Showing posts with label Teodise. Show all posts
Showing posts with label Teodise. Show all posts

Sunday, October 31, 2010

Problem Teodise (7): Penderitaan Dialami Karena Manusia Tidak Taat? Atau Karena Hukum dan Peraturan Allah Salah?

Dalam agama-agama teistik umumnya diajarkan bahwa jika seorang mukmin menaati perintah dan kehendak Allah dengan sungguh-sungguh, maka kehidupan si mukmin ini akan baik, terpelihara, sejahtera dan selamat. Sebaliknya, jika seseorang tidak menaati kehendak dan perintah Allah, maka kehidupannya akan penuh dengan keburukan, bencana, kesusahan dan akhirnya kematian. Dalam Tenakh Yahudi ada sebuah teks yang dengan terang menyatakan hal ini; teksnya berbunyi demikian,
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Dia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan (Mazmur 1:1-6)
Jadi jelas, menurut teks suci di atas, ketaatan dan sikap tunduk pada Allah mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan, sedangkan perlawanan dan ketidaktaatan pada-Nya mengakibatkan penderitaan dalam kehidupan. Ini adalah sebuah kepercayaan universal dalam semua agama teistik. Orang beragama yang saleh dan berhasil dalam kehidupan seringkali menegaskan dan mempersaksikan apa yang diyakini sebagai kebenaran ini; dan mereka terdorong untuk menasihati orang lain untuk juga mengikuti jalan kehidupan mereka yang penuh dengan ketaatan kepada Allah supaya kehidupan menjadi sukses dalam segala hal.

Dalam lingkungan kekristenan dewasa ini dikenal apa yang namanya “teologi sukses” dan “teologi anak raja.” Menurut teologi sukses, jika seorang menaati semua kehendak dan hukum Allah, maka hidup orang itu dijamin pasti sukses dalam segala bidang kehidupan, khususnya sukses dalam bisnis apapun yang dijalankannya. Lalu, menurut teologi anak raja, jika seorang Kristen terus-menerus menempatkan Yesus sebagai sang Raja mereka satu-satunya dan menjalankan segala perintahnya tanpa bertanya, maka Yesus sebagai sang Raja yang mahakaya, pemilik langit dan Bumi, akan pasti memberikan kekayaan dan kedudukan terhormat kepada orang ini. Tentu saja dua macam “teologi” ini laku keras di arena persaingan keras bisnis injil di kota-kota besar, dan dipercaya dengan begitu naïf oleh kebanyakan warga gereja yang ingin selalu meraih sukses dan kekayaan.

Tentu saja hal yang bertolakbelakang dari hal yang baru dikemukakan di alinea di atas juga banyak ditemukan, yakni seorang yang sudah sangat saleh dan taat dalam kehidupannya terhadap hukum dan perintah Allah yang ditulis dalam kitab suci agamanya ternyata tidak mengalami keberhasilan dan kebahagiaan, melainkan kegagalan dan penderitaan dalam kehidupannya. Hal yang bertolakbelakang ini sudah pernah disoroti dalam salah satu tulisan dari serangkaian tulisan tentang teodise ini, misalnya ketika figur Ayub dalam kitab Ayub dijadikan fokus perhatian.

Ihwal yang sekarang mau ditinjau adalah apakah suatu tindak ketidaktaatan dan perlawanan kepada Allah harus mengakibatkan nestapa, penderitaan, kesusahan dan bencana dalam kehidupan manusia. Tentu banyak orang akan langsung menyatakan bahwa hal ini adalah sesuatu yang sudah jelas, lumrah dan normal, jadi tak perlu dipermasalahkan lagi. Dalam kehidupan suatu negara saja, kata mereka, setiap warganegara yang tak menaati hukum dan peraturan yang sah akan dikenai suatu hukuman oleh negara untuk menimbulkan efek jera pada dirinya dan menjadi suatu peringatan bagi setiap warganegara lainnya. Begitu juga, kanak-kanak yang suka membandel dan melawan orangtua sudahlah pantas, kata mereka, jika dihukum untuk memberi pelajaran supaya jera. Tetapi justru di sini terletak persoalannya: Bagaimana halnya jika hukum dan peraturan negara yang berlaku itu salah, tidak manusiawi dan bengis? Bagaimana halnya jika peraturan yang ditegakkan oleh orangtua salah atau tidak manusiawi dan mematikan kebebasan kanak-kanak? Terhadap hukum dan peraturan yang semacam ini, apakah patut setiap warganegara atau setiap anak menaatinya dengan naïf dan membuta?

Pertanyaan-pertanyaan yang sama juga dapat diajukan kepada semua hukum dan peraturan yang diklaim, dalam kitab-kitab suci kuno, sebagai hukum dan peraturan yang berasal dari Allah sebagai pencipta dan penetapnya. Apakah pantas suatu Allah menjatuhkan suatu hukuman kepada seorang yang melawan dan melanggar hukum dan peraturan atau kehendak Allah ini karena hukum, peraturan dan kehendak Allah ini dipandang orang ini salah, tidak manusiawi, bengis dan menghambat pertumbuhan kesadaran dan pengetahuannya? Apakah tepat jika kepada orang semacam ini Allah menimpakan kutuk dan penderitaan, yang dijatuhkan Allah hanya dengan maksud diri sang Allah ini tetap berwibawa dan otoritatif meskipun sang Allah ini telah bertindak dengan sangat keliru? Banyak orang akan segera memberi reaksi bahwa tidaklah mungkin jika Allah bisa bertindak salah, keliru, tidak manusiawi, bengis dan menghambat pertumbuhan kesadaran dan pengetahuan manusia, karena Allah itu, kata mereka, mahakasih. Kepada mereka yang berkeberatan seperti ini, saya persilakan membaca kembali seluruh kitab suci agama mereka, khususnya kitab-kitab suci agama-agama monoteistik, dengan teliti dan dengan suara hati yang jujur. Dalam rangka itu, marilah sekarang kita soroti sebuah kisah penting dalam Perjanjian Lama, yakni kisah tentang Adam dan Hawa (Kejadian 3:1-24).

Dalam Epik Gilgamesh (disusun pada millennium ketiga S.M.), dikisahkan tentang suatu figur yang bernama Enkidu, yang dibesarkan bersama-sama binatang buas di hutan-hutan liar. Konon pada suatu hari seorang perempuan menggodanya dengan kemolekan tubuhnya; dan Enkidu takluk pada godaan perempuan ini, dan sebagai hasilnya Enkidu berubah menjadi bijaksana dan memperoleh pengetahuan manusia di dalam hatinya. Perempuan itu berkata kepadanya, “Engkau kini bijaksana, Enkidu, dan sekarang engkau telah menjadi seperti suatu dewa.” Tetapi pada akhirnya, epik ini mengisahkan, Enkidu mendapatkan dirinya telah dikutuk oleh sang dewi agung dan dia harus mati dalam rasa malu yang besar. Jelas, Epik Gilgamesh telah menjadi suatu sumber sastrawi bagi kisah tentang Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian, dengan variasi di sana-sini dibuat oleh si penyusun kisah tentang Adam dan Hawa ini.

Kita tahu, Tuhan Allah telah melarang Adam dan Hawa memetik dan memakan buah pohon pengetahuan yang tumbuh di tengah Taman Eden, dengan ancaman bahwa pada waktu mereka memakannya mereka berdua akan mati. Ketika seekor ular membujuk Hawa untuk memakan buah itu dan sang ular ini menyingkap suatu rahasia bahwa dia akan menjadi seperti Allah jika memakannya, yakni memiliki pengertian dan tahu membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, Hawa pun memetik dan memakan buah pohon pengetahuan itu dan memberikannya juga kepada Adam yang juga ikut memakannya. Ancaman Allah tidak terjadi, sebab mereka berdua tidak mati seketika pada waktu mereka memakan buah pohon pengetahuan itu. Tetapi sebagai akibat perbuatan mereka melanggar aturan yang Allah sudah tetapkan untuk mereka di taman itu, Allah menjatuhkan sekian kutuk dan hukuman kepada mereka bahwa selanjutnya kehidupan mereka akan sulit dan penuh penderitaan sampai mereka pada akhirnya mati. Kata Tuhan Allah kepada Hawa, “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan dia akan berkuasa atasmu” (Kejadian 3:16). Kepada Adam, Tuhan Allah menyatakan, “… Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:17-19).

Tentu saja kita tahu bahwa seluruh kisah tentang Taman Eden ini adalah sebuah fiksi etiologis, fiksi yang disusun (pada abad ke-10 S.M.) untuk memberi suatu penjelasan mitologis tentang asal-usul penderitaan yang dialami manusia, baik pria maupun wanita. Dan kita yang sudah mengenal pengetahuan modern tentu saja memandang etiologi ini sangat naïf, karena mengasalkan semua kerja berat, keluh kesah, penderitaan dan kematian manusia di sepanjang zaman pada satu pelanggaran yang dibuat Adam dan Hawa terhadap larangan Allah dulu di awal kehidupan manusia di muka Bumi. Selain itu, tidak semua orang memandang nenek moyang pertama mereka adalah Adam dan Hawa yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama dan Alquran. Berbagai suku bangsa di dunia mempunyai kisah-kisah etiologis etnis sendiri-sendiri tentang nenek moyang pertama mereka dan apa yang nenek moyang ini telah perbuat pada awal kehidupan manusia di muka Bumi.

Bagaimana pun juga, kisah etiologis tentang Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian ini mau menegaskan satu hal, yakni penderitaan timbul karena manusia tidak menaati perintah, hukum, ketetapan dan larangan Allah. Dalam rangka teodise, dapat ditegaskan bahwa Allah memang mahakasih, tetapi Allah juga adalah Allah yang mau menegakkan suatu kehidupan yang berdisiplin, sehingga manusia dikehendaki Allah ini harus selalu menaati semua hukum dan perintah-Nya. Pendek kata, bagi Allah ini, siapapun yang melanggar hukum dan perintah Allah, orang itu pantas mengalami penderitaan! Bagi teologi yang legalistik semacam ini, teologi yang menempatkan kedaulatan dan hukum-hukum Allah di atas segala-galanya, penderitaan terjadi karena ulah manusia sendiri! Allah tidak bersalah dalam terjadinya penderitaan manusia; seluruh kesalahan ada pada manusia! Bahkan, dalam alur pemikiran teologis semacam ini, berbagai bencana alam pun dilihat sebagai wahana dan media Allah menghukum manusia yang tidak taat!

Tetapi, sebuah pertanyaan penting harus diajukan kepada Allah penghukum semacam ini: Apakah pantas jika Allah menjatuhkan penghukuman kepada Adam dan Hawa karena mereka berdua telah memakan buah pohon pengetahuan? Bukankah buah pohon ini telah membuat mereka memiliki pengertian dan kebijaksanaan hidup yang memampukan mereka tahu membedakan hal yang baik dari hal yang buruk, hal yang benar dari hal yang salah? Bukankah untuk bisa mengusahakan dan memelihara tempat kehidupan mereka, yakni Taman Eden, sebagaimana Allah perintahkan (Kejadian 2:15), Adam dan Hawa memerlukan wisdom, hikmat dan pengertian? Jika demikian, bukankah sudah seharusnya Allah mempersilakan bahkan harus mendorong Adam dan Hawa memetik dan memakan buah pohon pengetahuan itu, dan bukan malah sebaliknya melarang mereka? Mengapa Allah ironisnya ingin mereka berdua tetap bodoh, dungu dan hanya membebek saja pada perintah dan hukum Allah, sementara perintah dan hukum Allah ini salah, tidak bijaksana, tidak manusiawi dan mematikan pertumbuhan kesadaran dan pengetahuan manusia, pengetahuan moral paling sedikit?

