Monday, August 31, 2009

Sanggupkah Yesus Memberi Makan 1 Milyar Orang Kelaparan di Abad XXI?

Kalangan Kristen literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya. Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional dan apologetis.

Kontras dengan itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah mitos, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Sebagai sebuah metafora, sebuah mitos, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan sebuah pesan teologis, antara lain, bahwa Yesus adalah Musa yang baru, yang mengulangi kembali apa yang dulu Musa pernah lakukan bagi bangsa Israel, yakni mendatangkan manna, dalam perjalanan mereka di padang gurun setelah meninggalkan tanah Mesir (lihat Keluaran 16); atau, bahwa Yesus adalah Nabi Elia yang baru, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada orang banyak, kurang lebih serupa dengan apa yang pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks lain (lihat 1 Raja-raja 17:7-16).
Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalamnya.

Nah, pada kesempatan ini saya tidak perlu lagi mendiskusikan dengan kritis apakah kisah pemberian makan 5000 orang ini kisah sejarah faktual atau sebuah fiksi teologis (diskusi tentang hal ini, dapat dibaca di sini dan juga di sini). Tetapi, saya ingin memperhadapkan kisah ini pada kenyataan dunia sekarang ini yang tergambar dalam sejumlah data berikut ini.


Sekarang ini, dunia menghadapi kenyataan-kenyataan ini (sumber http://www.millionsofmouths.com):

  • 18 ribu anak-anak mati setiap hari karena kelaparan;
  • 852 juta orang di seluruh dunia menderita kelaparan;
  • 14 juta anak-anak di Amerika Serikat menderita kelaparan;
  • 40 juta orang di Amerika Serikat hidup dalam kemiskinan;
  • 3 milyar orang di dunia hidup kurang dari 2 US Dollar per hari;
  • Biaya pembuatan satu peluru kendali (misil) dapat memberi makan siang setiap hari selama 5 tahun kepada anak-anak yang kelaparan di sebuah sekolah.
Menurut data dari Unicef PBB, lebih dari 30 % dari total kurang lebih 600 juta anak-anak di negara-negara berkembang hidup kurang dari 1 US Dollar per hari; dan setiap 3,6 detik satu orang meninggal dunia karena kelaparan, umumnya seorang anak di bawah umur 5 tahun. Unicef menargetkan pada tahun 2015 jumlah orang yang hidup kurang dari 1 US Dollar per hari berkurang separuh, dan jumlah orang yang menderita kelaparan berkurang separuh (sumber http://www.unicef.org/mdg/poverty.html).


Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan kemiskinan ekstrim sebagai hidup kurang dari 1,25 US Dollar per hari. Ada sejumlah 1,4 milyar orang di dunia ini yang sekarang ini hidup dalam kondisi miskin ekstrim. Kemiskinan ekstrim paling umum terdapat di Afrika Sub-Sahara dan di Asia Selatan. Bank Dunia mencatat selama abad XX jumlah orang yang menderita kemiskinan ekstrim berkurang, dari 59 ke 19 %, dan sekarang ini persentase kemiskinan ekstrim berada di peringkat terendah. Tahun 1980 masih ada 40%, dan di tahun 2000 susut menjadi 19 %. Tetapi, di kawasan Afrika Sub-Sahara kemiskinan ekstrim meningkat dari 41 % di tahun 1981 menjadi 46 % di tahun 2001; dan bersamaan dengan pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan ini, jumlah orang yang miskin ekstrim bertambah dari 231 juta menjadi 318 juta (sumber http://en.wikipedia.org/wiki/poverty).


Nah, data seram di atas tentang kelaparan dan kemiskinan di tingkat global sudah seharusnya membuat gereja-gereja Kristen di seluruh dunia dapat sungguh-sungguh menghadirkan kembali Yesus Kristus di dunia sekarang ini untuk dia, dari sedikit pangan yang tersedia, bisa kembali mengenyangkan orang yang lapar, yang jumlahnya amat sangat banyak, 1 sampai 3 milyar orang, dan bagian terbesar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Seandainya dulu Yesus faktual bisa memberi makan sampai kenyang 5000 orang laki-laki dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, seharusnya sekarang juga dia atau gerejanya bisa melakukan hal serupa.

Tetapi patut sangat disesalkan, di tengah kenyataan kemiskinan dan kelaparan global yang dahsyat ini, 5000 ketul roti malah sekarang ini celakanya dihabiskan hanya oleh 5 orang dewasa Kristen berperut buncit bersama 2 anak mereka yang masih kecil yang terkena obesitas. Kenyataan bahwa orang Kristen sangat serakah tentu saja akan membuat banyak orang tidak bisa percaya sama sekali kalau dulu Yesus Kristus betul-betul pernah memberi makan 5000 orang dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan!


Bagaimana sekarang ini orang banyak bisa percaya sementara ada sekian gereja di Jakarta sanggup menghabiskan dana ratusan milyar bahkan sampai trilyunan rupiah hanya untuk membangun gedung-gedung gereja supermegah, sementara kemiskinan dan kelaparan masih diderita oleh sangat banyak orang Indonesia?! Anda tidak percaya? Jika demikian, cobalah tengok sebuah bangunan gereja supermegah yang berlokasi di kawasan Kemayoran, Jakarta, dengan kubah lebarnya berwarna biru langit dan dengan dua tower modern warna biru yang tinggi menjulang di sampingnya! Coba Anda tafsir atau cari tahu berapa ratus milyar atau berapa trilyun rupiah telah dihabiskan untuk membangunnya! Ironisnya, pentolan-pentolan konglomerat pebisnis injil ini mengkhotbahkan dengan sangat yakin di mana-mana bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan masuk surga, satu-satunya orang yang bisa mengenyangkan 5000 orang laki-laki dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan kecil! Ah, rupanya mereka para badut yang suka bercanda!




