceriaan dan optimismenya. Ini membuat saya teringat pada apa yang dikatakan Sokrates, bahwa “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Hanya ada satu tempat di dunia ini di mana manusia bisa terbebas dari segala ujian hidup, yaitu di kuburan.”


Kini Pak Ioanes sudah pindah ke suatu tempat baru, berpindah dari suatu tempat yang sempit dan terbatas di dalam sebuah gereja kolot, ke suatu tempat yang jauh memberi harapan, yang dapat memberinya lebih banyak kebebasan, kebebasan dalam berpikir dan kebebasan dalam memperluas gagasan-gagasannya yang sangat inspiratif.


Akhir kata, saya ucapkan selamat menempati dunia yang baru untuk mengolah pemikiran yang baru dan gagasan yang baru. Sekali lagi, selamat!


Saturday, November 28, 2009

Motto Pak Ioanes: Hidup Yang Tidak Dikaji, Bukanlah Hidup!

Kesan seorang sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

oleh Sucitro Wongso

anggota GKI, pembaca setia blog-blog Ioanes Rakhmat


Sampai beberapa saat yang lalu sebelum saya menuliskan kalimat pertama ini saya masih berusaha untuk memgumpulkan lebih banyak bahan untuk menggambarkan siapa sebenarnya Pak Ioanes Rakhmat (IR). Perjumpaan pertama kali dengan beliau terjadi dua tahun yang lalu lewat tulisannya di KORAN TEMPO tentang Makam Yesus yang menghebohkan itu. Pada saat itu saya mulai cukup niat untuk belajar masalah agama. Terakhir, kurang lebih setengah tahun lalu saya mulai mengenal beliau secara langsung.


Tidak mudah untuk menggambarkan siapa orang yang berprinsip kuat, yang gaya tulisannya tanpa basa basi, cerdas, berwawasan luas dengan minat pada banyak macam bidang ini (mirip Gus Dur, tapi yang ini “ga ada lucu-lucunya”), terlebih mengenai pikiran-pikirannya. Awalnya saya pikir IR adalah seorang pendeta Kristen yang sudah bosan dengan pekerjaannya dan mulai cari-cari sensasi. Atau seorang pendeta Kristen yang menemukan bahwa agamanya tidak benar, terus mau pindah agama. Pada saat-saat terakhir inilah barangkali (mudah-mudahan) saya bisa sedikit menggambarkan plkiran-pikirannya dalam bahasa sederhana saya. Ternyata sederhana.


Tidak dipungkiri bahwa studinya mengenai Yesus sejarah telah membawanya ke dalam banyak pemikiran baru yang “radikal” untuk orang-orang Kristen di lingkungannya. Dalam pandangannya, meyakini sesuatu haruslah didukung oleh fakta-fakta, minimal didukung oleh akal sehat. Dari sinilah pemikiran yang sehat itu dipandang kalangan yang berseberangan sebagai pemikiran yang sesat berujung. Mengapa? Karena cara pandang seperti ini menjadikan kekristenan yang tadinya “dogma-sentris” menjadi “Yesus-sentris”, padahal sementara ini hampir semua gereja arus utama di Indonesia berorientasi dogma-sentris. Repot memang untuk meyakinkan tentang adanya fakta yang berkebalikan kepada orang-orang yang sejak lahir terlanjur percaya bahwa Spiderman itu suatu tokoh nyata.


Pandangan IR sebaliknya berupaya untuk menyaring pemikiran-pemikiran Yesus dari segala macam bumbu-bumbu yang menyertainya. Bumbu-bumbu tersebut sengaja disertakan agar pemikiran Yesus menjadi workable di zaman ditulisnya injil-injil. Kenyataan ini seringkali tidak diketahui khalayak ramai, entah sengaja disembunyikan agar tidak bertentangan dengan kekristenan nenek kita, atau memang lalai diperhatikan dan mungkin agar hidup lebih enak. Bumbu-bumbu tersebut bisa berupa macam-macam unsur, mulai yang keren seperti filsafat Yunani maupun yang tidak keren seperti “paganisme” yang kemudian dikemas dalam dogma ala Athanasius, Agustinus dst. Menghayati Alkitab secara harfiah dengan demikian, menurut IR, adalah dosa besar. Ironisnya, dogma-dogma inilah yang berkuasa di mimbar-mimbar gereja; bukan ucapan Yesusnya sendiri! Dalam bahasa saya sendiri, dogma itu saya ibaratkan seperti mencontoh jawaban ujian dari seorang teman sebelah bangku yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu jawaban yang tepat itu seperti apa.

