Sunday, March 21, 2010

Problem Teodise (1):
Penderitaan Berasal dari Setan

Setan Versus Allah, Ataukah Setan Dan Allah?

Saya mau menyoroti teodise dalam beberapa tulisan. Saya mulai dengan pengertian teodise. Istilah
teodise dibentuk dari dua kata Yunani: theos (allah) dan dikē (keadilan). Jadi, teodise adalah doktrin tentang keadilan allah.

Orang yang menganut teodise mempercayai bahwa allah yang mahakuasa, maha pengasih dan maha penyayang dan maha adil, akan senantiasa berbuat adil dan penuh cinta kepada kaum mukmin yang percaya total kepadanya. Bagi mereka, menyembah allah yang semacam ini akan menyebabkan mereka terhindar dari keburukan, nestapa, penderitaan dan bencana.

Tetapi... keyakinan mereka ini bertabrakan dengan kenyataan kehidupan yang mereka lihat di sekitar mereka dan di dalam kehidupan mereka sendiri. Ternyata ada banyak penderitaan dialami orang saleh. Malah orang jahat bertambah makmur dalam kehidupan mereka. Kenyataan kehidupan yang semacam ini membuat mereka bergumul, dan lahirlah dari pergumulan mereka ini apa yang disebut the theodicy problem, problem teodise: Bagaimana allah masih tetap bisa dipercayai sebagai allah yang maha pengasih dan penyayang, maha kuasa dan maha adil, sementara kenyataan kehidupan sangat bertentangan dengan apa yang mereka harapkan diberikan allah ini kepada dunia dan khususnya kepada orang-orang saleh.

Problem teodise hanya muncul dalam agama-agama monoteistik yang tidak memberi tempat kepada satu (atau lebih) hakikat adikodrati lainnya di samping allah yang maha esa dan maha kuasa. Konsep keesaan allah atau tawhid ini dipertahankan kuat-kuat ketika suatu umat beragama monoteistik tidak sedang menghadapi penganiayaan atau penderitaan berat yang ditimpakan oleh suatu pemerintahan dunia yang jahat dan kejam.

Tetapi konsep keesaan tuhan atau tawhid semacam ini diubah secara radikal ketika umat sedang menghadapi suatu penganiayaan dan deraan berat yang tak tertahankan, yang ditimpakan atas mereka oleh suatu pemerintahan lalim yang sedang berkuasa di dunia. Konsep keesaan allah atau tawhid ini, dalam situasi penderitaan berat semacam ini, diubah oleh umat minimal menjadi konsep diteisme dualistik kosmik. Dalam konsep ini dibayangkan ada suatu kekuatan lain adikodrati, di samping allah yang maha esa, yang sedang berkuasa di dalam dunia ini, yang sedang melawan allah yang maha esa. Dengan demikian, ada dua penguasa adikodrati dalam kosmos yang sedang bertarung satu sama lain, penguasa jahat melawan penguasa baik. Konsep ini disebut diteisme dualistik kosmik.

Berbagai umat beragama memberi nama berbeda-beda kepada penguasa adikodrati jahat lainnya ini yang sedang melawan tuhan yang maha kuasa. Umat agama-agama monoteistik umumnya memberi nama Setan atau Iblis kepada hakikat adikodrati tandingan allah yang maha kuasa ini. Umat Hindu memberinya nama Siva. Para penganut Zoroastrianisme memberinya nama Ahriman, yang terpersonifikasi sebagai Angra Mainyu, sang ilah jahat yang sedang melawan sang ilah baik yang diberi nama Spenta Mainyu (mediator allah yang maha kuasa, yang diberi nama Ahura Mazda). Dalam tradisi biblis Kristen, dikenal nama Antikristus sebagai sang penguasa jahat yang sedang melawan Yesus Kristus.

Nah, dengan diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik ini (bahwa di dalam kosmos atau jagat raya ini terdapat dua kekuatan adikodrati yang sedang bertarung satu sama lain) sebagian problem teodise dipecahkan. Ketika orang bertanya, mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, mengapa orang saleh dianiaya, sebuah jawaban sudah tersedia: penderitaan itu ada karena ada sang penguasa jahat di dalam kosmos ini yang menjadi sumber semua penderitaan manusia.

Jadi, penderitaan dan kesengsaraan timbul bukan karena perbuatan allah yang maha kuasa, maha kasih dan maha penyayang, melainkan karena perbuatan keji sang penguasa jahat tandingan allah yang maha baik. Dengan demikian, sifat maha baik dan maha kasih allah berhasil dipertahankan. Tetapi, pada pihak lainnya, muncul sebuah problem lain: jika memang ada satu (atau lebih) penguasa jahat dalam kosmos ini, yang bisa melawan dan menandingi allah, maka tawhid dan sifat maha kuasa allah terongrong bahkan ditiadakan. Ya, itulah memang akibat dari diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik. Masalah ini tentu sudah dipikirkan oleh para pencetus konsep diteisme dualistik kosmik ini. Mereka sudah memiliki jalan keluarnya.

Dalam keyakinan para pendukung diteisme dualistik kosmik, sang penguasa supernatural jahat itu hanya berkuasa sementara dalam dunia ini. Sang penguasa adikodrati yang kejam ini tidak dibiarkan allah yang maha kuasa dan maha baik untuk berkuasa selamanya dalam kosmos ini. Pada akhir zaman, ketika dunia dan sejarah manusia berakhir, sang penguasa jahat ini akan dikalahkan oleh allah yang maha kuasa dan maha baik dalam suatu pertempuran kosmik di kawasan adikodrati. Bukan hanya dikalahkan, tetapi juga sang penguasa jahat ini beserta segenap antek insaninya dalam dunia, akan mengalami pembalasan allah habis-habisan, minimal setimpal dengan kejahatan dan kekejian yang mereka pernah lakukan terhadap umat allah. Mereka akan dibelenggu, dirantai dan dipenjarakan dalam neraka kekal sampai selamanya. Pada sisi lain, suatu dunia baru diciptakan allah yang maha baik dan maha adil untuk umat yang pernah disengsarakan dan didera sang penguasa jahat dan antek-antek insaninya.

Para pengonsep diteisme dualistik kosmik berbeda pandangan ketika mereka membayangkan bentuk dunia baru ini. Ada yang membayangkan dunia baru ini berada di luar sejarah, di kawasan supernatural, dan sama sekali tidak ada kaitannya lagi dengan dunia lama. Pandangan ini paling umum dipegang.

Namun ada juga yang memandang dunia baru ini sebagai suatu kelanjutan dan penyempurnaan dunia lama di kawasan kodrati, dunia baru yang sudah dibersihkan dari segala kejahatan dan penderitaan yang pernah dilakukan dan didatangkan sang penguasa jahat yang kini sudah dikalahkan dan sedang dihukum selamanya di kawasan adikodrati.

Bagaimanapun juga, kedua sudut pandang ini sama-sama meyakini bahwa dunia yang sekarang didiami manusia sudah tidak bisa diharapkan lagi, sehingga harus diganti dengan dunia yang sempurna sepenuhnya, yang akan didatangkan allah yang maha kuasa dan maha pengasih.

Nah, semua konsep yang sudah diulas di atas disebut apokaliptisisme. Kata ini berasal dari kata Yunani “apokalipsis”, yang artinya “wahyu” atau “penyingkapan ilahi”. Disebut demikian karena semua hal yang akan terjadi di akhir zaman, mulai dari ihwal kapan akhir zaman tiba, ihwal dikalahkannya segala penguasa jahat di dalam suatu pertempuran kosmik sampai pada ihwal pembalasan allah dan kedatangan dunia baru, diketahui umat hanya lewat wahyu atau penyingkapan ilahi yang disampaikan oleh allah sendiri atau oleh seorang malaikat perantara kepada seorang nabi yang berasal dari antara umat.