Jadi, harus kita simpulkan, bahwa Adam dan Hawa telah bertindak benar ketika mereka melanggar perintah dan larangan Allah dengan mereka memetik dan memakan buah pohon pengetahuan. Penderitaan mereka terjadi kemudian bukan karena ketidaktaatan mereka, tetapi karena perintah, hukum dan larangan Allah salah, keliru, tidak manusiawi, menghambat kemajuan manusia dan merusak tatanan nilai-nilai moral yang seharusnya. Perintah dan hukum Allah yang semacam ini harus ditolak, dan bahkan diri Allah yang memberi perintah dan hukum semacam ini harus juga dilawan dan ditolak. Jika demikian, kesalahan bukan ada di pundak Adam dan Hawa, tetapi di pundak Allah sendiri. Bukan penghukuman dan penderitaan serta kematian yang seharusnya diterima Adam dan Hawa, tetapi pujian dari Allah, kebahagiaan, keberhasilan dan kehidupan.

Ada sebuah kisah lain dalam kitab Kejadian yang relevan untuk disinggung di akhir uraian ini, yakni kisah tentang Abraham yang diminta Allah mengurbankan Ishak, anaknya (Kejadian 22:1-14). Kita tahu, Abraham total menaati permintaan atau perintah Allah ini, meskipun pada akhirnya, di saat-saat genting, dia tidak jadi menyembelih Ishak karena ternyata Allah “hanya” mengujinya dan memberi seekor hewan sebagai suatu kurban pengganti. Apapun juga yang terjadi pada akhirnya, permintaan dan perintah Allah semacam ini kepada Abraham adalah suatu permintaan dan perintah yang salah, edan, tak waras, tak manusiawi dan tak etis, yang tak pantas sama sekali dikeluarkan oleh suatu Allah yang mahapengasih dan mahapenyayang. Hanya orang yang terperangkap dalam delusi saja, yang membuatnya tidak bisa berpikir sehat lagi dan tidak bisa melihat kenyataan dengan kesadaran penuh, akan menundukkan diri kepada permintaan dan perintah Allah yang jahat dan keji semacam ini. Jika permintaan Allah ini adalah suatu ujian, ujian ilahi semacam ini adalah suatu ujian yang sangat edan, tak waras, yang hanya bisa disampaikan oleh suatu Allah yang tidak waras. Allah yang tak waras, sama sekali tak perlu ditaati oleh siapapun, bahkan harus ditentang dan dilawan oleh setiap mukmin yang mau hidup dengan dituntun oleh akal sehat dan pengetahuan yang benar.

Jika Abraham hidup pada zaman modern sekarang ini, pasti Abraham akan ditangkap oleh aparat keamanan sebelum dia sempat mengurbankan Ishak (tentu jika ada pihak ketiga yang telah mencium rencana ini dan telah melaporkannya kepada aparat penegak hukum), lalu akan disidik dengan suatu tuduhan telah berencana untuk membunuh anaknya sendiri. Jika pembunuhan atas Ishak telah terjadi, Abraham pasti akan ditangkap lalu diadili dan pasti dijatuhkan hukuman mati, sementara sang Allah yang ditaatinya akan tentu saja berdiam diri. Banyak orang yang karena beriman sangat menggebu-gebu kepada Allah mereka atau kepada hukum-hukum yang dipercaya mereka dibuat oleh Allah mereka ini, sudah tidak tahu lagi bahwa iman keagamaan apapun, berapapun besarnya dan betapapun mulia dalam pandangan mereka sendiri, selalu memiliki batas-batas yang tak boleh dilampaui jika mereka mau hidup sehat, benar dan bermoral dalam suatu masyarakat yang di dalamnya hukum positif negara diberlakukan dan harus ditaati semua warga.

Kesimpulannya: Dalam rangka menggumuli teodise, yakni pergumulan tentang keadilan dan kasih Allah di tengah penderitaan berat kaum mukmin, kita harus berpandangan bahwa penderitaan manusia bisa muncul bukan karena kesalahan mereka melanggar hukum, perintah dan ketetapan Allah, tetapi karena hukum, perintah dan ketetapan Allah ini salah, keliru, tidak tepat, tidak manusiawi, jahat dan keji, sehingga seharusnya tidak perlu ditaati manusia. Dengan tidak menaati hukum, perintah dan ketetapan Allah yang semacam ini, seharusnya bukan penderitaan dan kematian yang dialami manusia, tetapi kebahagiaan dan kehidupan. Tidak selalu penderitaan itu terjadi karena kesalahan manusia, tetapi bisa karena kesalahan Allah yang dipercaya umat beragama. Untuk mengurangi penderitaan manusia, sudah seharusnya manusia berani membangun sikap kritis terhadap semua hukum dan peraturan yang dipercaya berasal dari Allah dan dicatat dalam kitab-kitab suci.

by Ioanes Rakhmat


Sunday, August 22, 2010

Problem Teodise (6): Penderitaan Muncul Karena Allah Jahat dan Memihak!

Bahkan kisah tentang penjatuhan tulah kesepuluh hanya pantas dipandang sebagai suatu takhayul tentang suatu Allah yang brutal dan sadistik
Teodise adalah suatu kepercayaan pada keadilan, kemahabaikan dan kemahakuasaan Allah YME terhadap umat yang menyembah-Nya. Dalam mencari problem teodise, adakah sesuatu yang relevan, yang dapat muncul dari kisah-kisah keluaran dari Mesir dalam kitab Keluaran?

Umumnya para pemakai Perjanjian Lama dengan tidak kritis memandang kisah eksodus dari Mesir beserta kisah-kisah sebelumnya tentang penimpaan sepuluh tulah kepada orang Mesir dalam kitab Keluaran 7-14 sebagai kisah-kisah nyata tentang Allah yang maha kuasa yang telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan konon selama 430 tahun di tanah Mesir (12:40). Di lingkungan gereja-gereja di Indonesia, tidak sedikit pendeta atau pastor atau pekabar injil memakai kisah-kisah eksodus ini dalam khotbah-khotbah mereka dalam ibadah memperingati hari kemerdekaan Indonesia pada setiap tanggal 17 Agustus. Meskipun sebetulnya sama sekali tidak ada kesejajaran antara peristiwa-peristiwa yang dikisahkan dalam bagian kitab Keluaran ini dan perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dari tangan imperialis Belanda, para pengkhotbah itu terus saja memakai kisah-kisah ini dalam khotbah-khotbah 17 Agustusan mereka!



problem Allah yang berat sebelah dalam teodise

Banyak pakar kajian kritis biblika dengan tepat meragukan bahkan menolak sama sekali historisitas semua peristiwa yang diceritakan dalam bagian kitab Keluaran ini, mulai dari penjatuhan sepuluh tulah sampai penyeberangan Laut Merah. Kalau orang membaca dengan teliti kisah penyeberangan Laut Merah ini, dia akan menemukan bahwa penyebab Laut Merah terbelah dua adalah “angin timur yang bertiup dengan keras” (14:21). Pikirkan saja minimal teks 14:21 ini. Jika air laut yang sangat besar volumenya, dan tentu saja juga dalam, bisa dibelah dua oleh angin timur ini semalam suntuk, kekuatan angin ini tentu sangat dahsyat. Nah, logika kita menyatakan, di tengah terjangan angin timur yang sangat dahsyat ini mustahil orang Israel (konon berjumlah 600.000 lelaki, belum termasuk anak-anak dan perempuan!) bisa dengan tenang dan mudah menyeberangi Laut Merah yang sudah terbelah dua! Jika mereka nekad masuk ke dalam terjangan dahsyat angin ini, mereka pasti akan ditiup terbang melayang bak daun-daun kering lalu jatuh dan mati! Jadi, dengan sedikit memikirkan bagian teks ini saja kita sudah bisa menyimpulkan bahwa kisah penyeberangan ini adalah suatu kisah fiktif.


Figur Musa dalam kisah-kisah ini—khususnya dalam kisah tentang pembelahan air Laut Merah menjadi dua sehingga seluruh orang Israel bisa melintasi laut ini dengan berjalan di tanah kering (Keluaran 14:15-31)— ditampilkan sebagai sosok heroik tiada taranya. Tak salah jika para ahli memandang seluruh kisah eksodus ini sebagai suatu epik suci yang ditulis bukan dengan tujuan untuk melaporkan suatu peristiwa sejarah faktual, melainkan untuk mengagungkan Nabi Musa sebagai sang nabi pemerdeka bangsa Israel dari kekuasaan orang Mesir yang telah terlalu lama menindas dan menyepelekan mereka. Kita tak perlu mencari-cari berbagai penjelasan alternatif untuk bisa menerima kisah-kisah ini sebagai kisah-kisah sejarah, misalnya, seperti diusulkan beberapa penafsir, bahwa yang orang Israel seberangi bukanlah Laut Merah, the Red Sea, tetapi the Reed Sea, Laut Alang-alang (Alkitab TB LAI: Laut Teberau) yang dangkal, yang pada waktu sedang surut dapat diseberangi dengan sangat mudah.



YHWH, Tuhan pencemburu yang berperang bagi Israel

Ya, kisah-kisah eksodus dari Mesir ini memberitakan tentang YHWH bangsa Israel sebagai Tuhan pembebas dan penolong yang telah berkarya dengan kemahakuasaan-Nya membawa Israel keluar dari tanah perbudakan. Nabi Musa dalam kisah-kisah ini tampil sebagai sang hero Israel tanpa tandingan selamanya, yang melalui kepemimpinannya dan kemampuannya membuat banyak mukjizat, Allah telah memerdekakan bangsa Israel dari cengkeraman tangan bangsa Mesir dan menjadikan mereka suatu bangsa merdeka yang kelak akan memiliki tanah sendiri. Oleh Allah sendiri, Nabi Musa “diangkat sebagai Allah bagi Firaun” (7:1). Ya, dalam kisah-kisah ini Allah tampil sebagai Allah yang maha baik dan maha kuasa yang telah melepaskan bangsa Israel dari penderitaan dan nestapa berat, yang dilukiskan telah “berperang melawan Mesir” demi membela orang Israel (14:14, 25). Jelas, dalam situasi dibela dan ditolong oleh Allah semacam ini, tidak ada problem teodise bagi bangsa Israel: YHWH mereka adalah YHWH yang mahakuasa, mahaadil, mahabaik dan mahapembebas, Tuhan yang telah memerdekakan mereka dari azab perbudakan.


Tetapi, jangan sekali-kali diabaikan, bagi orang Mesir, keluarnya bangsa Israel dari tanah mereka harus mereka bayar dengan begitu banyak penderitaan berat, mulai dari tulah pertama (seluruh air di Mesir berubah menjadi darah) sampai tulah kesepuluh (berupa kematian seluruh anak sulung orang Mesir dan seluruh anak sulung binatang)! YHWH Israel dilukiskan menjadi sang Dalang dari semua penderitaan bangsa Mesir! Tentu saja kisah-kisah penjatuhan sepuluh tulah itu terlalu fantastis untuk dapat diterima sebagai kisah-kisah sejarah faktual. Bahkan kisah tentang penjatuhan tulah kesepuluh hanya pantas dipandang sebagai suatu takhayul tentang suatu Allah yang brutal dan sadistik: Allah melewati rumah-rumah orang Israel karena pada kedua tiang pintu dan ambang atasnya telah diborehi darah anak domba jantan sehingga seluruh anak sulung orang Israel luput dari kematian; tetapi sebaliknya sang malaikat elmaut memasuki rumah-rumah orang Mesir karena rumah-rumah ini tidak ditandai oleh darah anak domba jantan lalu membunuh semua anak sulung Mesir, anak sulung manusia dan anak sulung hewan.