Jadi, dalam pandangan IR, mengikuti Yesus lewat ucapan-ucapannya yang telah diselidiki benar-benar keautentikannya adalah lebih bertanggung jawab.
Yesus yang mengutamakan kasih, belarasa, adalah Yesus yang menjadi junjungannya. Dan ide Yesus sebagai kasih inilah yang yang menginspirasi beliau akan ide-ide pluralis, sikap toleran dan kehidupan yang tidak terkotak-kotak dalam sekat-sekat ideologi atau dogma agama. Baginya, kehidupan di bumilah yang harus didahulukan agar keselamatan di antara sesama bisa diwujudkan, bukan spekulasi-spekulasi supernatural yang tidak jelas dasarnya. Menurutnya, hal yang sudah dianggap sebagai suatu kebenaran kekal tidak harus menjadikannya tidak dapat dikaji ulang. Motto beliau adalah (dikutip dari Plato): HIDUP YANG TIDAK DIKAJI BUKANLAH HIDUP.

Bagi sebagian orang, pandangan seperti ini adalah suatu berkah yang mencerahkan. Sebaliknya, bagi sebagian yang lain, pandangan ini adalah pandangan yang sesat, meracuni, menggerogoti iman, makanya harus diberangus. Tetapi IR sepertinya jalan terus dengan keyakinannya. Dari blog-blognya di Internet (kini sudah ada empat blog pribadi dan satu blog kolektif!) bisa kita lihat bahwa fansnya makin lama makin banyak. Pemikiran-pemikirannya yang orisinal, segar, baru dan menggugah tampaknya banyak mengundang pemerhati. Lingkungan pergaulannya yang luas yang berasal dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan penerimaan masyarakat akan keberadaannya dan pemikirannya.


Saya berharap agar pemikiran IR dapat terus lestari seiring dengan kemajuan zaman. Pilihan yang telah diambil oleh IR yaitu ilmu pengetahuan untuk mempelajari Yesus mengharuskannya untuk selalu mengkaji terus-menerus pikiran-pikirannya sendiri sesuai dengan sifat dasar ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan mudah-mudahan dia tidak terjebak dalam pola kerja keimanan selama ini yaitu, begitu sekali dirumuskan akan dipertahankan mati-matian sampai akhir zaman. Vladimir Putin mengatakan bahwa sejarah tidak pernah satu warna.


Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada Pak IR atas emeritasinya. Semoga Tuhan selalu menyertai Bapak beserta keluarga.

Friday, November 27, 2009

Pak Ioanes Adalah. . . Seorang Pengusung Panji Reformasi Terdepan!

Sebuah opini pribadi seorang teman seperjalanan tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

oleh Gunawan Suryomurcito

Anggota GKI, Ketua Umum Indonesian Intellectual Property Society


Pengenalan saya tentang Pendeta Ioanes Rakhmat boleh dibilang berawal di dunia maya, dunia cyber, melalui Internet. Waktu itu, sekitar tahun 1999, saya membaca di portal Apakabar yang diasuh oleh John McDougall, sebuah polemik antara Ioanes Rakhmat dengan beberapa orang, dan tulisan-tulisan yang menyerangnya dengan sangat sengit berkenaan dengan pendapatnya yang kontroversial tentang Yesus dan iman Kristen. Bermula dari kegelisahan saya sendiri mengenai berbagai dogma Kristiani yang seringkali membuat saya sakit kepala (dalam arti harfiah) akibat memikirkannya dengan menggunakan logika, munculnya figur Ioanes Rakhmat dan pergulatan pemikirannya serta posisinya sebagai orang yang “teraniaya” karena cintanya kepada Yesus sejarah membuat saya merasa mempunyai seorang teman walaupun belum pernah “copy darat.” Akhirnya pada tahun 2008, lagi-lagi melalui informasi di media Internet, saya mendapat suatu kesempatan untuk bertemu muka dengan Pak Ioanes di Teater Utan Kayu setelah suatu acara diskusi yang digelar oleh Jaringan Islam Liberal.


Setelah berkenalan dan saling mengenal lebih jauh dengan Pak Ioanes, ternyata ada beberapa persamaan pada pokoknya dalam perjalanan kehidupan kerohanian saya dengan kehidupan kerohanian beliau. Hal yang menonjol adalah bahwa saya pernah menjadi seorang penganut Buddhisme ketika saya sudah dewasa, sedangkan Pak Ioanes pada masa remajanya adalah seorang murid sekolah minggu di sebuah vihara Buddhis. Perkenalan saya dengan agama Kristen justru sangat dini namun agak traumatis. Pada waktu saya masih kecil, mungkin umur 5 tahun, nenek saya yang Konghucu sedang diinjili oleh pengabar Injil dari Gereja Bethel Injil Sepenuh di kota Kudus, Jawa Tengah. Nenek saya punya kebiasaan setelah makan malam duduk-duduk di bale-bale dan mendongeng, seringnya cerita horor tentang wewe gombel, genderuwo, glundung pecengis dan lain-lain cerita seram. Nah, suatu hari setelah ikut kebaktian di GBIS itu beliau menceritakan pengalamannya dan menyanyikan sebuah lagu rohani, begini bunyinya: “Injil yang terheran disampingku Hu.” Baris itu saja yang diulang-ulang oleh nenek dengan suaranya yang berat dan sumbang. Saya jadi ketakutan karena sebelumnya diceritakan tentang burung Kokok Beluk (Burung Hantu) yang jika berbunyi malam-malam di kuburan menandakan akan ada orang mati. Untuk saya ketika itu sesuatu yang bernama “Kuhu” itu sama dengan Burung Hantu yang menakutkan; akibatnya saya jadi ketakutan setiap kali nenek menyanyikan lagu favoritnya itu.