Thursday, August 27, 2009

Kiamat dan Pemindahan Planet Bumi

terraforming Planet Mars

Kapankah kiamat atau akhir dunia akan tiba? Banyak agama lahir antara lain untuk menjawab pertanyaan ini. Tentu jawaban tentang hal ini yang diberikan agama-agama tidak berasal dari sains modern, melainkan dari apa yang diklaim agama-agama ini sebagai wahyu ilahi. Bagi agama-agama, wahyu ilahi sanggup menyingkapkan setepat-tepatnya kapan akhir dunia akan terjadi. Benarkah?

Kapan pun dan di manapun, wahyu ilahi tentang kapan dunia akan kiamat (bahkan tentang hal lain apapun!) tidak pernah memberikan satu jawaban yang pasti dan terang. Wahyu ilahi selalui tidak jelas, selalu mengandung ambiguitas, dan karena itu selalu melahirkan penafsiran yang beraneka-ragam atasnya, multi-interpretable. Karena itu, wahyu ilahi otomatis mengundang banyak orang dari berbagai latarbelakang dan kepentingan untuk berburu di hutan belantara wahyu ilahi untuk mendapatkan “sang binatang buruan” yang selalu bisa berkelit lalu lenyap dalam kerimbunan pohon dan kegelapan hutan ilahi.


Gereja Kristen memiliki sedikitnya dua kitab besar dalam Kitab Suci mereka yang diklaim sebagai kitab-kitab yang berisi wahyu ilahi tentang kapan dunia ini akan berakhir, kapan kiamat akan tiba, kapan sang Mesias atau sang Mahdi akan datang di akhir dunia. Kedua kitab besar yang melahirkan ideologi mesianisme Yahudi-Kristen ini adalah Kitab Daniel (ditulis abad ke-2 SM) dalam kanon Perjanjian Lama dan Kitab Wahyu Yohanes (ditulis abad ke-1 M) dalam kanon Perjanjian Baru.


Penafsiran kritis atau criticism atas kedua kitab apokaliptis Yahudi-Kristen ini menempatkan keduanya dalam konteks sejarah masing-masing komunitas keagamaan yang melahirkannya. Segala hal yang ditulis dalam kedua kitab wahyu ini, baik tentang hal-hal kontemporer maupun tentang hal-hal yang akan terjadi di masa depan, oleh para penafsir kritis dilihat berkaitan langsung dengan komunitas-komunitas keagamaan ini pada masa kehidupan riil mereka yang sedang dilanda penderitaan berat dan penganiayaan dalam sejarah dunia ini, bukan berkaitan dengan masa depan yang jauh dari masa kehidupan mereka.

Dalam hermeneutik kritis, wahyu ilahi apa pun tentang kiamat dipandang selalu sebagai tulisan-tulisan manusia yang berfungsi untuk memberi kekuatan mental, moral bahkan politis kepada suatu komunitas keagamaan yang sedang dianiaya oleh suatu kekuatan politis dan militer besar pada zaman wahyu ini ditulis, bukan berisi ramalan atau perhitungan ilmiah tentang kapan dunia ini berakhir.
Dalam tulisan apokaliptis semacam ini, kiamat digambarkan segera akan terjadi, dan ketika kiamat ini terjadi pengadilan akhir digelar dan musuh-musuh umat akan dibalas dengan penghukuman di neraka dan umat yang dianiaya akan diberi pahala masuk surga. Karena dijanjikan kebangkitan dari antara orang mati dan pahala surga, umat yang dianiaya mendapatkan penguatan mental untuk bertahan membela agama dan bangsa mereka dan terhindar dari kemurtadan.

Tetapi, para penafsir yang tidak kritis, khususnya para penafsir yang dijuluki sebagai “end-time interpreters”, para penafsir tentang “akhir zaman”, menafsirkan Kitab Daniel dan Kitab Wahyu Yohanes sebagai kitab-kitab yang memuat “petunjuk-petunjuk atau nubuat-nubuat rahasia” tentang kapan akhir zaman akan tiba, tentang kapan planet Bumi atau bahkan Galaksi Bima Sakti berakhir total dalam suatu katastrofi kosmik. Bagi mereka, petunjuk-petunjuk rahasia ini bisa “disingkap”, “revealed”, atau di-“decoding” hanya oleh sedikit orang yang dipilih Allah. Maka, bisa dimengerti, dari dalam buaian gereja muncullah pada masa kini banyak orang yang tidak tahu diri, yang mengklaim diri sebagai orang suci pilihan Allah yang diberi kemampuan adikodrati untuk menyibak dan menyingkapkan rahasia tentang kapan akhir zaman terjadi, yang dimuat dalam kedua kitab problematis dan berbahaya ini.


Karena wahyu ilahi selalu tidak jelas, selalu terbuka terhadap berbagai macam interpretasi, maka muncullah banyak versi pseudo-aritmetika tentang kapan persisnya dunia ini akan berakhir. Dan, kita tentu maklum, perhitungan mereka tentang kapan akhir zaman tiba selalu meleset. Penulis Kitab Daniel meleset. Yesus Kristus meleset. Rasul Paulus meleset. Yohanes di pulau Patmos keliru. Gereja-gereja perdana keliru. Sekte-sekte Kristen millenarian sepanjang sejarah gereja Kristen juga meleset, hingga ke abad ke-21 ini!


Maka, buanglah wahyu ilahi jauh-jauh dan hindarilah para nabi peramal akhir zaman jika Anda ingin mengetahui kapan akhir zaman tiba dan usaha apa yang perlu dilakukan bukan untuk mempercepatnya, tetapi untuk menghindarinya. Sebaliknya, marilah kita dengarkan apa yang dikatakan para ilmuwan tentang umur planet Bumi ini.


