Ioanes Rakhmat's blog founded on Feb 21, 2009
Even though it could destroy orthodoxy, let us think critically because being capable of thinking critically is the most precious gift for humankind given by nature to be used accountably for the goodness of all terrestrial and extraterrestrial beings now and forever
Die Wahrheit erleuchtet mich!
Kebenaran menerangi saya!
Showing posts with label Mel Gibson. Show all posts
Showing posts with label Mel Gibson. Show all posts
Tuesday, April 14, 2009
Jalan-jalan Keselamatan Alternatif
Narasi-narasi jalan salib (via dolorosa) Yesus menyakralisasi kejahatan dan kekerasan, bukan melawan atau meniadakannya. Ini adalah kenyataan tekstual Perjanjian Baru.
Kalau dilihat secara historis, sebelum Paulus menulis surat-suratnya dan sebelum injil-injil muncul, para murid perdana Yesus (orang Yahudi) menghadapi suatu fakta sejarah yang sangat pahit dan memalukan: Yesus telah disengsarakan dan dibunuh oleh suatu koalisi Yahudi-Romawi. Sang Mesias yang mereka harapkan akan mendatangkan suatu permulaan baru bagi bangsa Yahudi yang sedang dijajah ternyata dikalahkan dan berhasil dibunuh oleh lawan-lawannya. Ini adalah suatu peristiwa yang menggoncang keyakinan-keyakinan teologis mereka (bagaimana mungkin sang Mesias utusan Allah bisa dengan mudah dikalahkan dan Allah tidak menolongnya?) dan sangat memalukan mereka (bagaimana bisa sang Mesias mati dengan cara, dalam pandangan Yahudi, begitu memalukan dengan dibunuh melalui suatu cara penghukuman mati Romawi yang biadab: penyaliban?).
Untuk mengatasi kegoncangan dan rasa malu yang besar ini, mereka harus melakukan rasionalisasi-rasionalisasi atas berbagai hal buruk yang telah dialami Yesus. Dalam rangka merasionalisasi inilah, sakralisasi terhadap jalan salib dan kematian Yesus dilakukan: Ya, memang Yesus harus disengsarakan dan dizalimi dan dibunuh karena semua ini sudah dikehendaki (Yunani: dei) Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka (dosa warisan maupun dosa masa kini) dengan jalan mengurbankan Yesus! Darah hewan dalam Yom Kippur yang diyakini efektif untuk menghapus dosa Israel dalam keyakinan Yahudi (PL) diganti dengan darah Yesus dalam keyakinan Kristen (PB)!
Jadi, jalan keselamatan melalui kesengsaraan dan kematian Yesus memang lahir dari suatu latarbelakang religius-kultural (Yahudi) yang memandang bahwa Allah Yahudi memerlukan darah tercurah untuk menenangkan hati-Nya yang panas dan bergolak karena dosa-dosa umat (manusia). Ketika darah hewan diganti dengan darah manusia, Yesus, bahasa kekerasan pun muncul, tanpa dapat dihindari lagi. Kekerasan yang seharusnya dihindari (ingat salah satu perintah dalam Dasa Titah: Jangan membunuh!), dalam peristiwa kematian Yesus justru disakralisasi sebagai suatu peristiwa ilahi yang suci untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah yang pemurka. Dalam azab Yesus dan pembunuhan atas dirinya, kekerasan yang dilakukan manusia (para pemimpin agama Yahudi dan Gubernur Pontius Pilatus) diubah menjadi "sacred violence", kekerasan yang kudus, karena kekerasan aktual yang tidak suci, yang dialami Yesus, diubah menjadi suatu kekerasan yang dikehendaki dan dipakai Allah untuk menjadi jalan keselamatan bagi manusia.
Nah, rasionalisasi dan sakralisasi terhadap via dolorosa yang semacam ini berhasil meredakan ketegangan dan tekanan mental berat yang dialami para murid perdana Yesus yang sudah ditinggalkan Yesus, sang Master mereka, yang sudah dibunuh dengan cara yang memalukan. Bagi kalangan Yahudi, ingat, orang yang disalibkan adalah orang yang dikutuk Allah, orang yang durhaka! Tetapi, celakanya, perspektif berteologi semacam ini yang diajukan para penulis Perjanjian Baru telah melegitimasi secara teologis dan menyakralisasi kekerasan yang telah menimpa Yesus, seorang yang tidak bersalah. Allah sendiri (bisa anda bayangkan, jika Dia memang maha pengasih dan maha penyayang) saya yakin tidak mau menerima perspektif berteologi para murid perdana Yesus semacam ini!