Lama sekali setelah itu, ketika saya sudah SMP dan ikut sekolah minggu Kristen di Gereja Kristen Muria Indonesia, Panjunan, Kudus, saya baru tahu bahwa “Hu” adalah sebuah sebutan untuk Tuhan. Ada satu hal lain yang di kemudian hari menjadi pokok pikiran kritis saya tentang dogma Kristiani, yaitu nenek saya selalu menyebut nama Yesus dengan sebutan penghormatan “tuan”, demikian juga untuk Allah; jadinya nenek sering menyebut Tuan Yesus dan Tuan Allah. Akhir-akhir ini saya jadi berpikir bahwa telah terjadi suatu pergeseran pemahaman teologis dalam gereja-gereja Kristen di Indonesia ketika sebutan Tuan Yesus (Lord Jesus) yang dulu itu (tahun 1950-an) diganti menjadi TUHAN Yesus (mungkin padanannya: God Jesus).


Perbedaan jalan kehidupan antara saya dengan Pak Ioanes adalah setelah ikut sekolah minggu Buddhis itu beliau “pindah agama” menjadi Kristen, bahkan masuk sekolah tinggi teologi Kristen sampai lulus jenjang S-3, sedangkan saya setelah ikut sekolah minggu Kristen justru berubah menjadi Buddhis. Guru spiritual saya yang terakhir adalah seorang pendeta Buddhis yang sangat berantipati terhadap agama Kristen akibat pernah mengalami luka batin gara-gara ayahnya meninggalkan kepercayaan nenek-moyangnya (Tri Dharma/Sam Kao) dan menjadi Kristen secara dramatis, yaitu dengan membongkar meja abu yang masih dipelihara oleh ibunya dan anaknya (guru saya itu) dan membuang abu sembahyangan dari hiolo (urn) ke dalam jamban. Bisa dibayangkan pengaruh negatif yang diturunkan kepada murid-muridnya untuk juga berantipati terhadap agama Kristen. Saya sudah menikah ketika itu; akibatnya terjadi konflik dengan isteri saya yang Kristen taat, sampai hampir berpisah. Saya mengalami suatu nervous breakdown akibat mengalami berbagai tekanan hidup, dan akhirnya menyadari bahwa justru isteri saya yang menyelamatkan saya dan bukan guru saya. Saya kemudian ikut katekisasi Kristen dan dibaptis di GKI Pondok Indah, walaupun dalam benak saya masih banyak pertanyaan terhadap dogma-dogma yang diajarkan dalam katekisasi itu. Jika Ioanes Rakhmat kemudian menjadi seorang pendeta dan seorang dosen, maka saya hanya menjadi anggota jemaat biasa di GKI Pondok Indah.


Kegelisahan saya tentang dogma-dogma Kristiani bermula sejak mengikuti kuliah agama Kristen yang diampu oleh Dr Liem Khiem Yang di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada awal dasawarsa 70-an. Ketika itu dibahas tentang fenomena menurunnya jumlah kaum muda di jemaat gereja-gereja di Jerman. Kaum muda di Jerman yang diajar untuk berpikir kritis, logis dan empiris sangat sulit untuk bisa menerima secara nalar dan mengimani “kebenaran” Alkitab, khususnya tentang hal-hal gaib seperti Yesus naik (terbang) ke surga secara fisik, dan lain-lain mukjizat yang diceritakan dalam Alkitab. Akibatnya mereka tidak mau lagi pergi ke gereja, karena gereja tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial mereka secara rasional. Hal ini pernah saya diskusikan dengan seorang saudara sepupu saya yang ketika itu baru saja menjadi Kristen dan masih “berkobar-kobar” semangat keimanannya. Beliau seorang insinyur lulusan sebuah universitas di negeri Belanda yang dalam hal-hal duniawi berpikir dan bertindak secara sangat rasional. Namun ketika berbicara tentang dogma-dogma Kristiani beliau bilang kepada saya bahwa iman Kristen itu di atas segala nalar manusia, jadi sebaiknya jangan pakai logika ketika membicarakan tentang Injil dan cerita-cerita Alkitab yang gaib dan ajaib. Saya waktu itu tidak membantah, tetapi dalam benak saya berkecamuk kegalauan tentang pertentangan antara nalar dan iman.


