Thursday, November 26, 2009

Ioanes Rakhmat, Seorang Yang Mencari Kebenaran Paling Hakiki . . .

Sebuah opini seorang sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

oleh Pdt Prof. Dr. K.A.M. Jusufroni
Bishop Gereja Kemah Abraham dan Rektor STT Apostolos

Saya mengenal Pak Ioanes Rakhmat ketika dia menjadi seorang gembala di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kepa Duri, Jakarta. Selanjutnya, saya mengenal beliau ketika beliau aktif menjadi seorang staf pengajar di sebuah sekolah teologi di Jakarta.

Ioanes Rakhmat adalah seorang akademisi sejati. Hal itu nyata dari tulisan-tulisannya serta buku-buku yang ditulisnya. Dia adalah seorang intelektual Kristen yang kaya akan telaah-telaah kritis, sehingga melalui telaah-telaahnya perbendaharaan teologi Kristen terus diperkaya, bahkan merangsang banyak mahasiswanya untuk menjadi para teolog dan pemikir yang kritis, yang mampu menganalisa secara ilmiah setiap konsep pemikiran dan kiprah gereja.

Dari pemikiran-pemikiran Pak Ioanes, banyak hal yang tadinya terselubung, disingkapkan, menjadi terbuka, tidak saja bagi akademisi Kristen, tapi juga bagi setiap orang yang terus-menerus bertanya tentang kekristenan itu sendiri.

Secara pribadi, saya sangat terbantu melalui karya-karya dan pemikiran-pemikiran Ioanes Rakhmat, khususnya terbantu dalam mewujudkan sebuah visi saya untuk gereja kembali kepada suatu bentuk Judeo-Christianity, kekristenan Yahudi. Dia begitu ulet menggali akar-akar kekristenan dari literatur-literatur klasik, yang mungkin bagi sebagian orang hanya ditemukan dari kutipan-kutipan tulisan teolog-teolog lain. Tapi, Pak Ioanes betul-betul menggalinya secara objektif dengan pendekatan akademis yang luar biasa.

Memang, tidak semua pemikiran kami sejalan. Ada hal-hal yang kami tak sependapat; tapi saya jelas sangat menghargai pikiran-pikiran kritisnya sebagai suatu rangsangan untuk mencari kebenaran yang paling hakiki. Kekristenan sangat membutuhkan figur-figur seperti Ioanes Rakhmat, yang tetap konsisten pada semangat criticism-nya, teguh pada idealismenya dan mengedepankan kaidah-kaidah ilmiah yang terus-menerus diperbaruinya tatkala dia menggali teks-teks klasik, bahkan dalam telaahnya atas kitab suci.

Mungkin banyak orang berpikir bahwa Ioanes Rakhmat adalah seorang pribadi yang labil dan imannya sangatlah lemah. Namun, dalam pergaulan pribadi dengannya, saya melihat suatu kenyataan yang berbeda. Bagi saya, Pak Ioanes adalah seorang yang sangat teguh, termasuk dalam kepercayaannya kepada Yesus Kristus sebagai sang “Junjungan.” Dia tetap berdoa, tidak gelisah dalam hal apapun, dan senantiasa merasa nyaman dengan posisi teologis dan agama yang dipegang dan dikembangkannya terus. Sungguh, saya tidak menemukan adanya masalah dengan kekristenan seorang Ioanes Rakhmat.

Dengan memasuki masa emeritus dan lepas dari jabatan struktural gerejawi, Pak Ioanes akan memiliki lebih banyak kebebasan untuk mencurahkan pikiran dan tenaganya dalam bidang akademis. Sebagai seorang teolog atau lebih tepat pemikir Kristen, di situlah tempat yang pantas bagi Pak Ioanes, yaitu dalam dunia pemikiran dan pendidikan.

Kecemerlangan pemikiran Pak Ioanes akan sangat memperkaya khazanah pemikiran Kristen, dan sangat disayangkan apabila pemikiran-pemikiran semacam ini ada yang mau “cekal” hanya karena kekuatiran goncangnya iman umat. Sebab, saya percaya, bahwa ada suatu maksud mulia Pak Ioanes di balik pengembaraan intelektualitasnya. Ada suatu capaian penting bagi kemajuan pemikiran Kristen yang ingin diraih olehnya, dan hal seperti itu perlu didukung bersama.

Wednesday, November 25, 2009

Ioanes Rakhmat, Suatu Jiwa Yang Berkelana Bebas. . .

Sebuah opini seorang guru dan sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat
oleh Prof. em. Richard W. Haskin, Ph.D.

Selesai pendidikan SMA, Ioanes Rakhmat, setelah bekerja kurang lebih dua tahun sebagai seorang analist logam, masuk ke dalam suatu sekolah tinggi teologi di Jakarta untuk mengejar gelar sarjana. Pada sekolah tersebut, satu anggota dewan pengajar adalah saya. Maka, dari semula, Ioanes dan saya sudah saling berkenalan dalam rangka persekutuan orang yang ingin menambah pengetahuan supaya kiranya bertambah pula hikmat yang bermanfaat bagi sesama manusia dimana saja di dunia ini. Tujuan yang sedemikian, kami setuju, akan didekati hanya apabila kami mau dan mampu berpikir tajam serta kritis, dengan pemikiran yang mencakup secara sungguh-sungguh segi kerohanian. Inilah corak hubungan kami sampai sekarang, kendatipun, selama sepuluh tahun terakhir ini, kami terpisah jauh secara geografis: dia di Jakarta, dan saya di Seattle, California, USA.

Pada tahun pertama dalam studi sarjananya, kami di dewan pengajar memperhatikan kecerdasan Saudara Ioanes serta semangatnya untuk mendalami hampir setiap mata pelajaran. Dan dia cepat menjadi fasih dalam bahasa Inggris, sehingga, menjelang selesainya studi sarjana, dia sudah mampu menerjemahkan makalah-makalah bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan mutu yang baik untuk diterbitkan.

