Wednesday, April 15, 2009

Buku Baru Saya: Sokrates dalam Tetralogi Plato

Inilah buku baru saya,

Ioanes Rakhmat, Sokrates dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009).

ISBN: 978-979-22-4500-4
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Tebal isi: 342 hlm
Paperback/Soft Cover
Harga @ Rp. 50.000,-
Akan sudah ada di toko buku Gramedia sejabodetabek mulai 21 April 2009

5 endorsements untuk buku ini:

Terjemahan empat teks kunci Plato ke dalam bahasa Indonesia ini amat memperkaya pustaka filsafat dalam bahasa Indonesia. Plato tetap boleh dianggap filsuf terbesar segala zaman, teks-teksnya dibaca sampai hari ini, justru oleh para filsuf terkemuka. Jadi, kalau tetralogi Plato yang sangat penting ini sekarang dapat dibaca dalam bahasa Indonesia, ini merupakan suatu peristiwa yang sangat menggembirakan
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ,
guru besar etika dan filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Plato meninggalkan lebih dari 40 karya berbentuk dialog. Namun, di antara karya itu, empat dialog yang ditulisnya pada awal-awal karirnya sebagai filsuf merupakan buku penting yang mengungkap berbagai isu fundamental dalam filsafat. Euthyfro berbicara tentang konsep kesalehan dan ketuhanan; Apologi berbicara tentang keberanian dan kebebasan berpendapat; Krito berbicara tentang pemerintahan dan politik; dan Faedo berbicara tentang jiwa dan kehidupan setelah mati. Keempat buku ini menjadi tetralogi Plato yang paling banyak dirujuk sarjana, di samping Republik. Kita harus berterimakasih kepada Ioanes Rakhmat yang telah menerjemahkan tetralogi penting ini dan menyuguhkannya dengan sangat bagus. Kesabaran penulis dalam membongkar naskah asli dialog-dialog Plato dan membandingkannya dengan naskah-naskah Inggris dan Belanda patut diapresiasi. Ini adalah karya kesarjanaan pertama dalam bahasa Indonesia yang menghadirkan tetralogi Plato, filsuf besar Yunani itu, secara utuh
Luthfi Assyaukanie, Ph.D.,
dosen filsafat, Universitas Paramadina, Jakarta

Di Indonesia tidak pernah muncul kajian serius tentang Sokrates, pelopor pembangkang intelektual yang memikul misi tunggal: mempertanyakan kemapanan dengan jujur dan rendah hati, menawarkan gagasan tandingan kepada kaum muda dan lingkungannya, tanpa pretensi ide baru itulah satu-satunya kebenaran. Ioanes Rakhmat memelopori tugas berat ini dengan ketekunan dan kesungguhan yang mengagumkan. Dia, seperti kita, percaya bahwa isu abadi filsafat ini ―subjek lama yang terus merangsang pemikiran baru―akan terus relevan sepanjang masa. Karena akan selalu ada yang gentar pada ide yang mengusik kemapanan yang telanjur dianggap sebagai kebenaran. Karena akan selalu ada yang takut pada kebenaran. Kita berterima kasih untuk hadiah penting dari penerjemah, salah seorang pemikir terpenting filsafat dan agama di Indonesia dewasa ini
Hamid Basyaib,
direktur program The Freedom Institute, Jakarta

Buku ini sangat penting dan cocok dibaca para cendekiawan dan mahasiswa, maupun para pemegang kebijakan dan masyarakat umum di Indonesia. Halnya demikian bukan hanya karena Sokrates, seperti diceritakan Plato, telah mewarisi dunia Barat dan dunia Timur (seperti filsuf Arab Al-Kindi) suatu metode filosofis dan saintifik dialektis antara nalar universal dan indra partikular, antara pemikiran kritis dan pengalaman spiritual, antara pencarian kebenaran dan kesenangan duniawi, dan antara pemikiran individual dan kepercayaan masyarakat kebanyakan, tapi juga karena sang penerjemah dan penafsir tetralogi Plato ini adalah sosok cendekiawan pencari kebenaran, yang meneladani sikap kritis Sokrates yang kini sangat jarang ditemukan di Indonesia
Muhamad Ali, Ph.D.,
Assistant Professor, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta; kini bertugas sebagai Assistant Professor, Religious Studies Department, University of California, Riverside, Amerika Serikat

