Thursday, April 30, 2009

Politik Roma Versus Politik Yesus

Pada kesempatan ini akan dikemukakan dengan singkat hal-hal historis apa yang menjadi penyebab Yesus dihukum mati melalui penyaliban dirinya. Tulisan ini, dengan demikian, adalah tulisan kelima dari rangkaian tulisan di blog ini yang menyoroti tema masalah-masalah dalam soteriologi salib.

Jauh sebagai suatu peristiwa adikodrati satu-satunya yang bersignifikansi soteriologis universal dan abadi, kematian Yesus di kayu salib faktual historisnya adalah suatu peristiwa kodrati, insani dan politis biasa dalam suatu ruang dan waktu terbatas yang tidak berdimensi soteriologis universal dan abadi apapun.

Melalui banyak perumpamaannya dan banyak ucapannya yang lain, Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sedang ada di tengah rakyat Yahudi yang sedang dijajah Roma (antara lain, Lukas 17:21b), bahwa Allah Yahudi kini sedang langsung memerintah sebagai Raja, dan murid-muridnya diajarnya untuk meminta supaya Kerajaan Allah ini terus-menerus berada di tengah mereka (Lukas 11:2; Matius 6:10). Akta-akta Yesus mendemonstrasikan bahwa bersama Yesus benar Allah sedang berkarya di tengah bangsa Yahudi. Kata Yesus, “Jikalau aku mengusir setan dengan jari Allah, sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu!” (Lukas 11:20; Matius 12:28) Hanya Allah yang menjadi Raja mereka. Inilah teokratisme Yesus. Sementara itu, pada pihak lain, bagi orang Romawi, hanya sang Kaisar yang bertakhta di Roma yang merupakan raja baik bagi bangsa Romawi sendiri maupun bagi semua bangsa jajahan. Bagi Yesus, dalam teokratisme Yahudi tidak bisa ada dua raja, melainkan hanya satu; dan raja ini bukan sang Kaisar tetapi Allah Yahudi. Dengan demikian, Yesus atas nama Allah dan atas nama rakyat menolak dan melawan Kaisar.

Perlawanan Yesus dari Nazaret terhadap Roma yang sedang menjajah bangsa Yahudi dengan jelas diungkap secara simbolik, antara lain, dalam tuturan sastra injil tentang seorang Gerasa yang kerasukan roh jahat (Markus 5:1-20). Ketika Yesus bertanya kepada roh jahat itu siapa namanya, roh itu menjawab, “Namaku legion, karena kami banyak.” (ayat 9). Kata Latin “legion” dikenakan untuk satuan prajurit pejalan kaki Roma ditambah pasukan berkuda, dengan jumlah besar antara 3.000 sampai 6.000 orang. Nama ini, dengan demikian, adalah kiasan untuk penjajahan Roma atas Tanah Israel. Dus, Yesus mendemonisasi lawannya, Kekaisaran Romawi. Permusuhan dan perlawanan terhadap Roma yang menduduki tanah Israel diungkap dengan jelas ketika Yesus berseru kepada setan-setan itu, “Keluar dari orang ini!” Tetapi setan-setan itu meminta untuk diizinkan tetap tinggal di daerah itu (ayat 10)―inilah persisnya yang dikehendaki Roma, yakni tetap mengontrol seluruh Tanah Israel. Sebaliknya, rakyat Israel menginginkan mereka diusir dan dibenamkan ke dalam danau seperti babi-babi. Yesus tampil sebagai seorang pengusir setan yang digdaya; dan kehadirannya sebagai orang yang dipenuhi Roh dan kuasa Allah (Markus 1:10b, 12; Matius 12:28; Lukas 11:20; lebih jauh tentang ini, klik http://www.ioanesrakhmat.com/2008/10/spiritualitas-yesus-dari-nazaret.html) sungguh merupakan suatu ancaman nyata bagi kedamaian dan stabilitas masyarakat Israel di bawah rekayasa politis kolonial Roma (Pax Romana): saat Roma mati terbenam dalam air danau hanya menunggu waktunya saja, pembebasan tidak lama lagi tiba.

Bagi Yesus, Tanah Israel, Eretz Israel, adalah milik Allah Yahudi, Tanah Perjanjian yang oleh Allah Yahudi dulu diberikan kepada Abraham, dan yang kemudian diwariskan kepada keturunannya yang membentuk satu bangsa Israel. Bagi Yesus, Allah Abraham adalah Allah Ishak dan Allah Yakub (Markus 12:26), Allah bangsa Israel. Ikatan perjanjian dengan Abraham ini, dalam pandangan Yesus, tidak pernah dibatalkan: Israel, menurutnya, adalah “satu keluarga” yang tidak boleh dipecah-belah (Markus 3:25), dan “anak-anak” dalam satu keluarga harus diperhatikan lebih dulu (Markus 7:27). Untuk menunjukkan bahwa Yesus ingin mempertahankan dan mengembalikan keutuhan 12 suku Israel, dia membentuk komunitas kecil lingkaran dalam para murid yang terdiri atas 12 orang (Markus 3:14). Jelas, Yesus memperjuangkan kepentingan Israel sebagai satu bangsa. Maka, kalau dikaitkan dengan Tanah Israel, ketika Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah” (Markus 12:17), dia bermaksud menyatakan bahwa Kaisar tidak memiliki Tanah Israel, tetapi Allah pemiliknya, karena itu tanah ini harus Kaisar kembalikan kepada Allah, pemilik sah tanah ini, dan kepada bangsa Israel, umat Allah, yang mewarisi tanah itu dari Abraham. Dan bangsa Roma harus menyingkir dari tanah yang bukan milik mereka, kembali ke negeri asal mereka sendiri. Doktrin sekular tentang pemisahan agama/gereja dan negara tidak termuat dalam ucapan politis Yesus ini, Yesus yang berwawasan teokratis.

Berita yang terus-menerus di banyak lokasi di Galilea disampaikan Yesus bahwa kini Allah Yahudi sedang memerintah sebagai Raja Israel ditafsir lawan-lawannya sebagai suatu proklamasi bahwa dia sendiri adalah raja Yahudi, dan dengan demikian dia menolak dan melawan Kaisar Roma. Penafsiran semacam ini bisa dibenarkan mengingat bahwa dalam kepercayaan mesianik Israel orang yang berbicara dan bertindak atas nama Allah, seperti Yesus dari Nazaret, adalah wakil langsung dari Allah, representasi Allah sendiri, dan tangan Allah sendiri. Wakil, representasi, juru bicara dan tangan Allah dalam kehidupan riil bangsa Israel tidak lain adalah raja atau mesias Israel sendiri. Adalah suatu ketentuan hukum Romawi, barangsiapa menolak dan melawan Kaisar, orang itu harus dihukum mati.

Persis ketika Yesus mau memasuki kota Yerusalem pada perayaan Paskah Yahudi, perayaan untuk memperingati kemerdekaan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, orang banyak memproklamasikan Yesus sebagai Raja Israel; kata mereka, dalam tuturan Markus, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi” (Markus 11:9; par.). Tetapi ada persoalan di sini. Apa yang dicatat dalam injil-injil sinoptik (Markus, Matius dan Lukas) tentang masuknya Yesus dengan jaya dan aman-aman saja ke kota Yerusalem pada perayaan Paskah setelah orang banyak mengumumkan kepada dunia bahwa Yesus adalah sang Raja Yahudi, keturunan Raja Daud, sukar dipercaya sebagai kejadian historis. Jika arak-arakan gegap gempita yang kuat diwarnai pesan-pesan mesianik dan pemulihan kerajaan Daud ini sungguh terjadi, pasti peristiwa ini akan diberi reaksi represif cepat oleh Gubernur Pontius Pilatus (yang sedang berada di Yerusalem) untuk mencegah timbulnya pemberontakan sekaligus untuk “mengamankan” figur yang diproklamasikan rakyat banyak sebagai mesias Yahudi. Tuturan tentang peristiwa yang sama dalam Injil Yohanes (12:12-16) lebih dapat dipercaya, karena, dituturkan, setelah orang banyak memproklamasikan Yesus sebagai “Raja Israel” (ayat 13), Yesus “pergi bersembunyi” (ayat 36b), menghindari para penguasa yang pasti sedang mencarinya untuk menangkapnya.

Bagaimana pun juga, tuturan dalam keempat injil tentang kejadian di pintu gerbang Yerusalem ini bermaksud untuk menyampaikan sebuah fakta bahwa rakyat Yahudi memang menantikan kedatangan seorang mesias pembebas dan pemenuhan penantian ini tampaknya, oleh orang banyak, dikaitkan dengan kehadiran Yesus di tengah mereka. Hal ini bisa terjadi karena mereka menyamakan Yesus yang memberitakan kedatangan Kerajaan Allah dan memperagakan kehadiran kuasa Allah dalam tindakan-tindakan penyembuhan dan eksorsismenya dengan Kerajaan Allah itu sendiri. Yesus menunjuk pada Kerajaan Allah dan mengajak orang banyak untuk melihat kepada Kerajaan ini, tetapi rakyat menunjuk pada Yesus sebagai sang mesias yang bertakhta dalam Kerajaan itu sendiri, dan para penguasa Bait Allah menuduh Yesus sebagai orang yang mengklaim posisi mesianik. Mereka mengganti Allah yang diwartakan dan diejawantahkan Yesus dengan diri Yesus sendiri! Bagi Yesus, Allah adalah sang Pembebas Israel, tetapi bagi rakyat Yahudi Yesuslah sang Pembebas mereka!

