Showing posts with label Surga dan Neraka. Show all posts
Showing posts with label Surga dan Neraka. Show all posts

Thursday, February 10, 2011

Doktrin tentang Surga dan Neraka

surga sejuk ke atas, neraka panas ke bawah

Konsep tentang surga dan neraka dalam tradisi keagamaan Yahudi-Kristen muncul dengan lengkap pertama kali dalam Kitab Daniel yang ditulis pada abad kedua S.M., ketika bangsa Yahudi sedang mengangkat senjata melawan pemerintahan lalim raja Syria Antiokhus IV Epifanes yang sedang melancarkan politik helenisasi besar-besaran atas negeri Israel.

Jadi, konsep surga dan neraka diciptakan pada awalnya oleh suatu komunitas keagamaan atau suatu bangsa beragama yang sedang ditindas suatu bangsa asing, dan mereka tak memiliki kekuatan militer yang unggul. Akibatnya mereka mengalami banyak kekalahan, dan tidak sedikit dari antara mereka mati dalam banyak perlawanan yang tampak sia-sia. Nah, para tokoh keagamaan mereka, yang juga bertanggungjawab dalam kehidupan politik dan militer, menyusun konsep tentang surga dan neraka, baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah kejuangan para martir.

Ada dua tujuan dalam mereka menyusun doktrin tentang surga dan neraka. Pertama, untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Kepada para pejuang ini, lewat doktrin surga dan neraka dan kisah-kisah para martir, dijanjikan bahwa kendatipun mereka akan mati dalam perang, mereka harus jangan menyerah, sebab sekalipun mereka mati mereka akan diberi pahala masuk surga sesudah mati syahid. Janji pahala surga ini, dalam suatu perang, sangat efektif untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan.

Bangsa beragama yang terancam kalah ini dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Mengapa Allah mereka diam saja, dan tampak kalah juga ketika berhadapan dengan musuh mereka? (Bagi bangsa beragama di zaman dulu, kalau bangsa ini kalah perang, berarti Allah mereka juga kalah.) Nah, sebagai tujuan kedua, pertanyaan besar ini dijawab dengan doktrin tentang neraka: Jangan takut dan jangan kehilangan kepercayaan, sebab akan tiba saatnya, ketika zaman berakhir tak lama lagi, semua musuh mereka akan dengan adil dibalas oleh Allah dengan membuang mereka semua ke dalam api neraka, yang akan memanggang mereka selamanya. Doktrin tentang hukuman di neraka adalah sebuah doktrin tentang kebencian yang tak bisa hilang, tetapi dipelihara sampai ke alam baka.

Karena ada janji surga dan ancaman neraka, doktrin tentang surga dan neraka umumnya dilengkapi beberapa doktrin lain: doktrin-doktrin tentang kiamat (berakhirnya sejarah dunia), tentang bencana sejagat, tentang kebangkitan orang mati, tentang pengadilan di akhir zaman, tentang figur sang Hakim jagat raya, dan tentang kitab kehidupan yang di dalamnya tercatat biografi orang per orangan selama mereka hidup di Bumi, yang akan dijadikan landasan pengadilan di akhir zaman.

Belakangan, doktrin tentang surga dan neraka mengalami pergeseran fungsi, khususnya ketika doktrin ini tetap dipercaya dan dipegang meskipun umat tidak sedang perang. Doktrin ini berubah fungsi menjadi sebuah doktrin yang digunakan para rohaniwan untuk mengontrol perilaku umat orang per orangan. Seperangkat aturan moral (moral code) disusun, seperangkat doktrin dibangun, dan seperangkat ritual ditetapkan, untuk diikuti dan dijalankan umat tanpa bertanya. Para rohaniwan mengingatkan mereka dengan keras: Jika moral code dan seperangkat doktrin dan ritual ini tidak diikuti dan dijalankan sepersisnya, orang yang melawan ini akan masuk neraka abadi. Sebaliknya, anggota umat yang menaati semuanya akan menerima pahala surga. Jelas, dengan bisa mengontrol perilaku dan keyakinan umat, para rohaniwan ini tetap memegang kendali atas seluruh komunitas, dan mereka tetap bisa menjadi leader dengan kedudukan politik yang kuat, yang dapat memberi mereka banyak keuntungan lain (ekonomi, hak istimewa, hak menetapkan doktrin, hak menentukan kebenaran atau kesalahan, hak menghakimi, dan lain-lain).

Jadi, doktrin tentang surga dan neraka adalah sebuah doktrin politis religius, yang semula disusun untuk kepentingan perang, dan kemudian untuk mengendalikan perilaku dan kehidupan umat oleh para rohaniwan ketika doktrin ini tetap dipegang dalam konteks bukan perang.