Planet Bumi terancam bukan terutama dari berbagai tindakan buruk manusia terhadap planet ini, misalnya dengan meracuninya atau meningkatkan suhu global terus-menerus. Tentu kita harus waspada juga terhadap perilaku manusia, sebab suatu perang nuklir habis-habisan di seantero planet biru ini akan bisa juga melenyapkan kehidupan di dalamnya dan menanduskan semua permukaan planet ini selama beribu-ribu tahun ke depan. Menurut kajian fisika elementer, astrofisika dan astronomi, planet Bumi dan semua makhluk hidup di dalamnya secara alamiah akan lenyap pada saatnya karena sesuatu tengah terjadi pada bintang besar Tata Surya yang kita namakan Matahari, sang Surya.
Matahari, sejak sekarang, secara evolusioner sedang mengalami peningkatan suhu.

Dalam jangka waktu 5 milyar tahun dari sekarang, Matahari akan berevolusi menjadi suatu bola raksasa merah yang membengkak dan menggembung. Lalu, 7 miliar tahun dari sekarang, ketika bola Matahari sampai pada ukuran terbesarnya dan terang cahayanya mencapai puncaknya, kulit gas pada lapisan terluarnya (Korona) akan menelan dan membakar lenyap planet Bumi (lihat 2 ilustrasi di bawah ini).

Tapi, jauh sebelum hal itu terjadi, 1,1 milyar tahun dari sekarang, sang Surya akan 11% bertambah terang dan panas, dan keadaan ini akan meningkatkan temperatur udara di seluruh muka bumi rata-rata menjadi 50 °C (atau 120 °F). Suhu setinggi ini, meskipun belum mencapai titik didih air, akan membuat semua air dan semua lautan yang ada di muka bumi perlahan menguap. Tanaman dan binatang (termasuk manusia di dalamnya) akan menghadapi masa sangat sulit untuk hidup dalam rumah panas ini, dan tentu mereka semua tidak akan bertahan lama, kecuali organisme sel tunggal yang disebut Arkhaea. Tetapi ketahanan hidup semacam ini akan berlangsung sebentar saja. Ketika uap air sampai di atmosfir, cahaya ultraviolet sang Surya akan memecah molekul-molekul air, dan gas hidrogen yang diperlukan untuk membangun sel-sel makhluk hidup perlahan akan bocor dan keluar ke angkasa lalu persediaannya di planet Bumi habis.

Nah, ini poin yang sangat penting: Jika keturunan kita, makhluk cerdas yang dinamakan homo sapiens sapiens, atau makhluk cerdas keturunan kita yang sudah berubah fisik dengan struktur DNA yang sudah lain karena diubah oleh kekuatan evolusi alamiah selama milyaran tahun, atau oleh revolusi teknologis, ingin tetap bertahan hidup, mereka harus pindah ke planet-planet lain di Tata Surya, misalnya ke sebuah planet merah yang tidak terlalu jauh dari Bumi dan masih dalam kawasan Tata Surya, yakni planet Mars.

Jika setiap hari kita meluncurkan 1000 wahana antariksa untuk mengungsikan 6,7 milyar manusia ke suatu atau beberapa planet lain yang aman, dibutuhkan semilyar wahana antariksa dan waktu selama 2700 tahun ke depan untuk seluruh peluncurannya. Selain masalah ini, planet-planet lain yang jadi tujuan pengungsian juga perlu disiapkan secara besar-besaran untuk menghasilkan biosfir dan atmosfir yang cocok untuk kehidupan manusia, biosfir dan atmosfir yang sama dengan yang terdapat di planet Bumi sekarang ini, setidaknya memiliki air dan oksigen untuk kehidupan. Tambahan pula, manusia yang sudah diungsikan itu perlu diberi makan, dirawat secara medis dan psikologis, dan disiapkan di rumah-rumah baru mereka di luar planet Bumi.


Mengubah suatu planet lain koloni menjadi sebuah planet yang sama dengan planet Bumi untuk siap dihuni manusia disebut “terraforming.” Terraforming ini membutuhkan sains dan teknologi yang sangat advanced, yang belum ada sekarang ini, dan juga tentunya membutuhkan sumber daya manusia, modal dan sumber alam yang besarnya tidak terbayangkan sekarang ini! Bisa jadi, jika terraforming berhasil dilakukan, yang akan bisa mengungsi ke planet-planet lain, misalnya ke Mars, hanyalah segelintir manusia atau makhluk hidup lain yang unggul secara genetis. Ilustrasi paling atas menggambarkan proses terraforming yang sedang pada tahap awal dilakukan di planet Mars.


Sejumlah fisikawan menyatakan dalam melakukan terraforming terhadap planet Mars, kita perlu mengarahkan banyak asteroid, meteor dan komet untuk menumbuk permukaan planet ini guna memanaskan planet ini untuk menghasilkan atmosfir yang cocok dengan kehidupan manusia. Tentang terraforming planet Mars dengan cara ini, lihat wawancara pendek dengan Michio Kaku yang berjudul "Should We Use Comets and Asteroids to Terraform Mars?" (klik tautan ini http://bigthink.com/ideas/24011).

Jika terraforming sangat sulit dan belum terbayangkan proses dan dampaknya, ada sebuah jalan lain yang tersedia: yakni memindahkan planet Bumi beserta semua sumber yang tersedia di dalamnya ke suatu lokasi orbit yang lebih jauh dari Matahari. Para ilmuwan sudah menghitung-hitung dan membuat simulasinya dengan menggunakan komputer.


Jika pada 6,3 milyar tahun dari sekarang sang Surya berubah menjadi suatu bola api raksasa merah yang menggelembung dan cahayanya menjadi 2,2 kali lebih terang dari cahayanya sekarang, maka untuk keselamatan penghuni planet Bumi dan planet ini sendiri, planet Bumi harus dipindahkan, “didongkel”, dari orbitnya yang sekarang, menjauh dari Matahari, ke jarak 1,5 kali dari orbitnya yang sekarang pada Matahari. Orbit planet Bumi yang baru ini sama dengan orbit planet Mars sekarang ini. Dengan jarak orbit yang ditambah ini, planet Bumi akan menerima panas dari matahari yang sudah menggelembung dengan intensitas dan volume yang sama dengan intensitas dan volume yang sekarang ini kita semua terima.