Setelah membaca buku sangat berharga buah tangan Ioanes Rakhmat ini, dari pemikiran Sokrates yang hidup sekitar 2350 tahun yang lalu di Yunani saya menemukan sedikitnya tiga hal yang relevan untuk situasi masa kini kita di Indonesia. Pertama, kita perlu belajar dari Sokrates bagaimana berbicara dengan benar dan menghasilkan kebenaran sebagai kesimpulannya. Kedua, kita perlu menyelesaikan segala persoalan yang ada dengan berbicara, dan berbicara dengan benar adalah ciri khas suatu masyarakat madani (civil society) yang dewasa dan beradab. Ketiga, kemampuan untuk berpikir dengan benar dan menghasilkan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari merupakan dasar dari terciptanya karya-karya intelektual yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Berbicara lebih spesifik dalam konteks bidang kajian profesional yang saya tekuni, saya dapat tegaskan bahwa teladan Sokrates dengan cara berpikirnya yang kritis, logis, dan bebas (dari kungkungan prior arts) bisa dijadikan perangsang kinerja otak para pencipta, inventor dan kreator dalam menghasilkan karya-karya baru untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia
Gunawan Suryomurcito, S.H.,
Advokat (non-litigasi) dan konsultan hak kekayaan intelektual, ketua umum Indonesian Intellectual Property Society (IIPS)

Tuesday, April 14, 2009

Jalan-jalan Keselamatan Alternatif

Ketika jalan besar buntu dan macet,
jalan-jalan alternatif perlu ditempuh!

Narasi-narasi jalan salib (via dolorosa) Yesus menyakralisasi kejahatan dan kekerasan, bukan melawan atau meniadakannya. Ini adalah kenyataan tekstual Perjanjian Baru.

Kalau dilihat secara historis, sebelum Paulus menulis surat-suratnya dan sebelum injil-injil muncul, para murid perdana Yesus (orang Yahudi) menghadapi suatu fakta sejarah yang sangat pahit dan memalukan: Yesus telah disengsarakan dan dibunuh oleh suatu koalisi Yahudi-Romawi. Sang Mesias yang mereka harapkan akan mendatangkan suatu permulaan baru bagi bangsa Yahudi yang sedang dijajah ternyata dikalahkan dan berhasil dibunuh oleh lawan-lawannya. Ini adalah suatu peristiwa yang menggoncang keyakinan-keyakinan teologis mereka (bagaimana mungkin sang Mesias utusan Allah bisa dengan mudah dikalahkan dan Allah tidak menolongnya?) dan sangat memalukan mereka (bagaimana bisa sang Mesias mati dengan cara, dalam pandangan Yahudi, begitu memalukan dengan dibunuh melalui suatu cara penghukuman mati Romawi yang biadab: penyaliban?).

Untuk mengatasi kegoncangan dan rasa malu yang besar ini, mereka harus melakukan rasionalisasi-rasionalisasi atas berbagai hal buruk yang telah dialami Yesus. Dalam rangka merasionalisasi inilah, sakralisasi terhadap jalan salib dan kematian Yesus dilakukan: Ya, memang Yesus harus disengsarakan dan dizalimi dan dibunuh karena semua ini sudah dikehendaki (Yunani:
dei) Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka (dosa warisan maupun dosa masa kini) dengan jalan mengurbankan Yesus! Darah hewan dalam Yom Kippur yang diyakini efektif untuk menghapus dosa Israel dalam keyakinan Yahudi (PL) diganti dengan darah Yesus dalam keyakinan Kristen (PB)!

Jadi, jalan keselamatan melalui kesengsaraan dan kematian Yesus memang lahir dari suatu latarbelakang religius-kultural (Yahudi) yang memandang bahwa Allah Yahudi memerlukan darah tercurah untuk menenangkan hati-Nya yang panas dan bergolak karena dosa-dosa umat (manusia). Ketika darah hewan diganti dengan darah manusia, Yesus, bahasa kekerasan pun muncul, tanpa dapat dihindari lagi. Kekerasan yang seharusnya dihindari (ingat salah satu perintah dalam Dasa Titah: Jangan membunuh!), dalam peristiwa kematian Yesus justru disakralisasi sebagai suatu peristiwa ilahi yang suci untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah yang pemurka. Dalam azab Yesus dan pembunuhan atas dirinya, kekerasan yang dilakukan manusia (para pemimpin agama Yahudi dan Gubernur Pontius Pilatus) diubah menjadi "sacred violence", kekerasan yang kudus, karena kekerasan aktual yang tidak suci, yang dialami Yesus, diubah menjadi suatu kekerasan yang dikehendaki dan dipakai Allah untuk menjadi jalan keselamatan bagi manusia.

Nah, rasionalisasi dan sakralisasi terhadap
via dolorosa yang semacam ini berhasil meredakan ketegangan dan tekanan mental berat yang dialami para murid perdana Yesus yang sudah ditinggalkan Yesus, sang Master mereka, yang sudah dibunuh dengan cara yang memalukan. Bagi kalangan Yahudi, ingat, orang yang disalibkan adalah orang yang dikutuk Allah, orang yang durhaka! Tetapi, celakanya, perspektif berteologi semacam ini yang diajukan para penulis Perjanjian Baru telah melegitimasi secara teologis dan menyakralisasi kekerasan yang telah menimpa Yesus, seorang yang tidak bersalah. Allah sendiri (bisa anda bayangkan, jika Dia memang maha pengasih dan maha penyayang) saya yakin tidak mau menerima perspektif berteologi para murid perdana Yesus semacam ini!

