Friday, December 11, 2009

Menurut Papa, Masa Depan Yang Ada Harus Dijalani Dengan Tenang dan Dengan Tetap Berpikiran Rasional

Sebuah pendapat putri Pdt. Ioanes Rakhmat

oleh Areta S. Kh. Rakhmat
Siswi kelas 3 SMP Penabur, Jakarta

Ayah kami, Ioanes Rakhmat, adalah sosok seorang ayah yang tegas dalam segala sesuatunya. Orangnya rajin, tekun dan sudah berusaha bekerja mencari nafkah sejak beliau masih duduk di bangku sekolah SMA dulu. Beliau adalah orang yang cerdas, berpikiran luas, kritis, dan tak suka dibatasi dalam pemikirannya. Papa tidak sungkan dan sangat gigih dan berani dalam membela pikirannya demi, katanya, kemajuan masyarakat dan demi kebenaran yang kata papa tidak pernah bisa dikuasai seorang pun sepenuh-penuhnya.

Papa memiliki banyak prestasi sejak muda dan saat ini telah memperoleh gelar kesarjanaan yang tinggi. Hal tersebut sangatlah mengagumkan. Kami sangat kagum dengan pikirannya yang luas. Kami sungguh mengetahui bahwa pikirannya itu benar, dan kami percaya bahwa yang dilakukan atau ditulis oleh papa kami hanyalah apa yang dianggapnya benar dan tidak mengada-ada. Kami mendukungnya dalam hal itu, dan kami tahu bahwa semua itu benar dari cerita dan wejangan beliau berpanjang lebar, bukan satu atau dua kali, yang disampaikannya teristimewa kalau kami sedang dalam perjalanan pulang dari kota Bandung yang kadang-kadang kami kunjungi dalam satu atau dua bulan sekali. Kami sangat kagum atas pemikirannya yang luas yang suka dibeberkannya kepada kami. Menurut papa banyak sekali hal baik di dunia ini yang sebenarnya dapat dicapai jika semua orang memiliki ilmu pengetahuan yang luas serta cenderung menjalani kehidupan dengan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebaikan.

Menurut beliau, seharusnya segala yang tertera dalam Alkitab itu, jika merupakan fakta, harus bisa ditumpukan pada ilmu pengetahuan. Jadi, bukan hanya sekadar suatu kepercayaan belaka yang tak masuk akal jika dipikirkan dengan logika. Seorang Kristen memang berpegang pada Alkitab sebagai pedomannya, namun menurutnya tak semua hal dalam Alkitab dapat diterima. Ada banyak hal di dalamnya yang memang harus dipikirkan kembali dengan menggunakan aturan logika. Menurut saya itulah cara berpikir seorang pemikir seperti papa. Namun bukan berarti semua orang akan dapat dan harus ikut berpikir sesuai dengan pandangan papa itu. Seorang Kristen sudah sepatutnya mengimani apa yang tertera dalam Alkitab jika apa yang tertera di situ berguna buat kehidupan manusia. Tidak hanya dalam agama Kristen, dalam agama-agama lain yang memiliki Kitab Suci yang berbeda pun seharusnya demikian. Dalam bermasyarakat pun kita tidak boleh membeda-bedakan orang-orang yang berbeda agama, karena sesungguhnya sebagai manusia kita semua ini sama. Menurut saya, tak ada agama yang salah, juga tak ada agama yang paling benar. Masing-masing umat beragama mempunyai satu Allah sendiri yang mereka yakini, yang tidak sama dengan Allah umat beragama lain.

Roda kehidupan memang selalu berputar. Tak mungkin seseorang bisa berada di puncak terus sepanjang kehidupannya. Prinsip itulah yang diyakini dan diterapkan papa dalam menjalani kehidupannya. Jadi, kalaupun sekarang ini beliau harus pensiun dari gereja, hal tersebut tak dijadikannya sebagai suatu beban ataupun suatu hal yang ditakuti. Menurut papa, masa depan yang ada harus dijalani dengan tenang dan dengan tetap berpikiran rasional. Saya menyetujuinya. Demikian pendapat saya untuk menutup tulisan pendek ini. Semoga papa dan warga gereja suka membacanya.

Thursday, December 10, 2009

Kita Membutuhkan Lebih Banyak Lagi Sosok seperti Pak Ioanes Sehingga Keberagamaan Yang Kita Jalani Akan Makin Lebih Cerdas, Kritis dan Dinamis . . .

Sebuah opini pribadi tentang Pak Ioanes Rakhmat

oleh Noviany Lucian Thenu

Anggota Gereja Kemah Abraham


Ketika saya bertemu pertama kali dengan Pak Ioanes Rakhmat di acara kelas midrash Gereja Kemah Abraham asuhan Abuna Jusuf Roni , saya melihatnya sebagai suatu sosok yang tidak takut untuk berpikir kritis dan seorang yang konsisten dalam pemikiran. Sosok pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan di dalam mendorong jemaat untuk lebih membuka wawasan dalam berpikir dan makin bertumbuh dalam iman. Menurut saya, jemaat yang bertumbuh adalah jemaat yang bisa berpikir kritis dan bisa menunjukkan jati diri sebagai orang Kristen melalui perbuatan-perbuatan nyata di tengah masyarakat yang majemuk di negeri Indonesia dewasa ini.


Salah satu pandangan Pak Ioanes yang membuat saya tertarik adalah bahwa kekristenan Yahudi perdana perlu dikenal dengan benar oleh gereja-gereja di Indonesia sekarang ini. Kenyataannya adalah selama ini informasi dan data mengenai Judeo-Christianity susah ditemukan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Dalam sepuluh kali tatap muka kelas midrash yang di bawakan oleh Pak Ioanes, yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, informasi dan analisis teks-teks kuno tentang kekristenan Yahudi telah diberikannya dengan sistimatis dan mencerahkan. Hemat saya, Pak Ioanes telah berhasil memberi banyak pemaparan yang sangat menarik mengenai konflik-konflik yang terjadi antara para pembela kekristenan Yahudi awal yang mempertahankan Taurat Musa dan Rasul Paulus yang memberitakan suatu injil lain yang membebaskan orang Kristen dari Taurat Musa.