Kalau ditanya, apakah surga dan neraka betulan akan ada dan dialami sesudah kematian, jawabnya adalah: seandainya manusia hidup terus dalam rupa roh sesudah kematian fisik di muka Bumi, maka roh yang tak memiliki tubuh, indra dan otak sama sekali tak akan bisa merasakan entah nikmat surga atau pun siksa neraka. Surga dan neraka sesudah kematian hanya ada dalam doktrin, dalam kisah, dan tidak ada dalam realitas apapun.

Orang bisa beranggapan, kalau doktrin tentang surga dan neraka sesudah kematian tak diajarkan, kejahatan di muka Bumi akan semakin meningkat. Anggapan ini salah, karena beberapa alasan.

Pertama, kekuasaan untuk mengadili dan menjatuhkan hukuman di muka Bumi ada pada pemerintah suatu negara. Jadi, untuk mengurangi atau menekan angka prevalensi kejahatan di muka Bumi, hukum positif dalam suatu negara harus dibangun, ditegakkan dan diberlakukan dengan konsekwen dan konsisten pada semua orang tanpa pilih bulu. Kalau ada orang bisa lolos dari jerat hukum, misalnya karena pemerintahan di dalam suatu negara lemah, buruk dan korup, jalan keluarnya bukanlah menakut-nakuti rakyat dengan doktrin tentang api neraka, melainkan membereskan hukum dalam negara itu dengan sungguh-sungguh. Kini, dalam era globalisasi, yang mengikat manusia di suatu negara bukan hanya hukum positif nasional, tetapi juga hukum internasional; dan yang ada bukan hanya lembaga pengadilan dalam negeri, tetapi juga lembaga pengadilan internasional. Sudah banyak terjadi, seorang yang lolos dari jerat hukum di negerinya sendiri akhirnya diadili dan dijatuhi hukuman di luar negeri.

Kedua, perlu kita ketahui bahwa dalam zaman modern ini jumlah orang yang tak lagi bisa menerima doktrin tentang surga dan neraka sangat banyak, di antara mereka termasuk orang-orang yang potensial melakukan kejahatan. Kalau orang zaman modern ditakuti-takuti hanya dengan sebuah doktrin keagamaan tentang hukuman di neraka, dan hukum positif dalam suatu negara tak ada atau dihapuskan, jelas kejahatan di dunia akan semakin meningkat.

Ketiga, ketaatan yang ditimbulkan oleh doktrin tentang api neraka adalah ketaatan yang tak dewasa, tak mature, tak keluar dari kesadaran nurani sendiri, tetapi muncul karena rasa takut yang besar. Doktrin tentang hukuman di neraka melahirkan bukan conscience, nurani, melainkan fear, ketakutan. Untuk membangun suatu masyarakat yang warganya taat hukum dan tak melakukan kejahatan, yang dibutuhkan adalah pembinaan moralitas bertahap dan terus-menerus untuk menghasilkan nurani yang fungsional, mature dan responsible. Dalam rangka membangun suatu moralitas individual dan sosial semacam ini pendekatan “reward and punishment” dipakai. Doktrin tentang ancaman api neraka tak akan menghasilkan conscience yang fungsional, accountable dan mature dalam diri warga masyarakat, melainkan akan menghasilkan suatu masyarakat yang penuh ketakutan yang tak membangun.

Keempat, kalau orang baru mau hidup beragama dan bermoral dengan baik hanya jika mereka ditakut-takuti ancaman hukuman di api neraka, kehidupan bermoral dan beragama semacam ini berada baru pada tahap kanak-kanak, bukan tahap dewasa. Kita tahu umumnya kanak-kanak akan baru mau belajar dengan baik jika kepadanya diiming-imingi hadiah permen atau sebuah boneka, atau bahkan kalau kepadanya diperlihatkan sebilah rotan yang siap dipukulkan ke pantatnya. Orang yang beragama baru pada tahap kanak-kanak ini, yakni beragama secara egoistik dan dipenuhi ketakutan, akan memakai agamanya sebagai alat untuk mencapai kepuasan pribadinya saja, dan untuk mendatangkan kesusahan pada orang lain. Seorang anak sangat senang jika boneka milik kakaknya atau boneka milik temannya direbut untuk diberikan kepadanya, dan dia tak akan perduli kalau kakaknya atau temannya itu jadi menangis sedih.

Kelima, doktrin tentang hadiah surga dan hukuman di neraka sesudah kematian menghasilkan orang beragama yang melihat kehidupan yang bermakna hanya ada di alam baka setelah kematian. Bagi mereka, kehidupan di Bumi sekarang ini hanya sementara, hanya untuk dilintasi, tak bermakna penuh, bahkan maya saja. Orang beragama yang berpandangan semacam ini bisa tak akan perduli pada banyak persoalan dan penyakit sosial di dunia masa kini, dan tak menyumbang apapun dalam usaha global memerangi banyak kejahatan. (*)



Sunday, March 21, 2010

Problem Teodise (1):
Penderitaan Berasal dari Setan

Setan Versus Allah, Ataukah Setan Dan Allah?