Sesudah memperoleh Sarjana Satu, Ioanes bekerja sebagai seorang pelayan gereja, tetapi dia tidak mengabaikan kegiatan penerjemahan dan upaya penulisan hasil pemikirannya sendiri. Sesudah beberapa tahun, dalam semacam “kerja sama” dengan suatu universitas di Belanda, dia diterima ke dalam program studi Sarjana Tiga, dan saya ditunjuk selaku seorang penasehat utama selama dia mempersiapkan skripsi besar (“dissertation”). Saya dan rekan-rekan berkesan sekali mengenai kemampuan Ioanes untuk membuat sebuah pengkajian independen serta merampungkan hasil pengkajian itu; begitu juga kesan kami mengenai kemampuannya untuk membela tesisnya dalam ujian lisan.

Menurut saya, yang belakangan ini ditulis oleh Ioanes Rakhmat pada yang disebut “blog-blog” di Internet menolong orang untuk memperoleh sejumlah gambaran tepat tentang pandangan dan sikapnya. Ioanes memandang diri sebagai suatu jiwa yang berkelana bebas—“bebas” karena berpikir bebas—untuk mencari kebenaran yang tidak mudah ditemukan namun yang dapat memerdekakan manusia dari ketidaktahuan, dari kepercayaan buta, dan dari prasangka; dan kebenaran itu dapat mengantar manusia ke dalam kebebasan pemikiran serta perasaan yang bertanggungjawab. (Lihat blog Ioanes yang diberinya nama “The Freethinker Blog”)

Tetapi, sebagaimana saya sudah mencatat di atas, Ioanes menekankan bahwa pemikiran harus kritis karena hanya dengan sifat seperti itu akan ada suatu daya yang cukup kuat untuk menantang bahkan menghancurkan pemikiran dan sikap biasa yang telah terlalu sering mengakibatkan ketidakadilan dan penindasan bagi begitu banyak manusia. Tetapi, sekali lagi, Ioanes menegaskan bahwa pemikiran kritis harus bertanggungjawab demi kepentingan seluruh umat manusia. (Lihat blog Ioanes yang diberinya nama “The Critical Voice Blog”)

Ioanes mengaku diri selaku orang Kristen, tulisnya: “...saya adalah seorang pencinta Yesus dari Nazaret...”; tetapi dia menilai tidaklah gampang usaha untuk mencari Yesus yang autentik ini, yaitu Yesus sebagaimana dia dulu berada, dalam perkataan dan perbuatan, dalam sejarah dunia ini. Apalagi, kata Ioanes, ada banyak risiko dalam pencarian ini karena yang ditemui bisa cukup berbeda, bahkan bertentangan, dengan yang lama, yang biasanya diberitakan oleh gereja-gereja. Ioanes mendukung pencarian ini karena dia yakin, seperti saya, bahwa pengertian tepat atas Yesus sejarah menguatkan kaum Kristen untuk berpikir dan bertindak dengan tidak terikat pada dan dikendalikan secara menyeluruh oleh lingkungan sodio-budaya-politiknya yang bisa menindas manusia! (Lihat blog Ioanes yang diberinya nama “The Jesus Blog”)

Namun, dengan kuat, Ioanes berjuang untuk hidup sendiri dan mengajak warga negara Indonesia lain untuk hidup selaku pendukung Indonesia sebagai negara yang sistim kenegaraannya sungguh-sungguh harus berdasarkan Pancasila, yaitu, menjadi sebuah negara yang adil, demokratis, bebas dalam menganut agama, prihatin terhadap kemiskinan, jujur secara intelektual, dan bertanggungjawab terhadap semua warga dan seluruh umat manusia. Saya berpendapat bahwa suatu bukti kuat atas penerimaan umum terhadap pemikiran dan sikap Ioanes dalam hal ini terlihat dalam keberhasilannya untuk mendirikan suatu jaringan di Internet, dalam bentuk suatu blog kolektif yang diberi nama “The Countertheocracy Blog”, bagi orang-orang siapapun yang mau bergabung untuk ikut memperjuangkan apa saja yang diharapkan akan menambahkan keadaan baik, secara fisik dan akali, bagi seluruh masyarakat Indonesia!

Menurut saya, orang semacam Ioanes Rakhmat ini, orang yang sudah lama memperjuangkan pemikiran yang bebas dan kritis serta cara hidup yang penuh tanggungjawab terhadap diri sendiri dan terhadap sesama manusia, patut sekali dihormati. Pada saat ini, ketika Ioanes memasuki suatu tahapan baru dalam kehidupannya, masa emeritasi, saya, mantan gurunya dan senantiasa kawannya, mengucapkan: SELAMAT.

Wednesday, November 11, 2009

Manajemen Pikiran (5)

mind and religiosity

Pada bagian akhir sebuah tulisan yang lalu, saya bertanya, apakah tidak ada nilai positif pada teodise. Kalau teodise dipikirkan sebagai sebuah keyakinan teologis bahwa karena allah YME itu mahakuasa, mahatahu, mahakasih, mahapenolong dan mahadil, maka dia akan senantiasa meluputkan seorang mukmin dari segala bencana, teodise yang semacam ini umumnya merusak dan mendemoralisasi si mukmin ketika dia sedang mengalami bencana yang tidak bisa diterimanya dengan ikhlas. Karena itu, kalau teodise kita kehendaki dapat memberi sebuah dampak positif pada manusia yang sedang menderita, kita harus membuat satu atau dua modifikasi pada konstruk pemikiran teologis ini. Pikiran kita harus dirombak cukup mendasar untuk kita bisa hidup tenteram dan ikhlas di tengah bencana sementara kita dapat tetap memegang kepercayaan bahwa allah itu mahakasih dan mahaadil. Merombak pikiran adalah salah satu langkah efektif dalam manajemen pikiran agar pikiran kita memberi kita ketenteraman dan kekuatan serta keikhlasan dalam kehidupan kita. Pikiran tentang allah yang kita rombak, akan berpengaruh positif pada sisi kerohanian kita.

