Ioanes Rakhmat's blog founded on Feb 21, 2009
Even though it could destroy orthodoxy, let us think critically because being capable of thinking critically is the most precious gift for humankind given by nature to be used accountably for the goodness of all terrestrial and extraterrestrial beings now and forever
Die Wahrheit erleuchtet mich!
Kebenaran menerangi saya!
Showing posts with label Manajemen Pikiran. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Pikiran. Show all posts
Wednesday, March 10, 2010
Manajemen Pikiran (8)
Dalam tulisan tentang manajemen pikiran ini, baiklah perhatian kita arahkan pada dua orang tua zaman dulu yang umumnya sudah kita kenal, yakni Eleazar dan Sokrates. Dari keduanya kita dapat menarik pelajaran bagaimana kita dapat bertahan dengan kesatria ketika kita menghadapi ancaman penderitaan dan kematian, melalui suatu manajemen pikiran.
Kita mulai dengan dua kitab yang ada dalam Deuterokanonika Gereja Katolik Roma, yakni kitab 2 dan 4 Makabe. Kitab 2 Makabe adalah sebuah dokumen martirologi Yahudi yang ditulis sekitar tahun 125 atau 124 SM, dengan mengambil Pemberontakan Makabe (167-142 SM) melawan raja lalim dari Siria, Antiokhus IV Epifanes, sebagai latar historisnya.
Dalam 2 Makabe 6:18-7:42, dan juga dalam 4 Makabe 5-18, dikisahkan tentang kegigihan seorang tua bijaksana dari kalangan imamat yang bernama Eleazar dan tujuh lelaki bersaudara bersama ibu mereka yang sudah tua dalam melawan sang raja yang sedang melancarkan helenisasi besar-besaran terhadap bangsa Yahudi dan agama serta kebudayaan mereka. Sang raja lalim ini ingin memaksa orang Yahudi meninggalkan kesetiaan mereka terhadap Taurat Yahudi, dan mengadopsi kebudayaan dan gaya hidup Yunani, antara lain ikut makan daging babi dan segala persembahan yang telah diberikan kepada berhala-berhala Yunani serta menyembah sujud pada patung Dewa Dyonisus atau Zeus. Jika mereka melawan kemauan sang raja, mereka akan disiksa dengan sangat kejam sampai mati.
Pada kesempatan ini baik kalau kita mengetahui apa sebabnya Eleazar (90 tahun) dapat dengan gigih sampai akhir hayatnya, di hari tuanya, melawan Antiokhus IV Epifanes. Filosofi apa yang dia pegang sehingga dia begitu tangguh? Bagaimana dia me-manage pikirannya sendiri?
Dalam 2 Makabe 6:18-7:42, Eleazar dengan sangat mengesankan memberi penjelasan tentang keputusannya untuk menerima kematian sebagai akibat perlawanannya yang gigih terhadap kemauan raja lalim itu (6:23-28). Keputusan Eleazar ini disebut sebagai suatu logismos asteios atau “nalar kesatria” (6:23); dan dalam 4 Makabe (1:1; 6:31; 7:4, 16, 21; 13:1; 16:1; 18:1) keputusan ini diistilahkan sebagai eusebēs logismos atau “nalar saleh”. Ditegaskan di situ bahwa nalar semacam ini harus mengatur dan mengendalikan baik emosi maupun penderitaan fisik dan keadaan sekarat, sebab, seperti ditulis dalam 4 Makabe 13:3, nalar semacam inilah yang dipuji di hadapan Allah. Jadi, kita paham bahwa untuk mencapai suatu kehidupan yang gigih di tengah penderitaan, nalar atau logismos harus memegang kendali terhadap emosi, rasa takut dan kecengengan manusia.
Bukan kebetulan juga kalau penulis 2 Makkabe menyejajarkan Eleazar dengan Sokrates (70 tahun) yang juga dengan kesatria menerima kematian dengan meminum racun sebagai hukuman baginya yang ditetapkan pengadilan negara yang digelar di Atena pada tahun 399 SM. Sejumlah pakar melihat ada kesejajaran yang disengaja dalam 2 Makabe 6:18-31 antara Sokrates dan Eleazar. Menurut Jonathan A Goldstein, “Tidak ada orang Yunani terpelajar yang akan luput memperhatikan keserupaan antara Eleazar dan Sokrates.”
Dua hero ini, Sokrates dan Eleazar, keduanya sudah gaek, dan mereka memandang sisa kehidupan mereka dapat dengan mudah diambil dari mereka (Apologi 38c; 2 Makabe 6:18, 23-25). Karena itu, rasa takut terhadap kematian tidak dapat membuat mereka menyangkali pendapat dan tindakan mereka (Apologi 28b-d). Sikap mereka ini sejalan dengan sikap mereka dalam kehidupan mereka sebelumnya, sehingga kalau mereka menolak melawan kelaliman akan tampaklah bahwa mereka mengkhianati diri mereka sendiri (Apologi 28d-30c, 34b-35b; 2 Makabe 6:22). Karena itu keduanya menolak alternatif “yang lebih mudah” ketika mereka berhadapan dengan ancaman hukuman mati (Apologi 36b-38b; Krito; 2 Makabe 6:21-28). Keduanya berpandangan bahwa adalah lebih baik jika mereka pergi ke dunia orang mati demi membela hukum (Krito 54b-d; 2 Makabe 6:23). Keduanya berpendapat bahwa meskipun orang dapat luput dari penghukuman oleh manusia, orang tidak dapat luput dari penghukuman ilahi atas perbuatan tidak adil dan jahat yang dilakukannya (Apologi 39a-b; 2 Makabe 6:26). Baik Sokrates maupun Eleazar percaya penuh pada hakim-hakim adikodrati yang akan mereka temui setelah kematian (Apologi 41a; 2 Makabe 6:26). Orang-orang lalim yang mengendalikan nasib mereka merasa diserang oleh pembelaan diri keduanya lalu menjatuhkan hukuman mati bagi keduanya (Apologi 38c; 2 Makabe 6:29), dan kematian mereka dimaksudkan oleh keduanya sebagai peringatan dan contoh agung bagi orang lain, baik pada masa kehidupan mereka maupun bagi generasi selanjutnya (Faedo 118; 2 Makabe 6:31).
Itulah sekelumit filosofi Eleazar dan Sokrates, yang lebih memilih hidup berprinsip daripada menyerah pada kelaliman karena rasa takut pada kematian. Nalar yang benar membuat orang tidak takut menghadapi penderitaan dan kematian. Dengan me-manage pikiran kita, kita dapat menempatkan nalar di atas emosi, rasa takut dan kecengengan manusia, sehingga nalar memegang kendali dan, dengan demikian, kita sanggup berperilaku kesatria ketika sedang menghadapi suatu situasi yang dapat membuat kita pengecut dan ketakutan. Nalar kesatria semacam ini hanya ada pada orang-orang besar pembuat sejarah, bukan pada para pelaku terorisme yang ingin mengakhiri sejarah dunia dengan jalan kekerasan.
Friday, February 26, 2010
Manajemen Pikiran (7)
Orang beragama umumnya berpendapat bahwa mereka harus hidup suci sepenuhnya di dalam dunia ini. Dalam keyakinan mereka, mereka harus hidup suci seratus persen di dunia ini supaya nanti menerima pahala surga di alam baka setelah kematian. Atau, mereka mau menjalani suatu kehidupan tak bercacat secara moral di dunia ini karena mereka mau menyenangkan tuhan mereka atau mau menghormati perintah-perintah dan ajaran-ajaran sang nabi junjungan mereka yang dulu telah mendirikan agama yang mereka anut sekarang. Bisa juga, mereka mau menjalani kehidupan tanpa noda dan tanpa kesalahan karena kehidupan semacam ini menjadi suatu citra kehidupan ideal yang serius dikejar untuk dicapai oleh setiap mukmin yang menganut agama yang mereka anut, atau karena mereka ingin menjadi bagian dari kelompok elitis para santo dan santa yang disembah dalam agama mereka.
Tentu keinginan orang beragama untuk menjalani suatu kehidupan yang sepenuhnya suci di dalam dunia ini karena alasan-alasan di atas patut dihargai dan dihormati oleh siapapun. Tetapi, masalahnya adalah ketika seorang beragama manapun yang memiliki cita-cita moral tinggi untuk hidup suci seratus persen dalam dunia ini mendapati dirinya gagal hidup suci sepenuhnya, orang ini bisa tidak mau mengampuni dirinya sendiri dan bisa terus-menerus mempersalahkan dirinya sendiri. Para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa orang yang terus-menerus mempersalahkan dirinya sendiri akan menjadi orang yang tidak pernah bisa berbahagia selama kehidupannya, dan akan menjadi orang yang tidak bisa menghasilkan hal-hal yang baik apapun baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakatnya. Bahkan jika perasaan bersalah ini dibiarkan menumpuk dan akhirnya mendera batin dan pikiran orang ini dengan sangat kuat, orang ini akan bisa sakit jiwa.
