Showing posts with label Yesus Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Yesus Sejarah. Show all posts

Saturday, May 16, 2009

Apakah Yesus Tidak Mati Disalibkan?

Bagi umat Islam, soteriologi salib bermasalah dalam banyak segi. Yang merupakan masalah terberat, bagi mereka, adalah Yesus, dalam pandangan mereka, tidak disalibkan. Bagi mereka, pada waktu penyaliban dulu bukan Yesus dari Nazaret yang disalibkan, tetapi seorang lain telah diserupakanatau dipalsukan untuk menggantikan atau menyubstitusi Yesus. Pandangan ini disebut teori substitusi. Jadi, bagi mereka, kalau Yesus sendiri tidak disalibkan, bagaimana soteriologi salib bisa dibangun.

Untuk menunjukkan bahwa mereka benar, umat Islam menunjuk pada Surat an-Nisa 4:156-157 dari Alquran. Teks Alquran ini mengkritik orang Yahudi, sebab mereka
berkata, Kami telah membunuh Isa Al Masih, putera Maryam, rasul Allah, sedangkan mereka sebenarnya tidak membunuh atau menyalibkannya; tetapi dia diserupakan [atau: digantikan orang lain yang serupa dengannya] di hadapan mata mereka .... Dan sudah pasti mereka tidak membunuhnya. Seorang lain yang telah disalibkan menggantikan Yesus itu, dalam pandangan para penafsir Islam, bisa seorang murid Yesus, atau Sergius yang sudah dikenal, atau seorang lain, yakni Yudas, yang parasnya telah diubah sehingga serupa dengan paras Yesus. Selain karena alasan skriptural, umat Islam tidak bisa menerima penyaliban Yesus juga karena mereka memandang seorang nabi atau hamba Allah yang benar tidak mungkin mati dibunuh dengan kejam. Tetapi alasan moral ini, to the point saja, tidak bisa diterima, karena faktanya banyak nabi atau hamba Allah dalam berbagai agama juga mati karena dibunuh. Yohanes Pembaptis, misalnya, seorang nabi Yahudi yang suci dan benar dan mungkin juga menjadi mentor Yesus, mati dengan kepalanya dipenggal oleh Raja Herodes Antipas (Markus 6:14-29).

Nah, dalam tulisan ini, tulisan kesembilan dari rangkaian tulisan tentang masalah-masalah dalam soteriologi salib, akan diperlihatkan tentunya bukan bahwa soteriologi salib benar atau valid (pembaca tahu, saya, berdasarkan sejumlah argumen lain, sudah tegas menolak validitas soteriologi ini!), melainkan bahwa umat Islam salah kalau mereka memandang Yesus tidak mati disalibkan, sebab ada sekian dokumen kuno independen, yang satu tidak bergantung pada yang lainnya, namun satu suara menyatakan bahwa Yesus mati disalibkan. Akan juga diperlihatkan, bahwa mendahului Alquran (yang ditulis pada abad ketujuh) sudah ada beberapa teks keagamaan Kristen gnostik dari abad-abad kedua dan ketiga yang memuat pandangan yang sejalan dengan pandangan Alquran. Semua teks ini tidak melaporkan sejarah, tetapi mengetengahkan pandangan teologis Kristen gnostik.

Kalaupun ada yang dapat diragukan kesejarahannya di sekitar kematian Yesus, yang patut diragukan ini bukanlah penyaliban Yesus, tetapi jalan sengsara (
via dolorosa) Yesus, mulai dari gedung pengadilan sampai di bukit Golgota. Apakah mungkin Yesus, sambil tertatih-tatih kepayahan memikul salibnya sendirian, bisa digiring dan disiksa di sepanjang perjalanannya, sementara ada sangat banyak orang Yahudi dari seluruh wilayah Palestina maupun dari banyak negeri lain di luar tanah Israel berkumpul di Yerusalem pada masa perayaan Paskah tahunan? Kalau kita bisa mempercayai sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, bisa ada sampai 3 juta orang terhimpun di Yerusalem pada perayaan Paskah (Jewish War, 6.420-427; 2.280). Menurut sejumlah pakar, angka yang diajukan Yosefus ini terlalu fantastis; sebagai gantinya, mereka mengajukan angka yang lebih bisa dipercaya, yakni sekitar 300 ribu sampai 400 ribu orang. Dengan ratusan ribu orang Yahudi terhimpun di Yerusalem, dan dari antara mereka adalah orang-orang yang menjadi pengikut fanatis Yesus, baik yang berasal dari Galilea maupun dari Yudea, apakah tindakan pasukan Romawi menggiring dan menyiksa Yesus, yang sebelumnya sudah diklaim orang banyak sebagai sang Mesias Yahudi yang akan menegakkan kembali kerajaan Daud, tidak malah menyulut kerusuhan dan gerakan perlawanan bangsa Yahudi terhadap cengkeraman kolonial Roma? Harus kita ingat, perayaan Paskah Yahudi diadakan untuk memperingati kemerdekaan nenek moyang mereka dari penjajahan dan perbudakan di Mesir dulu. Perayaan ini jelas selalu membangkitkan nasionalisme dan patriotisme mereka, suatu perayaan yang berbahaya bagi keamanan, ketertiban dan stabilitas masyarakat yang harus dijaga dan dipertahankan Roma. Flavius Yosefus melaporkan sedikitnya sudah pernah terjadi dua kerusuhan massal yang besar pada masa perayaan Paskah Yahudi, yakni pada tahun 4 SM (Jewish War 2.10-13; Jewish Antiquities 17.204) dan pada masa Ventidius Cumanus memerintah wilayah Palestina (48-52 M) (Jewish War 2.224; Jewish Antiquities 20.106-112). Apakah Yesus digiring dan disiksa dengan pengawalan ekstra ketat oleh tentara Roma dalam jumlah yang sangat besar, demi mengimbangi kekuatan orang Yahudi yang sedang berhimpun di Yerusalem, yang sewaktu-waktu bisa merusak keamanan dan ketertiban kota Yerusalem? Ataukah Yesus dilarikan dengan cepat oleh pasukan berkuda Romawi ke bukit Kalvari? Ataukah kita harus beranggapan bahwa, karena kelihaian Pilatus dalam mengendalikan massa, orang banyak yang mengenal Yesus tiba-tiba saja berbalik pro-Roma dan melawan Yesus ketika dia sedang diadili, lalu dijatuhi hukuman mati, kemudian diseret dan didorong-dorong paksa sementara dia terus memikul kayu salibnya? Sekarang saya biarkan pertanyaan-pertanyaan ini tetap terbuka.

Berikut ini fokus kita alihkan ke soal apakah penyaliban Yesus tidak pernah ada dalam sejarah, seperti diyakini umat Islam.

Penyaliban Yesus, apakah suatu tragedi ilahi ataukah suatu komedi ilahi?
Dont take it to be serious. It is only a children play!

Dalam pandangan saya, penyaliban Yesus adalah suatu peristiwa sejarah yang tidak dapat disangkal, karena, sudah dikatakan di atas, ada beragam bukti literer (dokumen) kuno yang independen yang memberitakan peristiwa ini. Dalam hal ini, suatu kriterion autentisitas penting dalam mengevaluasi Yesus diterapkan: bahwa bahan-bahan bukti literer autentik (authentic literary evidence) tentang Yesus harus ditemukan di lebih dari satu sumber, dan sumber-sumber yang multiple ini harus independen, yang satu tidak bergantung pada yang lainnya; ini adalah kriterion yang diberi nama criterion of multiple independent attestation (yang juga dipakai dalam kasus-kasus pembuktian fakta-fakta di dalam suatu pengadilan negara atas perkara-perkara pidana dan perdata).

Bukti literer pertama (tertua) adalah dokumen-dokumen Kristen Perjanjian Baru yang seluruhnya dengan satu suara memberitakan penyaliban Yesus. Jika penyaliban Yesus hanya diberitakan oleh penulis-penulis Kristen, kita bisa menyatakan bahwa peristiwa penyaliban Yesus itu bisa saja ciptaan para penulis Kristen sendiri untuk menunjang suatu teologi Kristen tentang penebusan melalui salib Yesus. Tetapi, masalahnya adalah: Apa perlunya para penulis Kristen perdana merekayasa tulisan-tulisan yang menyaksikan penyaliban Yesus, sementara penyaliban Yesus itu sendiri merupakan suatu peristiwa yang memalukan kekristenan perdana, memalukan karena sang pemimpin mereka dihukum mati dengan cara yang (dalam pandangan Yahudi) sangat aib dan terkutuk, yakni dihukum dengan penyaliban sebagai seorang kriminal menurut hukum Romawi. Jadi, penyaliban Yesus sebagai suatu peristiwa sejarah memenuhi suatu kriterion autentisitas lainnya:
criterion of embarrassment: jika suatu peristiwa dalam kehidupan Yesus memalukan atau menjatuhkan pamor kekristenan perdana, maka pengisahan atau pelaporan peristiwa ini pastilah bukan dibuat-buat, melainkan pelaporan suatu peristiwa sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi. Jadi, tidak ada alasan lain, selain alasan sejarah, kalau para penulis Kristen perdana sampai melaporkan penyaliban Yesus.

Selain itu, hukuman penyaliban adalah sesuatu yang sudah umum dan sering dilakukan oleh para penguasa asing terhadap para revolusioner Yahudi, dengan tatacara yang sudah dibakukan. Penangkapan Yesus juga sudah diatur dengan sangat profesional, sehingga mustahil terjadi salah tangkap. Jadi, masuk akal, jika Yesus dari Nazaret akhirnya dihukum mati melalui penyaliban mengingat dia memang telah menimbulkan gangguan baik terhadap otoritas Yahudi mau pun terhadap otoritas Roma. Dia dihukum mati karena suatu tuduhan bahwa dia mengklaim takhta Daud dan dengan demikian menjadikan dirinya raja Yahudi di suatu kawasan yang dijajah Roma. Tuduhan ini dituliskan pada
titulus yang dipancang pada balok/kayu salibnya.