Nah, berbagai usaha untuk menyingkirkan dimensi kekerasan dari soteriologi Kristen tradisional akan sia-sia, karena soteriologi Kristen ini
memang memakai bahasa kekerasan.

Nah, saya sudah perlihatkan di posting terdahulu (berjudul "Menggugat The Passion of the Christ di Hari Paskah 12 April 2009"; klik di sini), soteriologi Kristen tradisional yang memuja kekerasan dan pertumpahan darah semacam ini tidak valid, dan sudah berisi unsur-unsur demonik sejak pertama kali dirumuskan oleh kekristenan perdana.

Adakah alternatifnya? Jawabnya: Alternatifnya tersedia.

Soteriologi melalui kematian Yesus bersifat kristosentris, berpusat pada diri Yesus Kristus, khususnya pada azab, kesengsaraan dan kematian Yesus. Kristologi semacam ini jelas memuja dan menyakralisasi penderitaan Yesus. Ini disebut
dolorisme, pemujaan pada azab dan sengsara Yesus (dolores = azab, kesengsaraan). Film Mel Gibson, The Passion of the Christ, jelas menjadikan dolorisme sebagai tulang punggung skenarionya. Dan dolorisme ini, terus terang saja, juga menjadi teologi kekristenan evangelikal/injili. Mereka, kalangan Kristen ini, berkontradiksi dalam diri dan teologi mereka: mereka menkhotbahkan cinta ilahi yang begitu besar bagi dunia ini (Yoh. 3:16), tetapi juga memuja-muja kekerasan yang dialami manusia Yesus. Karena itu tidak heran, mereka pun sering bisa tanpa ragu mempraktikkan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan kekristenan mereka, karena mereka memang dikondisikan oleh soteriologi mereka untuk memuja kekerasan. Seorang teman saya menyatakan bahwa film The Passion of the Christ tidak ada bedanya dengan film tentang pemberantasan G30S/PKI yang dibuat atas perintah rezim jahat Soeharto dalam era Orba. Kedua film ini penuh lumuran darah, dan di dalamnya kekerasan terhadap sesama manusia menjadi suatu cara hidup (way of life) dan pandangan dunia (world view) produser dan sutradara film-film ini.

Nah, alternatifnya adalah soteriologi yang teosentris: keselamatan manusia hanya berpusat dan bergantung pada Allah yang maha rakhmani dan rahimi, maka pengasih dan maha penyayang, yang tidak memerlukan mediator insani apapun untuk diri-Nya berhubungan dengan semua insan dalam dunia ini. Allah yang semacam ini didatangi langsung oleh manusia, tanpa melalui perantara insani manapun (Musa, Buddha Gautama, Khrisna, Yesus, Mohammad, Gulam Ahmad, ataupun Lia Eden, dsb.).

Yesus dari Nazaret mengajarkan dan mendemonstrasikan Allah yang semacam ini. Sebagai seorang yang teosentris (= berpusat pada diri Allah, yang dipanggillnya Abba/Bapa), Yesus meminta para muridnya untuk berdoa langsung kepada Allah dengan memanggil-Nya "Bapa" (dalam Doa Bapa Kami, bagian yang berisi panggilan "Bapa" kepada Allah adalah bagian otentik dari ajaran Yesus sendiri).

Dalam salah satu perumpamaannya, yakni perumpamaan tentang anak yang hilang, Yesus menggambarkan sang anak bungsu yang berdosa, ketika balik kembali dalam rasa sesal dan pertobatannya kepada ayahnya, sang ayah, dengan hatinya yang tergerak oleh kerahiman, segera berlari, langsung mendatangi dan merangkul anaknya yang semula sudah terhilang ini. Sang ayah tidak mengirim seorang utusan atau wakil atau perantara untuk bertemu dan menerima anak bungsunya ini; tetapi dia langsung menemuinya sendiri dan langsung memaafkan si anak tanpa perlu ada seseorang lain yang diutus dan dikurbankan. Nah, soteriologi otentik Yesus adalah soteriologi teosentris, bukan kristosentris. Gereja perdanalah yang mengubah soteriologi teosentris Yesus menjadi soteriologi kristosentris gereja!