Kegalauan itu bertambah ketika saya membaca perdebatan antara kaum creationists dengan kaum evolutionists dan empiricists tentang penciptaan bumi dan alam semesta. Saya beranggapan bahwa kaum creationists, yang bersikukuh bahwa Alkitab tidak memiliki kesalahan apapun dalam argumen-argumen mereka untuk mempertahankan pendapat mereka, sudah menjadi tidak objektif dan secara a-priori menolak semua fakta ilmiah yang telah terbukti secara empiris. Misalnya tentang usia planet Bumi dan evolusi spesies di dalamnya yang diperkirakan sudah berlangsung 3 milyar tahun, dan alam semesta yang sudah berumur 14 milyar tahun, sedangkan menurut kaum creationists usia bumi hanya 4000 tahun. Argumen yang digunakan untuk menyerang pendapat kaum evolutionists dan empiricists utamanya adalah bahwa mereka, kaum yang rasionalis ini, selalu menyesuaikan pendapat mereka dengan berbagai fakta empiris baru yang kebenarannya terbukti secara ilmiah. Jadi kata mereka, kaum evolutionists dan empiricists itu tidak punya pegangan yang tetap, sedangkan Alkitab yang mereka percayai total, bagi mereka, adalah satu-satunya pegangan yang tetap dan tidak akan berubah sampai kapanpun.


Dalam hubungan dengan perdebatan di atas itu, saya lebih setuju dengan pandangan dan sikap intelektual Pak Ioanes yang progresif, terbuka untuk menerima fakta-fakta baru, berani mengakui kesalahan dan mengubah pendapatnya kalau memang terbukti salah secara empiris. Saya sulit menerima pandangan dan sikap “intelektual” kaum fundamentalis Kristen yang bersikeras mempertahankan dogma-dogma yang dihasilkan oleh pemikiran orang-orang yang hidup ribuan tahun yang lalu berdasarkan suatu pandangan hidup dan suatu pandangan dunia mereka pada saat itu di tempat-tempat lain. Sedangkan zaman sudah berubah, pandangan hidup dan pandangan dunia manusia masa kini sudah berubah pula; masakan saya harus terpaku dan mandah menerima begitu saja pemikiran-pemikiran orang-orang zaman dulu? Lagi pula menurut saya agama adalah suatu produk budaya yang timbul, tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat tertentu pada zaman tertentu, bukan sesuatu yang jatuh dari langit dalam keadaan utuh begitu saja tanpa sentuhan dan olah akal manusia dan masyarakat pendukung kebudayaan tertentu itu.


Akhir-akhir ini setelah membaca tulisan-tulisan Pak Ioanes dan serangan-serangan terhadap tulisan-tulisan itu oleh kaum fundamentalis Kristen, saya mencermati adanya suatu perbedaan fundamental dari pendekatan keduanya. Tulisan-tulisan Pak Ioanes selalu didasarkan pada penalaran yang ajeg (konsisten) atas fakta-fakta tentang dan di sekitar cerita-cerita Alkitab dan dogma-dogma Kristiani. Bahan-bahan bacaan yang digunakannya sangat beragam dan beliau tidak pernah secara a-priori menolak gagasan orang lain hanya berdasarkan dogma-dogma Kristiani yang ada. Sebaliknya, serangan-serangan terhadap pemikiran-pemikiran beliau kebanyakan atau bahkan boleh dibilang semuanya sangat dogmatis dan seringkali menafikan nalar. Ujung-ujungnya, setelah tersudut karena argumen-argumen mereka sendiri yang tidak masuk akal walaupun kata mereka “masuk iman”, digunakanlah argumentum ad hominem, yaitu argumen yang menyerang pribadi Pak Ioanes sebagai seorang manusia, bukan ditujukan kepada argumen rasional beliau; bahkan juga ada sekian serangan yang ditujukan kepada postur fisik beliau yang dulu memang kurus, tidak seperti sekarang yang sudah “gemuk berisi.” Ada juga yang mengancamkan kutukan masuk ke neraka kepada beliau.


Ketika saya merefleksikan keadaan yang berkembang di sekitar Pak Ioanes dan membandingkannya dengan keadaan yang diberitakan dalam kitab-kitab Injil tentang perseteruan kaum Farisi dan kaum Saduki dengan Yesus, saya melihat ada suatu persamaan yang mendasar, yaitu pertentangan antara upaya mempertahankan kemapanan dan upaya mereformasinya. Lebih jauh lagi, ketika saya membandingkannya dengan periode awal tumbuhnya gereja Reformasi (abad XVI), saat ini menurut saya Pak Ioanes adalah seorang pengusung panji reformasi yang terdepan. Semboyan Calvin “Ecclesia Reformata Semper Reformanda” benar-benar sudah, sedang dan masih akan dijalankan oleh Pak Ioanes. Dalam pengamatan saya, segala perbedaan pendapat dan perdebatan yang terjadi selama ini antara Ioanes Rakhmat dengan pihak-pihak yang berseberangan adalah suatu proses yang wajar dalam dinamika perjumpaan antara kaum pembaharu dengan kaum pemelihara kemapanan.