Ya, apokaliptisisme bisa menyelesaikan problem teodise dengan memunculkan figur Setan atau Iblis atau Antikristus atau Ahriman atau Angra Mainyu sebagai biang keladi semua penderitaan dalam dunia ini, sambil tetap mempertahankan sifat maha adil dan maha baik allah, dan juga dengan memulihkan kembali kemahakuasaan allah pada akhir zaman. Tetapi sekian problem lainnya juga muncul, sebagai berikut.

Pertama, diteisme dualistik kosmik atau apokaliptisisme muncul dari pesimisme atau rasa putus asa manusia terhadap keadaan dunia masa kini. Menurut pandangan apokaliptis, dunia sekarang ini, karena sedang dikuasai Setan atau Iblis melalui antek-antek insaninya, sudah sedemikian jahat tak tertolong, sehingga harus dilenyapkan sama sekali dan diganti dengan suatu dunia baru di luar sejarah atau pun di dalam sejarah. Pesimisme atau rasa putus asa umat beragama semacam ini bertentangan dengan usaha sebagian besar umat manusia lainnya, yang terus bekerja dengan penuh pengharapan untuk membuat dunia kita sekarang ini makin lebih baik lagi dari waktu ke waktu melalui kerja keras dan kerja cerdas di dunia sains dan teknologi dan melalui berbagai usaha global lainnya untuk menjadikan planet Bumi ini tempat yang makin baik untuk semua makhluk hidup.

Kedua, apokaliptisisme mendambakan dan menjanjikan suatu kehidupan yang seluruhnya adil, baik dan sempurna bagi manusia, entah kehidupan semacam ini dialami dalam dunia ini ataupun akan dialami nanti ketika akhir zaman tiba. Jelas, ini adalah suatu visi yang utopis dan tidak realistik. Dunia yang sempurna semacam ini tidak akan pernah ada bagi manusia kapanpun juga. Dalam realitas kehidupan, kapanpun juga manusia tetap akan hidup dalam kenyataan-kenyataan gabungan antara kebaikan dan kejahatan, keberhasilan dan kegagalan, suka dan duka, cinta dan kebencian, dan seterusnya. Kenyataan-kenyataan gabungan ini adalah kenyataan-kenyataan kodrati, yang terstruktur dalam tata kosmik, dan akan tetap ada sampai selamanya. Ketimbang terhanyut dalam suatu visi eskapisme yang utopis dan tidak realistik, jauh lebih baik jika kita membina diri kita dan diri manusia umumnya untuk dapat hidup dengan lebih baik, lebih berhasil, lebih bersukacita dan lebih menyayangi, dari saat ke saat, sambil tetap tabah ketika menghadapi kenyataan-kenyataan lain yang membuat manusia menderita.

Ketiga, apokaliptisisme mendorong kaum mukmin untuk cepat-cepat masuk ke dalam suatu dunia sempurna yang didalamnya Iblis atau Setan atau Antikristus sudah tidak ada atau sudah dikalahkan total, karena mereka sudah tidak tahan hidup dalam dunia sekarang ini, yang tidak memenuhi visi ideologis atau angan-angan utopis religius mereka sendiri. Dorongan ini, kita tahu, banyak kali memunculkan tindakan-tindakan kekerasan seperti terorisme yang bertujuan, pada titik ekstrimnya, untuk melalui perang nuklir sejagat melenyapkan planet Bumi ini yang mereka bayangkan sedang dikuasai si Setan Besar Amerika Serikat atau si Setan Besar Arab Saudi, misalnya.

Keempat, apokaliptisisme sebetulnya mengajarkan kaum mukmin untuk terus membenci orang-orang lain yang menyengsarakan mereka, dan terus menyumpahi mereka untuk segera mati dan masuk neraka sebagai bentuk penghukuman allah atas mereka yang seadil-adilnya. Tentu kita bisa memaklumi kalau orang tidak bisa menyetujui atau membenci orang-orang yang berlaku jahat kepada mereka. Kita juga bisa memahami kalau orang menginginkan orang jahat dihukum seberat-beratnya demi keadilan dan demi menimbulkan efek jera pada semua kriminal. Tetapi, suatu ajaran agama yang terus-menerus membuahkan kebencian dan amarah dalam diri kaum mukmin bukanlah ajaran agama yang baik dan sehat, apalagi jika ajaran agama ini membentuk kaum mukmin untuk baru terpuaskan jika dendam mereka kepada orang lain terbalaskan di akhirat, yakni ketika orang jahat dimasukkan ke dalam neraka dan mereka, sebagai orang baik, dimasukkan ke dalam surga.

Bukankah ajaran agama yang baik dan sehat adalah ajaran yang membentuk kaum mukmin untuk bisa memaafkan orang-orang yang bersalah sekalipun orang-orang yang bersalah ini telah berlaku sangat jahat terhadap mereka? Selain itu, hati yang terus diisi dengan amarah dan dendam dan sumpah akan membuat manusia tidak pernah bisa hidup sejahtera di dalam dunia ini, dan malah sebaliknya akan membuatnya sakit jiwa dan sakit pikiran terus-menerus.

Kelima, para penganut apokaliptisisme melihat Setan atau Iblis, sebagai makhluk rohani yang tidak kasat mata, sebagai sumber semua kejahatan dan penderitaan manusia. Sudut pandang semacam ini membuat mereka gagal atau tidak mau melihat bahwa semua penderitaan dalam dunia ini dapat dicari sebab-sebabnya pada hal-hal duniawi, kodrati dan manusiawi, misalnya karena cara hidup yang salah, karena kondisi alam yang buruk, karena bencana alam, atau karena sistem keamanan masyarakat yang tidak dapat diandalkan, atau karena sistem hukum dan sistem ekonomi serta sistem politik yang tidak baik dan tidak adil dalam suatu negara. Apokaliptisisme mencari keselamatan di dalam dunia yang kiamat, bukan di dalam dunia sekarang ini, yang di dalamnya semua sistem penyelenggara kehidupan perlu diperbaiki sehingga menjadi lebih baik bagi semua orang.

Terakhir, keenam, apokaliptisisme menjanjikan penyelesaian suatu perkara kejahatan duniawi di luar sejarah dan di luar dunia yang belum tentu akan pernah ada. Karena terus-menerus menunggu akhir zaman yang diberitakan akan segera terjadi, namun dalam kenyataannya tidak pernah terjadi, kaum mukmin yang dibesarkan dalam pemikiran apokaliptisisme menjadi lupa bahwa sebetulnya penyelesaian atas masalah kejahatan dan penderitaan dalam dunia ini dapat diperoleh dalam dunia ini sekarang ini dengan adil, misalnya melalui pengadilan negara atau pengadilan internasional yang sekarang ini berpusat di Den Haag, Belanda. Apokaliptisisme lahir dalam zaman kuno ketika sistem hukum internasional belum ada, lembaga pengadilan internasional atas kejahatan kemanusiaan di aras global belum dibangun, dan PBB belum didirikan, ketika ada sangat banyak penyakit yang belum dapat diobati, ketika sains dan teknologi belum semaju sekarang ini yang telah terbukti banyak membantu manusia dalam meringankan atau malah mengalahkan penderitaan.

Wednesday, March 10, 2010

Manajemen Pikiran (8)

human brain as belief engine

Dalam tulisan tentang manajemen pikiran ini, baiklah perhatian kita arahkan pada dua orang tua zaman dulu yang umumnya sudah kita kenal, yakni Eleazar dan Sokrates. Dari keduanya kita dapat menarik pelajaran bagaimana kita dapat bertahan dengan kesatria ketika kita menghadapi ancaman penderitaan dan kematian, melalui suatu manajemen pikiran.

