Wednesday, May 13, 2009

Apakah "Dosa Warisan" Itu Ada?

The courageous Eve and the forbidden fruit

Soteriologi salib untuk bisa fungsional memerlukan doktrin Kristen tentang “dosa asal” atau “dosa warisan”. Apakah dosa warisan memang ada sehingga harus dibersihkan dan dihapus oleh “darah Yesus” yang tercurah di kayu salib? Inilah pertanyaan yang jawabannya dicari dalam tulisan ini, tulisan kedelapan dari rangkaian tulisan yang menyoroti masalah-masalah dalam soteriologi salib. Jika dapat diargumentasikan bahwa dosa asal tidak ada, maka rontok jugalah validitas soteriologi ini.

Menurut Rasul Paulus, dosa asal itu ada, yakni bermula dari pelanggaran dan ketidaktaatan Adam terhadap ketetapan dan larangan Allah. Dosa Adam dan kematian sebagai hukumannya, tulis Paulus, “telah menjalar kepada semua orang” (Roma 5:12-19). Di perikop surat Roma ini, Paulus hanya menyebut Adam sebagai sumber dosa asal. Dia tidak menyebut Hawa, yang menurut tuturan Kejadian 3:1-24 (yang pasti dikenal Paulus) adalah orang pertama yang mengambil buah dari pohon terlarang (Kejadian 2:17; 3:3), lalu memakannya dan memberikannya kepada suaminya, Adam, yang lalu juga ikut memakannya (Kejadian 3:6). Bisa jadi, para pendukung teologi feminis dalam zaman kita sekarang ini sangat senang, sebab Rasul Paulus tidak menunjuk kepada Hawa sebagai sumber dosa asal. Tetapi nanti dulu!

Dalam surat pastoral 1 Timotius yang ditulis pada akhir abad pertama atau permulaan abad kedua Masehi, yang bukan buah tangan Rasul Paulus, kita baca sesuatu yang pasti menusuk hati kaum feminis: “Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (2:11-14; bdk. 1 Petrus 3:1-7). Tentu saja kaum feminis modern, dengan hermeneutik resistensi mereka, akan satu suara menyatakan bahwa teks yang menyudutkan dan merendahkan kaum perempuan ini bukan firman Allah, tetapi firman seorang manusia laki-laki dalam suatu masyarakat patriarkal yang merendahkan dan menindas kaum perempuan. Mereka juga pasti akan sangat berang terhadap, antara lain, seorang pemimpin gereja dari abad kedua, Tertullianus, yang dengan memakai Kejadian 3 sebagai titik pijaknya menegur kaum perempuan Kristen zamannya dengan sangat keras, demikian, “Kalian adalah pintu gerbang masuknya setan ke dalam dunia ... kalian adalah dia [Hawa] yang membujuknya [Adam], yang setan tidak berani serang.... Tahukah kalian bahwa setiap orang dari antara kalian adalah seorang Hawa? Hukuman Allah terhadap jenis kalian tetap berlaku dalam zaman ini; begitu juga, kesalahan yang dibuat Hawa bagaimanapun juga tetap ada” (Tertullianus, De Cultu Feminarum I, 12). Tentu kaum feminis akan langsung menangkap ada misogini (= kebencian terhadap kaum perempuan) yang sangat kuat dalam kedua teks ini, yang satu teks skriptural dan yang lainnya bukan.

Di dalam sebuah dokumen yang dibeli British Museum pada tahun 1785, yang berjudul Pistis Sofia (ditulis tahun 250 M), misogini bahkan dikatakan juga ada pada Rasul Petrus, yang menurut Gereja Katolik Roma adalah bapak moyang semua Paus. Teks Pistis Sofia 72 memuat ucapan Maria Magdalena tentang Rasul Petrus kepada Yesus dan para rasul lainnya, demikian, “Guruku, aku memahami dalam pikiranku bahwa aku dapat maju ke muka kapan saja untuk menafsirkan apa yang Pistis Sofia telah katakan, tetapi aku takut kepada Petrus, karena dia telah mengancam aku dan membenci jenis kami.” Teks Pistis Sofia yang semacam ini tentu dilatarbelakangi oleh adanya suatu persaingan tajam antara rasul-rasul perempuan dan rasul-rasul pria ketika para rasul pria belum menguasai seluruh jenjang kepemimpinan dalam gereja awal dulu (lebih jauh tentang Pistis Sofia, klik di sini).

Nah, untuk membela dan merehabilitasi Hawa serta melawan misogini, banyak pendukung feminisme pada masa kini berpaling ke teks-teks ekstrakanonik yang ditulis kalangan gnostik pada abad kedua dan ketiga, yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Di antara 52 traktat yang ditemukan di Nag Hammadi ini, dokumen Hipostasis Para Arkhon dan dokumen Guntur: Pikiran Sempurna khususnya patut diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh mereka.

Dalam kedua dokumen gnostik ini, Hawa digambarkan bukan sebagai asal-muasal “dosa asal” (original sin), tetapi sebagai asal-muasal dari apa yang saya dapat sebut sebagai “karunia asal” (original grace). Karena apa? Karena, di dalam dokumen-dokumen gnostik ini, Hawa (atau Kuasa Spiritual Feminin yang ada dalam dirinya) dipandang sebagai hero yang dengan sangat berani telah melakukan langkah yang betul dan signifikan, yakni melawan Allah untuk mendapatkan “pengetahuan” (Yunani: gnosis) yang begitu penting dalam pandangan kalangan gnostik sebagai jalan menuju pencerahan dan pembebasan, buat Hawa sendiri, buat suaminya, dan buat seluruh umat manusia setelah mereka. Perspektif khas gnostik ini dapat menjadi suatu landasan untuk mengangkat refleksi liberal berikut ini dan menerapkan hermeneutik resistensi.

Keberanian Hawa melanggar larangan Allah (lihat Kejadian 2:17), dengan dia memetik “buah terlarang” (yang kita sering bayangkan sebagai buah apel) lalu memakannya dan memberikannya kepada suaminya, Adam, telah membuat mata keduanya “terbuka.” Dengan tindakan heroik Hawa itu, mereka mendapatkan pencerahan dan pengertian serta pengetahuan. Mereka, seperti dikatakan sang ular, berhasil menjadi “seperti Allah, tahu tentang hal yang baik dan hal yang jahat” (Kejadian 3:5), pengetahuan yang sebenarnya semula Allah ingin kuasai sendirian. Tetapi, bukankah, menurut Kejadian 1, “menjadi seperti Allah” adalah suatu kodrat yang diberikan kepada Adam dan Hawa ketika Allah menciptakan mereka sebagai “gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26-27)? Jadi, kalau Adam dan Hawa bertindak memakan buah terlarang itu, buah “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, bukankah tindakan mereka ini sejalan dengan kodrat mereka yang mulia? Di mana kesalahan mereka, di mana dosa asal dari mereka? Apa perlu ada larangan itu?

Apakah dengan tindakan pelanggaran ini, Hawa, dan suaminya, Adam, langsung mati, seperti diingatkan dan diancamkan Allah sebelumnya, bahwa “pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17; 3:3)? Seperti dikatakan sang ular bahwa “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3:4), Adam dan Hawa ternyata memang tidak mati, malah keduanya masih hidup beberapa ratus tahun ke depan (lihat Kejadian 5:5) dan melahirkan keturunan. Ancaman dan peringatan dari Allah ternyata tidak terjadi; hal ini bisa disebabkan Allah berdusta, tidak konsisten, atau karena hal lain. Bahwa mereka berdua tidak mati membuktikan bahwa larangan Allah itu sebetulnya tidak diperlukan, salah tempat, dan tidak memiliki kekuatan. Bagaimanapun juga, “pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, yang diperoleh Adam dan Hawa melalui perlawanan mereka kepada Allah, sangat penting untuk mengawal perjalanan peradaban manusia, dari tahap primitif primordial di Taman Eden sampai ke tahap modern dalam zaman sekarang. Bukankah sebagai “gambar dan rupa Allah” manusia diperintahkan untuk “menguasai” dan “menaklukkan” seluruh alam dan segenap isinya (Kejadian 1:26-28)? Bukankah untuk bisa menguasai dan menaklukkan seluruh alam dengan bijaksana diperlukan pengetahuan tentang moralitas, tentang hal yang baik dan hal yang jahat? Dengan demikian, harus ditegaskan, yang “menjalar” dari Adam dan Hawa bukanlah dosa asal dan kematian sebagai hukumannya, seperti dibayangkan Rasul Paulus, melainkan karunia atau rakhmat asal dan kehidupan, seperti dibayangkan kalangan gnostik. Karunia asal dan kehidupan ini dapat mengalir dari Taman Eden kepada semua umat manusia karena keberanian Hawa untuk mendapatkan pengetahuan kendatipun untuk itu Hawa harus melawan Allah yang memang tampil membingungkan.

Jelas, perspektif gnostik di atas berhasil merehabilitasi Hawa; dan kalangan pembela feminisme patut bersorak-sorai karenanya. Tetapi, apa kata penulis Kejadian 3 tentang akibat yang ditimbulkan “mata yang terbuka”, “pengetahuan” dan “pengertian” yang berhasil dicapai Hawa dan dibagi kepada Adam? Penulis Kejadian 2:4b-3:24, yang mewakili kalangan sastrawan Yahwis “ortodoks” istana dalam zaman pemerintahan Raja Daud (abad X SM), ternyata tidak memihak kepada Adam dan Hawa yang sebetulnya sudah tercerahkan.

Dalam kesimpulan si penulis Kejadian 3, buah pohon terlarang yang dimakan Hawa dan diberikan kepada suaminya, Adam, membuat “mata mereka terbuka” sehingga mereka bisa melihat “bahwa mereka telanjang” dan untuk menutupi ketelanjangan mereka itu, mereka “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kejadian 3:7). Jelas, di sini si penulis ini memaknai kata “telanjang” sebagai sesuatu yang memalukan, sesuatu yang menimbulkan aib, sesuatu yang tidak pantas, sesuatu yang tidak sopan, sesuatu yang tidak baik, sesuatu yang buruk, sesuatu yang tidak bermoral, karena itu harus ditutupi. Dengan demikian, baginya, ketika Adam dan Hawa, dan juga seluruh umat manusia keturunan mereka, mau “menjadi seperti Allah” dan bertindak ke arah itu dengan melanggar larangan Allah, yang akhirnya mereka dapatkan hanyalah rasa malu, aib, dan keadaan tidak bermoral. Posisi etis teologis si penulis Kejadian 3 ini jelas: manusia tidak boleh melanggar perintah Allah yang sudah ditetapkan atau dituliskan, apapun isi perintah itu, kalau mereka tidak ingin akhirnya menemukan diri mereka aib dan memalukan! Dilihat dari sudut posisi etika, jelas dia adalah seorang yang legalistik skripturalis. Bisa jadi, tuturannya dalam Kejadian 3 memang dimaksudkannya sebagai sebuah pesan kepada Raja Daud dan rakyatnya bahwa untuk negara dan bangsa bisa maju dan mengalami kejayaan, bukan kejatuhan, mereka semua harus setia kepada firman Allah, kepada Taurat Musa, dan menaatinya secara harfiah. Tentu saja, dengan berpijak pada hermeneutik resistensi, kita bisa melawan dan menolak kesimpulan si penulis Kejadian 3 ini, dan mempersoalkan posisinya dengan rasional.

Pertama, dalam kisah sebelumnya, si penulis Kejadian 2:4b-3:24 menuturkan bahwa Tuhan “mengambil Adam dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15). Jadi, di Taman Eden Tuhan Allah tidak begitu saja memberikan segala sesuatunya dengan serba lengkap kepada Adam untuk dia dapat hidup. Sejak awal, Taman Eden bukanlah sesuatu yang sudah jadi, tetapi sesuatu yang masih harus diolah, sesuatu yang masih belum sempurna. Adam tetap harus berpikir, bekerja keras, bersusah payah, berkeringat, berlelah-lelah, dalam mengusahakan dan memelihara taman itu. Adam tetap harus melakukan tindakan budaya. Tindakan naluriah saja sangat tidak memadai. Dengan demikian, untuk melaksanakan perintah kultural “mengusahakan dan memelihara” taman, Adam memerlukan bukan naluri, bukan hanya tubuh dan tenaga, tetapi pengetahuan dan teknologi, mulai dari yang sederhana sampai yang lebih kompleks! Yakni pengetahuan tentang pengelolaan tanah atau tempat kehidupan manusia, pengetahuan tentang bagaimana mengelola tanah dengan sebaik-baiknya dan pengetahuan tentang bagaimana menghindari kesalahan-kesalahan dalam mengelola, supaya dihasilkan banyak kebaikan, keuntungan dan manfaat buat Adam. Bukankah sudah seharusnya Allah, sebagai sang Pencipta Adam dan tempat kehidupannya, memberinya pengetahuan itu?

Jadi, kalau di tengah Taman Eden tumbuh “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, biarkanlah Adam memetik buahnya dan memakannya. Bukankah pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat memungkinkan Adam memikirkan perihal bagaimana membangun kehidupan yang menghasilkan kebaikan dan menghindari kehidupan yang menimbulkan kejahatan? Bukankah pengetahuan tentang moralitas, pengetahuan tentang nilai-nilai, pada saatnya mendorong orang untuk juga menciptakan pengetahuan material yang bisa membantunya hidup dengan baik dan terhindar dari hal yang jahat dan hal yang buruk? Bukankah pengetahuan tentang moralitas mendorong orang untuk juga menghasilkan dan mengembangkan pengetahuan ilmiah, sains? Moralitas atau etika, sebagai suatu pengetahuan, mendorong penemuan dan pengembangan sains, tidak menghambat dan menghalanginya. Jadi, supaya manusia bisa terus maju, seharusnya Allah mendorong Adam memetik dan memakan buah pohon tentang hal yang baik dan hal yang jahat yang ada di tengah Taman Eden, bukan melarangnya.