Bukti-bukti literer lainnya berasal dari dokumen-dokumen non-Kristen, yakni dokumen-dokumen Yahudi dan non-Yahudi, serta dokumen-dokumen Romawi. Karena para penulis dokumen-dokumen ini adalah orang-orang non-Kristen, maka tidak ada kepentingan atau alasan apa pun dalam diri mereka, selain alasan melaporkan suatu peristiwa sejarah, ketika mereka memberitakan Yesus telah mati disalibkan.

Dokumen Yahudi yang pertama adalah tulisan seorang sejarawan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus (atau Yosef ben Matthias), yang hidup 37/38-setelah tahun 100. Di dalam suatu karya besarnya,
Antiquitates Judaicae (Jewish Antiquities), pada bagian 18.63-64 (bagian ini, biasa disebut sebagaiTestimonium Flavianum = kesaksian atau testimoni Flavius Yosefus tentang Yesus; lebih jauh tentang testimoni ini, klik di sini) kita baca kesaksian berikut (kata-kata yang ditempatkan dalam tanda kurung adalah tambahan belakangan dari seorang editor Kristen):
Kira-kira pada waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, (jika memang orang harus menyebutnya seorang manusia). Sebab dia adalah seorang yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa, dan seorang guru bagi orang-orang yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia telah memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. (Ia adalah sang Messias). Setelah mendengar dia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula telah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka kepadanya. (Pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka dan membuktikan dirinya hidup. Nabi-nabi Allah telah menubuatkan hal ini dan hal-hal ajaib lainnya tentang dirinya yang tidak terhitung banyaknya). Dan bangsa Kristen ini, disebut demikian dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap.
Berbeda dari Flavius Yosefus yang memberi catatan simpatik tentang Yesus, sumber-sumber rabinik Yahudi (yang ditulis dalam periode Tannaitik, sampai dengan tahun 220) tentang Yesus berisi catatan-catatan penolakan sebagai reaksi Yahudi terhadap provokasi-provokasi yang dibuat orang-orang Kristen perdana terhadap Yudaisme. Sejumlah pakar menilai ada tradisi-tradisi tua dan dapat dipercaya sebagai sumber sejarah tentang Yesus dalam Talmud Babilonia, di antaranya bSanhedrin 43a, yang bunyinya demikian: Pada Sabat perayaan Paskah, Yeshu orang Nazareth digantung. Sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: Inilah Yesus orang Nazareth, yang akan dirajam dengan batu sebab dia telah mempraktikkan sihir dan mejik [bdk. Markus 3:22] dan memengaruhi orang Israel untuk murtad. Barangsiapa yang dapat mengatakan sesuatu untuk membelanya, hendaklah tampil dan membelanya. Tetapi karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, dia pun digantung pada sore Paskah [ini sejalan dengan kronologi dalam Injil Yohanes]....

Seorang filsuf stoik kebangsaan Syria, yang berasal dari Samosata, bernama Mara bar Sarapion, menulis surat kepada anaknya, Sarapion, dari tempatnya di sebuah penjara Roma, mungkin segera setelah tahun 73. Di dalamnya dia menegaskan bahwa satu-satunya yang paling berharga untuk dimiliki dan diperjuangkan adalah kebijaksanaan, dan bahwa kendati pun orang bijak itu dapat dianiaya, kebijaksanaan itu tetap kekal. Sebagai model orang-orang bijak, dia mengutip Sokrates dan Phytagoras, dan juga Yesus meskipun nama Yesus tidak disebutnya:
Perbuatan baik apa yang dilakukan orang-orang Atena ketika mereka membunuh Sokrates, yang mengakibatkan mereka dihukum dengan bahaya kelaparan dan penyakit menular? Manfaat apa yang diperoleh orang-orang Samian ketika mereka membakar Phytagoras, karena kemudian negeri mereka seluruhnya dikubur pasir dalam sekejap saja? Atau apa keuntungannya ketika orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka setelah itu direnggut dari mereka [mengacu ke Perang Yahudi I tahun 66-73/74]? Allah telah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada tiga orang bijaksana ini. Orang-orang Atena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga raja yang bijak itu tidak mati, karena setelah dia tidak ada muncul hukum baru yang dia telah berikan.

Seorang satiris yang bernama Lucian dari Samosata (sekitar tahun 115-200), dalam tulisannya
The Passing of Peregrinus mengisahkan tentang orang-orang Kristen yang sangat terpikat pada Peregrinus sehingga mereka menyembahnya sebagai suatu allah; selanjutnya Lucian menulis: ... sesungguhnya, selain dia, juga orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini ke dalam dunia, kini masih mereka sembah.Lucian juga menggambarkan orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang menyembah sofis yang disalibkan itu sendiri dan hidup di bawah hukum-hukumnya.

Cornelius Tacitus (55/56-sekitar 120) adalah seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya,
Histories (sekitar 105-110) dan Annals (sekitar 116/117). Seperti dilaporkan Tacitus dalam Annals 15.38-44, untuk membelokkan kecurigaan dan dakwaan terhadap dirinya sendiri atas terbakarnya kota Roma selama sembilan hari dalam tahun 64, Kaisar Nero (54-68) menjadikan orang-orang Kristen di sana sebagai kambing hitam. Dalam konteks inilah Tacitus menyebut nama Kristussebagai pendiri gerakan Kristen yang dihukum mati: Karena itu, untuk menepis kabar angin itu, Nero menciptakan kambing hitam dan menganiaya orang-orang yang disebut orang-orang Kristen [Chrestianos], yaitu sekelompok orang yang dibenci karena tindakan-tindakan kriminal mereka yang memuakkan. Kristus, dari mana nama itu berasal, telah dihukum mati (supplicio adfectus) dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37] di tangan salah seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36], dan takhayul yang paling merusak itu karenanya untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, sumber pertama dari kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang buruk, menjengkelkan dan yang menimbukkan kebencian dari segala tempat di dunia ini bertemu dan menjadi populer. (Annals 15.44).

Nah, beragam sumber independen yang telah dikutip di atas (sumber Kristen, dan sumber Yahudi maupun non-Yahudi) dengan bulat menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret telah mati disalibkan oleh otoritas Roma, dengan juga melibatkan otoritas Yahudi. Tidak ada alasan lain yang masuk akal, selain alasan sejarah, kalau para penulis dokumen-dokumen di atas itu, secara independen, sampai melaporkan peristiwa penyaliban Yesus.

Tetapi ada satu pertanyaan penting yang masih harus dijawab: Dari mana datangnya tradisi yang melaporkan bahwa Yesus dari Nazaret tidak mati disalibkan, atau bahwa bukan Yesus, tetapi orang lain yang diserupakan dengannya, yang mati disalibkan? Dokumen tertua yang memuat tradisi semacam ini, sudah dikatakan di atas, bukan Alquran, melainkan beberapa dokumen kuno lain, yang jauh lebih tua dari Alquran.

Mendahului Alquran, gagasan tentang ada dua orang yang terlibat dalam penyaliban, dengan yang satu menggantikan atau menyubstitusi yang lain, dijumpai dalam dua dokumen Kristen gnostik dari abad kedua dan abad ketiga.

Sebuah dokumen Nag Hammadi yang berjudul
Apokalipsis Petrus (NHC VII,3; dari abad ketiga), menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedangkan yang satunya lagi sedang berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung. Selanjutnya ditulis, Sang Penyelamat berkata kepadaku, Dia yang engkau lihat ada di atas sebuah pohon, bergembira dan tertawa, adalah Yesus yang hidup. Tetapi yang satunya lagi, yang kaki dan tangannya dipantek paku adalah bagian ragawi dari dirinya. Sosok yang ragawi ini, sosok yang lahir dengan memakai parasnya, sedang dipermalukan menggantikannya (81.7-25).

Dalam sebuah dokumen Nag Hammadi lainnya, yang berjudul
Traktat Kedua Seth Agung (NHC VII,2; dari abad kedua), Yesus menyatakan bagaimana dia bisa ada di dalam dunia: Aku mengunjungi suatu tempat kediaman ragawi. Aku menyingkirkan penghuni pertama yang ada di dalamnya, lalu aku masuk.... Dan Akulah yang sekarang berada di dalamnya, dan aku tidak sama dengan penghuni pertama yang ada di dalamnya. Sebab penghuni pertamanya adalah seorang manusia bumi, sedangkan Aku, Aku datang dari atas, dari surga (51.20-52.3). Dengan demikian, bagi kalangan gnostik aliran Basilides yang menyusun traktat ini, ada dua Yesus, yakni Yesus yang ragawi, yang jasmaniah, dan Yesus surgawi atau Yesus rohani. Bahkan dalam dokumen ini dikatakan bahwa Yesus terus-menerus mengubah rupanya, berubah dari satu rupa ke rupa lainnya (56.20-24). Keadaan jati diri ganda Yesus yang semacam ini menimbulkan kebingungan pada diri orang yang berada di luar komunitas gnostik ini khususnya ketika mereka mau memahami kesengsaraan dan penyaliban Yesus.