Nah, berbagai usaha untuk menyingkirkan dimensi kekerasan dari soteriologi Kristen tradisional akan sia-sia, karena soteriologi Kristen ini memang memakai bahasa kekerasan.
Nah, saya sudah perlihatkan di posting terdahulu (berjudul "Menggugat The Passion of the Christ di Hari Paskah 12 April 2009"; klik di sini), soteriologi Kristen tradisional yang memuja kekerasan dan pertumpahan darah semacam ini tidak valid, dan sudah berisi unsur-unsur demonik sejak pertama kali dirumuskan oleh kekristenan perdana.
Adakah alternatifnya? Jawabnya: Alternatifnya tersedia.
Soteriologi melalui kematian Yesus bersifat kristosentris, berpusat pada diri Yesus Kristus, khususnya pada azab, kesengsaraan dan kematian Yesus. Kristologi semacam ini jelas memuja dan menyakralisasi penderitaan Yesus. Ini disebut dolorisme, pemujaan pada azab dan sengsara Yesus (dolores = azab, kesengsaraan). Film Mel Gibson, The Passion of the Christ, jelas menjadikan dolorisme sebagai tulang punggung skenarionya. Dan dolorisme ini, terus terang saja, juga menjadi teologi kekristenan evangelikal/injili. Mereka, kalangan Kristen ini, berkontradiksi dalam diri dan teologi mereka: mereka menkhotbahkan cinta ilahi yang begitu besar bagi dunia ini (Yoh. 3:16), tetapi juga memuja-muja kekerasan yang dialami manusia Yesus. Karena itu tidak heran, mereka pun sering bisa tanpa ragu mempraktikkan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan kekristenan mereka, karena mereka memang dikondisikan oleh soteriologi mereka untuk memuja kekerasan. Seorang teman saya menyatakan bahwa film The Passion of the Christ tidak ada bedanya dengan film tentang pemberantasan G30S/PKI yang dibuat atas perintah rezim jahat Soeharto dalam era Orba. Kedua film ini penuh lumuran darah, dan di dalamnya kekerasan terhadap sesama manusia menjadi suatu cara hidup (way of life) dan pandangan dunia (world view) produser dan sutradara film-film ini.
Nah, alternatifnya adalah soteriologi yang teosentris: keselamatan manusia hanya berpusat dan bergantung pada Allah yang maha rakhmani dan rahimi, maka pengasih dan maha penyayang, yang tidak memerlukan mediator insani apapun untuk diri-Nya berhubungan dengan semua insan dalam dunia ini. Allah yang semacam ini didatangi langsung oleh manusia, tanpa melalui perantara insani manapun (Musa, Buddha Gautama, Khrisna, Yesus, Mohammad, Gulam Ahmad, ataupun Lia Eden, dsb.).
Yesus dari Nazaret mengajarkan dan mendemonstrasikan Allah yang semacam ini. Sebagai seorang yang teosentris (= berpusat pada diri Allah, yang dipanggillnya Abba/Bapa), Yesus meminta para muridnya untuk berdoa langsung kepada Allah dengan memanggil-Nya "Bapa" (dalam Doa Bapa Kami, bagian yang berisi panggilan "Bapa" kepada Allah adalah bagian otentik dari ajaran Yesus sendiri).
Dalam salah satu perumpamaannya, yakni perumpamaan tentang anak yang hilang, Yesus menggambarkan sang anak bungsu yang berdosa, ketika balik kembali dalam rasa sesal dan pertobatannya kepada ayahnya, sang ayah, dengan hatinya yang tergerak oleh kerahiman, segera berlari, langsung mendatangi dan merangkul anaknya yang semula sudah terhilang ini. Sang ayah tidak mengirim seorang utusan atau wakil atau perantara untuk bertemu dan menerima anak bungsunya ini; tetapi dia langsung menemuinya sendiri dan langsung memaafkan si anak tanpa perlu ada seseorang lain yang diutus dan dikurbankan. Nah, soteriologi otentik Yesus adalah soteriologi teosentris, bukan kristosentris. Gereja perdanalah yang mengubah soteriologi teosentris Yesus menjadi soteriologi kristosentris gereja!
Alternatif berikutnya adalah soteriologi logosentris (= berpusat pada logos, ucapan atau pengajaran, yang Yesus sampaikan, bukan pada dirinya sendiri yang, dalam dolorisme, digambarkan dikurbankan dengan kejam dan berdarah-darah). Dengan menghayati ucapan-ucapan Yesus, dengan masuk ke dalam dunia perumpamaan-perumpamaannya, orang akan mengalami pencerahan budi dan pembaruan etika kehidupan. Pencerahan budi dan pembaruan etika inilah pengalaman keselamatan.