Saya mulai dengan suatu pengalaman nyata yang umumnya dialami setiap orang ketika dia sedang mengalami suatu persoalan berat atau suatu kesusahan, misalnya ketika dia sedang menanggung suatu penyakit berat yang tak tersembuhkan. Sebutlah yang sedang menanggung suatu penyakit berat ini teman kita si A, seorang yang dikenal taat beragama dan menaruh kepercayaan penuh pada tuhannya. Dia sudah tahu bahwa penyakitnya sudah tak dapat disembuhkan lagi, dan bahwa dia tinggal menunggu waktu saja untuk meninggal. Pergumulan teologisnya di sekitar persoalan teodise sama sekali belum berakhir: sekian pertanyaan dan tuduhan berat masih senantiasa si A ajukan kepada tuhannya. Sisi kerohanian kehidupannya sedang rapuh, kalau tidak mau dikatakan sudah hancur lebur. Tetapi ada sesuatu yang menakjubkan terjadi pada dirinya.

Meskipun secara spiritual si A sedang lemah, tetapi sikap-sikapnya terhadap penyakit yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri menunjukkan suatu perkembangan positif: dia dari hari ke hari makin bisa menerima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan lagi, dan bahwa dia perlu mempersiapkan diri dengan tenang dan ikhlas untuk menerima ajal tidak lama lagi. Mengapa sikap positif semacam ini bisa muncul dan makin mantap di dalam dirinya sementara imannya kepada tuhannya sudah hancur total?

Tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap dirinya sehingga dia dapat memperlihatkan sikap-sikap positif semacam ini. Tetapi faktor yang sangat menentukan tidak lain adalah dukungan dan empati psikologis yang tulus, yang diterimanya dari para kekasihnya dan dari orang-orang di sekitarnya selama dia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya, yang akhirnya harus diserahkannya kepada kekuasaan penyakitnya. Istrinya yang tabah senantiasa menemaninya, senantiasa menghibur, senantiasa menguatkannya, senantiasa menunjukkan suatu empati besar terhadap azabnya, kendatipun sang istri diketahuinya tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menyembuhkannya. Tim dokter dan jururawat yang menangani penyakitnya dan merawat fisiknya juga memberikan perhatian dan empati yang sama besar, meskipun mereka dimakluminya sudah tidak akan bisa menyembuhkannya. Dan, lebih khusus lagi, si A selalu didampingi oleh seorang teman karibnya yang juga memberikan empati dan perhatian yang sangat besar. Sahabat karibnya ini tidak pernah mengkhotbahinya agar dia jangan memberontak dan durhaka kepada allah, tetapi lebih banyak berdiam diri dan melalui sikap diamnya ini dia memperlihatkan diri sebagai seorang yang ikut menderita bersamanya, sebagai seorang yang sedalam-dalamnya ikut menanggung sakit-penyakitnya kendatipun dia sama sekali tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkannya. Temannya ini, dan semua kekasih dan orang yang merawat dirinya, terus memperlihatkan kesetiaan dan empati mereka untuk terus berada bersamanya bahkan sampai ajal datang kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa setia menemani, ikut berbelarasa sedalam-dalamnya, sampai kapanpun selama dia masih hidup.

Nah, jika si A di hari-hari terakhir kehidupannya bisa memperlihatkan sikap-sikap positif terhadap penderitaan yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri karena dukungan dan empati psikologis yang demikian besar dan bertahan sampai akhir dari orang-orang di sekitarnya kendatipun orang-orang ini tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkan, maka kita perlu memegang suatu konsep tentang allah yang sejalan. Jika teodise mau memberikan suatu dampak positif terhadap kaum mukmin yang sedang ditimpa bencana berat, konsep tentang allah yang mahakuasa dan mahapenolong harus kita ganti dengan konsep tentang suatu allah yang tidak mahakuasa dan tidak mahapenolong, tetapi mahasetia dan mahaberempati terhadap kaum mukmin yang percaya kepadanya, yang sedang menanggung penderitaan berat. Konsep tentang allah yang semacam ini adalah suatu konsep tentang allah yang berwajah dan bertabiat sangat insani, sangat setia dan berbelarasa terhadap setiap mukmin yang menderita kendatipun sang allah ini, seperti manusia pada umumnya, lebih banyak tidak berdaya dalam melawan penderitaan dan kematian. Dalam kepercayaan Yahudi-Kristen, konsep tentang allah yang semacam ini diungkap dalam satu kata terkenal, yakni Immanuel, artinya “allah bersama kita”, dan dalam teologi inkarnasi: allah menjadi manusia dengan menyandang semua kodrat keinsanian, dan juga dalam teologi kenosis: allah mengosongkan dirinya total, menjadi seorang manusia sepenuhnya yang bahkan tidak berdaya sama sekali ketika harus menghadapi kenyataan kematian. Allah yang semacam ini tidak mahakuasa, tidak mahapenolong, tetapi tetap mahakasih, mahaadil, mahamenyertai dan mahaberbelarasa.