Ketika Yesus sudah berada di Yerusalem, dia memasuki Bait Allah lalu melakukan unjuk rasa di sana dan berkata keras mengenai Bait ini (Markus 11:15-18; Injil Thomas # 71; Yohanes 2:14-16a). Demonstrasi Yesus di Bait Allah, meskipun berskala kecil, dan ucapan kerasnya, adalah simbol, tanda, isyarat dan pesan bahwa dia menolak otoritas Yahudi dan otoritas Roma yang menguasai Bait Allah. Sebab kedua otoritas ini menghalangi keterlibatan langsung Allah Yahudi dalam kehidupan bangsa Yahudi. Bait Allah, melalui ritual kurban serta pemungutan pajak yang dilakukan di dalamnya, di tangan kedua otoritas ini telah menjadi sebuah institusi religio-politis yang menekan rakyat, yang menghalangi perjumpaan langsung rakyat dengan Allah Yahudi, karena kedua otoritas ini berfungsi sebagai broker (yang dalam pandangan Yesus) tidak sah antara Allah Yahudi dan rakyat. Keselamatan dari Allah dan kasih karunia-Nya, bagi Yesus, tidak boleh diperantarai oleh siapapun dan oleh otoritas kelembagaan apapun, melainkan harus langsung diterima rakyat Yahudi, sebab Kerajaan Allah ada di tengah rakyat.

Celakanya, menyerang Bait Allah, menentang otoritas yang menguasainya, dan menolak ritual dan pemungutan pajak resmi yang dilakukan di dalamnya, apalagi kalau perlawanan, penentangan dan penolakan ini dilakukan pada perayaan Paskah, akan berakibat kematian bagi si pelawan. Barangsiapa menyerang Bait Allah, orang itu dipandang menyerang Roma sebagai penguasa yang ada di belakang Bait Allah, yang memerintah Tanah Israel melalui wakil Kaisar (gubernur provinsi Yudea) dan kaki tangan Yahudinya (keluarga Herodes, kaum bangsawan Yahudi, Imam Besar Kayafas, Sanhedrin, imam-imam kepala, para ahli Taurat dan para tua-tua)! Hukuman mati adalah ganjaran sah bagi setiap orang yang menyerang Bait Allah. Tentu, di balik ini, ada suatu kesepakatan tidak tertulis antara otoritas Romawi dan otoritas Yahudi yang menetapkan bahwa barangsiapa membuat suatu kerusuhan di Bait Allah dan di kota Yerusalem pada perayaan Paskah, yang potensial menimbulkan keributan besar, orang itu dapat langsung ditangkap, diperiksa singkat lalu dieksekusi, sebagai suatu gertak dan teror terhadap rakyat Yahudi supaya mereka tidak bertindak macam-macam (bdk. Markus 14:2; Yohanes 11:48).

Melalui suatu kerjasama otoritas Yahudi dan otoritas Romawi, dan dengan melibatkan seseorang dari “lingkaran dalam” komunitas kecil yang Yesus bangun, Yesus kemudian dapat ditangkap, lalu diperiksa, dan akhirnya dihukum mati menurut cara penghukuman mati Romawi bagi para pemberontak: Yesus mati disalibkan dengan sebuah tuduhan politis bahwa dia mengklaim diri sebagai Raja Orang Yahudi di suatu tanah yang sedang dijajah Roma. Tuduhan ini ditulis pada titulus yang dipasang pada kayu salib Yesus. Tuduhan semacam ini (yang mendakwa Yesus sebagai Raja Orang Yahudi, dan bukan Raja Orang Israel) hanya mungkin dikeluarkan oleh pihak Roma. Di awal pemeriksaannya terhadap Yesus yang sedang diadili, Pontius Pilatus bertanya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?” (Markus 15:2; Matius 27:11; Lukas 23:3; Yohanes 18:33).

Jadi, kematian Yesus adalah suatu konsekwensi politis wajar dan insani dari keyakinan dan kiprah politis Yesus sendiri. Yesus, dengan gerakannya menghadirkan Kerajaan Allah di tengah rakyat yang membuatnya dipandang sebagai sang mesias atau raja Yahudi, terlalu kecil dan lemah ketika dia berhadapan dengan raksasa Imperium Romanum yang sedang menjajah negeri dan bangsanya. Dia adalah seorang teokratis dan mesianis yang gagal. Tidak ada keselamatan, kemerdekaan dan penyucian yang timbul dari kematiannya di kayu salib bagi bangsa Israel, berbeda dari keyakinan para pejuang Makkabe dalam sejarah Israel (abad 2 SM) bahwa curahan darah suci setiap mukmin Yahudi akan memberi kemerdekaan dan penyucian bagi Tanah Israel! (lebih jauh tentang ini, klik http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/05/betulkah-yesus-dengan-sengaja-mau-mati.html). Roma masih berkuasa atas Tanah Israel beberapa ratus tahun ke depan setelah kegagalan pergerakan yang Yesus lancarkan; bahkan sejak berakhirnya Perang Yahudi II melawan Roma (132-135 M) yang dipimpin Mesias Simon Bar Kokhba Israel tidak pernah lagi berdiri sebagai suatu bangsa dan negara merdeka sampai pada terbentuknya Negara Israel modern yang sekular di tahun 1948.

Kematian Yesus di kayu salib pada saat terjadinya tidak memberi efek soteriologis bagi Tanah Israel dan bangsa Yahudi, apalagi efek soteriologis universal dan abadi apapun, tidak seperti belakangan diklaim orang Kristen perdana, dua sampai sepuluh dasawarsa setelah Yesus wafat. Orang Kristen perdana, ketika mereka merenungi makna kematian Yesus yang sia-sia dan berupaya keluar dari keadaan gagal dan memalukan yang sangat kuat menekan mental mereka melalui rasionalisasi-rasionalisasi teologis yang mereka buat (tentang ini, klik http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/04/jalan-jalan-keselamatan-alternatif.html), mengklaim bahwa kematian Yesus menyelamatkan umat manusia dan jagat raya. Ini sungguh suatu klaim yang terlalu tinggi, jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Sunday, April 26, 2009

Soteriologi Salib Meremehkan Kemampuan Manusia

Merengek-rengek,
meminta belas kasihan dan keselamatan?

Ini adalah tulisan keempat dari rangkaian tulisan yang menyoroti masalah-masalah dalam soteriologi salib di blog ini. Tiga tulisan terdahulu tentang tema yang sama dapat dibaca di sini, di sini dan di sini.

Menurut soteriologi salib, azab dan kematian Yesus di kayu salib pasti tidak sia-sia, sebab azab dan kematian Yesus ini adalah jalan keselamatan yang Allah haruskan dan sediakan satu-satunya, dan dengan demikian merupakan jalan yang pasti efektif dan mujarab mendamaikan Allah dengan manusia dan berkhasiat secara magis untuk menjadikan manusia, memakai ungkapan Rasul Paulus, “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Namun, seperti sudah saya tekankan sebelumnya (klik di sini), soteriologi salib faktanya tidak mujarab dan tidak berkhasiat apa-apa. Kesengsaraan dan kematian Yesus hanya tinggal sebagai suatu fakta sejarah yang mengerikan di masa lampau, tidak berdampak riil dan signifikan bagi perubahan watak dan moralitas manusia dan peradaban dunia pada masa kini.

Nah, pada kesempatan ini saya ingin menggugat soteriologi salib dari suatu sudut pandang lainnya. Dalam penilaian saya, soteriologi ini merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia pada dirinya sendiri untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri.

Yang saya maksud dengan “keselamatan” di sini bukanlah keselamatan di akhirat yang diterima orang ketika dia masuk surga sesudah kematiannya. Sebagaimana sudah saya argumentasikan sebelumnya (klik di sini), di alam baka surga dan neraka itu, jangan kaget, tidak ada. Bagi saya, dan bagi sangat banyak orang lainnya, Kristen maupun bukan, kehidupan yang terpenting bagi manusia adalah kehidupannya sekarang ini di dalam dunia ini, sementara manusia masih memiliki tubuh dan menjalani kehidupan berbudaya.

Keselamatan yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah perubahan watak, karakter dan moralitas manusia sementara dia masih hidup dalam dunia ini sekarang ini. Doktrin tentang keselamatan yang ditawarkan suatu agama manapun yang tidak mengubah watak, karakter dan moralitas manusia sekarang ini di dalam dunia ini adalah doktrin yang kosong melompong dan tidak signifikan, karena hanya menghanyutkan orang masuk ke dalam angan-angan tentang suatu surga di luar dunia dan di luar sejarah―suatu eskapisme dangkal dari orang-orang yang lemah jiwanya, yang hanya mau beragama karena diiming-imingi hadiah surga sesudah kematian, seperti kanak-kanak yang baru mau belajar hanya kalau diiming-imingi sebuah permen atau sebuah boneka baru.

Soteriologi salib harus digugat, karena, seperti sudah dikatakan di atas, soteriologi ini dibangun di atas sebuah asumsi etis antropologis negatif bahwa manusia pada dirinya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah (teks suci yang sering dikutip gereja adalah Roma 3:10-23). Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja dengan mengutip teks suci, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di Taman Eden (Kejadian 3:1-19), yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet bumi dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat (Roma 5:12-19).