Saya mau menyoroti teodise dalam beberapa tulisan. Saya mulai dengan pengertian teodise. Istilah
teodise dibentuk dari dua kata Yunani: theos (allah) dan dikē (keadilan). Jadi, teodise adalah doktrin tentang keadilan allah.

Orang yang menganut teodise mempercayai bahwa allah yang mahakuasa, maha pengasih dan maha penyayang dan maha adil, akan senantiasa berbuat adil dan penuh cinta kepada kaum mukmin yang percaya total kepadanya. Bagi mereka, menyembah allah yang semacam ini akan menyebabkan mereka terhindar dari keburukan, nestapa, penderitaan dan bencana.

Tetapi... keyakinan mereka ini bertabrakan dengan kenyataan kehidupan yang mereka lihat di sekitar mereka dan di dalam kehidupan mereka sendiri. Ternyata ada banyak penderitaan dialami orang saleh. Malah orang jahat bertambah makmur dalam kehidupan mereka. Kenyataan kehidupan yang semacam ini membuat mereka bergumul, dan lahirlah dari pergumulan mereka ini apa yang disebut the theodicy problem, problem teodise: Bagaimana allah masih tetap bisa dipercayai sebagai allah yang maha pengasih dan penyayang, maha kuasa dan maha adil, sementara kenyataan kehidupan sangat bertentangan dengan apa yang mereka harapkan diberikan allah ini kepada dunia dan khususnya kepada orang-orang saleh.

Problem teodise hanya muncul dalam agama-agama monoteistik yang tidak memberi tempat kepada satu (atau lebih) hakikat adikodrati lainnya di samping allah yang maha esa dan maha kuasa. Konsep keesaan allah atau tawhid ini dipertahankan kuat-kuat ketika suatu umat beragama monoteistik tidak sedang menghadapi penganiayaan atau penderitaan berat yang ditimpakan oleh suatu pemerintahan dunia yang jahat dan kejam.

Tetapi konsep keesaan tuhan atau tawhid semacam ini diubah secara radikal ketika umat sedang menghadapi suatu penganiayaan dan deraan berat yang tak tertahankan, yang ditimpakan atas mereka oleh suatu pemerintahan lalim yang sedang berkuasa di dunia. Konsep keesaan allah atau tawhid ini, dalam situasi penderitaan berat semacam ini, diubah oleh umat minimal menjadi konsep diteisme dualistik kosmik. Dalam konsep ini dibayangkan ada suatu kekuatan lain adikodrati, di samping allah yang maha esa, yang sedang berkuasa di dalam dunia ini, yang sedang melawan allah yang maha esa. Dengan demikian, ada dua penguasa adikodrati dalam kosmos yang sedang bertarung satu sama lain, penguasa jahat melawan penguasa baik. Konsep ini disebut diteisme dualistik kosmik.

Berbagai umat beragama memberi nama berbeda-beda kepada penguasa adikodrati jahat lainnya ini yang sedang melawan tuhan yang maha kuasa. Umat agama-agama monoteistik umumnya memberi nama Setan atau Iblis kepada hakikat adikodrati tandingan allah yang maha kuasa ini. Umat Hindu memberinya nama Siva. Para penganut Zoroastrianisme memberinya nama Ahriman, yang terpersonifikasi sebagai Angra Mainyu, sang ilah jahat yang sedang melawan sang ilah baik yang diberi nama Spenta Mainyu (mediator allah yang maha kuasa, yang diberi nama Ahura Mazda). Dalam tradisi biblis Kristen, dikenal nama Antikristus sebagai sang penguasa jahat yang sedang melawan Yesus Kristus.

Nah, dengan diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik ini (bahwa di dalam kosmos atau jagat raya ini terdapat dua kekuatan adikodrati yang sedang bertarung satu sama lain) sebagian problem teodise dipecahkan. Ketika orang bertanya, mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, mengapa orang saleh dianiaya, sebuah jawaban sudah tersedia: penderitaan itu ada karena ada sang penguasa jahat di dalam kosmos ini yang menjadi sumber semua penderitaan manusia.

Jadi, penderitaan dan kesengsaraan timbul bukan karena perbuatan allah yang maha kuasa, maha kasih dan maha penyayang, melainkan karena perbuatan keji sang penguasa jahat tandingan allah yang maha baik. Dengan demikian, sifat maha baik dan maha kasih allah berhasil dipertahankan. Tetapi, pada pihak lainnya, muncul sebuah problem lain: jika memang ada satu (atau lebih) penguasa jahat dalam kosmos ini, yang bisa melawan dan menandingi allah, maka tawhid dan sifat maha kuasa allah terongrong bahkan ditiadakan. Ya, itulah memang akibat dari diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik. Masalah ini tentu sudah dipikirkan oleh para pencetus konsep diteisme dualistik kosmik ini. Mereka sudah memiliki jalan keluarnya.