Dengan demikian, kalau dituturkan bahwa Tuhan Allah memberi perintah dan larangan kepada Adam untuk tidak memakan buah “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat” (Kejadian 2:17), si penulis kisah ini membuat Tuhan Allah menjadi suatu figur yang tidak konsisten, yang tidak mengetahui hal-hal yang dibutuhkan Adam dalam mengusahakan dan memelihara atau mengelola taman tempat dia hidup. Tuhan Allah yang semacam ini adalah Tuhan Allah yang, boleh dikatakan, bodoh, tidak maha tahu, penghambat, dan tidak bertanggungjawab. Tentu saja, hemat saya, orang tidak perlu menaati dan tunduk pada Allah yang semacam ini. Dengan demikian, tindakan Hawa mengikuti petunjuk dan pengarahan sang ular adalah suatu tindakan yang benar, yang memang diperlukan untuk manusia bisa mengelola lingkungan tempat kehidupannya, untuk berbudaya. Dengan demikian, yang dibuat di Taman Eden bukanlah dosa asal, tetapi suatu tindakan berani Hawa untuk memungkinkan manusia melakukan tindak budaya primordial, yang akan terus dikembangkan manusia keturunan Adam dan Hawa di mana-mana dan di segala zaman. Adam dan Hawa bukanlah tipe manusia pembangkang, tetapi tipe manusia yang dengan bertanggungjawab memakai “kehendak bebas” mereka (bdk Kejadian 2:16; 3:2) untuk membangun suatu bentuk primitif kebudayaan. Allah tidak boleh menghalangi kehendak bebas yang ada pada manusia, jika kehendak bebas ini dipakai manusia untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya yang diperlukan untuk dengan penuh tanggungjawab mengelola tempat kehidupannya dan dunia luas ciptaan Allah. Dan sampai sekarang, dari sebagai bayi sampai rambut memutih, manusia manapun tidak kehilangan kehendak bebas mereka. Tidak ada dosa asal yang merenggut kehendak bebas manusia.

Kedua, menurut si penulis Kejadian 2:4a-3:24, Adam adalah suami dari Hawa (Kejadian 3:6), dan Hawa adalah istri Adam (Kejadian 2:24). Sebagai suami dan istri mereka berdua “telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kejadian 2:25). Nah, bagaimana mungkin sebagai pasangan suami dan istri, Adam dan Hawa saling tidak mengetahui bahwa keduanya telanjang? Mereka, sebelum memakan buah terlarang, sudah mengetahui bahwa mereka berdua telanjang, meskipun demikian keduanya tidak merasa malu. Jadi, si penulis bagian kitab Kejadian ini melupakan apa yang dia telah tulis sebelumnya ketika dia menarik kesimpulan yang sudah disebut di atas. Atau, dengan kata lain, kesimpulannya itu adalah kesimpulan yang tidak perlu, yang tidak pada tempatnya, kesimpulan yang keliru. Walaupun demikian, dilihat dari sisi lain, bukankah sesuatu yang baik jika Adam dan Hawa, sebagai akibat memakan buah terlarang itu, mendapatkan pengetahuan bahwa mereka harus menutupi alat-alat vital mereka, aurat mereka, yang satu dengan cawat (Adam), dan yang lainnya dengan daun pohon ara (Hawa)? Bukankah tindakan mereka ini menandakan mereka mengalami peningkatan pemahaman moralitas tentang merawat tubuh dan tentang menjalani kehidupan sosial yang sopan dan beradab? Hemat saya ini adalah suatu akibat yang baik dilihat dari sudut moralitas. Dengan demikian, bukan dosa asal yang dibuat mereka, tetapi suatu peningkatan kesadaran tentang bagaimana menjalani suatu kehidupan sosial yang beradab.

Tetapi pandangan si penulis Kejadian 3 tidak demikian: baginya hasil dari memakan buah terlarang, dari tindakan untuk menjadi sama dengan Allah, adalah sangat buruk dan menimbulkan aib, karena melanggar ketetapan Allah. Karena itu, pantaslah kalau si penulis ini selanjutnya menuturkan bahwa Allah, setelah mengetahui pelanggaran Adam dan Hawa, menjatuhkan hukuman berat kepada mereka berdua, kepada sang ular yang sebetulnya baik hati, dan kepada tanah (Kejadian 3:14-19). Nah, sekarang saatnya kita meninjau sekian hukuman yang dijatuhkan Tuhan Allah kepada Adam dan Hawa, ular dan bumi, untuk kita menemukan apakah semua keadaan yang ditimbulkan oleh hukuman ini memang timbul karena dosa asal atau merupakan hal-hal yang memang kodrati dalam diri dan kehidupan manusia.

Yang pertama-tama ingin saya tekankan adalah bahwa Kejadian 3 bukanlah sebuah deskripsi naratif historis tentang Taman Eden dan tiga makhluk hidup penghuninya (Adam, Hawa dan ular) serta apa yang mereka perbuat, tetapi sebuah etiologi mitologis, sebuah kisah fiktif, sebuah metafora, yang disusun ketika si penulisnya bertanya dan bergumul mengenai asal-usul dan sebab-musabab hal-hal eksistensial yang dilihat dan dialaminya setiap hari, lalu dia sendiri dengan imajinatif dan spekulatif mengupayakan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Bahwa kisah alkitabiah tentang Adam dan Hawa dalam Kejadian 2:4b-3:24 bukanlah sebuah kisah sejarah, melainkan sebuah mitologi, sebuah dongeng, sebuah metafora, ditunjukkan oleh hal-hal yang dikisahkannya. Antara lain, hanya dalam dongeng saja ada pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat, yang kalau buahnya dimakan si pemakan akan langsung menjadi cerdas dan berpengetahuan, menjadi seperti Allah. Hanya dalam kisah fiktif saja ada ular yang bisa berbicara. Hanya dalam mitologi saja, Allah digambarkan bertubuh, berkaki dan bermulut, yang biasa berjalan-jalan di Taman Eden di hari-hari yang sejuk, lalu menyidik Adam dan Hawa ketika keduanya kedapatan bersembunyi dari hadapan Allah. Hanya dalam dongeng saja ada dua orang manusia yang tidak berpusar, Adam dan Hawa, karena mereka tidak dikandung dalam rahim ibu mereka, tetapi langsung jadi sebagai manusia dewasa. Cuma dalam dongeng saja ada orang (yakni Adam) yang usianya sampai 930 tahun (Kejadian 5:5).

Saya juga ingin tegaskan bahwa si penulis etiologi Kejadian 3, dalam membuat tuturannya, tidak memulainya dari apa yang dulu sekali terjadi di Taman Eden, tetapi dia memulainya dari apa yang dilihat dan dialaminya setiap hari dalam kehidupannya. Si penulis kisah fiktif ini tidak bergerak dari Taman Eden zaman dulu ke depan, melainkan dari zamannya dan lingkungannya (di abad X SM) mundur ke belakang dengan sangat jauh, ke permulaan kehidupan manusia di muka bumi. Rasul Paulus dan beberapa penulis Perjanjian Baru lainnya, dan beberapa pemimpin gereja di abad kedua dan ketiga, telah menjadikan tuturan Kejadian 3 sebagai tuturan tentang apa yang dulu terjadi di Taman Eden dan akibat-akibatnya ke depan, yang dialami oleh umat manusia setelah kehidupan Adam dan Hawa di Taman Eden.

Jadi, karena kisah tentang Adam dan Hawa ini fiktif, konsep tentang dosa asal juga konsep yang fiktif, bukan konsep yang berpijak pada sejarah. Bagaimanapun juga, untuk mengkritik dogma tentang dosa warisan, kita harus mengikuti alur kisah fiktif ini dan penalaran yang dikembangkan di dalamnya.

Si penulis Kejadian 3, dari apa yang dilihatnya, bertanya, apa sebabnya ular menjalar dengan perutnya dan tinggal dalam liang di dalam tanah dan dimusuhi dan menyerang manusia (kejadian 3:14-15). Tentu saja dia tidak bisa memanfaatkan sains evolusi Darwinian yang baru muncul beberapa puluh abad sesudah zamannya untuk menerangkan apa sebabnya (hampir) semua ular tidak berkaki, bergerak menjalar dengan perut, dan berdiam di dalam tanah. Dia tidak mempersoalkan ular air, ular sungai atau ular laut atau ular pohon atau ular-ularan. Jawabannya teologis etiologis dan sederhana: ular menjadi binatang semacam itu karena dulu sekali nenek moyang hewan ini sudah dikutuk Allah berhubung binatang melata ini sudah menyesatkan Hawa dulu di Taman Eden dengan membujuk dan memperdayanya untuk memakan buah terlarang. Jawaban teologisnya ini merugikan hewan yang dinamakan ular. Binatang ini umumnya dibenci dan ditakuti kebanyakan manusia. Setiap kita bertemu ular tanah, apalagi kalau ular ini masuk ke rumah kita, berbisa ataupun tidak, kita cenderung mau membunuhnya, karena kita geli dan jijik pada bentuk tubuh dan lendirnya dan takut pada bisanya yang mematikan, ditambah lagi karena kita, celakanya, dengan bodoh menganggap hewan ini sudah dikutuk Allah!

Syukurlah, sekarang ini sudah ada banyak gerakan pencinta ular yang mau melindungi hewan ini. Seharusnya memang demikian, karena ular telah menjadi pandu yang baik bagi Hawa untuk mendapatkan pengetahuan, dan karena itu sudah pada tempatnya hewan ini menerima pujian, berkat, cinta dan perlindungan, bukan kutuk dan permusuhan. Jadi, sudah seharusnya kita menolak jawaban teologis si penulis Kejadian 3 ini, dan mencari jawab atas pertanyaannya mengenai asal-usul bentuk fisik ular bukan pada teologi, pada dosa asal, tetapi pada sains evolusi. Kalaupun kita harus juga memberi suatu jawaban teologis, bukankah seharusnya kita katakan bahwa sudah seharusnya Allah menyayangi ular sebagai salah satu ciptaannya, dan malah harus lebih memberkati hewan menjalar ini karena hewan ini dulu telah membantu Hawa memperoleh pengetahuan. Selain itu, hendaknya kita tahu bahwa banyak manusia dalam kebudayaan dan agama yang berbeda-beda memuja ular dan memandangnya sebagai hewan suci, bahkan hewan ini seringkali, dalam beberapa kebudayaan, diyakini sebagai penjelmaan para dewa dalam dunia manusia. Jadi, jawaban si penulis Kejadian 3 bukanlah satu-satunya jawaban, malah merupakan sebuah jawaban yang buruk!

Selanjutnya, si penulis Kejadian 3 bertanya, apa sebabnya kaum perempuan di muka bumi mengalami kesusahan waktu mengandung bayi selama 9 bulan, dan apa sebabnya mereka merasa sakit ketika bersalin, dan apa sebabnya perempuan berahi kepada suaminya dan ditaklukkan kaum lelaki (Kejadian 3:16). Jawabannya kembali teologis etiologis dan sederhana: kaum perempuan mengalami semua keburukan dan keadaan berat itu karena dulu nenek moyang mereka, Hawa, telah berbuat dosa melanggar larangan Allah, dan mereka kini harus menanggung akibat dosa yang diwariskan Hawa ini. Betulkah demikian? Hemat saya sama sekali tidak betul!

Setiap perempuan yang mengandung tentu saja secara alamiah biologis mengalami hal-hal yang biasanya, ketika tidak sedang mengandung, mereka tidak alami. Perubahan-perubahan hormonal dalam tubuh dapat menyebabkan rasa mual dan menimbulkan bercak-bercak kecil pada tubuh. Ngidam mangga asam, misalnya, bisa timbul karena dia menginginkan lebih banyak perhatian dan pemanjaan dari suami, tetapi bisa juga karena pengaruh hormonal, bukan hanya gejala psikologis. Lagi pula, faktanya adalah bahwa kebanyakan perempuan merasa berbahagia jika mereka sedang mengandung, bukan sebaliknya merasa disusahkan oleh kandungannya, pun seandainya dia mengandung bayi yang ihwal siapa ayahnya tidak jelas atau mengandung karena korban perkosaan atau karena kealpaan menjaga kesucian.

Semua orang tahu bahwa seorang ibu yang sedang bersalin menderita rasa sakit bukan karena sedang menanggung hukuman atas dosa asal Hawa dulu, melainkan karena saluran leher rahim menuju vagina memang sangat kecil dan sempit. Sudah seharusnya fakta anatomis fisikal ini tidak disangkal oleh penjelasan teologis apapun! Bukankah Allah juga yang menciptakan saluran leher rahim yang berukuran sangat sempit jika dibandingkan dengan ukuran kepala dan tubuh bayi yang sedang memberojol keluar dari rahim ibunya?

Lebih lanjut, bukankah manusia yang normal, suami maupun istri, memiliki nafsu berahi yang perlu disalurkan melalui hubungan badaniah dengan pasangannya, baik untuk tujuan prokreasi ataupun untuk tujuan tunggal mencapai kenikmatan? Jadi, keduanya haruslah saling berahi terhadap mitranya jika mereka mau mempunyai anak yang akan dikandung sang istri. Jika sang istri berahi lebih dulu terhadap suaminya, apa salahnya? Bukankah untuk bersetubuh harus ada yang berahi lebih dulu, entah sang istri dulu atau sang suami dulu, lalu disusul dengan yang satu merangsang yang lainnya? Mengapa eros atau dorongan seksual dipandang negatif dalam hubungan suami dan istri, sementara Allah sudah memerintahkan manusia di bumi ini untuk “beranak cucu”? Di samping itu, bukankah faktanya adalah bahwa kaum prialah yang umumnya memiliki libido, atau nafsu berahi, lebih besar dan lebih agresif ketimbang kaum perempuan?