Kita mulai dengan dua kitab yang ada dalam Deuterokanonika Gereja Katolik Roma, yakni kitab 2 dan 4 Makabe. Kitab 2 Makabe adalah sebuah dokumen martirologi Yahudi yang ditulis sekitar tahun 125 atau 124 SM, dengan mengambil Pemberontakan Makabe (167-142 SM) melawan raja lalim dari Siria, Antiokhus IV Epifanes, sebagai latar historisnya.

Dalam 2 Makabe 6:18-7:42, dan juga dalam 4 Makabe 5-18, dikisahkan tentang ke
gigihan seorang tua bijaksana dari kalangan imamat yang bernama Eleazar dan tujuh lelaki bersaudara bersama ibu mereka yang sudah tua dalam melawan sang raja yang sedang melancarkan helenisasi besar-besaran terhadap bangsa Yahudi dan agama serta kebudayaan mereka. Sang raja lalim ini ingin memaksa orang Yahudi meninggalkan kesetiaan mereka terhadap Taurat Yahudi, dan mengadopsi kebudayaan dan gaya hidup Yunani, antara lain ikut makan daging babi dan segala persembahan yang telah diberikan kepada berhala-berhala Yunani serta menyembah sujud pada patung Dewa Dyonisus atau Zeus. Jika mereka melawan kemauan sang raja, mereka akan disiksa dengan sangat kejam sampai mati.

Pada kesempatan ini baik kalau kita mengetahui apa sebabnya Eleazar (90 tahun) dapat dengan gigih sampai akhir hayatnya, di hari tuanya, melawan Antiokhus IV Epifanes. Filosofi apa yang dia pegang sehingga dia begitu tangguh? Bagaimana dia me-manage pikirannya sendiri?

Dalam 2 Makabe 6:18-7:42, Eleazar dengan sangat mengesankan memberi penjelasan tentang keputusannya untuk menerima kematian sebagai akibat perlawanannya yang gigih terhadap kemauan raja lalim itu (6:23-28). Keputusan Eleazar ini disebut sebagai suatu
logismos asteios atau nalar kesatria (6:23); dan dalam 4 Makabe (1:1; 6:31; 7:4, 16, 21; 13:1; 16:1; 18:1) keputusan ini diistilahkan sebagai eusebēs logismos atau nalar saleh. Ditegaskan di situ bahwa nalar semacam ini harus mengatur dan mengendalikan baik emosi maupun penderitaan fisik dan keadaan sekarat, sebab, seperti ditulis dalam 4 Makabe 13:3, nalar semacam inilah yang dipuji di hadapan Allah. Jadi, kita paham bahwa untuk mencapai suatu kehidupan yang gigih di tengah penderitaan, nalar atau logismos harus memegang kendali terhadap emosi, rasa takut dan kecengengan manusia.

Bukan kebetulan juga kalau penulis 2 Makkabe menyejajarkan Eleazar dengan Sokrates (70 tahun) yang juga dengan kesatria menerima kematian dengan meminum racun sebagai hukuman baginya yang ditetapkan pengadilan negara yang digelar di Atena pada tahun 399 SM. Sejumlah pakar melihat ada kesejajaran yang disengaja dalam 2 Makabe 6:18-31 antara Sokrates dan Eleazar. Menurut
Jonathan A Goldstein, Tidak ada orang Yunani terpelajar yang akan luput memperhatikan keserupaan antara Eleazar dan Sokrates.”

Dua hero ini, Sokrates dan Eleazar, keduanya sudah gaek, dan mereka memandang sisa kehidupan mereka dapat dengan mudah diambil dari mereka (Apologi 38c; 2 Makabe 6:18, 23-25). Karena itu, rasa takut terhadap kematian tidak dapat membuat mereka menyangkali pendapat dan tindakan mereka (Apologi 28b-d). Sikap mereka ini sejalan dengan sikap mereka dalam kehidupan mereka sebelumnya, sehingga kalau mereka menolak melawan kelaliman akan tampaklah bahwa mereka mengkhianati diri mereka sendiri (Apologi 28d-30c, 34b-35b; 2 Makabe 6:22). Karena itu keduanya menolak alternatif
yang lebih mudah ketika mereka berhadapan dengan ancaman hukuman mati (Apologi 36b-38b; Krito; 2 Makabe 6:21-28). Keduanya berpandangan bahwa adalah lebih baik jika mereka pergi ke dunia orang mati demi membela hukum (Krito 54b-d; 2 Makabe 6:23). Keduanya berpendapat bahwa meskipun orang dapat luput dari penghukuman oleh manusia, orang tidak dapat luput dari penghukuman ilahi atas perbuatan tidak adil dan jahat yang dilakukannya (Apologi 39a-b; 2 Makabe 6:26). Baik Sokrates maupun Eleazar percaya penuh pada hakim-hakim adikodrati yang akan mereka temui setelah kematian (Apologi 41a; 2 Makabe 6:26). Orang-orang lalim yang mengendalikan nasib mereka merasa diserang oleh pembelaan diri keduanya lalu menjatuhkan hukuman mati bagi keduanya (Apologi 38c; 2 Makabe 6:29), dan kematian mereka dimaksudkan oleh keduanya sebagai peringatan dan contoh agung bagi orang lain, baik pada masa kehidupan mereka maupun bagi generasi selanjutnya (Faedo 118; 2 Makabe 6:31).

Itulah sekelumit filosofi Eleazar dan Sokrates, yang lebih memilih hidup berprinsip daripada menyerah pada kelaliman karena rasa takut pada kematian. Nalar yang benar membuat orang tidak takut menghadapi penderitaan dan kematian. Dengan me-manage pikiran kita, kita dapat menempatkan nalar di atas emosi, rasa takut dan kecengengan manusia, sehingga nalar memegang kendali dan, dengan demikian, kita sanggup berperilaku kesatria ketika sedang menghadapi suatu situasi yang dapat membuat kita pengecut dan ketakutan. Nalar kesatria semacam ini hanya ada pada orang-orang besar pembuat sejarah, bukan pada para pelaku terorisme yang ingin mengakhiri sejarah dunia dengan jalan kekerasan.

Friday, February 26, 2010

Manajemen Pikiran (7)

merpati putih, sebuah simbol kesucian

Orang beragama umumnya berpendapat bahwa mereka harus hidup suci sepenuhnya di dalam dunia ini. Dalam keyakinan mereka, mereka harus hidup suci seratus persen di dunia ini supaya nanti menerima pahala surga di alam baka setelah kematian. Atau, mereka mau menjalani suatu kehidupan tak bercacat secara moral di dunia ini karena mereka mau menyenangkan tuhan mereka atau mau menghormati perintah-perintah dan ajaran-ajaran sang nabi junjungan mereka yang dulu telah mendirikan agama yang mereka anut sekarang. Bisa juga, mereka mau menjalani kehidupan tanpa noda dan tanpa kesalahan karena kehidupan semacam ini menjadi suatu citra kehidupan ideal yang serius dikejar untuk dicapai oleh setiap mukmin yang menganut agama yang mereka anut, atau karena mereka ingin menjadi bagian dari kelompok elitis para santo dan santa yang disembah dalam agama mereka.

Tentu keinginan orang beragama untuk menjalani suatu kehidupan yang sepenuhnya suci di dalam dunia ini karena alasan-alasan di atas patut dihargai dan dihormati oleh siapapun. Tetapi, masalahnya adalah ketika seorang beragama manapun yang memiliki cita-cita moral tinggi untuk hidup suci seratus persen dalam dunia ini mendapati dirinya gagal hidup suci sepenuhnya, orang ini bisa tidak mau mengampuni dirinya sendiri dan bisa terus-menerus mempersalahkan dirinya sendiri. Para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa orang yang terus-menerus mempersalahkan dirinya sendiri akan menjadi orang yang tidak pernah bisa berbahagia selama kehidupannya, dan akan menjadi orang yang tidak bisa menghasilkan hal-hal yang baik apapun baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakatnya. Bahkan jika perasaan bersalah ini dibiarkan menumpuk dan akhirnya mendera batin dan pikiran orang ini dengan sangat kuat, orang ini akan bisa sakit jiwa.