Ihwal kapan usaha pemindahan planet Bumi ini sudah harus dijalankan, bergantung pada kapan kita mau mencapai orbit planet Bumi 1,5 kali lebih jauh dari orbitnya yang sekarang, untuk menghindari penguapan semua air di muka bumi dan untuk menjauh dari bola merah raksasa sang Matahari yang menggelembung! Kalau penggeseran orbit bumi mau dilakukan perlahan dan bertahap, usaha ini sudah bisa dimulai sekarang! Masalahnya: kita sekarang ini belum memiliki teknologi yang aman dan applicable untuk memindahkan bumi. Selain itu: orbit planet Bumi yang diubah akan berpengaruh pada orbit benda-benda langit lainnya dalam Tata Surya dan hal ini akan menimbulkan kekacauan kosmik juga!

Sepertinya, usaha menyelamatkan dan memindahkan planet Bumi terpikirkan hanya sebagai suatu fiksi ilmiah. Tetapi, pemindahan planet Bumi adalah sebuah tugas masa depan yang sangat serius!


Kelihatannya sekarang ini, “kiamat”, dalam arti: lenyapnya planet Bumi dan matinya semua makhluk hidup di dalamnya, tidak akan bisa dihindari. Tapi katastrofi kosmik ini akan terjadi masih sangat lama jika dihitung dari rata-rata umur manusia sekarang ini (katakanlah rata-rata sampai 80 tahun); kita masih harus menunggu 1,1 milyar sampai 7 milyar tahun dari sekarang. Dan, makhluk yang nanti akan mengalami “kiamat” ini adalah keturunan manusia yang telah mengalami evolusi genetik dan evolusi inteligensi, secara alamiah atau lewat revolusi teknologis. Bisa jadi, mereka pada zaman mereka nanti akan dapat menemukan suatu solusi tepat, aman dan efisien untuk menghindari lenyapnya air dari planet Bumi dan terpanggangnya planet ini oleh panas cahaya sang Surya yang sudah membengkak menjadi bola api raksasa maut.


Nah, ini kata terakhir saya dalam post ini: Ketika “kiamat” semacam ini terjadi, sang Yesus Kristus gereja yang “datang kembali dengan awan-awan dari langit” tidak akan bisa menyelamatkan planet Bumi dan manusia. Kecuali “sang Kristus” ini datang sebagai seorang panglima para alien dari angkasa luar ke planet Bumi, dengan membawa armada wahana antariksanya yang sangat besar jumlah dan ukurannya untuk mengungsikan semua penghuni planet Bumi. Pada saat itu, semoga “Bahtera Nuh” supermodern akan sungguh-sungguh datang! Atau, dengan kata lain, sains dan teknologi-lah, bukan wahyu ilahi, Allah atau sang Mahdi, yang bisa menyelamatkan planet Bumi ini dari katastrofi kosmik di masa depan yang masih sangat jauh.


Jadi, janganlah percaya pada para nabi peramal kiamat, tetapi didiklah anak dan cucu kita secara rasional untuk mereka dan cucu serta cicit mereka bisa menemukan sains dan teknologi supermodern yang bisa menyelamatkan planet Bumi ini dari ancaman kebinasaan yang datang dari angkasa luar! The truth is out there!


Catatan:
Lebih jauh tentang ihwal pemindahan planet Bumi, lihat http://www.newscientist.com/article/dn14983-moving-the-earth-a-planetary-survival-guide.html.



Monday, August 24, 2009

Kuda Darat dan Kuda Laut


Di darat kita kenal binatang pemakan rumput berkaki empat yang kuat, kekar, tegap dan bertenaga besar dan berleher anggun yang dinamakan kuda. Karena tenaga kuda sangat besar, daya suatu mesin juga disebut dalam satuan tenaga kuda atau horsepower. Kalau seekor kuda meringkik, suara ringkiknya yang melengking dapat membuat semua bayi terkejut lalu menangis dan pipis karena ketakutan. Meskipun sebagai binatang darat, kuda juga dapat dipacu melintasi air yang cukup dalam dengan tanpa rasa takut.

Kuda dapat digunakan sebagai penarik pedati atau sebagai kuda pacu untuk dilagakan. Di daerah bebukitan yang sejuk kuda dimanfaatkan untuk mengangkut orang dari satu tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi. Di daerah-daerah pedesaan atau bahkan di kawasan semi perkotaan, kuda kerap terlihat dipakai untuk menarik delman. Kadang-kadang di megapolitan Jakarta masih dapat kita lihat seekor kuda menarik delman atau andong, melaju lambat sambil buang kotoran hijau bertumpuk-tumpuk di jalan, di tengah berbagai jenis kendaraan bermotor yang mondar-mandir dengan kecepatan tinggi dan mengeluarkan asap bergulung-gulung bikin polusi udara.

Di negeri-negeri empat musim yang berbentuk kerajaan khususnya, seekor kuda besar dan gagah yang dihias dengan indah menawan sering ditunggangi oleh seorang petinggi negara yang duduk dengan gagah di pelananya dalam acara-acara kenegaraan. Kuda juga dapat dilatih untuk menjadi kuda tempur suatu pasukan berkuda atau kavaleri yang dapat dikerahkan untuk bertempur di medan laga terbuka, khususnya di zaman kerajaan-kerajaan dulu ketika bedil, senapan, meriam, bom dan peluru kendali berhulu ledak nuklir belum ditemukan.

Kekuatan seekor kuda terletak pada keempat kaki
nya yang kurus, kuat, tegak dan tinggi. Jika salah satu kaki seekor kuda patah, kuda yang malang ini biasanya (kasihan juga!) akan dibunuh karena dianggap sudah tidak bermanfaat lagi bagi manusia dan juga karena kaki yang patah akan menyiksa si kuda sendiri karena si kuda ini tidak bisa bangun dan berdiri tegak lagi. Memelihara kuda untuk tetap sehat dan tangguh ternyata cukup rumit dan cukup sulit, seperti dulu telah saya sempat pelajari beberapa waktu ketika tinggal sekian tahun di Holland dengan bekerja sukarela dan sambilan di suatu sekolah pelatihan menunggang kuda yang berlokasi di suatu kota kecil yang sejuk dan tenteram.