Nah, soteriologi logosentris dihayati antara lain dalam komunitas Kristen yang melahirkan Injil Thomas (berisi 114 ucapan Yesus; lihat posting Injil Thomas dalam The Freethinker Blog saya). Injil Thomas aslinya ditulis dalam bahasa Yunani pada pertengahan abad kedua Masehi, yang memuat banyak ucapan tua dan asli Yesus dari Nazaret, bahkan lebih tua dan lebih asli dari yang terdapat dalam Injil-injil kanonik PB. Pada logion #1 Injil Thomas ini dimuat pernyataan, "Barangsiapa dapat menemukan maksud dari ucapan-ucapan [Yesus] ini, dia tidak akan mengalami kematian." Jelas, bagi komunitas Thomas ini, bukan azab dan sengsara serta kematian Yesus yang menyelamatkan, melainkan ucapan-ucapannya. Saved by Jesus' words, not by his death! Injil Thomas bahkan sama sekali tidak menyinggung azab, kesengsaraan dan kematian Yesus! Soteriologi logosentris juga dihayati oleh komunitas "Q" (existed tahun 50-an abad pertama Masehi di Galilea) yang dokumen sucinya terdapat dalam Injil Lukas dan Injil Matius, dan sudah dipadukan dengan bahan-bahan sumber lain membentuk Injil Lukas dan Injil Matius.
Alternatif lainnya yang juga alkitabiah adalah soteriologi yang egosentris atau humanosentris (atau antroposentris), yang menegaskan bahwa keselamatan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri (ego) atau sang manusianya sendiri (human/anthropos) melalui kehidupannya sendiri, melalui perbuatan-perbuatannya sendiri (tentang ini, klik di sini), bukan bergantung pada suatu figur perantara atau penebus manapun. Dengan mendisiplinkan diri untuk menempuh suatu kehidupan yang penuh kebajikan bagi semua orang, seseorang akan terus bertumbuh, semakin ekspansif, dari waktu ke waktu, menuju pada suatu kemanusiaan yang diperluas, yang bisa dan sanggup merangkul semua jenis kehidupan lainnya, suatu kemanusiaan yang sama dengan keilahian. Dalam bahasa PB, suatu kehidupan "dengan kepenuhan Kristus." Kehidupan yang ekspansif semacam ini adalah kehidupan dalam keselamatan, kehidupan ilahi sendiri. Yang ilahi dialami di dalam yang insani, kini dan di dunia ini. Dan setiap manusia memiliki potensi dan bakat untuk menjadi ilahi dalam kehidupannya di dunia ini. Soteriologi semacam ini dihayati banyak truth seekers independen dan juga kalangan mistikus. Kekristenan perdana juga memiliki sekian jenis kekristenan semacam ini, misalnya beberapa kalangan Kristen gnostik.
Nah, sekian soteriologi alternatif di atas juga dihayati banyak orang Kristen dewasa ini, di zaman modern, di zaman ketika kekerasan semakin disadari untuk dijauhi demi keselamatan global, di zaman ketika bahasa "darah Yesus" dalam soteriologi Kristen tradisional dipandang obsolete, usang, superstitious, takhayul, dan tidak bermakna, meaningless, serta tidak etis, unethical.
Bagaimana semua ini bisa terjadi? Karena kitalah, manusia, tuhan atas dogma gereja, dan bukan sebaliknya! Kuasai dan kendalikan dogma, dan jangan dikuasai dan dikendalikan olehnya. Ikutilah ke mana nalar membawamu. Hanya dengan cara inilah kamu tidak mengkhianati kemanusiaanmu. Take this as your destiny!
Sunday, April 12, 2009
Menggugat The Passion of the Christ di Hari Paskah 12 April 2009

Semalam, 11 April 2009, mulai pukul 21.30 sampai pukul 24.00, TV RCTI menayangkan sebuah film religius lama Mel Gibson (produksi tahun 2003), The Passion of the Christ, persis pada malam sebelum hari Paskah keesokan harinya (12 April 2009). Waktu penayangan ini bukan kebetulan, dan hanya bisa terjadi kalau waktu tayang ini sudah dibeli sebelumnya oleh kalangan Kristen tertentu. Waktu tayang yang sudah dibeli memungkinkan tidak adanya selingan-selingan iklan selama pemutaran film ini. Kalau saya tak salah ingat, tahun lalu film Mel Gibson yang sama juga ditayangkan oleh sebuah stasiun TV, dengan tanpa selingan iklan sama sekali. Rupanya akan menjadi suatu kebiasaan untuk menayangkan The Passion of the Christ setiap tahun lewat sebuah stasiun TV, untuk merayakan hari Jumat Agung (hari peringatan kematian Yesus di kayu salib) dan untuk menyambut hari Paskah (hari kebangkitan Yesus).