Dampak negatif dan menghancurkan semacam ini, yang bisa menimpa seseorang yang memiliki cita-cita moral tinggi untuk menjadi seorang manusia suci sempurna dalam dunia ini, dapat dihindari jika orang ini mau berpikir bahwa hidup suci seratus persen, dengan tanpa cacat moral, adalah sesuatu yang mustahil diwujudkan dan memang tidak diperlukan terjadi. Mengapa demikian? Minimal ada dua alasan.

Pertama, kriteria suci atau tidak sucinya suatu tindakan moral itu relatif, sangat bergantung pada nilai religius dan nilai budaya yang dianut, zaman kehidupan si penganut dan konteks sosial kehidupannya. Agama dan budaya yang berbeda, zaman yang berganti, konteks sosial kehidupan yang berubah, akan menyebabkan kriteria suci dan tidak sucinya suatu perbuatan bergeser, berubah dan berganti. Etika dan moralitas itu selalu kontekstual. “Lain lubuk, lain ikannya”, itu kata peribahasa. Dan juga, “Di mana kita berdiri, di situ langit dijunjung.” Di era globalisasi sekarang ini, dengan ancaman-ancaman global yang harus dihadapi bersama oleh seluruh penduduk dunia, orang di mana-mana mengupayakan dicapainya suatu kesepakatan global mengenai nilai-nilai etis moral yang perlu dipertahankan dan diwujudkan oleh umat manusia sedunia. Kendatipun demikian, nyatanya globalisasi sekarang ini menimbulkan banyak reaksi dan perlawanan dari masyarakat lokal, berupa makin menguatnya nilai-nilai religius dan budaya lokal.

Kedua, manusia itu sejak dulu, beragama atau tidak beragama, selalu harus belajar ketika mau mencapai kemajuan. Ketika manusia belajar, manusia harus melakukan uji coba ini dan itu. Ketika melakukan uji coba, manusia kerap mengalami kegagalan. Nah, dari kegagalan ini, manusia dapat belajar sesuatu yang berharga untuk dia dapat melangkah lebih jauh dengan lebih arif dan dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Jadi, kesalahan atau kegagalan adalah juga guru yang baik bagi manusia yang mau terus belajar dan berkembang.

Melalui kesalahan moral yang direnungkan, manusia belajar sesuatu dan ini akan bisa membuatnya maju lebih jauh lagi dalam prestasi moralnya. Begitu juga, melalui percobaan ilmiah yang gagal, manusia juga bisa melangkah lebih maju lagi dalam pengembangan teori sains dan teknologi ketika kegagalan percobaan ini dipelajari lebih lanjut dengan saksama.

Jadi, kegagalan moral untuk hidup suci atau kegagalan percobaan di bidang sains dan teknologi adalah pengalaman-pengalaman berharga yang perlu diterima dengan lega, wajar dan terbuka oleh manusia yang mau belajar. Kesalahan dan kegagalan ini harus dijadikan sebagai sebuah pelajaran untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia, berapapun besarnya ongkos yang harus dibayar untuknya.

Jadi perlu ditegaskan bahwa orang yang berpikir benar dan terbuka pada kehidupan akan melihat setiap kegagalan sebagai bagian yang wajar dari kehidupannya dan malah sebagai sesuatu yang edukatif, dan karenanya orang itu tidak akan menangisi kegagalannya dalam rasa sesal yang tidak pernah berakhir. Jika demikian halnya, demi kesehatan jiwanya, orang beragama apapun tidak perlu bercita-cita untuk menjadi tokoh moral teragung tanpa noda di antara umatnya, melainkan perlu bersedia sepenuh hati untuk terus belajar baik dari keberhasilannya maupun dari kegagalannya, dan lewat proses pembelajaran ini dapat menjadi manusia yang semakin bijak dan dewasa dalam berpikir dan bertindak. Insan kamil adalah manusia yang dengan rendah hati mau terus belajar.

Saturday, February 13, 2010

Dua Bahaya dalam Menafsir Yesus dari Nazaret

Ada minimal dua bahaya yang harus disadari dan dihindari ketika orang mau menafsir Yesus dan menjalankan hermeneutik.

Pertama, bahaya mengfungsikan sebuah mesin tik manual produksi kota Nazaret abad I sebagai sebuah mesin komputer pribadi (PC) mutakhir abad XXI made in Microsoft. Maksud metafora ini: alam pemikiran kuno yang sudah sangat ketinggalan zaman, alam pemikiran pra-modern dan pra-ilmiah, dipindahkan begitu saja ke zaman modern abad XXI dan dipakai untuk kehidupan manusia dalam zaman modern ini. Ya, hasilnya adalah sesosok Yesus berpakaian Superman yang tampak bingung dan stres, dengan rambut awut-awutan; atau sesosok Yesus yang berubah wajah menjadi berwajah Bill Gates tetapi memakai jubah lusuh abad pertama dan kasut kuno buatan Kapernaum yang sudah rusak; atau sesosok Yesus yang terkesima dan bingung ketika berada di dalam suatu kereta listrik modern.

Kedua, bahaya membawa sebuah PC mutakhir abad XXI ke kota kecil Nazaret zaman Yesus dan di kota ini mesin komputer modern ini dipaksa dipakai kendatipun listrik belum ada. Maksud metafora ini: alam pemikiran modern dipaksakan diterima oleh Yesus yang sedang memancing ikan di Danau Genesaret di Galilea. Hasilnya adalah Yesus berpikir bahwa kotak CPU adalah tabut Allah yang ada dalam bait allah; atau, Bill Gates-nya menjadi sangat bingung ngapain dia berada di Nazaret, berjas necis, bersepatu Clarks, datang jauh-jauh dengan memakai mesin waktu ke negeri Yesus dengan membawa seperangkat PC modern.

Untuk menghindari kedua bahaya ini (yang juga disebut sebagai bahaya anakronisme pemikiran), ya tidak ada jalan lain selain si penafsir modern, pertama, menjelma menjadi seorang manusia Yahudi abad pertama yang diam di Nazaret dan sedekat mungkin hidup seperti Yesus dan murid-muridnya. Untuk bisa menjelma seperti ini, si penafsir harus memakai antropologi budaya, sosiologi, arkeologi Galilea, ilmu sejarah, dan kritik sastra, sebagai “mesin waktu” yang membawanya masuk ke dunia Yesus abad pertama.

Lalu, sebagai langkah kedua, ketika si penafsir sudah balik kembali ke abad XXI, zamannya sendiri, dia harus bersikap kritis dan kreatif terhadap segala hal yang dia telah temukan selama dia menjelma sebagai seorang Yahudi abad pertama. Dia harus memperhadapkan hasil temuannya tentang dunia Yahudi abad pertama dengan sains modern, nilai-nilai modern serta pengalaman kehidupan modern dan bertanya apakah temuannya itu relevan atau tidak relevan dengan kehidupan modern. Jika dia menemukan relevan, ya temuannya ini dapat dipakai; jika dia mendapati tidak relevan, ya temuannya harus disingkirkan, di tempatkan di museum.

Dua langkah inilah yang disebut sebagai hermeneutik.



Friday, February 5, 2010

Sains dan Agama, atau Sains versus Agama?

Science Versus Religion

(Tulisan ini telah terbit di Koran Tempo, Jumat, 5 Februari 2010; klik di sini untuk melihatnya)

Agama mengasalkan segala sesuatu dalam alam ini pada satu (atau lebih) figur adikodrati yang oleh orang beragama di Indonesia dinamakan “tuhan” atau “allah” atau “dewa” yang tidak kelihatan. Figur ini dibayangkan berdiam di kawasan adikodrati yang dinamakan surga, langit, atau kayangan, dan dipercaya kerap berintervensi ke dalam alam (nature) dengan melanggar hukum alam (the laws of nature, atau natural laws), dan menghasilkan apa yang dinamakan mukjizat.