Nah, hal yang bagi saya sangat luar biasa adalah bahwa ada juga hewan lain yang sangat lemah, lembek dan rentan yang hidup di kedalaman laut yang dinamakan tangkur kuda atau kuda laut yang gambarnya pernah menjadi logo Pertamina yang dulu sering disebut-sebut sebagai BUMN terkorup di Indonesia. Kuda laut jelas tidak pernah dan tidak bisa korupsi; maka itu, saya heran juga mengapa dulu sepasang kuda laut menjadi logo BUMN ini. Barangkali Saudara tahu apa alasannya? Apakah karena tangkur kuda hidup di kedalaman laut, tempat sumber minyak?


Kepala dan leher kuda laut memang potongannya mirip kepala dan leher kuda darat. Selebihnya, anggota tubuh kuda laut sama sekali tidak mirip dengan anggota-anggota lain manapun dari tubuh kuda darat. Di atas berturut-turut adalah gambar seekor kuda laut kerdil (dwarf seahorse), seekor kuda laut berduri (thorny seahorse), dan seekor kuda laut berperut besar (big belly seahorse). Anda bisa membandingkan sendiri postur tiga ekor jenis kuda laut ini dengan postur seekor kuda darat pada gambar pertama di atas, yang sedang ditunggangi seorang perempuan bule cantik yang sedang menikmati olahraga air bersama seekor kuda di pulau Kreta di Yunani. Bagi Anda tentu semua kuda laut ini, termasuk sang wanita yang telungkup di atas pelana kuda darat itu, sangat indah dan menawan. Beauty is virtue!

Para ahli biologi kelautan menyatakan masih ada sekian misteri yang belum dapat dipecahkan mengenai kuda laut. Mereka masih berusaha menjawab sejumlah pertanyaan. Apakah kuda laut membangun sebuah kehidupan komunal kekeluargaan di dalam laut? Apakah kuda laut memang kerap berdansa, menari-nari bersama di dalam laut, dalam luapan kegembiraan? Dan mengapa kuda laut jantan adalah satu-satunya hewan air yang melahirkan anak? Mereka juga bertanya, apakah manusia dapat menolong hewan laut yang lemah namun cantik ini.

Yang juga merupakan sebuah pertanyaan besar bagi saya adalah apakah kuda darat dan kuda laut saling mengenal. Seharusnya makhluk yang besar seperti kuda darat peduli pada makhluk yang kecil seperti tangkur kuda; bukankah kedua-duanya bernama kuda. Tetapi, dalam realitas kehidupan ini, seringkali makhluk yang besar tidak peduli, dan bahkan menindas, makhluk yang kecil. Umat beragama mayoritas menindas umat beragama minoritas. Para konglomerat besar di Indonesia melahap para pedagang menengah dan para pedagang kecil. Negara-negara besar adidaya mengeksploitasi negara-negara kecil yang semakin bangkrut dan dipermiskin. Jika keadaannya demikian, maka akan lebih baik jika yang besar menjadi kecil, dan yang kecil menjadi besar. Tetapi siapa yang bisa menghasilkan pembalikan keadaan ini?


Sunday, August 16, 2009

Ada Dua Gunung Sinai?

Menurut tuturan kitab Keluaran (19-20; 24:12-18; 31:18), Nabi Musa konon pernah berjumpa dan bercakap-cakap dengan Allah berhadapan muka di Gunung Sinai. Di atas gunung itu, konon Allah, di tengah “guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras” (19:16; 20:18), dengan jari-Nya sendiri menuliskan Sepuluh Perintah (Keluaran 20:1-17) pada dua loh batu sebelah menyebelah (31:18; 32:15-16) yang lalu diberikan kepada Musa “untuk diajarkan kepada bangsa Israel” (24:12). Karena Musa berlama-lama di atas gunung itu, konon sampai 40 hari 40 malam (24:18), bangsa Israel pun tak sabar lagi menunggunya, lalu mereka membangun sebuah patung anak lembu dari emas tuangan dan merekapun menari-nari di hadapan patung ini dan mempersembahkan kurban kepadanya (Keluaran 32). Ketika Musa telah turun dari gunung itu dan mendapati mereka telah murtad, bangkitlah amarah Musa dan dia pun melemparkan kedua loh batu itu dan dipecahkannya pada kaki gunung itu (32:19). Kemudian, atas perintah Tuhan, Musa memahat dua loh batu baru yang sama dengan yang sudah dihancurkannya, lalu Tuhan menulis segala firman yang telah disampaikan-Nya sebelumnya pada dua loh batu yang baru itu (34:1).

Nah, berdasarkan catatan-catatan skriptural di atas, bangsa Israel dan umat Kristen di seluruh dunia sekarang memandang Gunung Sinai sebagai gunung yang kudus. Dalam setiap acara wisata ke tanah Israel, yang dikenal sebagai
holy land tour, wisata ke tanah suci, para wisatawan pasti dibawa ke Gunung Sinai sebagai bagian dari rangkaian acara wisata ini, yang keseluruhan biayanya cukup mahal, sekitar Rp 30 juta per orang, dan karena itu tentu saja cepat menambah cadangan devisa negara Mesir, Israel dan Yordania sekarang ini.