Semua pengetahuan yang saya dapat tentang kekristenan Yahudi perdana selama pertemuan sepuluh kali itu membuat saya menginsafi bahwa sejak awalnya gereja Kristen itu memang majemuk, tidak satu warna dan tidak satu aliran, dan karenanya tidak ada satu aliran pun yang boleh mengklaim diri sebagai aliran yang terbenar.

Melalui Pak Ioanes, saya makin terbina untuk menjadi seorang Kristen yang tidak fanatik, beriman membuta, tetapi menjadi seorang Kristen yang toleran terhadap perbedaan berbagai macam pokok teologis, sambil terus-menerus membentuk jati diri yang makin dewasa yang dicirikan oleh ketenangan bersikap dan keterbukaan pikiran.
Itulah hal berguna yang saya telah terima dari Pak Ioanes, meskipun saya belum lama mengenalnya, sejak beliau akrab dengan Abuna Jusuf Roni.

Walaupun tidak dapat dipungkiri juga, kadang kala pemikiran-pemikiran yang dipaparkan Pak Ioanes cukup menggoncangkan kehidupan beragama seseorang, khususnya seseorang yang ingin bertahan mati-matian dalam kepercayaannyan yang lama.

Saat ini dan untuk masa yang akan datang, kita membutuhkan lebih banyak lagi sosok seperti Pak Ioanes di Indonesia, sehingga keberagamaan yang kita jalani akan makin lebih cerdas, kritis dan dinamis.


Kiranya Tuhan selalu memberikan hikmat dan kebijaksanaan kepada Pak Ioanes Rakhmat sehingga di masa yang akan datang pemikiran-pemikirannya bukan saja membuka cakrawala dan memberikan pencerahan kepada umat Kristen, tetapi juga bisa memperkokoh fondasi-fondasi iman yang dinamis.


Selamat memasuki masa emeritasi bagi Pak Ioanes.

Tuesday, December 8, 2009

Bagi Pak Io, Iman Itu Harus Dikoreksi Oleh Akal Budi…. Mengapa?

Sebuah opini seorang sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

oleh Hendi Rusli,
mahasiswa STT Cipanas


Rabu siang tanggal 7 Oktober 2009 yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke HP saya. Kaget sekaligus bangga membaca sebuah SMS dari seorang sahabat yang saya kagumi. Dalam pesan itu, Pak Io (begitu orang menyapanya sebagai tanda keakraban) meminta saya untuk menulis sebuah opini singkat tentangnya untuk buku acara kebaktian emeritasi beliau pada 23 November 2009 yang akan datang. Dengan senang hati saya terima tawaran beliau.

Kurang lebih sudah satu setengah tahun saya mengenal Pak Io. Dia dikenal sebagai seorang pemikir Kristen liberal, humanis, dan ahli tafsir Perjanjian Baru. Usia persahabatan yang kami jalani dapat dikatakan masih relatif muda. Namun, sungguh pun demikian kami adalah dua orang teman yang selalu berbagi, saling percaya dan juga saling menyediakan waktu.

Beberapa tahun sebelum berkenalan dengan Pak Io, saya telah banyak membaca tulisan-tulisan beliau. Baik dalam jurnal-jurnal teologi, artikel-artikel maupun dalam tulisan-tulisannya di beberapa blognya. Beliau memang sudah cukup dikenal sebagai seorang penerjemah buku dan juga seorang penulis. Pemikiran-pemikiran beliau begitu tajam, sistematis dan kritis. Semua orang yang mau menggunakan nalarnya pasti senang membaca tulisannya.

Namun di sisi lain, banyak orang yang berpandangan negatif tentang beliau yang dianggap mereka sebagai seorang yang liberal, tidak beriman, kontroversial dsb. Menurut hemat saya, mereka yang beranggapan demikian sesungguhnya tidak mengenal Pak Io. Siapa yang dapat mengukur iman seseorang? Dan apakah pengalaman iman orang lain harus sama dengan pengalaman iman saya? Atau dengan pengalaman iman Saudara? Tentunya tidak! Bagi Pak Io, iman itu harus dikoreksi oleh akal budi…. Mengapa? Karena iman seseorang dibentuk oleh dogma-dogma keagamaan yang dapat salah, yang seringkali mengkotak-kotakkan, memenjarakan pikiran dan eksklusif, menyingkirkan yang berbeda. Akal budi dapat mengoreksi dan menuntun iman yang membabi-buta, sempit, dan merasa paling unggul, kepada iman yang inklusif, pluralis, terbuka dan universal. Dan Pak Io sudah mencapai tingkat iman yang sedemikian itu.

Selama saya mengenal dan bersahabat dengan Pak Io, relasi kami satu sama lain sangat baik. Kependetaan beliau tidak nampak dalam suatu kerangka yang formalistik dan juga tidak dipandangnya sebagai suatu jabatan yang sakral, sebab baginya yang sakral hanya Tuhan seorang; sementara kebanyakan orang membanggakan jabatan kependetaan ini. Gelar doktor dan jabatan kependetaannya tidak menjadi jarak bagi relasi kami, meskipun saya berstatus sebagai seorang mahasiswa di STT Cipanas. Dia menganggap saya setara dengannya, menghargai pendapat saya dan menggembalakan nalar saya supaya saya dapat berpikir kritis.

Pemahaman beliau mengenai dogma-dogma yang saya pegang selama ini begitu berbeda. Hal ini sungguh memberi banyak pembaharuan dan pencerahan bagi kehidupan beriman dan bernalar saya. Banyak di antara tulisan-tulisan beliau telah dan sedang mengubah paradigma saya dalam berteologi. Mungkin juga paradigma banyak orang. Kita pun seharusnya perlu belajar seperti beliau, berani berpikir dan menerobos batas-batas dogma yang seringkali mengekang dan memenjarakan nalar kita. Gereja dapat berkembang, dinamis dan terbuka terhadap perubahan dan perkembangan zaman jika para pemimpinnya melakukan hal yang sama.

Akhir kata saya mengucapkan selamat kepada Pak Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat yang telah menyelesaikan tugas dan pelayanan strukturalnya di Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat. Semoga pelayanan Bapak selanjutnya dan seterusnya di manapun dan kapanpun dapat menjadi berkat, dirasakan dan membekas pada orang-orang yang Bapak tantang untuk terus-menerus berpikir kritis. Harapan saya, Bapak dapat mengembangkan terus pemikiran-pemikiran Bapak yang mencerahkan untuk menjadikan makin banyak orang (Kristen dan non-Kristen) cerdas beragama, kritis dan progresif. Kiranya Tuhan Memberkati.