Dampak negatif dan menghancurkan semacam ini, yang bisa menimpa seseorang yang memiliki cita-cita moral tinggi untuk menjadi seorang manusia suci sempurna dalam dunia ini, dapat dihindari jika orang ini mau berpikir bahwa hidup suci seratus persen, dengan tanpa cacat moral, adalah sesuatu yang mustahil diwujudkan dan memang tidak diperlukan terjadi. Mengapa demikian? Minimal ada dua alasan.
Pertama, kriteria suci atau tidak sucinya suatu tindakan moral itu relatif, sangat bergantung pada nilai religius dan nilai budaya yang dianut, zaman kehidupan si penganut dan konteks sosial kehidupannya. Agama dan budaya yang berbeda, zaman yang berganti, konteks sosial kehidupan yang berubah, akan menyebabkan kriteria suci dan tidak sucinya suatu perbuatan bergeser, berubah dan berganti. Etika dan moralitas itu selalu kontekstual. “Lain lubuk, lain ikannya”, itu kata peribahasa. Dan juga, “Di mana kita berdiri, di situ langit dijunjung.” Di era globalisasi sekarang ini, dengan ancaman-ancaman global yang harus dihadapi bersama oleh seluruh penduduk dunia, orang di mana-mana mengupayakan dicapainya suatu kesepakatan global mengenai nilai-nilai etis moral yang perlu dipertahankan dan diwujudkan oleh umat manusia sedunia. Kendatipun demikian, nyatanya globalisasi sekarang ini menimbulkan banyak reaksi dan perlawanan dari masyarakat lokal, berupa makin menguatnya nilai-nilai religius dan budaya lokal.
Kedua, manusia itu sejak dulu, beragama atau tidak beragama, selalu harus belajar ketika mau mencapai kemajuan. Ketika manusia belajar, manusia harus melakukan uji coba ini dan itu. Ketika melakukan uji coba, manusia kerap mengalami kegagalan. Nah, dari kegagalan ini, manusia dapat belajar sesuatu yang berharga untuk dia dapat melangkah lebih jauh dengan lebih arif dan dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Jadi, kesalahan atau kegagalan adalah juga guru yang baik bagi manusia yang mau terus belajar dan berkembang.
Melalui kesalahan moral yang direnungkan, manusia belajar sesuatu dan ini akan bisa membuatnya maju lebih jauh lagi dalam prestasi moralnya. Begitu juga, melalui percobaan ilmiah yang gagal, manusia juga bisa melangkah lebih maju lagi dalam pengembangan teori sains dan teknologi ketika kegagalan percobaan ini dipelajari lebih lanjut dengan saksama.
Jadi, kegagalan moral untuk hidup suci atau kegagalan percobaan di bidang sains dan teknologi adalah pengalaman-pengalaman berharga yang perlu diterima dengan lega, wajar dan terbuka oleh manusia yang mau belajar. Kesalahan dan kegagalan ini harus dijadikan sebagai sebuah pelajaran untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia, berapapun besarnya ongkos yang harus dibayar untuknya.
Jadi perlu ditegaskan bahwa orang yang berpikir benar dan terbuka pada kehidupan akan melihat setiap kegagalan sebagai bagian yang wajar dari kehidupannya dan malah sebagai sesuatu yang edukatif, dan karenanya orang itu tidak akan menangisi kegagalannya dalam rasa sesal yang tidak pernah berakhir. Jika demikian halnya, demi kesehatan jiwanya, orang beragama apapun tidak perlu bercita-cita untuk menjadi tokoh moral teragung tanpa noda di antara umatnya, melainkan perlu bersedia sepenuh hati untuk terus belajar baik dari keberhasilannya maupun dari kegagalannya, dan lewat proses pembelajaran ini dapat menjadi manusia yang semakin bijak dan dewasa dalam berpikir dan bertindak. Insan kamil adalah manusia yang dengan rendah hati mau terus belajar.
Saturday, January 16, 2010
Manajemen Pikiran (6)
(Tulisan ini telah terbit di Koran Tempo edisi 21 Januari 2010 hlm. A10 di rubrik Pendapat, dengan judul Iman Adalah Pikiran; atau klik di sini.)
Orang beragama sejak kecil umumnya diindoktrinasi oleh para rohaniwan dari berbagai agama untuk selalu mengutamakan iman dibandingkan akal budi ketika mereka sedang menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan mereka, atau ketika mereka sedang mencari pengetahuan objektif yang dapat diandalkan bagi kehidupan manusia.
Ketika seorang beragama sedang menghadapi suatu kesulitan berat, pengasuh rohaninya umumnya mengajarkannya untuk jangan bergantung pada akal budi sendiri, melainkan harus hanya dengan iman bergantung penuh dan pasrah pada Allah Yang Mahakuasa, dan menyerahkan semua persoalannya kepada-Nya. Yang dimaksud dengan “iman” dalam hal ini tentu adalah rasa percaya yang dikuat-kuatkannya sendiri dalam hatinya kepada Allah yang dilihat sebagai suatu figur Bapa atau Ibu pelindung dan penolong.
Tentu sikap berpasrah total kepada Allah bisa memberi suatu ketenteraman pada diri orang beragama yang sedang bermasalah berat dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tetapi rasa tenteram yang ditimbulkan oleh kepasrahan total bisa merupakan suatu rasa tenteram yang palsu, keliru dan berbahaya, karena membuat si mukmin tidak mau lagi memikirkan persoalannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mau lagi mencari jalan keluar secara rasional. Rasa tenteram yang semacam ini bisa berbahaya bagi dirinya karena menyebabkannya menunda menyelesaikan persoalannya dan membuat persoalannya makin menumpuk, makin rumit, dan makin membelit dan mematikan dirinya dari waktu ke waktu. Rasa tenteram semacam ini tidak produktif karena juga membuatnya bukan makin aktif mencari solusi persoalannya, melainkan membuatnya makin pasif dan akhirnya mematikan semua fungsi kreatif otaknya.
Para rohaniwan biasanya juga meminta umat mereka untuk beriman hanya kepada kebenaran Kitab Suci ketika mereka menjumpai konflik atau benturan antara apa yang ditulis dalam Kitab Suci dan apa yang menjadi pandangan sains modern tentang sesuatu hal. Yang dimaksud dengan “beriman” di sini adalah meyakin-yakinkan hati dan pikiran sebisa-bisanya dan sekuat-kuatnya, menyugesti diri sedalam-dalamnya dalam ketakwaan kepada Allah dan kepada suatu akidah keagamaan, bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci adalah benar sementara yang menjadi pandangan sains modern adalah salah.
“Beriman” secara demikian juga merugikan dan membahayakan diri si mukmin. Sebab pada satu pihak beriman semacam ini akan mendorong dirinya untuk selalu berupaya berargumentasi dengan cara pseudo-ilmiah untuk mempertahankan bahwa apa yang harfiah ditulis Kitab Suci adalah benar, sedangkan pandangan sains tentang hal yang sama adalah salah. Para pembela dogma kreasionisme dalam berbagai agama dewasa ini adalah contoh orang-orang semacam ini, orang-orang yang atas nama kewibawaan ilahi suatu Kitab Suci menolak pandangan-pandangan astrofisika, kosmologi, Darwinisme dan biologi modern!
Pada pihak lainnya, beriman semacam ini juga akan memaksa si mukmin untuk menjalani kehidupan dalam dua dunia yang berbeda dan berbenturan satu sama lain. Pada satu pihak dia harus hidup dalam suatu “dunia sakral” yang mengharuskannya membela dan mempertahankan mati-matian segala hal yang (dalam keyakinannya) ditulis oleh Allah dalam Kitab Suci. Tetapi pada pihak lainnya, di “dunia sekularnya” dia harus juga menerima pandangan-pandangan sains modern yang bertabrakkan dengan apa yang ditulis dalam suatu Kitab Suci tentang hal yang sama. Pandangan-pandangan sains modern ini diajarkan di sekolahnya dan harus diterimanya jika dia mau menjadi seorang nara didik yang berpikiran normal dan akhirnya bisa lulus dengan baik dari pendidikan formalnya. Inilah suatu bahaya psikologis patologis berupa keterpecahan kepribadian yang dialami setiap mukmin yang tidak bisa menempatkan dengan benar kedudukan suatu Kitab Suci keagamaan yang bukan kitab sains dan yang tidak mengajarkan sains, dan kedudukan sains modern sebagai pemandu kehidupan manusia dalam mencari kebenaran pengetahuan objektif dari berbagai hal yang mengitari kehidupan manusia setiap hari dalam kosmos yang sangat luas.