Nah, ada 2 tempat yang dapat diklaim sebagai Gunung Sinai asli, yang ke atasnya dulu Musa konon pernah naik dan konon di sana berjumpa dengan Allah. Yang pertama adalah gunung yang terletak di Semenanjung Sinai di Mesir (lihat gambar di sudut kiri atas). Tinggi gunung ini sekitar 7500 kaki, salah satu tempat tertinggi di Mesir. Di dasar gunung ini berdiri Biara Santa Katherina, dan pada puncaknya ada sebuah kapel kecil tempat orang dapat berdoa. Untuk sampai ke puncak gunung ini diperlukan waktu kurang lebih 3 jam pendakian, dan ketika hampir tiba di puncak gunung ini para pendaki biasanya tambah bersemangat untuk segera tiba di titik finis dengan terlebih dulu harus melewati 4000 anak tangga. Jika orang mau menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung ini, dia harus mendakinya beberapa jam sebelum fajar tiba. Tetapi, sungguhkah ini gunung yang asli, yang Musa pernah daki?


Gunung kedua yang juga dapat diklaim sebagai gunung Sinai asli adalah sebuah gunung yang terletak di Saudi Arabia yang bernama Jebel El Lawz, Gunung Taurat (lihat gambar kiri bawah). Lokasi gunung ini ditetapkan berdasarkan sebuah catatan dalam Galatia 4:25, “Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab,” di daerah orang Midian. Alasan lain bahwa gunung ini adalah gunung Sinai asli adalah bahwa gunung ini lebih mudah dicapai kalau rute keluaran ditelusuri, mulai dari Mesir lalu bergerak ke Laut Merah dan menyeberangi Teluk Aqaba.

Yang sebetulnya ingin saya persoalkan bukanlah perihal mana gunung Sinai asli yang pernah didaki Musa dulu. Melainkan, apakah memang Musa dulu pernah bertemu berhadapan muka betulan secara material dengan Allah dan bercakap-cakap dengan-Nya di sebuah gunung seperti dituturkan kitab Keluaran? Apakah memang Sepuluh Perintah ditulis langsung oleh Allah sendiri dalam semalam dengan jari-Nya di atas dua loh batu yang lalu diberikan-Nya kepada Musa?


Hemat saya, bisa saja Nabi Musa dulu pernah menyepi ke suatu tempat sunyi di dataran tinggi untuk merenung dan mendekatkan diri kepada realitas adikodrati yang orang Yahudi namakan Elohim (=Allah) atau YHWH (=TUHAN), sama seperti juga konon dilakukan Yesus pada awal karirnya sebagai seorang nabi (lihat Matius 4:1-11). Bisa saja, Musa, sebagai seorang pemimpin umat Ibrani pada tahap awal kelahiran mereka sebagai suatu bangsa, memerlukan wangsit dan wahyu ilahi yang bisa diterapkan dalam penataan kehidupan masyarakat Ibrani kuno, dan untuk mendapatkan yang dicarinya dia perlu menyepi ke sebuah gunung tinggi dan berpuasa di sana selama 40 hari 40 malam, lalu mendapatkan berbagai penglihatan.
Perjumpaan Musa berhadapan wajah dengan Allah tentu saja tidak pernah terjadi secara material.

Tetapi, saya dapati diri saya sangat sulit menerima sebagai fakta sejarah bahwa Sepuluh Hukum Allah (yang dimuat dalam Keluaran 20:1-7; par. Ulangan 5:1-21) langsung ditulis oleh jari-jemari Allah pada dua loh batu sebelah-menyebelah dalam semalam ketika guruh, kilat, asap dan suara bising memekikkan telinga melanda kawasan Gunung Sinai, seperti digambarkan dalam sebuah film hebat
The Ten Commandments yang dulu pernah saya tonton.

Saya, bersama dengan banyak ahli tafsir kritis lainnya, condong memahami narasi tentang kelahiran dan pemberian Sepuluh Hukum Allah sebagaimana dituturkan dalam kitab Keluaran sebagai sebuah mitos yang ditulis untuk memberi landasan dan legitimasi ilahi atas nilai-nilai sosio-religius politis yang, dalam jangka waktu panjang, telah berhasil dikristalisasi dalam Sepuluh Hukum Allah. Artinya: Sepuluh Hukum ini tidak dirumuskan dan ditulis dalam semalam oleh tangan Allah, melainkan merupakan kristalisasi nilai-nilai sosio-religius politis yang telah lama muncul, berkembang dan diterapkan oleh bangsa Ibrani dalam perjalanan mereka sebagai suatu bangsa.


Ihwalnya sama dengan seorang pujangga Indonesia yang, bayangkanlah, ingin menulis sebuah mitos tentang Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai sosio-religius dan politis yang telah dilahirkan, dikembangkan dan diterapkan bangsa Indonesia dalam perjalanan panjang bangsa ini sejak zaman penjajahan sampai masa kemerdekaan yang diproklamirkan oleh dwitunggal Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Pujangga itu lalu menulis sebuah mitos bahwa Soekarno dan Hatta konon pada suatu waktu menjelang kemerdekaan Indonesia dipanggil, entah bagaimana caranya, oleh Allah YME untuk naik ke puncak Gunung Semeru di Jawa Timur. Di puncak gunung ini mereka berdua (seperti Musa dan Harun/Yosua dalam kitab Keluaran), setelah berpuasa 40 hari 40 malam, menerima sebuah loh batu yang di atasnya ditulis oleh tangan Allah sendiri dalam satu malam lima sila dari Pancasila, untuk diajarkan kepada bangsa Indonesia sebagai dasar negara dan prinsip-prinsip penataan kehidupan masyarakat dan bangsa.

Dengan mitos ini, Pancasila, karena ditulis dalam semalam oleh tangan Allah sendiri, diberi landasan dan legitimasi ilahi sehingga tidak boleh diganggugugat apalagi diganti dengan ideologi-ideologi lain, sementara faktanya lima prinsip dalam Pancasila adalah kristalisasi dari berbagai nilai yang telah lama lahir, berkembang dan dipakai bangsa Indonesia. Kalau mitos ini sudah ditulis dan berhasil dipercayai dunia, tidak mustahil Gunung Semeru juga bisa kita jadikan gunung yang kudus, yang perlu dikunjungi semua orang dari seluruh dunia sehingga akan menambah cadangan devisa negara kita.