Masyarakat si penulis Kejadian 3 yang memang masyarakat patriarkal menyebabkan kaum lelaki berkuasa atas kaum wanita; ini adalah fakta sosio-kultural, bukan fakta teologis yang penyebabnya harus dicari sampai pada pemberontakan pasangan manusia pertama di Taman Eden terhadap Allah dan tindakan Hawa memberi Adam buah terlarang. Di dunia ini masih ada banyak kebudayaan matriarkal yang menempatkan kaum perempuan dalam kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan kaum lelaki. Patriarki dan matriarki ada bukan dikarenakan dosa Adam atau dosa Hawa dulu, tetapi dibentuk dengan sadar oleh masyarakat dan kebudayaan manusia melalui konsensus-konsensus sosio-politis dan kultural. Tetapi, masyarakat modern dewasa ini umumnya bersifat demokratis, egaliter dan emansipatoris, tidak lagi memperlakukan kaum wanita sebagai warga kelas rendahan; hal ini juga hasil konsensus nilai-nilai yang ditetapkan anggota masyarakat masa kini.

Nah, kesalahan si penulis Kejadian 3 adalah dia memberi alasan teologis yang tidak tepat terhadap hal-hal yang sebenarnya hormonal, psikologis, sosiologis dan kultural. Ini terjadi jelas karena dia tidak dilatih untuk berpikir dan menganalisis secara interdisipliner; dia hanya bisa mengasalkan segala hal buruk yang ada di sekitarnya pada dosa asal yang sebenarnya tidak ada. Bagi dia, teologi harus bisa menjelaskan segala sesuatu, suatu posisi yang kebablasan!

Si penulis Kejadian 3 akhirnya bertanya, apa sebabnya tanah di muka bumi tidak subur, hanya menumbuhkan “semak duri dan rumput duri” , dan padang hanya menumbuhkan ilalang; dan apa sebabnya manusia harus “bersusah-payah” dan “berpeluh” dalam mencari nafkah, rejeki dan makanan; lalu mengapa akhirnya, setelah mengalami semua penderitaan ini, manusia harus mati, “kembali lagi menjadi tanah” atau “kembali lagi menjadi debu” (Kejadian 3:17-19). Dia memberi jawaban teologis etiologis yang juga bersahaja: karena tanah sudah dikutuk Tuhan Allah; dan akibatnya, tanah tidak lagi subur sehingga manusia harus bekerja keras membanting tulang untuk mengusahakannya sampai manusia mati. Kalau ditanyakan kepadanya, mengapa tanah dikutuk dan manusia harus menderita dalam kehidupan dan pekerjaannya sampai dia mati, si penulis menjawab: ini semua terjadi karena “Adam telah mendengarkan perkataan istrinya dan memakan buah pohon terlarang” (Kejadian 3:17). Ringkas kata, sumber semua penderitaan manusia dan ketidaksuburan bumi, bagi si penulis Kejadian 3, adalah dosa asal Adam dan Hawa. Betulkah demikian, kita harus bertanya.

Andaikan dosa asal itu ada, yang melakukan dosa asal ini bukanlah tanah, tetapi manusia. Jadi mengapa tanah yang harus menanggung kutuk? Ada orang yang barangkali mau berargumentasi demikian: Ya, jelas, tanah juga harus dikutuk, sebab asal-usul manusia (adam) adalah tanah (adamah), sehingga kesalahan manusia juga harus ditanggung tanah. Tetapi, bukankah ketika manusia sudah menjadi makhluk yang hidup dan memiliki kesadaran nurani dan kehendak bebas, dia sendirilah, bukan benda lain, yang harus menanggung akibat dari perbuatannya? Jadi, sangat tidak bermoral kalau tanah yang harus disalahkan dan dikutuk, sementara yang bersalah adalah manusia, dan tanah, sebagai benda mati, tidak bisa diminta pertanggungjawaban moral. Jadi jelaslah, Tuhan Allah salah mengalamatkan kutukannya.

Tetapi, karena dosa asal tidak ada, maka kalau tanah tidak subur, ketidaksuburan ini bukan dikarenakan dosa asal, tetapi oleh sebab-sebab lain, misalnya iklim kering yang keras, lokasi geografis dan topografis yang tidak menguntungkan, kesalahan manusia dalam memanfaatkan tanah, jenis tanah yang buruk, irigasi yang jelek, ketiadaan teknologi yang bisa menyuburkan tanah gersang, dan kemiskinan penghuni tanah. Sebab-sebab yang lain ini adalah kenyataan masa kini yang harus diatasi. Mengasalkan ketidaksuburan tanah pada pelanggaran Adam dan Hawa dulu sama sekali tidak menyelesaikan masalah; malah ini akan membuat penduduk tanah kering menyerah total pada kekerasan alam karena beranggapan tanah mereka sudah dikutuk sehingga tidak akan bisa diubah menjadi tanah yang subur. Jangan dilupakan, di muka bumi ini dulu maupun sekarang ada banyak tanah yang subur, sangat banyak dan sangat luas, yang di atasnya dibangun peradaban yang tinggi dan penghuninya hidup makmur. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa si penulis Kejadian 3 memusatkan perhatiannya hanya pada tanah yang tidak subur, yang hanya menumbuhkan “rumput duri dan semak duri”, sementara tanah Palestina zaman Raja Daud adalah tanah yang subur dan kerajaan yang dipimpinnya sedang jaya dan rakyatnya banyak yang makmur? Kalau tuturannya mengenai tanah yang tidak subur dalam Kejadian 3 dimaksudkannya untuk menarik perhatian Raja Daud pada bagian-bagian dari kerajaannya yang memang tidak subur, jawabannya mengenai penyebab ketidaksuburan ini jelas mematikan niat dan prakarsa siapapun yang berdiam dalam kerajaan yang semua penduduknya religius dan taat kepada hukum Allah, yang mau mengupayakan perbaikan kehidupan rakyat.

Selanjutnya, apakah ada yang salah kalau manusia harus “berpeluh” dan “bersusah payah” dalam mencari rejeki dan makanannya setiap hari? Si penulis Kejadian 3 memandang keringat dan kerja keras sebagai hal-hal yang buruk, sebagai hukuman atas dosa asal Adam dan Hawa. Baginya, keringat dan kerja keras hanya menimbulkan penderitaan dalam diri manusia. Benarkah demikian? Bukankah dalam realitas kehidupan sehari-hari, kerja keras dan keringat yang bercucuran seringkali membahagiakan banyak orang yang berkarya, karena mereka memandang kerja keras mereka dengan positif sebagai tugas dan panggilan mulia bagi mereka sebagai makhluk pekerja? Bukankah Tuhan Allah menempatkan Adam di Taman Eden yang masih harus “diusahakan” dan “dipelihara” olehnya? Seperti sudah dikatakan di atas, Taman Eden bukanlah tempat kehidupan yang sudah serba lengkap dan sempurna. Adam masih harus mengusahakan dan memeliharanya, yakni melakukan aktivitas kultural demi kelangsungan kehidupannya sendiri. Dengan demikian, bekerja keras dan berkeringat adalah hal-hal yang memang Tuhan Allah kehendaki untuk Adam lakukan. Bekerja dan berpeluh bukanlah hukuman, dan juga bukan penderitaan, tetapi amanat yang Tuhan Allah sudah berikan pada awal kehidupan manusia di muka bumi. Jadi, kita harus tidak sepakat dengan si penulis Kejadian 3 yang memandang kerja keras dan keringat sebagai penderitaan yang harus ditanggung manusia sebagai hukuman atas dosa asal Adam dan Hawa. Manusia akan mati bukan karena dia mendapatkan dan memakan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat sehingga dia tercerahkan, melainkan kalau dia tidak bekerja!

Tentu kita tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan sosio-ekonomi dalam masyarakat yang menyebabkan ada orang yang harus bekerja sangat keras dalam sehari, melebihi kemampuan dan tenaganya sendiri dengan hasil yang sangat sedikit, sementara ada orang yang bekerja sangat ringan dan hanya sebentar dalam sehari dengan hasil berlimpah ruah, jauh melebihi apa yang dibutuhkannya untuk hidup layak. Dalam menghadapi keadaan yang memang buruk dan menimbulkan penderitaan ini, kita harus dengan tegas menyatakan bahwa ketimpangan semacam ini bukan timbul dari dosa asal Adam dan Hawa, melainkan karena masyarakat masa kini belum dikelola dengan sepenuhnya berlandaskan pada azas keadilan sosio-ekonomi dan hukum, masih maraknya praktik-praktik monopoli sosio-ekonomi, belum memihaknya kebijakan politik pembangunan kepada rakyat miskin, tidak meratanya tingkat pendidikan yang diterima rakyat, tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang lebih baik, dan KKN yang merajalela di mana-mana yang makin menyudutkan rakyat miskin dan melemahkan kekuatan pemerintah.

Tibalah pertanyaan puncak si penulis Kejadian 3: Mengapa manusia akhirnya harus mati, “kembali lagi menjadi tanah/debu”? Sudah ditulis di atas, Rasul Paulus sependapat dengan si penulis Kejadian 3, bahwa manusia mati sebagai akibat dosa asal yang dibuat Adam dulu di Taman Eden. Betulkah manusia mati karena akibat dosa asal? Bukankah dosa asal tidak ada; dan yang ada adalah karunia asal? Jika demikian, mengapa manusia akhirnya mati?

Dari uraian di atas, kita sudah tahu bahwa meskipun Adam dan Hawa sudah melanggar larangan keras Tuhan Allah, mereka tidak langsung mati, malah masih terus hidup beberapa abad ke depan dan melahirkan banyak keturunan. Jadi, “pelanggaran” mereka, atau “dosa asal” mereka, tidak langsung menimbulkan kematian, tidak sebagaimana diperingatkan dan diancamkan Allah: “Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati!” (Kejadian 2:17). Menurut catatan mitologis dalam Kejadian 5:5, Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, “lalu ia mati”. Kematian Adam dalam usia sangat tua ini terjadi di luar Taman Eden (lihat Kejadian 3:23-24), jauh sesudah Adam dan Hawa memakan buah pohon terlarang. Jadi, Adam mati karena usianya yang sudah sangat tua, bukan karena pelanggaran yang dia dan Hawa buat di Taman Eden beberapa ratus tahun sebelumnya. Karena itu harus kita katakan, Adam mati oleh suatu penyebab lain, bukan karena hukuman Allah atas pelanggaran yang dibuatnya bersama Hawa. Dia mati, sekali lagi harus dikatakan, karena usianya yang sudah tua, karena tubuhnya yang sudah renta dan uzur. Dia mati karena penyebab alamiah.

Kita sudah catat di atas, bahwa ketika Adam sudah diciptakan, dia diperintahkan Tuhan Allah untuk melakukan tindak kultural “mengusahakan dan memelihara” Taman Eden. Begitu juga, pekerjaan yang sama harus dia lakukan ketika dia sudah diusir dari Taman Eden (Kejadian 3:23). Jadi, Adam memang harus terus bekerja, dan bekerja adalah perintah dan kehendak Allah. Tubuh yang terus dipakai untuk bekerja suatu saat, ketika waktunya tiba, akan melemah dan terus akan melemah, sampai akhirnya tidak bisa difungsikan lagi. Ini adalah hukum alamiah, hukum kodrat, yang juga berlaku pada semua benda yang tidak bernyawa, yang secara fisik lebih kuat dari daging, otot dan tulang manusia. Sebuah mobil Merzedes baru yang setiap hari dipakai, dan juga dirawat dengan baik, ketika umurnya tiba, katakanlah sampai 10 tahun, akhirnya tidak berfungsi lagi, dan kebanyakan (di negara-negara maju) akhirnya dijadikan besi tua, dipress lalu dionggokkan dan ditimbun begitu saja setelah mesin-mesinnya dipreteli dan diubah fungsi dan bentuknya dengan meleburnya.

Jadi, manusia mati karena sudah kodratnya demikian, bukan karena hukuman atas dosa asal yang Adam dulu buat. Tetapi kita boleh bertanya: Bisakah manusia, dengan tubuh insaninya yang dia miliki, hidup kekal, tidak mati-mati? Jawabnya: Tidak bisa, dan tidak perlu demikian!

Tidak bisa, karena tubuh alamiah semua manusia akan semakin hari semakin menua dan akhirnya uzur dan tidak bisa difungsikan dengan normal lagi. Degenerasi ini terjadi bukan karena akibat dosa asal, melainkan karena gen manusia sudah memetakan dan mengarahkannya demikian. Gen bukanlah ciptaan setan, juga bukan ciptaan dosa, tetapi ciptaan Allah yang sudah ada dalam diri manusia ketika manusia diciptakan Allah. Namun, kita bisa berimajinasi bahwa dengan ilmu biologi molekuler yang makin berkembang dan teknologi rekayasa genetika yang makin canggih, bisa saja suatu saat gen manusia “diutak-atik” dan unsur genetik di dalamnya yang menyebabkan manusia menua “diubah” lalu “diganti” dengan unsur genetik anti-penuaan, anti-degenerasi. Kalau rekayasa genetik semacam ini bisa dilakukan, dan etika mendukungnya, maka manusia tidak akan pernah tua, tidak akan pernah mati secara biologis lagi, dan juga, aha, tidak perlu meminum atau menghisap darah manusia seperti dilakukan makhluk Drakula mitologis untuk bisa hidup kekal.

Tetapi, apakah rekayasa genetik semacam ini diperlukan? Tidak diperlukan, sebab “kekekalan” manusia juga bisa dicapai dengan mempertahankan spesiesnya di planet bumi melalui keturunan yang mereka hasilkan, melalui tindakan prokreasi “beranak-cucu”, dan dengan memberikan anak-cucu mereka pendidikan setinggi-tingginya dan tubuh yang semakin kuat untuk bekal mereka bertahan ketika harus menghadapi berbagai ancaman dan bencana alamiah dan kultural yang mendatangi mereka. Orang-orang yang sudah tua umurnya, yang sudah mengecap banyak pengalaman selama kehidupannya, dan yang sudah mewariskan sains dan teknologi modern, harus dengan rela memberi giliran kepada generasi muda yang lebih cerdas untuk menjaga dan merawat planet bumi ini dan semua bentuk kehidupan di dalamnya, selama tidak ada bencana kosmik yang bisa melenyapkan planet biru ini dari tata surya.