Pada bagian 56.5-20 dari
Traktat Kedua Seth Agung, Yesus berkata, Mereka melihat aku; mereka menghukum aku. Namun orang lainlah, yakni bapak mereka, yang meminum anggur yang dicampur empedu; bukanlah aku... melainkan seorang lain, Simon, yang memikul salib di pundaknya. Orang lainlah yang mengenakan mahkota duri. Sedangkan aku berada di tempat yang maha tinggi, dan menertawakan semua hal berlebihan yang telah dilakukan para penguasa dan buah kekeliruan dan tipu daya mereka. Aku menertawakan kebodohan mereka. Ketika seorang pemimpin gereja dari abad kedua yang bernama Irenaeus menulis (Adv. haer. 1.24.4) tentang seorang pemimpin Kristen gnostik yang bernama Basilides, dia menyatakan bahwa Basilides memandang bukan Yesus yang disengsarakan, melainkan seorang yang bernama Simon dari Kirene dipaksa untuk memikul salib Yesus menggantikannya... dan karena ketidaktahuan dan kesalahan, yang disalibkan bukan Yesus tetapi Simon ini. Jelas, Irenaeus di sini sedang mengacu secara tidak langsung pada dokumen Traktat Kedua Seth Agung. Jika tradisi tentang penyaliban Simon dari Kirene ini sudah beredar pada abad pertama, bisa jadi inilah alasannya mengapa penulis Injil Yohanes meniadakan Simon dari Kirene dalam tuturan injilnya dan Yesus digambarkan memikul salibnya sendiri (Yohanes 19:17), berbeda dari tuturan dalam injil-injil sinoptik bahwa Simonlah yang menggantikan Yesus memikul salibnya (Markus 15:21 dan par.).

Pertanyaan terakhir yang muncul adalah dari mana asal tradisi yang menyatakan bahwa Yesus memiliki
kembaran, yang parasnya serupa dengan paras Yesus, sehingga terjadi kekeliruan dalam penyaliban Yesus: bukan Yesus yang disalibkan tetapi orang lain kembarannya itu.

Tradisi tentang
kembaran Yesus ini muncul dari orang Kristen Syria, khususnya dari wilayah Edessa. Mereka keliru menyamakan Rasul Tomas, yang disebut tiga kali dalam Injil Yohanes sebagai Kembaran (Didimus) (Yohanes 11:16; 20:24; 21:2), dengan Yudas yang dalam Markus 6:3 dan Matius 13:55 disebut sebagai salah seorang dari empat saudara pria Yesus. Dari sinilah tercipta sosok Yudas Tomas, kembaran Yesus, sebuah potret yang populer di kalangan gnostik; lihat Kitab Tomas Si Petarung (NHC II,7; 138.2,4); Injil Tomas (NHC II,2; 32.11) dan Kisah Tomas 1. Potret ini jelas salah; sebab faktual historisnya Yesus tidak memiliki saudara kembar. Bunda Maria tidak pernah mengandung anak kembar; ketika dia melahirkan bayi Yesus, hanya satu bayi yang keluar dari rahimnya.

Gagasan kekristenan Tomas ini bahwa Yesus memiliki seorang kembaran adalah salah satu faktor penyebab munculnya kepercayaan bahwa seorang lain yang separas dengan Yesus telah disalibkan menggantikan dirinya. Dalam lingkungan Kristen gnostik, gagasan tentang kembaran Yesus ini melahirkan sebuah pemikiran teologis bahwa yang disalibkan itu adalah Yesus yang ragawi atau Yesus bumi, sedangkan Yesus yang sesungguhnya (Yesus yang sepenuhnya rohani, atau Yesus surgawi), junjungan kaum Kristen gnostik, tidak bisa disalibkan. Kepercayaan ini muncul karena bagi kalangan gnostik, Yesus yang sejati adalah Yesus yang rohani, Yesus surgawi, sehingga dia tidak bisa disalibkan. Tetapi, karena penyaliban sudah faktual terjadi, orang Kristen gnostik harus menyimpulkan bahwa yang telah disalibkan itu pastilah orang lain, orang yang parasnya serupa dengan paras Yesus, bukan Yesus junjungan mereka, Yesus surgawi.

Jadi, gagasan bahwa yang mati disalibkan bukan Yesus, tetapi kembarannya, adalah gagasan teologis yang dibuat untuk, pada satu pihak, menerima fakta penyaliban Yesus, sementara pada pihak lain untuk mempertahankan ketidakmungkinan Yesus gnostik, Yesus surgawi, mati disalibkan. Karena orang gnostik memandang rendah pada daging/raga (mentalitas sarkofobik), maka Yesus yang mereka sembah bukanlah Yesus ragawi, tetapi Yesus surgawi, Yesus rohani, yang tidak bisa disalibkan dan tidak bisa mati.

Kesimpulannya sudah jelas: pandangan Alquran bahwa bukan Yesus yang mati disalibkan, tetapi orang lain yang
serupa (atau diserupakan) dengan dirinya, adalah kelanjutan dari tradisi Kristen gnostik abad kedua dan abad ketiga yang memegang pandangan yang sama, yang masuk ke dalam Alquran pada waktu Kitab Suci ini ditulis dan disusun oleh Nabi Muhammad (abad ketujuh). Pandangan Kristen gnostik ini bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus dari Nazaret tidak mati disalibkan; tetapi justru karena Yesus benar-benar mati disalibkan, mereka perlu mencari seorang korban pengganti demi menyelamatkan dan mempertahankan keyakinan mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus surgawi, Yesus rohani, yang tidak bisa mati disalibkan. Jika umat Islam mengubah sebuah pandangan teologis menjadi sebuah laporan sejarah, tentu saja pengubahan semacam ini adalah suatu kesalahan. Dengan demikian, harus ditegaskan kembali bahwa Yesus dari Nazaret sungguh-sungguh telah mati melalui penyaliban. Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa soteriologi salib valid, sebab berdasarkan sejumlah argumen lainnya telah diperlihatkan bahwa soteriologi ini tidak valid.


Sunday, May 3, 2009

Betulkah Yesus dengan Sengaja Mau Mati demi Dunia?

Apakah Yesus dari Nazaret menginginkan dirinya sendiri menjadi juruselamat dunia dengan mati secara mengenaskan di kayu salib, sebagai suatu kematian pengganti demi keselamatan umat manusia sedunia di segala zaman dan tempat? Ini adalah sebuah pertanyaan berat dan sangat sensitif bagi perasaan banyak orang Kristen; meskipun demikian, akan diupayakan jawabannya dalam tulisan ini, tulisan keenam dari rangkaian tulisan mengenai masalah-masalah dalam soteriologi salib yang digali dalam blog ini.

Teks skriptural Perjanjian Lama yang pasti dirujuk orang Kristen untuk mendukung soteriologi salib adalah teks tentang hamba Tuhan yang menderita, antara lain (Deutero) Yesaya 52:13-53:12. Film Mel Gibson,
The Passion of The Christ (tentang gugatan saya terhadap film ini, klik di sini), untuk mendukung dolorisme, dibuka dengan sebuah kutipan teks Yesaya 53:5b, "Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Kalimat-kalimat sebelumnya dalam teks Yesaya ini berbunyi demikian, "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita" (Yesaya 53:4-5a). Sosok yang kena tulah dan menanggung azab demi kepentingan orang lain (vicarious sufferings) ini disebut sebagai "hamba" Tuhan, ebed Yahweh (Yesaya 52:13; 53:11b).

Dalam konteks historisnya, figur hamba Tuhan dalam Deutero Yesaya ini tentu saja tidak mengacu pada suatu figur mesianik di masa depan yang jauh, yang belum lahir, yang akan, melalui azab dan kematiannya, menyelamatkan dan menebus umat manusia di segala zaman dan tempat, tetapi pada suatu figur historis tertentu pada zaman ketika Deutero Yesaya ditulis (pada masa Pembuangan di Babel, abad VI SM), entah seorang imam, seorang nabi, atau seorang raja, Yahudi atau non-Yahudi, yang azabnya akan mendatangkan kebaikan, kesembuhan dan kesejahteraan untuk bangsa Israel sendiri, bukan untuk dunia secara universal dalam segala zaman. Tetapi jauh kemudian, pada permulaan abad kedua Masehi, oleh umat Kristen Perjanjian Baru, teks Deutero Yesaya ini dikenakan kepada Yesus, seperti kita baca dalam 1 Petrus 2:22-25; perhatikan khususnya ayat 24 yang memuat kutipan langsung dari teks Deutero Yesaya: "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhnya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurnya kamu telah sembuh."

Selain dalam teks PL ini, dokumen Yahudi ekstrakanonik yang ditulis dengan mengambil Pemberontakan Makkabe (167-142 SM) sebagai latar historisnya, yakni 2 Makkabe (ditulis sekitar tahun 125 atau 124 SM) dan 4 Makkabe (bergantung pada 2 Makkabe; ditulis sekitar tahun 50 M), juga memuat gagasan soteriologis Yahudi serupa: kematian seorang Yahudi yang saleh dan benar sebagai syuhadah dalam perlawanan habis-habisan terhadap raja lalim (raja Siria, Antiokhus IV Epifanes), mendatangkan pendamaian dan penebusan untuk bangsa Israel dan menyucikan tanah mereka (2 Makkabe 6:18-17:41; 4 Makkabe 1:11; 5:1-6:27-28; 17:21; 18:4 ), dan yang bersangkutan akan dibangkitkan dan menerima kehidupan kekal (2 Makkabe 7:9; bdk. ayat 11, 14, 23, 29, 36; 4 Makkabe 16:25; bdk. 7:18-19; 13:17). Dalam 4 Makkabe 5:1-6:28 terdapat kisah tentang Eleazar, seorang tua dari keluarga imam. Dikisahkan dengan imajinatif, menjelang ajal sebagai seorang martir di perapian yang panas bernyala-nyala Eleazar berkata, "Ya, Tuhan, Engkau mengetahui bahwa aku dapat luput. Tetapi kini aku sekarat di dalam perapian ini demi Taurat. Berilah rakhmat-Mu pada umat-Mu; semoga kekejaman yang aku alami ini melunasi semua yang harus mereka tanggung. Biarlah darahku menyucikan mereka, ambillah nyawaku sebagai suatu pengganti bagi mereka" (6:27-28).