Sayangnya, tidak ada seorangpun pujangga Indonesia yang telah benar-benar menyusun mitos semacam ini, sehingga Pancasila sekarang sudah kehilangan kewibawaannya dan di sana-sini telah diganti dengan ideologi-ideologi dan perda-perda yang bernafaskan syariat Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai bunyi sila pertama Pancasila asli sekarang telah berganti bunyinya menjadi “Ketuhanan Yang Terpecah Belah”!



Thursday, August 13, 2009

Sharbat Gula Gadis Afghanistan Bermata Api


Jika
cahaya di layar notebook atau PC Anda cukup terang, pandanglah tegak lurus pada kedua mata gadis pada foto di atas! Maka, Anda akan melihat, api sangat kuat menyambar mata Anda dari kedua biji matanya yang hijau itu! Gadis Afghanistan ini bernama Sharbat Gula. Dia pernah terkenal di seluruh dunia ketika fotonya ini muncul di Majalah National Geographic tahun 1985 saat dia masih seorang remaja berusia 13 tahun. Fotografer yang pada tahun 1984 mengambil fotonya ini di kawasan perkemahan pengungsi Peshawar di Pakistan bernama Steve McCurry.

Setelah mencari-cari gadis ini selama 17 tahun, akhirnya McCurry berhasil menemukannya kembali pada tahun 2002, ketiga Gula sudah berusia 30 tahun, dengan sudah bersuami dan memiliki 3 anak perempuan. Saat itu, McCurry berjanji akan membantu baik sekolah anak-anak Gula maupun diri Gula sendiri yang telah lama mendambakan naik haji ke Mekkah. Mungkin McCurry sebagai fotografer telah menerima banyak uang dari foto Gula itu.

Nah, kalau Anda terpesona pada kedua biji mata Gula, dan karenanya jatuh cinta padanya, cari dan temuilah dia sekarang di kawasan etnis Pushtun di Afghanistan, tentu untuk menolong kaum kerabat Gula yang sedang hidup dalam kemiskinan, seperti pernah dilakukan McCurry, bukan untuk mencumbuinya.



Sunday, August 9, 2009

Larang Agama Mengajarkan Perang!


Sepanjang Sabtu siang sampai malam, 8 Agustus 2008, saya via beberapa saluran TV terus mengikuti berita-berita tentang penyergapan para teroris di dua tempat, di sebuah rumah di sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah, yang berlangsung lama sekitar 17 jam, dan, sehari sebelumnya, di sebuah rumah di Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat. Pidato singkat Presiden SBY dan juga pernyataan-pernyataan Kapolri M. Hendarso Danuri, sehubungan dengan operasi-operasi penyergapan ini saya ikuti dengan saksama lewat TV. Berkaitan dengan operasi penyergapan ini dan identias para korban serta jaringan terorisme di Indonesia, Presiden SBY antara lain menyatakan dengan tegas bahwa “kita tidak boleh bermain-main dengan kebenaran dan keadilan.” Informasi yuridis (bukan sinyalemen) dari Kapolri, yang disampaikannya tanpa memakai teks, membuat masyarakat mengetahui bahwa rumah di Jati Asih itu, yang berjarak hanya 7 km dari tempat kediaman pribadi Presiden SBY di Cikeas, atau berjarak hanya 12 menit berkendara, adalah sebuah safe house yang dipakai para teroris untuk mengatur aksi pengeboman rumah kediaman SBY yang direncanakan akan dilakukan sekitar pertengahan Agustus 2009.

Semua orang yang berpikiran sehat tentu berharap satu orang yang telah ditembak mati dengan wajah hancur di Temanggung itu adalah Noordin M Top, gembong teroris, warganegara Malaysia, yang telah lama dicari oleh aparat kepolisian RI. Rakyat Indonesia diminta bersabar sampai test DNA terhadap jenazah yang diduga jenazah Noordin M Top itu selesai dilakukan untuk dapat memastikan identitas orang yang telah terbunuh ini. Sementara ini sudah ada banyak tokoh masyarakat, termasuk Hendropriyono, mantan pimpinan BIN, meragukan kalau Noordin M Top telah tewas ditembak. (Updating: Pada hari ini, 12 Agustus 2009, Mabes Polri mengumumkan bahwa jenazah yang diduga jenazah Noordin M Top ternyata adalah jenazah Ibrohim alias Aang.)


Di beberapa saluran TV, digelar tanya jawab dengan beberapa orang yang bisa memberi keterangan tentang aktivitas-aktivitas penyergapan ini dan korban-korban yang telah ditimbulkannya serta jaringan-jaringan terorisme di Indonesia. Hendropriyono, misalnya, telah diwawancarai dengan sangat menarik oleh dua orang ibu dari Metro TV. Dan, ini luar biasanya sekaligus bagi saya sangat aneh, beberapa orang dari kalangan Islam garis keras juga ikut diwawancarai dalam beberapa acara tanya-jawab itu. Mengapa saya katakan sangat aneh? Karena semua orang sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh orang-orang Islam garis keras ini sebelum mereka berbicara! Jadi, apa perlunya mereka diwawancarai lagi oleh saluran-saluran TV nasional?! Kalangan beragama yang moderat, apalagi yang liberal, kalau mereka diwawancarai, akan berbicara tanpa dibebani paranoia akan adanya konspirasi global melawan Islam, dan dengan dingin dan ilmiah akan menganalisis fakta-fakta, bukan mengedepankan prasangka-prasangka dan apologi-apologi keagamaan yang tendensius!

Kalangan Islam hardliners di Indonesia mengajarkan bahwa salah satu bentuk jihad bagi jemaah Islam adalah perang dengan mengangkat senjata untuk membunuh lawan, khususnya membunuh orang-orang Barat dan kaki-tangan mereka yang semuanya dicap oleh mereka sebagai anti-Islam, atau membunuh siapapun yang telah merugikan dan merendahkan Islam! Kata mereka, darah orang-orang semacam itu tidak diharamkan! Terorisme, dalam bentuk suicide bombing, adalah salah satu bentuk perang jihadis ini, yang menyepelekan bahkan menafikan eksistensi sebuah pemerintahan yang sah. Nah, saya mau menyatakan pendapat saya dalam hal ini.