Dengan alih generasi yang direncanakan dengan baik, spesies manusia tidak akan punah dari planet bumi ini, melainkan akan bertahan kekal. Jadi, saya perlu mengatakan kepada Tuhan Allah versi Kejadian 3, bahwa Dia tidak perlu kuatir kalau manusia akan “mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya” (Kejadian 3:22). Jadi, Tuhan Allah bisa menarik kembali pasukan malaikat yang memegang “pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar” yang ditempatkan-Nya di sebelah timur Taman Eden untuk menjaga jalan masuk ke pohon kehidupan (Kejadian 3:24). Kekekalan spesies manusia dicapai bukan dengan “perlawanan kedua” di Taman Eden, tetapi melalui sains dan teknologi yang dimungkinkan dikembangkan terus berkat kepahlawanan Hawa dulu ketika dia memetik dan memakan buah pohon pengetahuan dan membaginya kepada Adam.

Nah, menjelang akhir tulisan ini, sebuah pertanyaan penting masih harus dijawab: Mengapa manusia menderita dalam dunia ini? Mengapa ada penderitaan riil yang dialami manusia dalam kehidupannya? Hemat saya, penderitaan timbul juga bukan karena dosa asal. Bukankah sudah dinyatakan berkali-kali: yang ada bukanlah dosa asal, original sin, tetapi karunia atau rakhmat asal, original grace. Kalau bukan karena dosa asal (tidak seperti dibayangkan si penulis Kejadian 3 dan Rasul Paulus), lantas dari mana datangnya penderitaan manusia? Jawabnya bisa bermacam-macam, bergantung pada bentuk penderitaannya.

Pada kesempatan ini, saya batasi saja pada satu jawaban: penderitaan terjadi dan dialami manusia karena watak agresif manusia. Ketika seorang manusia merasa terancam oleh agresivitas seorang manusia lainnya, orang yang terancam ini mendahului berbuat agresif kepada orang yang mengancamnya. Agresivitas manusia inilah yang menimbulkan perang di mana-mana di dunia ini. Perang antar manusia dan antar makhluk, dalam skala kecil dan dalam skala besar, menimbulkan penderitaan di mana-mana. Kita bertanya, dari mana agresivitas ini muncul? Apakah karena manusia memiliki pengetahuan, maka dia menjadi agresif, seperti dengan sinis dituturkan si penulis Kejadian 3 bahwa ketika Allah menyidik Adam, dengan agresif Adam menyerang dan menyalahkan Hawa, dan ketika Hawa disidik Tuhan Allah, Hawa dengan agresif menyerang dan menyalahkan si ular (Kejadian 3:9-13)? Jelas bukan, sebab pengetahuan yang diperlukan dan akhirnya diperoleh Adam dan Hawa adalah pengetahuan yang membuat mereka bisa membedakan mana hal yang jahat dan mana hal yang baik, bukan yang akan membuat mereka melakukan hal yang buruk: menyerang pihak lain.

Jadi darimana persisnya watak agresif manusia itu? Jawaban teologis terhadap pertanyaan ini telah banyak diberikan oleh agama-agama yang berbeda-beda. Pada kesempatan ini, saya ingin berpaling pada sosiobiologi. Menurut ilmu sosiobiologi, gen bukan saja menurunkan ciri fisik manusia (individual maupun kelompok), tetapi juga watak dan perilaku manusia, sementara para ilmuwan sosial mempertahankan bahwa watak dan perilaku manusia dibentuk oleh lingkungan kehidupan, pergaulan dan pendidikan manusia. Jadi, para sosiobiolog mempertahankan peran nature
, sedangkan para sosiolog mempertahankan peran nurture dalam pembentukan watak dan perilaku manusia. Memang harus kita terima sebagai fakta bahwa lingkungan pergaulan dan kehidupan manusia kerap mendorong manusia bersikap agresif terhadap sesamanya. Tetapi bahwa sifat agresif juga diturunkan dari nenek moyang manusia lewat gen yang diwariskan, juga adalah suatu fakta yang harus kita terima (meskipun kontroversial!). Nah, kalau nenek moyang paling awal dari manusia berasal dari hewan (menurut pandangan sains evolusi), dan hewan memang memiliki naluri agresif yang sangat kuat demi survival mereka, maka tidaklah mengejutkan jika homo sapiens sapiens, makhluk cerdas yang kita namakan manusia, juga memiliki watak agresif. Dengan demikian kita dapat katakan bahwa penderitaan manusia, yang ditimbulkan oleh sifat agresif manusia, adalah sesuatu yang memang harus manusia tanggung sebagai akibat kodrati genetiknya, bukan karena dosa asal! Inilah jawaban saya terhadap pertanyaan dari mana asal-usul penderitaan.

Sebagai kesimpulan tulisan ini harus dikatakan bahwa dosa asal, original sin, tidak ada; yang ada adalah karunia atau rakhmat asal, original grace. Dengan demikian, semua bentuk kesusahan dan penderitaan manusia, termasuk kematian manusia, tidak dapat diasalkan pada dosa asal Adam dan Hawa, melainkan pada kodrat alamiah manusia sebagai makhluk pekerja yang muncul melalui seleksi alamiah, sebagai suatu hasil proses evolusi yang panjang, yang berpangkal dari makhluk yang kita namakan hewan yang memiliki karakter agresif. Karena dosa asal tidak ada, maka soteriologi salib tidak diperlukan untuk memberi jalan pembebasan bagi manusia. Dengan bekal pengetahuan yang sudah diperoleh sang Hawa pemberani, kita, manusia, bisa terus maju untuk mempertahankan eksistensi kita, dengan terus mengembangkan sains dan teknologi dan menyelenggarakan pendidikan moral untuk generasi sekarang dan generasi yang mendatang, terus tanpa rehat.

Thursday, May 7, 2009

Apakah Yesus Mati untuk Menebus Adam dan Hawa?

Gerak sejarah, gerak siklus abadi?

Soteriologi salib berpijak pada suatu keyakinan dasariah bahwa kematian Yesus di kayu salib yang terjadi satu kali untuk selamanya adalah jalan tunggal yang dikehendaki Allah untuk mendamaikan diri-Nya dengan manusia yang berdosa; jalan ini berlaku universal dan abadi untuk seluruh umat manusia dari zaman ke zaman, bahkan, menurut ajaran gereja, berlaku surut sejak zaman Adam dan Hawa, dan maju terus sampai dunia ini kiamat. Soteriologi salib, dengan demikian, mengabstraksi peristiwa kematian Yesus dan menjadikannya suatu peristiwa supernatural ilahi yang memiliki signifikansi universal, global dan abadi, lepas dari pijakan historisnya yang sebetulnya temporal, terbatas, lokal, kongkrit, riil dan insani.

Abstraksi dan universalisasi makna dan efek peristiwa kematian Yesus ini menyebabkan hampir semua orang Kristen yang menjadi warga gereja biasa tidak lagi mengetahui sebab-musabab faktual dan historis dari kematian Yesus. Paling banter mereka hanya tahu bahwa kematian Yesus ini terjadi pada masa pemerintahan Pontius Pilatus sebagai gubernur Romawi untuk provinsi Yudea, sebagaimana mereka ucapkan setiap kali mereka mengikrarkan Syahadat Iman Rasuli dalam suatu kebaktian gereja.

Karena itu, dalam rangka mendekonstruksi soteriologi salib, hal-hal historis yang menjadi penyebab kematian Yesus perlu dibeberkan, supaya kita semua menyadari bahwa kematian Yesus adalah suatu peristiwa natural yang biasa, yang terjadi
dalam suatu ruang dan waktu terbatas, sebagai suatu konsekwensi politis wajar, insani dan tak terhindar dari ajaran-ajaran dan kiprah-kiprah Yesus dari Nazaret sendiri yang melawan baik otoritas Yahudi maupun otoritas Romawi sebagai otoritas yang secara de jure dan de facto menguasai Palestina zaman Yesus (tentang ini, sudah dibeberkan sebelumnya, klik di sini). Gereja perdana, karena ingin keluar dari krisis kejiwaan (tentang ini, klik di sini), telah mengubah peristiwa politis kematian Yesus yang wajar, insani, terbatas dan (dari kaca mata Yahudi) memalukan dalam suatu ruang dan waktu ini menjadi suatu peristiwa ilahi akbar yang bersignifikansi universal dan abadi bagi umat manusia sepanjang kehidupan manusia di planet bumi ini, sejak zaman Adam dan Hawa sampai dunia kiamat di masa depan. Bagi gereja, Yesus Kristus itu adalah hakim baik bagi orang yang masih hidup maupun bagi orang yang sudah mati (1 Petrus 4:5).

Harus diakui, di dalam dunia ini memang ada sejumlah besar peristiwa sejarah di masa lampau yang dampak dan signifikansi historik-nya dapat dirasakan dan dialami terus jauh sampai ke zaman-zaman sesudahnya. Sejumlah penemuan yang disengaja maupun yang tidak disengaja di masa lampau oleh orang-orang yang jenius dalam bidang sains dan teknologi, kita tahu, dapat terus berdampak pada pengembangan sains dan teknologi modern di masa kini dan seterusnya. Begitu juga, suatu peristiwa sejarah tertentu, misalnya proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, serta penetapan resmi (berdasarkan suatu konsensus nasional) Pancasila sebagai suatu fondasi filosofis dan ideologi bangsa dan UUD 45 sebagai konstitusi negara RI pada awal berdirinya RI, terus berdampak dan memberi signifikansi bagi negara RI sekarang ini dan akan terus berlanjut demikian ke masa depan sejauh konsensus nasional di bidang-bidang ini masih dipertahankan. Begitu juga, pengalaman sangat buruk dan mematikan yang ditimbulkan oleh dua perang dunia di masa lampau menimbulkan kesadaran dan membangkitkan tekad pada pemerintah-pemerintah negara-negara penting di dunia ini untuk beberapa dasawarsa lalu mendirikan organisasi terbesar dunia yang diberi nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang logisnya akan terus dipertahankan eksistensinya oleh mereka.

Tetapi, dalam kawasan sejarah sekular yang dipandang bergerak linier ke depan, tidak ada suatu peristiwa sejarah apapun dapat diklaim bersignifikansi
dan berdampak mundur kepada umat manusia dan dunia di zaman-zaman sebelum peristiwa sejarah ini terjadi. Menurut pandangan (Barat) modern, sejarah manusia bergerak linier, maju terus ke depan membentuk garis lurus, ada awal dan ada akhir, tanpa pengulangan, dan tanpa gerak balik, tanpa siklus.

Nah, dalam dogma gereja secara luar biasa dinyatakan bahwa kematian Yesus dari Nazaret yang terjadi pada akhir pertigaan pertama abad pertama Masehi juga membawa dampak, efek dan signifikansi soteriologis bagi orang-orang yang telah mati sebelum peristiwa salib Yesus terjadi, bahkan bagi Adam dan Hawa yang dalam tradisi keagamaan Yahudi-Kristen (dan juga Islam) dipercaya sebagai titik permulaan kehidupan manusia di muka bumi (ihwal kapan kehidupan makhluk cerdas yang dinamakan homo
sapiens sapiens dimulai, sains evolusi tentu saja akan mengklaim hal yang berbeda!). Dogma ini, tentu saja, bermasalah; dan karenanya, dalam tulisan ketujuh mengenai masalah-masalah dalam soteriologi salib ini, sedang digugat.

Pertama, kekristenan menganut pandangan sejarah linier. Menurut pandangan ini, ada titik awal dan ada titik akhir perjalanan sejarah kehidupan dunia ini, sehingga tidak ada titik balik ke masa lalu. Kekristenan, sebaliknya, tidak menganut pandangan sejarah siklikal yang melihat sejarah dunia ini berlangsung dalam suatu siklus (gerak melingkar) sehingga tidak ada titik akhir dan tidak ada titik awal; setiap titik akhir menjadi titik awal baru untuk memulai kembali alur sejarah siklikal, seperti seekor ular naga yang sedang melingkar dengan mulutnya menggigit buntutnya sendiri: tidak ada pangkal, tidak ada ujung, yang ada hanyalah gerak melingkar abadi.

Dengan pandangan sejarah siklikal, dimungkinkan untuk kita berimajinasi bahwa peristiwa kematian Yesus di abad pertama Masehi dapat memberi efek pada peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi jauh sebelum Tarikh Masehi, bahkan yang sudah terjadi pada permulaan kehidupan manusia, yang menurut mitologi Perjanjian Lama dimulai di Taman Eden dengan pasangan Adam dan Hawa (yang keduanya tidak memiliki pusar) tinggal di dalamnya dan kerap dikunjungi Allah yang berkaki dan bermulut. Namun, imajinasi ini tidak bisa timbul dalam pandangan sejarah linier. Dengan mempercayai bahwa kematian Yesus di abad pertama memberi efek penyelamatan bagi orang-orang yang hidup sebelumnya, bahkan bagi Adam dan Hawa, gereja tanpa disadari menganut pandangan sejarah siklikal, yang sebetulnya ditolaknya. Jadi, pandangan sejarah linier yang dipegang gereja sudah seharusnya membuatnya menolak doktrin tentang penyelamatan Adam dan Hawa oleh kematian Yesus; jika tidak, gereja pun harus bersedia menerima suatu akibat logisnya bahwa Yesus pun lahir berkali-kali dan mati juga berkali-kali mengikuti siklus sejarah dunia. Akibat logis yang berat ini tentu saja bertentangan dengan kepercayaan gereja bahwa Yesus lahir, hidup dan mati secara jasmaniah sebagai kurban untuk Allah hanya "satu kali untuk selama-lamanya" (Ibrani 7:27; Roma 6:9-10).

Kedua, pertanyaan bagaimana Yesus, melalui kematiannya, bisa menyelamatkan orang yang hidup dan sudah mati sebelumnya, dijawab gereja (dalam Syahadat Iman Rasuli) dengan doktrin tentang Yesus yang (dalam roh) turun ke dalam "kerajaan maut" ketika dia dikuburkan selama "tiga hari". Untuk apa Yesus masuk ke dalam "kerajaan maut"? Menurut beberapa teks kuno Kristen, untuk memberitakan kabar keselamatan kepada jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal yang berdiam di Sheol (Hades) atau di dunia orang mati, atau di kerajaan maut, atau di "bagian bumi yang paling bawah" (lihat 1 Petrus 4:6; Efesus 4:9; Injil Petrus 10:41-42). Apa persoalan dengan ajaran ini?