Namun demikian, dalam proses itu saya berpendapat bahwa saya harus memilih berdiri di mana. Menjadi murid Yesus yang progresif atau menjadi pengikut Imam Besar Kayafas yang konservatif, yang telah menjatuhkan vonis mati kepada Yesus? Saya pernah memikirkan sebuah perumpamaan tentang diri saya sendiri yang berusaha berpikir kritis dan progresif dalam menjadi murid Yesus dan menyandang sebutan “orang Kristen”, lalu membuat perumpamaan ini menjadi sebuah semboyan bagi kehidupan saya, demikian: “Lebih baik menjadi seperti seekor kambing gunung yang berani menentukan sendiri sebuah batu pijakan untuk melangkah ke depan di tebing curam, daripada menjadi seperti seekor domba gembalaan yang digiring kesana kemari bersama kawanannya di padang rumput hijau tanpa punya pilihan pribadi!” Setelah itu saya memilih bergabung dengan “kambing-kambing gunung” lainnya untuk ikut menapaki batu-batu pijakan di tebing curam bersama Pak Ioanes yang telah lebih dahulu menapakinya dengan berani dan tak gentar ketika menghadapi hujan cercaan dan badai cemoohan.


Status emeritus bagi seorang pendeta dapat dilihat sebagai akhir dari karirnya sebagai seorang pejabat struktural gereja; akan tetapi bagi seorang Ioanes Rakhmat emeritasi adalah sebuah awal dari suatu karir baru dan terbukanya cakrawala baru. Selamat menapaki tebing-tebing batu yang baru dan lebih menantang, Pak Ioanes Rakhmat!



Thursday, November 26, 2009

Ioanes Rakhmat, Seorang Yang Mencari Kebenaran Paling Hakiki . . .

Sebuah opini seorang sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

oleh Pdt Prof. Dr. K.A.M. Jusufroni
Bishop Gereja Kemah Abraham dan Rektor STT Apostolos

Saya mengenal Pak Ioanes Rakhmat ketika dia menjadi seorang gembala di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kepa Duri, Jakarta. Selanjutnya, saya mengenal beliau ketika beliau aktif menjadi seorang staf pengajar di sebuah sekolah teologi di Jakarta.

Ioanes Rakhmat adalah seorang akademisi sejati. Hal itu nyata dari tulisan-tulisannya serta buku-buku yang ditulisnya. Dia adalah seorang intelektual Kristen yang kaya akan telaah-telaah kritis, sehingga melalui telaah-telaahnya perbendaharaan teologi Kristen terus diperkaya, bahkan merangsang banyak mahasiswanya untuk menjadi para teolog dan pemikir yang kritis, yang mampu menganalisa secara ilmiah setiap konsep pemikiran dan kiprah gereja.

Dari pemikiran-pemikiran Pak Ioanes, banyak hal yang tadinya terselubung, disingkapkan, menjadi terbuka, tidak saja bagi akademisi Kristen, tapi juga bagi setiap orang yang terus-menerus bertanya tentang kekristenan itu sendiri.

Secara pribadi, saya sangat terbantu melalui karya-karya dan pemikiran-pemikiran Ioanes Rakhmat, khususnya terbantu dalam mewujudkan sebuah visi saya untuk gereja kembali kepada suatu bentuk Judeo-Christianity, kekristenan Yahudi. Dia begitu ulet menggali akar-akar kekristenan dari literatur-literatur klasik, yang mungkin bagi sebagian orang hanya ditemukan dari kutipan-kutipan tulisan teolog-teolog lain. Tapi, Pak Ioanes betul-betul menggalinya secara objektif dengan pendekatan akademis yang luar biasa.

Memang, tidak semua pemikiran kami sejalan. Ada hal-hal yang kami tak sependapat; tapi saya jelas sangat menghargai pikiran-pikiran kritisnya sebagai suatu rangsangan untuk mencari kebenaran yang paling hakiki. Kekristenan sangat membutuhkan figur-figur seperti Ioanes Rakhmat, yang tetap konsisten pada semangat criticism-nya, teguh pada idealismenya dan mengedepankan kaidah-kaidah ilmiah yang terus-menerus diperbaruinya tatkala dia menggali teks-teks klasik, bahkan dalam telaahnya atas kitab suci.

Mungkin banyak orang berpikir bahwa Ioanes Rakhmat adalah seorang pribadi yang labil dan imannya sangatlah lemah. Namun, dalam pergaulan pribadi dengannya, saya melihat suatu kenyataan yang berbeda. Bagi saya, Pak Ioanes adalah seorang yang sangat teguh, termasuk dalam kepercayaannya kepada Yesus Kristus sebagai sang “Junjungan.” Dia tetap berdoa, tidak gelisah dalam hal apapun, dan senantiasa merasa nyaman dengan posisi teologis dan agama yang dipegang dan dikembangkannya terus. Sungguh, saya tidak menemukan adanya masalah dengan kekristenan seorang Ioanes Rakhmat.