Gereja dengan ekstrim lebih jauh mengajarkan bahwa pemberontakan Adam dan Hawa terhadap Allah yang mengakibatkan mereka menerima penghukuman ilahi menyebabkan setiap bayi yang baru dilahirkan pada masa sesudahnya dilahirkan sebagai manusia berdosa yang bermoral bejat, kendatipun sang bayi masih belum tahu membedakan tangan kanannya dari tangan kirinya. Dosa “asal” atau dosa “warisan” ini menyebabkan setiap orang sejak dilahirkan sudah bobrok secara moral, dan untuk seterusnya tidak akan mampu berbuat baik dan benar secara moral, sampai mereka, demikian gereja mengajarkan, diselamatkan oleh azab dan kematian Yesus dan menerima baptisan Kristen sebagai suatu tahap inisiasi masuk ke dalam kehidupan yang diselamatkan di dalam persekutuan gereja.


Saya mau menegaskan bahwa asumsi etis antropologis negatif yang menjadi landasan soteriologi salib ini keliru, berdasarkan alasan berikut.

Sejarah evolusi manusia, fisikal maupun sosio-kultural, yang sudah berlangsung dalam kurun yang sangat panjang di muka bumi menunjukkan bahwa manusia pada dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan kebudayaan serta peradaban mereka ke arah yang makin baik, makin cemerlang dan makin bertahan ke depan. Seleksi alam (natural selection) memang menentukan dan kerap tidak terhindarkan, tetapi manusia, secara individual maupun secara kolektif, juga memiliki kemampuan yang membuat mereka umumnya selalu bisa bertahan dan menang (survival of the fittest) dalam menghadapi setiap kesulitan dan permasalahan serta tantangan berat alamiah dan kultural yang menghadang kehidupan dan kebudayaan mereka. Kemampuan ini juga mencakup kemampuan untuk manusia makin dapat hidup dengan lebih baik secara moral pada diri mereka sendiri.

Memang banyak kejadian di dalam dunia ini dan sejarah manusia yang juga menunjukkan bahwa manusia kerap gagal pada diri mereka sendiri untuk hidup baik dan benar secara moral, misalnya manusia masih dikuasai dorongan primordial untuk berperang satu sama lain sehingga akhirnya membinasakan kehidupan dan menghancurkan peradaban mereka sendiri. Tetapi, fakta bahwa manusia dan peradabannya masih bisa bertahan dan bahkan lebih dikembangkan lagi hingga ke zaman modern ini dan ke zaman-zaman seterusnya memperlihatkan bahwa naluri dan kesadaran mereka mengenai kebajikan, kebenaran dan tanggungjawab masih lebih kuat ketimbang naluri kejahatan yang bisa menghancurkan mereka.

Dari manakah kemampuan mengembangkan moralitas positif dalam diri manusia ini berasal? Jelas, bukan dari intervensi ilahi apapun, melainkan dari gen manusia (nature) dan pendidikan (nurture) yang mereka terima.

Gen yang baik, pendidikan moral yang benar dan kehidupan masyarakat yang sehat, akan menghasilkan manusia-manusia bermoral yang tangguh di dalam masyarakat. Bila aspek genetik yang baik dan aspek genetik yang altruis diberi tempat utama untuk berperan, berhadapan dengan aspek genetik yang buruk dan aspek genetik yang egois dan serakah, masa depan manusia akan lebih baik di tangan mereka sendiri. Sains dan teknologi modern di bidang biologi molekuler sudah bisa merekayasa gen manusia; prestasi di bidang sains genetik ini, bila dengan hati-hati dan dengan penuh tanggungjawab etis dikembangkan, bisa lebih membuka harapan dalam usaha manusia untuk mengembangkan dan memapankan segi-segi kebaikan dan kebajikan moral manusia.

Nah, harus diakui bahwa manusia pada dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk hidup bermoral tinggi, karena kodrat genetiknya dan karena hasil pendidikannya. Soteriologi salib bisa berjalan, fungsional, hanya kalau kemampuan positif manusia ini disangkal total, dan kalau perasaan sangat berdosa dan tidak memiliki kemampuan moral apapun untuk berbuat baik dibesar-besarkan sedemikian rupa sampai membuat manusia tidak bisa lagi melihat bahwa dirinya sebenarnya mampu berbuat baik secara moral.

Soteriologi salib sangat menghina dan merendahkan kapasitas manusia individual dan kolektif untuk berbuat kebajikan, dan harus memaksa manusia melihat dirinya sangat hina dan tidak berharga secara moral apapun, melainkan hanya bisa menangis dan meratap di hadapan suatu Allah Kristen yang dari-Nya diharapkan belas kasihan kepada dirinya yang tidak berharga apapun diberikan.

Singkat kata, soteriologi salib tidak membantu manusia mengembangkan dirinya untuk makin baik secara moral, malah mendemoralisasi manusia. Soteriologi salib menuntut kita merangkak dengan terluka dan meratap di bawah kaki Yesus, bukan berjalan sebagai sahabat bersamanya! Dan ajaran tentang dosa warisan tidak memberi dampak positif secara psikologis kepada manusia masa kini karena memperlakukan manusia taken for granted sebagai manusia yang bermoral bobrok, dan juga tidak etis karena menjatuhkan penghukuman atas dosa dua orang nenek moyang manusia kepada keturunan mereka yang hidup di zaman-zaman lain.

Wednesday, April 22, 2009

Soteriologi Salib Tidak Mujarab

Orang Kristen sedunia sering membanggakan soteriologi salib sebagai satu-satunya soteriologi atau jalan keselamatan yang paling menjamin manusia. Betapa tidak? Dalam soteriologi salib, kata orang Kristen, jalan keselamatan manusia diberikan atau diprakarsai oleh Allah sendiri, yakni dengan Allah menyediakan sendiri jalannya, yakni jalan sengsara (via dolorosa) Yesus Kristus dan kematiannya yang mengerikan di kayu salib. Manusia tidak perlu melakukan tindakan apapun untuk keselamatan diri mereka, melainkan hanya tinggal menerima saja jalan yang Allah berikan ini.

Kata gereja, soteriologi salib ini berbeda dari soteriologi Islam, misalnya, yang mengharuskan manusia melakukan kebajikan lebih banyak dari kejahatan jika manusia ini ingin mengalami keselamatan, masuk surga. Dalam penilaian keliru orang Kristen (tentang ini, lihat di sini), soteriologi Islami yang menempatkan perbuatan manusia pada tempat utama ini menyebabkan kaum Muslim terus-menerus merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka di akhirat.

Menurut soteriologi salib, ketika Yesus memikul salib, menanggung azab, kesengsaraan dan aniaya, dan akhirnya mati dibunuh melalui penyaliban dirinya oleh musuh-musuhnya, Yesus mengalami ini semua karena dia
diharuskan (Yunani: dei) Allah untuk menanggung di atas pundaknya sendiri semua penghukuman ilahi yang seharusnya ditanggung manusia karena dosa-dosa mereka terhadap Allah, baik dosa warisan Adam dan Hawa maupun dosa pribadi. Karena Yesus, demi manusia, sudah menanggung hukuman berat ini di dalam azab, kesengsaraan dan kematiannya sendiri, manusia tidak perlu lagi menerima penghukuman Allah, tapi tinggal menerima keselamatan saja, tanpa harus membayar apapun, sebab semuanya diberikan betul-betul gratis oleh Allah (sola gratia).

Untuk manusia menerima keselamatan dari Allah, dibebaskan dari penghukuman ilahi, manusia, demikian gereja mengajarkan, hanya perlu menerima
dengan patuh dan dengan iman (sola fide) jalan keselamatan yang Allah telah sediakan ini.

"Menerima dengan patuh" berarti menyatakan ya dan persetujuan total, tanpa protes apapun, terhadap kekerasan yang Allah telah lakukan di dalam azab, kesengsaraan dan kematian Yesus (tentang kekerasan ilahi ini, lihat di sini) sebagai jalan pengganti yang seharusnya ditempuh manusia berdosa, sebagai jalan untuk membebaskan manusia dari penghukuman ilahi, sebagai jalan untuk menebus manusia dari hutang nyawa yang ditimbulkan oleh dosa yang telah diperbuat nenek moyang manusia maupun oleh diri mereka sendiri, sebagai jalan yang melaluinya Allah mendamaikan diri-Nya dengan manusia, sebagai jalan manusia mengalami pemulihan hubungan dengan Allah dan dengan sesamanya.

"Menerima dengan iman" berarti mempercayai dengan sungguh-sungguh dalam hati dan menerima dalam pikiran sebagai kebenaran bahwa jalan salib Yesus dan kematiannya yang mengerikan telah
dengan mujarab menghapus semua dosa manusia, telah dengan cespleng menyembuhkan manusia dari luka-luka yang ditimbulkan oleh kehidupan yang berat dan melelahkan sebagai akibat dosa-dosa manusia, telah dengan berkhasiat mendatangkan suatu kehidupan baru melalui kelahiran kembali (rebirth) manusia yang dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga manusia mampu menjalani kehidupan moral yang benar dalam hubungannya dengan Allah dan dengan sesama. Pendek kata, jalan salib Yesus dan kematiannya, kalau benar jalan ini adalah jalan satu-satunya yang Allah berikan dengan gratis kepada dunia ini, haruslah jalan yang mujarab satu-satunya untuk melahirkan suatu kemanusiaan yang pada masa kini dalam dunia ini secara menyeluruh mengalami pembaruan, dan yang akan pasti menerima kehidupan surgawi di alam baka ketika sejarah manusia berakhir total.