Monday, December 7, 2009

Pak Ioanes ... Hidup dalam Ketegangan antara Fides dan Saeculum

Sebuah opini seorang rekan tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

Budiman Heryanto,
Pendeta GKI dan pembaca blog-blog Ioanes Rakhmat


Saya pertama kali mengenal Pak Ioanes Rakhmat (IR) waktu masih di SMA lewat majalah Kairos. Saya rutin meminjam majalah itu dari seorang penatua di GKI Guntur Bandung, tempat saya berjemaat. Saya tertarik pada pemikiran Pak IR. Waktu itu dia sedang terlibat debat dengan seorang warga GKI di kolom Surat Pembaca. Artikel serialnya tentang Yesus sejarah selalu saya ikuti. Walau dengan banyak pertanyaan di kepala.


Keinginan saya menempuh studi teologi semakin terdorong oleh pandangan-pandangan Pak IR. Tapi, ketika saya masuk di tahun 1998 ke suatu sekolah teologi di Jakarta, Pak IR sedang studi di Belanda. Karena itu saya tidak menikmati pengalaman mengeksplorasi teologi biblika bersama Pak IR. Ada kalangan yang menyebut Pak IR seperti Rudolf Bultmann; seorang teolog besar kebangsaan Jerman yang dianggap liberal. Orang mudah menganggap seseorang liberal bahkan sesat tanpa pernah memeriksa secara utuh pemikirannya. Seperti Bultmann yang kadung dicap liberal karena upaya demitologisasi yang disalahpahami sebagai “penghilangan yang sakral, yang misteri, dalam pembacaan Alkitab”. Saya berpikir, pasti GKI bangga memiliki seorang pendeta seperti diri Pak IR. Setahu saya, hanya ada 2 orang penekun kajian Yesus sejarah di Indonesia, yakni Romo Martin Harun, dan Pak IR.


Perjumpaan tatap muka kali pertama saya dengannya terjadi saat dia kembali dari Belanda sekitar tahun 2002. Dia banyak diam dan kami belum saling mengenal. Baru pada tahun 2005 setelah dia merampungkan disertasi doktornya, kami saling mengenal. Lewat disertasinya yang unik bagi saya, saya makin mengenal Pak IR. Dia menantang dan mematahkan teori John Dominic Crossan, pakar Yesus sejarah kenamaan dari Amerika Serikat dan salah seorang pendiri komunitas Jesus Seminar.


Belakangan ini, Pak IR aktif menjadi penerjemah, pembicara dan penulis. Ada tiga blog pribadi di Internet yang dia bangun; dan satu blog kolektif. Blog pertama, The Freethinker Blog, dibangun untuk memublikasikan pemikirannya dalam bidang biblika dan teks-teks keagamaan di luar kanon Alkitab. Blog kedua, The Critical Voice Blog, didirikan untuk memublikasi pemikiran dan keprihatinannya yang lebih meluas di bidang-bidang keagamaan, sosial, politik, sains, seni, dst. Blog ketiga, The Jesus Blog, dia bangun atas dorongan banyak pihak yang ingin mendalami kajian Yesus sejarah dan kajian Yesus kontekstual. Yang terakhir, dia bangun sebuah blog kolektif, The Countertheocracy Blog, yang berhasil menggalang duapuluhan cendekiawan Indonesia yang menghendaki Indonesia tetap majemuk dan mengusung Pancasila dan demokrasi dan bersifat non-teokratis.

Ada beberapa tulisan Pak IR yang mempertajam kesadaran orang tentang politik agama yang sedang dijalankan lewat berbagai produk hukum di Indonesia belakangan ini. Pak IR meluaskan visi dan pokok penelitiannya, dari kajian biblika, ke kajian Yesus sejarah, lalu ke kajian kekristenan Yahudi perdana sampai ke kajian politik dan kemanusiaan. Hal ini mengingatkan saya pada pemikiran seorang teolog besar Katolik kebangsaan Belgia, Edward Schillebeeckx, yang menyatakan bahwa teologi adalah suatu janji dan ikatan kepada kehidupan, kepada semua yang menjerit demi kehidupan.


Dengan ini semua, apa yang Pak IR cari? Rupanya dia mencoba menemukan aksentuasi iman dalam ranah sekular, atau malah sebaliknya, menemukan yang sekular dalam ranah keimanan. Seperti ditelaah oleh Charles Taylor, dalam The Secular Age (2008), dalam masyarakat sekular agama tidak pernah benar-benar hilang. Yang terjadi adalah masyarakat sekular hanya melakukan represi terhadap agama. Agama mengendap di bawah permukaan. Teori Sigmund Freud mengenai alam bawah sadar sangat relevan untuk menjelaskan hal ini. Agama itu seperti mimpi buruk yang ditekan ke alam bawah sadar sekularisme. Tetapi pengalaman-pengalaman yang direpresi ke alam bawah sadar sesungguhnya tidak benar-benar terkungkung. Ada momen-momen tertentu di mana pengalaman-pengalaman itu bocor dan mencuat ke luar. Represi terhadap alam bawah sadar selalu merupakan represi yang gagal. Agama yang dipinggirkan dan direpresi selalu menemukan berbagai cara untuk tampil kembali ke permukaan. Tetapi sesuatu yang telah mengalami peminggiran dan represi itu tidak muncul kembali dalam bentuk yang benar-benar sama dengan bentuk sebelumnya. Trend beragama yang muncul dalam era globalisasi ini adalah sesuatu yang lain dari agama sebelumnya. Jonathan Benthall menyebut semua hal ini dengan istilah “para-religion”. Para-religion adalah suatu cara baru presentasi doktrin agama; seolah-olah presentasi ini mengandung karakter sebuah agama tradisional tetapi sesungguhnya berbeda. Barangkali Pak IR memang sedang menggeluti para-religion ini.