Kita dapat bertanya, apakah Yesus dari Nazaret, karena suatu ilham, mengambil teks-teks Yahudi ini lalu menerapkannya kepada dirinya sendiri, dan dengan demikian dia memandang dirinya entah sebagai hamba Tuhan yang menderita, sebagai sang mesias yang harus (Yunani:
dei) mati tanpa perlawanan, atau pun sebagai seorang syuhadah yang mati dalam perlawanan keras terhadap penguasa lalim demi menyucikan Tanah Israel dan memerdekakan serta menebus bangsanya? Ataukah, gereja perdana (Yahudi dan non-Yahudi), tersirat ataupun tersurat, mengenakan teks-teks Deutero Yesaya (seperti dalam 1 Petrus 2:22-25), 2 dan 4 Makkabe dan teks-teks profetis lainnya kepada Yesus setelah kematiannya di kayu salib untuk menjadi landasan skriptural bagi soteriologi salib yang mereka konstruksi demi mengatasi tekanan jiwa yang begitu besar, yang mereka alami karena sang mesias mereka mati disalibkan di tangan bangsa Romawi, mati sebagai seorang yang (dari kaca mata Yahudi) terkutuk, terkena tulah, tanpa perlawanan apapun dari pihaknya? Pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimanapun juga, mengandung masalah-masalah berat yang harus diatasi.

Masalahnya, pertama, pada era kegiatan Yesus di muka umum, era pra-Kristen, era sebelum dokumen-dokumen tertua Perjanjian Baru yang memuat soteriologi penebusan lewat salib Yesus ditulis, dalam tradisi Yahudi pasca-biblis teks-teks skriptural Deutero Yesaya tentang hamba Tuhan yang menderita
tidak ditafsir secara mesianik, maksudnya: tidak diterapkan pada suatu figur mesias manapun.

Dalam kepercayaan dan pemikiran religio-politis mesianik Yahudi zaman Yesus, tidak terbuka kemungkinan untuk memandang seorang mesias Yahudi manapun akan menderita, mengalami azab, apalagi menderita dan tewas dengan memalukan, tanpa perlawanan fisik dan militer ketika berhadapan dengan musuh bangsa, negara dan agama. Dalam pandangan Yahudi, sebutan "mesias yang menderita" atau sebutan "mesias yang menempuh jalan sengsara" adalah suatu
contradictio in terminis: penderitaan atau jalan sengsara tidak bisa disandingkan dengan gelar agung mesias. Bagi orang Yahudi yang terus-menerus hidup dalam penjajahan bangsa asing silih berganti, jika betul seseorang itu seorang mesias yang diutus Allah, orang itu, sang mesias Yahudi ini, keturunan Raja Daud ini, memikul tugas besar dan agung untuk memerdekakan bangsa Yahudi dari para penindas mereka dengan mengangkat senjata, berperang melawan penjajah-penjajah mereka, dan menyucikan kota Yerusalem dan seluruh Tanah Israel (lihat teks ekstrakanonik Mazmur-mazmur Salomo 17:22). Sang mesias sejati Yahudi didukung rakyat sepenuhnya, duduk di takhta kerajaan Yahudi dengan segala kemuliaannya, dan, melalui gerakan militer, mengalahkan setiap musuh bangsa yang merenggut kemerdekaan mereka. Inilah "teologi kemuliaan" (theologia gloria) dan "teologi perang" (theologia bellum) yang menjadi teologi mesianik zaman Yesus, yang juga dipertahankan para murid perdana Yesus (lihat Markus 10:37; 14:31, 47).

Jadi, kalau Yesus dari Nazaret mengambil teks tentang hamba Tuhan yang menderita dalam Kitab Deutero Yesaya dan menjadikan teks ini sebagai landasan skriptural untuk, karena suatu dorongan dan ilham, membenarkan tindakannya menempuh
via dolorosa dengan rela, penuh rasa sakit namun tanpa perlawanan sampai dia mati mengenaskan di kayu salib, jelas Yesus, dengan menghayati "teologi salib" (theologia crucis) ini, bergerak di luar bingkai mesianisme Yahudi yang lazim pada masanya, dan tentu saja dia, karenanya, tidak akan dimengerti dan diterima rakyat Yahudi meskipun dia bisa jadi, langsung atau tak langsung, mengklaim dirinya raja Yahudi. Bahkan seorang murid utama yang dekat dengan Yesus, yakni Petrus, kita tahu, tidak bisa mengerti pandangan, kemauan dan langkah Yesus yang eksentrik, di luar kelaziman, ini: menjadi mesias rajani yang menderita (lihat Markus 8:31-32). Jadi, kalau diukur dari teologi kemuliaan dan teologi perang yang lazim dalam mesianisme Yahudi pada zamannya, jelas tidak akan ada seorang yang seperti Yesus, yang, dengan teologi salibnya, melangkah ke luar jauh dari dunia simbolik Yahudi zamannya!

Tetapi, bukankah Yesus, kita bertanya, bisa saja memang dengan sengaja mau berbeda dari pandangan mesianik umum Yahudi zamannya? Tentu, bisa saja pandangan mesianik Yesus begitu berbeda dari mesianisme Yahudi zamannya. Kalau memang benar demikian, ini memenuhi kriterion "dissimilarity" atau "distinctiveness" yang dipakai para peneliti Yesus sejarah. Menurut kriterion ini, sesuatu itu asli atau orisinil dari Yesus kalau sesuatu yang dikatakan dari Yesus ini (ucapannya atau tindakannya) begitu khas,
distinctive atau dissimilar, sehingga berkontras atau berbeda tajam dengan kelaziman dalam dunia Yahudi pada umumnya di zamannya. Jadi, OK-lah, kita bisa saja percaya bahwa Yesus sendiri memang menghayati teologi salib, bukan teologi kemuliaan atau teologi perang, seperti dilaporkan dalam Injil-injil PB (lihat Markus 8:31; 9:31; 10:33-34; dan par.). OK-lah Yesus menghayati teks tentang hamba Tuhan yang menderita dalam Kitab Deutero Yesaya.

Tetapi, persoalannya adalah
via dolorosa yang ditempuh Yesus, dan kematiannya di kayu salib, tidak berakibat soteriologis apapun bagi bangsa Yahudi yang dibelanya di hadapan kekuasaan Romawi. Sedangkan, teks dalam Deutero Yesaya yang sebagian sudah dikutip di atas menyatakan bahwa hamba Tuhan yang menderita itu, menderita demi mendatangkan kesembuhan, kesehatan, keselamatan, pembenaran dan penebusan bagi bangsa Israel. Setelah Yesus mati disalibkan, bahkan sampai berabad-abad sesudahnya, Tanah Israel nyatanya tetap terjajah, tetap tidak merdeka, dan bangsa Israel tetap terluka, sakit, tidak selamat, tidak sejahtera, tidak dibenarkan dan tidak tertebus. Dilihat dari sudut ini, kita harus menyatakan bahwa azab dan kematian Yesus sia-sia saja. Visi kehambaan yang membawanya pada kematian tidak efektif, kosong, dan dia menjadi seorang hamba Tuhan, ebed Yahweh, yang gagal total. Tidak ada keselamatan dari diri Yesus dan kematiannya bagi bangsanya.

Orang Kristen, demi iman mereka, mungkin akan masih mau bertahan dengan menyatakan bahwa jalan sengsara Yesus dan kematiannya memang tidak dimaksudkan Allah untuk manjur secara politis faktual bagi bangsa dan negerinya pada zamannya, melainkan untuk umat manusia secara universal di segala zaman dan tempat. Tetapi posisi iman Kristen semacam ini berpijak pada suatu logika yang salah: Bagaimana mungkin Yesus (atau Allah) memandang azab dan kematiannya (azab dan kematian Yesus) berefek soteriologis global, universal dan abadi, sementara efek soteriologis lokal, nasional dan temporernya bagi Tanah Israel dan bangsa Yahudi dalam zamannya yang sedang terjajah sama sekali tidak ada? Lagi pula, sebagaimana sudah diargumentasikan sebelumnya di blog ini (klik di sini), azab dan kematian Yesus nyatanya juga tidak manjur untuk secara magis menyelamatkan dan mengubah manusia kapanpun dan di manapun sesudah zaman Yesus, apalagi untuk orang yang hidup dan sudah mati sebelum dia mati disalibkan, misalnya untuk Adam dan Hawa (tentang ini dibahas dalam tulisan ketujuh sesudah tulisan ini, klik di sini).

Masalah keduanya adalah bahwa kalau Yesus memang benar memakai dan menerapkan teks-teks martir Yahudi dalam 2 dan 4 Makkabe (seperti sebagian sudah dikutip di atas) kepada dirinya sendiri, dia dalam kenyataannya tidak mengalami hal-hal dahsyat yang telah dialami oleh orang-orang yang dikisahkan dalam teks-teks Yahudi ekstrakanonik ini, dan kemartirannya juga sia-sia.

Berbeda dari orang Yahudi pada masa perjuangan dan pemberontakan Makkabe (167-142 SM) yang frontal terbuka dan bersenjata melawan helenisasi yang dilancarkan dengan gencar oleh Raja Antiokhus IV Epifanes terhadap bangsa dan agama Yahudi, Yesus tidak frontal menghadapi Roma dalam suatu perlawanan terbuka bersenjata. Berbeda dari apa yang dilukiskan dialami para pejuang Makkabe yang harus menghadapi siksaan sangat mengerikan bertubi-tubi sampai mereka mati dengan tubuh tidak utuh lagi, dalam Injil-injil PB tidak ada gambaran tentang penyiksaan amat dahsyat dan mengerikan yang dialami Yesus. Tentu Injil-injil PB menuturkan penyiksaan atas Yesus ketika dia diadili dan ketika dia digiring ke Golgota, sampai pada puncaknya dia mati dengan sangat mengenaskan di kayu salib. Tetapi, gambaran azab dan kematian Yesus ini sangat jauh kalah dahsyat dan kalah mengerikan jika dibandingkan dengan gambaran azab dan kesengsaraan serta kematian Eleazar dan tujuh pria bersaudara bersama ibu mereka yang sudah tua dalam 2 Makkabe (5:1-6:28 dan 7:1-42).