Untuk menghindari kekeliruan dan bahaya seperti yang sudah digambarkan di atas dalam pendidikan keagamaan, sudah seharusnya kita memandang bahwa iman dan rasio adalah dua hal yang sesungguhnya sama-sama diproses di dalam organ serebral maha penting dalam rongga kepala kita yang melahirkan dan mengatur pikiran kita, dan bahwa karena itu iman adalah pikiran juga. Jadi, jika kita dapati iman seorang mukmin tertentu sebagai iman yang membuta, kita harus memandang iman semacam ini juga sebagai pikiran yang membuta. Pikiran yang membuta adalah pikiran yang tidak di-manage dengan benar menuju suatu pencerahan. Begitu juga, iman yang naif, yang membuat seseorang mengambil sikap “asal percaya saja terhadap apa yang ditulis dalam Kitab Suci!”, adalah juga pikiran yang naif. Pikiran yang naif adalah pikiran yang tidak di-manage dengan kritis dan dengan saksama. Demikian juga, jika iman sekelompok mukmin membawa masyarakat ke dalam bahaya dan menjadikan kehidupan masyarakat tidak sehat, maka kita harus menyatakan bahwa pikiran mereka berbahaya dan sakit, dan pikiran semacam ini membuat masyarakat juga sakit atau dibawa ke dalam bahaya.
Dengan memandang dan memperlakukan iman sebagai pikiran, maka ketika kita menyatakan suatu ketidaksetujuan atau perlawanan kita terhadap suatu perilaku beriman seorang atau sekelompok orang beragama yang tidak betul atau yang mengancam kesehatan dan keutuhan masyarakat, kita bukan sedang berperkara dengan Allah Yang Mahakuasa yang diklaim melindungi kelompok ini, melainkan dengan pikiran-pikiran insani mereka yang keliru. Mereka keliru karena mereka telah lama diindoktrinasi dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan dan anti-sains, dan yang karenanya membahayakan dan memecahbelah masyarakat dan mengancam peradaban manusia yang dibangun di atas rasionalitas manusia.
Wednesday, November 11, 2009
Manajemen Pikiran (5)
Pada bagian akhir sebuah tulisan yang lalu, saya bertanya, apakah tidak ada nilai positif pada teodise. Kalau teodise dipikirkan sebagai sebuah keyakinan teologis bahwa karena allah YME itu mahakuasa, mahatahu, mahakasih, mahapenolong dan mahadil, maka dia akan senantiasa meluputkan seorang mukmin dari segala bencana, teodise yang semacam ini umumnya merusak dan mendemoralisasi si mukmin ketika dia sedang mengalami bencana yang tidak bisa diterimanya dengan ikhlas. Karena itu, kalau teodise kita kehendaki dapat memberi sebuah dampak positif pada manusia yang sedang menderita, kita harus membuat satu atau dua modifikasi pada konstruk pemikiran teologis ini. Pikiran kita harus dirombak cukup mendasar untuk kita bisa hidup tenteram dan ikhlas di tengah bencana sementara kita dapat tetap memegang kepercayaan bahwa allah itu mahakasih dan mahaadil. Merombak pikiran adalah salah satu langkah efektif dalam manajemen pikiran agar pikiran kita memberi kita ketenteraman dan kekuatan serta keikhlasan dalam kehidupan kita. Pikiran tentang allah yang kita rombak, akan berpengaruh positif pada sisi kerohanian kita.
Saya mulai dengan suatu pengalaman nyata yang umumnya dialami setiap orang ketika dia sedang mengalami suatu persoalan berat atau suatu kesusahan, misalnya ketika dia sedang menanggung suatu penyakit berat yang tak tersembuhkan. Sebutlah yang sedang menanggung suatu penyakit berat ini teman kita si A, seorang yang dikenal taat beragama dan menaruh kepercayaan penuh pada tuhannya. Dia sudah tahu bahwa penyakitnya sudah tak dapat disembuhkan lagi, dan bahwa dia tinggal menunggu waktu saja untuk meninggal. Pergumulan teologisnya di sekitar persoalan teodise sama sekali belum berakhir: sekian pertanyaan dan tuduhan berat masih senantiasa si A ajukan kepada tuhannya. Sisi kerohanian kehidupannya sedang rapuh, kalau tidak mau dikatakan sudah hancur lebur. Tetapi ada sesuatu yang menakjubkan terjadi pada dirinya.
Meskipun secara spiritual si A sedang lemah, tetapi sikap-sikapnya terhadap penyakit yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri menunjukkan suatu perkembangan positif: dia dari hari ke hari makin bisa menerima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan lagi, dan bahwa dia perlu mempersiapkan diri dengan tenang dan ikhlas untuk menerima ajal tidak lama lagi. Mengapa sikap positif semacam ini bisa muncul dan makin mantap di dalam dirinya sementara imannya kepada tuhannya sudah hancur total?
Tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap dirinya sehingga dia dapat memperlihatkan sikap-sikap positif semacam ini. Tetapi faktor yang sangat menentukan tidak lain adalah dukungan dan empati psikologis yang tulus, yang diterimanya dari para kekasihnya dan dari orang-orang di sekitarnya selama dia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya, yang akhirnya harus diserahkannya kepada kekuasaan penyakitnya. Istrinya yang tabah senantiasa menemaninya, senantiasa menghibur, senantiasa menguatkannya, senantiasa menunjukkan suatu empati besar terhadap azabnya, kendatipun sang istri diketahuinya tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menyembuhkannya. Tim dokter dan jururawat yang menangani penyakitnya dan merawat fisiknya juga memberikan perhatian dan empati yang sama besar, meskipun mereka dimakluminya sudah tidak akan bisa menyembuhkannya. Dan, lebih khusus lagi, si A selalu didampingi oleh seorang teman karibnya yang juga memberikan empati dan perhatian yang sangat besar. Sahabat karibnya ini tidak pernah mengkhotbahinya agar dia jangan memberontak dan durhaka kepada allah, tetapi lebih banyak berdiam diri dan melalui sikap diamnya ini dia memperlihatkan diri sebagai seorang yang ikut menderita bersamanya, sebagai seorang yang sedalam-dalamnya ikut menanggung sakit-penyakitnya kendatipun dia sama sekali tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkannya. Temannya ini, dan semua kekasih dan orang yang merawat dirinya, terus memperlihatkan kesetiaan dan empati mereka untuk terus berada bersamanya bahkan sampai ajal datang kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa setia menemani, ikut berbelarasa sedalam-dalamnya, sampai kapanpun selama dia masih hidup.
Nah, jika si A di hari-hari terakhir kehidupannya bisa memperlihatkan sikap-sikap positif terhadap penderitaan yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri karena dukungan dan empati psikologis yang demikian besar dan bertahan sampai akhir dari orang-orang di sekitarnya kendatipun orang-orang ini tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkan, maka kita perlu memegang suatu konsep tentang allah yang sejalan. Jika teodise mau memberikan suatu dampak positif terhadap kaum mukmin yang sedang ditimpa bencana berat, konsep tentang allah yang mahakuasa dan mahapenolong harus kita ganti dengan konsep tentang suatu allah yang tidak mahakuasa dan tidak mahapenolong, tetapi mahasetia dan mahaberempati terhadap kaum mukmin yang percaya kepadanya, yang sedang menanggung penderitaan berat. Konsep tentang allah yang semacam ini adalah suatu konsep tentang allah yang berwajah dan bertabiat sangat insani, sangat setia dan berbelarasa terhadap setiap mukmin yang menderita kendatipun sang allah ini, seperti manusia pada umumnya, lebih banyak tidak berdaya dalam melawan penderitaan dan kematian. Dalam kepercayaan Yahudi-Kristen, konsep tentang allah yang semacam ini diungkap dalam satu kata terkenal, yakni Immanuel, artinya “allah bersama kita”, dan dalam teologi inkarnasi: allah menjadi manusia dengan menyandang semua kodrat keinsanian, dan juga dalam teologi kenosis: allah mengosongkan dirinya total, menjadi seorang manusia sepenuhnya yang bahkan tidak berdaya sama sekali ketika harus menghadapi kenyataan kematian. Allah yang semacam ini tidak mahakuasa, tidak mahapenolong, tetapi tetap mahakasih, mahaadil, mahamenyertai dan mahaberbelarasa.
Jika seorang mukmin yang sedang menanggung azab dan kesengsaraan berpikiran demikian tentang allahnya, pikirannya ini akan berpengaruh pada sisi kerohaniannya. Dalam penderitaannya, si mukmin yang memegang teologi kesetiaan, belarasa sekaligus ketidakberdayaan allah semacam ini tetap bisa merasakan allah-nya begitu dekat dengan dirinya, bahkan menyatu dengan dirinya dan ikut bersamanya menanggung sakit penyakitnya sampai ajal mendatangi dirinya. Nah, manage-lah pikiran anda dan sahabat-sahabat anda sedemikian rupa sehingga anda dan mereka sanggup melepaskan suatu konsep tentang allah yang mahakuasa, dan sebaliknya merangkul suatu konsep tentang allah yang sangat insani: tidak mahakuasa, tetapi tahu apa artinya menampakkan persahabatan dan belarasa kepada kaum mukmin yang sedang menderita sampai ajal menjemput diri mereka.