Pak IR, meskipun tampil tanpa selubung sebagai seorang pemikir liberal, bagaimana pun juga dia adalah seorang gembala gereja. Dia hidup dalam ketegangan antara fides dan saeculum; antara iman dan dunia. Tidak menampik dunia, bahkan memperhitungkannya dengan serius, tetapi tidak juga melepaskan ranah “misteri” dari iman itu sejauh dia memandang misteri ini ada. Selamat memasuki masa emeritasi, Pak IR. Selamat menggembalakan umat dan dunia “dalam kemasan yang baru”.

Saturday, December 5, 2009

Bagi Pak Ioanes… Akal Budi Adalah Sebuah Karunia Yang Tidak Boleh Disia-siakan!

Sebuah Opini seorang Pendeta GKP Rangkasbitung tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat

Oleh Pdt. Demianus Nataniel

Ketika saya tengah menemani anak kami yang sedang berlatih badminton, ada sebuah SMS masuk ke HP saya, yang ternyata berasal dari Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, seorang pendeta yang saya kenal antara lain melalui tulisan-tulisannya baik yang dipublikasikan lewat surat kabar, majalah, buku-buku, maupun dalam beberapa blog pribadinya di Internet. Pak Ioanes menginformasikan bahwa pada tanggal 23 November 2009 dia akan memasuki masa emeritasi sebagai seorang pendeta GKI Sinode Wilayah Jawa Barat. Berita tersebut tentu membuat banyak pertanyaan muncul karena di gereja tempat saya menjadi pendeta, yakni Gereja Kristen Pasundan, orang yang seusia Pak Ioanes, usia yang relatif masih muda, tidak lazim menerima penghargaan emeritus. Di Gereja Kristen Pasundan faktor yang paling penting untuk menentukan seorang pendeta dapat memasuki masa emeritasi adalah usia. Dan setahu saya hal yang sama juga berlaku di Gereja Kristen Indonesia, tempat Pak Ioanes ditahbiskan menjadi seorang pendeta. Jadi perayaan emeritasi Pdt. Ioanes Rakhmat kemungkinan adalah suatu perayaan yang luar biasa, dalam arti tidak lazim, atau kalaupun ada pastinya jarang terjadi.

Peristiwa yang tampaknya kurang lazim ini mendorong saya membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah dibuatnya. Dalam catatan saya, Pak Ioanes ternyata telah menulis banyak tema antara lain yang terkait dengan tafsir Alkitab, Yesus sejarah, sejarah gereja perdana, filsafat, peristiwa-peristiwa aktual seperti Pemilu 2009 di Indonesia, polemik RUU Jaminan Produk Halal, dan lain sebagainya. Dan setelah menyimak kembali tulisan-tulisannya maka saya berkata dalam hati bahwa memang wajar jika akan berlangsung suatu peristiwa luar biasa terkait dengan keberadaannya sebagai seorang pendeta, karena ternyata pemikiran-pemikirannya sekaligus bagaimana dia menyampaikannya
memang tidak biasa.

Ada banyak hal menarik yang sesungguhnya saya dapatkan dari isi dan gaya penulisan Pak Ioanes. Dalam sebuah blog pribadinya, misalnya, beliau mengklaim sebagai seorang
freethinker, seorang rasionalis serta tidak mau terikat pada dogma gerejawi tertentu walaupun dia seorang pendeta. Sebuah klaim yang menurut saya sangat berani untuk disampaikan oleh seorang pendeta secara terbuka di hadapan umum. Di sinilah salah satu kekhasan Pak Ioanes sebagai seorang pendeta, yakni memiliki sikap yang mungkin sulit atau mungkin juga belum dapat diterima oleh kalangan gereja pada umumnya yang diakui atau tidak, disadari atau tidak, mengikatkan diri pada suatu dogma tertentu yang disusun sekian abad lampau di tempat lain.

Penolakannya untuk tidak dikuasai oleh dogma apapun tampaknya bukan tiba-tiba atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Alasan pertama yang mendorong sikapnya sebagai seorang yang berpikir bebas adalah rasa syukur yang dalam terhadap karunia akal yang diterimanya. Baginya akal budi adalah sebuah karunia yang tidak boleh disia-siakan oleh manusia. Akal adalah alat yang diterima manusia untuk mengetahui dan mengenal segala sesuatu. Kerja akal pula yang tampaknya dapat mengasah kepekaan hati nurani manusia. Berbagai tulisannya yang memuat tafsiran terhadap kisah penciptaan manusia, misalnya, menunjukkan suatu keyakinan Pak Ioanes bahwa Allah memang menugaskan manusia untuk bekerja, mengusahakan apa yang Allah percayakan dengan memanfaatkan akal budi yang sudah Allah berikan bagi manusia. Sebuah kekeliruan besar jika akal dihambat untuk bekerja. Penolakan terhadap penggunaan akal sebagai salah satu alat untuk mengenal Allah adalah pengingkaran terhadap kasih Allah.

Alasan berikutnya yang tampaknya memengaruhi sikap Pak Ioanes saat ini adalah kekagumannya pada teks-teks Alkitab. Baginya teks-teks Alkitab adalah literatur yang sangat berharga untuk memahami dunia pada masa lalu, termasuk komunitas-komunitas gereja perdana yang menjadi konteks lahirnya teks-teks Perjanjian Baru. Sebagai teks-teks yang lahir dari masa lalu maka teks-teks Alkitab harus diperlakukan dengan baik, tidak seenaknya. Perbedaan waktu dan tempat yang jauh dari saat ini dan dari konteks sosial kehidupan masa kini mengharuskan penggunaan banyak alat untuk memahami teks-teks Alkitab. Berbagai disiplin ilmu yang ada, dia hargai dan dipakai untuk memahami dengan baik apa yang terjadi di masa lalu. Hasilnya, dia menemukan bagaimana manusia merefleksikan hidupnya, masyarakat dan lingkungannya, keyakinannya, Tuhannya dan lain sebagainya. Teks-teks Alkitab juga telah menunjukkan pada Pak Ioanes bahwa manusia adalah makhluk yang rentan melakukan kekeliruan. Dan sebagai kumpulan teks yang ditulis oleh tangan manusia Alkitab pun sangat mungkin keliru. Ada pesan-pesannya yang sudah tidak lagi relevan dengan konteks masyarakat saat ini. Hal inilah yang seharusnya membuat manusia semakin terbuka dalam menggunakan akal berikut hati nuraninya agar kekeliruan yang telah dilakukan oleh orang-orang di masa lalu sebagaimana terungkap dalam Alkitab tidak lagi berulang saat ini.