Dengan memasuki masa emeritus dan lepas dari jabatan struktural gerejawi, Pak Ioanes akan memiliki lebih banyak kebebasan untuk mencurahkan pikiran dan tenaganya dalam bidang akademis. Sebagai seorang teolog atau lebih tepat pemikir Kristen, di situlah tempat yang pantas bagi Pak Ioanes, yaitu dalam dunia pemikiran dan pendidikan.

Kecemerlangan pemikiran Pak Ioanes akan sangat memperkaya khazanah pemikiran Kristen, dan sangat disayangkan apabila pemikiran-pemikiran semacam ini ada yang mau “cekal” hanya karena kekuatiran goncangnya iman umat. Sebab, saya percaya, bahwa ada suatu maksud mulia Pak Ioanes di balik pengembaraan intelektualitasnya. Ada suatu capaian penting bagi kemajuan pemikiran Kristen yang ingin diraih olehnya, dan hal seperti itu perlu didukung bersama.

Wednesday, November 25, 2009

Ioanes Rakhmat, Suatu Jiwa Yang Berkelana Bebas. . .

Sebuah opini seorang guru dan sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat
oleh Prof. em. Richard W. Haskin, Ph.D.

Selesai pendidikan SMA, Ioanes Rakhmat, setelah bekerja kurang lebih dua tahun sebagai seorang analist logam, masuk ke dalam suatu sekolah tinggi teologi di Jakarta untuk mengejar gelar sarjana. Pada sekolah tersebut, satu anggota dewan pengajar adalah saya. Maka, dari semula, Ioanes dan saya sudah saling berkenalan dalam rangka persekutuan orang yang ingin menambah pengetahuan supaya kiranya bertambah pula hikmat yang bermanfaat bagi sesama manusia dimana saja di dunia ini. Tujuan yang sedemikian, kami setuju, akan didekati hanya apabila kami mau dan mampu berpikir tajam serta kritis, dengan pemikiran yang mencakup secara sungguh-sungguh segi kerohanian. Inilah corak hubungan kami sampai sekarang, kendatipun, selama sepuluh tahun terakhir ini, kami terpisah jauh secara geografis: dia di Jakarta, dan saya di Seattle, California, USA.

Pada tahun pertama dalam studi sarjananya, kami di dewan pengajar memperhatikan kecerdasan Saudara Ioanes serta semangatnya untuk mendalami hampir setiap mata pelajaran. Dan dia cepat menjadi fasih dalam bahasa Inggris, sehingga, menjelang selesainya studi sarjana, dia sudah mampu menerjemahkan makalah-makalah bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan mutu yang baik untuk diterbitkan.

Sesudah memperoleh Sarjana Satu, Ioanes bekerja sebagai seorang pelayan gereja, tetapi dia tidak mengabaikan kegiatan penerjemahan dan upaya penulisan hasil pemikirannya sendiri. Sesudah beberapa tahun, dalam semacam “kerja sama” dengan suatu universitas di Belanda, dia diterima ke dalam program studi Sarjana Tiga, dan saya ditunjuk selaku seorang penasehat utama selama dia mempersiapkan skripsi besar (“dissertation”). Saya dan rekan-rekan berkesan sekali mengenai kemampuan Ioanes untuk membuat sebuah pengkajian independen serta merampungkan hasil pengkajian itu; begitu juga kesan kami mengenai kemampuannya untuk membela tesisnya dalam ujian lisan.

Menurut saya, yang belakangan ini ditulis oleh Ioanes Rakhmat pada yang disebut “blog-blog” di Internet menolong orang untuk memperoleh sejumlah gambaran tepat tentang pandangan dan sikapnya. Ioanes memandang diri sebagai suatu jiwa yang berkelana bebas—“bebas” karena berpikir bebas—untuk mencari kebenaran yang tidak mudah ditemukan namun yang dapat memerdekakan manusia dari ketidaktahuan, dari kepercayaan buta, dan dari prasangka; dan kebenaran itu dapat mengantar manusia ke dalam kebebasan pemikiran serta perasaan yang bertanggungjawab. (Lihat blog Ioanes yang diberinya nama “The Freethinker Blog”)

Tetapi, sebagaimana saya sudah mencatat di atas, Ioanes menekankan bahwa pemikiran harus kritis karena hanya dengan sifat seperti itu akan ada suatu daya yang cukup kuat untuk menantang bahkan menghancurkan pemikiran dan sikap biasa yang telah terlalu sering mengakibatkan ketidakadilan dan penindasan bagi begitu banyak manusia. Tetapi, sekali lagi, Ioanes menegaskan bahwa pemikiran kritis harus bertanggungjawab demi kepentingan seluruh umat manusia. (Lihat blog Ioanes yang diberinya nama “The Critical Voice Blog”)