Saya mulai dengan suatu pengalaman nyata yang umumnya dialami setiap orang ketika dia sedang mengalami suatu persoalan berat atau suatu kesusahan, misalnya ketika dia sedang menanggung suatu penyakit berat yang tak tersembuhkan. Sebutlah yang sedang menanggung suatu penyakit berat ini teman kita si A, seorang yang dikenal taat beragama dan menaruh kepercayaan penuh pada tuhannya. Dia sudah tahu bahwa penyakitnya sudah tak dapat disembuhkan lagi, dan bahwa dia tinggal menunggu waktu saja untuk meninggal. Pergumulan teologisnya di sekitar persoalan teodise sama sekali belum berakhir: sekian pertanyaan dan tuduhan berat masih senantiasa si A ajukan kepada tuhannya. Sisi kerohanian kehidupannya sedang rapuh, kalau tidak mau dikatakan sudah hancur lebur. Tetapi ada sesuatu yang menakjubkan terjadi pada dirinya.
Meskipun secara spiritual si A sedang lemah, tetapi sikap-sikapnya terhadap penyakit yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri menunjukkan suatu perkembangan positif: dia dari hari ke hari makin bisa menerima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan lagi, dan bahwa dia perlu mempersiapkan diri dengan tenang dan ikhlas untuk menerima ajal tidak lama lagi. Mengapa sikap positif semacam ini bisa muncul dan makin mantap di dalam dirinya sementara imannya kepada tuhannya sudah hancur total?
Tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap dirinya sehingga dia dapat memperlihatkan sikap-sikap positif semacam ini. Tetapi faktor yang sangat menentukan tidak lain adalah dukungan dan empati psikologis yang tulus, yang diterimanya dari para kekasihnya dan dari orang-orang di sekitarnya selama dia menjalani hari-hari terakhir kehidupannya, yang akhirnya harus diserahkannya kepada kekuasaan penyakitnya. Istrinya yang tabah senantiasa menemaninya, senantiasa menghibur, senantiasa menguatkannya, senantiasa menunjukkan suatu empati besar terhadap azabnya, kendatipun sang istri diketahuinya tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menyembuhkannya. Tim dokter dan jururawat yang menangani penyakitnya dan merawat fisiknya juga memberikan perhatian dan empati yang sama besar, meskipun mereka dimakluminya sudah tidak akan bisa menyembuhkannya. Dan, lebih khusus lagi, si A selalu didampingi oleh seorang teman karibnya yang juga memberikan empati dan perhatian yang sangat besar. Sahabat karibnya ini tidak pernah mengkhotbahinya agar dia jangan memberontak dan durhaka kepada allah, tetapi lebih banyak berdiam diri dan melalui sikap diamnya ini dia memperlihatkan diri sebagai seorang yang ikut menderita bersamanya, sebagai seorang yang sedalam-dalamnya ikut menanggung sakit-penyakitnya kendatipun dia sama sekali tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkannya. Temannya ini, dan semua kekasih dan orang yang merawat dirinya, terus memperlihatkan kesetiaan dan empati mereka untuk terus berada bersamanya bahkan sampai ajal datang kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa setia menemani, ikut berbelarasa sedalam-dalamnya, sampai kapanpun selama dia masih hidup.
Nah, jika si A di hari-hari terakhir kehidupannya bisa memperlihatkan sikap-sikap positif terhadap penderitaan yang sedang ditanggungnya dan juga terhadap dirinya sendiri karena dukungan dan empati psikologis yang demikian besar dan bertahan sampai akhir dari orang-orang di sekitarnya kendatipun orang-orang ini tidak memiliki daya apapun untuk menyembuhkan, maka kita perlu memegang suatu konsep tentang allah yang sejalan. Jika teodise mau memberikan suatu dampak positif terhadap kaum mukmin yang sedang ditimpa bencana berat, konsep tentang allah yang mahakuasa dan mahapenolong harus kita ganti dengan konsep tentang suatu allah yang tidak mahakuasa dan tidak mahapenolong, tetapi mahasetia dan mahaberempati terhadap kaum mukmin yang percaya kepadanya, yang sedang menanggung penderitaan berat. Konsep tentang allah yang semacam ini adalah suatu konsep tentang allah yang berwajah dan bertabiat sangat insani, sangat setia dan berbelarasa terhadap setiap mukmin yang menderita kendatipun sang allah ini, seperti manusia pada umumnya, lebih banyak tidak berdaya dalam melawan penderitaan dan kematian. Dalam kepercayaan Yahudi-Kristen, konsep tentang allah yang semacam ini diungkap dalam satu kata terkenal, yakni Immanuel, artinya “allah bersama kita”, dan dalam teologi inkarnasi: allah menjadi manusia dengan menyandang semua kodrat keinsanian, dan juga dalam teologi kenosis: allah mengosongkan dirinya total, menjadi seorang manusia sepenuhnya yang bahkan tidak berdaya sama sekali ketika harus menghadapi kenyataan kematian. Allah yang semacam ini tidak mahakuasa, tidak mahapenolong, tetapi tetap mahakasih, mahaadil, mahamenyertai dan mahaberbelarasa.
Jika seorang mukmin yang sedang menanggung azab dan kesengsaraan berpikiran demikian tentang allahnya, pikirannya ini akan berpengaruh pada sisi kerohaniannya. Dalam penderitaannya, si mukmin yang memegang teologi kesetiaan, belarasa sekaligus ketidakberdayaan allah semacam ini tetap bisa merasakan allah-nya begitu dekat dengan dirinya, bahkan menyatu dengan dirinya dan ikut bersamanya menanggung sakit penyakitnya sampai ajal mendatangi dirinya. Nah, manage-lah pikiran anda dan sahabat-sahabat anda sedemikian rupa sehingga anda dan mereka sanggup melepaskan suatu konsep tentang allah yang mahakuasa, dan sebaliknya merangkul suatu konsep tentang allah yang sangat insani: tidak mahakuasa, tetapi tahu apa artinya menampakkan persahabatan dan belarasa kepada kaum mukmin yang sedang menderita sampai ajal menjemput diri mereka.
Friday, November 6, 2009
Manajemen Pikiran (4)
Alam di planet Bumi dan planetnya sendiri adalah salah satu manifestasi dari alam raya maha besar tak terbatas. Kekuatan-kekuatan alam dan hukum-hukumnya yang tampak dan bekerja di planet Bumi adalah bagian dari kekuatan dan hukum alam yang memenuhi dan bekerja di alam semesta maha besar dan maha tak terbatas. Kemahabesaran dan kemahatakterbatasan alam raya adalah bagian dari sifat alam raya itu sendiri. Nah, bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap alam raya mahabesar dan mahatakterbatas ini? Karena sikap dan perilaku terhadap alam dilahirkan dari pikiran, maka sikap dan perilaku yang benar terhadap alam ditentukan oleh pikiran yang benar tentang alam itu sendiri.
Dalam tulisan sebelumnya telah dianjurkan untuk manusia mengendalikan pikirannya untuk senantiasa selaras dengan alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, baik ketika alam mendatangkan kebaikan bagi manusia maupun ketika alam menimbulkan malapetaka dan bencana kepada manusia. Kalau seseorang berpikir selaras dengan mekanisme kerja alam dalam segala situasi alam, orang itu akan merasakan batinnya tenteram dan pikirannya tenang dan akan meneruskan suasana batin dan keadaan pikirannya yang semacam ini kepada lingkungan kehidupan sekitarnya.
Ada hal-hal lain yang ditimbulkan oleh pemikiran yang selaras dengan alam. Berpikir selaras dengan alam akan memampukan orang untuk mengambil suatu sikap reverensial terhadap alam, yakni sikap respek, hormat, takjub dan gentar terhadap alam yang mahabesar dan mahatakterbatas. Sikap semacam ini membuat orang mengambil jarak terhadap alam dan tidak bertindak sembarangan terhadapnya. Sikap ini membuat orang mampu melihat suatu aura kesucian, a sacred quality, terpancar dari alam, yang diterima dan dirasakannya serta berpengaruh besar terhadap dirinya pribadi. Jika terhadap alam yang mahaluas dan mahatakterbatas ini seorang manusia dapat memberi sikap reverensial semacam ini, maka akan sangat lebih dimudahkan baginya untuk dia juga dapat membangun suatu sikap reverensial terhadap semua makhluk hidup lainnya, khususnya terhadap sesama manusia dalam masyarakatnya.
Dengan terus-menerus melatih berpikir dan bersikap reverensial terhadap alam, orang akan terus-menerus dimampukan untuk hidup berdamai dengan sesamanya dan dengan lingkungan kehidupan kulturalnya. Dengan teratur dan rajin bermeditasi untuk melatih menyelaraskan detak jantung, aliran pernafasan, aliran darah dan aliran pikiran dengan kekuatan dan mekanisme kerja dan detak alam yang menyelimutinya sebagai suatu aura kesucian, seorang pemeditasi melatih mentalnya untuk membangun suatu sikap reverensial terhadap alam dan terhadap sesama manusia dan terhadap semua makhluk.