Sains sebaliknya mengasalkan segala sesuatu dalam alam ini pada diri alam itu sendiri. Sains menolak keberadaan dunia adikodrati (supernatural world) dan hanya menerima keberadaan dunia kodrati (natural world). Sains menjelaskan segala sesuatu berdasarkan hukum sebab-akibat alamiah yang bisa diobservasi, diselidiki, dijelaskan dengan rasional dan sistematis, serta diperlihatkan dengan empiris dan obyektif. Sains memandang hukum alam sebagai hukum yang abadi dan kerja hukum alam ini dipandang tidak bisa diintervensi secara alamiah oleh makhluk apa pun. Teknologi tidak bisa membatalkan hukum alam, sebab teknologi dibangun dengan mengikuti kerja hukum alam dan banyak di antaranya ditemukan karena manusia mau belajar dari alam dan hukum-hukumnya. Teknologi rekayasa genetik yang sekarang sudah dioperasikan juga tidak melanggar hukum alam.

Agama dibangun di atas sebuah (atau lebih) dogma keagamaan yang diformulasikan bukan dengan cara ilmiah, melainkan berdasarkan kepercayaan atau iman saja. Isi iman keagamaan tidak bisa dibuktikan secara empiris obyektif tetapi diterima begitu saja sebagai kebenaran. Jika seseorang ingin diterima ke dalam suatu komunitas keagamaan, orang ini harus bersedia memutuskan dalam dirinya sendiri (keputusan subyektif) bahwa apa yang diajarkan dan dipegang komunitas ini sebagai dogma adalah suatu kebenaran, tanpa boleh mempertanyakannya.

Sains sebaliknya tidak bekerja berdasarkan suatu dogma keagamaan apa pun, melainkan berdasarkan postulat-postulat atau teori-teori yang dibangun secara rasional dan dilahirkan dari sekian upaya observasi, penelitian, sistematisasi, pembuktian, dan uji coba yang empiris. Observasi dan uji coba ini terus-menerus berlangsung sehingga suatu teori atau suatu postulat bisa digugurkan, lalu akan disusun teori dan postulat baru, demikian seterusnya. Kebenaran sains harus obyektif, tidak bisa subyektif menurut selera si ilmuwan, terlepas dari bukti empiris.

Agama tidak memerlukan laboratorium uji coba, observasi, dan eksperimentasi, karena agama dibangun hanya berdasarkan kepercayaan pada wahyu ilahi yang dulu diterima dan disebarkan si pendiri agama. Wahyu ini hanya tinggal diterima oleh umat dengan kepercayaan penuh sebagai sesuatu yang otoritatif untuk seluruh bidang kehidupan. Dari wahyu primordial ini diturunkanlah berbagai akidah keagamaan yang harus dipercaya dan ritual religius yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari umat.

Sains sebaliknya memerlukan laboratorium untuk observasi, penyelidikan, uji coba, dan eksperimentasi. Kepercayaan membuta tidak mendapat tempat dalam pengembangan sains. Sains modern sudah sangat terspesifikasi sehingga tidak ada satu cabang ilmu modern pun yang dapat mengklaim bisa menjelaskan atau berkuasa atas seluruh bidang kehidupan. Para ilmuwan modern sekarang harus bisa bekerja secara interdisipliner dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dan membangun peradaban.

Agama tidak memberi tempat kepada keraguan terhadap dogma-dogma yang dibangun dalam sejarah umat dan khususnya terhadap wahyu ilahi yang diterima sang pendiri agama dulu, yang dipercaya terekam dalam Kitab Suci. Jika seorang anggota suatu komunitas keagamaan ragu terhadap otoritas wahyu ilahi atau suatu dogma keagamaan, orang ini akhirnya akan dinyatakan sebagai bidah, lalu diekskomunikasi. Dialog dengan para bidah sama sekali tidak dimungkinkan.

Sains sebaliknya justru bisa dikembangkan dari waktu ke waktu, karena sains menerima dan mendialogkan dengan serius keraguan terhadap teori-teori atau postulat-postulat yang sudah diterima secara luas sebelumnya (received theories). Keraguan ini tentu saja harus dibeberkan secara ilmiah sebelum dibahas. Dalam sains, keraguan adalah ibu kandung temuan-temuan keilmuan baru.

Agama kuat berorientasi ke masa lalu karena umat beragama percaya bahwa, ketika agama mereka dibangun dan disebarkan oleh sang pendiri beserta para murid perdananya dulu, segala sesuatu yang diperlukan untuk membimbing kehidupan sudah diwahyukan atau digariskan. Keraguan terhadap zaman keemasan agama di masa lalu dan terhadap pandangan-pandangan yang dilahirkan di dalamnya dipandang sebagai bahaya dan karena itu harus diberantas.

Sains sebaliknya berorientasi ke masa depan, dengan terus-menerus mengkaji teori-teori dan postulat-postulat lama untuk digantikan dengan teori-teori dan postulat-postulat baru yang dilihat akan lebih dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini. Ketidaktepatan suatu teori atau postulat sains adalah sesuatu yang diterima dengan wajar dan malah mendorong upaya ilmiah untuk menemukan teori dan postulat baru.

Agama memerlukan suatu figur tunggal karismatis yang tidak boleh digugat dan yang dipercaya memiliki akses langsung ke rahasia-rahasia ilahi yang diungkapkan oleh suatu allah hanya kepadanya. Melawan sang tokoh karismatis ini sama dengan melawan allah, dan akibatnya si pelawan akan terkena kutuk dan penghukuman ilahi.

Sains sebaliknya menolak satu figur tunggal karismatis yang tidak bisa digugat. Sains malah mengundang semua orang tanpa pilih bulu untuk menyumbangkan pandangan-pandangan ilmiah mereka, jika mereka mampu dan qualified, demi pengembangan sains dan kebaikan umat manusia. Sains tidak boleh merahasiakan sesuatu, melainkan justru harus menyibak semua rahasia alam dan membuka rahasia-rahasia ini kepada publik untuk diketahui dan dijadikan pengetahuan bersama. Inilah public ethics dan public responsibility dari setiap ilmuwan.

Ketika para agamawan menemukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sains modern dan tertinggal sebagai “gaps” dalam dunia sains, mereka akan langsung mengisi “gaps” ini dengan suatu figur adikodrati yang dinamakan allah (god). God para agamawan ini dikenal sebagai “god of the gaps” yang tidak disukai para saintis.

Sebaliknya, jika para ilmuwan menemukan sesuatu yang tidak dapat mereka jelaskan menurut perspektif sains sekarang, sehingga ada “missing links” atau “gaps” dalam rantai atau bingkai ilmu pengetahuan mereka, mereka tidak akan pernah menunjuk suatu oknum adikodrati yang dinamakan allah sebagai pengisi links atau gaps ini. Mereka hanya akan menyatakan bahwa mereka belum bisa mengisi missing links atau gaps ini sekarang, dan membiarkannya untuk suatu saat dapat dijelaskan oleh sains. Inilah posisi para ilmuwan ketika berhadapan dengan fenomena alam yang disebut para agamawan sebagai mukjizat.

Nah, dalam zaman penjelajahan ruang angkasa sekarang ini, jika agama masih mau berfungsi dengan bermakna dan signifikan, agama harus bisa menyesuaikan diri dengan sifat-sifat sains. Menjadi agama yang rasional.



Sunday, January 24, 2010

Penutup: Kekristenan Tanpa Soteriologi Salib!

Kekejian yang mendatangkan keselamatan?