Pertanyaan pentingnya bukanlah apakah betul semua kisah eksodus ini kisah dongeng, melainkan: Apakah kita harus dengan senang memegang suatu teodise yang membuat kita yakin dan percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang mahakuasa, mahakasih, mahaadil dan mahapenolong, sementara untuk membuat kita mengalami semua kebaikan, kemahakuasaan, keadilan dan kasih Allah ini , sang Allah ini harus berlaku keras, jahat, keji dan penuh nafsu membunuh terhadap orang lain yang kita tidak senangi, yang kita nilai telah berbuat jahat dan tidak adil kepada kita? Orang lain ini bisa orang yang kita cap telah sesat dalam beragama, bisa orang yang menganut suatu paham ideologis berbeda, bisa umat beragama lain, bisa seorang homoseksual, bisa suku lain, atau pun bangsa lain. Apakah kita harus menerima suatu Allah yang memihak seseorang atau suatu bangsa tertentu, tetapi menjahati, menghancurkan dan membunuh seseorang lain atau suatu bangsa lain? Inilah sisi lain yang kelam dari satu mata uang logam teodise!



Mars (Ares), dewa perang bangsa Romawi,
konon dialah sang ayah Romulus dan Remus, para pendiri Roma

Tentu saja, karakter Allah yang semacam ini bukan diwahyukan, tetapi dikonsep oleh seseorang atau oleh suatu umat yang telah mengalami suatu kenyataan bahwa lawan-lawannya atau lawan-lawan umat ini telah kalah telak dalam suatu peperangan yang dilangsungkan di dalam nama Allah ini. Allah semacam ini dikonsep sebagai suatu Allah suku tertentu, yang menolak dan membenci suku-suku asing, dan yang akan mendatangkan penderitaan dan kebinasaan pada suku-suku asing ini jika mereka berbuat tidak adil terhadap suku atau umat milik-Nya sendiri. Dalam pengonsepan teologi yang jelek semacam ini, alam dan semua fenomenanya pun digambarkan memihak umat kesayangan Allah semacam ini, dan melawan musuh-musuh mereka.

Dan Allah xenofobis semacam ini makin terlalu jahat dan keji jika Dia dipandang sebagai sang Aktor utama yang membuat bangsa asing lainnya dan khususnya sang raja bangsa asing ini mengeraskan hati untuk terus berbuat tidak adil dan tidak baik terhadap bangsa atau umat kepunyaan Allah ini. Keadaan seperti ini terjadi pada Firaun, Raja Mesir, yang hatinya konon telah “dikeraskan oleh Allah” bangsa Israel dan mengakibatkan dia tidak mau melepaskan bangsa Israel meninggalkan tanah Mesir (Keluaran 7:3, 13; 8:15; 9:12; 10:1, 27; 11:10; 14:8; 14:17) sehingga ada suatu alasan untuk sang Allah ini berlaku jahat kepada seluruh orang Mesir! Apakah jalan diplomasi yang telah gagal harus diakhiri dengan suatu peperangan dan pertumpahan darah yang dilakukan oleh atau atas nama Allah bangsa Israel sendiri?

Kita harus tak puas dan harus tidak setuju pada suatu teodise yang di dalamnya Allah diubah menjadi suatu Allah suku atau Allah bangsa tertentu, yang dengan keji melenyapkan suatu suku atau bangsa lain yang Dia tidak sukai! Kita pada zaman sekarang dalam era globalisasi memerlukan bukan lagi suatu Allah suku, tetapi suatu Allah yang mengasihi seluruh umat manusia di muka bumi, suatu Allah yang bukan Allah partikular tetapi Allah yang universal. Allah yang universal semacam ini, yang menyayangi seluruh bangsa manusia, adalah Allah yang dipercaya si penulis kitab Yunus dalam kanon Perjanjian Lama (lihat khususnya Yunus 4:10-11).


Jika kita harus berpijak pada suatu moralitas universal yang membela kehidupan semua orang di seluruh muka Planet Bumi, maka kita harus berada di pihak korban; dan dari sudut pandang para korban, Allah sukuistik semacam ini harus dinilai sebagai suatu allah yang jahat dan keji, yang mendatangkan penderitaan dan kebinasaan atas orang-orang yang tidak berada di pihak-Nya dan tidak berada di pihak umat yang dibela-Nya.
Allah yang memihak semacam ini, adalah Allah yang menjadi sumber penderitaan dan azab umat manusia. Kalau semula bangsa Israel adalah korban perbudakan oleh pemerintah Mesir, maka ketika Allah mereka berpihak kepada mereka, mereka pun mengorbankan bangsa Mesir! Tindakan saling mengorbankan adalah suatu lingkaran setan yang harus diputus. Bukan tindakan semacam ini yang perlu kita lakukan, melainkan tindakan mencari dan mewujudkan rekonsiliasi terus-menerus antar pihak-pihak yang bersengketa. Suatu Allah sukuistik harus tidak boleh dibiarkan ikut campur dalam proses rekonsiliasi ini.

Orang yang taat beragama dan yang percaya pada teodise seringkali lupa bahwa ada orang lain yang dia telah buat menderita, sengsara dan binasa, dan perbuatan jahatnya ini dia legitimasi dengan suatu teologi tentang Allah yang berada di pihaknya dan yang melawan dan berperang terhadap orang lain yang dia tidak sukai, dan yang memberi dia kemenangan dan keselamatan di atas kekalahan dan kebinasaan orang lain! Teodise semacam ini sudah seharusnya dibuang jauh-jauh, dan agama yang mengajarkannya harus dikritik dengan keras dan ditolak. Parahnya, dengan menjamur dan menguatnya fundamentalisme religius di mana-mana, teodise semacam ini laku keras dan terus melahirkan orang beragama yang dikuasai nafsu untuk melumat dan membunuh orang lain yang berbeda atau yang dinilainya telah merugikan dirinya, sementara sangat meyakini bahwa Allahnya penuh kemurahan dan cinta kepada dirinya sendiri. Sebuah ironi, kekonyolan dan kedunguan yang timbul dari suatu teodise yang tidak seimbang!


by Ioanes Rakhmat


Wednesday, May 5, 2010

Problem Teodise (5): Penderitaan Timbul Supaya Allah Dimuliakan?

Jalan selanjutnya yang telah diusulkan untuk mengatasi problem teodise adalah memandang penderitaan ditimpakan allah karena allah ini mau kekuasaan dan kemuliaannya dinyatakan melalui dan di dalam penderitaan manusia dan dengan demikian manusia akan mengakui kekuasaan dan kemuliaan allah ini.

Dalam Injil Yohanes kita temukan sebuah episode di mana Yesus dikisahkan memecahkan problem teodise dengan sudut pandang ini. Bacalah Yohanes 9. Dituturkan di situ bahwa ketika murid-murid Yesus melihat seorang buta sejak lahirnya, mereka bertanya kepada Yesus, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (ayat 2). Pertanyaan ini menunjukkan pemahaman mereka bahwa penderitaan timbul karena dosa manusia, seperti telah diulas sebelumnya.

Tetapi Yesus menjawab mereka dengan suatu sudut pandang yang sama sekali lain, katanya, “Bukan dia dan juga bukan orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ayat 3). Lalu Yesus dengan cara-cara tertentu mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir ini. Jadi, “pekerjaan-pekerjaan Allah” yang dimaksudkan Yesus adalah tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa, yang sanggup mendatangkan mukjizat kesembuhan. Melalui mukjizat penyembuhan mata orang yang buta sejak lahir ini, Yesus tentu berharap orang banyak, dan khususnya si buta yang telah disembuhkan itu, akan mengakui kekuasaan allah lalu memuliakannya.

Apakah jalan keluar ini telah menyelesaikan problem teodise? Hemat saya, sama sekali tidak, malah menimbulkan persoalan-persoalan baru.

Pertama, kalau allah mendatangkan penderitaan kepada manusia supaya manusia mengakui kekuasaan allah lalu memuliakan diri allah ini di dalam penderitaannya ini, maka perilaku allah ini ibarat perilaku seorang ayah yang karena ingin kekuasaannya dan kehormatan atau kemuliaannya diakui anak-anaknya, ayah ini menyiksa anak-anaknya atau membawa anak-anaknya dengan paksa ke dalam penderitaan. Ayah macam apakah ini? Ya, jelas, ayah semacam ini bukanlah ayah yang baik, tetapi ayah yang karena gila kehormatan diri menjadi kejam. Allah semacam ini juga ibarat seorang raja lalim yang karena ingin rakyatnya mengakui kedaulatannya dan mau memuliakan dirinya, raja ini melakukan segala sesuatu yang dapat menyengsarakan rakyatnya. Sang raja ini berpikir dengan keliru bahwa kalau rakyatnya terus menerus disengsarakan olehnya, rakyatnya ini akan ketakutan kepadanya lalu tunduk tanpa daya. Anak atau rakyat yang diperlakukan dengan kejam oleh seorang ayah atau oleh seorang raja tentu akan lebih mungkin melawan dan memberontak ketimbang patuh. Jadi, jalan keluar ketiga ini ternyata malah menjadikan allah bukan sebagai sang bapak atau sang monarkh yang adil, bijaksana dan pengasih dan penyayang, melainkan sebagai sang bapak atau sang monarkh yang kejam dan sewenang-wenang.

Kedua, pemecahan ketiga ini problematis karena membuat orang yang sedang menderita bukan dengan rasional dan realistik mencari jalan-jalan sendiri untuk mengatasi penderitaannya, melainkan dengan pasif menunggu allah membuat mukjizat untuk melepaskan dirinya sepenuhnya dari penderitaan. Orang yang beriman kepada allah dengan segenap hati dan percaya total pada adanya mukjizat, seringkali mengabaikan kenyataan kehidupan dan tidak mau memakai otaknya untuk berpikir dengan benar. Ketika mukjizat yang ditunggu-tunggunya tidak terjadi, si mukmin yang sedang menderita ini kebanyakan malah bukan tunduk menghormati allah melainkan akhirnya mulai mengutuki allahnya. Selain itu, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan modern, semakin banyak orang tidak lagi mempercayai bahwa mukjizat itu dapat terjadi. Orang modern percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini tidak bisa melanggar hukum-hukum alam, kapanpun dan di manapun juga. Jadi tidak mungkin terjadi bahwa orang yang kedua matanya buta sejak lahir itu tiba-tiba menerima sepasang mata baru yang sehat walafiat karena kekuasaan allah. Sepasang mata bayi yang sehat saja, kita tahu, harus berproses melewati waktu panjang sebelum dapat digunakan untuk melihat dengan terang dan baik. Untuk mata bisa memahami objek yang dilihatnya, mata juga memerlukan proses edukasi yang memakan waktu panjang juga, yang harus dijalani si pemilik mata.

Ketiga, kita tahu kemampuan psikis dan fisikal manusia untuk menanggung penderitaan itu terbatas. Memang ada orang yang daya tahan psikis dan fisikalnya luar biasa besar ketika sedang menghadapi penderitaan dan deraan kehidupan. Tetapi, pada umumnya kebanyakan orang tidak dapat tahan lama-lama menanggung penderitaan. Penderitaan yang terlalu lama dialami dan terlalu menyiksa lebih mungkin membuat orang mengalami gangguan kejiwaan, lalu menjadi penghuni rumah sakit jiwa, ketimbang makin sanggup memuji allah.

Nah, dengan tiga alasan di atas cukuplah saya menyatakan bahwa problem teodise tidak dapat diselesaikan sekalipun orang mau menyatakan bahwa lewat penderitaan orang saleh allah mau menyatakan kekuasaan dan kemuliaannya.



Saturday, April 17, 2010

Problem Teodise (4):
Penderitaan Timbul Karena Dosa Manusia

Mengapa manusia, bahkan manusia yang sangat saleh, menderita dalam dunia ini kendatipun ada Allah yang dipercaya maha kasih, maha adil, dan maha kuasa? Jawaban yang keempat adalah: penderitaan itu dialami manusia sebagai suatu hukuman Allah atas dosa manusia. Karena manusia berdosa, maka Allah menghukum manusia dengan menimpakan kepadanya penderitaan dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai tingkatan. Jadi di sini, penderitaan dipahami berasal dari suatu allah penghukum.