Orang sering salah berpikir bahwa dengan membangun suatu sikap reverensial terhadap alam, orang akan menjadi pasif terhadap alam dan tidak berani mengeksplorasi alam, dan akibatnya ilmu pengetahuan manusia tentang alam tidak akan berkembang dan pada gilirannya manusia tidak akan menerima lebih banyak hal berguna dari alam. Saya ingin tegaskan bahwa ini adalah suatu pikiran yang keliru. Kekeliruan berpikir ini timbul tidak sedikit karena suatu ajaran agama yang salah atau tidak lengkap. Orang beragama pada umumnya senantiasa diajarkan untuk membangun suatu sikap reverensial total terhadap suatu “allah” yang mahakuasa. Tentu pada satu pihak ajaran ini mengandung suatu kebenaran khususnya dalam rangka membentuk suatu religious attitude, suatu sikap keagamaan. Tetapi pada pihak lain ajaran ini sering disampaikan dengan tidak lengkap.
Dalam suatu kisah suci Yahudi Nabi Musa konon diperintahkan untuk jangan mendekati teofani ilahi yang berupa “semak duri yang bernyala tetapi tidak terbakar” (Keluaran 3:1-5). Ketika Nabi Musa bermaksud untuk “memeriksa” atau “melihat”, mengeksplorasi, teofani di Gunung Horeb itu dari dekat, keluarlah suatu peringatan ilahi: “Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus” (ayat 5). Seperti keyakinan Yahudi ini, kebanyakan agama mengajarkan pemeluknya untuk tidak boleh datang dekat-dekat ke allah yang mereka sembah sebagai allah yang mahabesar dan mahatakterbatas. Dalam banyak ajaran agama-agama, allah yang semacam ini tidak boleh diperiksa dekat-dekat; allah yang semacam ini harus dijaga untuk tetap berada di kawasan kudus yang tidak boleh dimasuki manusia, kawasan suci yang tidak boleh dieksplorasi. Jadi, sikap reverensial dipertahankan kuat-kuat bahkan sampai membuang dan mematikan dorongan eksploratif manusia untuk memeriksa dan meneliti kawasan kudus ini.
Dalam manajemen pikiran yang saya sedang kembangkan, justru orang harus berani berpikir berbeda dari yang lazim dan tradisional. Saya ingin menegaskan bahwa kalau allah memang mahabesar, mahatakterbatas dan mahakudus, maka kemahabesaran, kemahatakterbatasan dan kemahakudusannya ini tersedia justru untuk dieksplorasi oleh manusia tanpa pernah bisa habis dieksplorasi, bukan untuk dijagai dan dilindungi dari segala macam bentuk pengeksplorasian.
Allah apapun tidak akan kehilangan kemahabesaran, kemahatakterbatasan dan kemahakudusannya jika semua ini dieksplorasi manusia yang menyembahnya. Allah yang takut dieksplorasi, atau yang dibentengi oleh para pemuka keagamaan sehingga tidak dapat dieksplorasi, justru bukan lagi allah yang mahabesar, mahatakterbatas dan maha kudus. Jadi, menurut pikiran saya, Nabi Musa sepatutnya waktu itu datang mendekat, sedekat mungkin, untuk mengeksplorasi penampakan ilahi yang dilihatnya. Nabi Musa tetap harus mempertahankan sikap reverensialnya terhadap allah yang dilihatnya karena allah ini bagi orang Yahudi kudus; tetapi sikap reverensial ini harus mendorongnya juga untuk memperlihatkan sikap eksploratifnya.
Sikap reverensial dan kegiatan eksploratif terhadap allah harus tumbuh bersama dalam diri seorang mukmin. Sebesar apapun allah itu, dan sesuci apapun dia itu, kebesaran dan kesucian allah ini tetap sebuah gagasan yang dibuat manusia yang harus terbuka untuk diperiksa dan dieksplorasi lebih jauh. Menabukan eksplorasi, dan hanya mewajibkan sikap reverensial, hanya akan menghasilkan orang beragama yang kurang pengalaman, orang beragama yang tidak cerdas, orang beragama yang tidak berilmu, orang beragama yang tidak kreatif, dan orang beragama yang taat membuta. Keberagamaan semacam ini biasanya akan bermuara pada terorisme. Jika semua orang beragama seperti ini, agama apapun akan mati pada akhirnya setelah agama ini membunuh banyak anak manusia.
Nah, dalam kehidupan beragama, manage-lah pikiran Anda sedemikian rupa sehingga Anda selalu bergairah untuk mengeksplorasi allah Anda sambil tetap mempertahankan sikap reverensial Anda terhadapnya. Nah, jika dalam dunia keagamaan Anda sudah me-manage pikiran Anda seperti yang saya baru anjurkan, maka Anda sudah dibebaskan dari suatu kendala untuk, selain menaruh respek penuh pada alam, juga untuk mengeksplorasi alam.
Alam yang mahabesar dan mahatakterbatas ini, yang darinya memancar suatu aura kesucian dan enerji kehidupan, tersedia untuk dieksplorasi, bukan untuk didiamkan. Jagat raya mahabesar ini tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Dorongan mengeksplorasi alam yang disertai dengan sikap reverensial pada alam akan menghasilkan para ilmuwan dan teknologiwan yang bekerja dengan profesional, namun juga pada waktu yang bersamaan bekerja dengan penuh cinta pada alam. Bekerja dengan wawasan dan semangat serta sikap yang semacam ini akan menghentikan pengeksploitasian alam yang dilakukan manusia hanya demi memuaskan nafsu serakah mereka. Manage-lah pikiran Anda ke arah berpikir semacam ini, terlebih lagi jika Anda adalah para ilmuwan dan teknologiwan yang setiap hari bekerja dan bersentuhan langsung dengan dunia alam.
Dalam tulisan sebelumnya telah dianjurkan untuk manusia mengendalikan pikirannya untuk senantiasa selaras dengan alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, baik ketika alam mendatangkan kebaikan bagi manusia maupun ketika alam menimbulkan malapetaka dan bencana kepada manusia. Kalau seseorang berpikir selaras dengan mekanisme kerja alam dalam segala situasi alam, orang itu akan merasakan batinnya tenteram dan pikirannya tenang dan akan meneruskan suasana batin dan keadaan pikirannya yang semacam ini kepada lingkungan kehidupan sekitarnya.
Ada hal-hal lain yang ditimbulkan oleh pemikiran yang selaras dengan alam. Berpikir selaras dengan alam akan memampukan orang untuk mengambil suatu sikap reverensial terhadap alam, yakni sikap respek, hormat, takjub dan gentar terhadap alam yang mahabesar dan mahatakterbatas. Sikap semacam ini membuat orang mengambil jarak terhadap alam dan tidak bertindak sembarangan terhadapnya. Sikap ini membuat orang mampu melihat suatu aura kesucian, a sacred quality, terpancar dari alam, yang diterima dan dirasakannya serta berpengaruh besar terhadap dirinya pribadi. Jika terhadap alam yang mahaluas dan mahatakterbatas ini seorang manusia dapat memberi sikap reverensial semacam ini, maka akan sangat lebih dimudahkan baginya untuk dia juga dapat membangun suatu sikap reverensial terhadap semua makhluk hidup lainnya, khususnya terhadap sesama manusia dalam masyarakatnya.
Dengan terus-menerus melatih berpikir dan bersikap reverensial terhadap alam, orang akan terus-menerus dimampukan untuk hidup berdamai dengan sesamanya dan dengan lingkungan kehidupan kulturalnya. Dengan teratur dan rajin bermeditasi untuk melatih menyelaraskan detak jantung, aliran pernafasan, aliran darah dan aliran pikiran dengan kekuatan dan mekanisme kerja dan detak alam yang menyelimutinya sebagai suatu aura kesucian, seorang pemeditasi melatih mentalnya untuk membangun suatu sikap reverensial terhadap alam dan terhadap sesama manusia dan terhadap semua makhluk.
Orang sering salah berpikir bahwa dengan membangun suatu sikap reverensial terhadap alam, orang akan menjadi pasif terhadap alam dan tidak berani mengeksplorasi alam, dan akibatnya ilmu pengetahuan manusia tentang alam tidak akan berkembang dan pada gilirannya manusia tidak akan menerima lebih banyak hal berguna dari alam. Saya ingin tegaskan bahwa ini adalah suatu pikiran yang keliru. Kekeliruan berpikir ini timbul tidak sedikit karena suatu ajaran agama yang salah atau tidak lengkap. Orang beragama pada umumnya senantiasa diajarkan untuk membangun suatu sikap reverensial total terhadap suatu “allah” yang mahakuasa. Tentu pada satu pihak ajaran ini mengandung suatu kebenaran khususnya dalam rangka membentuk suatu religious attitude, suatu sikap keagamaan. Tetapi pada pihak lain ajaran ini sering disampaikan dengan tidak lengkap.