Dalam keyakinan para pendukung diteisme dualistik kosmik, sang penguasa supernatural jahat itu hanya berkuasa sementara dalam dunia ini. Sang penguasa adikodrati yang kejam ini tidak dibiarkan allah yang maha kuasa dan maha baik untuk berkuasa selamanya dalam kosmos ini. Pada akhir zaman, ketika dunia dan sejarah manusia berakhir, sang penguasa jahat ini akan dikalahkan oleh allah yang maha kuasa dan maha baik dalam suatu pertempuran kosmik di kawasan adikodrati. Bukan hanya dikalahkan, tetapi juga sang penguasa jahat ini beserta segenap antek insaninya dalam dunia, akan mengalami pembalasan allah habis-habisan, minimal setimpal dengan kejahatan dan kekejian yang mereka pernah lakukan terhadap umat allah. Mereka akan dibelenggu, dirantai dan dipenjarakan dalam neraka kekal sampai selamanya. Pada sisi lain, suatu dunia baru diciptakan allah yang maha baik dan maha adil untuk umat yang pernah disengsarakan dan didera sang penguasa jahat dan antek-antek insaninya.

Para pengonsep diteisme dualistik kosmik berbeda pandangan ketika mereka membayangkan bentuk dunia baru ini. Ada yang membayangkan dunia baru ini berada di luar sejarah, di kawasan supernatural, dan sama sekali tidak ada kaitannya lagi dengan dunia lama. Pandangan ini paling umum dipegang.

Namun ada juga yang memandang dunia baru ini sebagai suatu kelanjutan dan penyempurnaan dunia lama di kawasan kodrati, dunia baru yang sudah dibersihkan dari segala kejahatan dan penderitaan yang pernah dilakukan dan didatangkan sang penguasa jahat yang kini sudah dikalahkan dan sedang dihukum selamanya di kawasan adikodrati.

Bagaimanapun juga, kedua sudut pandang ini sama-sama meyakini bahwa dunia yang sekarang didiami manusia sudah tidak bisa diharapkan lagi, sehingga harus diganti dengan dunia yang sempurna sepenuhnya, yang akan didatangkan allah yang maha kuasa dan maha pengasih.

Nah, semua konsep yang sudah diulas di atas disebut apokaliptisisme. Kata ini berasal dari kata Yunani “apokalipsis”, yang artinya “wahyu” atau “penyingkapan ilahi”. Disebut demikian karena semua hal yang akan terjadi di akhir zaman, mulai dari ihwal kapan akhir zaman tiba, ihwal dikalahkannya segala penguasa jahat di dalam suatu pertempuran kosmik sampai pada ihwal pembalasan allah dan kedatangan dunia baru, diketahui umat hanya lewat wahyu atau penyingkapan ilahi yang disampaikan oleh allah sendiri atau oleh seorang malaikat perantara kepada seorang nabi yang berasal dari antara umat.

Ya, apokaliptisisme bisa menyelesaikan problem teodise dengan memunculkan figur Setan atau Iblis atau Antikristus atau Ahriman atau Angra Mainyu sebagai biang keladi semua penderitaan dalam dunia ini, sambil tetap mempertahankan sifat maha adil dan maha baik allah, dan juga dengan memulihkan kembali kemahakuasaan allah pada akhir zaman. Tetapi sekian problem lainnya juga muncul, sebagai berikut.

Pertama, diteisme dualistik kosmik atau apokaliptisisme muncul dari pesimisme atau rasa putus asa manusia terhadap keadaan dunia masa kini. Menurut pandangan apokaliptis, dunia sekarang ini, karena sedang dikuasai Setan atau Iblis melalui antek-antek insaninya, sudah sedemikian jahat tak tertolong, sehingga harus dilenyapkan sama sekali dan diganti dengan suatu dunia baru di luar sejarah atau pun di dalam sejarah. Pesimisme atau rasa putus asa umat beragama semacam ini bertentangan dengan usaha sebagian besar umat manusia lainnya, yang terus bekerja dengan penuh pengharapan untuk membuat dunia kita sekarang ini makin lebih baik lagi dari waktu ke waktu melalui kerja keras dan kerja cerdas di dunia sains dan teknologi dan melalui berbagai usaha global lainnya untuk menjadikan planet Bumi ini tempat yang makin baik untuk semua makhluk hidup.

Kedua, apokaliptisisme mendambakan dan menjanjikan suatu kehidupan yang seluruhnya adil, baik dan sempurna bagi manusia, entah kehidupan semacam ini dialami dalam dunia ini ataupun akan dialami nanti ketika akhir zaman tiba. Jelas, ini adalah suatu visi yang utopis dan tidak realistik. Dunia yang sempurna semacam ini tidak akan pernah ada bagi manusia kapanpun juga. Dalam realitas kehidupan, kapanpun juga manusia tetap akan hidup dalam kenyataan-kenyataan gabungan antara kebaikan dan kejahatan, keberhasilan dan kegagalan, suka dan duka, cinta dan kebencian, dan seterusnya. Kenyataan-kenyataan gabungan ini adalah kenyataan-kenyataan kodrati, yang terstruktur dalam tata kosmik, dan akan tetap ada sampai selamanya. Ketimbang terhanyut dalam suatu visi eskapisme yang utopis dan tidak realistik, jauh lebih baik jika kita membina diri kita dan diri manusia umumnya untuk dapat hidup dengan lebih baik, lebih berhasil, lebih bersukacita dan lebih menyayangi, dari saat ke saat, sambil tetap tabah ketika menghadapi kenyataan-kenyataan lain yang membuat manusia menderita.