Dan, hal yang terpenting adalah kenyataan sejarah bahwa pada akhirnya para pejuang Makkabe melalui pengurbanan diri mereka sampai mati syahid secara mengerikan membuahkan kemerdekaan dan penyucian bagi bangsa Yahudi untuk jangka waktu yang cukup panjang (142-63 SM); hal ini kontras dengan gerakan Yesus yang, seperti sudah dikatakan di atas, tidak menghasilkan kemerdekaan dan penyucian kembali tanah dan bangsa Yahudi. Jadi, menerapkan teks-teks martir dalam 2 dan 4 Makkabe pada Yesus tidak pas. Kalaupun betul Yesus pribadi menghayati teks-teks martir dalam 2 dan 4 Makkabe ini, jalan hidup atau nasibnya membawanya ke arah lain: dia mati dengan sia-sia, dan bangsa Israel tetap terjajah untuk jangka waktu yang panjang berabad-abad ke depan, sesudah perjuangannya yang singkat kandas total. Jadi, kalaupun pemuda Yahudi idealis Yesus dari Nazaret ingin mati syahid demi menyucikan Tanah Israel dan menjadi tebusan bagi bangsanya (menurut Markus 10:45, bagi "banyak orang"), dalam kenyataannya dia, di akhir perjuangannya, gagal telak.

Menurut tiga catatan dalam Injil Markus, Yesus sudah tahu sebelumnya dan meramalkan bahwa dia akan menderita dan pada akhirnya akan mati dibunuh (Markus 8:31; 9:31; 10:33-34). Ini berbeda dari sekian mesias Yahudi lainnya, yang tampil sebelum maupun sesudah Yesus, yang tidak menubuatkan sebelumnya bahwa mereka pada akhirnya akan mati dibunuh oleh penguasa asing yang menjajah tanah mereka. Semua mesias Yahudi lainnya ini, misalnya Simon Bar Kokhba, mengharapkan dan memperjuangkan kemenangan melalui pemberontakan dan perang, bukan mengharapkan kekalahan dan kematian.

Nah, apa yang akan kita katakan tentang seseorang yang sudah tahu akan mati tetapi terus saja maju sampai akhirnya orang ini benar-benar mati dibunuh lawan-lawannya? Apakah tindakan ini bukan suatu kenekatan, atau bukankah ini suatu tindakan bunuh diri yang sudah direncanakan sebelumnya? Mungkin sekali Yesus memang nekat karena impiannya atau karena wangsit yang diterimanya bahwa dia akan mati untuk menebus dosa bangsa Israel dan memerdekakan dan menyucikan Tanah Israel. Yesus mengalami keadaan ini mungkin karena dia mengidentikkan dirinya total dengan hamba Tuhan yang menderita seperti dituturkan Deutero Yesaya atau dengan para martir Makkabe. Jika memang demikian keadaannya, dunia patut bersedih sebab, seperti sudah ditulis di atas, sejarah membuktikan bahwa impian atau wangsitnya itu keliru dan tidak terpenuhi.

Pada sisi lain, ya dunia patut beriba hati karena Yesus sendiri sangat frustrasi pada akhirnya ketika dia menemukan Allah tidak berintervensi dalam bentuk apapun, jika penulis Injil Markus memang melaporkan suatu ingatan historis bahwa di kayu salib Yesus berteriak-teriak sangat kecewa (dengan mengutip Mazmur 22:2a) karena dia melihat dan merasakan Allah telah meninggalkannya:
"Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", "Allahku, Allahku, mengapa dikau menelantarkanku?" (Markus 15:34). Jika memang teriakan ini faktual diucapkan Yesus yang sedang kesakitan tersalib, kita harus katakan bahwa akhirnya, meskipun sudah terlambat, Yesus menemukan dirinya tidak bisa tahan menanggung azab, tidak seperti yang digambarkan dalam Deutero Yesaya tentang seorang hamba Tuhan yang kuat menanggung azab dan tidak seperti para martir Makkabe yang tangguh dan heroik. Rasa frustrasi Yesus ini berbeda tajam dengan kedigdayaan Eleazar di perapian panas yang bernyala-nyala, juga dengan kedigdayaan Sokrates yang dengan tenang meminum racun yang diharuskan Negara Atena atas dirinya (tahun 399 SM).

Tetapi, adakah rekonstruksi alternatif daripada mengargumentasikan bahwa Yesus mati bunuh diri dengan direncanakan, dengan memakai tangan-tangan otoritas Yahudi dan otoritas Romawi, karena dia mau mengikuti jejak
sang hamba Tuhan dalam Deutero Yesaya atau jejak para martir Makkabe? Saya kira masih ada alternatif untuk menjelaskan persoalan yang kompleks ini.

Hemat saya, Yesus adalah seorang yang optimis, bukan seorang yang fatalistis, yang menyerah pada nasib yang dibayang-bayangkannya sendiri. Dia percaya bahwa apa yang diperjuangkannya adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang luhur, bagi bangsa Israel, yaitu memberitakan dan merayakan kehadiran Allah Yahudi di tengah rakyat, Allah yang datang kepada mereka sebagai Raja dan Bapa mereka untuk memberikan kemurahan dan kerahiman-Nya. Ketika Allah Yahudi ini datang melawat umat-Nya, Israel, maka Allah ini, kata Yesus, akan mencari domba-domba yang hilang dari kawanannya, dari antara umat Israel; bahwa Allah ini akan menerima kembali dengan penuh kemurahan dan belas kasih orang-orang yang berpaling kembali kepada-Nya bak seorang ayah yang tulus menerima kembali anaknya yang bungsu yang balik kembali kepadanya setelah menempuh kehidupan yang tidak patut di luar negeri; bahwa Allah ini akan, karena kemurahan-Nya, membebaskan orang-orang yang berhutang karena kemiskinan mereka yang parah dan kepasrahan mereka; bahwa Allah ini akan mendengarkan dan mengabulkan doa dan permintaan rakyat Yahudi yang terus-menerus mengharapkan pertolongan ilahi; bahwa Allah ini akan memelihara dengan setia umat-Nya seperti Dia memelihara dengan telaten bunga bakung di padang dan burung di udara. Ketika Allah ini datang dengan bela rasa-Nya, dengan
compassion-Nya, maka, seperti didemonstrasikan Yesus dengan nyata, orang sakit disembuhkan, orang lumpuh dibuat berjalan, orang buta dicelikkan, orang yang kerasukan setan dipulihkan, orang yang terkapar hampir mati di jalan karena luka-lukanya didatangi, ditolong, dirawat dan disembuhkan, orang yang mau dirajam diampuni dan diselamatkan. Yesus yang semacam ini adalah Yesus pencinta dan pemelihara kehidupan. Yesus yang semacam ini yakin betul bahwa Allah, Bapanya, terus menyertainya dan memeliharanya seperti Allah ini terus memelihara bunga bakung di padang dan burung pipit di udara.

Nah, orang yang optimis, ceria, mencintai kehidupan, dekat dengan burung-burung di udara dan dengan bunga bakung di padang, dan dengan anak-anak, suka menolong, giat membangun semangat, memberi pengharapan, mengampuni, menyembuhkan dan penuh dengan bela rasa seperti Yesus ini tidak mungkin membayangkan dirinya akan berumur singkat, akan disiksa oleh orang lain, lalu mati dibunuh dengan penyaliban. Yesus yang semacam ini tentu berharap dirinya akan berumur panjang, akan bisa lama berada di tengah rakyat Yahudi yang sedang menderita karena penjajahan dan kemiskinan untuk memberdaya mereka, dan akan dengan bersemangat terus menghadirkan dan memperagakan kuasa dan bela rasa Allah bagi bangsa Yahudi. Dia tentu, dari sejarah Israel dan dari kenyataan yang dilihatnya setiap hari, dapat kita bayangkan mengetahui kekejaman otoritas Yahudi dan otoritas Romawi yang kerap menyalibkan orang Yahudi. Dia, karena itu, tentu sangat tidak menyukai pembunuhan orang di kayu salib. Dia tentu berusaha keras untuk menghindari benturan dengan para penguasa
de jure dan de facto Tanah Israel selama dia masih berkarya di kampung-kampung Galilea.

Jika gambaran positif dan optimis tentang Yesus ini secara historis tepat, dan, seperti baru dikatakan, ada alasan yang cukup untuk kita percaya bahwa gambaran ini memang tepat (minimal 70% tepat!), maka sangat tidak mungkin jika Yesus sendiri menubuatkan berulang-ulang (seperti ditulis Markus) bahwa dirinya akan menempuh
via dolorosa yang akan, dalam waktu singkat, bermuara pada pembunuhan dirinya di kayu salib. Bila rekonstruksi historis alternatif ini benar, maka semua ucapan Yesus dalam Injil-injil PB yang menubuatkan kesengsaraan dan kematian dirinya di tangan penguasa Yahudi dan penguasa Romawi bukanlah ucapan asli Yesus, melainkan ucapan dan teologi orang Kristen perdana sesudah Yesus wafat yang harus merasionalisasi fakta sejarah berat bahwa Yesus mati dibunuh dengan cara memalukan dan kejam, di luar perkiraan mereka sebelumnya, seperti sudah diuraikan pada waktu yang lalu (klik di sini). Dengan rasionalisasi inilah mereka akhirnya dapat menerima azab dan kematian Yesus yang mereka tidak sangka-sangka itu sebagai sesuatu yang sudah harus terjadi, bertujuan dan bermakna karena, menurut mereka, Yesus sudah meramalkannya sebelumnya.