Persoalannya adalah doktrin ini dibuat dalam suatu kebudayaan kuno yang memandang jagat atau kosmos ini terdiri atas tiga lapis atau tiga tingkat. Lapis atas adalah surga, tempat Allah dan para malaikat hidup; lapis tengah adalah dunia orang hidup, bagian permukaan bumi; dan lapis bawah adalah dunia bawah, tempat jiwa-jiwa orang yang sudah mati berdiam, di bagian bawah bumi, di dalam tanah. Nah, kosmologi sangat kuno yang semacam ini sudah sangat ketinggalan zaman dan sudah tidak bermakna lagi buat orang yang hidup dalam zaman modern sekarang ini yang memegang kosmologi modern. Menurut kosmologi modern, jagat raya terdiri atas banyak alam semesta (multiverses) dengan tanpa batas apapun, yang "sekarang" ini terus memuai dan mengembang, dan diisi dengan galaksi yang tak terhitung banyaknya dan terbuka probabilitas juga dihuni oleh makhluk-makhluk ET yang cerdas.

Pernyataan bahwa Yesus "turun ke dunia orang mati" atau "turun ke dalam kerajaan maut", bagi orang dalam zaman modern adalah pernyataan yang tidak bermakna; atau, jika dipahami secara metaforis, mereka memahaminya sebagai pernyataan bahwa Yesus mati dan dikuburkan dalam tanah, lalu membusuk. Tidak lebih dari itu. Dan orang mati yang sudah dikubur dalam tanah (atau dibakar dalam oven panas berapi), dalam pemahaman orang modern, sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tetapi bagaimana dengan kehidupan jiwa di alam baka?

Sebagaimana saya sudah dengan serius argumentasikan sebelumnya (klik di sini), kalaupun sesudah kematian fisik jiwa orang masih hidup di alam baka, dalam kehidupan di alam baka ini jiwa tidak bisa lagi melakukan, mengalami, mencerap, memikirkan dan merasakan hal apapun, termasuk tidak bisa lagi berkata-kata lisan atau lewat pikiran, mendengar, menyesal atau bertobat. Jadi, keyakinan Kristen bahwa selama Yesus di dalam kubur, di Hades, dia menginjili jiwa orang yang sudah mati, adalah keyakinan yang kosong. Imajinatif memang, tapi tidak bermakna apapun. Orang yang sudah mati, yang jiwanya tinggal di alam baka, sudah tidak bisa lagi merasakan surga ataupun neraka, karena tubuh, indra perasa dan neuron-neuron serebral mereka sudah tidak ada lagi.
Kalau pun jiwa dipahami sebagai "energi" (yang kekal), energi tanpa terintegrasi dalam suatu media fisik (tubuh) tidak akan bisa menjadi makhluk yang hidup yang bisa berpikir, merasakan, melakukan atau mengatakan apa-apa. Doktrin tentang Yesus turun ke dalam kerajaan maut untuk menginjili jiwa-jiwa, tentu termasuk jiwa Adam dan Hawa, dengan demikian, adalah doktrin yang salah.

Jadi, harus disimpulkan bahwa kematian Yesus bukan saja tidak manjur untuk manusia yang hidup sesudah kematiannya (ulasan tentang hal ini, klik di sini), tetapi juga sama sekali tidak memberi efek penyelamatan apapun kepada Adam dan Hawa dan semua keturunan mereka yang hidup dan sudah mati sebelum kematian Yesus. Dengan doktrinnya tentang penyelamatan melalui salib Yesus, gereja perdana dengan sangat ekspansif dan membesar-besarkan telah menguniversalisasi makna dan signifikansi kematian Yesus, surut jauh ke belakang maupun maju ke depan. Padahal dalam kenyataannya kematian Yesus sebetulnya hanyalah suatu peristiwa kecil lokal di awal tahun tigapuluhan abad pertama Masehi di negeri kecil Palestina yang sedang dijajah Roma (ulasan tentang ini, klik di sini dan di sini). Dogma dalam agama apapun memang cenderung membesar-besarkan sesuatu, karena dogma memang menyangkut jati diri dan harga diri komunitas keagamaan yang membuat dan merawatnya. Karena berisi hal-hal yang dibesar-besarkan, dogma agama apapun pantas untuk tidak serta-merta dipercaya dan untuk dibedah secara dingin dan rasional.

Sunday, May 3, 2009

Betulkah Yesus dengan Sengaja Mau Mati demi Dunia?

Apakah Yesus dari Nazaret menginginkan dirinya sendiri menjadi juruselamat dunia dengan mati secara mengenaskan di kayu salib, sebagai suatu kematian pengganti demi keselamatan umat manusia sedunia di segala zaman dan tempat? Ini adalah sebuah pertanyaan berat dan sangat sensitif bagi perasaan banyak orang Kristen; meskipun demikian, akan diupayakan jawabannya dalam tulisan ini, tulisan keenam dari rangkaian tulisan mengenai masalah-masalah dalam soteriologi salib yang digali dalam blog ini.

Teks skriptural Perjanjian Lama yang pasti dirujuk orang Kristen untuk mendukung soteriologi salib adalah teks tentang hamba Tuhan yang menderita, antara lain (Deutero) Yesaya 52:13-53:12. Film Mel Gibson,
The Passion of The Christ (tentang gugatan saya terhadap film ini, klik di sini), untuk mendukung dolorisme, dibuka dengan sebuah kutipan teks Yesaya 53:5b, "Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Kalimat-kalimat sebelumnya dalam teks Yesaya ini berbunyi demikian, "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita" (Yesaya 53:4-5a). Sosok yang kena tulah dan menanggung azab demi kepentingan orang lain (vicarious sufferings) ini disebut sebagai "hamba" Tuhan, ebed Yahweh (Yesaya 52:13; 53:11b).

Dalam konteks historisnya, figur hamba Tuhan dalam Deutero Yesaya ini tentu saja tidak mengacu pada suatu figur mesianik di masa depan yang jauh, yang belum lahir, yang akan, melalui azab dan kematiannya, menyelamatkan dan menebus umat manusia di segala zaman dan tempat, tetapi pada suatu figur historis tertentu pada zaman ketika Deutero Yesaya ditulis (pada masa Pembuangan di Babel, abad VI SM), entah seorang imam, seorang nabi, atau seorang raja, Yahudi atau non-Yahudi, yang azabnya akan mendatangkan kebaikan, kesembuhan dan kesejahteraan untuk bangsa Israel sendiri, bukan untuk dunia secara universal dalam segala zaman. Tetapi jauh kemudian, pada permulaan abad kedua Masehi, oleh umat Kristen Perjanjian Baru, teks Deutero Yesaya ini dikenakan kepada Yesus, seperti kita baca dalam 1 Petrus 2:22-25; perhatikan khususnya ayat 24 yang memuat kutipan langsung dari teks Deutero Yesaya: "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhnya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurnya kamu telah sembuh."

Selain dalam teks PL ini, dokumen Yahudi ekstrakanonik yang ditulis dengan mengambil Pemberontakan Makkabe (167-142 SM) sebagai latar historisnya, yakni 2 Makkabe (ditulis sekitar tahun 125 atau 124 SM) dan 4 Makkabe (bergantung pada 2 Makkabe; ditulis sekitar tahun 50 M), juga memuat gagasan soteriologis Yahudi serupa: kematian seorang Yahudi yang saleh dan benar sebagai syuhadah dalam perlawanan habis-habisan terhadap raja lalim (raja Siria, Antiokhus IV Epifanes), mendatangkan pendamaian dan penebusan untuk bangsa Israel dan menyucikan tanah mereka (2 Makkabe 6:18-17:41; 4 Makkabe 1:11; 5:1-6:27-28; 17:21; 18:4 ), dan yang bersangkutan akan dibangkitkan dan menerima kehidupan kekal (2 Makkabe 7:9; bdk. ayat 11, 14, 23, 29, 36; 4 Makkabe 16:25; bdk. 7:18-19; 13:17). Dalam 4 Makkabe 5:1-6:28 terdapat kisah tentang Eleazar, seorang tua dari keluarga imam. Dikisahkan dengan imajinatif, menjelang ajal sebagai seorang martir di perapian yang panas bernyala-nyala Eleazar berkata, "Ya, Tuhan, Engkau mengetahui bahwa aku dapat luput. Tetapi kini aku sekarat di dalam perapian ini demi Taurat. Berilah rakhmat-Mu pada umat-Mu; semoga kekejaman yang aku alami ini melunasi semua yang harus mereka tanggung. Biarlah darahku menyucikan mereka, ambillah nyawaku sebagai suatu pengganti bagi mereka" (6:27-28).

Kita dapat bertanya, apakah Yesus dari Nazaret, karena suatu ilham, mengambil teks-teks Yahudi ini lalu menerapkannya kepada dirinya sendiri, dan dengan demikian dia memandang dirinya entah sebagai hamba Tuhan yang menderita, sebagai sang mesias yang harus (Yunani:
dei) mati tanpa perlawanan, atau pun sebagai seorang syuhadah yang mati dalam perlawanan keras terhadap penguasa lalim demi menyucikan Tanah Israel dan memerdekakan serta menebus bangsanya? Ataukah, gereja perdana (Yahudi dan non-Yahudi), tersirat ataupun tersurat, mengenakan teks-teks Deutero Yesaya (seperti dalam 1 Petrus 2:22-25), 2 dan 4 Makkabe dan teks-teks profetis lainnya kepada Yesus setelah kematiannya di kayu salib untuk menjadi landasan skriptural bagi soteriologi salib yang mereka konstruksi demi mengatasi tekanan jiwa yang begitu besar, yang mereka alami karena sang mesias mereka mati disalibkan di tangan bangsa Romawi, mati sebagai seorang yang (dari kaca mata Yahudi) terkutuk, terkena tulah, tanpa perlawanan apapun dari pihaknya? Pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimanapun juga, mengandung masalah-masalah berat yang harus diatasi.

Masalahnya, pertama, pada era kegiatan Yesus di muka umum, era pra-Kristen, era sebelum dokumen-dokumen tertua Perjanjian Baru yang memuat soteriologi penebusan lewat salib Yesus ditulis, dalam tradisi Yahudi pasca-biblis teks-teks skriptural Deutero Yesaya tentang hamba Tuhan yang menderita
tidak ditafsir secara mesianik, maksudnya: tidak diterapkan pada suatu figur mesias manapun.

Dalam kepercayaan dan pemikiran religio-politis mesianik Yahudi zaman Yesus, tidak terbuka kemungkinan untuk memandang seorang mesias Yahudi manapun akan menderita, mengalami azab, apalagi menderita dan tewas dengan memalukan, tanpa perlawanan fisik dan militer ketika berhadapan dengan musuh bangsa, negara dan agama. Dalam pandangan Yahudi, sebutan "mesias yang menderita" atau sebutan "mesias yang menempuh jalan sengsara" adalah suatu
contradictio in terminis: penderitaan atau jalan sengsara tidak bisa disandingkan dengan gelar agung mesias. Bagi orang Yahudi yang terus-menerus hidup dalam penjajahan bangsa asing silih berganti, jika betul seseorang itu seorang mesias yang diutus Allah, orang itu, sang mesias Yahudi ini, keturunan Raja Daud ini, memikul tugas besar dan agung untuk memerdekakan bangsa Yahudi dari para penindas mereka dengan mengangkat senjata, berperang melawan penjajah-penjajah mereka, dan menyucikan kota Yerusalem dan seluruh Tanah Israel (lihat teks ekstrakanonik Mazmur-mazmur Salomo 17:22). Sang mesias sejati Yahudi didukung rakyat sepenuhnya, duduk di takhta kerajaan Yahudi dengan segala kemuliaannya, dan, melalui gerakan militer, mengalahkan setiap musuh bangsa yang merenggut kemerdekaan mereka. Inilah "teologi kemuliaan" (theologia gloria) dan "teologi perang" (theologia bellum) yang menjadi teologi mesianik zaman Yesus, yang juga dipertahankan para murid perdana Yesus (lihat Markus 10:37; 14:31, 47).

Jadi, kalau Yesus dari Nazaret mengambil teks tentang hamba Tuhan yang menderita dalam Kitab Deutero Yesaya dan menjadikan teks ini sebagai landasan skriptural untuk, karena suatu dorongan dan ilham, membenarkan tindakannya menempuh
via dolorosa dengan rela, penuh rasa sakit namun tanpa perlawanan sampai dia mati mengenaskan di kayu salib, jelas Yesus, dengan menghayati "teologi salib" (theologia crucis) ini, bergerak di luar bingkai mesianisme Yahudi yang lazim pada masanya, dan tentu saja dia, karenanya, tidak akan dimengerti dan diterima rakyat Yahudi meskipun dia bisa jadi, langsung atau tak langsung, mengklaim dirinya raja Yahudi. Bahkan seorang murid utama yang dekat dengan Yesus, yakni Petrus, kita tahu, tidak bisa mengerti pandangan, kemauan dan langkah Yesus yang eksentrik, di luar kelaziman, ini: menjadi mesias rajani yang menderita (lihat Markus 8:31-32). Jadi, kalau diukur dari teologi kemuliaan dan teologi perang yang lazim dalam mesianisme Yahudi pada zamannya, jelas tidak akan ada seorang yang seperti Yesus, yang, dengan teologi salibnya, melangkah ke luar jauh dari dunia simbolik Yahudi zamannya!