Setiap orang Kristen yang telah berani membaca habis 10 postings tentang Masalah-masalah Dalam Soteriologi Salib dalam blog ini (yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam [Januari 2010]) pasti akan bertanya: Jika soteriologi salib sebagai inti terpenting dari semua doktrin Kristen telah digugurkan, masih adakah sesuatu lain yang tersisa, yang masih dapat dipegang, untuk seseorang tetap Kristen? Atau orang dapat mengajukan sebuah pertanyaan lain: Apakah si penulis buku ini masih dapat tetap disebut Kristen, masih tetap dapat disebut “orang dalam”, kalau dia berpendapat dan percaya bahwa semua yang ditulisnya ini benar?

Kedua pertanyaan ini, pada satu sisi, mempersoalkan apakah yang disajikan dalam buku ini benar sehingga tidak ada sesuatu apa pun dalam soteriologi salib yang masih bisa diselamatkan. Bagi saya sebagai penulis buku ini, semua yang sudah ditulis dalam buku ini tentu saja benar dalam segala segi yang sejauh ini dapat saya perhitungkan. Tetapi, jawaban tuntas terhadap hal yang dipersoalkan ini ditemukan tentu saja jika seorang lain mau menulis sebuah buku tandingan yang isinya secara rasional, cerdas dan autentik mengggugurkan semua argumen rasional, etis teologis, historis, sosiokultural, sosiobiologis dan antropologis, yang saya pakai dalam membedah dan menggugurkan soteriologi salib.

Saya tentu akan sangat berterima kasih kepada orang yang, melalui argumen-argumen yang cerdas dan rasional, mampu membuat saya kembali menerima dan memercayai validitas dan makna serta signifikansi soteriologi salib. Tetapi saya tidak optimis bahwa saya akan bisa dikembalikan untuk memercayai dan menganut kembali soteriologi salib; sebab setiap sanggahan terhadap isi buku ini akan pasti saya sanggah lagi dengan autentik dan rasional. Saya percaya, dengan autentisitas dan rasio orang bisa berjumpa dengan yang transenden, jauh melampaui apa yang dapat diberikan oleh dogma keagamaan apa pun.

Saya tentu saja mengantisipasi bahwa akan ada orang Kristen yang akan menyatakan atau bersaksi secara emosional bahwa sekalipun secara rasional soteriologi salib telah digugurkan dalam segala seginya, dia tetap bisa memegang dan percaya penuh kepada soteriologi ini sebab soteriologi ini selama ini dan juga kini membuat hatinya tenteram dan bahagia. Jika ini posisi yang diambil orang ini, suatu posisi yang sama sekali tidak menghargai kemampuan dan kebenaran penalaran manusia, biarlah dia tetap terus memegangnya, dan tetap terus mencampakkan akal budinya dan tetap menjadi orang yang terbelah kepribadiannya. Bagi saya sendiri, bagaimana hati bisa tenteram menerima sesuatu yang kebenarannya telah ditolak oleh akal budi? Bagi saya sendiri, mengapa hati harus menjadi musuh akal budi atau sebaliknya? Bukankah, seperti Yesus dalam kitab-kitab injil katakan, beragama dengan autentik adalah beragama dengan segenap rasio dan hati sekaligus?

Pada sisi lain, dua pertanyaan pada alinea pertama di atas mengungkapkan suatu kegelisahan eksistensial mendalam orang Kristen: Apakah masih ada sesuatu yang berharga dalam kekristenan yang sekarang mereka kenal jika soteriologi salib tidak dipakai lagi karena tidak valid dalam banyak segi? Apakah masih bisa tetap Kristen jika soteriologi salib ditolak? Apakah masih bisa menjadi pengikut Yesus Kristus jika kematiannya di kayu salib dipandang tidak mendatangkan keselamatan, tidak bersignifikansi dan berefek soteriologis? Kegelisahan eksistensial ini tentu saja saya harus perhatikan dengan sungguh-sungguh, dan sebisa mungkin saya perlu memberi respons yang pas.

Dalam bab keempat buku ini (berjudul Jalan Buntu dan Jalan Alternatif), saya sudah menyebut suatu bentuk religiositas yang dihayati oleh sebuah komunitas Yahudi-Kristen yang ada di Syria (dengan Antiokhia sebagai ibu kotanya) pada pertengahan abad pertama Masehi yang secara bertahap (dari tahun 30 sampai tahun 120) menghasilkan Injil Tomas. Pada awalnya, sebelum komunitas Yahudi-Kristen ini mendapat pengaruh doktrinal dari kekristenan yang berkembang di sebelah barat kawasan Yunani-Romawi (kekristenan Barat), mereka tidak memandang kematian Yesus sebagai sesuatu yang sentral dalam sistem kepercayaan mereka, apalagi sampai bermakna dan berefek soteriologis “mendamaikan” (atoning) seperti diajarkan dan dipercayai kekristenan Barat. Komunitas Yahudi-Kristen Syria yang bercorak mistikal ini memberi signifikansi soteriologis bukan pada kematian Yesus, tetapi pada kata-kata atau ucapan-ucapan Yesus, yang jika direnungkan dalam-dalam dan ditemukan maknanya akan memberi kehidupan. Yang mereka tawarkan bukan soteriologi doloris, tetapi soteriologi logosentris. Tawaran ini tentu harus dipertimbangkan dengan serius oleh orang Kristen pada masa kini.

Nah, selain dalam Injil Tomas yang berisi sejumlah penting ucapan autentik Yesus, bukankah gereja juga memiliki kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru yang berisi banyak ucapan Yesus? Para pakar yang menyelidiki ucapan-ucapan Yesus, baik yang terdapat dalam Injil Tomas atau dalam tulisan-tulisan ekstrakanonikal lainnya, maupun yang terdapat dalam injil-injil Perjanjian Baru, khususnya dalam apa yang disebut sebagai sumber “Q” yang menjadi salah satu sumber besar bagi Matius dan Lukas ketika mereka menulis injil mereka masing-masing, telah dapat memilah-milah mana ucapan yang benar-benar autentik dari Yesus dan mana yang tidak autentik. Jadi, mengonstruksi soteriologi logosentris kini bukanlah hal yang sulit lagi. Soteriologi logosentris adalah sebuah alternatif berharga untuk seseorang dapat tetap menjadi Kristen, dengan menghayati kata-kata Yesus sebagai kata-kata yang membebaskan, meskipun dia telah melepaskan soteriologi salib yang bersifat doloris.

Dari sejumlah tulisan bapak-bapak gereja kekristenan Barat, kita dapat menghimpun sekian fragmen tulisan yang berasal dari tiga injil Yahudi-Kristen yang disusun komunitas-komunitas Yahudi-Kristen perdana pada awal hingga pertengahan abad kedua, yang berdiam di kawasan timur Sungai Yordan dan di banyak kawasan timur Syria. Ketiga injil Yahudi-Kristen ini adalah Injil Orang Ebion (aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, isinya kurang lebih sejajar dengan Injil Matius, namun tidak memiliki kisah kelahiran dan silsilah Yesus), Injil Orang Nazorean (aslinya ditulis dalam bahasa Aram, isinya kurang lebih sejajar dengan Injil Matius) dan Injil Orang Ibrani (aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, jenisnya serupa dengan Injil Yohanes).

Kekristenan Yahudi perdana ini, meskipun tidak dalam segala hal seragam, dapat kita sebut sebagai kekristenan Ebion (dari kata Ibrani ebyon = orang miskin) yang bersama-sama memegang dan mempertahankan sejumlah keyakinan religius dan praktik beragama. Komunitas-komunitas Ebion ini merupakan sisa-sisa dari suatu bentuk kekristenan Yahudi paling tua yang bermula di Yerusalem sebagai gereja induk, yang didirikan oleh Yakobus si Adil, saudara Yesus (lihat Markus 6:3; Galatia 1:19; Injil Orang Ibrani 9.4), bersama para rasul lainnya. Bagi kekristenan Ebion, saksi pertama kebangkitan Yesus bukanlah Petrus atau Maria Magdalena, melainkan Yakobus (Injil Orang Ibrani 9; bdk 1 Korintus 15:7) sebagai soko guru utama Gereja Induk Yerusalem (Galatia 2:9). Dokumen yang menjadi sumber terpenting untuk mengenal kekristenan Ebion ini, di samping tiga injil yang sudah disebut di atas, adalah Pseudo-Klementin (tahun 200 M).