Begitu juga, ucapan-ucapan Yesus dalam injil-injil PB yang menyatakan dirinya akan mati untuk menjadi penyelamat dan penebus bangsa Israel bukanlah ucapan-ucapan asli Yesus, melainkan ajaran gereja perdana yang ditempelkan pada mulut dan lidah Yesus, yang disusun oleh gereja perdana berdasarkan, langsung atau tak langsung, teks-teks Deutero Yesaya, 2 dan 4 Makkabe dan teks-teks profetis lainnya.
Dengan mengonstruksi soteriologi semacam ini, gereja perdana berhasil mengubah kematian Yesus yang faktualnya sia-sia menjadi kematian yang bertujuan, setidaknya dalam keyakinan mereka. Sedangkan, bagi Yesus yang teosentris keselamatan dan penebusan hanya diberikan oleh Allah, Bapanya, yang rakhmani dan rahimi, kepada bangsa Israel, bukan oleh dirinya sebagai anak sang Bapa, yang menundukkan dirinya pada kerahiman ilahi sang Bapa.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa Yesus tidak mau dengan sengaja mati untuk menebus dosa dunia.
Soteriologi salib tidak berasal dari Yesus, tetapi sepenuhnya ciptaan gereja perdana sesudah masa kehidupan Yesus.

Pertanyaan yang dengan membandel timbul tentu adalah mengapa atau karena hal apa Yesus pada akhirnya memang mati disalibkan dalam usia muda? Pertanyaan ini sudah dijawab dalam tulisan yang lalu (klik di sini). Pada kesempatan ini, cukup dengan singkat diulang kembali. Yesus dihukum mati karena beritanya tentang Kerajaan Allah yang sedang datang di tengah rakyat Yahudi ditafsirkan oleh lawan-lawannya sebagai klaim pribadinya bahwa dia adalah raja Yahudi, dan dengan demikian dia dinilai telah melanggar suatu hukum Romawi yang mewajibkan rakyat jajahan untuk tunduk hanya kepada Kaisar Roma sebagai raja Israel. Yesus ditangkap di Yerusalem dan akhirnya dihukum mati karena dia telah melakukan suatu kesalahan fatal berdemonstrasi di Bait Allah pada waktu perayaan Paskah, perayaan untuk memperingati kemerdekaan bangsa Yahudi dari tangan Mesir dalam sejarah nenek moyang Israel. Teologi Yesus yang memandang Allah tanpa perantara apapun memberikan kemurahan-Nya kepada umat Yahudi membuatnya berang dan marah ketika menyaksikan Bait Allah telah difungsikan sebagai lembaga perantara untuk mempertemukan Allah Yahudi dengan umat-Nya. Kemarahannya ini mendorongnya untuk berunjuk rasa di Bait Allah. Seandainya Yesus tidak berdemonstrasi di Bait Allah, mungkin umurnya masih akan panjang dan tidak mati disalibkan sebagai suatu bentuk penghukuman mati Romawi.

Dengan demikian kematian Yesus di kayu salib terjadi bukan karena Allah mengharuskannya demikian, bukan juga karena dia ingin bunuh diri, tetapi karena kebencian lawan-lawannya dan kesalahannya berunjuk rasa di dalam Bait Allah. Kematian ini, jika diketahui lebih dulu oleh Yesus, tentu akan dia hindari sebisa mungkin. Dengan demikian jelaslah bahwa Yesus tidak mau mati dengan sengaja untuk menyelamatkan dunia. Azabnya yang akan segera membawanya kepada kematian dilihat Yesus, ketika dia kesakitan terpaku di kayu salib, sebagai sesuatu yang tidak dia sangka-sangka; karena itu dia, dalam segala sifat kemanusiaannya, sangat kecewa dan merasa Allah telah meninggalkannya. Akhir kehidupan Yesus benar-benar sebuah tragedi, sebuah kecelakaan sejarah.

Thursday, April 30, 2009

Politik Roma Versus Politik Yesus

Pada kesempatan ini akan dikemukakan dengan singkat hal-hal historis apa yang menjadi penyebab Yesus dihukum mati melalui penyaliban dirinya. Tulisan ini, dengan demikian, adalah tulisan kelima dari rangkaian tulisan di blog ini yang menyoroti tema masalah-masalah dalam soteriologi salib.

Jauh sebagai suatu peristiwa adikodrati satu-satunya yang bersignifikansi soteriologis universal dan abadi, kematian Yesus di kayu salib faktual historisnya adalah suatu peristiwa kodrati, insani dan politis biasa dalam suatu ruang dan waktu terbatas yang tidak berdimensi soteriologis universal dan abadi apapun.

Melalui banyak perumpamaannya dan banyak ucapannya yang lain, Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sedang ada di tengah rakyat Yahudi yang sedang dijajah Roma (antara lain, Lukas 17:21b), bahwa Allah Yahudi kini sedang langsung memerintah sebagai Raja, dan murid-muridnya diajarnya untuk meminta supaya Kerajaan Allah ini terus-menerus berada di tengah mereka (Lukas 11:2; Matius 6:10). Akta-akta Yesus mendemonstrasikan bahwa bersama Yesus benar Allah sedang berkarya di tengah bangsa Yahudi. Kata Yesus, “Jikalau aku mengusir setan dengan jari Allah, sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu!” (Lukas 11:20; Matius 12:28) Hanya Allah yang menjadi Raja mereka. Inilah teokratisme Yesus. Sementara itu, pada pihak lain, bagi orang Romawi, hanya sang Kaisar yang bertakhta di Roma yang merupakan raja baik bagi bangsa Romawi sendiri maupun bagi semua bangsa jajahan. Bagi Yesus, dalam teokratisme Yahudi tidak bisa ada dua raja, melainkan hanya satu; dan raja ini bukan sang Kaisar tetapi Allah Yahudi. Dengan demikian, Yesus atas nama Allah dan atas nama rakyat menolak dan melawan Kaisar.

Perlawanan Yesus dari Nazaret terhadap Roma yang sedang menjajah bangsa Yahudi dengan jelas diungkap secara simbolik, antara lain, dalam tuturan sastra injil tentang seorang Gerasa yang kerasukan roh jahat (Markus 5:1-20). Ketika Yesus bertanya kepada roh jahat itu siapa namanya, roh itu menjawab, “Namaku legion, karena kami banyak.” (ayat 9). Kata Latin “legion” dikenakan untuk satuan prajurit pejalan kaki Roma ditambah pasukan berkuda, dengan jumlah besar antara 3.000 sampai 6.000 orang. Nama ini, dengan demikian, adalah kiasan untuk penjajahan Roma atas Tanah Israel. Dus, Yesus mendemonisasi lawannya, Kekaisaran Romawi. Permusuhan dan perlawanan terhadap Roma yang menduduki tanah Israel diungkap dengan jelas ketika Yesus berseru kepada setan-setan itu, “Keluar dari orang ini!” Tetapi setan-setan itu meminta untuk diizinkan tetap tinggal di daerah itu (ayat 10)―inilah persisnya yang dikehendaki Roma, yakni tetap mengontrol seluruh Tanah Israel. Sebaliknya, rakyat Israel menginginkan mereka diusir dan dibenamkan ke dalam danau seperti babi-babi. Yesus tampil sebagai seorang pengusir setan yang digdaya; dan kehadirannya sebagai orang yang dipenuhi Roh dan kuasa Allah (Markus 1:10b, 12; Matius 12:28; Lukas 11:20; lebih jauh tentang ini, klik http://www.ioanesrakhmat.com/2008/10/spiritualitas-yesus-dari-nazaret.html) sungguh merupakan suatu ancaman nyata bagi kedamaian dan stabilitas masyarakat Israel di bawah rekayasa politis kolonial Roma (Pax Romana): saat Roma mati terbenam dalam air danau hanya menunggu waktunya saja, pembebasan tidak lama lagi tiba.

Bagi Yesus, Tanah Israel, Eretz Israel, adalah milik Allah Yahudi, Tanah Perjanjian yang oleh Allah Yahudi dulu diberikan kepada Abraham, dan yang kemudian diwariskan kepada keturunannya yang membentuk satu bangsa Israel. Bagi Yesus, Allah Abraham adalah Allah Ishak dan Allah Yakub (Markus 12:26), Allah bangsa Israel. Ikatan perjanjian dengan Abraham ini, dalam pandangan Yesus, tidak pernah dibatalkan: Israel, menurutnya, adalah “satu keluarga” yang tidak boleh dipecah-belah (Markus 3:25), dan “anak-anak” dalam satu keluarga harus diperhatikan lebih dulu (Markus 7:27). Untuk menunjukkan bahwa Yesus ingin mempertahankan dan mengembalikan keutuhan 12 suku Israel, dia membentuk komunitas kecil lingkaran dalam para murid yang terdiri atas 12 orang (Markus 3:14). Jelas, Yesus memperjuangkan kepentingan Israel sebagai satu bangsa. Maka, kalau dikaitkan dengan Tanah Israel, ketika Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah” (Markus 12:17), dia bermaksud menyatakan bahwa Kaisar tidak memiliki Tanah Israel, tetapi Allah pemiliknya, karena itu tanah ini harus Kaisar kembalikan kepada Allah, pemilik sah tanah ini, dan kepada bangsa Israel, umat Allah, yang mewarisi tanah itu dari Abraham. Dan bangsa Roma harus menyingkir dari tanah yang bukan milik mereka, kembali ke negeri asal mereka sendiri. Doktrin sekular tentang pemisahan agama/gereja dan negara tidak termuat dalam ucapan politis Yesus ini, Yesus yang berwawasan teokratis.