Bahtera Nuh dan bianglala:
allah penyelamat sekaligus allah penghukum!


Kita semua tahu mitos tentang banjir besar atau air bah yang melanda seluruh bumi pada zaman Nabi Nuh. Bacalah sekali lagi Kejadian 7-9. Sebelum air bah ini didatangkan, Allah konon berkata kepada Nuh, demikian, “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kejadian 6:13). Bayangkan, semua makhluk telah melakukan tindakan dosa berupa kekerasan! Karena dosa berbuat kekerasan ini, semua makhluk mau dilenyapkan sang allah penghukum ini, bahkan sang Allah pemurka ini juga mau melenyapkan bumi! Penderitaan yang membinasakan ini ditimpakan oleh Allah kepada semua makhluk, bukan hanya kepada manusia, dan bahkan kepada bumi yang sebetulnya sebagai sebuah benda mati tidak bisa berbuat dosa. Di seluruh Alkitab, tidak ada kisah lain yang mendongengkan pembinasaan yang sekejam ini oleh Allah atau yang lebih kejam dari yang ditimpakan kepada generasi Nuh. Lupakan Nuh yang katanya sangat saleh; fokuskan pikiran pada segala makhluk dan bumi yang segera mau dibinasakan allah! Yang dibinasakan dan dihukum mati oleh allah jauh, jauh lebih banyak daripada yang diselamatkan!

Kita tidak boleh berkata, ya kan sudah pantas kalau Allah menghukum segenap manusia, bahkan segenap makhluk, karena semua makhluk ini, kecuali Nuh, sudah berbuat dosa! Mengapa kita tidak boleh berkata seperti itu? Mengapa kita tidak boleh mempertahankan teodise dengan memandang penderitaan manusia sebagai sesuatu yang timbul karena dosa manusia terhadap allah? Ada tiga alasannya.


Pertama, kalau Allah itu memang maha pengasih (seperti dipertahankan dalam teodise), maka Allah ini juga harus mengasihi manusia yang berdosa, bukan membinasakannya. Juga, kalau Allah maha adil, dia harus memberi peluang pada manusia berdosa untuk berubah menjadi baik, sebab keadilan Allah juga mengharuskan Allah menyelidiki segala penyebab yang membuat manusia berbuat dosa, dan menangani penyebab-penyebab ini sebagai akar yang menyebabkan manusia berbuat dosa.


Kedua, dengan berkata seperti itu, kita akan memandang semua orang yang terkena bencana dan penderitaan sebagai manusia berdosa atau manusia durhaka, padahal banyak penderitaan dan bencana dialami manusia di dunia ini bukan karena kesalahan manusia itu sendiri, melainkan karena sebab-sebab lain yang berada di luar kekuasaan mereka untuk mengelakkannya, misalnya karena kecelakaan atau bencana alam yang dahsyat yang menimpa baik orang yang saleh maupun orang yang tidak saleh, atau karena perbuatan jahat orang lain.


Ketiga, kalau kita berpandangan seperti itu, maka kita akan mempertahankan terus konsep tentang suatu allah yang kejam dan penghukum. Konsep tentang Allah yang kejam dan penghukum ini sudah tidak sesuai dengan filsafat pendidikan modern dan psikologi pembangunan mental manusia. Dalam pandangan modern, seorang yang bersalah atau berdosa, dalam peringkat relatif tinggi atau peringkat relatif rendah, bukan harus dibinasakan atau dibunuh melalui penghukuman mati, melainkan harus di-re-edukasi, di-re-formasi, lalu diresosialisasi. Kita dulu menyebut penjara, sekarang tidak lagi, melainkan menyebutnya Lembaga Pemasyarakatan Khusus sebagai suatu tempat untuk reedukasi, reformasi dan resosialisasi manusia yang melanggar norma-norma umum hidup bermasyarakat yang beradab.


Jadi, mempertahankan teodise dengan mengasalkan penderitaan manusia pada diri suatu allah penghukum atas manusia yang berdosa, menimbulkan persoalan serius pada konsep manusia tentang allah. Dalam teodise yang semacam ini, allah menjadi allah penghukum, dan allah yang semacam ini jauh kalah baik jika dibandingkan manusia modern yang mau melakukan reedukasi, reformasi lalu resosialisasi terhadap warga masyarakat yang sudah menyimpang dari kaidah-kaidah bermasyarakat yang beradab.


Jelas, kita sulit menerima konsep tentang suatu allah penghukum dan pembinasa manusia yang berdosa. Allah yang semacam ini lebih banyak dikonsep oleh manusia primitif yang belum mengenal filsafat pendidikan humanistis dan psikologi modern pembangunan mental dan akhlak manusia.

Sunday, April 4, 2010

Problem Teodise (3):
Penderitaan sebagai "Kawah Candradimuka"

Gatot Kaca, putera Bima dan Dewi Arimbi.
Konon Gatot Kaca digodok di Kawah Candradimuka


Problem ketiga teodise muncul ketika orang beragama menyatakan bahwa seorang mukmin mengalami penderitaan karena dia sedang mengalami ujian atau pencobaan allah lewat penderitaannya itu. Penderitaan berat ini bisa ditimpakan oleh allah sendiri langsung kepadanya atau bisa juga oleh suatu perantara lain yang dipakai allah untuk mengujinya.

Dalam sudut pandang ini, penderitaan berat dilihat sebagai suatu “Kawah Candradimuka” yang ke dalamnya seorang mukmin dilemparkan untuk menggodoknya menjadi seorang mukmin yang tangguh setelah dia lulus ujian dan penggodokan. Dalam kebudayaan berbagai suku bangsa ada banyak kisah sejenis kisah Kawah Candradimuka. Konon, menurut epik Mahabharata, Kawah Candradimuka adalah kawah tempat para dewa merebus Gatotkaca sampai dia jadi bak bertulang besi, berotot kawat, dan kebal terhadap segala senjata, bahkan bisa terbang pula seperti sebuah pesawat Jet. Dalam kisah-kisah tentang dunia persilatan dari negeri Tirai Bambu, sang suhu konon sengaja menggojlok calon muridnya dengan memberi tugas-tugas sangat berat yang semula kelihatannya tak ada hubungannya dengan ilmu silat yang sedang dicari si calon murid. Ternyata semua tugas berat yang sebetulnya sangat mendera si calon murid, mulai dari memikul dua tong air besar bolak-balik sekian puluh kali setiap hari dari sebuah sumur ke suatu tempat lain yang jauh, sampai makan hanya boleh satu kali sehari berupa segenggam nasi, adalah semacam Kawah Candradimuka tempat penggodokan mental dan jasmani si calon murid sebelum dia belajar ilmu silat yang sebenarnya.

Tentu kita sepakat bahwa di dalam Perjanjian Lama terdapat sebuah kitab yang seluruhnya sebenarnya adalah sebuah narasi fiktif tentang teodise, yang menggambarkan penderitaan sebagai suatu ujian terhadap kesalehan seseorang. Yakni Kitab Ayub. Konon Ayub adalah seorang yang “saleh, jujur, takut akan tuhan dan menjauhi kejahatan” (1:1,8; 2:3), dan tidak ada seorang lain pun di bumi yang seperti dia (1:8b; 2:3). Tuhan allah sangat memuji diri Ayub di hadapan Iblis. Tetapi Iblis berpendapat lain; menurutnya Ayub dapat sangat saleh karena dia mendapat banyak sekali berkat material dari allah dan karena allah juga selalu membentenginya. Iblis menantang allah untuk mengambil kembali semua berkat material ini dari Ayub, bahkan juga mengambil nyawa semua anaknya, yakni tujuh putera dan tiga puteri. Jikalau allah melakukan hal ini, maka, kata Iblis, Ayub akan pasti mengutuki allah (1:11).

Lalu allah mengizinkan Iblis untuk melenyapkan semua kepunyaan Ayub, kecualinya nyawanya sendiri. Ternyata allah benar, penderitaan berat kehilangan semua miliknya tidak membuat Ayub mengutuki allah. Ditulis bahwa “dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh allah berbuat yang kurang patut” terhadap dirinya (1:22). Jadi, Ayub lulus ujian berat, dan imannya semakin teruji dan tergodok. Dalam kedukaan dan perkabungannya, Ayub sanggup berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dan dengan telanjang pula aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (1:21).

Iblis ternyata tidak berhenti di situ saja. Kali lain, ketika Iblis berada di hadapan allah dan allah kembali memuji-muji Ayub (2:3), Iblis menyatakan bahwa jika allah mengulurkan tangan dan menjamah tulang dan daging Ayub, maka Ayub akan pasti mengutuki allah (2:5). Kali ini kembali allah menyerahkan diri Ayub ke dalam kekuasaaan Iblis, kecuali nyawa Ayub. Maka Iblis pun menimpakan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batok kepalanya (2:7). Melihat keadaan yang menimpa Ayub ini, yang terus-menerus menggaruk-garuk badannya dengan sekeping beling sambil duduk di tengah-tengah abu, isteri Ayub berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah allahmu dan matilah!” (2:9). Dengan luar biasa Ayub menjawab isterinya, katanya, “Engkau berbicara seperti seorang perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (2:10).

Tetapi setelah itu, ketika ketiga sahabatnya mendatangi Ayub dan membuka percakapan panjang dengannya, Ayub anehnya berubah total. Sahabat-sahabat Ayub mempertahankan bahwa allah selalu benar dan selalu adil dalam setiap tindakannya terhadap orang-orang yang saleh, karena allah selalu bermaksud mendidik mereka (5:17), dan bahwa tidak seorang pun dapat “menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa” (11:7; 37:23). Dalam pandangan mereka, allah akan membinasakan orang-orang fasik, dan bukan orang saleh, dan penderitaan yang menimpa Ayub terjadi karena dosa Ayub yang besar (22:1-10). Tetapi bagi Ayub, ketiga temannya ini adalah “tabib-tabib palsu” (13:4), para “penghibur sialan” (16:2) yang berkata-kata dengan “tipu daya” (21:34), yang sedang “menghina dan menyiksa dirinya” (19:3).

Di hadapan mereka, Ayub mulai mengutuki hari kelahirannya (3:1-12). Ayub meminta agar allah segera melepaskan tangannya dan menghabisi nyawanya (6:9). Ayub bertanya apa dosa yang telah diperbuatnya kepada allah sehingga allah menjadikan dirinya sasarannya (7:20). Kata Ayub, orang “yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan Allah” (9:22). Tetapi Ayub membantah allah, katanya, “Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku” (10:2, 7), dan menegaskan dengan yakin bahwa dirinya benar, tidak bersalah dan tidak berdosa (13:18, 23; 31:1-40). Ayub menyatakan allah bermaksud membunuh dirinya, tetapi dia menyatakan bahwa dia mau membela perilakunya di hadapan allah (13:15). Dalam penderitaannya Ayub melihat bahwa Allah sedang “menerkam dan memusuhinya” (16:9; 19:11) dan “merobek-robek dan menyerang dirinya” (16:14). Di hadapan para pembela allah itu, Ayub menegaskan bahwa “allah telah berlaku tidak adil dan telah menebarkan jala” terhadap dirinya (19:6; 27:2) dan telah meninggalkannya (29:5) serta telah menghancurkan dan membawanya kepada maut (30:22-23), sementara orang-orang fasik dibiarkan allah hidup dalam kemakmuran, kesenangan dan keamanan dan berumur panjang (21:1-15). Karena itu, Ayub menyatakan pemberontakannya terhadap Allah yang semacam ini (23:2).