Ioanes mengaku diri selaku orang Kristen, tulisnya: “...saya adalah seorang pencinta Yesus dari Nazaret...”; tetapi dia menilai tidaklah gampang usaha untuk mencari Yesus yang autentik ini, yaitu Yesus sebagaimana dia dulu berada, dalam perkataan dan perbuatan, dalam sejarah dunia ini. Apalagi, kata Ioanes, ada banyak risiko dalam pencarian ini karena yang ditemui bisa cukup berbeda, bahkan bertentangan, dengan yang lama, yang biasanya diberitakan oleh gereja-gereja. Ioanes mendukung pencarian ini karena dia yakin, seperti saya, bahwa pengertian tepat atas Yesus sejarah menguatkan kaum Kristen untuk berpikir dan bertindak dengan tidak terikat pada dan dikendalikan secara menyeluruh oleh lingkungan sodio-budaya-politiknya yang bisa menindas manusia! (Lihat blog Ioanes yang diberinya nama “The Jesus Blog”)

Namun, dengan kuat, Ioanes berjuang untuk hidup sendiri dan mengajak warga negara Indonesia lain untuk hidup selaku pendukung Indonesia sebagai negara yang sistim kenegaraannya sungguh-sungguh harus berdasarkan Pancasila, yaitu, menjadi sebuah negara yang adil, demokratis, bebas dalam menganut agama, prihatin terhadap kemiskinan, jujur secara intelektual, dan bertanggungjawab terhadap semua warga dan seluruh umat manusia. Saya berpendapat bahwa suatu bukti kuat atas penerimaan umum terhadap pemikiran dan sikap Ioanes dalam hal ini terlihat dalam keberhasilannya untuk mendirikan suatu jaringan di Internet, dalam bentuk suatu blog kolektif yang diberi nama “The Countertheocracy Blog”, bagi orang-orang siapapun yang mau bergabung untuk ikut memperjuangkan apa saja yang diharapkan akan menambahkan keadaan baik, secara fisik dan akali, bagi seluruh masyarakat Indonesia!

Menurut saya, orang semacam Ioanes Rakhmat ini, orang yang sudah lama memperjuangkan pemikiran yang bebas dan kritis serta cara hidup yang penuh tanggungjawab terhadap diri sendiri dan terhadap sesama manusia, patut sekali dihormati. Pada saat ini, ketika Ioanes memasuki suatu tahapan baru dalam kehidupannya, masa emeritasi, saya, mantan gurunya dan senantiasa kawannya, mengucapkan: SELAMAT.

Wednesday, November 11, 2009

Manajemen Pikiran (5)

mind and religiosity

Pada bagian akhir sebuah tulisan yang lalu, saya bertanya, apakah tidak ada nilai positif pada teodise. Kalau teodise dipikirkan sebagai sebuah keyakinan teologis bahwa karena allah YME itu mahakuasa, mahatahu, mahakasih, mahapenolong dan mahadil, maka dia akan senantiasa meluputkan seorang mukmin dari segala bencana, teodise yang semacam ini umumnya merusak dan mendemoralisasi si mukmin ketika dia sedang mengalami bencana yang tidak bisa diterimanya dengan ikhlas. Karena itu, kalau teodise kita kehendaki dapat memberi sebuah dampak positif pada manusia yang sedang menderita, kita harus membuat satu atau dua modifikasi pada konstruk pemikiran teologis ini. Pikiran kita harus dirombak cukup mendasar untuk kita bisa hidup tenteram dan ikhlas di tengah bencana sementara kita dapat tetap memegang kepercayaan bahwa allah itu mahakasih dan mahaadil. Merombak pikiran adalah salah satu langkah efektif dalam manajemen pikiran agar pikiran kita memberi kita ketenteraman dan kekuatan serta keikhlasan dalam kehidupan kita. Pikiran tentang allah yang kita rombak, akan berpengaruh positif pada sisi kerohanian kita.

Saya mulai dengan suatu pengalaman nyata yang umumnya dialami setiap orang ketika dia sedang mengalami suatu persoalan berat atau suatu kesusahan, misalnya ketika dia sedang menanggung suatu penyakit berat yang tak tersembuhkan. Sebutlah yang sedang menanggung suatu penyakit berat ini teman kita si A, seorang yang dikenal taat beragama dan menaruh kepercayaan penuh pada tuhannya. Dia sudah tahu bahwa penyakitnya sudah tak dapat disembuhkan lagi, dan bahwa dia tinggal menunggu waktu saja untuk meninggal. Pergumulan teologisnya di sekitar persoalan teodise sama sekali belum berakhir: sekian pertanyaan dan tuduhan berat masih senantiasa si A ajukan kepada tuhannya. Sisi kerohanian kehidupannya sedang rapuh, kalau tidak mau dikatakan sudah hancur lebur. Tetapi ada sesuatu yang menakjubkan terjadi pada dirinya.