Berita yang terus-menerus di banyak lokasi di Galilea disampaikan Yesus bahwa kini Allah Yahudi sedang memerintah sebagai Raja Israel ditafsir lawan-lawannya sebagai suatu proklamasi bahwa dia sendiri adalah raja Yahudi, dan dengan demikian dia menolak dan melawan Kaisar Roma. Penafsiran semacam ini bisa dibenarkan mengingat bahwa dalam kepercayaan mesianik Israel orang yang berbicara dan bertindak atas nama Allah, seperti Yesus dari Nazaret, adalah wakil langsung dari Allah, representasi Allah sendiri, dan tangan Allah sendiri. Wakil, representasi, juru bicara dan tangan Allah dalam kehidupan riil bangsa Israel tidak lain adalah raja atau mesias Israel sendiri. Adalah suatu ketentuan hukum Romawi, barangsiapa menolak dan melawan Kaisar, orang itu harus dihukum mati.

Persis ketika Yesus mau memasuki kota Yerusalem pada perayaan Paskah Yahudi, perayaan untuk memperingati kemerdekaan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, orang banyak memproklamasikan Yesus sebagai Raja Israel; kata mereka, dalam tuturan Markus, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi” (Markus 11:9; par.). Tetapi ada persoalan di sini. Apa yang dicatat dalam injil-injil sinoptik (Markus, Matius dan Lukas) tentang masuknya Yesus dengan jaya dan aman-aman saja ke kota Yerusalem pada perayaan Paskah setelah orang banyak mengumumkan kepada dunia bahwa Yesus adalah sang Raja Yahudi, keturunan Raja Daud, sukar dipercaya sebagai kejadian historis. Jika arak-arakan gegap gempita yang kuat diwarnai pesan-pesan mesianik dan pemulihan kerajaan Daud ini sungguh terjadi, pasti peristiwa ini akan diberi reaksi represif cepat oleh Gubernur Pontius Pilatus (yang sedang berada di Yerusalem) untuk mencegah timbulnya pemberontakan sekaligus untuk “mengamankan” figur yang diproklamasikan rakyat banyak sebagai mesias Yahudi. Tuturan tentang peristiwa yang sama dalam Injil Yohanes (12:12-16) lebih dapat dipercaya, karena, dituturkan, setelah orang banyak memproklamasikan Yesus sebagai “Raja Israel” (ayat 13), Yesus “pergi bersembunyi” (ayat 36b), menghindari para penguasa yang pasti sedang mencarinya untuk menangkapnya.

Bagaimana pun juga, tuturan dalam keempat injil tentang kejadian di pintu gerbang Yerusalem ini bermaksud untuk menyampaikan sebuah fakta bahwa rakyat Yahudi memang menantikan kedatangan seorang mesias pembebas dan pemenuhan penantian ini tampaknya, oleh orang banyak, dikaitkan dengan kehadiran Yesus di tengah mereka. Hal ini bisa terjadi karena mereka menyamakan Yesus yang memberitakan kedatangan Kerajaan Allah dan memperagakan kehadiran kuasa Allah dalam tindakan-tindakan penyembuhan dan eksorsismenya dengan Kerajaan Allah itu sendiri. Yesus menunjuk pada Kerajaan Allah dan mengajak orang banyak untuk melihat kepada Kerajaan ini, tetapi rakyat menunjuk pada Yesus sebagai sang mesias yang bertakhta dalam Kerajaan itu sendiri, dan para penguasa Bait Allah menuduh Yesus sebagai orang yang mengklaim posisi mesianik. Mereka mengganti Allah yang diwartakan dan diejawantahkan Yesus dengan diri Yesus sendiri! Bagi Yesus, Allah adalah sang Pembebas Israel, tetapi bagi rakyat Yahudi Yesuslah sang Pembebas mereka!

Ketika Yesus sudah berada di Yerusalem, dia memasuki Bait Allah lalu melakukan unjuk rasa di sana dan berkata keras mengenai Bait ini (Markus 11:15-18; Injil Thomas # 71; Yohanes 2:14-16a). Demonstrasi Yesus di Bait Allah, meskipun berskala kecil, dan ucapan kerasnya, adalah simbol, tanda, isyarat dan pesan bahwa dia menolak otoritas Yahudi dan otoritas Roma yang menguasai Bait Allah. Sebab kedua otoritas ini menghalangi keterlibatan langsung Allah Yahudi dalam kehidupan bangsa Yahudi. Bait Allah, melalui ritual kurban serta pemungutan pajak yang dilakukan di dalamnya, di tangan kedua otoritas ini telah menjadi sebuah institusi religio-politis yang menekan rakyat, yang menghalangi perjumpaan langsung rakyat dengan Allah Yahudi, karena kedua otoritas ini berfungsi sebagai broker (yang dalam pandangan Yesus) tidak sah antara Allah Yahudi dan rakyat. Keselamatan dari Allah dan kasih karunia-Nya, bagi Yesus, tidak boleh diperantarai oleh siapapun dan oleh otoritas kelembagaan apapun, melainkan harus langsung diterima rakyat Yahudi, sebab Kerajaan Allah ada di tengah rakyat.

Celakanya, menyerang Bait Allah, menentang otoritas yang menguasainya, dan menolak ritual dan pemungutan pajak resmi yang dilakukan di dalamnya, apalagi kalau perlawanan, penentangan dan penolakan ini dilakukan pada perayaan Paskah, akan berakibat kematian bagi si pelawan. Barangsiapa menyerang Bait Allah, orang itu dipandang menyerang Roma sebagai penguasa yang ada di belakang Bait Allah, yang memerintah Tanah Israel melalui wakil Kaisar (gubernur provinsi Yudea) dan kaki tangan Yahudinya (keluarga Herodes, kaum bangsawan Yahudi, Imam Besar Kayafas, Sanhedrin, imam-imam kepala, para ahli Taurat dan para tua-tua)! Hukuman mati adalah ganjaran sah bagi setiap orang yang menyerang Bait Allah. Tentu, di balik ini, ada suatu kesepakatan tidak tertulis antara otoritas Romawi dan otoritas Yahudi yang menetapkan bahwa barangsiapa membuat suatu kerusuhan di Bait Allah dan di kota Yerusalem pada perayaan Paskah, yang potensial menimbulkan keributan besar, orang itu dapat langsung ditangkap, diperiksa singkat lalu dieksekusi, sebagai suatu gertak dan teror terhadap rakyat Yahudi supaya mereka tidak bertindak macam-macam (bdk. Markus 14:2; Yohanes 11:48).

Melalui suatu kerjasama otoritas Yahudi dan otoritas Romawi, dan dengan melibatkan seseorang dari “lingkaran dalam” komunitas kecil yang Yesus bangun, Yesus kemudian dapat ditangkap, lalu diperiksa, dan akhirnya dihukum mati menurut cara penghukuman mati Romawi bagi para pemberontak: Yesus mati disalibkan dengan sebuah tuduhan politis bahwa dia mengklaim diri sebagai Raja Orang Yahudi di suatu tanah yang sedang dijajah Roma. Tuduhan ini ditulis pada titulus yang dipasang pada kayu salib Yesus. Tuduhan semacam ini (yang mendakwa Yesus sebagai Raja Orang Yahudi, dan bukan Raja Orang Israel) hanya mungkin dikeluarkan oleh pihak Roma. Di awal pemeriksaannya terhadap Yesus yang sedang diadili, Pontius Pilatus bertanya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?” (Markus 15:2; Matius 27:11; Lukas 23:3; Yohanes 18:33).

Jadi, kematian Yesus adalah suatu konsekwensi politis wajar dan insani dari keyakinan dan kiprah politis Yesus sendiri. Yesus, dengan gerakannya menghadirkan Kerajaan Allah di tengah rakyat yang membuatnya dipandang sebagai sang mesias atau raja Yahudi, terlalu kecil dan lemah ketika dia berhadapan dengan raksasa Imperium Romanum yang sedang menjajah negeri dan bangsanya. Dia adalah seorang teokratis dan mesianis yang gagal. Tidak ada keselamatan, kemerdekaan dan penyucian yang timbul dari kematiannya di kayu salib bagi bangsa Israel, berbeda dari keyakinan para pejuang Makkabe dalam sejarah Israel (abad 2 SM) bahwa curahan darah suci setiap mukmin Yahudi akan memberi kemerdekaan dan penyucian bagi Tanah Israel! (lebih jauh tentang ini, klik http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/05/betulkah-yesus-dengan-sengaja-mau-mati.html). Roma masih berkuasa atas Tanah Israel beberapa ratus tahun ke depan setelah kegagalan pergerakan yang Yesus lancarkan; bahkan sejak berakhirnya Perang Yahudi II melawan Roma (132-135 M) yang dipimpin Mesias Simon Bar Kokhba Israel tidak pernah lagi berdiri sebagai suatu bangsa dan negara merdeka sampai pada terbentuknya Negara Israel modern yang sekular di tahun 1948.

Kematian Yesus di kayu salib pada saat terjadinya tidak memberi efek soteriologis bagi Tanah Israel dan bangsa Yahudi, apalagi efek soteriologis universal dan abadi apapun, tidak seperti belakangan diklaim orang Kristen perdana, dua sampai sepuluh dasawarsa setelah Yesus wafat. Orang Kristen perdana, ketika mereka merenungi makna kematian Yesus yang sia-sia dan berupaya keluar dari keadaan gagal dan memalukan yang sangat kuat menekan mental mereka melalui rasionalisasi-rasionalisasi teologis yang mereka buat (tentang ini, klik http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/04/jalan-jalan-keselamatan-alternatif.html), mengklaim bahwa kematian Yesus menyelamatkan umat manusia dan jagat raya. Ini sungguh suatu klaim yang terlalu tinggi, jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Monday, March 9, 2009

Mitos Iman Ortodoks

ada jalan lurus, ada jalan menyimpang,
keduanya berfungsi


Di kalangan setiap umat beragama, selalu ada kelompok yang dengan bangga dan takabur menyebut diri ortodoks. Kata “ortodoks” berarti ajaran atau pandangan (doksa) yang benar atau lurus (orthos). Kelompok ortodoks ini memandang setiap kelompok keagamaan lain yang menganut ajaran atau pandangan berbeda atau bertentangan dengan ajaran atau pandangan mereka sebagai bidaah atau kelompok sesat dan menyesatkan yang sudah menyimpang dari ortodoksi. Bagi kelompok ortodoks, kelompok heterodoks atau kelompok yang menganut ajaran atau pandangan lain (heteros) atau kelompok non-ortodoks tidak bisa berdiam bersama mereka dalam satu masyarakat. Bagi mereka, bagaimana mungkin yang sesat atau yang bengkok atau yang salah bisa bersanding bersama dengan yang benar dan yang lurus; bagaimana mungkin gelap bisa hidup bersama dengan terang. Memakai kosmologi dualistik, kelompok ortodoks memandang diri mereka berada di pihak Allah, dan sedang melawan kelompok non-ortodoks yang mereka pandang berada di pihak setan. Kehidupan dilihat oleh kelompok ortodoks sebagai suatu arena peperangan abadi melawan kelompok yang tidak ortodoks, peperangan antara Allah melawan setan, antara kami yang benar dan kalian yang salah.