Ketiga, apokaliptisisme mendorong kaum mukmin untuk cepat-cepat masuk ke dalam suatu dunia sempurna yang didalamnya Iblis atau Setan atau Antikristus sudah tidak ada atau sudah dikalahkan total, karena mereka sudah tidak tahan hidup dalam dunia sekarang ini, yang tidak memenuhi visi ideologis atau angan-angan utopis religius mereka sendiri. Dorongan ini, kita tahu, banyak kali memunculkan tindakan-tindakan kekerasan seperti terorisme yang bertujuan, pada titik ekstrimnya, untuk melalui perang nuklir sejagat melenyapkan planet Bumi ini yang mereka bayangkan sedang dikuasai si Setan Besar Amerika Serikat atau si Setan Besar Arab Saudi, misalnya.

Keempat, apokaliptisisme sebetulnya mengajarkan kaum mukmin untuk terus membenci orang-orang lain yang menyengsarakan mereka, dan terus menyumpahi mereka untuk segera mati dan masuk neraka sebagai bentuk penghukuman allah atas mereka yang seadil-adilnya. Tentu kita bisa memaklumi kalau orang tidak bisa menyetujui atau membenci orang-orang yang berlaku jahat kepada mereka. Kita juga bisa memahami kalau orang menginginkan orang jahat dihukum seberat-beratnya demi keadilan dan demi menimbulkan efek jera pada semua kriminal. Tetapi, suatu ajaran agama yang terus-menerus membuahkan kebencian dan amarah dalam diri kaum mukmin bukanlah ajaran agama yang baik dan sehat, apalagi jika ajaran agama ini membentuk kaum mukmin untuk baru terpuaskan jika dendam mereka kepada orang lain terbalaskan di akhirat, yakni ketika orang jahat dimasukkan ke dalam neraka dan mereka, sebagai orang baik, dimasukkan ke dalam surga.

Bukankah ajaran agama yang baik dan sehat adalah ajaran yang membentuk kaum mukmin untuk bisa memaafkan orang-orang yang bersalah sekalipun orang-orang yang bersalah ini telah berlaku sangat jahat terhadap mereka? Selain itu, hati yang terus diisi dengan amarah dan dendam dan sumpah akan membuat manusia tidak pernah bisa hidup sejahtera di dalam dunia ini, dan malah sebaliknya akan membuatnya sakit jiwa dan sakit pikiran terus-menerus.

Kelima, para penganut apokaliptisisme melihat Setan atau Iblis, sebagai makhluk rohani yang tidak kasat mata, sebagai sumber semua kejahatan dan penderitaan manusia. Sudut pandang semacam ini membuat mereka gagal atau tidak mau melihat bahwa semua penderitaan dalam dunia ini dapat dicari sebab-sebabnya pada hal-hal duniawi, kodrati dan manusiawi, misalnya karena cara hidup yang salah, karena kondisi alam yang buruk, karena bencana alam, atau karena sistem keamanan masyarakat yang tidak dapat diandalkan, atau karena sistem hukum dan sistem ekonomi serta sistem politik yang tidak baik dan tidak adil dalam suatu negara. Apokaliptisisme mencari keselamatan di dalam dunia yang kiamat, bukan di dalam dunia sekarang ini, yang di dalamnya semua sistem penyelenggara kehidupan perlu diperbaiki sehingga menjadi lebih baik bagi semua orang.

Terakhir, keenam, apokaliptisisme menjanjikan penyelesaian suatu perkara kejahatan duniawi di luar sejarah dan di luar dunia yang belum tentu akan pernah ada. Karena terus-menerus menunggu akhir zaman yang diberitakan akan segera terjadi, namun dalam kenyataannya tidak pernah terjadi, kaum mukmin yang dibesarkan dalam pemikiran apokaliptisisme menjadi lupa bahwa sebetulnya penyelesaian atas masalah kejahatan dan penderitaan dalam dunia ini dapat diperoleh dalam dunia ini sekarang ini dengan adil, misalnya melalui pengadilan negara atau pengadilan internasional yang sekarang ini berpusat di Den Haag, Belanda. Apokaliptisisme lahir dalam zaman kuno ketika sistem hukum internasional belum ada, lembaga pengadilan internasional atas kejahatan kemanusiaan di aras global belum dibangun, dan PBB belum didirikan, ketika ada sangat banyak penyakit yang belum dapat diobati, ketika sains dan teknologi belum semaju sekarang ini yang telah terbukti banyak membantu manusia dalam meringankan atau malah mengalahkan penderitaan.