Nah, sekarang kita perlu bertanya, apakah penderitaan berat yang dizinkan allah ditimpakan kepada Ayub oleh Iblis telah berfungsi sebagai Kawah Candradimuka, yang menggodok dan semakin mematangkan kesalehan Ayub kepada Allah? Apakah setiap penderitaan berat sebagai suatu ujian dan cobaan dari allah akan pasti dapat ditanggung seorang mukmin dalam batas-batas kekuatannya, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Perjanjian Baru bahwa “pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab allah setia dan karena itu dia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Korintus 10:13 )? Ternyata tidak!

Dalam penderitaannya, Ayub memberontak kepada allah! Iman dan kesalehannya hancur lebur ketika didapatinya allah begitu kejam terhadap dirinya. Bukankah Ayub memang berhak “berontak” dan “mengutuki” allah karena allah telah sampai hati menyebabkan sepuluh anak kandungnya tewas dengan mengerikan? (1:18-19). Allah yang mengizinkan Iblis menghancurkan seluruh kehidupan Ayub dirasakan oleh Ayub sendiri sebagai suatu allah yang telah menyerang dan menghancurkan dirinya. Baginya, allah yang semacam ini bukan lagi allah yang maha pengasih dan maha penyayang dan maha pelindung. Allah yang semacam ini adalah allah yang tidak bermoral, yang tidak tahu membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk; dan karena sifatnya yang tidak bermoral ini, allah yang semacam ini tidak bisa merasakan betapa buruk dan kejinya penderitaan berat yang dialami Ayub atas izin dan kehendaknya!

Kesimpulannya: memandang suatu penderitaan berat sebagai sebuah ujian iman dan kesalehan yang dikenakan allah terhadap seorang mukmin memerlukan suatu konsep tentang allah yang tidak bermoral dan suka bertindak sewenang-wenang. Betapa tidak! Ayub telah menjadi seorang korban dari allah yang suka bermain-main dengan Iblis sebagai simbolisasi kejahatan dan kondisi kehidupan tanpa moralitas! Tentu seorang mukmin bisa menjadi lebih dewasa lewat kesulitan-kesulitan yang dialami dalam kehidupannya. Kita tentu setuju dengan hal ini. Tetapi apa yang dialami Ayub bukanlah sekedar suatu kesulitan yang bisa makin mendewasakan dirinya, tetapi sebuah bencana, deraan dan kehancuran total kehidupan yang didatangkan allah yang semula disembahnya!

Anda yang mengenal Kitab Ayub mungkin akan berkeberatan terhadap kesimpulan di atas, dengan menyatakan bahwa pada akhirnya allah tokh memulihkan kesehatan Ayub dan mengembalikan dua kali lipat semua kekayaan yang pernah dimilikinya, termasuk memberikannya kembali sepuluh anak (42:7-17). Keberatan semacam ini dapat dijawab dengan dua poin berikut. Pertama, tuturan Ayub 42:7-17 ini tidak bisa dijadikan sebagai suatu alasan untuk mengabaikan dan menihilkan penderitaan berat Ayub dan perlawanannya sebelumnya kepada allah ketika dia menderita sakit luar biasa dan telah kehilangan segalanya. Sebuah tindak malpraktek seorang dokter tetap harus membuat dirinya dituntut secara hukum kendatipun si pasien yang menjadi korban kemudian tertolong! Kedua, penulis Kitab Ayub mau mempertahankan sebuah teodise bahwa allah yang maha kuasa, maha berdaulat dan maha perkasa atas segenap ciptaannya berhak menimpakan penderitaan kepada Ayub (38:1-41:25) karena penderitaan berat dari allah dimaksudkan allah untuk mendidik Ayub, dan Ayub dipaksa harus bisa menerima tindakan allah ini (42:1-7). Bagi si penulis Kitab Ayub, problem teodise tidak ada, sebab allah yang mahakuasa berhak berbuat apa saja, termasuk bertindak keji, terhadap semua ciptaannya, termasuk terhadap manusia yang beriman kepadanya. Jika memang demikian, ini adalah suatu teodise yang sangat mengerikan dan gagal mempertahankan sifat maha kasih allah, dan sebaiknya jika suatu agama mengajarkan teodise semacam ini, orang yang berpikiran sehat tidak perlu memeluk agama jenis ini.



Monday, March 29, 2010

Problem Teodise (2):
Penderitaan Muncul Karena Allah Bersembunyi!

Elie (=Eliezer) Wiesel, novelis termashyur, di bln Januari 2009. Kata Wiesel, ketika jutaan orang Yahudi dibunuh di kamp-kamp konsentrasi Nazi dalam era PD II, Allah Yahudi telah ikut terbunuh sehingga bangsa Yahudi disengsarakan tanpa Allah penolong

Sebuah jalan keluar lain dari problem teodise dapat ditemukan dalam gambaran Alkitab tentang Allah yang menyembunyikan diri dari kehidupan orang saleh. Selama Allah masih bersama dengan orang saleh, Allah berfungsi sebagai suatu benteng atau sebuah perisai yang melindungi mereka dari segala penderitaan, penganiayaan dan semua musuh (lihat antara lain 2 Samuel 22:2-4; Mazmur 18:3-4; Yeremia 16:19a). Jika Allah menyingkir dari orang saleh, maka orang saleh ini rentan diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat kodrati maupun adikodrati, yang membuat mereka tersiksa dan teraniaya.

Dari kisah fiktif dalam Perjanjian Lama tentang Ayub yang sangat saleh, kita tahu bahwa penderitaan menerpa Ayub tak habis-habisnya ketika Allah menyingkir dari kehidupan Ayub dan Setan dibiarkan Allah berkuasa atas dirinya (Ayub 1:12; 2:6). Selama Ayub masih dalam penjagaan dan perlindungan allah, Ayub sukses besar dan makmur dalam segala segi kehidupannya. Ketika Allah menarik diri dan menjauh dari Ayub, sekian azab menghancurkan seluruh kehidupan Ayub.

Penulis Mazmur 89:47-52 dengan berat mengeluh bahwa dia menerima berbagai macam penghinaan dari segala bangsa ketika Allah bersembunyi dari dirinya terus-menerus. Penulis Mazmur 10:1 bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, Ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?”

Dalam suatu momen kegiatannya selaku seorang nabi Allah, nabi Yesaya sampai menyatakan bahwa Allah telah menyembunyikan diri-Nya (Yesaya 45:15), mungkin karena bangsa Israel tidak bisa melihat bagaimana Allah mereka bekerja, sehingga mereka tidak bisa melihat tangan Allah Yang Maha Esa (45:5, 14) sedang menggerakkan Koresh, Raja Persia, sebagai Mesias pilihan Allah sendiri (44:28; 45:1, 13).

Menurut penulis Injil Markus, ketika Yesus menanggung azab di kayu salib, di manakah Allah yang Yesus biasa panggil dengan akrab sebagai sang Abba, sang Bapa? Menurut penulis injil ini, ketika Yesus mengerang kesakitan di kayu salib, Allah telah meninggalkan dirinya, sehingga Yesus pun menderita sendirian. Dalam kesakitannya, Yesus berteriak keras kepada Allahnya ini, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang artinya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34). Yesus sengsara di kayu salib karena Allah telah menyingkir darinya. Seandainya Allah masih bersama Yesus, dia tidak akan mati disalibkan. Yesus di sini, dalam tuturan Markus, terperangkap dalam sebuah problem teodise: Mengapa Allah meninggalkan orang yang saleh seperti dirinya ini sehingga dia menderita?

Pada waktu bangsa Yahudi dianiaya dan dibantai oleh rezim Hitler yang berkuasa atas negeri Jerman dari 1933 sampai 1945 selama Perang Dunia II, orang Yahudi bergumul amat sangat di mana Allah mereka berada. Sekian jawaban diberikan oleh bangsa Yahudi, oleh para ahli teologi mereka. Kita kenal Elie Wiesel. Dia adalah seorang Yahudi yang selamat dari Holokaus setelah masuk ke kamp-kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Buna, Buchenwald dan Gleiwitz, yang kemudian termashyur di dunia melalui novel-novelnya, khususnya melalui satu novel pertamanya tentang Holokaus yang berjudul Night, dan seorang peraih Hadiah Nobel Perdamaian pada 1986. Apa kata Wiesel tentang di mana Allah berada ketika jutaan orang Yahudi dianiaya, disengsarakan dan dibunuh oleh Nazi? Dalam suatu bagian novel Night ini, Wiesel bukan hanya menyatakan Allah tersembunyi, tetapi Allah sungguh-sungguh telah terbunuh. Tulisnya, “Tak kan pernah kulupakan momen-momen itu yang telah membunuh Allahku dan jiwaku dan mengubah mimpi-mimpiku menjadi debu.” Ya, bagi Wiesel, Allah telah tiada, karena terbunuh, sehingga bangsa Yahudi menderita azab besar tanpa penolong!

Dengan menyatakan bahwa Allah tidak hadir, bahwa Allah menjauh, bahwa Allah bersembunyi, bahwa Allah telah terbunuh, maka penderitaan yang menimpa orang-orang saleh jelas tidak dapat diasalkan pada diri Allah ini. Penderitaan dialami orang saleh bukan karena Allah yang menimpakannya kepada mereka. Bukan! Tetapi karena ada kekuatan-kekuatan lain yang dengan bebasnya menyengsarakan umat, tanpa bisa dihentikan oleh Allah karena Allah memang sedang tidak hadir di tempat ketika penderitaan menerjang umat Allah. Apakah argumen semacam ini berhasil mengatasi problem teodise, dan tidak menimbulkan sejumlah problem lain? Hemat saya, tidak, berdasarkan beberapa alasan berikut.

Pertama, kalau Allah bisa tersembunyi, bisa tidak hadir, bisa tiada, maka hilanglah sifat maha hadir dan maha penolong Allah yang sebetulnya ingin dipertahankan dengan kuat dalam teodise.

Kedua, kalau Allah bisa tidak hadir, dan sebagai ganti diri-Nya ada kekuatan-kekuatan lain yang jahat, yang sedang berkuasa atas diri umat Allah, maka hilanglah juga sifat maha kuasa Allah.

Ketiga, kalau karena Allah bersembunyi umat menjadi sengsara atau rentan terhadap serangan penderitaan, maka Allah yang semacam ini dapat diibaratkan sebagai seorang ayah yang tidak bertanggungjawab, tega hati dan pengecut, yang lari bersembunyi ketika anak-anaknya sedang atau akan dianiaya orang-orang jahat. Konsep tentang Allah yang semacam ini sama sekali tidak bisa diperdamaikan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mau ditegakkan dalam suatu masyarakat yang bertanggungjawab.

Keempat, orang ateis adalah orang yang menyatakan bahwa Allah tidak ada. Kalaupun para agamawan berpendapat bahwa Allah memang ada pada diri-Nya sendiri, orang ateis tidak memerlukan Allah ini sebagai sang pelindung maha kuasa mereka. Dari 6, 78 milyar penduduk dunia dalam dekade pertama abad XXI ini, 1,1 milyar adalah orang ateis. Apakah semua orang ateis dalam jumlah sangat besar ini dengan demikian tidak terlindung dan karenanya akan selalu didera kekuatan-kekuatan jahat sehingga mereka sengsara? Kenyataannya tokh tidak demikian! Artinya: ketidakhadiran Allah tidak otomatis akan menimbulkan penderitaan bagi manusia. Manusia pada dirinya sendiri dan melalui sains dan teknologi dapat melindungi diri dari banyak bentuk penderitaan. Ketidakhadiran Allah malah bisa membuat orang makin mandiri, makin dewasa dan makin tegar dalam menjalani kehidupan dalam dunia ini.