Jika seorang mukmin yang sedang menanggung azab dan kesengsaraan berpikiran demikian tentang allahnya, pikirannya ini akan berpengaruh pada sisi kerohaniannya. Dalam penderitaannya, si mukmin yang memegang teologi kesetiaan, belarasa sekaligus ketidakberdayaan allah semacam ini tetap bisa merasakan allah-nya begitu dekat dengan dirinya, bahkan menyatu dengan dirinya dan ikut bersamanya menanggung sakit penyakitnya sampai ajal mendatangi dirinya. Nah, manage-lah pikiran anda dan sahabat-sahabat anda sedemikian rupa sehingga anda dan mereka sanggup melepaskan suatu konsep tentang allah yang mahakuasa, dan sebaliknya merangkul suatu konsep tentang allah yang sangat insani: tidak mahakuasa, tetapi tahu apa artinya menampakkan persahabatan dan belarasa kepada kaum mukmin yang sedang menderita sampai ajal menjemput diri mereka.

Friday, November 6, 2009

Manajemen Pikiran (4)

meditasi, pikiran dan jagat raya

Alam di planet Bumi dan planetnya sendiri adalah salah satu manifestasi dari alam raya maha besar tak terbatas. Kekuatan-kekuatan alam dan hukum-hukumnya yang tampak dan bekerja di planet Bumi adalah bagian dari kekuatan dan hukum alam yang memenuhi dan bekerja di alam semesta maha besar dan maha tak terbatas. Kemahabesaran dan kemahatakterbatasan alam raya adalah bagian dari sifat alam raya itu sendiri. Nah, bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap alam raya mahabesar dan mahatakterbatas ini? Karena sikap dan perilaku terhadap alam dilahirkan dari pikiran, maka sikap dan perilaku yang benar terhadap alam ditentukan oleh pikiran yang benar tentang alam itu sendiri.

Dalam tulisan sebelumnya telah dianjurkan untuk manusia mengendalikan pikirannya untuk senantiasa selaras dengan alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, baik ketika alam mendatangkan kebaikan bagi manusia maupun ketika alam menimbulkan malapetaka dan bencana kepada manusia. Kalau seseorang berpikir selaras dengan mekanisme kerja alam dalam segala situasi alam, orang itu akan merasakan batinnya tenteram dan pikirannya tenang dan akan meneruskan suasana batin dan keadaan pikirannya yang semacam ini kepada lingkungan kehidupan sekitarnya.

Ada hal-hal lain yang ditimbulkan oleh pemikiran yang selaras dengan alam. Berpikir selaras dengan alam akan memampukan orang untuk mengambil suatu sikap reverensial terhadap alam, yakni sikap respek, hormat, takjub dan gentar terhadap alam yang mahabesar dan mahatakterbatas. Sikap semacam ini membuat orang mengambil jarak terhadap alam dan tidak bertindak sembarangan terhadapnya. Sikap ini membuat orang mampu melihat suatu aura kesucian, a sacred quality, terpancar dari alam, yang diterima dan dirasakannya serta berpengaruh besar terhadap dirinya pribadi. Jika terhadap alam yang mahaluas dan mahatakterbatas ini seorang manusia dapat memberi sikap reverensial semacam ini, maka akan sangat lebih dimudahkan baginya untuk dia juga dapat membangun suatu sikap reverensial terhadap semua makhluk hidup lainnya, khususnya terhadap sesama manusia dalam masyarakatnya.

Dengan terus-menerus melatih berpikir dan bersikap reverensial terhadap alam, orang akan terus-menerus dimampukan untuk hidup berdamai dengan sesamanya dan dengan lingkungan kehidupan kulturalnya. Dengan teratur dan rajin bermeditasi untuk melatih menyelaraskan detak jantung, aliran pernafasan, aliran darah dan aliran pikiran dengan kekuatan dan mekanisme kerja dan detak alam yang menyelimutinya sebagai suatu aura kesucian, seorang pemeditasi melatih mentalnya untuk membangun suatu sikap reverensial terhadap alam dan terhadap sesama manusia dan terhadap semua makhluk.


Orang sering salah berpikir bahwa dengan membangun suatu sikap reverensial terhadap alam, orang akan menjadi pasif terhadap alam dan tidak berani mengeksplorasi alam, dan akibatnya ilmu pengetahuan manusia tentang alam tidak akan berkembang dan pada gilirannya manusia tidak akan menerima lebih banyak hal berguna dari alam. Saya ingin tegaskan bahwa ini adalah suatu pikiran yang keliru. Kekeliruan berpikir ini timbul tidak sedikit karena suatu ajaran agama yang salah atau tidak lengkap. Orang beragama pada umumnya senantiasa diajarkan untuk membangun suatu sikap reverensial total terhadap suatu “allah” yang mahakuasa. Tentu pada satu pihak ajaran ini mengandung suatu kebenaran khususnya dalam rangka membentuk suatu religious attitude, suatu sikap keagamaan. Tetapi pada pihak lain ajaran ini sering disampaikan dengan tidak lengkap.


Dalam suatu kisah suci Yahudi Nabi Musa konon diperintahkan untuk jangan mendekati teofani ilahi yang berupa “semak duri yang bernyala tetapi tidak terbakar” (Keluaran 3:1-5). Ketika Nabi Musa bermaksud untuk “memeriksa” atau “melihat”, mengeksplorasi, teofani di Gunung Horeb itu dari dekat, keluarlah suatu peringatan ilahi: “Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus” (ayat 5). Seperti keyakinan Yahudi ini, kebanyakan agama mengajarkan pemeluknya untuk tidak boleh datang dekat-dekat ke allah yang mereka sembah sebagai allah yang mahabesar dan mahatakterbatas. Dalam banyak ajaran agama-agama, allah yang semacam ini tidak boleh diperiksa dekat-dekat; allah yang semacam ini harus dijaga untuk tetap berada di kawasan kudus yang tidak boleh dimasuki manusia, kawasan suci yang tidak boleh dieksplorasi. Jadi, sikap reverensial dipertahankan kuat-kuat bahkan sampai membuang dan mematikan dorongan eksploratif manusia untuk memeriksa dan meneliti kawasan kudus ini.