Alternatif berikutnya adalah soteriologi logosentris (= berpusat pada logos, ucapan atau pengajaran, yang Yesus sampaikan, bukan pada dirinya sendiri yang, dalam dolorisme, digambarkan dikurbankan dengan kejam dan berdarah-darah). Dengan menghayati ucapan-ucapan Yesus, dengan masuk ke dalam dunia perumpamaan-perumpamaannya, orang akan mengalami pencerahan budi dan pembaruan etika kehidupan. Pencerahan budi dan pembaruan etika inilah pengalaman keselamatan.

Nah, soteriologi logosentris dihayati antara lain dalam komunitas Kristen yang melahirkan Injil Thomas (berisi 114 ucapan Yesus; lihat posting Injil Thomas dalam The Freethinker Blog saya). Injil Thomas aslinya ditulis dalam bahasa Yunani pada pertengahan abad kedua Masehi, yang memuat banyak ucapan tua dan asli Yesus dari Nazaret, bahkan lebih tua dan lebih asli dari yang terdapat dalam Injil-injil kanonik PB. Pada logion #1 Injil Thomas ini dimuat pernyataan, "Barangsiapa dapat menemukan maksud dari ucapan-ucapan [Yesus] ini, dia tidak akan mengalami kematian." Jelas, bagi komunitas Thomas ini, bukan azab dan sengsara serta kematian Yesus yang menyelamatkan, melainkan ucapan-ucapannya. Saved by Jesus' words, not by his death! Injil Thomas bahkan sama sekali tidak menyinggung azab, kesengsaraan dan kematian Yesus! Soteriologi logosentris juga dihayati oleh komunitas "Q" (existed tahun 50-an abad pertama Masehi di Galilea) yang dokumen sucinya terdapat dalam Injil Lukas dan Injil Matius, dan sudah dipadukan dengan bahan-bahan sumber lain membentuk Injil Lukas dan Injil Matius.

Alternatif lainnya yang juga alkitabiah adalah soteriologi yang egosentris atau humanosentris (atau antroposentris), yang menegaskan bahwa keselamatan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri (ego) atau sang manusianya sendiri (human/anthropos) melalui kehidupannya sendiri, melalui perbuatan-perbuatannya sendiri (tentang ini, klik di sini), bukan bergantung pada suatu figur perantara atau penebus manapun. Dengan mendisiplinkan diri untuk menempuh suatu kehidupan yang penuh kebajikan bagi semua orang, seseorang akan terus bertumbuh, semakin ekspansif, dari waktu ke waktu, menuju pada suatu kemanusiaan yang diperluas, yang bisa dan sanggup merangkul semua jenis kehidupan lainnya, suatu kemanusiaan yang sama dengan keilahian. Dalam bahasa PB, suatu kehidupan "dengan kepenuhan Kristus." Kehidupan yang ekspansif semacam ini adalah kehidupan dalam keselamatan, kehidupan ilahi sendiri. Yang ilahi dialami di dalam yang insani, kini dan di dunia ini. Dan setiap manusia memiliki potensi dan bakat untuk menjadi ilahi dalam kehidupannya di dunia ini. Soteriologi semacam ini dihayati banyak truth seekers independen dan juga kalangan mistikus. Kekristenan perdana juga memiliki sekian jenis kekristenan semacam ini, misalnya beberapa kalangan Kristen gnostik.

Nah, sekian soteriologi alternatif di atas juga dihayati banyak orang Kristen dewasa ini, di zaman modern, di zaman ketika kekerasan semakin disadari untuk dijauhi demi keselamatan global, di zaman ketika bahasa "darah Yesus" dalam soteriologi Kristen tradisional dipandang
obsolete, usang, superstitious, takhayul, dan tidak bermakna, meaningless, serta tidak etis, unethical.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Karena kitalah, manusia, tuhan atas dogma gereja, dan bukan sebaliknya! Kuasai dan kendalikan dogma, dan jangan dikuasai dan dikendalikan olehnya. Ikutilah ke mana nalar membawamu. Hanya dengan cara inilah kamu tidak mengkhianati kemanusiaanmu. Take this as your destiny!

Sunday, April 12, 2009

Menggugat The Passion of the Christ di Hari Paskah 12 April 2009


Semalam, 11 April 2009, mulai pukul 21.30 sampai pukul 24.00, TV RCTI menayangkan sebuah film religius lama Mel Gibson (produksi tahun 2003), The Passion of the Christ, persis pada malam sebelum hari Paskah keesokan harinya (12 April 2009). Waktu penayangan ini bukan kebetulan, dan hanya bisa terjadi kalau waktu tayang ini sudah dibeli sebelumnya oleh kalangan Kristen tertentu. Waktu tayang yang sudah dibeli memungkinkan tidak adanya selingan-selingan iklan selama pemutaran film ini. Kalau saya tak salah ingat, tahun lalu film Mel Gibson yang sama juga ditayangkan oleh sebuah stasiun TV, dengan tanpa selingan iklan sama sekali. Rupanya akan menjadi suatu kebiasaan untuk menayangkan The Passion of the Christ setiap tahun lewat sebuah stasiun TV, untuk merayakan hari Jumat Agung (hari peringatan kematian Yesus di kayu salib) dan untuk menyambut hari Paskah (hari kebangkitan Yesus).