Nah, pada kesempatan ini saya mau menyoroti dengan singkat poin terakhir yang baru dikemukakan di atas, yakni bahwa jalan kesengsaraan Yesus dan kematiannya di kayu salib, atau soteriologi salib, pasti mujarab untuk menghasilkan suatu kemanusiaan yang secara total dibarui,
a totally new humanity, kalau memang benar bahwa jalan ini adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia yang disediakan Allah sendiri dan azab serta kematian Yesus tidak sia-sia. Sedangkan ihwal bahwa kepercayaan pada azab dan kematian Yesus akan membebaskan orang dari ancaman api neraka, dan menjamin orang masuk surga, tidak perlu saya soroti lagi karena saya sudah mengulas dengan kritis pokok tentang surga dan neraka di blog ini.

Soteriologi salib sangat kuat menekankan dampak dari
via dolorosa dan kematian Yesus terhadap moralitas manusia. Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus [maksudnya: percaya kepada azab dan kematian Yesus di kayu salib sebagai jalan jitu penebusan manusia dari hutang-hutang dosa mereka, sebagai jalan jitu Allah mendamaikan diri-Nya dengan dunia ini] adalah, menurut suatu teks suci, "ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus 5:17; Galatia 6:15).

Pertanyaannya: Apakah betul soteriologi salib Yesus Kristus mujarab menghasilkan orang Kristen yang diciptakan baru, yang kehidupan moralnya luhur, tinggi, dan menjadi teladan suatu kehidupan baru, yang dimungkinkan terjadi karena peristiwa salib Yesus satu-satunya dan pekerjaan Roh Kudus?

Jawabannya: Tidak!

Dalam hal moralitas, kebanyakan orang Kristen pada masa kini, meskipun mengklaim diri sudah bertobat dan sudah lahir baru, dalam kenyataannya hidup tidak berbeda dari kebanyakan orang lainnya dalam dunia ini. Mereka sama-sama melakukan banyak kekerasan dan pelanggaran moral lainnya dalam kehidupan sehari-hari mereka, tetap bermasalah dengan Allah dan dengan sesamanya, dan tetap tidak tangguh dalam menghadapi masalah berat! Kalaupun ada sejumlah orang Kristen yang dapat hidup dengan bermoral tinggi, tangguh, dan menjadi figur-figur teladan dalam masyarakat, hal yang sama pun dapat ditemukan dalam diri banyak orang yang beragama lain, yang tidak percaya pada Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan.

Para pengajar misiologi Kristen sering memakai contoh para martir Kristen di abad kedua dan ketiga di wilayah kekaisaran Romawi sebagai bukti bahwa kuasa pembaruan dan pembebasan yang diyakini memancar dari kematian Yesus di kayu salib telah dengan mujarab menjadikan mereka, para martir itu, orang-orang yang bermoral tangguh, yang memakai "kebebasan Kristiani" mereka untuk dengan tidak takut dan dengan konsisten melawan penguasa-penguasa lalim Romawi yang sedang memaksa mereka untuk meninggalkan kepercayaan Kristen mereka dengan ancaman hukuman mati jika mereka menolak. Tetapi persoalan dengan argumentasi ini adalah bahwa umat beragama lain pun memiliki sejumlah syuhadah mereka sendiri, yang dipandang sebagai figur-figur yang bermoralitas agung meskipun orang-orang yang menjadi teladan moralitas ini tidak percaya pada Yesus. Selain itu, jika kesyahidan dijadikan tolok ukur keluhuran dan ketangguhan moralitas, apakah kita juga harus menyimpulkan bahwa sekian juta orang Jerman yang mau mati syahid demi membela Hitler dan Nazisme pada era Perang Dunia II adalah juga orang-orang yang bermoral luhur dan tangguh sementara kita tahu enam juta orang Yahudi telah dibunuh oleh rezim jahat ini? Begitu juga, apakah para ekstrimis religius dewasa ini yang melakukan tindak terorisme "bom bunuh diri" atas nama Allah dan agama mereka adalah orang-orang yang bermoral agung?

Kepada jemaat Kristen di Galatia, Rasul Paulus di pertengahan abad pertama menyatakan bahwa mereka adalah orang yang "sungguh-sungguh sudah merdeka" karena Yesus Kristus "telah memerdekakan" mereka dari semua "kuk perhambaan" (misalnya hukum Taurat) (Galatia 5:1). Dan ciri kemerdekaan kristiani ini, tulis sang Rasul, adalah kesanggupan setiap orang Kristen untuk hidup bermoral tinggi, hidup menghasilkan "buah Roh" (Galatia 5:22-23). Tetapi, di dalam jemaat yang sama ini, orang-orang Kristen yang sudah dimerdekakan ini, tulis Rasul Paulus, adalah juga orang-orang yang masih "hidup dalam dosa", masih "saling menggigit dan saling menelan" dan "saling membinasakan" (Galatia 5:13-15). Ya, inilah orang Kristen dalam pandangan sang Rasul: sudah dimerdekakan, tapi juga terus berbuat dosa.

Kalau orang Kristen berargumen dengan menunjuk pada kebudayaan Barat Kristen sebagai kebudayaan unggul yang dimungkinkan tercipta karena dibangun oleh orang-orang Kristen yang sudah menjadi ciptaan baru, mereka harus melihat juga banyak kebobrokan kebudayaan Barat yang dibuat oleh orang-orang Kristen. Malah agama Kristen karena dogmatisme beku, skripturalisme dan ajaran etisnya yang ketinggalan zaman kerap menghambat perkembangan sains dan teknologi. Mantan Presiden George W. Bush, ketika masih memerintah, mengklaim diri sebagai
the war President yang melihat tangan Allah bekerja dalam penyerbuan Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak. Apakah sang mantan Presiden ini manusia ciptaan baru bentukan Roh Yesus Kristus? Hemat saya, sama sekali bukan, meskipun dia diklaim sebagai a reborn Christian oleh banyak kalangan Kristen injili USA yang mendukungnya!

Orang Kristen boleh berkilah, bahwa kehidupan baru yang diterima orang Kristen adalah suatu proses, tidak sekaligus tercapai; lalu mereka akan mengutip teks suci yang bunyinya demikian, "Kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang
terus-menerus diperbaharui..." (Kolose 3:9-10). Tetapi, orang yang bukan-Kristen pun, yang tidak diselamatkan oleh Yesus Kristus, dapat mendisiplinkan kehidupan mereka setiap hari untuk tahap demi tahap, dengan mengerahkan potensi dan bakat yang ada dalam diri setiap manusia, melalui suatu proses pembelajaran yang panjang dan makan waktu, akhirnya menjadi suatu ciptaan baru, seorang manusia sempurna, manusia contoh, insan kamil. Dan, patut diketahui, banyak orang ateis berhasil menjalani kehidupan bermoral yang sangat tinggi peringkatnya. Peradaban umat manusia yang terus maju, ketika agama Kristen tidak lagi mengendalikannya, menunjukkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki potensi dan bakat untuk terus maju, berevolusi ke tingkat kehidupan yang makin tinggi (tentang ini, klik di sini), tanpa perlu percaya pada pengurbanan Yesus.

Jadi, harus disimpulkan, soteriologi salib, yang diklaim orang Kristen sebagai satu-satunya soteriologi yang paling menjamin pembaruan dan keselamatan manusia karena menawarkan jalan keselamatan satu-satunya yang disediakan Allah untuk dunia, tidak mujarab untuk menyelamatkan manusia. Orang yang percaya dan menganut soteriologi salib untuk dirinya sendiri, dalam kenyataannya tidak otomatis menjadi manusia tangguh yang dibarui. Seharusnya, demi manfaat azab dan kematian Yesus di kayu salib, soteriologi ini bekerja secara magis, langsung mujarab dan manjur membarui dan menyelamatkan manusia yang mempercayai dan menganutnya; tetapi, dalam kenyataannya, tidak demikian! Karena itu, kegagalan soteriologi salib untuk dengan mujarab membentuk moralitas luhur manusia menambah lagi satu alasan untuk menyatakan bahwa soteriologi ini tidak valid, atau bahwa soteriologi ini tidak powerful. Meskipun mereka percaya bahwa Yesus sudah menanggung dosa mereka dan membenarkan mereka di hadapan Allah, namun nyatanya orang Kristen tetap terus berbuat dosa! Simul iustus et peccator. Jadi, apa yang harus saya katakan selain bahwa iklan soteriologi salib terlalu jauh dari kenyataan! Soteriologi ini bukan saja tidak realistik (karena menjanjikan pembaruan moralitas manusia secara otomatis dan mujarab!), tetapi juga tidak ideal untuk manusia (karena soteriologi ini memerlukan perlakuan keras dan biadab terhadap manusia Yesus). Salib Yesus akhirnya menjadi sebuah salib yang bengkok. Dan soteriologi salib yang magis ini, tentunya, perlu diganti dengan jalan-jalan keselamatan alternatif (seperti sudah dibahas sebelumnya).

Wednesday, April 15, 2009

Buku Baru Saya: Sokrates dalam Tetralogi Plato

Inilah buku baru saya,

Ioanes Rakhmat, Sokrates dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009).