Sejalan dengan alasan tersebut di atas dan yang menurut saya tampaknya sangat memengaruhi Pak Ioanes dalam mengambil posisi tersebut di atas adalah kesetiaannya pada ilmu pengetahuan, khususnya pada ilmu dan pendekatan metodik dalam penjelajahan dan penelitian tanpa akhir terhadap teks-teks Alkitab, yang pada gilirannya membuat dia begitu kagum dan jatuh cinta kepada Yesus yang dikisahkan dalam Alkitab. Kekagumannya dan kecintaannya kepada Yesus yang dikisahkan dalam Alkitab membuat Pak Ioanes berusaha semakin mengenal siapa Yesus. Dia kemudian menjadi tidak puas hanya mengenal Yesus dari catatan-catatan dalam Alkitab, yang menurutnya hanya mewakili pendapat kelompok-kelompok tertentu atau sebagian gereja di abad-abad pertama saja. Berbagai tradisi, literatur, lukisan atau apapun itu yang memuat pembicaraan tentang Yesus, dia gali, dia pelajari dan direkonstruksi sedemikian rupa sehingga menghasilkan sosok Yesus yang dia kagumi dan cintai itu. Dari usaha kerasnya itulah Pak Ioanes menemukan Yesus yang humanis, Yesus yang kritis, Yesus yang periang, Yesus yang meski hidup dalam tradisi Yahudi tetapi tidak mau dikuasai oleh tradisi Yahudi sekaligus dogma-dogma di dalamnya. Yesus yang inilah yang kemudian menjadi teladan bagi Pak Ioanes dalam berkarya. Dengan kata lain tampaknya sikap Pak Ioanes saat ini terinspirasi oleh sikap Yesus yang dia kagumi dan cintai.

Dari catatan-catatan mengenai pemikiran-pemikiran Pak Ioanes yang telah diuraikan dengan singkat di atas, maka dapat dimengerti jika dia diperlakukan cukup istimewa dengan peristiwa emeritasinya di akhir tahun 2009 ini. Pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa diungkapkan olah banyak orang secara terbuka rasanya dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun, termasuk gereja-gereja saat ini.

Pertama, pemikiran-pemikiran Pak Ioanes sesungguhnya menantang gereja-gereja untuk lebih mengenal Yesus, yang diyakini gereja sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Upaya pengenalan ini juga menuntut keberanian untuk bersikap kritis dan terbuka terhadap segala sesuatu yang ada pada diri gereja, termasuk pada dogma-dogma yang dipegang selama ini. Kedua, pemikiran-pemikian Pak Ioanes sesungguhnya mengundang kita semua untuk mau memanfaatkan apa pun yang kita yakini telah Tuhan karuniakan, termasuk dan terutama untuk menggunakan akal budi semaksimal mungkin serta hati nurani dalam menyikapi kehidupan ini.

Akhirnya, dalam kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan ucapan selamat memasuki masa emeritus kepada Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat. Saya yakin dengan emeritasi yang diberikan kepadanya, Pak Ioanes justeru dapat lebih leluasa berpikir dan berkarya. Membagikan ilmu-ilmunya bagi siapapun. Selamat Pak Ioanes... Tuhan memberkati.

Thursday, December 3, 2009

Pak Ioanes … Seorang Yang Biasa Menulis dengan Gamblang, Kontroversial dan Menantang…

Sebuah opini pribadi seorang rekan tentang Pak Ioanes Rakhmat

oleh Hortensius Florimond

Staf Departemen Penerjemahan Lembaga Akitab Indonesia


Pak Ioanes Rakhmat mengundang saya untuk sedikit memberikan sebuah kesan atau opini pribadi tentang pemikirannya. Perkenalan langsung pribadi dengan beliau boleh dikata hanya sebentar, waktu kami duduk bersama dalam satu tim berkaitan dengan suatu proyek penerbitan Alkitab Edisi Studi dari Lembaga Alkitab Indonesia. Selebihnya, beliau saya kenal lewat tulisan-tulisannya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa tulisan-tulisan beliau umumnya menggelitik dan “berani”. Melihat namanya sebagai pengarang sebuah tulisan, isi dan nadanya sudah dapat diantisipasi: membongkar dan kontroversial! Saya tidak akan heran kalau ada golongan konservatif yang mencapnya “super-liberal”, atau kalau ada kalangan militan ortodoks yang melabelnya “heretik”, dll.


Karena tulisan-tulisan beliau merambah ke berbagai ranah: teologi agama, pluralisme, kekristenan perdana, Yesus historis, politik, dll, maka sebenarnya sulit sekali untuk menduga bidang apa yang menjadi spesialisasi beliau. Pengetahuannya sungguh luas, dialognya dengan berbagai penulis dan literatur amat intensif. Berapa banyak dosen teologi di Indonesia yang masih giat membaca dan meng-upgrade diri setelah selesai studinya? Satu-satunya yang jelas: nadanya gamblang, isinya menantang! Masalahnya lalu ada pada para pembacanya: mau ditantang atau mau tetap terlena dalam bingkai dan paradigma pemahaman lama?


Secara umum, tulisan-tulisan beliau berciri “membongkar”. Dan yang dibongkar bukanlah hal-hal sepele, tetapi fundasi, apa yang selama ini dianggap dasar keyakinan dan pemahaman. Pada titik inilah beliau akan dilawan oleh kaum fundamentalis yang per definitionem adalah kaum ber-dasar. Bagi orang yang kehidupan dan keyakinannya dibangun di atas dasar-dasar yang dianggapnya kokoh, sakral, tak mengenal perubahan dan abadi, tulisan-tulisan beliau pastilah “mengganggu”. Tentu saja ada harapan pada saya dan juga pada dirinya bahwa tahap “membongkar” ini hanyalah sebuah tahap awal. Selanjutnya ditunggu sebuah tahap “membangun kembali”, tahap di mana Pak Ioanes mulai merumuskan pendapat dan keyakinannya secara baru, inovatif, positif, pro-aktif dan non-reaktif.