Setiap agama memiliki sejarah panjang pertikaian antara kelompok ortodoks dan kelompok heterodoks atau kelompok non-ortodoks. Pertikaian ini semula bertitik-tolak dari pertikaian di bidang ajaran, ketika kelompok heterodoks atau non-ortodoks juga berpengaruh di dalam masyarakat yang dengan serakah ingin dikuasai secara sepihak oleh kelompok ortodoks. Tetapi, pertikaian atau polemik di bidang ajaran dilihat oleh kelompok ortodoks tidak bisa mereka menangkan dengan mudah, khususnya ketika masyarakat di mana mereka hidup sangat plural dan toleransi atas keanekaragaman pandangan menjadi gaya hidup bersama. Karena itu, untuk dengan telak memenangkan pertikaian doktrinal, mereka melihat perlu memakai kekuatan politik dan kekuatan militer sebagai kekuatan-kekuatan ampuh untuk membinasakan lawan-lawan ideologis mereka. Mereka pun dengan segala cara yang lihai berusaha keras untuk dapat dirangkul oleh, atau merangkul, kekuatan politik dan kekuatan militer yang sedang berkuasa dalam masyarakat sebagai kekuatan-kekuatan penentu, pengendali dan perancang kehidupan masyarakat dan negara.

Tidak cukup hanya dengan merangkul kekuatan politik dan kekuatan militer, mereka, kelompok ortodoks, berupaya juga untuk merangkul atau dirangkul oleh kekuatan ekonomi dalam masyarakat yang diyakini akan dapat mematikan gerak dan nafas kehidupan kelompok heterodoks atau non-ortodoks. Maka, ketika terbentuk aliansi kuat yang tidak suci antara kekuatan agama ortodoks, kekuatan politik, kekuatan militer dan kekuatan ekonomi, kelompok ortodoks dengan mudah menggilas dan melumat kelompok-kelompok heterodoks atau non-ortodoks dalam masyarakat. Inilah yang sesungguhnya terjadi ketika kekristenan perdana pada abad keempat merangkul sekaligus dirangkul oleh kekaisaran Romawi yang pada waktu itu diperintah oleh Kaisar Konstantinus Agung. Keberhasilan politis kelompok ortodoks ini, ketika mereka berhadapan dengan kelompok-kelompok yang mereka pandang sebagai bidaah, nyata dengan sangat jelas ketika Kaisar Theodosius pada tahun 381 secara resmi menyatakan bahwa bidaah (dalam hal ini: Arianisme, Manikheisme, gnostisisme, Ebionisme dan paganisme) adalah suatu tindak kejahatan melawan negara! Pada waktu itu, beragama berbeda dari agama mayoritas yang didukung kekaisaran adalah suatu tindakan subversif! Pasukan Inkwisisi yang dibentuk gereja Roma Katolik pada Abad Pertengahan yang bertugas mengejar, menangkap, mengadili dan melumatkan para bidaah hanyalah melanjutkan kebijakan negara dan gereja yang sudah dibangun pada abad keempat ini.

Hal penting yang patut ditanyakan adalah apa tolok ukur yang dipakai kelompok ortodoks untuk menentukan bahwa merekalah pemilik satu-satunya ajaran atau akidah atau ideologi religius yang lurus dan benar, sementara yang berbeda atau bertentangan dari yang mereka pegang dicap tidak lurus, sesat dan tidak benar. Ortodoksi, di manapun dan kapanpun juga, sama sekali tidak mendasarkan kebenaran atau kelurusan pandangan dan doktrin mereka pada ilmu pengetahuan. Mereka melandaskan klaim kebenaran dan kelurusan doktrinal mereka pada sejumlah otoritas yang diklaim tidak bisa digugat: otoritas insani, otoritas Kitab Suci, otoritas dogma keagamaan yang diterima dan diabadikan, dan otoritas iman. Otoritas insani di sini adalah orang-orang suci atau para pemimpin suci zaman lampau yang dipercaya telah menyampaikan dan merawat ajaran yang lurus dan benar, yang telah dicatat dan direkam dan diabadikan tanpa kesalahan apapun di dalam Kitab Suci sebagai sabda dan wahyu ilahi sepenuhnya yang tidak bisa bercacat, dan yang dipelihara dan dilestarikan dalam dogma keagamaan yang sudah ditetapkan sekali untuk selamanya pada awal-awal kelahiran suatu agama. Otoritas insani di sini tentu saja juga mencakup otoritas pemegang kekuasaan politik, militer dan ekonomi dalam masyarakat yang melindungi dan memelihara kelompok ortodoks. Otoritas insani dan otoritas Kitab Suci yang melindungi kelompok ortodoks, dan otoritas dogma yang menopang kelompok ini, diklaim dan dipertahankan oleh kelompok ini sebagai otoritas yang tidak bisa salah dalam hal apapun dan kapanpun.

Hal “tidak bisa bercacat” dan “tidak bisa salah” ini bukan ditemukan dan dipertahankan dengan berlandaskan pada suatu penyelidikan dan pengujian secara ilmiah menurut kaidah-kaidah mendapatkan ilmu pengetahuan, melainkan sebagai hal-hal yang diimani begitu saja. Iman tidak dihasilkan dari suatu penyelidikan saintifik untuk mendapatkan secara objektif kebenaran sesuatu, melainkan sebagai sesuatu yang diimpi-impikan, diharap-harapkan, diangan-angankan, dibayang-bayangkan dan diyakini begitu saja. Iman berdasar pada keyakinan subjektif; sedang ilmu pengetahuan didapatkan berdasarkan penyelidikan objektif atas sesuatu. Iman dan sains adalah dua hal yang bertentangan secara epistemologis: pengetahuan imaniah didapat dari keyakinan dan harapan subjektif partikular pada suatu Tuhan sebagai objek di luar sejarah dan di luar pengalaman riil dan empiris manusia; sedangkan ilmu pengetahuan diperoleh dari penalaran logis, pengujian dan pembuktian menurut prosedur dan metodologi yang objektif, ketat, repeatable, dapat diulang, baku dan universal. “Demi Allah, mudah-mudahan esok tidak hujan”, adalah ungkapan iman; sedangkan ungkapan ilmu pengetahuan berbunyi lain: “Menurut data objektif yang berhasil diperoleh dan dikumpulkan serta dianalisis oleh Badan Meteorologi dan Geofisika, dipastikan besok Jakarta akan diterpa hujan lebat yang berlangsung lama.” Iman berada dalam wilayah mitos; sedangkan sains berada dalam wilayah logos. Logos menentang mitos, dan mengunggulinya dalam pencapaian kebenaran. Sebagai mitos, iman berbicara mengenai mimpi-mimpi, angan-angan, harapan-harapan, yang tidak berpijak pada nalar dan fakta empiris; sedangkan sains sebagai logos berpijak pada landasan penalaran logis yang ditopang bukti empiris objektif.

Nah, di Jakarta, saya perhatikan, belakangan ini kelompok Kristen ortodoks dilanda histeria keagamaan untuk mempertahankan, membela dan melindungi ketuhanan Yesus Kristus, dari pandangan-pandangan kalangan sejarawan kritis yang menyelidiki Yesus dari sudut pandang ilmu sejarah, ilmu kajian kritis teks Kitab Suci, ilmu arkeologi dan ilmu antropologi lintas budaya. Kalangan Kristen ortodoks Jakarta yang minder, histeris dan kelabakan ini membangun suatu aliansi dengan kekuatan ekonomi di Jakarta untuk mendapatkan sumber-sumber dana untuk menyelenggarakan seminar-seminar yang membela dan mempertahankan serta memenjarakan ketuhanan Yesus, dengan mengundang apologet-apologet gnostik Kristen mancanegara yang harus dibiayai dan dibayar mahal hanya untuk melontarkan pandangan-pandangan gnostik mereka yang tidak menerima fakta keberdagingan dan kebersejarahan Yesus dari Nazaret. Proyek seminar-seminar ortodoks ini adalah proyek iman, bukan proyek ilmu pengetahuan, sementara kebenaran objektif tentang Yesus dari Nazaret bisa diperoleh hanya dengan jalur penyelidikan ilmiah seperti yang sudah dan sedang digelar baik oleh the Jesus Seminar serta the Jesus Project, dan banyak pakar kritis lainnya di dunia ini, maupun yang juga saya lakukan di Indonesia. Ilmu pengetahuan tentang Yesus tidak didapat dari otoritas insani, otoritas Kitab Suci, otoritas dogma, atau otoritas iman, melainkan hanya dari penyelidikan ilmiah, yang memakai nalar, sains dan bukti untuk mendapatkannya. Kitab Suci, dalam hal ini, adalah suatu sumber, bukan sumber satu-satunya, bagi penemuan siapa Yesus dari Nazaret itu.