Friday, March 27, 2009

Aku Guyur Api Neraka, Aku Bakar Surga!

Surga putih, dan neraka hitam?

Soteriologi dalam semua agama menawarkan selain keselamatan di dunia ini juga dan terutama keselamatan di akhirat: barangsiapa memercayai suatu dogma atau suatu figur insani yang suci sebagai juruselamat, orang itu akan masuk surga dan terluput dari neraka. Begitu juga, dengan memegang soteriologi salib, gereja menjanjikan: Barangsiapa percaya kepada Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, orang itu akan pasti masuk surga dan terhindar dari neraka. Nah, dalam bab ini, saya mau mengargumentasikan bahwa surga dan neraka itu tidak ada, sehingga soteriologi salib atau soteriologi apapun sebetulnya menjanjikan sesuatu yang kosong bagi akhir kehidupan manusia.

Masalahnya, ajaran tentang adanya surga dan neraka sudah begitu dalam tertanam dalam kesadaran setiap orang beragama. Orang beragama apapun senantiasa diajarkan, sejak kecil, untuk percaya pada adanya surga dan neraka. Mereka sejak kanak-kanak sudah diiming-imingi surga dan ditakut-takuti neraka. Jadi, sangat susah atau bahkan mustahil untuk melepaskan orang beragama dari kepercayaan mereka pada adanya surga dan neraka.

Kata orangtua atau guru agama kita, kalau kita berbuat banyak kebajikan, lebih banyak dari kejahatan kita, dalam dunia sekarang ini, maka nanti dalam kehidupan di akhirat kita akan masuk surga, hidup dalam kebahagiaan abadi. Tetapi, mereka juga wanti-wanti mengingatkan, kalau kita berbuat kejahatan lebih banyak dalam dunia ini ketimbang kebajikan, kita nantinya akan masuk neraka, hidup dalam penderitaan abadi, dibakar api dan belerang sangat panas yang tak pernah padam.

Orang Kristen, seperti baru dikatakan, sejak di sekolah minggu juga diindoktrinasi dengan ajaran bahwa hanya orang yang percaya pada Yesus Kristus akan masuk surga sesudah kematian, dan orang yang tidak percaya pada Yesus nantinya akan masuk neraka. Bagi mereka, Yesus adalah tiket eksklusif satu-satunya untuk orang masuk surga.

Orang beragama yang memegang orientasi waktu siklikal pun percaya pada hal yang sama: setelah perbuatan bajik mencukupi, mereka akan terlepas dari siklus kematian dan kelahiran kembali dan masuk ke dalam nirvana, keadaan bahagia yang kekal abadi, dan hidup sebagai dewa-dewi. Jika dharma dan kebajikan belum mencukupi, mereka terlempar kembali, masuk ke dalam siklus kematian dan kelahiran kembali ke dalam dunia yang maya dan fana.

Kalangan Muslim ekstrimis bahkan percaya bahwa jika mereka mati di jalan Allah, mati sebagai syahid ketika berjihad dengan melakukan terorisme, mereka, setelah kematian, akan langsung dihadiahi kehidupan surgawi yang sangat menyenangkan, dengan dilayani puluhan bidadari yang cantik tak terbayangkan.

Tetapi, saya bertanya kepada mereka semua yang percaya pada adanya surga dan neraka: Bukankah untuk bisa merasakan sesuatu yang sangat menyenangkan (= surga) perlu ada tubuh, anggota tubuh, organ, indra, syaraf dan sel-sel otak? Bukankah untuk bisa merasakan sesuatu yang sangat menyiksa (= neraka) juga diperlukan tubuh, anggota tubuh, organ, indra, syaraf dan sel-sel otak? Tanpa tubuh, anggota tubuh, organ, indra, syaraf dan otak, tidak akan ada perasaan dan pengalaman positif atau negatif apapun.

Jika kehidupan sesudah kematian adalah suatu kehidupan tanpa tubuh, tanpa raga, tanpa organ, tanpa indra, tanpa syaraf, tanpa otak, maka kehidupan rohani yang transparan dan tanpa bentuk, yang bak angin atau asap belaka ini, adalah kehidupan yang tidak bisa merasakan apapun dan tidak bisa masuk ke dalam pengalaman apapun. Perasaan dan pengalaman, jika kedua hal ini ingin nyata dirasakan dan dialami, memerlukan media jasmaniah: tubuh, anggota tubuh, organ tubuh, indra, syaraf dan otak. Dengan demikian, kehidupan rohani setelah kematian, jika kehidupan semacam ini ada, adalah kehidupan tanpa rasa dan tanpa pengalaman apapun. Kehidupan yang tanpa rasa dan tanpa pengalaman apapun tidak akan bisa merasakan dan mengalami surga, juga tidak akan bisa merasakan dan mengalami neraka. Dengan kata lain, kehidupan rohaniah sesudah kematian ragawi tidak memungkinkan orang yang sudah mati mengalami baik surga maupun neraka. Surga atau neraka tidak bisa dirasakan dan dialami oleh orang yang sudah mati. Surga dan neraka hanya ada dalam ajaran agama, tetapi tidak bisa sungguh-sungguh dialami dan dirasakan orang yang sudah mati tetapi hidup lagi dengan tidak memakai raga apapun lagi.