Sebagaimana Gereja Induk Yerusalem ini menaati Hukum Taurat Yahudi dengan sangat ketat, kekristenan Ebion juga demikian. Mereka mempertahankan kuat-kuat monoteisme Yahudi. Mereka percaya pada Kitab Suci Ibrani (Tenakh) dan Hukum Taurat sebagai wahyu Allah sejauh Kitab Suci dan Hukum ini sudah dibersihkan dari “penyimpangan-penyimpangan” yang muncul dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa Israel sejak zaman Musa. Mereka beribadah pada hari Sabat, selain pada hari Minggu sebagai Hari Tuhan, dan mereka juga memelihara dan merayakan semua hari suci Yahudi, khususnya perayaan Paskah Yahudi setiap tahun. Kristologi yang mereka pegang berbeda dari kristologi yang umumnya dipegang kekristenan Barat. Mereka menolak doktrin tentang kelahiran perawan. Bagi mereka, Yesus adalah seorang manusia biasa, yang dilahirkan wajar dari seorang ayah dan seorang bunda insani. Yesus diangkat atau diadopsi menjadi Anak Allah pada waktu dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Kepercayaan kristologis semacam ini disebut adopsionisme. Yesus mereka pandang juga sebagai Nabi Sejati Allah yang ditugaskan bukan untuk mati di kayu salib untuk menghapus dosa dunia, melainkan untuk mengajar orang Israel untuk hidup benar sesuai dengan apa yang dituntut Tenakh atau Taurat Musa yang “asli” yang dulu telah diberikan kepada Musa di Gunung Sinai, yang sudah dibersihkan dari penyimpangan-penyimpangan yang ada di dalamnya, antara lain dari gambaran tentang Allah yang antropomorfis, dari semua pemakaian kata ganti majemuk orang pertama untuk Allah (“kita”, “kami”). Karena Bait Allah di Yerusalem telah dihancurkan pada tahun 70 M, komunitas Kristen Ebion memandang semua kultus pengurbanan di Bait Allah telah tidak berlaku lagi bagi mereka, bahkan mereka memandang semua ritus ini tidak termasuk bagian asli Hukum Musa.

Jadi, kekristenan Ebion adalah suatu bentuk kekristenan Yahudi perdana yang monoteistik murni, yang menghayati keselamatan sebagai sesuatu yang diperoleh melalui ketaatan total pada Taurat Musa. Bagi mereka, semua yang diajarkan oleh Rasul Paulus, yang membebaskan orang Kristen dari kewajiban melaksanakan Taurat Musa, adalah suatu pengkhianatan terhadap agama Yahudi; dan karenanya mereka sangat membenci rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini. Jadi sudahlah jelas, pada abad-abad pertama ada bentuk-bentuk kekristenan yang bisa dengan apik dan lancar mengintegrasikan panggilan untuk mengikut Yesus Kristus sebagai sang Mesias dengan panggilan untuk mengamalkan perintah-perintah Taurat Musa. Soteriologi salib bukanlah satu-satunya soteriologi Kristen.

Soteriologi nomosentris (= terpusat pada hukum Taurat) yang dihayati komunitas Yahudi-Kristen Ebion ini tentu tidak menarik hati orang Kristen pada umumnya, dulu maupun kini, yang sudah menyerahkan dirinya sepenuh-penuhnya pada soteriologi salib yang diwartakan Rasul Paulus, yang telah membebaskan orang Kristen dari tuntutan Hukum Taurat. Mereka biasanya menilai bahwa karena agama Kristen adalah “agama rakhmat” (religion of grace) yang menawarkan orang untuk menerima rakhmat ilahi melalui iman mereka, dan bukan “agama perbuatan” (religion of work), maka Hukum Taurat tidak berlaku lagi, sebab Hukum ini, jika diikuti, mengharuskan orang berkonsentrasi bukan pada rakhmat ilahi, melainkan pada setiap perbuatannya untuk menjaganya tetap selaras dengan semua tuntutan Taurat. Hemat saya, penilaian ini salah.

Dalam sistem kepercayaan Kristen yang dibangun para penulis Perjanjian Baru, perbuatan manusia atau ketaatan pada Taurat juga menentukan keselamatan manusia atau mencirikan apakah seseorang itu sudah berada di dalam kawasan keselamatan atau masih di luar kawasan keselamatan. Tentu pertama-tama saya menunjuk pada kekristenan Yakobus yang dibangun begitu Yesus wafat, yang telah memberikan kepada kita Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru, yang di dalamnya dengan kuat dikatakan bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya mati” (2:17), dan bahwa “iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (2:22), dan bahwa “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (2:24). Selain itu, meskipun Rasul Paulus sangat menekankan iman sebagai jalan untuk orang dibenarkan di hadapan Allah, sang Rasul ini juga menegaskan bahwa pada akhirnya setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah (Roma 2:6-8; 14:12; 2 Korintus 5:10; lihat juga Wahyu 22:12).

Selanjutnya, kita juga perlu memerhatikan kekristenan Yahudi lainnya, yang lahir di Mesir pada permulaan era Kristen, akhir tahun 40-an atau awal tahun 50-an abad pertama Masehi, ketika Kaisar Klaudius berkuasa (tahun 41-54). Catatan tertua tentang keberadaan kekristenan Yahudi di Mesir ini ditemukan dalam Kisah Para Rasul 18:24-25, yang menyebut seorang Yahudi yang bernama Apolos yang berasal dari Aleksandria di Mesir, yang telah datang ke Efesus. Ditulis di situ bahwa Apolos “sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci” dan “telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan” dan “dengan teliti mengajar tentang Yesus.” Dokumen-dokumen tua yang perlu diperhatikan untuk mengenal kekristenan ini adalah Pseudo- Klementin (khususnya Homilies I.9.1; II.4.1), Surat Barnabas, 2 Klemen, Injil Orang Ibrani, Injil Orang Mesir, Epistula Apostolorum, Orakulum Sybill, Testimoni Kebenaran (NHC 9,3), Apokalipsis Petrus.

Dalam tulisannya, Historia Ecclesiastica, Eusebius menyimpulkan bahwa kekristenan Yahudi di Mesir “tampaknya berasal dari orang-orang Yahudi dan mengikuti sebagian besar adat-istiadat Yahudi” (II.17.2-3). Kristologi Logos dikembangkan oleh komunitas Kristen Yahudi di Mesir ini; menurut kristologi ini sang Logos tetap sama, tak berubah, dalam bentuk apapun yang dipilihnya untuk dia menampilkan diri (lihat khususnya Epistula Apostolorum 13-14; 17, 28; bdk Orakulum Sybill 6.16-17). Yang penting untuk kita catat adalah bahwa kekristenan Yahudi di Mesir ini, di samping terfokus pada adat-istiadat Yahudi, juga menaruh perhatian besar pada kehidupan Yesus, khususnya pada ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Yesus serta kisah-kisah tentangnya, yang ditarik baik dari dokumen-dokumen kanonik maupun dari dokumen-dokumen apokrif. Perhatian pada kehidupan Yesus ini memenuhi teks keempat dokumen apokrif yang sudah disebut di atas: Epistula Apostolorum, Orakulum Sybill, Testimoni Kebenaran dan Apokalipsis Petrus. Dalam keempat dokumen ini, Rasul Paulus pada dasarnya ditolak; bahkan dalam Apokalipsis Petrus sang rasul diserang. Bahkan bagi penulis Apokalipsis Petrus, berita Rasul Paulus tentang “seorang yang mati”, maksudnya: Yesus Kristus yang disalibkan sebagai jalan mendamaikan Allah dengan manusia, adalah suatu “penyebaran berita yang menyesatkan.” Jelas, soteriologi salib ajaran Rasul Paulus tidak diterima oleh kekristenan Yahudi di Mesir ini.