Mengapa fundamentalisme merebak? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab. Para sosiolog berbicara tentang fundamentalisme sebagai sebuah produk sekaligus sebuah reaksi terhadap modernisme. Modernisme menghasilkan manusia dan masyarakat tanpa-akar, dimana polis atau kota kehilangan fundasinya. Fundamentalisme bereaksi dan melawan masyarakat nirfundasi seperti ini. Bagi kalangan fundamentalis, dunia akademis mereka, seperti teologi mereka, sebagai sebuah polis mini, juga harus mapan, established, dengan fundasi-fundasi. Mereka, karenanya, tidak mau atau malas mempertanyakan rumusan dan bahasa, apalagi kalau rumusan-rumusan itu sudah disakralkan berabad-abad. Padahal teologi sendiri mengajarkan bahwa bahasa dan rumusan teologis selalu bersifat analogis dan metaforis. Rumusan-rumusan tersebut hanya bersifat “menunjuk” pada Realitas, bukan Realitas itu sendiri. Oleh karena itu, ranah bahasa atau ranah rumusan ini harus selalu terbuka untuk di-diskursus-kan, untuk di-dialog-kan, dipertanyakan kembali, dll. Sayangnya, kalangan keagamaan fundamentalis sering mencampurkan Realitas dan rumusan. Mempertanyakan rumusan sering disamakan oleh mereka dengan meragukan Realitas.

Fundamentalisme ternyata kuat mengakar bukan saja dalam penghayatan agama, tetapi juga dalam penalaran agama (yang kita sebut teologi).
Bagi saya, tulisan-tulisan Pak Ioanes Rakhmat adalah awasan atau peringatan yang bijak untuk orang tidak jatuh ke dalam fundamentalisme teologis. Tulisan-tulisan beliau mengajarkan saya bahwa diskursus teologis menyangkut topik apapun harus selalu terbuka. Semua fundasi dan praandaian teologis tidak pernah boleh menjadi kata akhir. Tentu saja prinsip yang sama dipandang Pak Ioanes berlaku juga untuk pendapat dan keyakinannya. Semangat dan mental “keterbukaan” ini kiranya perlu kita kembangkan di bumi nusantara, di mana kebhinnekaan sudah menjadi warisan kita. Beragama dan berteologi secara fundamentalistis adalah sebuah ironi besar di tengah bangsa dan masyarakat kita yang bhinneka.

Tuesday, December 1, 2009

Berjalan Bersama Pak Ioanes . . . Pada Awalnya, dan Pada Akhirnya, Adalah Pesta Merayakan Kemanusiaan

Sebuah catatan kecil bagi Pdt. Ioanes Rakhmat memasuki masa emeritasi

Oleh Leonard Andrew Immanuel
Pendeta GKI dengan basis Jemaat Sidoarjo;
Pemikir Kristen Liberal dengan minat pada kajian masyarakat sekular dan plural

Dalam blog pertamanya, yang dinamakan The Freethinker Blog, Pdt. Ioanes Rakhmat (IR) menjelaskan tentang dirinya dalam profil antara lain sbb:

I am a freely wandering soul, a homeless mind, a pure spirit, committed to articulating liberal, progressive and critical voices in the realm of religion and related fields within the cultural context of modern Indonesia.

Although I am an ordained servant of the Christian god, I incline to take the position of a rationalist and antidogmatic freethinker. After understanding and knowing me rightly, hopefully you will see the world and yourself in a different way.

It is my calling and my destiny to be together with you in reaching the enlightening Sun in front of us so that we shall not be overcome by inner darkness and intellectual blindness.

Beberapa hal dapat saya katakan di sini. Pdt. Ioanes Rakhmat (IR) adalah seorang humanis. Dia mencintai manusia dan membela dengan gigih martabat kemanusiaan. Misalnya, penolakannya atas soteriologi salib menegaskan keberpihakannya pada kemanusiaan yang bebas. Baginya, manusia bermartabat justru karena kebebasannya. Dan kebebasan manusia berpuncak pada aktivitas berpikir secara rasional sembari menjaga jarak dari keyakinan orang ramai yang tak teruji, atau tak boleh diuji. IR yakin, bahwa hanya kalau manusia bebas maka dia dapat bertanggungjawab atas keyakinannya sendiri.

Kita melihat di sini sebuah sikap modern dan sekuler. Sikap untuk selalu menolak otoritas manapun sebagai penentu keyakinan pribadi, sejauh bila otoritas itu menolak untuk diuji. Inilah sikap sekuler dan liberal, yang sebenarnya sudah lahir pada zaman Sokrates ketika dia mengajak kaum muda Athena untuk meneliti hidup mereka. Tetapi bahkan sejak zaman Sokrates pula, karya intelektual yang digarap dalam semangat kebebasan cenderung dilihat sebagai suatu ancaman bagi tatanan masyarakat dan agama mapan. Bila demikian, apakah sesungguhnya kebebasan berpikir memajukan atau justru mengancam peradaban? Dan adakah dasar moral yang paling kokoh untuk mendukung kebebasan berpikir kalau bukan demi martabat dan pemuliaan kemanusiaan itu sendiri?

Di sini kita tiba pada suatu konflik klasik yang mungkin belum tuntas antara iman dan ilmu pengetahuan. Saya yakin bahwa konflik ini sesungguhnya semu belaka. Iman menjadi teramat penting bagi peradaban ketika iman ini berubah menjadi suatu kekuatan sosial yang mengikat dan membentuk sebuah identitas sosial. Demikian juga dengan ilmu pengetahuan yang menjelma sebagai “api ilahi” yang telah direbut manusia dan yang menentukannya sebagai tuan atas hidupnya sendiri; manusia menjadi “dewasa” dan kini dia tidak perlu meminta perlindungan dari otoritas ilahi manapun. Serentak dengan ini, penghayatan terhadap Tuhan dalam iklim religiositas modern berubah. Langit Tuhan runtuh dan kini orang hanya bisa menemukan (atau lebih tepat: memperjuangkan) Tuhan dalam puing-puing tragedi kemanusiaan atau dalam hidup sehari-hari yang banal. Tuhan hanya bisa ditemukan di belakang punggung orang lain, dalam semangat solidaritas membangun kehidupan duniawi yang lebih adil! Apakah ini tanda keruntuhan agama? Ya, bila dengan istilah tersebut dimaksudkan struktur sosial yang mapan dan selalu menjamin makna hidup kaum percaya. Tetapi bila yang dimaksudkan dengan agama kira-kira sama dengan yang dipahami oleh Emmanuel Levinas sebagai relasi yang tak mudah antara kita dengan the very Other who dwells amongst us, maka agama menemukan energi vitalnya kembali, bukan hanya sebagai penanda atas yang Lain, tetapi juga penanda atas makna sejati subjektivitas manusia. Manusia hanya bisa menjadi subjek bila dia dengan bebas berdiri di hadapan orang lain dan menjawab panggilan terhadapnya. Kemungkinan akan hal tersebut hanya didapat dalam iklim sekuler dan liberal. Makin bebas seseorang maka makin besar tanggungjawabnya dan makin sejati pula subjektivitasnya, yaitu kondisi moral yang menjadikannya sebagai sang Subjek.