Hemat saya, jika Indonesia mau bebas dari aksi-aksi terorisme yang dilakukan atas nama agama, sudah seharusnya pemerintah RI melarang setiap agama apapun di Indonesia untuk mengajarkan perang kepada umat masing-masing agama sekalipun demi membela agama mereka. Tentu, yang ada dalam pikiran saya adalah larangan perlu dikeluarkan khususnya kepada umat Islam Indonesia aliran apapun untuk mengajarkan umatnya berperang angkat senjata membela agama. Sebagai ganti teologi perang, sudah seharusnya, hemat saya, komunitas-komunitas Islam di Indonesia mengajarkan, mengembangkan dan melaksanakan teologi pembangunan bagi rakyat, bersama rakyat dan oleh rakyat!

Alasan saya bahwa larangan mengajarkan perang kepada umat beragama harus dikeluarkan (dan diundangkan) adalah karena tugas dan kewajiban berperang membela negara dan melindungi segenap rakyat adalah tugas dan kewajiban negara,
bukan tugas dan kewajiban kalangan sipil yang beragama apapun. Tugas dan kewajiban negara RI untuk berperang melawan musuh-musuh bangsa dan tanah air, jika mereka memang mengancam dan menyerang kita, tidak dilandaskan pada ajaran agama apapun, melainkan telah menjadi bagian integral dari keseluruhan tugas dan kewajiban negara yang diatur menurut kaidah-kaidah hukum internasional dan telah diatur dalam perundang-undangan yang ada dan berlaku di dalam negeri RI. Negara Indonesia yang bukan negara agama, yang ideologi nasional dan UUD-nya tidak dibangun berdasarkan teokratisme atau militerisme teokratis, sudah seharusnya tidak membenarkan setiap agama apapun mengajarkan umatnya berperang dan, apalagi, melatih mereka dengan latihan-latihan militer dengan dalih apapun.

Jika umat Islam di Indonesia dengan tegas dan konsisten menolak untuk berperang dan melakukan aksi teror sebagai jihad, para teroris Islam dari mancanegara yang berhasil menyusup masuk ke Indonesia tidak akan bertahan lama untuk berada di Indonesia karena mereka tidak mendapat dukungan dan perlindungan orang dalam, entah orang dalam dari kalangan sipil ataupun orang dalam dari kalangan militer.


Friday, August 7, 2009

Galaxi Berjarak 11 Miliar Tahun Cahaya dari Bumi!

Di sebelah kiri adalah foto dari sebuah galaksi (yang diberi nama Galaksi 1255-0) yang baru-baru ini dapat ditangkap, berlokasi sangat jauh di alam semesta, berjarak 11 miliar tahun cahaya dari planet Bumi. Artinya, foto di sebelah kiri ini adalah sebuah pemandangan yang terjadi 11 milyar tahun lalu, dan pada saat cahaya dari galaksi ini terpancar (dan dapat ditangkap oleh teleskop di Bumi atau di orbit Bumi) alam semesta baru berusia 3 miliar tahun setelah Big Bang.

Apakah Anda berpikir bahwa suatu allah yang berpribadi (a personal god), yang berkaki, bertangan, bermulut dan berkepala, yang membutuhkan darah hewan dan darah manusia Yesus untuk meredakan kemurkaannya terhadap dunia yang berdosa, telah menciptakan alam semesta melalui Big Bang 14 miliar tahun cahaya yang silam? Orang Kristen evangelikal skripturalis literalis yakin, berdasarkan perhitungan literalis mereka terhadap kisah-kisah dalam pasal-pasal awal Kitab Kejadian dan terhadap silsilah Yesus Kristus yang dicantumkan dalam salah satu kitab injil dalam Perjanjian Baru, bahwa langit dan Bumi diciptakan oleh Allah enam ribu tahun yang lalu, selama 6x24 jam waktu manusia. Kreasionisme evangelikal dangkal ini sunggguh sebuah pembodohan intelektual yang dilakukan atas nama kewibawaan sebuah Kitab Suci! Betapa tidak, evolusi spesies di planet Bumi saja sudah berlangsung selama 3 miliar tahun!

Saya tidak berpikir bahwa suatu allah personal, yang menurut orang Kristen telah menjadi manusia di dalam diri Yesus dari Nazaret 2000 tahun lalu, di sebuah planet kecil yang bernama Bumi, adalah allah yang menciptakan Big Bang 14 miliar tahun cahaya yang silam! Where was this God before the Big Bang? Alam semesta terlalu menakjubkan dan terlalu besar dan terlalu tidak terpahami untuk bisa diciptakan oleh suatu allah personal yang pekerjaannya mengurusi penghuni Planet Bumi! Bukan a personal god in Jesus yang menciptakan jagat raya nan maha besar ini, tetapi an impersonal Einsteinian god!

Planet Bumi, termasuk kita manusia dan semua makhluk hidup lainnya yang menjadi penghuninya, adalah suatu bagian sangat, sangat kecil dari keseluruhan ruang dan benda langit yang bergerak di alam semesta maha besar, yang menurut para mahafisikawan ada lebih dari satu, MULTIverse, bukan UNIverse. Bumi hanyalah setitik debu di dalam alam-alam semesta maha besar ini. Pada waktunya, Matahari, Bumi, kita dan semua yang ada bersama kita sekarang ini di Tata Surya, akan lenyap tanpa perlawanan di hadapan hukum-hukum alam yang bekerja tanpa hati nurani dan berlaku di seluruh alam semesta! Milky Way atau Galaksi Bima Sakti yang meledak atau ditelan lenyap oleh Lubang Hitam (the Black Hole) bisa jadi akan menjelma menjadi sebuah galaksi baru, namun... dengan tanpa kita di dalamnya.


by Ioanes Rakhmat