ISBN: 978-979-22-4500-4
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Tebal isi: 342 hlm
Paperback/Soft Cover
Harga @ Rp. 50.000,-
Akan sudah ada di toko buku Gramedia sejabodetabek mulai 21 April 2009

5 endorsements untuk buku ini:

Terjemahan empat teks kunci Plato ke dalam bahasa Indonesia ini amat memperkaya pustaka filsafat dalam bahasa Indonesia. Plato tetap boleh dianggap filsuf terbesar segala zaman, teks-teksnya dibaca sampai hari ini, justru oleh para filsuf terkemuka. Jadi, kalau tetralogi Plato yang sangat penting ini sekarang dapat dibaca dalam bahasa Indonesia, ini merupakan suatu peristiwa yang sangat menggembirakan
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ,
guru besar etika dan filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Plato meninggalkan lebih dari 40 karya berbentuk dialog. Namun, di antara karya itu, empat dialog yang ditulisnya pada awal-awal karirnya sebagai filsuf merupakan buku penting yang mengungkap berbagai isu fundamental dalam filsafat. Euthyfro berbicara tentang konsep kesalehan dan ketuhanan; Apologi berbicara tentang keberanian dan kebebasan berpendapat; Krito berbicara tentang pemerintahan dan politik; dan Faedo berbicara tentang jiwa dan kehidupan setelah mati. Keempat buku ini menjadi tetralogi Plato yang paling banyak dirujuk sarjana, di samping Republik. Kita harus berterimakasih kepada Ioanes Rakhmat yang telah menerjemahkan tetralogi penting ini dan menyuguhkannya dengan sangat bagus. Kesabaran penulis dalam membongkar naskah asli dialog-dialog Plato dan membandingkannya dengan naskah-naskah Inggris dan Belanda patut diapresiasi. Ini adalah karya kesarjanaan pertama dalam bahasa Indonesia yang menghadirkan tetralogi Plato, filsuf besar Yunani itu, secara utuh
Luthfi Assyaukanie, Ph.D.,
dosen filsafat, Universitas Paramadina, Jakarta

Di Indonesia tidak pernah muncul kajian serius tentang Sokrates, pelopor pembangkang intelektual yang memikul misi tunggal: mempertanyakan kemapanan dengan jujur dan rendah hati, menawarkan gagasan tandingan kepada kaum muda dan lingkungannya, tanpa pretensi ide baru itulah satu-satunya kebenaran. Ioanes Rakhmat memelopori tugas berat ini dengan ketekunan dan kesungguhan yang mengagumkan. Dia, seperti kita, percaya bahwa isu abadi filsafat ini ―subjek lama yang terus merangsang pemikiran baru―akan terus relevan sepanjang masa. Karena akan selalu ada yang gentar pada ide yang mengusik kemapanan yang telanjur dianggap sebagai kebenaran. Karena akan selalu ada yang takut pada kebenaran. Kita berterima kasih untuk hadiah penting dari penerjemah, salah seorang pemikir terpenting filsafat dan agama di Indonesia dewasa ini
Hamid Basyaib,
direktur program The Freedom Institute, Jakarta

Buku ini sangat penting dan cocok dibaca para cendekiawan dan mahasiswa, maupun para pemegang kebijakan dan masyarakat umum di Indonesia. Halnya demikian bukan hanya karena Sokrates, seperti diceritakan Plato, telah mewarisi dunia Barat dan dunia Timur (seperti filsuf Arab Al-Kindi) suatu metode filosofis dan saintifik dialektis antara nalar universal dan indra partikular, antara pemikiran kritis dan pengalaman spiritual, antara pencarian kebenaran dan kesenangan duniawi, dan antara pemikiran individual dan kepercayaan masyarakat kebanyakan, tapi juga karena sang penerjemah dan penafsir tetralogi Plato ini adalah sosok cendekiawan pencari kebenaran, yang meneladani sikap kritis Sokrates yang kini sangat jarang ditemukan di Indonesia
Muhamad Ali, Ph.D.,
Assistant Professor, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta; kini bertugas sebagai Assistant Professor, Religious Studies Department, University of California, Riverside, Amerika Serikat

Setelah membaca buku sangat berharga buah tangan Ioanes Rakhmat ini, dari pemikiran Sokrates yang hidup sekitar 2350 tahun yang lalu di Yunani saya menemukan sedikitnya tiga hal yang relevan untuk situasi masa kini kita di Indonesia. Pertama, kita perlu belajar dari Sokrates bagaimana berbicara dengan benar dan menghasilkan kebenaran sebagai kesimpulannya. Kedua, kita perlu menyelesaikan segala persoalan yang ada dengan berbicara, dan berbicara dengan benar adalah ciri khas suatu masyarakat madani (civil society) yang dewasa dan beradab. Ketiga, kemampuan untuk berpikir dengan benar dan menghasilkan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari merupakan dasar dari terciptanya karya-karya intelektual yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Berbicara lebih spesifik dalam konteks bidang kajian profesional yang saya tekuni, saya dapat tegaskan bahwa teladan Sokrates dengan cara berpikirnya yang kritis, logis, dan bebas (dari kungkungan prior arts) bisa dijadikan perangsang kinerja otak para pencipta, inventor dan kreator dalam menghasilkan karya-karya baru untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia
Gunawan Suryomurcito, S.H.,
Advokat (non-litigasi) dan konsultan hak kekayaan intelektual, ketua umum Indonesian Intellectual Property Society (IIPS)

Tuesday, April 14, 2009

Jalan-jalan Keselamatan Alternatif

Ketika jalan besar buntu dan macet,
jalan-jalan alternatif perlu ditempuh!

Narasi-narasi jalan salib (via dolorosa) Yesus menyakralisasi kejahatan dan kekerasan, bukan melawan atau meniadakannya. Ini adalah kenyataan tekstual Perjanjian Baru.

Kalau dilihat secara historis, sebelum Paulus menulis surat-suratnya dan sebelum injil-injil muncul, para murid perdana Yesus (orang Yahudi) menghadapi suatu fakta sejarah yang sangat pahit dan memalukan: Yesus telah disengsarakan dan dibunuh oleh suatu koalisi Yahudi-Romawi. Sang Mesias yang mereka harapkan akan mendatangkan suatu permulaan baru bagi bangsa Yahudi yang sedang dijajah ternyata dikalahkan dan berhasil dibunuh oleh lawan-lawannya. Ini adalah suatu peristiwa yang menggoncang keyakinan-keyakinan teologis mereka (bagaimana mungkin sang Mesias utusan Allah bisa dengan mudah dikalahkan dan Allah tidak menolongnya?) dan sangat memalukan mereka (bagaimana bisa sang Mesias mati dengan cara, dalam pandangan Yahudi, begitu memalukan dengan dibunuh melalui suatu cara penghukuman mati Romawi yang biadab: penyaliban?).

Untuk mengatasi kegoncangan dan rasa malu yang besar ini, mereka harus melakukan rasionalisasi-rasionalisasi atas berbagai hal buruk yang telah dialami Yesus. Dalam rangka merasionalisasi inilah, sakralisasi terhadap jalan salib dan kematian Yesus dilakukan: Ya, memang Yesus harus disengsarakan dan dizalimi dan dibunuh karena semua ini sudah dikehendaki (Yunani:
dei) Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka (dosa warisan maupun dosa masa kini) dengan jalan mengurbankan Yesus! Darah hewan dalam Yom Kippur yang diyakini efektif untuk menghapus dosa Israel dalam keyakinan Yahudi (PL) diganti dengan darah Yesus dalam keyakinan Kristen (PB)!

Jadi, jalan keselamatan melalui kesengsaraan dan kematian Yesus memang lahir dari suatu latarbelakang religius-kultural (Yahudi) yang memandang bahwa Allah Yahudi memerlukan darah tercurah untuk menenangkan hati-Nya yang panas dan bergolak karena dosa-dosa umat (manusia). Ketika darah hewan diganti dengan darah manusia, Yesus, bahasa kekerasan pun muncul, tanpa dapat dihindari lagi. Kekerasan yang seharusnya dihindari (ingat salah satu perintah dalam Dasa Titah: Jangan membunuh!), dalam peristiwa kematian Yesus justru disakralisasi sebagai suatu peristiwa ilahi yang suci untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah yang pemurka. Dalam azab Yesus dan pembunuhan atas dirinya, kekerasan yang dilakukan manusia (para pemimpin agama Yahudi dan Gubernur Pontius Pilatus) diubah menjadi "sacred violence", kekerasan yang kudus, karena kekerasan aktual yang tidak suci, yang dialami Yesus, diubah menjadi suatu kekerasan yang dikehendaki dan dipakai Allah untuk menjadi jalan keselamatan bagi manusia.

Nah, rasionalisasi dan sakralisasi terhadap
via dolorosa yang semacam ini berhasil meredakan ketegangan dan tekanan mental berat yang dialami para murid perdana Yesus yang sudah ditinggalkan Yesus, sang Master mereka, yang sudah dibunuh dengan cara yang memalukan. Bagi kalangan Yahudi, ingat, orang yang disalibkan adalah orang yang dikutuk Allah, orang yang durhaka! Tetapi, celakanya, perspektif berteologi semacam ini yang diajukan para penulis Perjanjian Baru telah melegitimasi secara teologis dan menyakralisasi kekerasan yang telah menimpa Yesus, seorang yang tidak bersalah. Allah sendiri (bisa anda bayangkan, jika Dia memang maha pengasih dan maha penyayang) saya yakin tidak mau menerima perspektif berteologi para murid perdana Yesus semacam ini!

Nah, berbagai usaha untuk menyingkirkan dimensi kekerasan dari soteriologi Kristen tradisional akan sia-sia, karena soteriologi Kristen ini
memang memakai bahasa kekerasan.

Nah, saya sudah perlihatkan di posting terdahulu (berjudul "Menggugat The Passion of the Christ di Hari Paskah 12 April 2009"; klik di sini), soteriologi Kristen tradisional yang memuja kekerasan dan pertumpahan darah semacam ini tidak valid, dan sudah berisi unsur-unsur demonik sejak pertama kali dirumuskan oleh kekristenan perdana.