Dalam suatu kisah suci Yahudi Nabi Musa konon diperintahkan untuk jangan mendekati teofani ilahi yang berupa “semak duri yang bernyala tetapi tidak terbakar” (Keluaran 3:1-5). Ketika Nabi Musa bermaksud untuk “memeriksa” atau “melihat”, mengeksplorasi, teofani di Gunung Horeb itu dari dekat, keluarlah suatu peringatan ilahi: “Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus” (ayat 5). Seperti keyakinan Yahudi ini, kebanyakan agama mengajarkan pemeluknya untuk tidak boleh datang dekat-dekat ke allah yang mereka sembah sebagai allah yang mahabesar dan mahatakterbatas. Dalam banyak ajaran agama-agama, allah yang semacam ini tidak boleh diperiksa dekat-dekat; allah yang semacam ini harus dijaga untuk tetap berada di kawasan kudus yang tidak boleh dimasuki manusia, kawasan suci yang tidak boleh dieksplorasi. Jadi, sikap reverensial dipertahankan kuat-kuat bahkan sampai membuang dan mematikan dorongan eksploratif manusia untuk memeriksa dan meneliti kawasan kudus ini.
Dalam manajemen pikiran yang saya sedang kembangkan, justru orang harus berani berpikir berbeda dari yang lazim dan tradisional. Saya ingin menegaskan bahwa kalau allah memang mahabesar, mahatakterbatas dan mahakudus, maka kemahabesaran, kemahatakterbatasan dan kemahakudusannya ini tersedia justru untuk dieksplorasi oleh manusia tanpa pernah bisa habis dieksplorasi, bukan untuk dijagai dan dilindungi dari segala macam bentuk pengeksplorasian.
Allah apapun tidak akan kehilangan kemahabesaran, kemahatakterbatasan dan kemahakudusannya jika semua ini dieksplorasi manusia yang menyembahnya. Allah yang takut dieksplorasi, atau yang dibentengi oleh para pemuka keagamaan sehingga tidak dapat dieksplorasi, justru bukan lagi allah yang mahabesar, mahatakterbatas dan maha kudus. Jadi, menurut pikiran saya, Nabi Musa sepatutnya waktu itu datang mendekat, sedekat mungkin, untuk mengeksplorasi penampakan ilahi yang dilihatnya. Nabi Musa tetap harus mempertahankan sikap reverensialnya terhadap allah yang dilihatnya karena allah ini bagi orang Yahudi kudus; tetapi sikap reverensial ini harus mendorongnya juga untuk memperlihatkan sikap eksploratifnya.
Sikap reverensial dan kegiatan eksploratif terhadap allah harus tumbuh bersama dalam diri seorang mukmin. Sebesar apapun allah itu, dan sesuci apapun dia itu, kebesaran dan kesucian allah ini tetap sebuah gagasan yang dibuat manusia yang harus terbuka untuk diperiksa dan dieksplorasi lebih jauh. Menabukan eksplorasi, dan hanya mewajibkan sikap reverensial, hanya akan menghasilkan orang beragama yang kurang pengalaman, orang beragama yang tidak cerdas, orang beragama yang tidak berilmu, orang beragama yang tidak kreatif, dan orang beragama yang taat membuta. Keberagamaan semacam ini biasanya akan bermuara pada terorisme. Jika semua orang beragama seperti ini, agama apapun akan mati pada akhirnya setelah agama ini membunuh banyak anak manusia.
Nah, dalam kehidupan beragama, manage-lah pikiran Anda sedemikian rupa sehingga Anda selalu bergairah untuk mengeksplorasi allah Anda sambil tetap mempertahankan sikap reverensial Anda terhadapnya. Nah, jika dalam dunia keagamaan Anda sudah me-manage pikiran Anda seperti yang saya baru anjurkan, maka Anda sudah dibebaskan dari suatu kendala untuk, selain menaruh respek penuh pada alam, juga untuk mengeksplorasi alam.
Alam yang mahabesar dan mahatakterbatas ini, yang darinya memancar suatu aura kesucian dan enerji kehidupan, tersedia untuk dieksplorasi, bukan untuk didiamkan. Jagat raya mahabesar ini tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Dorongan mengeksplorasi alam yang disertai dengan sikap reverensial pada alam akan menghasilkan para ilmuwan dan teknologiwan yang bekerja dengan profesional, namun juga pada waktu yang bersamaan bekerja dengan penuh cinta pada alam. Bekerja dengan wawasan dan semangat serta sikap yang semacam ini akan menghentikan pengeksploitasian alam yang dilakukan manusia hanya demi memuaskan nafsu serakah mereka. Manage-lah pikiran Anda ke arah berpikir semacam ini, terlebih lagi jika Anda adalah para ilmuwan dan teknologiwan yang setiap hari bekerja dan bersentuhan langsung dengan dunia alam.
Friday, October 23, 2009
Manajemen Pikiran (3)
Kalau dalam tulisan Manajemen Pikiran 2 fokus diarahkan pada segi kebaikan dan kemurahan alam, tulisan yang sekarang itu dipusatkan pada segi lainnya yang bertolakbelakang, yakni segi keburukan dan kekerasan alam. Saya ragu-ragu untuk menyatakan bahwa alam pada dirinya sendiri tidak memiliki hati nurani, atau sebagai sesuatu yang netral, sehingga sebetulnya orang tidak dapat berbicara mengenai segi baik dan segi buruk alam.
Saya pikir saya akan terus bertanya-tanya, apakah pada dirinya sendiri alam tidak memiliki kesadaran nurani sementara hukum-hukum dan kekuatannya yang bekerja di segenap jagat raya telah dan akan terus menghasilkan banyak kebaikan, keteraturan, pesona, keindahan dan kehidupan yang berkesadaran seperti dijumpai dalam tetumbuhan, hewan dan tentu saja manusia sebagai suatu bagian dari dunia hewan. Fauna dan flora yang tercipta dalam alam, apa bukan suatu bukti bahwa alam ini sendiri, nature in itself, memiliki suatu kehidupan yang berkesadaran, a conscious life? Saya belum mau menjawab pertanyaan yang sangat penting dan mengganggu ini sekarang.
Saya sekarang ini hanya mau mengingatkan bahwa janganlah kita cepat-cepat menghipotesiskan adanya suatu “allah” yang terpisah radikal dari alam, yang memiliki kesadaran diri bahkan kepribadian dan kekuatan kreatif, yang telah menciptakan alam di luar dirinya, yang telah menjadikan semua makhluk hidup dalam alam ini, dan yang tidak akan pernah menjadi sama dengan alam ini. Saya tentu maklum, orang yang beragama monoteistik sudah terbiasa dengan radikal memisahkan sang khalik dari sang makhluk. Tetapi, saya justru ingin mengintegrasikan kembali “oknum” yang disebut allah ini ke dalam alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, sehingga allah=alam, kekuatannya dan hukum-hukumnya, sehingga sang khalik=sang makhluk. Nanti, dalam sebuah tulisan lainnya dalam serial tulisan ini, akan saya perlihatkan bahwa posisi yang saya sarankan ini bukan sekadar suatu sudut pandang mistikal dan animistik yang sudah berusia tua bahkan usang yang dikenakan kepada alam, tetapi juga suatu posisi yang memiliki suatu landasan filosofis dan saintis yang kuat.
Taruhlah, sementara ini, alam memang pada dirinya sendiri tidak memiliki hati nurani sehingga alam tidak dapat membedakan mana segi baik dan mana segi buruk dirinya. Tetapi dalam rangka manajemen pikiran, saya tidak dapat menghindari keharusan untuk memberi suatu value pada alam. “Value” adalah nilai yang kita berikan kepada sesuatu yang material: apakah yang material ini baik atau buruk, indah atau jelek, benar atau salah, pengasih atau kejam, pemelihara atau perusak, pembangun atau penghancur, membahagiakan atau menyedihkan, adil atau berat sebelah, ilahi atau satanik, dan sebagainya.
Sikap kita terhadap sesama manusia yang memiliki kesadaran nurani, akal-budi dan kepribadian pun ditentukan oleh value yang kita lekatkan pada sesama kita itu, bukan pada value yang diklaim sudah melekat pada diri sesama kita itu sejak dia dilahirkan. Kita semua tahu bahwa semua manusia sejak dilahirkan adalah makhluk mulia dan merdeka; mulia dan merdeka ini adalah value intrinsik. Tetapi kepada seorang pengemis, misalnya, kita tidak bersikap sejalan dengan sifat mulia dan merdeka yang ada pada diri sang pengemis sejak dia dilahirkan, melainkan sejalan dengan value apa yang kita lekatkan pada si pengemis yang kita sedang jumpai, misalnya value bahwa setiap pengemis adalah orang yang malas, suka menipu, jahat, buruk, keji, dan sebagainya, dan karena itu, bagi kita, setiap pengemis tidak perlu dikasihani.