Maka hanya jika manusia adalah sang Subjek, dia dapat memberi jawaban kepada sesama dan Tuhan. Menjadi Subjek berarti menjadi (diri-)sendiri. Menjadi sendiri adalah hal-ihwal menjadi individu. Individualitas mengandung konsekuensi tertentu. Artinya, individualitas selalu bertautan dengan matra tanggungjawab. Ini sebuah tautologi, sebab hanya individu yang dapat mengambil tanggungjawab, dan mereka yang berani mengambil tanggungjawab memiliki kemungkinan terbesar untuk tumbuh sebagai individu.

Menjadi individu bukan hanya suatu panggilan tetapi juga suatu pilihan. Tetapi itu pilihan yang sulit karena membuat mereka yang memilihnya sekaligus harus menerima suatu sisi lain dari sebuah mata uang yang sama, yaitu penderitaan hidup sebagai individu. Hanya dalam pengertian inilah kita bisa menerima profil diri IR sebagai “a homeless mind”. Yaitu sikap mental yang bersedia untuk meninggalkan kenyamanan yang diberikan oleh kepastian doktrin gereja. Dia memilih untuk selalu menaruh keyakinannya dalam situasi “terjaga”, semacam keterarahan kepada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sampai tuntas. Sebuah pikiran yang tak bersarang, bukan karena dia tidak punya komitmen pada apa pun, tetapi karena dia menyadari bahaya fundamentalisme yang mengintai setiap pikiran yang berumah, yang telah capek bertualang dan memilih untuk tidur dalam sikap berpuas diri. Namun justru pikiran yang berumah ini melahirkan kemapanan dan ketenangan hidup karena hidup telah dikalkulasi dan kebenaran telah dikantongi dalam saku doktriner gereja. Sementara pikiran yang tak bersarang adalah sikap mental untuk melawan fundamentalisme justru pada akarnya, yaitu sifat puas diri, yang sebenarnya adalah sebuah pemberhalaan.

Tetapi kita juga tahu, berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari, bahwa Hidup itu lebih besar dari Kebenaran. Secara intuitif Plato berpendapat, dalam buku ke VI Republik, dengan meminjam mulut Sokrates yang menjelaskan kepada Glaukon, bahwa kendatipun kebenaran hanya bisa diperoleh dari pengetahuan (epistēmē), dan bukan dari opini (doksa), namun tokh kebenaran tetap bersumberkan pada Kebaikan (agathon epekeina tēs ousias). “Ousia” (being), dalam sejarah filsafat Barat yang panjang, telah dimaknai sebagai lokus dari Kebenaran, sehingga Levinas, Derrida dan Jean-Luc Marion kerap merumuskan-ulang pikiran ini sebagai “the Good exists beyond the Truth” atau “Otherwise than Being”. Itu berarti the Good berada dalam kawasan Sang Maha Lain. Dengan demikian Plato menjangkarkan upaya intelektual pada relasi terhadap yang Lain.

Konsekuensinya serius. Bila, secara ontologis dan epistemologis Kebaikan selalu melampaui Kebenaran, maka ada dua hal yang mau dikatakan disini: pertama, bahwa semenjak Kebaikan menjadi ibu yang melahirkan Komunitas, yaitu ikatan berbagai relasi terhadap yang lain, maka Kebenaran dipanggil untuk melayani bisnis ontologis dari Kebaikan, yaitu persekutuan. The brotherhood of Men bukanlah the fellowship of the Truth melainkan the fellowship of the Good. Memang ada banyak tuduhan menyatakan bahwa Kebenaran dapat menjadi sebuah bisnis privat dari pikiran yang tak berumah; tapi ikhtiar intelektual macam ini memang terbukti memajukan peradaban dan memperbesar cahaya penguasaan manusia atas alam, tubuh dan dunia batinnya. But, is there any homeless mind whose need not dwells at the same time on the societal level? Saya rasa tidak. Atau setidak-tidaknya, komitmen kepada Kemanusiaan adalah pernyataan tegas tentang takdir bagi setiap ikhtiar intelektual untuk selalu mengambil rute pulang pada suatu kepentingan bersama. Bahwa Kemanusiaan adalah rumah bagi Kebenaran. Bahwa intellectual exercises bukan hanya bertujuan untuk memperoleh kebenaran, tetapi juga menuju dan memperjuangkan relasi sosial dengan yang lain. Bahwa kinerja sains ditujukan untuk kepentingan moral, yaitu pembangunan Komunitas dan bukan demi akumulasi penguasaan teknis sains itu sendiri.

Kedua, bila Kebaikan bersifat melampaui (sich!) Kebenaran, maka dimensi eskatologis tidak dapat tidak mengemuka dan harus selalu dipertahankan, bahkan dalam semua intellectual exercises. Eskatologi Kebaikan adalah inti moralitas Kebenaran. Kebenaran hanya bisa benar sejauh kebenaran mengejar cakrawala Kebaikan yang melampauinya sekaligus mengondisikannya. Dan keberanian untuk menunda konklusi final serta kesediaan untuk merumuskan Kebenaran dalam the fellowship of the Good adalah moral virtue bagi setiap hamba Kebenaran. Dengan demikian, kaum intelektual dipanggil untuk bersabar dan mau berjalan mencari “the enlightening Sun” di dalam dan bersama-sama dengan Komunitas, termasuk juga bersama-sama persekutuan orang beriman.