Begitu juga, dalam suatu kehidupan rohaniah sesudah kematian, api yang terus bernyala dalam neraka pastilah bukan api sungguhan seperti api dalam oven pembakar dan pelumer baja yang kita kenal dalam dunia ini. Api rohaniah, api yang bukan api riil sungguhan, jika ada, tidak bisa menimbulkan rasa sakit, rasa panas, dan rasa tersiksa apapun. Neraka rohaniah, dengan demikian, tidak akan menyiksa apapun, dan neraka yang tidak bisa menyiksa adalah neraka yang tidak pernah ada. Neraka panas di alam baka hanya ada dalam khayalan orang yang masih hidup di bumi dengan memakai pengalaman di bumi. Jelas, neraka adalah suatu pelipatgandaan pengalaman buruk dan penderitaan manusia di bumi yang diproyeksikan ke alam keabadian.

Demikian juga, surga sesudah kematian, surga dalam kehidupan rohaniah sepenuhnya di alam baka, pastilah juga bukan rasa nikmat tertinggi jasmaniah sungguhan seperti orang rasakan dengan indra, syaraf dan otak ketika, misalnya, mencapai orgasme atau ejakulasi dalam suatu hubungan seksual badaniah yang dialami dalam dunia material sekarang ini. Surga rohaniah, dengan demikian, jika ada, adalah surga yang tidak bisa menimbulkan rasa nikmat apapun; dan rasa nikmat yang tidak bisa dirasakan secara jasmaniah, melalui organ, indra, syaraf dan otak, adalah rasa nikmat yang tidak pernah ada. Dengan begitu, surga rohaniah juga tidak pernah ada. Surga di alam baka hanya ada dalam khayalan manusia yang masih hidup di bumi dengan memakai pengalaman di bumi. Jelas jadinya, surga di alam baka adalah suatu pelipatgandaaan pengalaman bahagia yang dialami di muka bumi yang diproyeksikan ke alam keabadian.

Surga rohaniah dan neraka rohaniah dengan demikian tidak pernah akan menjadi tempat kenikmatan abadi dan tempat siksaan abadi. Dengan kata lain, keduanya tidak ada. Orang beragama yang memandang surga dan neraka di alam baka sebagai kenyataan-kenyataan material dan jasmaniah adalah orang yang gagal mengakui dan melihat adanya diskontinuitas antara alam fana jasmaniah dan alam baka rohaniah, antara tubuh manusia yang hidup dan mayat orang yang sudah mati yang harus dikuburkan atau dibakar dan yang, sesudah beberapa waktu lamanya, akhirnya lenyap menyatu dengan bumi. Tidak ada raga yang dilanjutkan keberadaannya sebagai raga di alam baka.

Kalaupun jiwa dipahami sebagai “energi” yang kekal, dan sebagai energi akan terus ada kendatipun orangnya sudah mati, energi ini, jika tidak terintegrasi dalam suatu media jasmaniah material, yakni tubuh, tidak akan menjadi suatu makhluk hidup yang dapat mencerap dan merasakan hal apapun. Orang beragama percaya, orang mati yang masuk ke dalam surga atau dibuang ke neraka akan terus hidup sebagai pribadi-pribadi yang memiliki kesadaran personal dan jati diri. Nah, kalau jiwa hidup lagi setelah kematian ragawi sebagai suatu energi kekal, energi selamanya adalah sesuatu yang a-personal atau non-personal, sesuatu yang tidak memiliki kesadaran personal dan jati diri. Jadi, dari sudut perspektif fisika molekuler material, keberadaan surga dan neraka tidak bisa dihipotesiskan, kendatipun jiwa dapat dipandang berubah menjadi atau bertahan sebagai energi.

Tetapi, orang beragama bisa membantah dengan menyatakan bahwa kehidupan sesudah kematian adalah juga kehidupan ragawi, sehingga bisa tetap merasakan dan mengalami sesuatu seperti ketika orang masih hidup di dunia. Orang Kristen adalah kalangan yang bisa diantisipasi akan berargumen semacam ini, dengan mereka menunjuk pada tubuh kebangkitan Yesus yang diklaim bersifat ragawi.