Tujuan dari manajemen pikiran adalah supaya orang yang dengan benar me-manage pikirannya, orang itu akan dapat hidup dengan memberi value yang berarti, yang signifikan, kepada lingkungan kehidupannya dan kepada dirinya sendiri. Supaya dari dirinya, melalui manajemen pikiran yang benar, mengalir kebaikan, keindahan, kebenaran, kasih, pemeliharaan, pembangunan, kebahagiaan, keadilan dan keilahian kepada lingkungan keberadaannya dan kepada dirinya sendiri. Kalau manajemen pikiran dikaitkan dengan sikap seseorang kepada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya, sikap ini mengharuskannya memberi value pada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya. Dengan memberi value pada alam, orang, melalui manajemen pikiran, dapat menentukan apakah dia mau hidup serasi atau berlawanan dengan nilai-nilai atau values yang sudah dilekatkannya kepada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya. Tanpa value yang kita tempelkan pada alam, manajemen pikiran yang dikaitkan dengan alam tidak dapat dijalankan.Dalam seri kedua tulisan ini, sudah dianjurkan untuk orang me-manage pikirannya untuk serasi dengan alam, kekuatan dan hukum-hukumnya berdasarkan penerimaan dan pengakuan yang sadar bahwa alam, kekuatan dan hukum-hukumnya memiliki maksud-maksud yang baik, benar, membangun, menghidupkan, membahagiakan, rahmani dan rahimi. Nah, bagaimana manajemen pikiran harus dilakukan jika manajemen ini dikaitkan dengan sifat-sifat buruk, jahat, keji, menghancurkan, membunuh, membinasakan yang juga sama seringnya kita lihat ada pada alam, kekuatan dan hukum-hukumnya?
Pada kesempatan ini, saya sarankan bahwa untuk me-manage pikiran dengan benar sehubungan dengan sifat-sifat buruk alam, langkah penting yang harus dilakukan adalah orang harus melepaskan dirinya, pikiran dan hatinya, dari suatu pergumulan teologis psikologis yang dinamakan problem teodise.
Istilah “teodise” berasal dari dua kata Yunani: theos=allah; dan dikē=keadilan. Problem teodise adalah suatu problem teologis psikologis yang diderita seorang yang beragama (khususnya beragama monoteistik), yang ditimbulkan oleh suatu ajaran dan keyakinan bahwa Allah YME itu adalah allah yang maha kuasa, maha kasih, maha tahu, maha penolong, maha pelindung dan maha adil, khususnya bagi orang-orang yang saleh, taat beragama dan beribadah dan (relatif) tidak memiliki cacat akhlak. Dalam teodise dipercaya bahwa allah yang memiliki semua sifat ini akan senantiasa, dengan kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahakasihan dan kemahaadilan-Nya, melindungi, menjaga dan memelihara orang-orang saleh dan akan meluputkan mereka dari segala bencana.
Orang yang dengan kuat dan saleh memegang teodise umumnya akan mengalami suatu tekanan psikologis yang sangat kuat dan berat ketika dirinya sendiri atau orang-orang lain yang sangat dicintainya mengalami suatu musibah berat, musibah buatan manusia ataupun musibah bencana alam dahsyat. Tekanan psikologis yang berat dan kuat ini timbul karena orang itu tidak bisa menerima dalam hati dan pikirannya kalau allah yang dipercayanya memiliki sifat-sifat demikian ternyata telah membiarkan dirinya atau diri orang-orang yang sangat dikasihinya mengalami bencana dahsyat sampai membuatnya atau membuat mereka yang dicintainya menderita sangat berat (cacat fisik seumur hidup, misalnya) atau mati mengenaskan tanpa makna.
Keadaan tidak bisa menerima kenyataan bencana ini membuat batin orang itu sangat tertekan, pikirannya tersumbat, imannya kacau balau, jiwanya porak-poranda, nuraninya tidak bekerja, untuk waktu yang bisa sangat lama; dan, akhirnya, semua keadaan psikologis yang buruk ini membinasakannya juga ketika dirinya sendiri sudah lost, terhilang. Sebelum terhilang, orang ini akan terus bertanya dan memprotes kepada allah yang tidak kelihatan, namun dipercaya ada olehnya: Allah, allahku, mengapa engkau membiarkan penderitaan dan bencana ini terjadi padaku? Allah, allahku, mengapa engkau meninggalkan aku? Bukankah engkau mahakuasa? Bukankah sudah seharusnya engkau melindungi aku dan orang-orang yang kukasihi dengan kemahakuasaanmu? Bukankah engkau maha bisa? Mengapa engkau tidak menyingkirkan bencana ini jauh-jauh dari kami? Di mana keadilanmu? Buat apa selama ini kami taat beragama dan beribadah dan menaruh kepercayaan penuh kepadamu? Engkau allah pengkhianat! Engkau allah yang kejam! Dst …..
Nah, pikiran yang dikendalikan oleh kepercayaan dan keyakinan pada teodise akan membuat orang menjadi sangat menderita, hidup tidak tenteram dan tidak berbahagia, dan dapat membuatnya juga binasa, ketika orang itu mengalami kenyataan bahwa alam, kekuatannya serta hukum-hukumnya telah mendatangkan dan menimpakan keburukan, kekejian dan bencana terhadap dirinya dan terhadap orang-orang yang dikasihinya. Pikiran yang dikuasai teodise akan menimbulkan keadaan tidak sehat pada seluruh tubuh dan pada seluruh mayarakat ketika bencana dan musibah dahsyat menimpa.
Nah, supaya teodise tidak menghancurkan dan membinasakan Anda, manage-lah pikiran anda dengan membuang semua kepercayaan pada teodise ketika alam, kekuatan dan hukum-hukumnya mendatangkan penderitaan dan bencana terhadap diri anda.
Anda sebaiknya tahu, dalam kasus-kasus terjadinya bencana yang dahsyat, orang-orang yang tidak beragama, yang ateistik, ternyata bisa sangat tenang dalam menghadapi bencana ini, dan sanggup menerima semua akibatnya dengan tabah dan tegar, karena kesadaran dan pengetahuan mereka bahwa alam, kekuatan dan hukum-hukumnya juga bisa merusak, menghancurkan dan membinasakan! Me-manage pikiran dengan benar ketika orang sedang menghadapi bencana dan kematian yang ditimbulkan oleh daya alam yang merusak dan membinasakan adalah me-manage pikiran untuk serasi dengan kekuatan-kekuatan alam yang membinasakan, yang melenyapkan kehidupan, yang tidak bisa lagi dihindari oleh manusia entah secara naluriah atau pun secara kultural teknologis.
Tetapi, mungkin Anda masih mau bertanya, apakah tidak ada segi positif dari kepercayaan pada teodise? Nantilah kita gumuli pertanyaan ini.
Wednesday, October 14, 2009
Manajemen Pikiran (2)
Kemampuan luar biasa pikiran manusia modern bukanlah sesuatu yang mendadak diciptakan dalam satu hari penciptaan oleh suatu oknum spiritual adikodrati yang dinamakan Tuhan, Allah, Theos, God, Yahweh, Adonai, Kurios, Elohim, Dewa, Debata, Gusti Alloh, Shangdi, Summum Bonum, Jeevan Mukti, Zeus, Langit, Logos, Aum atau Tao dan lain sebagainya. Kemampuan akal manusia modern sekarang ini adalah suatu hasil dari suatu proses evolusioner spesies di planet Bumi yang sudah berlangsung 3 milyar tahun lamanya, suatu proses yang sangat panjang dan makan waktu. Inteligensi atau kemampuan otak manusia untuk berpikir atau bernalar cerdas adalah suatu produk dari suatu proses evolusi yang dimulai oleh alam dan kekuatannya dan dikendalikan oleh hukum-hukum alam atau natural laws.
Karena hasil evolusi spesies ini adalah makhluk cerdas yang dinamakan homo sapiens sapiens yang dengan kecerdasan pemberian alam ini mereka dapat membangun dan mempertahankan serta mengembangkan peradaban mereka, bahkan dapat mencintai secara naluriah, maka bagi manusia (Latin= homo) alam, kekuatan dan mekanisme kerjanya adalah baik, bajik dan pemelihara. Hukum-hukum alam ini dan kekuatannya bukan hanya bekerja di planet Bumi, tetapi juga di seluruh alam semesta yang mahabesar dan tanpa batas-batas material geografis.
Mekanisme kerja hukum-hukum alam semesta ini sudah banyak dipahami manusia melalui kekuatan dan kemampuan inteligensinya yang melahirkan sains, yang didukung oleh sekian peralatan teknologis modern untuk menyelidiki alam planet Bumi dan juga alam jagat raya maha besar. Meskipun demikian, masih ada sangat banyak hukum alam yang belum dipahami dan yang belum diketahui manusia. Kendatipun masih ada banyak sifat, kekuatan dan mekanisme kerja hukum alam yang belum dipahami dan diketahui manusia, namun satu hal sudah pasti, yakni hukum-hukum alam ini bekerja dengan kekuatannya untuk menghasilkan kebaikan dan kebajikan buat semua makhluk hidup di planet Bumi ini dan tentunya juga buat semua makhluk hidup yang ada di jagat raya nan maha luas ini. Dari mana datangnya udara, oksigen, berbagai macam gas, angin, api, air, hujan, suara, cahaya dan panas matahari, sinar rembulan, tanah, barang tambang, tetumbuhan, hewan, gunung-gemunung, air terjun, hutan, samudera, sungai-sungai, cahaya kosmik, dan lain-lainnya, yang semuanya memberi dan menopang kehidupan manusia dan semua makhluk hidup lainnya, kalau bukan dari alam dan kekuatannya?