Apa tujuan penayangan film ini pada malam sebelum hari Paskah? Bisa diduga, film ini ditayangkan pertama-tama untuk kepentingan internal umat Kristen, supaya mereka makin bisa menghayati makna pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib sehingga iman mereka makin dimantapkan. Inti iman Kristen berisi ajaran ini: Atas kehendak dan perintah Allah, Yesus didera, disiksa dan dibunuh di kayu salib dengan sangat biadab untuk menanggung penghukuman yang seharusnya ditimpakan pada manusia karena dosa-dosa mereka. Bagi keyakinan Kristen, ini adalah tindakan dan jalan normatif satu-satunya yang Allah sendiri adakan, sekali untuk selamanya dan untuk semua orang, dan karena itu harus hanya diterima dan dipercaya manusia jika manusia ingin mengalami pengampunan dosa dan pemulihan hubungan dengan Allah.

Selain untuk kepentingan devosional internal ini, film ini ditayangkan orang Kristen juga sebagai bagian dari kegiatan kristenisasi, kegiatan pekabaran injil Kristen kepada dunia non-Kristen: supaya orang non-Kristen yang menyaksikan film ini, dan melihat bagaimana Yesus disengsarakan, dizalimi dan dibunuh oleh para penguasa dunia ini, tergerak hati untuk mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka sehingga mereka mengalami pengampunan dosa dan menjadi anak-anak Tuhan lewat jalan Yesus Kristus.

Namun faktanya apa? Setahu saya, orang-orang non-Kristen, antara lain teman-teman saya yang beragama Islam, jauh dari tergerak hati ketika menyaksikan film Mel Gibson yang sarat dengan adegan kekerasan dan kebiadaban ini, mereka malah merasa muak dan jijik dengan film ini dan tidak bisa mengerti mengapa orang Kristen bisa sangat menyukai bahkan memuja film ini, dan juga tidak bisa mengerti dan tidak dapat menerima pesan teologis Kristen bahwa Allah memakai suatu jalan kekerasan yang harus dijalani Yesus Kristus hanya supaya hubungan manusia dengan diri Allah ini dipulihkan.

Hemat saya, soteriologi salib atau jalan keselamatan melalui azab, kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib memang memuat permasalahan-permasalahan teologis berat yang sangat sulit diatasi, atau bahkan tidak dapat diatasi sehingga merongrong validitas inti iman Kristen.

Pertama, kalau dosa manusia itu (dosa warisan ataupun dosa pribadi) dipandang Allah sebagai suatu tindak kekerasan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya dan terhadap diri Allah sendiri, maka apakah tindak kekerasan yang Allah sendiri telah lakukan terhadap Yesus (dengan mengharuskannya menempuh jalan penderitaan dan kematian mengenaskan di kayu salib)
akan bisa menghapus kekerasan dosa-dosa manusia? Apakah suatu tindak kekerasan bisa meniadakan suatu tindak kekerasan lainnya? Apakah tindak kekerasan Allah terhadap Yesus bisa mengeliminasi tindak kekerasan yang manusia lakukan terhadap sesamanya dan terhadap Allah? Bukankah pendapat kita adalah bahwa kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru, bukan menghapuskannya? Bukankah dosa manusia tidak bisa dihapuskan oleh kekerasan ilahi? Bukankah dosa Allah tidak bisa menghapus dosa manusia? Bukankah dosa hanya menumpuk dosa, bukan melenyapkannya?

Kedua, bukankah teologi tentang penebusan dosa melalui penderitaan dan kematian biadab Yesus di kayu salib telah melegitimasi dan malah telah melakukan sakralisasi terhadap perbuatan biadab para pemimpin Yahudi dan gubernur Romawi Pontius Pilatus terhadap Yesus dari Nazaret yang sebetulnya tidak bersalah? Dengan kata lain, bukankah ketika gereja sedunia merayakan Jumat Agung, mereka sebenarnya sedang melegitimasi dan menyakralisasi kekejaman dan kekerasan serta kebiadaban sekelompok penguasa keagamaan dan politis kepada Yesus dari Nazaret? Bukankah tidak ada kekerasan yang sakral sehingga kekerasan ini boleh dilakukan?