Kelima, jika seorang saleh menginginkan kehidupannya terbebas dari segala bentuk penderitaan dengan terus-menerus meminta Allah tetap hadir untuk melindungi dirinya, maka bisa terjadi si orang saleh ini akan menolak semua bentuk perlindungan dan pertolongan yang dapat diupayakan manusia melalui sains dan teknologi modern. Banyak sekali orang saleh di dunia ini dengan fanatik (baca: dengan bodoh) menolak pertolongan medis apapun karena mereka hanya bergantung pada Allah mereka melalui doa-doa dan ritual-ritual mereka untuk kesembuhan penyakit mereka atau penyakit sanak famili mereka. Akibatnya, ya dari antara mereka atau dari antara sanak famili mereka banyak yang mati karena “iman” yang bodoh dan tidak cerdas! Supaya hal buruk ini tidak terjadi, orang beriman perlu menyadari dan menerima bahwa “iman kepada Tuhan” itu memiliki batas-batas yang tidak boleh dilewati, jika mereka menginginkan kehidupan yang sehat.

Keenam, ihwal hadir atau tidak hadirnya Allah sebetulnya bukan ditentukan oleh diri Allah itu sendiri, tetapi ditentukan sendiri oleh manusia secara subjektif dalam teologi yang dikonsepnya sendiri. Bisa terjadi dalam suatu bencana dahsyat, seorang mukmin akan mengklaim bahwa dia merasa Allah ada di tengah kehidupannya, sementara seorang mukmin lainnya akan menyatakan bahwa Allah telah meninggalkan dirinya. Jadi, hemat saya, daripada memperdebatkan apakah Allah hadir atau Allah absen di dalam suatu kesulitan yang sedang menimpa manusia, jauh lebih konstruktif jika kita semua mau bertindak secara rasional untuk mengatasi berbagai macam penderitaan yang sedang menimpa umat manusia melalui berbagai macam kerja nyata kita di dalam masyarakat.

Ketujuh, jika kehadiran dan penyertaan Allah dipercaya sebagai sumber semua kemakmuran, kesenangan dan keberhasilan, maka konsep teologis semacam ini bisa berbahaya buat kehidupan etis manusia. Bahayanya di mana? Bahayanya: orang bisa berpura-pura melupakan bahwa harta kekayaan yang mereka miliki sebenarnya bersumber dari tindak pidana korupsi atau perbuatan melanggar hukum lainnya; lalu, sebagai gantinya, mereka akan mengklaim bahwa semua harta kekayaan dan sukses mereka itu diperoleh sebagai berkat-berkat Allah yang maha baik dan maha hadir dalam kehidupan mereka. Jadi, di sini teologi dibuat untuk melegitimasi perbuatan tidak bermoral.

Itulah tujuh masalah yang muncul jika problem teodise mau diselesaikan dengan konsep tentang Allah yang tersembunyi atau tidak hadir.

Sunday, March 21, 2010

Problem Teodise (1):
Penderitaan Berasal dari Setan

Setan Versus Allah, Ataukah Setan Dan Allah?

Saya mau menyoroti teodise dalam beberapa tulisan. Saya mulai dengan pengertian teodise. Istilah
teodise dibentuk dari dua kata Yunani: theos (allah) dan dikē (keadilan). Jadi, teodise adalah doktrin tentang keadilan allah.

Orang yang menganut teodise mempercayai bahwa allah yang mahakuasa, maha pengasih dan maha penyayang dan maha adil, akan senantiasa berbuat adil dan penuh cinta kepada kaum mukmin yang percaya total kepadanya. Bagi mereka, menyembah allah yang semacam ini akan menyebabkan mereka terhindar dari keburukan, nestapa, penderitaan dan bencana.

Tetapi... keyakinan mereka ini bertabrakan dengan kenyataan kehidupan yang mereka lihat di sekitar mereka dan di dalam kehidupan mereka sendiri. Ternyata ada banyak penderitaan dialami orang saleh. Malah orang jahat bertambah makmur dalam kehidupan mereka. Kenyataan kehidupan yang semacam ini membuat mereka bergumul, dan lahirlah dari pergumulan mereka ini apa yang disebut the theodicy problem, problem teodise: Bagaimana allah masih tetap bisa dipercayai sebagai allah yang maha pengasih dan penyayang, maha kuasa dan maha adil, sementara kenyataan kehidupan sangat bertentangan dengan apa yang mereka harapkan diberikan allah ini kepada dunia dan khususnya kepada orang-orang saleh.

Problem teodise hanya muncul dalam agama-agama monoteistik yang tidak memberi tempat kepada satu (atau lebih) hakikat adikodrati lainnya di samping allah yang maha esa dan maha kuasa. Konsep keesaan allah atau tawhid ini dipertahankan kuat-kuat ketika suatu umat beragama monoteistik tidak sedang menghadapi penganiayaan atau penderitaan berat yang ditimpakan oleh suatu pemerintahan dunia yang jahat dan kejam.

Tetapi konsep keesaan tuhan atau tawhid semacam ini diubah secara radikal ketika umat sedang menghadapi suatu penganiayaan dan deraan berat yang tak tertahankan, yang ditimpakan atas mereka oleh suatu pemerintahan lalim yang sedang berkuasa di dunia. Konsep keesaan allah atau tawhid ini, dalam situasi penderitaan berat semacam ini, diubah oleh umat minimal menjadi konsep diteisme dualistik kosmik. Dalam konsep ini dibayangkan ada suatu kekuatan lain adikodrati, di samping allah yang maha esa, yang sedang berkuasa di dalam dunia ini, yang sedang melawan allah yang maha esa. Dengan demikian, ada dua penguasa adikodrati dalam kosmos yang sedang bertarung satu sama lain, penguasa jahat melawan penguasa baik. Konsep ini disebut diteisme dualistik kosmik.

Berbagai umat beragama memberi nama berbeda-beda kepada penguasa adikodrati jahat lainnya ini yang sedang melawan tuhan yang maha kuasa. Umat agama-agama monoteistik umumnya memberi nama Setan atau Iblis kepada hakikat adikodrati tandingan allah yang maha kuasa ini. Umat Hindu memberinya nama Siva. Para penganut Zoroastrianisme memberinya nama Ahriman, yang terpersonifikasi sebagai Angra Mainyu, sang ilah jahat yang sedang melawan sang ilah baik yang diberi nama Spenta Mainyu (mediator allah yang maha kuasa, yang diberi nama Ahura Mazda). Dalam tradisi biblis Kristen, dikenal nama Antikristus sebagai sang penguasa jahat yang sedang melawan Yesus Kristus.

Nah, dengan diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik ini (bahwa di dalam kosmos atau jagat raya ini terdapat dua kekuatan adikodrati yang sedang bertarung satu sama lain) sebagian problem teodise dipecahkan. Ketika orang bertanya, mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, mengapa orang saleh dianiaya, sebuah jawaban sudah tersedia: penderitaan itu ada karena ada sang penguasa jahat di dalam kosmos ini yang menjadi sumber semua penderitaan manusia.

Jadi, penderitaan dan kesengsaraan timbul bukan karena perbuatan allah yang maha kuasa, maha kasih dan maha penyayang, melainkan karena perbuatan keji sang penguasa jahat tandingan allah yang maha baik. Dengan demikian, sifat maha baik dan maha kasih allah berhasil dipertahankan. Tetapi, pada pihak lainnya, muncul sebuah problem lain: jika memang ada satu (atau lebih) penguasa jahat dalam kosmos ini, yang bisa melawan dan menandingi allah, maka tawhid dan sifat maha kuasa allah terongrong bahkan ditiadakan. Ya, itulah memang akibat dari diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik. Masalah ini tentu sudah dipikirkan oleh para pencetus konsep diteisme dualistik kosmik ini. Mereka sudah memiliki jalan keluarnya.

Dalam keyakinan para pendukung diteisme dualistik kosmik, sang penguasa supernatural jahat itu hanya berkuasa sementara dalam dunia ini. Sang penguasa adikodrati yang kejam ini tidak dibiarkan allah yang maha kuasa dan maha baik untuk berkuasa selamanya dalam kosmos ini. Pada akhir zaman, ketika dunia dan sejarah manusia berakhir, sang penguasa jahat ini akan dikalahkan oleh allah yang maha kuasa dan maha baik dalam suatu pertempuran kosmik di kawasan adikodrati. Bukan hanya dikalahkan, tetapi juga sang penguasa jahat ini beserta segenap antek insaninya dalam dunia, akan mengalami pembalasan allah habis-habisan, minimal setimpal dengan kejahatan dan kekejian yang mereka pernah lakukan terhadap umat allah. Mereka akan dibelenggu, dirantai dan dipenjarakan dalam neraka kekal sampai selamanya. Pada sisi lain, suatu dunia baru diciptakan allah yang maha baik dan maha adil untuk umat yang pernah disengsarakan dan didera sang penguasa jahat dan antek-antek insaninya.

Para pengonsep diteisme dualistik kosmik berbeda pandangan ketika mereka membayangkan bentuk dunia baru ini. Ada yang membayangkan dunia baru ini berada di luar sejarah, di kawasan supernatural, dan sama sekali tidak ada kaitannya lagi dengan dunia lama. Pandangan ini paling umum dipegang.

Namun ada juga yang memandang dunia baru ini sebagai suatu kelanjutan dan penyempurnaan dunia lama di kawasan kodrati, dunia baru yang sudah dibersihkan dari segala kejahatan dan penderitaan yang pernah dilakukan dan didatangkan sang penguasa jahat yang kini sudah dikalahkan dan sedang dihukum selamanya di kawasan adikodrati.

Bagaimanapun juga, kedua sudut pandang ini sama-sama meyakini bahwa dunia yang sekarang didiami manusia sudah tidak bisa diharapkan lagi, sehingga harus diganti dengan dunia yang sempurna sepenuhnya, yang akan didatangkan allah yang maha kuasa dan maha pengasih.

Nah, semua konsep yang sudah diulas di atas disebut apokaliptisisme. Kata ini berasal dari kata Yunani “apokalipsis”, yang artinya “wahyu” atau “penyingkapan ilahi”. Disebut demikian karena semua hal yang akan terjadi di akhir zaman, mulai dari ihwal kapan akhir zaman tiba, ihwal dikalahkannya segala penguasa jahat di dalam suatu pertempuran kosmik sampai pada ihwal pembalasan allah dan kedatangan dunia baru, diketahui umat hanya lewat wahyu atau penyingkapan ilahi yang disampaikan oleh allah sendiri atau oleh seorang malaikat perantara kepada seorang nabi yang berasal dari antara umat.

Ya, apokaliptisisme bisa menyelesaikan problem teodise dengan memunculkan figur Setan atau Iblis atau Antikristus atau Ahriman atau Angra Mainyu sebagai biang keladi semua penderitaan dalam dunia ini, sambil tetap mempertahankan sifat maha adil dan maha baik allah, dan juga dengan memulihkan kembali kemahakuasaan allah pada akhir zaman. Tetapi sekian problem lainnya juga muncul, sebagai berikut.

Pertama, diteisme dualistik kosmik atau apokaliptisisme muncul dari pesimisme atau rasa putus asa manusia terhadap keadaan dunia masa kini. Menurut pandangan apokaliptis, dunia sekarang ini, karena sedang dikuasai Setan atau Iblis melalui antek-antek insaninya, sudah sedemikian jahat tak tertolong, sehingga harus dilenyapkan sama sekali dan diganti dengan suatu dunia baru di luar sejarah atau pun di dalam sejarah. Pesimisme atau rasa putus asa umat beragama semacam ini bertentangan dengan usaha sebagian besar umat manusia lainnya, yang terus bekerja dengan penuh pengharapan untuk membuat dunia kita sekarang ini makin lebih baik lagi dari waktu ke waktu melalui kerja keras dan kerja cerdas di dunia sains dan teknologi dan melalui berbagai usaha global lainnya untuk menjadikan planet Bumi ini tempat yang makin baik untuk semua makhluk hidup.