Tetapi, bukankah Yesus, kita bertanya, bisa saja memang dengan sengaja mau berbeda dari pandangan mesianik umum Yahudi zamannya? Tentu, bisa saja pandangan mesianik Yesus begitu berbeda dari mesianisme Yahudi zamannya. Kalau memang benar demikian, ini memenuhi kriterion "dissimilarity" atau "distinctiveness" yang dipakai para peneliti Yesus sejarah. Menurut kriterion ini, sesuatu itu asli atau orisinil dari Yesus kalau sesuatu yang dikatakan dari Yesus ini (ucapannya atau tindakannya) begitu khas,
distinctive atau dissimilar, sehingga berkontras atau berbeda tajam dengan kelaziman dalam dunia Yahudi pada umumnya di zamannya. Jadi, OK-lah, kita bisa saja percaya bahwa Yesus sendiri memang menghayati teologi salib, bukan teologi kemuliaan atau teologi perang, seperti dilaporkan dalam Injil-injil PB (lihat Markus 8:31; 9:31; 10:33-34; dan par.). OK-lah Yesus menghayati teks tentang hamba Tuhan yang menderita dalam Kitab Deutero Yesaya.

Tetapi, persoalannya adalah
via dolorosa yang ditempuh Yesus, dan kematiannya di kayu salib, tidak berakibat soteriologis apapun bagi bangsa Yahudi yang dibelanya di hadapan kekuasaan Romawi. Sedangkan, teks dalam Deutero Yesaya yang sebagian sudah dikutip di atas menyatakan bahwa hamba Tuhan yang menderita itu, menderita demi mendatangkan kesembuhan, kesehatan, keselamatan, pembenaran dan penebusan bagi bangsa Israel. Setelah Yesus mati disalibkan, bahkan sampai berabad-abad sesudahnya, Tanah Israel nyatanya tetap terjajah, tetap tidak merdeka, dan bangsa Israel tetap terluka, sakit, tidak selamat, tidak sejahtera, tidak dibenarkan dan tidak tertebus. Dilihat dari sudut ini, kita harus menyatakan bahwa azab dan kematian Yesus sia-sia saja. Visi kehambaan yang membawanya pada kematian tidak efektif, kosong, dan dia menjadi seorang hamba Tuhan, ebed Yahweh, yang gagal total. Tidak ada keselamatan dari diri Yesus dan kematiannya bagi bangsanya.

Orang Kristen, demi iman mereka, mungkin akan masih mau bertahan dengan menyatakan bahwa jalan sengsara Yesus dan kematiannya memang tidak dimaksudkan Allah untuk manjur secara politis faktual bagi bangsa dan negerinya pada zamannya, melainkan untuk umat manusia secara universal di segala zaman dan tempat. Tetapi posisi iman Kristen semacam ini berpijak pada suatu logika yang salah: Bagaimana mungkin Yesus (atau Allah) memandang azab dan kematiannya (azab dan kematian Yesus) berefek soteriologis global, universal dan abadi, sementara efek soteriologis lokal, nasional dan temporernya bagi Tanah Israel dan bangsa Yahudi dalam zamannya yang sedang terjajah sama sekali tidak ada? Lagi pula, sebagaimana sudah diargumentasikan sebelumnya di blog ini (klik di sini), azab dan kematian Yesus nyatanya juga tidak manjur untuk secara magis menyelamatkan dan mengubah manusia kapanpun dan di manapun sesudah zaman Yesus, apalagi untuk orang yang hidup dan sudah mati sebelum dia mati disalibkan, misalnya untuk Adam dan Hawa (tentang ini dibahas dalam tulisan ketujuh sesudah tulisan ini, klik di sini).

Masalah keduanya adalah bahwa kalau Yesus memang benar memakai dan menerapkan teks-teks martir Yahudi dalam 2 dan 4 Makkabe (seperti sebagian sudah dikutip di atas) kepada dirinya sendiri, dia dalam kenyataannya tidak mengalami hal-hal dahsyat yang telah dialami oleh orang-orang yang dikisahkan dalam teks-teks Yahudi ekstrakanonik ini, dan kemartirannya juga sia-sia.

Berbeda dari orang Yahudi pada masa perjuangan dan pemberontakan Makkabe (167-142 SM) yang frontal terbuka dan bersenjata melawan helenisasi yang dilancarkan dengan gencar oleh Raja Antiokhus IV Epifanes terhadap bangsa dan agama Yahudi, Yesus tidak frontal menghadapi Roma dalam suatu perlawanan terbuka bersenjata. Berbeda dari apa yang dilukiskan dialami para pejuang Makkabe yang harus menghadapi siksaan sangat mengerikan bertubi-tubi sampai mereka mati dengan tubuh tidak utuh lagi, dalam Injil-injil PB tidak ada gambaran tentang penyiksaan amat dahsyat dan mengerikan yang dialami Yesus. Tentu Injil-injil PB menuturkan penyiksaan atas Yesus ketika dia diadili dan ketika dia digiring ke Golgota, sampai pada puncaknya dia mati dengan sangat mengenaskan di kayu salib. Tetapi, gambaran azab dan kematian Yesus ini sangat jauh kalah dahsyat dan kalah mengerikan jika dibandingkan dengan gambaran azab dan kesengsaraan serta kematian Eleazar dan tujuh pria bersaudara bersama ibu mereka yang sudah tua dalam 2 Makkabe (5:1-6:28 dan 7:1-42).

Dan, hal yang terpenting adalah kenyataan sejarah bahwa pada akhirnya para pejuang Makkabe melalui pengurbanan diri mereka sampai mati syahid secara mengerikan membuahkan kemerdekaan dan penyucian bagi bangsa Yahudi untuk jangka waktu yang cukup panjang (142-63 SM); hal ini kontras dengan gerakan Yesus yang, seperti sudah dikatakan di atas, tidak menghasilkan kemerdekaan dan penyucian kembali tanah dan bangsa Yahudi. Jadi, menerapkan teks-teks martir dalam 2 dan 4 Makkabe pada Yesus tidak pas. Kalaupun betul Yesus pribadi menghayati teks-teks martir dalam 2 dan 4 Makkabe ini, jalan hidup atau nasibnya membawanya ke arah lain: dia mati dengan sia-sia, dan bangsa Israel tetap terjajah untuk jangka waktu yang panjang berabad-abad ke depan, sesudah perjuangannya yang singkat kandas total. Jadi, kalaupun pemuda Yahudi idealis Yesus dari Nazaret ingin mati syahid demi menyucikan Tanah Israel dan menjadi tebusan bagi bangsanya (menurut Markus 10:45, bagi "banyak orang"), dalam kenyataannya dia, di akhir perjuangannya, gagal telak.

Menurut tiga catatan dalam Injil Markus, Yesus sudah tahu sebelumnya dan meramalkan bahwa dia akan menderita dan pada akhirnya akan mati dibunuh (Markus 8:31; 9:31; 10:33-34). Ini berbeda dari sekian mesias Yahudi lainnya, yang tampil sebelum maupun sesudah Yesus, yang tidak menubuatkan sebelumnya bahwa mereka pada akhirnya akan mati dibunuh oleh penguasa asing yang menjajah tanah mereka. Semua mesias Yahudi lainnya ini, misalnya Simon Bar Kokhba, mengharapkan dan memperjuangkan kemenangan melalui pemberontakan dan perang, bukan mengharapkan kekalahan dan kematian.

Nah, apa yang akan kita katakan tentang seseorang yang sudah tahu akan mati tetapi terus saja maju sampai akhirnya orang ini benar-benar mati dibunuh lawan-lawannya? Apakah tindakan ini bukan suatu kenekatan, atau bukankah ini suatu tindakan bunuh diri yang sudah direncanakan sebelumnya? Mungkin sekali Yesus memang nekat karena impiannya atau karena wangsit yang diterimanya bahwa dia akan mati untuk menebus dosa bangsa Israel dan memerdekakan dan menyucikan Tanah Israel. Yesus mengalami keadaan ini mungkin karena dia mengidentikkan dirinya total dengan hamba Tuhan yang menderita seperti dituturkan Deutero Yesaya atau dengan para martir Makkabe. Jika memang demikian keadaannya, dunia patut bersedih sebab, seperti sudah ditulis di atas, sejarah membuktikan bahwa impian atau wangsitnya itu keliru dan tidak terpenuhi.

Pada sisi lain, ya dunia patut beriba hati karena Yesus sendiri sangat frustrasi pada akhirnya ketika dia menemukan Allah tidak berintervensi dalam bentuk apapun, jika penulis Injil Markus memang melaporkan suatu ingatan historis bahwa di kayu salib Yesus berteriak-teriak sangat kecewa (dengan mengutip Mazmur 22:2a) karena dia melihat dan merasakan Allah telah meninggalkannya:
"Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", "Allahku, Allahku, mengapa dikau menelantarkanku?" (Markus 15:34). Jika memang teriakan ini faktual diucapkan Yesus yang sedang kesakitan tersalib, kita harus katakan bahwa akhirnya, meskipun sudah terlambat, Yesus menemukan dirinya tidak bisa tahan menanggung azab, tidak seperti yang digambarkan dalam Deutero Yesaya tentang seorang hamba Tuhan yang kuat menanggung azab dan tidak seperti para martir Makkabe yang tangguh dan heroik. Rasa frustrasi Yesus ini berbeda tajam dengan kedigdayaan Eleazar di perapian panas yang bernyala-nyala, juga dengan kedigdayaan Sokrates yang dengan tenang meminum racun yang diharuskan Negara Atena atas dirinya (tahun 399 SM).

Tetapi, adakah rekonstruksi alternatif daripada mengargumentasikan bahwa Yesus mati bunuh diri dengan direncanakan, dengan memakai tangan-tangan otoritas Yahudi dan otoritas Romawi, karena dia mau mengikuti jejak
sang hamba Tuhan dalam Deutero Yesaya atau jejak para martir Makkabe? Saya kira masih ada alternatif untuk menjelaskan persoalan yang kompleks ini.

Hemat saya, Yesus adalah seorang yang optimis, bukan seorang yang fatalistis, yang menyerah pada nasib yang dibayang-bayangkannya sendiri. Dia percaya bahwa apa yang diperjuangkannya adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang luhur, bagi bangsa Israel, yaitu memberitakan dan merayakan kehadiran Allah Yahudi di tengah rakyat, Allah yang datang kepada mereka sebagai Raja dan Bapa mereka untuk memberikan kemurahan dan kerahiman-Nya. Ketika Allah Yahudi ini datang melawat umat-Nya, Israel, maka Allah ini, kata Yesus, akan mencari domba-domba yang hilang dari kawanannya, dari antara umat Israel; bahwa Allah ini akan menerima kembali dengan penuh kemurahan dan belas kasih orang-orang yang berpaling kembali kepada-Nya bak seorang ayah yang tulus menerima kembali anaknya yang bungsu yang balik kembali kepadanya setelah menempuh kehidupan yang tidak patut di luar negeri; bahwa Allah ini akan, karena kemurahan-Nya, membebaskan orang-orang yang berhutang karena kemiskinan mereka yang parah dan kepasrahan mereka; bahwa Allah ini akan mendengarkan dan mengabulkan doa dan permintaan rakyat Yahudi yang terus-menerus mengharapkan pertolongan ilahi; bahwa Allah ini akan memelihara dengan setia umat-Nya seperti Dia memelihara dengan telaten bunga bakung di padang dan burung di udara. Ketika Allah ini datang dengan bela rasa-Nya, dengan
compassion-Nya, maka, seperti didemonstrasikan Yesus dengan nyata, orang sakit disembuhkan, orang lumpuh dibuat berjalan, orang buta dicelikkan, orang yang kerasukan setan dipulihkan, orang yang terkapar hampir mati di jalan karena luka-lukanya didatangi, ditolong, dirawat dan disembuhkan, orang yang mau dirajam diampuni dan diselamatkan. Yesus yang semacam ini adalah Yesus pencinta dan pemelihara kehidupan. Yesus yang semacam ini yakin betul bahwa Allah, Bapanya, terus menyertainya dan memeliharanya seperti Allah ini terus memelihara bunga bakung di padang dan burung pipit di udara.

Nah, orang yang optimis, ceria, mencintai kehidupan, dekat dengan burung-burung di udara dan dengan bunga bakung di padang, dan dengan anak-anak, suka menolong, giat membangun semangat, memberi pengharapan, mengampuni, menyembuhkan dan penuh dengan bela rasa seperti Yesus ini tidak mungkin membayangkan dirinya akan berumur singkat, akan disiksa oleh orang lain, lalu mati dibunuh dengan penyaliban. Yesus yang semacam ini tentu berharap dirinya akan berumur panjang, akan bisa lama berada di tengah rakyat Yahudi yang sedang menderita karena penjajahan dan kemiskinan untuk memberdaya mereka, dan akan dengan bersemangat terus menghadirkan dan memperagakan kuasa dan bela rasa Allah bagi bangsa Yahudi. Dia tentu, dari sejarah Israel dan dari kenyataan yang dilihatnya setiap hari, dapat kita bayangkan mengetahui kekejaman otoritas Yahudi dan otoritas Romawi yang kerap menyalibkan orang Yahudi. Dia, karena itu, tentu sangat tidak menyukai pembunuhan orang di kayu salib. Dia tentu berusaha keras untuk menghindari benturan dengan para penguasa
de jure dan de facto Tanah Israel selama dia masih berkarya di kampung-kampung Galilea.

Jika gambaran positif dan optimis tentang Yesus ini secara historis tepat, dan, seperti baru dikatakan, ada alasan yang cukup untuk kita percaya bahwa gambaran ini memang tepat (minimal 70% tepat!), maka sangat tidak mungkin jika Yesus sendiri menubuatkan berulang-ulang (seperti ditulis Markus) bahwa dirinya akan menempuh
via dolorosa yang akan, dalam waktu singkat, bermuara pada pembunuhan dirinya di kayu salib. Bila rekonstruksi historis alternatif ini benar, maka semua ucapan Yesus dalam Injil-injil PB yang menubuatkan kesengsaraan dan kematian dirinya di tangan penguasa Yahudi dan penguasa Romawi bukanlah ucapan asli Yesus, melainkan ucapan dan teologi orang Kristen perdana sesudah Yesus wafat yang harus merasionalisasi fakta sejarah berat bahwa Yesus mati dibunuh dengan cara memalukan dan kejam, di luar perkiraan mereka sebelumnya, seperti sudah diuraikan pada waktu yang lalu (klik di sini). Dengan rasionalisasi inilah mereka akhirnya dapat menerima azab dan kematian Yesus yang mereka tidak sangka-sangka itu sebagai sesuatu yang sudah harus terjadi, bertujuan dan bermakna karena, menurut mereka, Yesus sudah meramalkannya sebelumnya.