Demikian juga, bukankah ketika gereja merayakan Paskah, tanpa mereka sadari mereka sebenarnya juga memberi legitimasi teologis terhadap serangkaian tindak kekerasan yang ditimpakan pada Yesus sejak dia diadili, lalu diseret ke Golgota dan akhirnya disalibkan di situ? Bukankah Paskah berarti pembenaran terhadap serentetan tindakan biadab terhadap Yesus yang berakhir di hari Jumat Agung, hari kematian Yesus di kayu salib? Legitimasi teologisnya berbunyi demikian: Ya, benar, Yesus memang harus disengsarakan, dizalimi, lalu dibunuh dengan kejam, supaya semua tindakan kejam ini bisa memuncak pada tindakan Allah membangkitkan Yesus di hari Paskah. Jika demikian, bukankah Paskah itu bukan suatu warta gembira, bukan suatu warta kemenangan, melainkan suatu legitimasi teologis yang kejam dan tidak berhati atas serangkaian tindak kekerasan yang sebelumnya dialami Yesus? Bukankah tanpa jalan kesengsaraan (
via dolorosa) Yesus, tidak akan ada kebangkitannya? Dengan demikian, bukankah kebangkitan Yesus membenarkan jalan kesengsaraannya? Ya, supaya Yesus dibangkitkan, supaya ada kemenangan atas maut, Yesus harus dizalimi dan disengsarakan! Bukankah, dengan demikian, merayakan Paskah berarti membenarkan Pontius Pilatus dan para penguasa Yahudi dalam berlaku keras dan biadab terhadap Yesus?

Teologi Paskah, dengan demikian, mengunci kekristenan dalam suatu dilema dan kontradiksi pelik: pada satu pihak, Paskah dapat berarti Allah, dengan membangkitkan Yesus, menolak semua kekerasan yang telah dialami Yesus sebelumnya; namun di lain pihak, Allah memerlukan jalan kekerasan dijalani Yesus supaya Yesus menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung manusia, dan dengan membangkitkan Yesus, Allah membenarkan semua perlakuan keras yang telah dialami Yesus ketika dia diharuskan Allah menempuh
via dolorosa.

Ketiga, kisah-kisah injil Kristen tentang masa-masa kesengsaraan Yesus, yang dijalaninya sejak dia diadili, lalu dibawa ke Kalvari, dan kemudian disalibkan di sana, secara bertahap menggeser kesalahan yang sebetulnya ada pada pihak Roma (gubernur Pontius Pilatus) ke pihak Yahudi yang direpresentasikan para penguasa Bait Allah. Penggeseran tanggungjawab ini akhirnya menjadikan orang Yahudi sebagai pihak yang satu-satunya bersalah terhadap Yesus, sebagai pihak yang telah melakukan pembunuhan terhadap Tuhan (
deicide). Inilah motif anti-Yahudi yang terdapat paling kuat dalam kisah-kisah pengadilan Yesus dalam injil-injil Kristen. Motif ini kemudian, di zaman modern, melahirkan anti-semitisme yang menimbulkan antara lain pembunuhan jutaan orang Yahudi (Holokaus) oleh rezim Hitler di Eropa pada abad XX.

Anti-semitisme ini sering tanpa disadari dibela gereja Kristen ketika mereka, misalnya, mempersalahkan orang Yahudi sebagai pembunuh Tuhan, dan karena itu mereka (orang Yahudi), dalam pandangan gereja, telah kehilangan anugerah ilahi yang semula diberikan kepada mereka. Dengan merayakan masa-masa kesengsaraan Yesus (dalam minggu-minggu Pra-Paskah) dalam ibadah gereja, gereja Kristen sebenarnya terus-menerus memelihara dan mewariskan ideologi anti-Semitisme, tanpa mau tahu atau tanpa menyadari bahwa anti-Semitisme ini telah menghilangkan begitu banyak nyawa orang Yahudi dalam zaman modern ini.

Begitulah, di dalam inti terpenting dogma Kristen tentang jalan keselamatan manusia lewat Yesus Kristus yang disalibkan terkandung unsur-unsur demonik yang harus diwaspadai. Karena itu, sudah sepatutnya film Mel Gibson The Passion of The Christ tidak usah lagi ditayangkan untuk umum via TV di tahun-tahun yang akan datang.

Friday, April 10, 2009

Good Bye Partai Damai Sejahtera!


Para fungsionaris Partai Damai Sejahtera tentu kini sedang tidak damai sejahtera. Bagaimana tidak? Menurut hasil perhitungan cepat (quick count) LP3ES, partai yang bernomor urut 25 ini hanya bisa meraih suara sebanyak 1,5 % dalam Pemilu legislatif 2009 yang dilaksanakan kemarin, 9 April 2009. Perolehan suara yang kecil ini tidak mau dipercaya oleh pimpinan partai ini. Quick count ini, kata mereka, keliru.