Tetapi kontra-argumennya juga ada: Jika Yesus yang bangkit dari kematian adalah Yesus yang sungguh-sungguh masih memiliki raga sungguhan, maka dia, sesudah kebangkitannya, akan harus tunduk pada keterbatasan-keterbatasan ragawi, bahwa dia akan, misalnya, lapar, sakit dan terkurung, terikat pada tempat, tidak bebas, termasuk juga bahwa dia akan tetap menjadi semakin tua, lisut lalu mati lagi. Raga yang hidup abadi dan tidak pernah akan binasa hanya ada dalam mitos, dalam dongeng, dalam fiksi, tidak ada dalam kenyataan, di dunia ini maupun di akhirat. Jika setelah kematian dan kebangkitannya Yesus masuk surga, di surga, karena dia masih memiliki raga, umurnya akan tetap bertambah lalu dia pasti menua dan akan mati lagi. Surga macam apakah yang di dalamnya orang mati yang dibangkitkan bisa mati lagi?

Jika demikian halnya, kehidupan Yesus sesudah kebangkitannya tidaklah berbeda dari kehidupannya sebelum kematian dan kebangkitannya. Dengan kata lain, Yesus yang semacam ini adalah Yesus yang belum pernah terbebas dari kehidupan ragawi, dan tidak pernah mengalami kehidupan lain sesudah kematiannya. Sungguh malang Yesus jika keadaannya semacam ini! Doktrin tentang kebangkitan ragawi Yesus yang tujuan semulanya mau mengunggulkan dia di atas semua orang suci lainnya akhirnya malah memenjarakannya dalam serba kedagingannya dan menjadikannya makhluk paling malang di dunia ini dan di akhirat!

Di samping itu, kehidupan setelah kematian yang masih terkurung oleh raga dan semua sifat fananya, bukanlah kehidupan setelah kematian, melainkan masih sebatas kehidupan ragawi dalam dunia ini, kehidupan yang masih belum terbebaskan. Kehidupan setelah kematian yang semacam ini tidaklah pernah ada di akhirat.

Nah, dengan penasaran Anda mungkin akan bertanya: Kalau surga dan neraka tidak bisa dirasakan dan dialami oleh orang yang sudah mati, atau kalau surga dan neraka tidak pernah ada di alam baka, lalu apa yang akan dialami orang yang sudah mati? Orang yang sudah mati, jika masih harus hidup lagi di alam baka, tidak akan mengalami hal apapun: mereka berada dalam kekosongan; tanpa surga dan tanpa neraka, tanpa upah dan tanpa ganjaran, tanpa rupa dan tanpa bentuk, tanpa pekerjaan dan tanpa rehat.

Jika demikian, apakah masih perlu mengajarkan orang beragama tentang surga dan neraka?

Dalam tradisi Yahudi-Kristen, ajaran tentang surga dan neraka lahir dari dalam suatu pandangan dunia apokaliptik yang menuntut semua musuh umat dan musuh Allah dalam dunia fana ini, yang telah menyengsarakan umat Allah, dibalas dan dihukum habis-habisan dalam api neraka setelah kematian mereka; sedang umat yang disengsarakan, sebagai pahala untuk ketaatan dan kesetiaan mereka pada Allah dan agama Allah, dihadiahi surga selamanya. Jadi, dapat dikatakan, ajaran tentang ancaman api neraka sesudah kematian sebenarnya menunjukkan kebencian umat pada musuh-musuh Allah, kebencian yang terus dirawat, dipertahankan, dihidupkan dan dipelihara sampai pada kematian dan sesudahnya. Ajaran tentang api neraka, dengan demikian, mengajarkan kebencian kekal pada musuh-musuh umat. Jelas, ajaran yang terus menebar kebencian sudah seharusnya ditolak.

Rabiah Al-Adawiyah menyatakan akan mengguyur api neraka dengan air sampai padam, dan membakar surga dengan suluh sampai lenyap terbakar, supaya orang mau beragama bukan karena iming-iming surga atau karena ketakutan akan api neraka, melainkan karena cinta saja. Ya, ajaran yang menebar kebencian sudah seharusnya diganti dengan ajaran tentang cinta, cinta kepada sesama bahkan cinta kepada musuh! Yesus Kristus sangat menekankan keharusan para pengikutnya untuk mengasihi musuh mereka sekalipun! Para Boddhisatva yang seharusnya sudah lepas dari siklus kematian dan kelahiran kembali, lalu masuk ke dalam nirvana, bersumpah tidak akan mau masuk ke dalam nirvana sampai seluruh rumput di padang mendapat penerangan budi melalui dharma yang mereka terus-menerus sebarkan! Artinya, mereka memilih untuk selamanya berada dalam dunia ini untuk menebar cinta. Mereka melakukan pengurbanan diri yang begitu besar karena cinta mereka kepada semua makhluk dalam dunia ini.

Cinta juga akan membuat kita merasa lebih bertanggungjawab untuk memadamkan api neraka kemiskinan dan penderitaan riil dalam dunia ini sekarang ini ketimbang membiarkan diri dilanda ketakutan pada neraka yang tidak pernah ada dalam dunia baka! Cinta juga akan mendorong kita untuk terus-menerus memperjuangkan tegaknya surga dalam dunia ini sekarang ini di antara orang yang miskin dan sengsara, ketimbang membiarkan diri terpincut oleh iming-iming surga yang tidak pernah ada dalam dunia baka!