Kedua, apokaliptisisme mendambakan dan menjanjikan suatu kehidupan yang seluruhnya adil, baik dan sempurna bagi manusia, entah kehidupan semacam ini dialami dalam dunia ini ataupun akan dialami nanti ketika akhir zaman tiba. Jelas, ini adalah suatu visi yang utopis dan tidak realistik. Dunia yang sempurna semacam ini tidak akan pernah ada bagi manusia kapanpun juga. Dalam realitas kehidupan, kapanpun juga manusia tetap akan hidup dalam kenyataan-kenyataan gabungan antara kebaikan dan kejahatan, keberhasilan dan kegagalan, suka dan duka, cinta dan kebencian, dan seterusnya. Kenyataan-kenyataan gabungan ini adalah kenyataan-kenyataan kodrati, yang terstruktur dalam tata kosmik, dan akan tetap ada sampai selamanya. Ketimbang terhanyut dalam suatu visi eskapisme yang utopis dan tidak realistik, jauh lebih baik jika kita membina diri kita dan diri manusia umumnya untuk dapat hidup dengan lebih baik, lebih berhasil, lebih bersukacita dan lebih menyayangi, dari saat ke saat, sambil tetap tabah ketika menghadapi kenyataan-kenyataan lain yang membuat manusia menderita.

Ketiga, apokaliptisisme mendorong kaum mukmin untuk cepat-cepat masuk ke dalam suatu dunia sempurna yang didalamnya Iblis atau Setan atau Antikristus sudah tidak ada atau sudah dikalahkan total, karena mereka sudah tidak tahan hidup dalam dunia sekarang ini, yang tidak memenuhi visi ideologis atau angan-angan utopis religius mereka sendiri. Dorongan ini, kita tahu, banyak kali memunculkan tindakan-tindakan kekerasan seperti terorisme yang bertujuan, pada titik ekstrimnya, untuk melalui perang nuklir sejagat melenyapkan planet Bumi ini yang mereka bayangkan sedang dikuasai si Setan Besar Amerika Serikat atau si Setan Besar Arab Saudi, misalnya.

Keempat, apokaliptisisme sebetulnya mengajarkan kaum mukmin untuk terus membenci orang-orang lain yang menyengsarakan mereka, dan terus menyumpahi mereka untuk segera mati dan masuk neraka sebagai bentuk penghukuman allah atas mereka yang seadil-adilnya. Tentu kita bisa memaklumi kalau orang tidak bisa menyetujui atau membenci orang-orang yang berlaku jahat kepada mereka. Kita juga bisa memahami kalau orang menginginkan orang jahat dihukum seberat-beratnya demi keadilan dan demi menimbulkan efek jera pada semua kriminal. Tetapi, suatu ajaran agama yang terus-menerus membuahkan kebencian dan amarah dalam diri kaum mukmin bukanlah ajaran agama yang baik dan sehat, apalagi jika ajaran agama ini membentuk kaum mukmin untuk baru terpuaskan jika dendam mereka kepada orang lain terbalaskan di akhirat, yakni ketika orang jahat dimasukkan ke dalam neraka dan mereka, sebagai orang baik, dimasukkan ke dalam surga.

Bukankah ajaran agama yang baik dan sehat adalah ajaran yang membentuk kaum mukmin untuk bisa memaafkan orang-orang yang bersalah sekalipun orang-orang yang bersalah ini telah berlaku sangat jahat terhadap mereka? Selain itu, hati yang terus diisi dengan amarah dan dendam dan sumpah akan membuat manusia tidak pernah bisa hidup sejahtera di dalam dunia ini, dan malah sebaliknya akan membuatnya sakit jiwa dan sakit pikiran terus-menerus.

Kelima, para penganut apokaliptisisme melihat Setan atau Iblis, sebagai makhluk rohani yang tidak kasat mata, sebagai sumber semua kejahatan dan penderitaan manusia. Sudut pandang semacam ini membuat mereka gagal atau tidak mau melihat bahwa semua penderitaan dalam dunia ini dapat dicari sebab-sebabnya pada hal-hal duniawi, kodrati dan manusiawi, misalnya karena cara hidup yang salah, karena kondisi alam yang buruk, karena bencana alam, atau karena sistem keamanan masyarakat yang tidak dapat diandalkan, atau karena sistem hukum dan sistem ekonomi serta sistem politik yang tidak baik dan tidak adil dalam suatu negara. Apokaliptisisme mencari keselamatan di dalam dunia yang kiamat, bukan di dalam dunia sekarang ini, yang di dalamnya semua sistem penyelenggara kehidupan perlu diperbaiki sehingga menjadi lebih baik bagi semua orang.

Terakhir, keenam, apokaliptisisme menjanjikan penyelesaian suatu perkara kejahatan duniawi di luar sejarah dan di luar dunia yang belum tentu akan pernah ada. Karena terus-menerus menunggu akhir zaman yang diberitakan akan segera terjadi, namun dalam kenyataannya tidak pernah terjadi, kaum mukmin yang dibesarkan dalam pemikiran apokaliptisisme menjadi lupa bahwa sebetulnya penyelesaian atas masalah kejahatan dan penderitaan dalam dunia ini dapat diperoleh dalam dunia ini sekarang ini dengan adil, misalnya melalui pengadilan negara atau pengadilan internasional yang sekarang ini berpusat di Den Haag, Belanda. Apokaliptisisme lahir dalam zaman kuno ketika sistem hukum internasional belum ada, lembaga pengadilan internasional atas kejahatan kemanusiaan di aras global belum dibangun, dan PBB belum didirikan, ketika ada sangat banyak penyakit yang belum dapat diobati, ketika sains dan teknologi belum semaju sekarang ini yang telah terbukti banyak membantu manusia dalam meringankan atau malah mengalahkan penderitaan.

Wednesday, November 11, 2009

Manajemen Pikiran (5)

mind and religiosity

Pada bagian akhir sebuah tulisan yang lalu, saya bertanya, apakah tidak ada nilai positif pada teodise. Kalau teodise dipikirkan sebagai sebuah keyakinan teologis bahwa karena allah YME itu mahakuasa, mahatahu, mahakasih, mahapenolong dan mahadil, maka dia akan senantiasa meluputkan seorang mukmin dari segala bencana, teodise yang semacam ini umumnya merusak dan mendemoralisasi si mukmin ketika dia sedang mengalami bencana yang tidak bisa diterimanya dengan ikhlas. Karena itu, kalau teodise kita kehendaki dapat memberi sebuah dampak positif pada manusia yang sedang menderita, kita harus membuat satu atau dua modifikasi pada konstruk pemikiran teologis ini. Pikiran kita harus dirombak cukup mendasar untuk kita bisa hidup tenteram dan ikhlas di tengah bencana sementara kita dapat tetap memegang kepercayaan bahwa allah itu mahakasih dan mahaadil. Merombak pikiran adalah salah satu langkah efektif dalam manajemen pikiran agar pikiran kita memberi kita ketenteraman dan kekuatan serta keikhlasan dalam kehidupan kita. Pikiran tentang allah yang kita rombak, akan berpengaruh positif pada sisi kerohanian kita.

Saya mulai dengan suatu pengalaman nyata yang umumnya dialami setiap orang ketika dia sedang mengalami suatu persoalan berat atau suatu kesusahan, misalnya ketika dia sedang menanggung suatu penyakit berat yang tak tersembuhkan. Sebutlah yang sedang menanggung suatu penyakit berat ini teman kita si A, seorang yang dikenal taat beragama dan menaruh kepercayaan penuh pada tuhannya. Dia sudah tahu bahwa penyakitnya sudah tak dapat disembuhkan lagi, dan bahwa dia tinggal menunggu waktu saja untuk meninggal. Pergumulan teologisnya di sekitar persoalan teodise sama sekali belum berakhir: sekian pertanyaan dan tuduhan berat masih senantiasa si A ajukan kepada tuhannya. Sisi kerohanian kehidupannya sedang rapuh, kalau tidak mau dikatakan sudah hancur lebur. Tetapi ada sesuatu yang menakjubkan terjadi pada dirinya.

Meskipun secara spiritual si A sedang lemah, tetapi sikap-sikapnya terhadap penyakit yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri menunjukkan suatu perkembangan positif: dia dari hari ke hari makin bisa menerima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan lagi, dan bahwa dia perlu mempersiapkan diri dengan tenang dan ikhlas untuk menerima ajal tidak lama lagi. Mengapa sikap positif semacam ini bisa muncul dan makin mantap di dalam dirinya sementara imannya kepada tuhannya sudah hancur total?

Tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap dirinya sehingga dia dapat memperlihatkan sikap-sikap positif semacam ini. Tetapi faktor yang sangat menentukan tidak lain adalah dukungan dan empati psikologis yang tulus, yang diterimanya dari para kekasihnya dan dari orang-orang di sekitarnya selama dia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya, yang akhirnya harus diserahkannya kepada kekuasaan penyakitnya. Istrinya yang tabah senantiasa menemaninya, senantiasa menghibur, senantiasa menguatkannya, senantiasa menunjukkan suatu empati besar terhadap azabnya, kendatipun sang istri diketahuinya tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menyembuhkannya. Tim dokter dan jururawat yang menangani penyakitnya dan merawat fisiknya juga memberikan perhatian dan empati yang sama besar, meskipun mereka dimakluminya sudah tidak akan bisa menyembuhkannya. Dan, lebih khusus lagi, si A selalu didampingi oleh seorang teman karibnya yang juga memberikan empati dan perhatian yang sangat besar. Sahabat karibnya ini tidak pernah mengkhotbahinya agar dia jangan memberontak dan durhaka kepada allah, tetapi lebih banyak berdiam diri dan melalui sikap diamnya ini dia memperlihatkan diri sebagai seorang yang ikut menderita bersamanya, sebagai seorang yang sedalam-dalamnya ikut menanggung sakit-penyakitnya kendatipun dia sama sekali tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkannya. Temannya ini, dan semua kekasih dan orang yang merawat dirinya, terus memperlihatkan kesetiaan dan empati mereka untuk terus berada bersamanya bahkan sampai ajal datang kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa setia menemani, ikut berbelarasa sedalam-dalamnya, sampai kapanpun selama dia masih hidup.

Nah, jika si A di hari-hari terakhir kehidupannya bisa memperlihatkan sikap-sikap positif terhadap penderitaan yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri karena dukungan dan empati psikologis yang demikian besar dan bertahan sampai akhir dari orang-orang di sekitarnya kendatipun orang-orang ini tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkan, maka kita perlu memegang suatu konsep tentang allah yang sejalan. Jika teodise mau memberikan suatu dampak positif terhadap kaum mukmin yang sedang ditimpa bencana berat, konsep tentang allah yang mahakuasa dan mahapenolong harus kita ganti dengan konsep tentang suatu allah yang tidak mahakuasa dan tidak mahapenolong, tetapi mahasetia dan mahaberempati terhadap kaum mukmin yang percaya kepadanya, yang sedang menanggung penderitaan berat. Konsep tentang allah yang semacam ini adalah suatu konsep tentang allah yang berwajah dan bertabiat sangat insani, sangat setia dan berbelarasa terhadap setiap mukmin yang menderita kendatipun sang allah ini, seperti manusia pada umumnya, lebih banyak tidak berdaya dalam melawan penderitaan dan kematian. Dalam kepercayaan Yahudi-Kristen, konsep tentang allah yang semacam ini diungkap dalam satu kata terkenal, yakni Immanuel, artinya “allah bersama kita”, dan dalam teologi inkarnasi: allah menjadi manusia dengan menyandang semua kodrat keinsanian, dan juga dalam teologi kenosis: allah mengosongkan dirinya total, menjadi seorang manusia sepenuhnya yang bahkan tidak berdaya sama sekali ketika harus menghadapi kenyataan kematian. Allah yang semacam ini tidak mahakuasa, tidak mahapenolong, tetapi tetap mahakasih, mahaadil, mahamenyertai dan mahaberbelarasa.