Begitu juga, ucapan-ucapan Yesus dalam injil-injil PB yang menyatakan dirinya akan mati untuk menjadi penyelamat dan penebus bangsa Israel bukanlah ucapan-ucapan asli Yesus, melainkan ajaran gereja perdana yang ditempelkan pada mulut dan lidah Yesus, yang disusun oleh gereja perdana berdasarkan, langsung atau tak langsung, teks-teks Deutero Yesaya, 2 dan 4 Makkabe dan teks-teks profetis lainnya.
Dengan mengonstruksi soteriologi semacam ini, gereja perdana berhasil mengubah kematian Yesus yang faktualnya sia-sia menjadi kematian yang bertujuan, setidaknya dalam keyakinan mereka. Sedangkan, bagi Yesus yang teosentris keselamatan dan penebusan hanya diberikan oleh Allah, Bapanya, yang rakhmani dan rahimi, kepada bangsa Israel, bukan oleh dirinya sebagai anak sang Bapa, yang menundukkan dirinya pada kerahiman ilahi sang Bapa.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa Yesus tidak mau dengan sengaja mati untuk menebus dosa dunia.
Soteriologi salib tidak berasal dari Yesus, tetapi sepenuhnya ciptaan gereja perdana sesudah masa kehidupan Yesus.

Pertanyaan yang dengan membandel timbul tentu adalah mengapa atau karena hal apa Yesus pada akhirnya memang mati disalibkan dalam usia muda? Pertanyaan ini sudah dijawab dalam tulisan yang lalu (klik di sini). Pada kesempatan ini, cukup dengan singkat diulang kembali. Yesus dihukum mati karena beritanya tentang Kerajaan Allah yang sedang datang di tengah rakyat Yahudi ditafsirkan oleh lawan-lawannya sebagai klaim pribadinya bahwa dia adalah raja Yahudi, dan dengan demikian dia dinilai telah melanggar suatu hukum Romawi yang mewajibkan rakyat jajahan untuk tunduk hanya kepada Kaisar Roma sebagai raja Israel. Yesus ditangkap di Yerusalem dan akhirnya dihukum mati karena dia telah melakukan suatu kesalahan fatal berdemonstrasi di Bait Allah pada waktu perayaan Paskah, perayaan untuk memperingati kemerdekaan bangsa Yahudi dari tangan Mesir dalam sejarah nenek moyang Israel. Teologi Yesus yang memandang Allah tanpa perantara apapun memberikan kemurahan-Nya kepada umat Yahudi membuatnya berang dan marah ketika menyaksikan Bait Allah telah difungsikan sebagai lembaga perantara untuk mempertemukan Allah Yahudi dengan umat-Nya. Kemarahannya ini mendorongnya untuk berunjuk rasa di Bait Allah. Seandainya Yesus tidak berdemonstrasi di Bait Allah, mungkin umurnya masih akan panjang dan tidak mati disalibkan sebagai suatu bentuk penghukuman mati Romawi.

Dengan demikian kematian Yesus di kayu salib terjadi bukan karena Allah mengharuskannya demikian, bukan juga karena dia ingin bunuh diri, tetapi karena kebencian lawan-lawannya dan kesalahannya berunjuk rasa di dalam Bait Allah. Kematian ini, jika diketahui lebih dulu oleh Yesus, tentu akan dia hindari sebisa mungkin. Dengan demikian jelaslah bahwa Yesus tidak mau mati dengan sengaja untuk menyelamatkan dunia. Azabnya yang akan segera membawanya kepada kematian dilihat Yesus, ketika dia kesakitan terpaku di kayu salib, sebagai sesuatu yang tidak dia sangka-sangka; karena itu dia, dalam segala sifat kemanusiaannya, sangat kecewa dan merasa Allah telah meninggalkannya. Akhir kehidupan Yesus benar-benar sebuah tragedi, sebuah kecelakaan sejarah.

Thursday, April 30, 2009

Politik Roma Versus Politik Yesus

Pada kesempatan ini akan dikemukakan dengan singkat hal-hal historis apa yang menjadi penyebab Yesus dihukum mati melalui penyaliban dirinya. Tulisan ini, dengan demikian, adalah tulisan kelima dari rangkaian tulisan di blog ini yang menyoroti tema masalah-masalah dalam soteriologi salib.

Jauh sebagai suatu peristiwa adikodrati satu-satunya yang bersignifikansi soteriologis universal dan abadi, kematian Yesus di kayu salib faktual historisnya adalah suatu peristiwa kodrati, insani dan politis biasa dalam suatu ruang dan waktu terbatas yang tidak berdimensi soteriologis universal dan abadi apapun.

Melalui banyak perumpamaannya dan banyak ucapannya yang lain, Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sedang ada di tengah rakyat Yahudi yang sedang dijajah Roma (antara lain, Lukas 17:21b), bahwa Allah Yahudi kini sedang langsung memerintah sebagai Raja, dan murid-muridnya diajarnya untuk meminta supaya Kerajaan Allah ini terus-menerus berada di tengah mereka (Lukas 11:2; Matius 6:10). Akta-akta Yesus mendemonstrasikan bahwa bersama Yesus benar Allah sedang berkarya di tengah bangsa Yahudi. Kata Yesus, “Jikalau aku mengusir setan dengan jari Allah, sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu!” (Lukas 11:20; Matius 12:28) Hanya Allah yang menjadi Raja mereka. Inilah teokratisme Yesus. Sementara itu, pada pihak lain, bagi orang Romawi, hanya sang Kaisar yang bertakhta di Roma yang merupakan raja baik bagi bangsa Romawi sendiri maupun bagi semua bangsa jajahan. Bagi Yesus, dalam teokratisme Yahudi tidak bisa ada dua raja, melainkan hanya satu; dan raja ini bukan sang Kaisar tetapi Allah Yahudi. Dengan demikian, Yesus atas nama Allah dan atas nama rakyat menolak dan melawan Kaisar.

Perlawanan Yesus dari Nazaret terhadap Roma yang sedang menjajah bangsa Yahudi dengan jelas diungkap secara simbolik, antara lain, dalam tuturan sastra injil tentang seorang Gerasa yang kerasukan roh jahat (Markus 5:1-20). Ketika Yesus bertanya kepada roh jahat itu siapa namanya, roh itu menjawab, “Namaku legion, karena kami banyak.” (ayat 9). Kata Latin “legion” dikenakan untuk satuan prajurit pejalan kaki Roma ditambah pasukan berkuda, dengan jumlah besar antara 3.000 sampai 6.000 orang. Nama ini, dengan demikian, adalah kiasan untuk penjajahan Roma atas Tanah Israel. Dus, Yesus mendemonisasi lawannya, Kekaisaran Romawi. Permusuhan dan perlawanan terhadap Roma yang menduduki tanah Israel diungkap dengan jelas ketika Yesus berseru kepada setan-setan itu, “Keluar dari orang ini!” Tetapi setan-setan itu meminta untuk diizinkan tetap tinggal di daerah itu (ayat 10)―inilah persisnya yang dikehendaki Roma, yakni tetap mengontrol seluruh Tanah Israel. Sebaliknya, rakyat Israel menginginkan mereka diusir dan dibenamkan ke dalam danau seperti babi-babi. Yesus tampil sebagai seorang pengusir setan yang digdaya; dan kehadirannya sebagai orang yang dipenuhi Roh dan kuasa Allah (Markus 1:10b, 12; Matius 12:28; Lukas 11:20; lebih jauh tentang ini, klik http://www.ioanesrakhmat.com/2008/10/spiritualitas-yesus-dari-nazaret.html) sungguh merupakan suatu ancaman nyata bagi kedamaian dan stabilitas masyarakat Israel di bawah rekayasa politis kolonial Roma (Pax Romana): saat Roma mati terbenam dalam air danau hanya menunggu waktunya saja, pembebasan tidak lama lagi tiba.

Bagi Yesus, Tanah Israel, Eretz Israel, adalah milik Allah Yahudi, Tanah Perjanjian yang oleh Allah Yahudi dulu diberikan kepada Abraham, dan yang kemudian diwariskan kepada keturunannya yang membentuk satu bangsa Israel. Bagi Yesus, Allah Abraham adalah Allah Ishak dan Allah Yakub (Markus 12:26), Allah bangsa Israel. Ikatan perjanjian dengan Abraham ini, dalam pandangan Yesus, tidak pernah dibatalkan: Israel, menurutnya, adalah “satu keluarga” yang tidak boleh dipecah-belah (Markus 3:25), dan “anak-anak” dalam satu keluarga harus diperhatikan lebih dulu (Markus 7:27). Untuk menunjukkan bahwa Yesus ingin mempertahankan dan mengembalikan keutuhan 12 suku Israel, dia membentuk komunitas kecil lingkaran dalam para murid yang terdiri atas 12 orang (Markus 3:14). Jelas, Yesus memperjuangkan kepentingan Israel sebagai satu bangsa. Maka, kalau dikaitkan dengan Tanah Israel, ketika Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah” (Markus 12:17), dia bermaksud menyatakan bahwa Kaisar tidak memiliki Tanah Israel, tetapi Allah pemiliknya, karena itu tanah ini harus Kaisar kembalikan kepada Allah, pemilik sah tanah ini, dan kepada bangsa Israel, umat Allah, yang mewarisi tanah itu dari Abraham. Dan bangsa Roma harus menyingkir dari tanah yang bukan milik mereka, kembali ke negeri asal mereka sendiri. Doktrin sekular tentang pemisahan agama/gereja dan negara tidak termuat dalam ucapan politis Yesus ini, Yesus yang berwawasan teokratis.

Berita yang terus-menerus di banyak lokasi di Galilea disampaikan Yesus bahwa kini Allah Yahudi sedang memerintah sebagai Raja Israel ditafsir lawan-lawannya sebagai suatu proklamasi bahwa dia sendiri adalah raja Yahudi, dan dengan demikian dia menolak dan melawan Kaisar Roma. Penafsiran semacam ini bisa dibenarkan mengingat bahwa dalam kepercayaan mesianik Israel orang yang berbicara dan bertindak atas nama Allah, seperti Yesus dari Nazaret, adalah wakil langsung dari Allah, representasi Allah sendiri, dan tangan Allah sendiri. Wakil, representasi, juru bicara dan tangan Allah dalam kehidupan riil bangsa Israel tidak lain adalah raja atau mesias Israel sendiri. Adalah suatu ketentuan hukum Romawi, barangsiapa menolak dan melawan Kaisar, orang itu harus dihukum mati.

Persis ketika Yesus mau memasuki kota Yerusalem pada perayaan Paskah Yahudi, perayaan untuk memperingati kemerdekaan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, orang banyak memproklamasikan Yesus sebagai Raja Israel; kata mereka, dalam tuturan Markus, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi” (Markus 11:9; par.). Tetapi ada persoalan di sini. Apa yang dicatat dalam injil-injil sinoptik (Markus, Matius dan Lukas) tentang masuknya Yesus dengan jaya dan aman-aman saja ke kota Yerusalem pada perayaan Paskah setelah orang banyak mengumumkan kepada dunia bahwa Yesus adalah sang Raja Yahudi, keturunan Raja Daud, sukar dipercaya sebagai kejadian historis. Jika arak-arakan gegap gempita yang kuat diwarnai pesan-pesan mesianik dan pemulihan kerajaan Daud ini sungguh terjadi, pasti peristiwa ini akan diberi reaksi represif cepat oleh Gubernur Pontius Pilatus (yang sedang berada di Yerusalem) untuk mencegah timbulnya pemberontakan sekaligus untuk “mengamankan” figur yang diproklamasikan rakyat banyak sebagai mesias Yahudi. Tuturan tentang peristiwa yang sama dalam Injil Yohanes (12:12-16) lebih dapat dipercaya, karena, dituturkan, setelah orang banyak memproklamasikan Yesus sebagai “Raja Israel” (ayat 13), Yesus “pergi bersembunyi” (ayat 36b), menghindari para penguasa yang pasti sedang mencarinya untuk menangkapnya.

Bagaimana pun juga, tuturan dalam keempat injil tentang kejadian di pintu gerbang Yerusalem ini bermaksud untuk menyampaikan sebuah fakta bahwa rakyat Yahudi memang menantikan kedatangan seorang mesias pembebas dan pemenuhan penantian ini tampaknya, oleh orang banyak, dikaitkan dengan kehadiran Yesus di tengah mereka. Hal ini bisa terjadi karena mereka menyamakan Yesus yang memberitakan kedatangan Kerajaan Allah dan memperagakan kehadiran kuasa Allah dalam tindakan-tindakan penyembuhan dan eksorsismenya dengan Kerajaan Allah itu sendiri. Yesus menunjuk pada Kerajaan Allah dan mengajak orang banyak untuk melihat kepada Kerajaan ini, tetapi rakyat menunjuk pada Yesus sebagai sang mesias yang bertakhta dalam Kerajaan itu sendiri, dan para penguasa Bait Allah menuduh Yesus sebagai orang yang mengklaim posisi mesianik. Mereka mengganti Allah yang diwartakan dan diejawantahkan Yesus dengan diri Yesus sendiri! Bagi Yesus, Allah adalah sang Pembebas Israel, tetapi bagi rakyat Yahudi Yesuslah sang Pembebas mereka!