Adakah alternatifnya? Jawabnya: Alternatifnya tersedia.

Soteriologi melalui kematian Yesus bersifat kristosentris, berpusat pada diri Yesus Kristus, khususnya pada azab, kesengsaraan dan kematian Yesus. Kristologi semacam ini jelas memuja dan menyakralisasi penderitaan Yesus. Ini disebut
dolorisme, pemujaan pada azab dan sengsara Yesus (dolores = azab, kesengsaraan). Film Mel Gibson, The Passion of the Christ, jelas menjadikan dolorisme sebagai tulang punggung skenarionya. Dan dolorisme ini, terus terang saja, juga menjadi teologi kekristenan evangelikal/injili. Mereka, kalangan Kristen ini, berkontradiksi dalam diri dan teologi mereka: mereka menkhotbahkan cinta ilahi yang begitu besar bagi dunia ini (Yoh. 3:16), tetapi juga memuja-muja kekerasan yang dialami manusia Yesus. Karena itu tidak heran, mereka pun sering bisa tanpa ragu mempraktikkan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan kekristenan mereka, karena mereka memang dikondisikan oleh soteriologi mereka untuk memuja kekerasan. Seorang teman saya menyatakan bahwa film The Passion of the Christ tidak ada bedanya dengan film tentang pemberantasan G30S/PKI yang dibuat atas perintah rezim jahat Soeharto dalam era Orba. Kedua film ini penuh lumuran darah, dan di dalamnya kekerasan terhadap sesama manusia menjadi suatu cara hidup (way of life) dan pandangan dunia (world view) produser dan sutradara film-film ini.

Nah, alternatifnya adalah soteriologi yang teosentris: keselamatan manusia hanya berpusat dan bergantung pada Allah yang maha rakhmani dan rahimi, maka pengasih dan maha penyayang, yang tidak memerlukan mediator insani apapun untuk diri-Nya berhubungan dengan semua insan dalam dunia ini. Allah yang semacam ini didatangi langsung oleh manusia, tanpa melalui perantara insani manapun (Musa, Buddha Gautama, Khrisna, Yesus, Mohammad, Gulam Ahmad, ataupun Lia Eden, dsb.).

Yesus dari Nazaret mengajarkan dan mendemonstrasikan Allah yang semacam ini. Sebagai seorang yang teosentris (= berpusat pada diri Allah, yang dipanggillnya Abba/Bapa), Yesus meminta para muridnya untuk berdoa langsung kepada Allah dengan memanggil-Nya "Bapa" (dalam Doa Bapa Kami, bagian yang berisi panggilan "Bapa" kepada Allah adalah bagian otentik dari ajaran Yesus sendiri).

Dalam salah satu perumpamaannya, yakni perumpamaan tentang anak yang hilang, Yesus menggambarkan sang anak bungsu yang berdosa, ketika balik kembali dalam rasa sesal dan pertobatannya kepada ayahnya, sang ayah, dengan hatinya yang tergerak oleh kerahiman, segera berlari, langsung mendatangi dan merangkul anaknya yang semula sudah terhilang ini. Sang ayah tidak mengirim seorang utusan atau wakil atau perantara untuk bertemu dan menerima anak bungsunya ini; tetapi dia langsung menemuinya sendiri dan langsung memaafkan si anak tanpa perlu ada seseorang lain yang diutus dan dikurbankan. Nah, soteriologi otentik Yesus adalah soteriologi teosentris, bukan kristosentris. Gereja perdanalah yang mengubah soteriologi teosentris Yesus menjadi soteriologi kristosentris gereja!

Alternatif berikutnya adalah soteriologi logosentris (= berpusat pada logos, ucapan atau pengajaran, yang Yesus sampaikan, bukan pada dirinya sendiri yang, dalam dolorisme, digambarkan dikurbankan dengan kejam dan berdarah-darah). Dengan menghayati ucapan-ucapan Yesus, dengan masuk ke dalam dunia perumpamaan-perumpamaannya, orang akan mengalami pencerahan budi dan pembaruan etika kehidupan. Pencerahan budi dan pembaruan etika inilah pengalaman keselamatan.

Nah, soteriologi logosentris dihayati antara lain dalam komunitas Kristen yang melahirkan Injil Thomas (berisi 114 ucapan Yesus; lihat posting Injil Thomas dalam The Freethinker Blog saya). Injil Thomas aslinya ditulis dalam bahasa Yunani pada pertengahan abad kedua Masehi, yang memuat banyak ucapan tua dan asli Yesus dari Nazaret, bahkan lebih tua dan lebih asli dari yang terdapat dalam Injil-injil kanonik PB. Pada logion #1 Injil Thomas ini dimuat pernyataan, "Barangsiapa dapat menemukan maksud dari ucapan-ucapan [Yesus] ini, dia tidak akan mengalami kematian." Jelas, bagi komunitas Thomas ini, bukan azab dan sengsara serta kematian Yesus yang menyelamatkan, melainkan ucapan-ucapannya. Saved by Jesus' words, not by his death! Injil Thomas bahkan sama sekali tidak menyinggung azab, kesengsaraan dan kematian Yesus! Soteriologi logosentris juga dihayati oleh komunitas "Q" (existed tahun 50-an abad pertama Masehi di Galilea) yang dokumen sucinya terdapat dalam Injil Lukas dan Injil Matius, dan sudah dipadukan dengan bahan-bahan sumber lain membentuk Injil Lukas dan Injil Matius.

Alternatif lainnya yang juga alkitabiah adalah soteriologi yang egosentris atau humanosentris (atau antroposentris), yang menegaskan bahwa keselamatan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri (ego) atau sang manusianya sendiri (human/anthropos) melalui kehidupannya sendiri, melalui perbuatan-perbuatannya sendiri (tentang ini, klik di sini), bukan bergantung pada suatu figur perantara atau penebus manapun. Dengan mendisiplinkan diri untuk menempuh suatu kehidupan yang penuh kebajikan bagi semua orang, seseorang akan terus bertumbuh, semakin ekspansif, dari waktu ke waktu, menuju pada suatu kemanusiaan yang diperluas, yang bisa dan sanggup merangkul semua jenis kehidupan lainnya, suatu kemanusiaan yang sama dengan keilahian. Dalam bahasa PB, suatu kehidupan "dengan kepenuhan Kristus." Kehidupan yang ekspansif semacam ini adalah kehidupan dalam keselamatan, kehidupan ilahi sendiri. Yang ilahi dialami di dalam yang insani, kini dan di dunia ini. Dan setiap manusia memiliki potensi dan bakat untuk menjadi ilahi dalam kehidupannya di dunia ini. Soteriologi semacam ini dihayati banyak truth seekers independen dan juga kalangan mistikus. Kekristenan perdana juga memiliki sekian jenis kekristenan semacam ini, misalnya beberapa kalangan Kristen gnostik.

Nah, sekian soteriologi alternatif di atas juga dihayati banyak orang Kristen dewasa ini, di zaman modern, di zaman ketika kekerasan semakin disadari untuk dijauhi demi keselamatan global, di zaman ketika bahasa "darah Yesus" dalam soteriologi Kristen tradisional dipandang
obsolete, usang, superstitious, takhayul, dan tidak bermakna, meaningless, serta tidak etis, unethical.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Karena kitalah, manusia, tuhan atas dogma gereja, dan bukan sebaliknya! Kuasai dan kendalikan dogma, dan jangan dikuasai dan dikendalikan olehnya. Ikutilah ke mana nalar membawamu. Hanya dengan cara inilah kamu tidak mengkhianati kemanusiaanmu. Take this as your destiny!

Sunday, April 12, 2009

Menggugat The Passion of the Christ di Hari Paskah 12 April 2009


Semalam, 11 April 2009, mulai pukul 21.30 sampai pukul 24.00, TV RCTI menayangkan sebuah film religius lama Mel Gibson (produksi tahun 2003), The Passion of the Christ, persis pada malam sebelum hari Paskah keesokan harinya (12 April 2009). Waktu penayangan ini bukan kebetulan, dan hanya bisa terjadi kalau waktu tayang ini sudah dibeli sebelumnya oleh kalangan Kristen tertentu. Waktu tayang yang sudah dibeli memungkinkan tidak adanya selingan-selingan iklan selama pemutaran film ini. Kalau saya tak salah ingat, tahun lalu film Mel Gibson yang sama juga ditayangkan oleh sebuah stasiun TV, dengan tanpa selingan iklan sama sekali. Rupanya akan menjadi suatu kebiasaan untuk menayangkan The Passion of the Christ setiap tahun lewat sebuah stasiun TV, untuk merayakan hari Jumat Agung (hari peringatan kematian Yesus di kayu salib) dan untuk menyambut hari Paskah (hari kebangkitan Yesus).

Apa tujuan penayangan film ini pada malam sebelum hari Paskah? Bisa diduga, film ini ditayangkan pertama-tama untuk kepentingan internal umat Kristen, supaya mereka makin bisa menghayati makna pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib sehingga iman mereka makin dimantapkan. Inti iman Kristen berisi ajaran ini: Atas kehendak dan perintah Allah, Yesus didera, disiksa dan dibunuh di kayu salib dengan sangat biadab untuk menanggung penghukuman yang seharusnya ditimpakan pada manusia karena dosa-dosa mereka. Bagi keyakinan Kristen, ini adalah tindakan dan jalan normatif satu-satunya yang Allah sendiri adakan, sekali untuk selamanya dan untuk semua orang, dan karena itu harus hanya diterima dan dipercaya manusia jika manusia ingin mengalami pengampunan dosa dan pemulihan hubungan dengan Allah.