Perolehan suara yang tidak mencapai batas minimal 2,5 % akan membuat PDS tidak lagi bisa masuk ke DPR untuk periode 2009-2014. Dengan kata lain, partai yang secara sepihak mengklaim mewakili orang Kristen di Indonesia ini tidak akan bisa lagi menempatkan wakil-wakilnya di DPR. Meskipun PDS dipilih banyak orang Kristen di kawasan Indonesia Timur, secara nasional perolehan suara mereka dalam Pemilu legislatif 2009 sangat kecil, dan hal ini membuatnya menjadi salah satu partai gurem yang tidak perlu diperhitungkan dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia ke depan.

Orang Kristen yang telah memilih PDS dalam Pemilu legislatif 2009 jadinya telah membuang-buang suara mereka. Persentase perolehan suara PDS yang kecil ini bisa terjadi karena banyak pemilih lama mereka (dalam Pemilu 2004) mengalihkan suara mereka dalam Pemilu 2009 ke partai-partai lain, misalnya ke Partai Demokrat yang berhasil memperoleh suara sebesar kurang lebih 20 %, suatu capaian politis yang sangat besar (tiga kali lipat perolehan suara dalam Pemilu 2004) yang tidak bisa dilepaskan dari kinerja pemerintahan Presiden SBY selama empat setengah tahun berselang. Pengalihan suara ini menunjukkan bahwa orang Kristen di Indonesia tidak yakin dengan kinerja PDS selama lima tahun yang telah lewat. Tentu sangat banyak orang Kristen di Indonesia yang tanpa keraguan mau menyatakan bahwa aspirasi politik mereka selama ini tidak diwakili oleh PDS. Hal ini bisa terjadi karena PDS sendiri mengusung hanya satu warna teologi politis (kalau memang partai ini menghayati suatu teologi!) dari sekian banyak warna teologi politis lainnya yang dianut orang Kristen di Indonesia.

Pengalaman tidak baik dengan PDS yang secara politis telah gagal ini seharusnya bisa menyadarkan orang Kristen di Indonesia untuk ke depannya tidak perlu lagi mendirikan partai Kristen apapun. Aspirasi politik mereka dapat disalurkan ke partai-partai besar yang nasionalis sekular. Di samping itu, sangat mustahil membentuk satu partai Kristen yang bisa mewakili seluruh orang Kristen Protestan di Indonesia. Dari perolehan suara partai-partai dalam pemilu legislatif 2009 ini, kita dapat melihat bahwa warga negara yang telah memilih, lebih menyalurkan suara mereka ke partai-partai kuat yang tidak berbasiskan agama (Partai Demokrat, PDI-P, Golkar). Ke depannya barangkali partai-partai yang berbasiskan agama akan makin kurang berperan di Indonesia, suatu perkembangan yang baik menuju masa depan Indonesia yang demokratis dan sekular.

Thursday, April 9, 2009

Starbucks Coffee dan Pemilu Legislatif 2009

Tadi pagi, sekitar pukul 09.00, tanggal 9 April 2009, saya mengantar istri dan putra saya ke TPS dekat rumah di Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Indonesia, untuk mereka memakai hak mereka memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga-lembaga legislatif negara ini (DPR, DPRD dan DPD). Dalam pemilu legislatif 2009 kali ini, mereka tidak mencoblos, tetapi mencontreng. Contreng, contreng, contreng! Begitu teriak seorang petugas dengan pengeras suara, berkeliling mengunjungi rumah-rumah penduduk sejak pagi tadi.

Di lokasi TPS, saya masih mencari tahu apakah saya yang tidak mendapatkan surat pemberitahuan dari pelaksana pemilu setempat boleh mencontreng. Jawabnya tegas, Tidak boleh! Ya, sudah, tidak apa-apa, kata saya. Saya duduk saja di sebuah bangku yang disediakan, sementara dari kejauhan memandangi istri dan putra saya yang sedang mencontreng. Inilah pertama kali putra saya ikut pemilu. Senang hati saya melihat putra saya ini ikut serta untuk kali pertama dalam kegiatan demokratis penting negeri ini. Saya berharap, nanti, di masa depan yang dekat, putra saya ini dapat lebih jauh berperan dalam pembangunan demokrasi di negeri ini. Saya pribadi, sangat mendambakan Indonesia berhasil menjadi negeri demokratis sepenuhnya kendatipun 85 persen penduduknya beragama Islam, agama yang di mana-mana sering dituding sebagai agama yang tidak bisa sejalan dengan demokrasi modern!