Tentu orang bisa langsung bereaksi negatif terhadap pernyataan saya ini, dengan dia langsung menyebut sekian hal buruk dan kejam yang dapat ditimbulkan alam terhadap manusia dan semua makhluk hidup lainnya di planet Bumi. Orang dengan realistik dapat menyatakan bahwa alam dan kekuatan serta hukum-hukumnya telah dan akan terus menimbulkan berbagai bencana alam, mulai dari yang relatif sedikit merusak sampai yang sangat merusak, mematikan dan membinasakan, seperti bencana alam Tsunami, gempa bumi berkekuatan besar, badai dahsyat di darat maupun di laut, letusan dahsyat gunung berapi, tanah longsor, terbelahnya kulit bumi, ancaman planet Bumi ditelan oleh lidah-lidah api panas bintang Matahari ketika sang bintang ini membesar dan menjadi sebuah bola gas merah raksasa yang membara, dan lain sebagainya. Tentu saja saya juga mengakui bahwa alam, kekuatannya dan mekanisme kerjanya juga bisa mendatangkan kerusakan besar dan kebinasaan pada semua makhluk hidup.
Banyak pendiri agama-agama di dunia sudah menggumuli dan berusaha menerangkan dua aspek dari alam ini, aspek kebajikan atau kebaikan alam dan aspek buruk dan keji yang menghancurkan dan membinasakan. Kedua kekuatan alam yang bertolakbelakang ini di-personifikasi-kan dalam dua wujud dewa-dewi dengan dua karakter yang bertabrakkan satu sama lain. Dalam Hinduisme misalnya, Dewa Siwa digambarkan sebagai sang Dewa perusak dan pembinasa, di samping ada dewa-dewa lain yang bersifat memulihkan dan membangun serta memelihara alam dan segenap makhluk hidup.
Nah, pada kesempatan ini saya fokus dulu pada sifat baik dan bajik dari alam, kekuatannya serta mekanisme kerjanya, seperti terbukti, telah dikatakan di atas, pada hasil evolusi alamiah spesies di planet Bumi yang pada masa kini telah menghasilkan beragam jenis makhluk cerdas yang berakal budi dan bijaksana, yang dinamakan homo sapiens sapiens, sebagai bagian tidak terpisah dari seluruh alam planet Bumi dan semua makhluk hidup yang mendiami planet ini. Tanpa pemberian akal dan kecerdasan pada manusia oleh alam, kita semua mungkin sudah lama lenyap dari planet Bumi, dan planet Bumi, jika demikian, mungkin akan hanya dihuni oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki inteligensi seperti yang dimiliki manusia.
Nah, dalam rangka manajemen pikiran, seseorang akan dapat hidup dengan tenang, senang, ceria, lega, sehat, mantap, optimistik, penuh ucapan syukur, tidak resah dan gelisah, tabah, kokoh dan kuat, tidak agresif, lemah lembut, jika dia mensyukuri dan berterima kasih kepada alam dan kekuatannya atas segala kebajikan dan kebaikan yang telah, sedang dan akan diterimanya dari alam dalam kehidupannya, teristimewa atas karunia akal budi dan kecerdasan yang berasal dari alam, yang diberi kepada otak kita yang harus terus dipelihara, dipakai dan diasah. Dalam rangka manajemen pikiran, empat hal berikut ini perlu dihayati dan dipraktekkan.
- Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian mengenai alam akan semaksimal mungkin menjalani kehidupannya selaras dengan alam, kekuatan dan mekanisme kerjanya;
- Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian mengenai alam akan senantiasa berusaha menerima dengan rela dan lega apapun yang alam telah, sedang dan akan beri kepadanya, dalam kepercayaan bahwa alam, kekuatan dan mekanisme kerjanya mempunyai maksud-maksud baik yang berkesadaran terhadap manusia dan perjalanan kehidupannya, kalau tidak dialami pada masa kini, ya di masa depan;
- Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian terhadap alam bahkan akan dimampukan untuk bergaul erat dan intim, bahkan menyatu, dengan alam, kekuatan serta mekanisme kerjanya;
- Orang yang berpikir dan berkesadaran demikian tentang alam bahkan akan dapat menerima dan mengalami kenyataan bahwa ternyata alam dan kekuatan serta mekanisme kerjanya itu berkepribadian, maha pengasih, pemurah, rahimi dan rahmani, dapat dipanggil dalam batin atau lewat doa dan menjawab doa— sifat-sifat yang biasanya orang beri hanya kepada allah-allah personal yang diberitakan agama-agama.
Sunday, September 27, 2009
Manajemen Pikiran (1)
Ada orang berupaya kuat mencari dan mendapatkan kesucian hidup (holy life) dengan jalan menyiksa diri, mengekang bahkan mematikan semua keinginan dan hasrat ragawi. Ini dilakukan dengan suatu pengharapan bahwa melalui penderaan serta pendisiplinan keras tubuh yang terus-menerus orang itu akan tiba pada pencerahan dan kesucian, ketika segala dorongan ragawi dikalahkan dan tidak lagi berkuasa atas dirinya. Untuk tujuan yang sama, ada juga orang yang menarik diri dari dunia nyata dan segala pergumulannya, lalu mengasingkan diri ke hutan-hutan rimba, gunung-gunung tinggi, goa-goa yang gelap, gurun-gurun pasir yang gersang, untuk bersemedi dengan makan hanya sedikit atau malah tanpa makan apapun. Ini dilakukan dengan suatu pengharapan bahwa dia, di dalam kesunyian yang dalam dan kelam, akan menerima suatu bisikan ilahi yang akan menjadikannya seorang suci pembawa wahyu supernatural ke dalam dunia.
Kalangan keagamaan legalistik (atau nomistik) percaya bahwa kesucian hidup hanya dapat dicapai dengan menaati sekuat dan sebisa mungkin, tanpa kegagalan, semua tuntutan hukum keagamaan. Seolah hukum keagamaan, Taurat atau Syariat misalnya, akan menjadi semacam perisai baginya yang selalu melindunginya dari semua serangan gencar kenajisan, kecemaran, noda, dosa dan kekeliruan serta tipu daya kehidupan dunia.
Bagaimana dengan Yesus dari Nazaret? Yesus menghindari ketiga cara di atas. Bacalah teks Markus 7:1-8, 14-23 (bdk Lukas 6:45). Kata Yesus, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Markus 7:20). Maksud Yesus, hati (hē kardia) atau, lebih tepat, pikiran (ho dialogismos) seseorang menentukan apakah orang itu najis (koinos), atau apakah orang itu suci (hagios). Jadi, bagi Yesus, kesucian hidup didapat dan dipertahankan melalui pengendalian pikiran dari dalam, from within, atau melalui apa yang saya dapat namakan “manajemen pikiran” (thought management), yaitu upaya menata, menggunakan, mengendalikan, mengasah dan mengembangkan serta mengonsentrasikan pikiran untuk menghasilkan kebaikan bagi dunia ini.
Pikiran seseorang secara kongkret dikeluarkan atau diekspresikan atau diungkap dengan terang sedikitnya melalui tiga medium. Pertama, melalui perkataan atau lidah; kedua, melalui pena atau tulisan, dan, ketiga, melalui tindakan. Dengan lidah, orang bisa mencaci, mendamprat, menyakiti dan mengutuk orang lain, tetapi bisa juga dengan lidah yang sama memuji, menghibur, menguatkan dan memberkati orang lain. Dengan pena, orang bisa membuat orang lain bertambah bodoh melalui penulisan buku-buku sampah yang memuat informasi sains yang dangkal, usang dan keliru, tetapi juga bisa mencerdaskan dan mencerahkan orang lain melalui penulisan buku-buku ilmu pengetahuan mutakhir yang valid. Dengan tindakan, orang bisa membangun dan membarui dunia, tetapi bisa juga menghancurkan dan melenyapkan planet Bumi ini. Nah, jika orang mampu melakukan manajemen pikiran, melalui pengendalian lidah, pena dan tindakan, kehidupan orang itu akan dari waktu ke waktu bertambah suci, kendatipun dia bukan seorang nabi atau seorang imam atau seorang nazir atau seorang yogi atau seorang pertapa. Melalui manajemen pikiran, setiap orang, laki-laki dan perempuan, potensial menjadi seorang suci, a holy human being, yang tetap aktif dalam dunia ini dengan segala tantangan dan persoalannya, dan melalui kesuciannya membawa perubahan dan perbaikan ke dalam dunia ini untuk kebaikan segenap makhluk. (Bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)