Selain untuk kepentingan devosional internal ini, film ini ditayangkan orang Kristen juga sebagai bagian dari kegiatan kristenisasi, kegiatan pekabaran injil Kristen kepada dunia non-Kristen: supaya orang non-Kristen yang menyaksikan film ini, dan melihat bagaimana Yesus disengsarakan, dizalimi dan dibunuh oleh para penguasa dunia ini, tergerak hati untuk mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka sehingga mereka mengalami pengampunan dosa dan menjadi anak-anak Tuhan lewat jalan Yesus Kristus.

Namun faktanya apa? Setahu saya, orang-orang non-Kristen, antara lain teman-teman saya yang beragama Islam, jauh dari tergerak hati ketika menyaksikan film Mel Gibson yang sarat dengan adegan kekerasan dan kebiadaban ini, mereka malah merasa muak dan jijik dengan film ini dan tidak bisa mengerti mengapa orang Kristen bisa sangat menyukai bahkan memuja film ini, dan juga tidak bisa mengerti dan tidak dapat menerima pesan teologis Kristen bahwa Allah memakai suatu jalan kekerasan yang harus dijalani Yesus Kristus hanya supaya hubungan manusia dengan diri Allah ini dipulihkan.

Hemat saya, soteriologi salib atau jalan keselamatan melalui azab, kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib memang memuat permasalahan-permasalahan teologis berat yang sangat sulit diatasi, atau bahkan tidak dapat diatasi sehingga merongrong validitas inti iman Kristen.

Pertama, kalau dosa manusia itu (dosa warisan ataupun dosa pribadi) dipandang Allah sebagai suatu tindak kekerasan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya dan terhadap diri Allah sendiri, maka apakah tindak kekerasan yang Allah sendiri telah lakukan terhadap Yesus (dengan mengharuskannya menempuh jalan penderitaan dan kematian mengenaskan di kayu salib)
akan bisa menghapus kekerasan dosa-dosa manusia? Apakah suatu tindak kekerasan bisa meniadakan suatu tindak kekerasan lainnya? Apakah tindak kekerasan Allah terhadap Yesus bisa mengeliminasi tindak kekerasan yang manusia lakukan terhadap sesamanya dan terhadap Allah? Bukankah pendapat kita adalah bahwa kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru, bukan menghapuskannya? Bukankah dosa manusia tidak bisa dihapuskan oleh kekerasan ilahi? Bukankah dosa Allah tidak bisa menghapus dosa manusia? Bukankah dosa hanya menumpuk dosa, bukan melenyapkannya?

Kedua, bukankah teologi tentang penebusan dosa melalui penderitaan dan kematian biadab Yesus di kayu salib telah melegitimasi dan malah telah melakukan sakralisasi terhadap perbuatan biadab para pemimpin Yahudi dan gubernur Romawi Pontius Pilatus terhadap Yesus dari Nazaret yang sebetulnya tidak bersalah? Dengan kata lain, bukankah ketika gereja sedunia merayakan Jumat Agung, mereka sebenarnya sedang melegitimasi dan menyakralisasi kekejaman dan kekerasan serta kebiadaban sekelompok penguasa keagamaan dan politis kepada Yesus dari Nazaret? Bukankah tidak ada kekerasan yang sakral sehingga kekerasan ini boleh dilakukan?

Demikian juga, bukankah ketika gereja merayakan Paskah, tanpa mereka sadari mereka sebenarnya juga memberi legitimasi teologis terhadap serangkaian tindak kekerasan yang ditimpakan pada Yesus sejak dia diadili, lalu diseret ke Golgota dan akhirnya disalibkan di situ? Bukankah Paskah berarti pembenaran terhadap serentetan tindakan biadab terhadap Yesus yang berakhir di hari Jumat Agung, hari kematian Yesus di kayu salib? Legitimasi teologisnya berbunyi demikian: Ya, benar, Yesus memang harus disengsarakan, dizalimi, lalu dibunuh dengan kejam, supaya semua tindakan kejam ini bisa memuncak pada tindakan Allah membangkitkan Yesus di hari Paskah. Jika demikian, bukankah Paskah itu bukan suatu warta gembira, bukan suatu warta kemenangan, melainkan suatu legitimasi teologis yang kejam dan tidak berhati atas serangkaian tindak kekerasan yang sebelumnya dialami Yesus? Bukankah tanpa jalan kesengsaraan (
via dolorosa) Yesus, tidak akan ada kebangkitannya? Dengan demikian, bukankah kebangkitan Yesus membenarkan jalan kesengsaraannya? Ya, supaya Yesus dibangkitkan, supaya ada kemenangan atas maut, Yesus harus dizalimi dan disengsarakan! Bukankah, dengan demikian, merayakan Paskah berarti membenarkan Pontius Pilatus dan para penguasa Yahudi dalam berlaku keras dan biadab terhadap Yesus?

Teologi Paskah, dengan demikian, mengunci kekristenan dalam suatu dilema dan kontradiksi pelik: pada satu pihak, Paskah dapat berarti Allah, dengan membangkitkan Yesus, menolak semua kekerasan yang telah dialami Yesus sebelumnya; namun di lain pihak, Allah memerlukan jalan kekerasan dijalani Yesus supaya Yesus menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung manusia, dan dengan membangkitkan Yesus, Allah membenarkan semua perlakuan keras yang telah dialami Yesus ketika dia diharuskan Allah menempuh
via dolorosa.

Ketiga, kisah-kisah injil Kristen tentang masa-masa kesengsaraan Yesus, yang dijalaninya sejak dia diadili, lalu dibawa ke Kalvari, dan kemudian disalibkan di sana, secara bertahap menggeser kesalahan yang sebetulnya ada pada pihak Roma (gubernur Pontius Pilatus) ke pihak Yahudi yang direpresentasikan para penguasa Bait Allah. Penggeseran tanggungjawab ini akhirnya menjadikan orang Yahudi sebagai pihak yang satu-satunya bersalah terhadap Yesus, sebagai pihak yang telah melakukan pembunuhan terhadap Tuhan (
deicide). Inilah motif anti-Yahudi yang terdapat paling kuat dalam kisah-kisah pengadilan Yesus dalam injil-injil Kristen. Motif ini kemudian, di zaman modern, melahirkan anti-semitisme yang menimbulkan antara lain pembunuhan jutaan orang Yahudi (Holokaus) oleh rezim Hitler di Eropa pada abad XX.

Anti-semitisme ini sering tanpa disadari dibela gereja Kristen ketika mereka, misalnya, mempersalahkan orang Yahudi sebagai pembunuh Tuhan, dan karena itu mereka (orang Yahudi), dalam pandangan gereja, telah kehilangan anugerah ilahi yang semula diberikan kepada mereka. Dengan merayakan masa-masa kesengsaraan Yesus (dalam minggu-minggu Pra-Paskah) dalam ibadah gereja, gereja Kristen sebenarnya terus-menerus memelihara dan mewariskan ideologi anti-Semitisme, tanpa mau tahu atau tanpa menyadari bahwa anti-Semitisme ini telah menghilangkan begitu banyak nyawa orang Yahudi dalam zaman modern ini.

Begitulah, di dalam inti terpenting dogma Kristen tentang jalan keselamatan manusia lewat Yesus Kristus yang disalibkan terkandung unsur-unsur demonik yang harus diwaspadai. Karena itu, sudah sepatutnya film Mel Gibson The Passion of The Christ tidak usah lagi ditayangkan untuk umum via TV di tahun-tahun yang akan datang.

Friday, April 10, 2009

Good Bye Partai Damai Sejahtera!


Para fungsionaris Partai Damai Sejahtera tentu kini sedang tidak damai sejahtera. Bagaimana tidak? Menurut hasil perhitungan cepat (quick count) LP3ES, partai yang bernomor urut 25 ini hanya bisa meraih suara sebanyak 1,5 % dalam Pemilu legislatif 2009 yang dilaksanakan kemarin, 9 April 2009. Perolehan suara yang kecil ini tidak mau dipercaya oleh pimpinan partai ini. Quick count ini, kata mereka, keliru.

Perolehan suara yang tidak mencapai batas minimal 2,5 % akan membuat PDS tidak lagi bisa masuk ke DPR untuk periode 2009-2014. Dengan kata lain, partai yang secara sepihak mengklaim mewakili orang Kristen di Indonesia ini tidak akan bisa lagi menempatkan wakil-wakilnya di DPR. Meskipun PDS dipilih banyak orang Kristen di kawasan Indonesia Timur, secara nasional perolehan suara mereka dalam Pemilu legislatif 2009 sangat kecil, dan hal ini membuatnya menjadi salah satu partai gurem yang tidak perlu diperhitungkan dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia ke depan.