Dalam The Jesus Blog, kita berjumpa dengan IR sebagai seorang pencinta Yesus dari Nazaret. Yang dia cari, pertama-tama, bukan Yesus yang sudah dikantunginya dalam “saku kristologis”, melainkan Yesus yang hidup, yang tak dapat ditangkap dengan mudah. Yesus yang selalu luput dari genggaman akal dan justru karena itu memanggil kita untuk mencarinya terus-menerus bersama sang pakar Yesus sejarah. Dalam The Jesus Blog, kita melihat sedemikian banyaknya “wajah Yesus”. Ada Yesus Asia, Yesus Afrika, Yesus Muslim, Yesus Bodhisattva, Yesus dengan kulit gelap mendekati Yesus Yahudi pada abad pertama Masehi, bahkan Yesus Perempuan, dll. Semua wajah Yesus ini merupakan medan petualangan yang menarik bagi mereka yang berminat untuk melakukan upaya kontekstualisasi kristologi (atau: yesusologi?).

Namun bagi saya, tantangan intelektual terbesar yang diberikan oleh IR dan harus dijawab oleh para pemikir Kristen adalah soteriologi salib. IR menolak soteriologi salib karena soteriologi ini merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia pada dirinya sendiri untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri. Dan yang dia maksudkan dengan term “keselamatan” adalah suatu perubahan watak, karakter dan moralitas manusia sementara dia masih hidup dalam dunia ini sekarang ini.

Saya bisa menerima penolakan IR atas bahaya soteriologi salib meremehkan kemampuan manusia untuk memilih suatu keputusan yang baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Bahaya tersebut mengintai dengan kuatnya, dan bisa melahirkan sebuah sikap manipulatif terhadap Yesus atau Allah. Bahwa Allah melalui Yesus telah menyelesaikan segalanya untuk saya, dan tidak ada apapun yang perlu saya lakukan untuk menyelamatkan hidup saya dan dunia saya ini. Tentu saja “kesalehan” semacam ini bukannya tidak bermasalah. IR konsekuen dengan sikap sekulernya yang mengemansipasi manusia di hadapan kuasa ilahi dan alam. Tetapi kita juga tahu bahwa humanisme positivistik sama lemahnya dengan antihumanisme. Sekali lagi, bandul neraca keselamatan perlu menemukan titik imbangnya. Antihumanisme Protestan, bila diolah dengan kreatif, malah mungkin dapat meningkatkan martabat kemanusiaan. Sebab antihumanisme ini dapat berfungsi sebagai kritik atas kemanusiaan yang antroposentrik dan cenderung membabat habis segenap kategori-kelainan. Chauvinisme dan “Hitlerisme” Nazi-Jerman yang bertumpu pada kekuatan manusia Aryan pada Perang Dunia II justru menjadi suatu impetus kritik dan revolusi teologis Barthian yang menekankan kembali dimensi otoritatif Allah dan Kristus di dalam Gereja-yang-Mengaku (Bekennende Kirche).

Akhirnya, saya melihat, bahwa problem soteriologi salib musti dijawab dengan lebih serius. Apakah Kekristenan masa kini masih dapat menerima logika kekerasan pada cara Allah yang menggunakan kematian Yesus yang mengerikan sebagai jalan keselamatan bagi manusia? Logika kekerasan salib ini masih berkubang pada kosmologi masyarakat agraris yang, di semua budaya dunia, selalu membutuhkan “tumbal” sebagai ganti sasaran pelampiasan hukuman atau sebagai “makanan-ilahi”, sesajen, dan, pada saat yang sama, mengalihkan perhatian yang ilahi pada hidup manusia, serta memungkinkan manusia untuk mempunya kesempatan menjalankan bisnisnya dengan aman dan lancar. Saya yakin, salib Yesus harus dimaknai ulang sebagai suatu konsekuensi radikal dari identitas Allah sebagai Pemberian-Diri dan Kemurahan-Hati. Bahwa Salib adalah suatu risiko yang diterima Allah pada diri-Nya sendiri karena Dia mencintai kita. Bahwa salib adalah ungkapan par excellence tentang kelemahan Allah; bahwa Dia bersolider dengan kita dan mencapai kawasan yang lebih manusiawi daripada diri kita manusia. Bahwa pada Salib kita merayakan kelemahan Allah dan Cinta-Nya sekaligus. Maka keselamatan tidak lagi bermakna mesianisme Yesus atas dunia, tetapi mesianisme setiap Subjek yang menghidupi model Pemberian-Diri dan Kemurahan-Hati itu kepada setiap makhluk yang dijumpainya dalam hidupnya yang fana. Proposal Yakobus tentang aksi amal pada sesama dapat ditampung dalam ruang “soteriologi-solidaritas” ini.

Terakhir, IR adalah pencinta keragaman budaya dan demokrasi. Dia percaya pada visi para pendiri bangsa, yang merumuskan Pancasila sebagai suatu purata kencana, suatu jalan tengah, untuk mengelola keragaman budaya bangsa Indonesia. Dalam The Countertheocracy Blog kita melihat meretas dan terbentuknya sebuah komunitas epistemis sekuler dan liberal/progresif. Mereka (kurang lebih 27 orang) yang menjadi para kontributor blog ini semuanya memiliki sebuah mimpi yang sama: sebuah Indonesia yang maju, yang memperlakukan semua orang setara di hadapan hukum, serta menghormati perbedaan. Saya rasa ini juga yang harus menjadi the cause of GKI. Bahwa bisnis terpenting Gereja Kristen Indonesia adalah keindonesiaan itu sendiri di bawah sebuah payung besar kemanusiaan. Masa depan Indonesia adalah masa depan GKI. Dan masa depan kemanusiaan adalah masa depan Kekristenan. Dalam hal yang terakhir ini, orang tidak perlu ragu-ragu untuk berjalan bersama dengan IR.

Semoga dengan emeritasi ini, Pdt. Ioanes Rakhmat makin mempunyai banyak waktu untuk mengabdikan dirinya pada cahaya kemanusiaan, melalui studi keilmuan yang diletakkan dalam bentangan horizon eskatologi Kebaikan. Pada awalnya, dan pada akhirnya, adalah pesta merayakan kemanusiaan.