Dalam manajemen pikiran yang saya sedang kembangkan, justru orang harus berani berpikir berbeda dari yang lazim dan tradisional. Saya ingin menegaskan bahwa kalau allah memang mahabesar, mahatakterbatas dan mahakudus, maka kemahabesaran, kemahatakterbatasan dan kemahakudusannya ini tersedia justru untuk dieksplorasi oleh manusia tanpa pernah bisa habis dieksplorasi, bukan untuk dijagai dan dilindungi dari segala macam bentuk pengeksplorasian.

Allah apapun tidak akan kehilangan kemahabesaran, kemahatakterbatasan dan kemahakudusannya jika semua ini dieksplorasi manusia yang menyembahnya. Allah yang takut dieksplorasi, atau yang dibentengi oleh para pemuka keagamaan sehingga tidak dapat dieksplorasi, justru bukan lagi allah yang mahabesar, mahatakterbatas dan maha kudus. Jadi, menurut pikiran saya, Nabi Musa sepatutnya waktu itu datang mendekat, sedekat mungkin, untuk mengeksplorasi penampakan ilahi yang dilihatnya. Nabi Musa tetap harus mempertahankan sikap reverensialnya terhadap allah yang dilihatnya karena allah ini bagi orang Yahudi kudus; tetapi sikap reverensial ini harus mendorongnya juga untuk memperlihatkan sikap eksploratifnya.


Sikap reverensial dan kegiatan eksploratif terhadap allah harus tumbuh bersama dalam diri seorang mukmin. Sebesar apapun allah itu, dan sesuci apapun dia itu, kebesaran dan kesucian allah ini tetap sebuah gagasan yang dibuat manusia yang harus terbuka untuk diperiksa dan dieksplorasi lebih jauh. Menabukan eksplorasi, dan hanya mewajibkan sikap reverensial, hanya akan menghasilkan orang beragama yang kurang pengalaman, orang beragama yang tidak cerdas, orang beragama yang tidak berilmu, orang beragama yang tidak kreatif, dan orang beragama yang taat membuta. Keberagamaan semacam ini biasanya akan bermuara pada terorisme. Jika semua orang beragama seperti ini, agama apapun akan mati pada akhirnya setelah agama ini membunuh banyak anak manusia.

Nah, dalam kehidupan beragama, manage-lah pikiran Anda sedemikian rupa sehingga Anda selalu bergairah untuk mengeksplorasi allah Anda sambil tetap mempertahankan sikap reverensial Anda terhadapnya.
Nah, jika dalam dunia keagamaan Anda sudah me-manage pikiran Anda seperti yang saya baru anjurkan, maka Anda sudah dibebaskan dari suatu kendala untuk, selain menaruh respek penuh pada alam, juga untuk mengeksplorasi alam.

Alam yang mahabesar dan mahatakterbatas ini, yang darinya memancar suatu aura kesucian dan enerji kehidupan, tersedia untuk dieksplorasi, bukan untuk didiamkan. Jagat raya mahabesar ini tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Dorongan mengeksplorasi alam yang disertai dengan sikap reverensial pada alam akan menghasilkan para ilmuwan dan teknologiwan yang bekerja dengan profesional, namun juga pada waktu yang bersamaan bekerja dengan penuh cinta pada alam. Bekerja dengan wawasan dan semangat serta sikap yang semacam ini akan menghentikan pengeksploitasian alam yang dilakukan manusia hanya demi memuaskan nafsu serakah mereka. Manage-lah pikiran Anda ke arah berpikir semacam ini, terlebih lagi jika Anda adalah para ilmuwan dan teknologiwan yang setiap hari bekerja dan bersentuhan langsung dengan dunia alam.

Tuesday, November 3, 2009

The Heterodox Jesus Blog


Two days ago, November 1, 2009, I founded a new blog which I named The Heterodox Jesus Blog. Via this blog, I intend to disseminate my heterodox thinking about Jesus to the English-speaking people all over the world . All posts on this new blog are therefore written in English. The address of this new enlightening blog is http://www.heterodoxjesus.blogspot.com. I earnestly invite all my friends and readers of all my other blogs to communicate this new blog of mine to as many people as possible. I am grateful for your cooperation.

Friday, October 23, 2009

Manajemen Pikiran (3)

Tsunami di Gaza

Kalau dalam tulisan Manajemen Pikiran 2 fokus diarahkan pada segi kebaikan dan kemurahan alam, tulisan yang sekarang itu dipusatkan pada segi lainnya yang bertolakbelakang, yakni segi keburukan dan kekerasan alam. Saya ragu-ragu untuk menyatakan bahwa alam pada dirinya sendiri tidak memiliki hati nurani, atau sebagai sesuatu yang netral, sehingga sebetulnya orang tidak dapat berbicara mengenai segi baik dan segi buruk alam.


Saya pikir saya akan terus bertanya-tanya, apakah pada dirinya sendiri alam tidak memiliki kesadaran nurani sementara hukum-hukum dan kekuatannya yang bekerja di segenap jagat raya telah dan akan terus menghasilkan banyak kebaikan, keteraturan, pesona, keindahan dan kehidupan yang berkesadaran seperti dijumpai dalam tetumbuhan, hewan dan tentu saja manusia sebagai suatu bagian dari dunia hewan. Fauna dan flora yang tercipta dalam alam, apa bukan suatu bukti bahwa alam ini sendiri, nature in itself, memiliki suatu kehidupan yang berkesadaran, a conscious life? Saya belum mau menjawab pertanyaan yang sangat penting dan mengganggu ini sekarang.