Orang Kristen yang telah memilih PDS dalam Pemilu legislatif 2009 jadinya telah membuang-buang suara mereka. Persentase perolehan suara PDS yang kecil ini bisa terjadi karena banyak pemilih lama mereka (dalam Pemilu 2004) mengalihkan suara mereka dalam Pemilu 2009 ke partai-partai lain, misalnya ke Partai Demokrat yang berhasil memperoleh suara sebesar kurang lebih 20 %, suatu capaian politis yang sangat besar (tiga kali lipat perolehan suara dalam Pemilu 2004) yang tidak bisa dilepaskan dari kinerja pemerintahan Presiden SBY selama empat setengah tahun berselang. Pengalihan suara ini menunjukkan bahwa orang Kristen di Indonesia tidak yakin dengan kinerja PDS selama lima tahun yang telah lewat. Tentu sangat banyak orang Kristen di Indonesia yang tanpa keraguan mau menyatakan bahwa aspirasi politik mereka selama ini tidak diwakili oleh PDS. Hal ini bisa terjadi karena PDS sendiri mengusung hanya satu warna teologi politis (kalau memang partai ini menghayati suatu teologi!) dari sekian banyak warna teologi politis lainnya yang dianut orang Kristen di Indonesia.

Pengalaman tidak baik dengan PDS yang secara politis telah gagal ini seharusnya bisa menyadarkan orang Kristen di Indonesia untuk ke depannya tidak perlu lagi mendirikan partai Kristen apapun. Aspirasi politik mereka dapat disalurkan ke partai-partai besar yang nasionalis sekular. Di samping itu, sangat mustahil membentuk satu partai Kristen yang bisa mewakili seluruh orang Kristen Protestan di Indonesia. Dari perolehan suara partai-partai dalam pemilu legislatif 2009 ini, kita dapat melihat bahwa warga negara yang telah memilih, lebih menyalurkan suara mereka ke partai-partai kuat yang tidak berbasiskan agama (Partai Demokrat, PDI-P, Golkar). Ke depannya barangkali partai-partai yang berbasiskan agama akan makin kurang berperan di Indonesia, suatu perkembangan yang baik menuju masa depan Indonesia yang demokratis dan sekular.

Thursday, April 9, 2009

Starbucks Coffee dan Pemilu Legislatif 2009

Tadi pagi, sekitar pukul 09.00, tanggal 9 April 2009, saya mengantar istri dan putra saya ke TPS dekat rumah di Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Indonesia, untuk mereka memakai hak mereka memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga-lembaga legislatif negara ini (DPR, DPRD dan DPD). Dalam pemilu legislatif 2009 kali ini, mereka tidak mencoblos, tetapi mencontreng. Contreng, contreng, contreng! Begitu teriak seorang petugas dengan pengeras suara, berkeliling mengunjungi rumah-rumah penduduk sejak pagi tadi.

Di lokasi TPS, saya masih mencari tahu apakah saya yang tidak mendapatkan surat pemberitahuan dari pelaksana pemilu setempat boleh mencontreng. Jawabnya tegas, Tidak boleh! Ya, sudah, tidak apa-apa, kata saya. Saya duduk saja di sebuah bangku yang disediakan, sementara dari kejauhan memandangi istri dan putra saya yang sedang mencontreng. Inilah pertama kali putra saya ikut pemilu. Senang hati saya melihat putra saya ini ikut serta untuk kali pertama dalam kegiatan demokratis penting negeri ini. Saya berharap, nanti, di masa depan yang dekat, putra saya ini dapat lebih jauh berperan dalam pembangunan demokrasi di negeri ini. Saya pribadi, sangat mendambakan Indonesia berhasil menjadi negeri demokratis sepenuhnya kendatipun 85 persen penduduknya beragama Islam, agama yang di mana-mana sering dituding sebagai agama yang tidak bisa sejalan dengan demokrasi modern!

Sehabis mencontreng, kami pulang kembali. Di rumah, saya dan putri saya hampir berbarengan mendapat sebuah SMS yang isinya berita bahwa perusahaan Starbucks Coffee, mulai pukul 12.00 siang sampai pukul 17.00 sore, menyediakan segelas kopi harum gratis di setiap gerainya di seluruh Indonesia bagi setiap warganegara yang telah ambil bagian dalam pemilu legislatif 2009, dengan menunjukkan kelingking kanan mereka yang bernoda tinta biru pemilu. Tepat pada waktunya, saya mengajak istri dan putra saya mendatangi sebuah kedai modern Starbucks Coffee di Mal Artha Gading, Jakarta. Betul, di sana sudah terlihat antrian cukup panjang orang yang ingin mendapat secangkir kopi Starbucks gratis. Istri saya memberikan jatah segelas kopinya kepada saya. Ya, betul, segelas plastik kopi Starbucks yang, kalau dibeli, mahal harganya itu memang harum dan sedap rasanya. Saya meminun habis satu gelas kopinya, sambil berharap, semoga malam ini tidur saya tidak terganggu karena pengaruh kopi.

Tapi saya bertanya-tanya dalam hati, apa hubungan segelas kopi Starbucks dengan pemilu legislatif 2009? Tentu saja minum segelas kopi Starbucks gratis adalah bagian dari kegiatan periklanan perusahaan kopi terbesar dan termahal di dunia ini. Tetapi apa ada makna lebih jauh dari sekadar iklan, saya bertanya sendiri. Anda bisa menjawabkannya untuk saya. Tapi saya sendiri menjawabnya demikian: minum segelas kopi gurih gratis Starbucks setelah mencontreng dalam pemilu legislatif 2009 ini barangkali akan ampuh membuat rakyat Indonesia tetap terjaga, tidak mengantuk, selama 5 tahun ke depan untuk mengawasi dan mengontrol dengan tajam bagaimana wakil-wakil rakyat yang mereka telah pilih melalui Pemilu legislatif 2009 menjalankan tugas kenegaraan mereka! Segelas kopi gratis Starbucks akan berefek panjang selama 5 tahun ke depan! Hebat juga perusahaan kopi Starbucks ini! Sihir apa yang ada dalam segelas kopi gratisan itu? Harry Potter atau Dedy Corbuzier sendiri belum tentu bisa menjawabnya!

Wednesday, April 8, 2009

Dipaksa Jadi Golput


Besok, 9 April 2009, Pemilu Anggota DPR/DPD/DPRD diadakan di seluruh provinsi Indonesia. Selama ini, dalam sejumlah Pemilu sebelumnya, saya selalu menggunakan hak saya untuk memilih. Tapi, untuk Pemilu besok, saya dipaksa jadi golput lantaran saya tidak mendapatkan Surat Pemberitahuan Waktu Dan Tempat Pemungutan Suara Model C4 yang ditandatangani oleh ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di wilayah tempat tinggal saya di kelurahan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan kata lain, saya tidak terdaftar di daftar pemilih tetap Pemilu legislatif 2009.

Dari kami sekeluarga, istri dan putra saya yang sudah memiliki KTP memperoleh surat pemberitahuan tersebut yang diberikan oleh ketua RT kami; sedangkan saya, karena, menurut ketua RT, kesalahan teknis administratif di kelurahan, tidak mendapatkannya. Putri saya belum cukup umurnya untuk ikut Pemilu. Kata ketua RT beberapa hari lalu, saya tetap bisa mengikuti Pemilu dengan menunjukkan KTP saya pada petugas di tempat pemungutan suara besok. Tapi baru saja saya mendapat pemberitahuan bahwa tanpa membawa dan menyerahkan surat pemberitahuan tersebut seseorang tidak bisa mengikuti Pemilu. Maka, sudah pasti, besok saya akan menjadi golput yang dipaksa keadaan!

Ada rasa penasaran dalam hati saya. Bagaimana tidak! Di mana-mana saya menyatakan, bahwa kita harus tidak menjadi golput dalam Pemilu 2009. Kepada anggota gereja saya, saya mengatakan hal itu. Kepada teman-teman saya, saya juga menyatakan hal yang sama. Kepada istri dan dua orang anak saya, hal yang sama juga saya tegaskan. Kepada diri saya sendiri, saya juga mengatakan, jangan jadi golput! Perasaan penasaran dan kecewa ini saya juga sudah ungkapkan kepada ketua RT saya; dan dia menjawab enteng dan menghibur: "Kan masih ada Pemilu Presiden, pada bulan Juli yang akan datang!"

Ya, sudah pasti saya akan ambil bagian dalam Pemilu Presiden yang akan datang ini! Mudah-mudahan tidak terjadi lagi kesalahan teknis administratif yang serupa! Harap KPU bekerja lebih profesional lagi! Menjadi golput itu seperti menjadi liliput di negeri dongeng yang namanya Indonesia. Oh Indonesia, kapan engkau akan menjadi negeri sungguhan?! Ngurus Pemilu aja kok nggak becus!! Apalagi ngurus nuklir!



Saturday, April 4, 2009

Kondom dan Paus Benediktus XVI


Ini adalah “picture of the day” dari koran The Daily Telegraph edisi 26 Maret 2009 yang menampilkan seorang perempuan di Paris (25 Maret 2009) memegang beberapa kondom yang bergambar Paus Benediktus XVI dengan di atasnya dicantumkan tulisan “I SAID NO!”. Kondom-kondom ini diedarkan untuk mengejek sang Paus setelah dia menyatakan menolak kondom sebagai suatu senjata melawan AIDS dalam awal perjalanan ke Kamerun (17 Maret 2009) dalam rangka kegiatan perkunjungannya ke beberapa negara di Afrika Sub-Sahara yang sejumlah 22 juta penduduknya telah terinfeksi virus HIV/AIDS. Di pesawat yang akan membawanya ke Kamerun, sang Paus menyatakan bahwa HIV/AIDS “tidak dapat diatasi melalui pendistribusian kondom, yang malah, sebaliknya, menambah permasalahannya.” Bukankah sudah seharusnya kita berpendapat bahwa bukan kondom, tetapi kebijakan gerejanya yang anti alat kontrasepsi buatan dan komentar-komentar sang Paus sendiri yang akan membahayakan kesehatan masyarakat?