Apa tujuan penayangan film ini pada malam sebelum hari Paskah? Bisa diduga, film ini ditayangkan pertama-tama untuk kepentingan internal umat Kristen, supaya mereka makin bisa menghayati makna pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib sehingga iman mereka makin dimantapkan. Inti iman Kristen berisi ajaran ini: Atas kehendak dan perintah Allah, Yesus didera, disiksa dan dibunuh di kayu salib dengan sangat biadab untuk menanggung penghukuman yang seharusnya ditimpakan pada manusia karena dosa-dosa mereka. Bagi keyakinan Kristen, ini adalah tindakan dan jalan normatif satu-satunya yang Allah sendiri adakan, sekali untuk selamanya dan untuk semua orang, dan karena itu harus hanya diterima dan dipercaya manusia jika manusia ingin mengalami pengampunan dosa dan pemulihan hubungan dengan Allah.
Selain untuk kepentingan devosional internal ini, film ini ditayangkan orang Kristen juga sebagai bagian dari kegiatan kristenisasi, kegiatan pekabaran injil Kristen kepada dunia non-Kristen: supaya orang non-Kristen yang menyaksikan film ini, dan melihat bagaimana Yesus disengsarakan, dizalimi dan dibunuh oleh para penguasa dunia ini, tergerak hati untuk mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka sehingga mereka mengalami pengampunan dosa dan menjadi anak-anak Tuhan lewat jalan Yesus Kristus.
Namun faktanya apa? Setahu saya, orang-orang non-Kristen, antara lain teman-teman saya yang beragama Islam, jauh dari tergerak hati ketika menyaksikan film Mel Gibson yang sarat dengan adegan kekerasan dan kebiadaban ini, mereka malah merasa muak dan jijik dengan film ini dan tidak bisa mengerti mengapa orang Kristen bisa sangat menyukai bahkan memuja film ini, dan juga tidak bisa mengerti dan tidak dapat menerima pesan teologis Kristen bahwa Allah memakai suatu jalan kekerasan yang harus dijalani Yesus Kristus hanya supaya hubungan manusia dengan diri Allah ini dipulihkan.
Hemat saya, soteriologi salib atau jalan keselamatan melalui azab, kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib memang memuat permasalahan-permasalahan teologis berat yang sangat sulit diatasi, atau bahkan tidak dapat diatasi sehingga merongrong validitas inti iman Kristen.
Pertama, kalau dosa manusia itu (dosa warisan ataupun dosa pribadi) dipandang Allah sebagai suatu tindak kekerasan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya dan terhadap diri Allah sendiri, maka apakah tindak kekerasan yang Allah sendiri telah lakukan terhadap Yesus (dengan mengharuskannya menempuh jalan penderitaan dan kematian mengenaskan di kayu salib) akan bisa menghapus kekerasan dosa-dosa manusia? Apakah suatu tindak kekerasan bisa meniadakan suatu tindak kekerasan lainnya? Apakah tindak kekerasan Allah terhadap Yesus bisa mengeliminasi tindak kekerasan yang manusia lakukan terhadap sesamanya dan terhadap Allah? Bukankah pendapat kita adalah bahwa kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru, bukan menghapuskannya? Bukankah dosa manusia tidak bisa dihapuskan oleh kekerasan ilahi? Bukankah dosa Allah tidak bisa menghapus dosa manusia? Bukankah dosa hanya menumpuk dosa, bukan melenyapkannya?
Kedua, bukankah teologi tentang penebusan dosa melalui penderitaan dan kematian biadab Yesus di kayu salib telah melegitimasi dan malah telah melakukan sakralisasi terhadap perbuatan biadab para pemimpin Yahudi dan gubernur Romawi Pontius Pilatus terhadap Yesus dari Nazaret yang sebetulnya tidak bersalah? Dengan kata lain, bukankah ketika gereja sedunia merayakan Jumat Agung, mereka sebenarnya sedang melegitimasi dan menyakralisasi kekejaman dan kekerasan serta kebiadaban sekelompok penguasa keagamaan dan politis kepada Yesus dari Nazaret? Bukankah tidak ada kekerasan yang sakral sehingga kekerasan ini boleh dilakukan?