Saya sekarang ini hanya mau mengingatkan bahwa janganlah kita cepat-cepat menghipotesiskan adanya suatu “allah” yang terpisah radikal dari alam, yang memiliki kesadaran diri bahkan kepribadian dan kekuatan kreatif, yang telah menciptakan alam di luar dirinya, yang telah menjadikan semua makhluk hidup dalam alam ini, dan yang tidak akan pernah menjadi sama dengan alam ini. Saya tentu maklum, orang yang beragama monoteistik sudah terbiasa dengan radikal memisahkan sang khalik dari sang makhluk. Tetapi, saya justru ingin mengintegrasikan kembali “oknum” yang disebut allah ini ke dalam alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, sehingga allah=alam, kekuatannya dan hukum-hukumnya, sehingga sang khalik=sang makhluk. Nanti, dalam sebuah tulisan lainnya dalam serial tulisan ini, akan saya perlihatkan bahwa posisi yang saya sarankan ini bukan sekadar suatu sudut pandang mistikal dan animistik yang sudah berusia tua bahkan usang yang dikenakan kepada alam, tetapi juga suatu posisi yang memiliki suatu landasan filosofis dan saintis yang kuat.

Taruhlah, sementara ini, alam memang pada dirinya sendiri tidak memiliki hati nurani sehingga alam tidak dapat membedakan mana segi baik dan mana segi buruk dirinya. Tetapi dalam rangka manajemen pikiran, saya tidak dapat menghindari keharusan untuk memberi suatu value pada alam. “Value” adalah nilai yang kita berikan kepada sesuatu yang material: apakah yang material ini baik atau buruk, indah atau jelek, benar atau salah, pengasih atau kejam, pemelihara atau perusak, pembangun atau penghancur, membahagiakan atau menyedihkan, adil atau berat sebelah, ilahi atau satanik, dan sebagainya.

Sikap kita terhadap sesama manusia yang memiliki kesadaran nurani, akal-budi dan kepribadian pun ditentukan oleh value yang kita lekatkan pada sesama kita itu, bukan pada value yang diklaim sudah melekat pada diri sesama kita itu sejak dia dilahirkan. Kita semua tahu bahwa semua manusia sejak dilahirkan adalah makhluk mulia dan merdeka; mulia dan merdeka ini adalah value intrinsik. Tetapi kepada seorang pengemis, misalnya, kita tidak bersikap sejalan dengan sifat mulia dan merdeka yang ada pada diri sang pengemis sejak dia dilahirkan, melainkan sejalan dengan value apa yang kita lekatkan pada si pengemis yang kita sedang jumpai, misalnya value bahwa setiap pengemis adalah orang yang malas, suka menipu, jahat, buruk, keji, dan sebagainya, dan karena itu, bagi kita, setiap pengemis tidak perlu dikasihani.


Tujuan dari manajemen pikiran adalah supaya orang yang dengan benar me-manage pikirannya, orang itu akan dapat hidup dengan memberi value yang berarti, yang signifikan, kepada lingkungan kehidupannya dan kepada dirinya sendiri. Supaya dari dirinya, melalui manajemen pikiran yang benar, mengalir kebaikan, keindahan, kebenaran, kasih, pemeliharaan, pembangunan, kebahagiaan, keadilan dan keilahian kepada lingkungan keberadaannya dan kepada dirinya sendiri. Kalau manajemen pikiran dikaitkan dengan sikap seseorang kepada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, sikap ini mengharuskannya memberi value pada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya. Dengan memberi value pada alam, orang, melalui manajemen pikiran, dapat menentukan apakah dia mau hidup serasi atau berlawanan dengan nilai-nilai atau values yang sudah dilekatkannya kepada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya. Tanpa value yang kita tempelkan pada alam, manajemen pikiran yang dikaitkan dengan alam tidak dapat dijalankan.

Dalam seri kedua tulisan ini, sudah dianjurkan untuk orang me-manage pikirannya untuk serasi dengan alam, kekuatan dan hukum-hukumnya berdasarkan penerimaan dan pengakuan yang sadar bahwa alam, kekuatan dan hukum-hukumnya memiliki maksud-maksud yang baik, benar, membangun, menghidupkan, membahagiakan, rahmani dan rahimi. Nah, bagaimana manajemen pikiran harus dilakukan jika manajemen ini dikaitkan dengan sifat-sifat buruk, jahat, keji, menghancurkan, membunuh, membinasakan yang juga sama seringnya kita lihat ada pada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya?

Pada kesempatan ini, saya sarankan bahwa untuk me-manage pikiran dengan benar sehubungan dengan sifat-sifat buruk alam, langkah penting yang harus dilakukan adalah orang harus melepaskan dirinya, pikiran dan hatinya, dari suatu pergumulan teologis psikologis yang dinamakan problem teodise.

Istilah “teodise” berasal dari dua kata Yunani: theos=allah; dan dikÄ“=keadilan. Problem teodise adalah suatu problem teologis psikologis yang diderita seorang yang beragama (khususnya beragama monoteistik), yang ditimbulkan oleh suatu ajaran dan keyakinan bahwa Allah YME itu adalah allah yang maha kuasa, maha kasih, maha tahu, maha penolong, maha pelindung dan maha adil, khususnya bagi orang-orang yang saleh, taat beragama dan beribadah dan (relatif) tidak memiliki cacat akhlak. Dalam teodise dipercaya bahwa allah yang memiliki semua sifat ini akan senantiasa, dengan kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahakasihan dan kemahaadilan-Nya, melindungi, menjaga dan memelihara orang-orang saleh dan akan meluputkan mereka dari segala bencana.