Sehabis mencontreng, kami pulang kembali. Di rumah, saya dan putri saya hampir berbarengan mendapat sebuah SMS yang isinya berita bahwa perusahaan Starbucks Coffee, mulai pukul 12.00 siang sampai pukul 17.00 sore, menyediakan segelas kopi harum gratis di setiap gerainya di seluruh Indonesia bagi setiap warganegara yang telah ambil bagian dalam pemilu legislatif 2009, dengan menunjukkan kelingking kanan mereka yang bernoda tinta biru pemilu. Tepat pada waktunya, saya mengajak istri dan putra saya mendatangi sebuah kedai modern Starbucks Coffee di Mal Artha Gading, Jakarta. Betul, di sana sudah terlihat antrian cukup panjang orang yang ingin mendapat secangkir kopi Starbucks gratis. Istri saya memberikan jatah segelas kopinya kepada saya. Ya, betul, segelas plastik kopi Starbucks yang, kalau dibeli, mahal harganya itu memang harum dan sedap rasanya. Saya meminun habis satu gelas kopinya, sambil berharap, semoga malam ini tidur saya tidak terganggu karena pengaruh kopi.

Tapi saya bertanya-tanya dalam hati, apa hubungan segelas kopi Starbucks dengan pemilu legislatif 2009? Tentu saja minum segelas kopi Starbucks gratis adalah bagian dari kegiatan periklanan perusahaan kopi terbesar dan termahal di dunia ini. Tetapi apa ada makna lebih jauh dari sekadar iklan, saya bertanya sendiri. Anda bisa menjawabkannya untuk saya. Tapi saya sendiri menjawabnya demikian: minum segelas kopi gurih gratis Starbucks setelah mencontreng dalam pemilu legislatif 2009 ini barangkali akan ampuh membuat rakyat Indonesia tetap terjaga, tidak mengantuk, selama 5 tahun ke depan untuk mengawasi dan mengontrol dengan tajam bagaimana wakil-wakil rakyat yang mereka telah pilih melalui Pemilu legislatif 2009 menjalankan tugas kenegaraan mereka! Segelas kopi gratis Starbucks akan berefek panjang selama 5 tahun ke depan! Hebat juga perusahaan kopi Starbucks ini! Sihir apa yang ada dalam segelas kopi gratisan itu? Harry Potter atau Dedy Corbuzier sendiri belum tentu bisa menjawabnya!

Wednesday, April 8, 2009

Dipaksa Jadi Golput


Besok, 9 April 2009, Pemilu Anggota DPR/DPD/DPRD diadakan di seluruh provinsi Indonesia. Selama ini, dalam sejumlah Pemilu sebelumnya, saya selalu menggunakan hak saya untuk memilih. Tapi, untuk Pemilu besok, saya dipaksa jadi golput lantaran saya tidak mendapatkan Surat Pemberitahuan Waktu Dan Tempat Pemungutan Suara Model C4 yang ditandatangani oleh ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di wilayah tempat tinggal saya di kelurahan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan kata lain, saya tidak terdaftar di daftar pemilih tetap Pemilu legislatif 2009.

Dari kami sekeluarga, istri dan putra saya yang sudah memiliki KTP memperoleh surat pemberitahuan tersebut yang diberikan oleh ketua RT kami; sedangkan saya, karena, menurut ketua RT, kesalahan teknis administratif di kelurahan, tidak mendapatkannya. Putri saya belum cukup umurnya untuk ikut Pemilu. Kata ketua RT beberapa hari lalu, saya tetap bisa mengikuti Pemilu dengan menunjukkan KTP saya pada petugas di tempat pemungutan suara besok. Tapi baru saja saya mendapat pemberitahuan bahwa tanpa membawa dan menyerahkan surat pemberitahuan tersebut seseorang tidak bisa mengikuti Pemilu. Maka, sudah pasti, besok saya akan menjadi golput yang dipaksa keadaan!

Ada rasa penasaran dalam hati saya. Bagaimana tidak! Di mana-mana saya menyatakan, bahwa kita harus tidak menjadi golput dalam Pemilu 2009. Kepada anggota gereja saya, saya mengatakan hal itu. Kepada teman-teman saya, saya juga menyatakan hal yang sama. Kepada istri dan dua orang anak saya, hal yang sama juga saya tegaskan. Kepada diri saya sendiri, saya juga mengatakan, jangan jadi golput! Perasaan penasaran dan kecewa ini saya juga sudah ungkapkan kepada ketua RT saya; dan dia menjawab enteng dan menghibur: "Kan masih ada Pemilu Presiden, pada bulan Juli yang akan datang!"

Ya, sudah pasti saya akan ambil bagian dalam Pemilu Presiden yang akan datang ini! Mudah-mudahan tidak terjadi lagi kesalahan teknis administratif yang serupa! Harap KPU bekerja lebih profesional lagi! Menjadi golput itu seperti menjadi liliput di negeri dongeng yang namanya Indonesia. Oh Indonesia, kapan engkau akan menjadi negeri sungguhan?! Ngurus Pemilu aja kok nggak becus!! Apalagi ngurus nuklir!