Jika seorang mukmin yang sedang menanggung azab dan kesengsaraan berpikiran demikian tentang allahnya, pikirannya ini akan berpengaruh pada sisi kerohaniannya. Dalam penderitaannya, si mukmin yang memegang teologi kesetiaan, belarasa sekaligus ketidakberdayaan allah semacam ini tetap bisa merasakan allah-nya begitu dekat dengan dirinya, bahkan menyatu dengan dirinya dan ikut bersamanya menanggung sakit penyakitnya sampai ajal mendatangi dirinya. Nah, manage-lah pikiran anda dan sahabat-sahabat anda sedemikian rupa sehingga anda dan mereka sanggup melepaskan suatu konsep tentang allah yang mahakuasa, dan sebaliknya merangkul suatu konsep tentang allah yang sangat insani: tidak mahakuasa, tetapi tahu apa artinya menampakkan persahabatan dan belarasa kepada kaum mukmin yang sedang menderita sampai ajal menjemput diri mereka.

Friday, October 23, 2009

Manajemen Pikiran (3)

Tsunami di Gaza

Kalau dalam tulisan Manajemen Pikiran 2 fokus diarahkan pada segi kebaikan dan kemurahan alam, tulisan yang sekarang itu dipusatkan pada segi lainnya yang bertolakbelakang, yakni segi keburukan dan kekerasan alam. Saya ragu-ragu untuk menyatakan bahwa alam pada dirinya sendiri tidak memiliki hati nurani, atau sebagai sesuatu yang netral, sehingga sebetulnya orang tidak dapat berbicara mengenai segi baik dan segi buruk alam.


Saya pikir saya akan terus bertanya-tanya, apakah pada dirinya sendiri alam tidak memiliki kesadaran nurani sementara hukum-hukum dan kekuatannya yang bekerja di segenap jagat raya telah dan akan terus menghasilkan banyak kebaikan, keteraturan, pesona, keindahan dan kehidupan yang berkesadaran seperti dijumpai dalam tetumbuhan, hewan dan tentu saja manusia sebagai suatu bagian dari dunia hewan. Fauna dan flora yang tercipta dalam alam, apa bukan suatu bukti bahwa alam ini sendiri, nature in itself, memiliki suatu kehidupan yang berkesadaran, a conscious life? Saya belum mau menjawab pertanyaan yang sangat penting dan mengganggu ini sekarang.

Saya sekarang ini hanya mau mengingatkan bahwa janganlah kita cepat-cepat menghipotesiskan adanya suatu “allah” yang terpisah radikal dari alam, yang memiliki kesadaran diri bahkan kepribadian dan kekuatan kreatif, yang telah menciptakan alam di luar dirinya, yang telah menjadikan semua makhluk hidup dalam alam ini, dan yang tidak akan pernah menjadi sama dengan alam ini. Saya tentu maklum, orang yang beragama monoteistik sudah terbiasa dengan radikal memisahkan sang khalik dari sang makhluk. Tetapi, saya justru ingin mengintegrasikan kembali “oknum” yang disebut allah ini ke dalam alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, sehingga allah=alam, kekuatannya dan hukum-hukumnya, sehingga sang khalik=sang makhluk. Nanti, dalam sebuah tulisan lainnya dalam serial tulisan ini, akan saya perlihatkan bahwa posisi yang saya sarankan ini bukan sekadar suatu sudut pandang mistikal dan animistik yang sudah berusia tua bahkan usang yang dikenakan kepada alam, tetapi juga suatu posisi yang memiliki suatu landasan filosofis dan saintis yang kuat.

Taruhlah, sementara ini, alam memang pada dirinya sendiri tidak memiliki hati nurani sehingga alam tidak dapat membedakan mana segi baik dan mana segi buruk dirinya. Tetapi dalam rangka manajemen pikiran, saya tidak dapat menghindari keharusan untuk memberi suatu value pada alam. “Value” adalah nilai yang kita berikan kepada sesuatu yang material: apakah yang material ini baik atau buruk, indah atau jelek, benar atau salah, pengasih atau kejam, pemelihara atau perusak, pembangun atau penghancur, membahagiakan atau menyedihkan, adil atau berat sebelah, ilahi atau satanik, dan sebagainya.

Sikap kita terhadap sesama manusia yang memiliki kesadaran nurani, akal-budi dan kepribadian pun ditentukan oleh value yang kita lekatkan pada sesama kita itu, bukan pada value yang diklaim sudah melekat pada diri sesama kita itu sejak dia dilahirkan. Kita semua tahu bahwa semua manusia sejak dilahirkan adalah makhluk mulia dan merdeka; mulia dan merdeka ini adalah value intrinsik. Tetapi kepada seorang pengemis, misalnya, kita tidak bersikap sejalan dengan sifat mulia dan merdeka yang ada pada diri sang pengemis sejak dia dilahirkan, melainkan sejalan dengan value apa yang kita lekatkan pada si pengemis yang kita sedang jumpai, misalnya value bahwa setiap pengemis adalah orang yang malas, suka menipu, jahat, buruk, keji, dan sebagainya, dan karena itu, bagi kita, setiap pengemis tidak perlu dikasihani.


Tujuan dari manajemen pikiran adalah supaya orang yang dengan benar me-manage pikirannya, orang itu akan dapat hidup dengan memberi value yang berarti, yang signifikan, kepada lingkungan kehidupannya dan kepada dirinya sendiri. Supaya dari dirinya, melalui manajemen pikiran yang benar, mengalir kebaikan, keindahan, kebenaran, kasih, pemeliharaan, pembangunan, kebahagiaan, keadilan dan keilahian kepada lingkungan keberadaannya dan kepada dirinya sendiri. Kalau manajemen pikiran dikaitkan dengan sikap seseorang kepada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, sikap ini mengharuskannya memberi value pada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya. Dengan memberi value pada alam, orang, melalui manajemen pikiran, dapat menentukan apakah dia mau hidup serasi atau berlawanan dengan nilai-nilai atau values yang sudah dilekatkannya kepada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya. Tanpa value yang kita tempelkan pada alam, manajemen pikiran yang dikaitkan dengan alam tidak dapat dijalankan.

Dalam seri kedua tulisan ini, sudah dianjurkan untuk orang me-manage pikirannya untuk serasi dengan alam, kekuatan dan hukum-hukumnya berdasarkan penerimaan dan pengakuan yang sadar bahwa alam, kekuatan dan hukum-hukumnya memiliki maksud-maksud yang baik, benar, membangun, menghidupkan, membahagiakan, rahmani dan rahimi. Nah, bagaimana manajemen pikiran harus dilakukan jika manajemen ini dikaitkan dengan sifat-sifat buruk, jahat, keji, menghancurkan, membunuh, membinasakan yang juga sama seringnya kita lihat ada pada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya?

Pada kesempatan ini, saya sarankan bahwa untuk me-manage pikiran dengan benar sehubungan dengan sifat-sifat buruk alam, langkah penting yang harus dilakukan adalah orang harus melepaskan dirinya, pikiran dan hatinya, dari suatu pergumulan teologis psikologis yang dinamakan problem teodise.

Istilah “teodise” berasal dari dua kata Yunani: theos=allah; dan dikē=keadilan. Problem teodise adalah suatu problem teologis psikologis yang diderita seorang yang beragama (khususnya beragama monoteistik), yang ditimbulkan oleh suatu ajaran dan keyakinan bahwa Allah YME itu adalah allah yang maha kuasa, maha kasih, maha tahu, maha penolong, maha pelindung dan maha adil, khususnya bagi orang-orang yang saleh, taat beragama dan beribadah dan (relatif) tidak memiliki cacat akhlak. Dalam teodise dipercaya bahwa allah yang memiliki semua sifat ini akan senantiasa, dengan kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahakasihan dan kemahaadilan-Nya, melindungi, menjaga dan memelihara orang-orang saleh dan akan meluputkan mereka dari segala bencana.


Orang yang dengan kuat dan saleh memegang teodise umumnya akan mengalami suatu tekanan psikologis yang sangat kuat dan berat ketika dirinya sendiri atau orang-orang lain yang sangat dicintainya mengalami suatu musibah berat, musibah buatan manusia ataupun musibah bencana alam dahsyat. Tekanan psikologis yang berat dan kuat ini timbul karena orang itu tidak bisa menerima dalam hati dan pikirannya kalau allah yang dipercayanya memiliki sifat-sifat demikian ternyata telah membiarkan dirinya atau diri orang-orang yang sangat dikasihinya mengalami bencana dahsyat sampai membuatnya atau membuat mereka yang dicintainya menderita sangat berat (cacat fisik seumur hidup, misalnya) atau mati mengenaskan tanpa makna.

Keadaan tidak bisa menerima kenyataan bencana ini membuat batin orang itu sangat tertekan, pikirannya tersumbat, imannya kacau balau, jiwanya porak-poranda, nuraninya tidak bekerja, untuk waktu yang bisa sangat lama; dan, akhirnya, semua keadaan psikologis yang buruk ini membinasakannya juga ketika dirinya sendiri sudah lost, terhilang. Sebelum terhilang, orang ini akan terus bertanya dan memprotes kepada allah yang tidak kelihatan, namun dipercaya ada olehnya: Allah, allahku, mengapa engkau membiarkan penderitaan dan bencana ini terjadi padaku? Allah, allahku, mengapa engkau meninggalkan aku? Bukankah engkau mahakuasa? Bukankah sudah seharusnya engkau melindungi aku dan orang-orang yang kukasihi dengan kemahakuasaanmu? Bukankah engkau maha bisa? Mengapa engkau tidak menyingkirkan bencana ini jauh-jauh dari kami? Di mana keadilanmu? Buat apa selama ini kami taat beragama dan beribadah dan menaruh kepercayaan penuh kepadamu? Engkau allah pengkhianat! Engkau allah yang kejam! Dst …..

Nah, pikiran yang dikendalikan oleh kepercayaan dan keyakinan pada teodise akan membuat orang menjadi sangat menderita, hidup tidak tenteram dan tidak berbahagia, dan dapat membuatnya juga binasa, ketika orang itu mengalami kenyataan bahwa alam, kekuatannya serta hukum-hukumnya telah mendatangkan dan menimpakan keburukan, kekejian dan bencana terhadap dirinya dan terhadap orang-orang yang dikasihinya. Pikiran yang dikuasai teodise akan menimbulkan keadaan tidak sehat pada seluruh tubuh dan pada seluruh mayarakat ketika bencana dan musibah dahsyat menimpa.

Nah, supaya teodise tidak menghancurkan dan membinasakan Anda, manage-lah pikiran anda dengan membuang semua kepercayaan pada teodise ketika alam, kekuatan dan hukum-hukumnya mendatangkan penderitaan dan bencana terhadap diri anda.

Anda sebaiknya tahu, dalam kasus-kasus terjadinya bencana yang dahsyat, orang-orang yang tidak beragama, yang ateistik, ternyata bisa sangat tenang dalam menghadapi bencana ini, dan sanggup menerima semua akibatnya dengan tabah dan tegar, karena kesadaran dan pengetahuan mereka bahwa alam, kekuatan dan hukum-hukumnya juga bisa merusak, menghancurkan dan membinasakan! Me-manage pikiran dengan benar ketika orang sedang menghadapi bencana dan kematian yang ditimbulkan oleh daya alam yang merusak dan membinasakan adalah me-manage pikiran untuk serasi dengan kekuatan-kekuatan alam yang membinasakan, yang melenyapkan kehidupan, yang tidak bisa lagi dihindari oleh manusia entah secara naluriah atau pun secara kultural teknologis.

Tetapi, mungkin Anda masih mau bertanya, apakah tidak ada segi positif dari kepercayaan pada teodise? Nantilah kita gumuli pertanyaan ini.