Orang yang dengan kuat dan saleh memegang teodise umumnya akan mengalami suatu tekanan psikologis yang sangat kuat dan berat ketika dirinya sendiri atau orang-orang lain yang sangat dicintainya mengalami suatu musibah berat, musibah buatan manusia ataupun musibah bencana alam dahsyat. Tekanan psikologis yang berat dan kuat ini timbul karena orang itu tidak bisa menerima dalam hati dan pikirannya kalau allah yang dipercayanya memiliki sifat-sifat demikian ternyata telah membiarkan dirinya atau diri orang-orang yang sangat dikasihinya mengalami bencana dahsyat sampai membuatnya atau membuat mereka yang dicintainya menderita sangat berat (cacat fisik seumur hidup, misalnya) atau mati mengenaskan tanpa makna.

Keadaan tidak bisa menerima kenyataan bencana ini membuat batin orang itu sangat tertekan, pikirannya tersumbat, imannya kacau balau, jiwanya porak-poranda, nuraninya tidak bekerja, untuk waktu yang bisa sangat lama; dan, akhirnya, semua keadaan psikologis yang buruk ini membinasakannya juga ketika dirinya sendiri sudah lost, terhilang. Sebelum terhilang, orang ini akan terus bertanya dan memprotes kepada allah yang tidak kelihatan, namun dipercaya ada olehnya: Allah, allahku, mengapa engkau membiarkan penderitaan dan bencana ini terjadi padaku? Allah, allahku, mengapa engkau meninggalkan aku? Bukankah engkau mahakuasa? Bukankah sudah seharusnya engkau melindungi aku dan orang-orang yang kukasihi dengan kemahakuasaanmu? Bukankah engkau maha bisa? Mengapa engkau tidak menyingkirkan bencana ini jauh-jauh dari kami? Di mana keadilanmu? Buat apa selama ini kami taat beragama dan beribadah dan menaruh kepercayaan penuh kepadamu? Engkau allah pengkhianat! Engkau allah yang kejam! Dst …..

Nah, pikiran yang dikendalikan oleh kepercayaan dan keyakinan pada teodise akan membuat orang menjadi sangat menderita, hidup tidak tenteram dan tidak berbahagia, dan dapat membuatnya juga binasa, ketika orang itu mengalami kenyataan bahwa alam, kekuatannya serta hukum-hukumnya telah mendatangkan dan menimpakan keburukan, kekejian dan bencana terhadap dirinya dan terhadap orang-orang yang dikasihinya. Pikiran yang dikuasai teodise akan menimbulkan keadaan tidak sehat pada seluruh tubuh dan pada seluruh mayarakat ketika bencana dan musibah dahsyat menimpa.

Nah, supaya teodise tidak menghancurkan dan membinasakan Anda, manage-lah pikiran anda dengan membuang semua kepercayaan pada teodise ketika alam, kekuatan dan hukum-hukumnya mendatangkan penderitaan dan bencana terhadap diri anda.

Anda sebaiknya tahu, dalam kasus-kasus terjadinya bencana yang dahsyat, orang-orang yang tidak beragama, yang ateistik, ternyata bisa sangat tenang dalam menghadapi bencana ini, dan sanggup menerima semua akibatnya dengan tabah dan tegar, karena kesadaran dan pengetahuan mereka bahwa alam, kekuatan dan hukum-hukumnya juga bisa merusak, menghancurkan dan membinasakan! Me-manage pikiran dengan benar ketika orang sedang menghadapi bencana dan kematian yang ditimbulkan oleh daya alam yang merusak dan membinasakan adalah me-manage pikiran untuk serasi dengan kekuatan-kekuatan alam yang membinasakan, yang melenyapkan kehidupan, yang tidak bisa lagi dihindari oleh manusia entah secara naluriah atau pun secara kultural teknologis.

Tetapi, mungkin Anda masih mau bertanya, apakah tidak ada segi positif dari kepercayaan pada teodise? Nantilah kita gumuli pertanyaan ini.

Wednesday, October 14, 2009

Manajemen Pikiran (2)

Nature and its mystifying power

Kemampuan luar biasa pikiran manusia modern bukanlah sesuatu yang mendadak diciptakan dalam satu hari penciptaan oleh suatu oknum spiritual adikodrati yang dinamakan Tuhan, Allah, Theos, God, Yahweh, Adonai, Kurios, Elohim, Dewa, Debata, Gusti Alloh, Shangdi, Summum Bonum, Jeevan Mukti, Zeus, Langit, Logos, Aum atau Tao dan lain sebagainya. Kemampuan akal manusia modern sekarang ini adalah suatu hasil dari suatu proses evolusioner spesies di planet Bumi yang sudah berlangsung 3 milyar tahun lamanya, suatu proses yang sangat panjang dan makan waktu. Inteligensi atau kemampuan otak manusia untuk berpikir atau bernalar cerdas adalah suatu produk dari suatu proses evolusi yang dimulai oleh alam dan kekuatannya dan dikendalikan oleh hukum-hukum alam atau natural laws.

Karena hasil evolusi spesies ini adalah makhluk cerdas yang dinamakan homo sapiens sapiens yang dengan kecerdasan pemberian alam ini mereka dapat membangun dan mempertahankan serta mengembangkan peradaban mereka, bahkan dapat mencintai secara naluriah, maka bagi manusia (Latin= homo) alam, kekuatan dan mekanisme kerjanya adalah baik, bajik dan pemelihara.
Hukum-hukum alam ini dan kekuatannya bukan hanya bekerja di planet Bumi, tetapi juga di seluruh alam semesta yang mahabesar dan tanpa batas-batas material geografis.