Kalau soteriologi salib terpusat pada azab dan kematian Yesus, atau kita dapat menamakannya soteriologi nekrosentris, soteriologi yang terpusat pada kematian (nekros = mati), kita juga bisa mengembangkan suatu soteriologi yang terpusat pada kehidupan Yesus, soteriologi biosentris. Terpusat pada kehidupan Yesus juga berarti terpusat pada kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus. Jadi, baik komunitas Kristen-Yahudi yang melahirkan Injil Tomas maupun komunitas Yahudi-Kristen Mesir sama-sama menghayati suatu soteriologi biosentris. Kita tidak kekurangan bahan untuk membangun suatu soteriologi biosentris untuk menggantikan soteriologi doloris atau soteriologi nekrosentris.

Kalau kematian Yesus dilihat dari sudut pandang soteriologi biosentris, kematiannya ini sungguh jadi bermakna dan bersignifikansi lain: kematian Yesus adalah suatu peristiwa paradigmatis yang mulia, berharga dan layak ditanggung, karena merupakan suatu akibat atau risiko dari suatu kehidupan yang dijalani dan diisi dengan tindak kebajikan dan kerahiman ilahi, yang ditujukan kepada sesama manusia! Dengan memandang pada kehidupan dan kematian Yesus sebagai suatu model kejuangan, semua pejuang dan aktivis sosial dan HAM pada masa kini, yang memberikan kehidupan mereka bagi rakyat yang miskin dan tertindas, akan didorong untuk dengan rela dan berani terus-menerus membela rakyat sekalipun berisiko mati dibunuh. Melepaskan soteriologi salib yang doloris, tetapi juga terilhami dan terdorong oleh kematian Yesus untuk bertindak, bukanlah sesuatu yang tidak bisa dilakukan! Tanpa soteriologi salib seseorang masih bisa menjadi seorang Kristen yang tangguh, menjadi pengikut Yesus Kristus yang tidak takut terhadap risiko mati dibunuh di tengah perjuangannya.

Jadi, soteriologi salib yang dikonstruksi Rasul Paulus dan penulis-penulis Perjanjian Baru lainnya jelas bukanlah soteriologi tertua satu-satunya yang diwariskan komunitas-komunitas Kristen perdana kepada orang Kristen masa kini. Sudah diperlihatkan di atas, tersedia cukup soteriologi alternatif yang kalau dijalani dan dihayati dengan sungguh-sungguh, seseorang masih bisa tetap Kristen meskipun dia tidak lagi menganut soteriologi salib.

Bertolak dari Rasul Paulus, kita masih harus bergerak mundur lebih jauh ke murid-murid perdana Yesus dan bahkan kepada Yesus sendiri. Agama yang Yesus dan para muridnya hayati pasti bukanlah agama seperti yang dibangun Rasul Paulus dan para penulis Perjanjian Baru umumnya, melainkan agama Yahudi atau Yudaisme, persisnya Yudaisme yang disebut sebagai Yudaisme Bait Allah Kedua (second Temple Judaism), Yudaisme yang dianut ketika Bait Allah Kedua (Bait Allah Herodes Agung) belum dihancurkan pada tahun 70 abad pertama Masehi dalam Perang Yahudi I melawan Roma (66-73 M). Nah, penting bagi kita untuk mengetahui apa yang dimaksud dan dialami oleh mereka, Yesus dan para murid perdananya, sebagai keselamatan, dalam konteks religio-kultural Yudaisme ini. Soteriologi jenis apa yang mereka anut dan hayati, yang mereka dapat ambil dan olah dari sistem kepercayaan Yudaisme ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sepenuhnya, perlu dibuat sebuah buku tersendiri yang terfokus pada pengkajian Yesus sejarah (the historical Jesus) dalam konteks Yudaisme Bait Allah kedua.

Pada kesempatan ini, saya mau mengingatkan bahwa saya sudah menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret menghayati soteriologi teosentris, bahwa soteriologi salib bukanlah soteriologi yang diciptakan dan diajarkannya. Kalau kita memahami dan menghayati Allah sebagaimana Yesus pahami dan kisahkan dalam, antara lain, perumpamaan tentang anak yang hilang, kita masuk ke dalam sebuah pengalaman keselamatan yang terpusat pada Allah, sang Bapa, keselamatan yang teosentris, sebagaimama juga dihayati Yesus. Kalau kita bisa memanggil Allah dengan sebutan akrab yang biasa Yesus pakai, yaitu sebutan “Bapa” (atau “Abba”), sebagaimana termuat dalam Doa Bapa Kami, kita sudah menjadi Kristen meskipun kita tidak lagi memegang soteriologi salib. Di dalam sebutan “Bapa” inilah terkandung sari pati teologi yang secara mendasar dihayati Yesus.

Dari kehidupan Yesus, soteriologi biosentris, yang kontras dengan soteriologi nekrosentris, bisa kita bangun. Umumnya orang dikenang dan dikenal bukan karena kematiannya, tetapi karena kehidupannya. Kita perlu mempelajari dan menemukan, melalui kajian mendalam dan meluas, bagaimana Yesus dari Nazaret memahami kehidupannya sendiri, apa visinya tentang kehidupannya sendiri dan tentang kehidupan pada umumnya, dan bagaimana dia menjalani dan mengisi kehidupannya sendiri, dalam hubungannya dengan Allah, Bapanya, dengan sesamanya, dengan alam sekitarnya dan dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Sudah saya tulis di buku ini bahwa Yesus dari Nazaret adalah seorang yang mencintai dan merawat kehidupan, kehidupannya sendiri dan kehidupan orang lain, dan kehidupan dunia ini. Dan, dengan kita mencintai kehidupan, memelihara dan merawat kehidupan, menyembuhkan dan menyehatkan kehidupan, kita menjadi orang yang mengikuti Yesus, menjadi orang Kristen, meskipun kita menolak soteriologi salib yang nekrosentris.

Nah, terlihat sudah kalau kekristenan itu sebetulnya memiliki kekayaan soteriologi. Soteriologi salib adalah salah satunya, dan sayangnya juga merupakan suatu soteriologi yang terburuk yang patut dilepaskan dari kesadaran semua orang Kristen. Melepaskan soteriologi salib tidak lantas membuat seseorang kehilangan kekristenannya, malah akan makin mendekatkan dirinya pada Yesus dari Nazaret, pada Allah yang dia percayai yang dipanggilnya “Abba”, dan pada sesama yang dicintainya, pada kehidupan, dan, lebih istimewa lagi, akan makin mendekatkan dirinya kepada dirinya sendiri yang kini dilihatnya berpotensi untuk menyelamatkan dirinya sendiri melalui perbuatan-perbuatannya.

Semoga semua hal yang sudah ditulis di atas berhasil meredakan kegelisahan yang barangkali sempat muncul dalam sanubari banyak orang Kristen ketika mereka sedang membaca buku ini, dan belum tuntas sampai pada bagian penutup ini. Semoga juga kalangan Muslim di Indonesia, karena buku ini, menjadi tersadarkan bahwa soteriologi-soteriologi alternatif yang ditawarkan buku ini memperlebar peluang untuk bisa berjalan bersama dengan umat Kristen dalam mengejawantahkan keselamatan bagi kehidupan manusia pada umumnya.

Perjalanan masih panjang ke depan. Marilah, kita berjalan terus, berziarah terus, menuju sang Surya pencerah yang masih jauh dari jangkauan.