Meskipun secara spiritual si A sedang lemah, tetapi sikap-sikapnya terhadap penyakit yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri menunjukkan suatu perkembangan positif: dia dari hari ke hari makin bisa menerima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan lagi, dan bahwa dia perlu mempersiapkan diri dengan tenang dan ikhlas untuk menerima ajal tidak lama lagi. Mengapa sikap positif semacam ini bisa muncul dan makin mantap di dalam dirinya sementara imannya kepada tuhannya sudah hancur total?

Tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap dirinya sehingga dia dapat memperlihatkan sikap-sikap positif semacam ini. Tetapi faktor yang sangat menentukan tidak lain adalah dukungan dan empati psikologis yang tulus, yang diterimanya dari para kekasihnya dan dari orang-orang di sekitarnya selama dia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya, yang akhirnya harus diserahkannya kepada kekuasaan penyakitnya. Istrinya yang tabah senantiasa menemaninya, senantiasa menghibur, senantiasa menguatkannya, senantiasa menunjukkan suatu empati besar terhadap azabnya, kendatipun sang istri diketahuinya tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menyembuhkannya. Tim dokter dan jururawat yang menangani penyakitnya dan merawat fisiknya juga memberikan perhatian dan empati yang sama besar, meskipun mereka dimakluminya sudah tidak akan bisa menyembuhkannya. Dan, lebih khusus lagi, si A selalu didampingi oleh seorang teman karibnya yang juga memberikan empati dan perhatian yang sangat besar. Sahabat karibnya ini tidak pernah mengkhotbahinya agar dia jangan memberontak dan durhaka kepada allah, tetapi lebih banyak berdiam diri dan melalui sikap diamnya ini dia memperlihatkan diri sebagai seorang yang ikut menderita bersamanya, sebagai seorang yang sedalam-dalamnya ikut menanggung sakit-penyakitnya kendatipun dia sama sekali tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkannya. Temannya ini, dan semua kekasih dan orang yang merawat dirinya, terus memperlihatkan kesetiaan dan empati mereka untuk terus berada bersamanya bahkan sampai ajal datang kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa setia menemani, ikut berbelarasa sedalam-dalamnya, sampai kapanpun selama dia masih hidup.

Nah, jika si A di hari-hari terakhir kehidupannya bisa memperlihatkan sikap-sikap positif terhadap penderitaan yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri karena dukungan dan empati psikologis yang demikian besar dan bertahan sampai akhir dari orang-orang di sekitarnya kendatipun orang-orang ini tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkan, maka kita perlu memegang suatu konsep tentang allah yang sejalan. Jika teodise mau memberikan suatu dampak positif terhadap kaum mukmin yang sedang ditimpa bencana berat, konsep tentang allah yang mahakuasa dan mahapenolong harus kita ganti dengan konsep tentang suatu allah yang tidak mahakuasa dan tidak mahapenolong, tetapi mahasetia dan mahaberempati terhadap kaum mukmin yang percaya kepadanya, yang sedang menanggung penderitaan berat. Konsep tentang allah yang semacam ini adalah suatu konsep tentang allah yang berwajah dan bertabiat sangat insani, sangat setia dan berbelarasa terhadap setiap mukmin yang menderita kendatipun sang allah ini, seperti manusia pada umumnya, lebih banyak tidak berdaya dalam melawan penderitaan dan kematian. Dalam kepercayaan Yahudi-Kristen, konsep tentang allah yang semacam ini diungkap dalam satu kata terkenal, yakni Immanuel, artinya “allah bersama kita”, dan dalam teologi inkarnasi: allah menjadi manusia dengan menyandang semua kodrat keinsanian, dan juga dalam teologi kenosis: allah mengosongkan dirinya total, menjadi seorang manusia sepenuhnya yang bahkan tidak berdaya sama sekali ketika harus menghadapi kenyataan kematian. Allah yang semacam ini tidak mahakuasa, tidak mahapenolong, tetapi tetap mahakasih, mahaadil, mahamenyertai dan mahaberbelarasa.

Jika seorang mukmin yang sedang menanggung azab dan kesengsaraan berpikiran demikian tentang allahnya, pikirannya ini akan berpengaruh pada sisi kerohaniannya. Dalam penderitaannya, si mukmin yang memegang teologi kesetiaan, belarasa sekaligus ketidakberdayaan allah semacam ini tetap bisa merasakan allah-nya begitu dekat dengan dirinya, bahkan menyatu dengan dirinya dan ikut bersamanya menanggung sakit penyakitnya sampai ajal mendatangi dirinya. Nah, manage-lah pikiran anda dan sahabat-sahabat anda sedemikian rupa sehingga anda dan mereka sanggup melepaskan suatu konsep tentang allah yang mahakuasa, dan sebaliknya merangkul suatu konsep tentang allah yang sangat insani: tidak mahakuasa, tetapi tahu apa artinya menampakkan persahabatan dan belarasa kepada kaum mukmin yang sedang menderita sampai ajal menjemput diri mereka.