Mekanisme kerja hukum-hukum alam semesta ini sudah banyak dipahami manusia melalui kekuatan dan kemampuan inteligensinya yang melahirkan sains, yang didukung oleh sekian peralatan teknologis modern untuk menyelidiki alam planet Bumi dan juga alam jagat raya maha besar. Meskipun demikian, masih ada sangat banyak hukum alam yang belum dipahami dan yang belum diketahui manusia.
Kendatipun masih ada banyak sifat, kekuatan dan mekanisme kerja hukum alam yang belum dipahami dan diketahui manusia, namun satu hal sudah pasti, yakni hukum-hukum alam ini bekerja dengan kekuatannya untuk menghasilkan kebaikan dan kebajikan buat semua makhluk hidup di planet Bumi ini dan tentunya juga buat semua makhluk hidup yang ada di jagat raya nan maha luas ini. Dari mana datangnya udara, oksigen, berbagai macam gas, angin, api, air, hujan, suara, cahaya dan panas matahari, sinar rembulan, tanah, barang tambang, tetumbuhan, hewan, gunung-gemunung, air terjun, hutan, samudera, sungai-sungai, cahaya kosmik, dan lain-lainnya, yang semuanya memberi dan menopang kehidupan manusia dan semua makhluk hidup lainnya, kalau bukan dari alam dan kekuatannya?

Tentu orang bisa langsung bereaksi negatif terhadap pernyataan saya ini, dengan dia langsung menyebut sekian hal buruk dan kejam yang dapat ditimbulkan alam terhadap manusia dan semua makhluk hidup lainnya di planet Bumi.
Orang dengan realistik dapat menyatakan bahwa alam dan kekuatan serta hukum-hukumnya telah dan akan terus menimbulkan berbagai bencana alam, mulai dari yang relatif sedikit merusak sampai yang sangat merusak, mematikan dan membinasakan, seperti bencana alam Tsunami, gempa bumi berkekuatan besar, badai dahsyat di darat maupun di laut, letusan dahsyat gunung berapi, tanah longsor, terbelahnya kulit bumi, ancaman planet Bumi ditelan oleh lidah-lidah api panas bintang Matahari ketika sang bintang ini membesar dan menjadi sebuah bola gas merah raksasa yang membara, dan lain sebagainya. Tentu saja saya juga mengakui bahwa alam, kekuatannya dan mekanisme kerjanya juga bisa mendatangkan kerusakan besar dan kebinasaan pada semua makhluk hidup.

Banyak pendiri agama-agama di dunia sudah menggumuli dan berusaha menerangkan dua aspek dari alam ini, aspek kebajikan atau kebaikan alam dan aspek buruk dan keji yang menghancurkan dan membinasakan. Kedua kekuatan alam yang bertolakbelakang ini di-personifikasi-kan dalam dua wujud dewa-dewi dengan dua karakter yang bertabrakkan satu sama lain. Dalam Hinduisme misalnya, Dewa Siwa digambarkan sebagai sang Dewa perusak dan pembinasa, di samping ada dewa-dewa lain yang bersifat memulihkan dan membangun serta memelihara alam dan segenap makhluk hidup.


Nah, pada kesempatan ini saya fokus dulu pada sifat baik dan bajik dari alam, kekuatannya serta mekanisme kerjanya, seperti terbukti, telah dikatakan di atas, pada hasil evolusi alamiah spesies di planet Bumi yang pada masa kini telah menghasilkan beragam jenis makhluk cerdas yang berakal budi dan bijaksana, yang dinamakan homo sapiens sapiens, sebagai bagian tidak terpisah dari seluruh alam planet Bumi dan semua makhluk hidup yang mendiami planet ini. Tanpa pemberian akal dan kecerdasan pada manusia oleh alam, kita semua mungkin sudah lama lenyap dari planet Bumi, dan planet Bumi, jika demikian, mungkin akan hanya dihuni oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki inteligensi seperti yang dimiliki manusia.


Nah, dalam rangka manajemen pikiran, seseorang akan dapat hidup dengan tenang, senang, ceria, lega, sehat, mantap, optimistik, penuh ucapan syukur, tidak resah dan gelisah, tabah, kokoh dan kuat, tidak agresif, lemah lembut, jika dia mensyukuri dan berterima kasih kepada alam dan kekuatannya atas segala kebajikan dan kebaikan yang telah, sedang dan akan diterimanya dari alam dalam kehidupannya, teristimewa atas karunia akal budi dan kecerdasan yang berasal dari alam, yang diberi kepada otak kita yang harus terus dipelihara, dipakai dan diasah. Dalam rangka manajemen pikiran, empat hal berikut ini perlu dihayati dan dipraktekkan.
  • Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian mengenai alam akan semaksimal mungkin menjalani kehidupannya selaras dengan alam, kekuatan dan mekanisme kerjanya;
  • Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian mengenai alam akan senantiasa berusaha menerima dengan rela dan lega apapun yang alam telah, sedang dan akan beri kepadanya, dalam kepercayaan bahwa alam, kekuatan dan mekanisme kerjanya mempunyai maksud-maksud baik yang berkesadaran terhadap manusia dan perjalanan kehidupannya, kalau tidak dialami pada masa kini, ya di masa depan;
  • Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian terhadap alam bahkan akan dimampukan untuk bergaul erat dan intim, bahkan menyatu, dengan alam, kekuatan serta mekanisme kerjanya;
  • Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian tentang alam bahkan akan dapat menerima dan mengalami kenyataan bahwa ternyata alam dan kekuatan serta mekanisme kerjanya itu berkepribadian, maha pengasih, pemurah, rahimi dan rahmani, dapat dipanggil dalam batin atau lewat doa dan menjawab doa— sifat-sifat yang biasanya orang beri hanya kepada allah-allah personal yang diberitakan agama-agama.
Nah, manage-lah pikiran dan inteligensi anda menurut perspektif manajemen pikiran yang telah dikemukakan di atas. Jika ini anda lakukan dengan sungguh dan dengan penuh keyakinan, maka anda akan mulai merasa berbahagia dan tenang dalam kehidupan anda di tengah kehidupan yang seringkali dirasakan keras dan kejam oleh banyak anak manusia dewasa ini.