Demikian juga, bukankah ketika gereja merayakan Paskah, tanpa mereka sadari mereka sebenarnya juga memberi legitimasi teologis terhadap serangkaian tindak kekerasan yang ditimpakan pada Yesus sejak dia diadili, lalu diseret ke Golgota dan akhirnya disalibkan di situ? Bukankah Paskah berarti pembenaran terhadap serentetan tindakan biadab terhadap Yesus yang berakhir di hari Jumat Agung, hari kematian Yesus di kayu salib? Legitimasi teologisnya berbunyi demikian: Ya, benar, Yesus memang harus disengsarakan, dizalimi, lalu dibunuh dengan kejam, supaya semua tindakan kejam ini bisa memuncak pada tindakan Allah membangkitkan Yesus di hari Paskah. Jika demikian, bukankah Paskah itu bukan suatu warta gembira, bukan suatu warta kemenangan, melainkan suatu legitimasi teologis yang kejam dan tidak berhati atas serangkaian tindak kekerasan yang sebelumnya dialami Yesus? Bukankah tanpa jalan kesengsaraan (via dolorosa) Yesus, tidak akan ada kebangkitannya? Dengan demikian, bukankah kebangkitan Yesus membenarkan jalan kesengsaraannya? Ya, supaya Yesus dibangkitkan, supaya ada kemenangan atas maut, Yesus harus dizalimi dan disengsarakan! Bukankah, dengan demikian, merayakan Paskah berarti membenarkan Pontius Pilatus dan para penguasa Yahudi dalam berlaku keras dan biadab terhadap Yesus?
Teologi Paskah, dengan demikian, mengunci kekristenan dalam suatu dilema dan kontradiksi pelik: pada satu pihak, Paskah dapat berarti Allah, dengan membangkitkan Yesus, menolak semua kekerasan yang telah dialami Yesus sebelumnya; namun di lain pihak, Allah memerlukan jalan kekerasan dijalani Yesus supaya Yesus menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung manusia, dan dengan membangkitkan Yesus, Allah membenarkan semua perlakuan keras yang telah dialami Yesus ketika dia diharuskan Allah menempuh via dolorosa.
Ketiga, kisah-kisah injil Kristen tentang masa-masa kesengsaraan Yesus, yang dijalaninya sejak dia diadili, lalu dibawa ke Kalvari, dan kemudian disalibkan di sana, secara bertahap menggeser kesalahan yang sebetulnya ada pada pihak Roma (gubernur Pontius Pilatus) ke pihak Yahudi yang direpresentasikan para penguasa Bait Allah. Penggeseran tanggungjawab ini akhirnya menjadikan orang Yahudi sebagai pihak yang satu-satunya bersalah terhadap Yesus, sebagai pihak yang telah melakukan pembunuhan terhadap Tuhan (deicide). Inilah motif anti-Yahudi yang terdapat paling kuat dalam kisah-kisah pengadilan Yesus dalam injil-injil Kristen. Motif ini kemudian, di zaman modern, melahirkan anti-semitisme yang menimbulkan antara lain pembunuhan jutaan orang Yahudi (Holokaus) oleh rezim Hitler di Eropa pada abad XX.
Anti-semitisme ini sering tanpa disadari dibela gereja Kristen ketika mereka, misalnya, mempersalahkan orang Yahudi sebagai pembunuh Tuhan, dan karena itu mereka (orang Yahudi), dalam pandangan gereja, telah kehilangan anugerah ilahi yang semula diberikan kepada mereka. Dengan merayakan masa-masa kesengsaraan Yesus (dalam minggu-minggu Pra-Paskah) dalam ibadah gereja, gereja Kristen sebenarnya terus-menerus memelihara dan mewariskan ideologi anti-Semitisme, tanpa mau tahu atau tanpa menyadari bahwa anti-Semitisme ini telah menghilangkan begitu banyak nyawa orang Yahudi dalam zaman modern ini.
Begitulah, di dalam inti terpenting dogma Kristen tentang jalan keselamatan manusia lewat Yesus Kristus yang disalibkan terkandung unsur-unsur demonik yang harus diwaspadai. Karena itu, sudah sepatutnya film Mel Gibson The Passion of The Christ tidak usah lagi ditayangkan untuk umum via TV di tahun-tahun yang akan datang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