Ketika Yesus sudah berada di Yerusalem, dia memasuki Bait Allah lalu melakukan unjuk rasa di sana dan berkata keras mengenai Bait ini (Markus 11:15-18; Injil Thomas # 71; Yohanes 2:14-16a). Demonstrasi Yesus di Bait Allah, meskipun berskala kecil, dan ucapan kerasnya, adalah simbol, tanda, isyarat dan pesan bahwa dia menolak otoritas Yahudi dan otoritas Roma yang menguasai Bait Allah. Sebab kedua otoritas ini menghalangi keterlibatan langsung Allah Yahudi dalam kehidupan bangsa Yahudi. Bait Allah, melalui ritual kurban serta pemungutan pajak yang dilakukan di dalamnya, di tangan kedua otoritas ini telah menjadi sebuah institusi religio-politis yang menekan rakyat, yang menghalangi perjumpaan langsung rakyat dengan Allah Yahudi, karena kedua otoritas ini berfungsi sebagai broker (yang dalam pandangan Yesus) tidak sah antara Allah Yahudi dan rakyat. Keselamatan dari Allah dan kasih karunia-Nya, bagi Yesus, tidak boleh diperantarai oleh siapapun dan oleh otoritas kelembagaan apapun, melainkan harus langsung diterima rakyat Yahudi, sebab Kerajaan Allah ada di tengah rakyat.

Celakanya, menyerang Bait Allah, menentang otoritas yang menguasainya, dan menolak ritual dan pemungutan pajak resmi yang dilakukan di dalamnya, apalagi kalau perlawanan, penentangan dan penolakan ini dilakukan pada perayaan Paskah, akan berakibat kematian bagi si pelawan. Barangsiapa menyerang Bait Allah, orang itu dipandang menyerang Roma sebagai penguasa yang ada di belakang Bait Allah, yang memerintah Tanah Israel melalui wakil Kaisar (gubernur provinsi Yudea) dan kaki tangan Yahudinya (keluarga Herodes, kaum bangsawan Yahudi, Imam Besar Kayafas, Sanhedrin, imam-imam kepala, para ahli Taurat dan para tua-tua)! Hukuman mati adalah ganjaran sah bagi setiap orang yang menyerang Bait Allah. Tentu, di balik ini, ada suatu kesepakatan tidak tertulis antara otoritas Romawi dan otoritas Yahudi yang menetapkan bahwa barangsiapa membuat suatu kerusuhan di Bait Allah dan di kota Yerusalem pada perayaan Paskah, yang potensial menimbulkan keributan besar, orang itu dapat langsung ditangkap, diperiksa singkat lalu dieksekusi, sebagai suatu gertak dan teror terhadap rakyat Yahudi supaya mereka tidak bertindak macam-macam (bdk. Markus 14:2; Yohanes 11:48).

Melalui suatu kerjasama otoritas Yahudi dan otoritas Romawi, dan dengan melibatkan seseorang dari “lingkaran dalam” komunitas kecil yang Yesus bangun, Yesus kemudian dapat ditangkap, lalu diperiksa, dan akhirnya dihukum mati menurut cara penghukuman mati Romawi bagi para pemberontak: Yesus mati disalibkan dengan sebuah tuduhan politis bahwa dia mengklaim diri sebagai Raja Orang Yahudi di suatu tanah yang sedang dijajah Roma. Tuduhan ini ditulis pada titulus yang dipasang pada kayu salib Yesus. Tuduhan semacam ini (yang mendakwa Yesus sebagai Raja Orang Yahudi, dan bukan Raja Orang Israel) hanya mungkin dikeluarkan oleh pihak Roma. Di awal pemeriksaannya terhadap Yesus yang sedang diadili, Pontius Pilatus bertanya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?” (Markus 15:2; Matius 27:11; Lukas 23:3; Yohanes 18:33).

Jadi, kematian Yesus adalah suatu konsekwensi politis wajar dan insani dari keyakinan dan kiprah politis Yesus sendiri. Yesus, dengan gerakannya menghadirkan Kerajaan Allah di tengah rakyat yang membuatnya dipandang sebagai sang mesias atau raja Yahudi, terlalu kecil dan lemah ketika dia berhadapan dengan raksasa Imperium Romanum yang sedang menjajah negeri dan bangsanya. Dia adalah seorang teokratis dan mesianis yang gagal. Tidak ada keselamatan, kemerdekaan dan penyucian yang timbul dari kematiannya di kayu salib bagi bangsa Israel, berbeda dari keyakinan para pejuang Makkabe dalam sejarah Israel (abad 2 SM) bahwa curahan darah suci setiap mukmin Yahudi akan memberi kemerdekaan dan penyucian bagi Tanah Israel! (lebih jauh tentang ini, klik http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/05/betulkah-yesus-dengan-sengaja-mau-mati.html). Roma masih berkuasa atas Tanah Israel beberapa ratus tahun ke depan setelah kegagalan pergerakan yang Yesus lancarkan; bahkan sejak berakhirnya Perang Yahudi II melawan Roma (132-135 M) yang dipimpin Mesias Simon Bar Kokhba Israel tidak pernah lagi berdiri sebagai suatu bangsa dan negara merdeka sampai pada terbentuknya Negara Israel modern yang sekular di tahun 1948.

Kematian Yesus di kayu salib pada saat terjadinya tidak memberi efek soteriologis bagi Tanah Israel dan bangsa Yahudi, apalagi efek soteriologis universal dan abadi apapun, tidak seperti belakangan diklaim orang Kristen perdana, dua sampai sepuluh dasawarsa setelah Yesus wafat. Orang Kristen perdana, ketika mereka merenungi makna kematian Yesus yang sia-sia dan berupaya keluar dari keadaan gagal dan memalukan yang sangat kuat menekan mental mereka melalui rasionalisasi-rasionalisasi teologis yang mereka buat (tentang ini, klik http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/04/jalan-jalan-keselamatan-alternatif.html), mengklaim bahwa kematian Yesus menyelamatkan umat manusia dan jagat raya. Ini sungguh suatu klaim yang terlalu tinggi, jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Sunday, April 26, 2009

Soteriologi Salib Meremehkan Kemampuan Manusia

Merengek-rengek,
meminta belas kasihan dan keselamatan?

Ini adalah tulisan keempat dari rangkaian tulisan yang menyoroti masalah-masalah dalam soteriologi salib di blog ini. Tiga tulisan terdahulu tentang tema yang sama dapat dibaca di sini, di sini dan di sini.

Menurut soteriologi salib, azab dan kematian Yesus di kayu salib pasti tidak sia-sia, sebab azab dan kematian Yesus ini adalah jalan keselamatan yang Allah haruskan dan sediakan satu-satunya, dan dengan demikian merupakan jalan yang pasti efektif dan mujarab mendamaikan Allah dengan manusia dan berkhasiat secara magis untuk menjadikan manusia, memakai ungkapan Rasul Paulus, “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Namun, seperti sudah saya tekankan sebelumnya (klik di sini), soteriologi salib faktanya tidak mujarab dan tidak berkhasiat apa-apa. Kesengsaraan dan kematian Yesus hanya tinggal sebagai suatu fakta sejarah yang mengerikan di masa lampau, tidak berdampak riil dan signifikan bagi perubahan watak dan moralitas manusia dan peradaban dunia pada masa kini.

Nah, pada kesempatan ini saya ingin menggugat soteriologi salib dari suatu sudut pandang lainnya. Dalam penilaian saya, soteriologi ini merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia pada dirinya sendiri untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri.

Yang saya maksud dengan “keselamatan” di sini bukanlah keselamatan di akhirat yang diterima orang ketika dia masuk surga sesudah kematiannya. Sebagaimana sudah saya argumentasikan sebelumnya (klik di sini), di alam baka surga dan neraka itu, jangan kaget, tidak ada. Bagi saya, dan bagi sangat banyak orang lainnya, Kristen maupun bukan, kehidupan yang terpenting bagi manusia adalah kehidupannya sekarang ini di dalam dunia ini, sementara manusia masih memiliki tubuh dan menjalani kehidupan berbudaya.

Keselamatan yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah perubahan watak, karakter dan moralitas manusia sementara dia masih hidup dalam dunia ini sekarang ini. Doktrin tentang keselamatan yang ditawarkan suatu agama manapun yang tidak mengubah watak, karakter dan moralitas manusia sekarang ini di dalam dunia ini adalah doktrin yang kosong melompong dan tidak signifikan, karena hanya menghanyutkan orang masuk ke dalam angan-angan tentang suatu surga di luar dunia dan di luar sejarah―suatu eskapisme dangkal dari orang-orang yang lemah jiwanya, yang hanya mau beragama karena diiming-imingi hadiah surga sesudah kematian, seperti kanak-kanak yang baru mau belajar hanya kalau diiming-imingi sebuah permen atau sebuah boneka baru.

Soteriologi salib harus digugat, karena, seperti sudah dikatakan di atas, soteriologi ini dibangun di atas sebuah asumsi etis antropologis negatif bahwa manusia pada dirinya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah (teks suci yang sering dikutip gereja adalah Roma 3:10-23). Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja dengan mengutip teks suci, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di Taman Eden (Kejadian 3:1-19), yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet bumi dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat (Roma 5:12-19).

Gereja dengan ekstrim lebih jauh mengajarkan bahwa pemberontakan Adam dan Hawa terhadap Allah yang mengakibatkan mereka menerima penghukuman ilahi menyebabkan setiap bayi yang baru dilahirkan pada masa sesudahnya dilahirkan sebagai manusia berdosa yang bermoral bejat, kendatipun sang bayi masih belum tahu membedakan tangan kanannya dari tangan kirinya. Dosa “asal” atau dosa “warisan” ini menyebabkan setiap orang sejak dilahirkan sudah bobrok secara moral, dan untuk seterusnya tidak akan mampu berbuat baik dan benar secara moral, sampai mereka, demikian gereja mengajarkan, diselamatkan oleh azab dan kematian Yesus dan menerima baptisan Kristen sebagai suatu tahap inisiasi masuk ke dalam kehidupan yang diselamatkan di dalam persekutuan gereja.


Saya mau menegaskan bahwa asumsi etis antropologis negatif yang menjadi landasan soteriologi salib ini keliru, berdasarkan alasan berikut.

Sejarah evolusi manusia, fisikal maupun sosio-kultural, yang sudah berlangsung dalam kurun yang sangat panjang di muka bumi menunjukkan bahwa manusia pada dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan kebudayaan serta peradaban mereka ke arah yang makin baik, makin cemerlang dan makin bertahan ke depan. Seleksi alam (natural selection) memang menentukan dan kerap tidak terhindarkan, tetapi manusia, secara individual maupun secara kolektif, juga memiliki kemampuan yang membuat mereka umumnya selalu bisa bertahan dan menang (survival of the fittest) dalam menghadapi setiap kesulitan dan permasalahan serta tantangan berat alamiah dan kultural yang menghadang kehidupan dan kebudayaan mereka. Kemampuan ini juga mencakup kemampuan untuk manusia makin dapat hidup dengan lebih baik secara moral pada diri mereka sendiri.

Memang banyak kejadian di dalam dunia ini dan sejarah manusia yang juga menunjukkan bahwa manusia kerap gagal pada diri mereka sendiri untuk hidup baik dan benar secara moral, misalnya manusia masih dikuasai dorongan primordial untuk berperang satu sama lain sehingga akhirnya membinasakan kehidupan dan menghancurkan peradaban mereka sendiri. Tetapi, fakta bahwa manusia dan peradabannya masih bisa bertahan dan bahkan lebih dikembangkan lagi hingga ke zaman modern ini dan ke zaman-zaman seterusnya memperlihatkan bahwa naluri dan kesadaran mereka mengenai kebajikan, kebenaran dan tanggungjawab masih lebih kuat ketimbang naluri kejahatan yang bisa menghancurkan mereka.

Dari manakah kemampuan mengembangkan moralitas positif dalam diri manusia ini berasal? Jelas, bukan dari intervensi ilahi apapun, melainkan dari gen manusia (nature) dan pendidikan (nurture) yang mereka terima.

Gen yang baik, pendidikan moral yang benar dan kehidupan masyarakat yang sehat, akan menghasilkan manusia-manusia bermoral yang tangguh di dalam masyarakat. Bila aspek genetik yang baik dan aspek genetik yang altruis diberi tempat utama untuk berperan, berhadapan dengan aspek genetik yang buruk dan aspek genetik yang egois dan serakah, masa depan manusia akan lebih baik di tangan mereka sendiri. Sains dan teknologi modern di bidang biologi molekuler sudah bisa merekayasa gen manusia; prestasi di bidang sains genetik ini, bila dengan hati-hati dan dengan penuh tanggungjawab etis dikembangkan, bisa lebih membuka harapan dalam usaha manusia untuk mengembangkan dan memapankan segi-segi kebaikan dan kebajikan moral manusia.

Nah, harus diakui bahwa manusia pada dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk hidup bermoral tinggi, karena kodrat genetiknya dan karena hasil pendidikannya. Soteriologi salib bisa berjalan, fungsional, hanya kalau kemampuan positif manusia ini disangkal total, dan kalau perasaan sangat berdosa dan tidak memiliki kemampuan moral apapun untuk berbuat baik dibesar-besarkan sedemikian rupa sampai membuat manusia tidak bisa lagi melihat bahwa dirinya sebenarnya mampu berbuat baik secara moral.

Soteriologi salib sangat menghina dan merendahkan kapasitas manusia individual dan kolektif untuk berbuat kebajikan, dan harus memaksa manusia melihat dirinya sangat hina dan tidak berharga secara moral apapun, melainkan hanya bisa menangis dan meratap di hadapan suatu Allah Kristen yang dari-Nya diharapkan belas kasihan kepada dirinya yang tidak berharga apapun diberikan.

Singkat kata, soteriologi salib tidak membantu manusia mengembangkan dirinya untuk makin baik secara moral, malah mendemoralisasi manusia. Soteriologi salib menuntut kita merangkak dengan terluka dan meratap di bawah kaki Yesus, bukan berjalan sebagai sahabat bersamanya! Dan ajaran tentang dosa warisan tidak memberi dampak positif secara psikologis kepada manusia masa kini karena memperlakukan manusia taken for granted sebagai manusia yang bermoral bobrok, dan juga tidak etis karena menjatuhkan penghukuman atas dosa dua orang nenek moyang manusia kepada keturunan mereka yang hidup di zaman-zaman lain.