Ioanes Rakhmat's blog founded on Feb 21, 2009
Even though it could destroy orthodoxy, let us think critically because being capable of thinking critically is the most precious gift for humankind given by nature to be used accountably for the goodness of all terrestrial and extraterrestrial beings now and forever
Die Wahrheit erleuchtet mich!
Kebenaran menerangi saya!
Sunday, January 24, 2010
Penutup: Kekristenan Tanpa Soteriologi Salib!
Setiap orang Kristen yang telah berani membaca habis 10 postings tentang Masalah-masalah Dalam Soteriologi Salib dalam blog ini (yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam [Januari 2010]) pasti akan bertanya: Jika soteriologi salib sebagai inti terpenting dari semua doktrin Kristen telah digugurkan, masih adakah sesuatu lain yang tersisa, yang masih dapat dipegang, untuk seseorang tetap Kristen? Atau orang dapat mengajukan sebuah pertanyaan lain: Apakah si penulis buku ini masih dapat tetap disebut Kristen, masih tetap dapat disebut “orang dalam”, kalau dia berpendapat dan percaya bahwa semua yang ditulisnya ini benar?
Kedua pertanyaan ini, pada satu sisi, mempersoalkan apakah yang disajikan dalam buku ini benar sehingga tidak ada sesuatu apa pun dalam soteriologi salib yang masih bisa diselamatkan. Bagi saya sebagai penulis buku ini, semua yang sudah ditulis dalam buku ini tentu saja benar dalam segala segi yang sejauh ini dapat saya perhitungkan. Tetapi, jawaban tuntas terhadap hal yang dipersoalkan ini ditemukan tentu saja jika seorang lain mau menulis sebuah buku tandingan yang isinya secara rasional, cerdas dan autentik mengggugurkan semua argumen rasional, etis teologis, historis, sosiokultural, sosiobiologis dan antropologis, yang saya pakai dalam membedah dan menggugurkan soteriologi salib.
Saya tentu akan sangat berterima kasih kepada orang yang, melalui argumen-argumen yang cerdas dan rasional, mampu membuat saya kembali menerima dan memercayai validitas dan makna serta signifikansi soteriologi salib. Tetapi saya tidak optimis bahwa saya akan bisa dikembalikan untuk memercayai dan menganut kembali soteriologi salib; sebab setiap sanggahan terhadap isi buku ini akan pasti saya sanggah lagi dengan autentik dan rasional. Saya percaya, dengan autentisitas dan rasio orang bisa berjumpa dengan yang transenden, jauh melampaui apa yang dapat diberikan oleh dogma keagamaan apa pun.
Saya tentu saja mengantisipasi bahwa akan ada orang Kristen yang akan menyatakan atau bersaksi secara emosional bahwa sekalipun secara rasional soteriologi salib telah digugurkan dalam segala seginya, dia tetap bisa memegang dan percaya penuh kepada soteriologi ini sebab soteriologi ini selama ini dan juga kini membuat hatinya tenteram dan bahagia. Jika ini posisi yang diambil orang ini, suatu posisi yang sama sekali tidak menghargai kemampuan dan kebenaran penalaran manusia, biarlah dia tetap terus memegangnya, dan tetap terus mencampakkan akal budinya dan tetap menjadi orang yang terbelah kepribadiannya. Bagi saya sendiri, bagaimana hati bisa tenteram menerima sesuatu yang kebenarannya telah ditolak oleh akal budi? Bagi saya sendiri, mengapa hati harus menjadi musuh akal budi atau sebaliknya? Bukankah, seperti Yesus dalam kitab-kitab injil katakan, beragama dengan autentik adalah beragama dengan segenap rasio dan hati sekaligus?
Pada sisi lain, dua pertanyaan pada alinea pertama di atas mengungkapkan suatu kegelisahan eksistensial mendalam orang Kristen: Apakah masih ada sesuatu yang berharga dalam kekristenan yang sekarang mereka kenal jika soteriologi salib tidak dipakai lagi karena tidak valid dalam banyak segi? Apakah masih bisa tetap Kristen jika soteriologi salib ditolak? Apakah masih bisa menjadi pengikut Yesus Kristus jika kematiannya di kayu salib dipandang tidak mendatangkan keselamatan, tidak bersignifikansi dan berefek soteriologis? Kegelisahan eksistensial ini tentu saja saya harus perhatikan dengan sungguh-sungguh, dan sebisa mungkin saya perlu memberi respons yang pas.
Dalam bab keempat buku ini (berjudul Jalan Buntu dan Jalan Alternatif), saya sudah menyebut suatu bentuk religiositas yang dihayati oleh sebuah komunitas Yahudi-Kristen yang ada di Syria (dengan Antiokhia sebagai ibu kotanya) pada pertengahan abad pertama Masehi yang secara bertahap (dari tahun 30 sampai tahun 120) menghasilkan Injil Tomas. Pada awalnya, sebelum komunitas Yahudi-Kristen ini mendapat pengaruh doktrinal dari kekristenan yang berkembang di sebelah barat kawasan Yunani-Romawi (kekristenan Barat), mereka tidak memandang kematian Yesus sebagai sesuatu yang sentral dalam sistem kepercayaan mereka, apalagi sampai bermakna dan berefek soteriologis “mendamaikan” (atoning) seperti diajarkan dan dipercayai kekristenan Barat. Komunitas Yahudi-Kristen Syria yang bercorak mistikal ini memberi signifikansi soteriologis bukan pada kematian Yesus, tetapi pada kata-kata atau ucapan-ucapan Yesus, yang jika direnungkan dalam-dalam dan ditemukan maknanya akan memberi kehidupan. Yang mereka tawarkan bukan soteriologi doloris, tetapi soteriologi logosentris. Tawaran ini tentu harus dipertimbangkan dengan serius oleh orang Kristen pada masa kini.
Nah, selain dalam Injil Tomas yang berisi sejumlah penting ucapan autentik Yesus, bukankah gereja juga memiliki kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru yang berisi banyak ucapan Yesus? Para pakar yang menyelidiki ucapan-ucapan Yesus, baik yang terdapat dalam Injil Tomas atau dalam tulisan-tulisan ekstrakanonikal lainnya, maupun yang terdapat dalam injil-injil Perjanjian Baru, khususnya dalam apa yang disebut sebagai sumber “Q” yang menjadi salah satu sumber besar bagi Matius dan Lukas ketika mereka menulis injil mereka masing-masing, telah dapat memilah-milah mana ucapan yang benar-benar autentik dari Yesus dan mana yang tidak autentik. Jadi, mengonstruksi soteriologi logosentris kini bukanlah hal yang sulit lagi. Soteriologi logosentris adalah sebuah alternatif berharga untuk seseorang dapat tetap menjadi Kristen, dengan menghayati kata-kata Yesus sebagai kata-kata yang membebaskan, meskipun dia telah melepaskan soteriologi salib yang bersifat doloris.
Dari sejumlah tulisan bapak-bapak gereja kekristenan Barat, kita dapat menghimpun sekian fragmen tulisan yang berasal dari tiga injil Yahudi-Kristen yang disusun komunitas-komunitas Yahudi-Kristen perdana pada awal hingga pertengahan abad kedua, yang berdiam di kawasan timur Sungai Yordan dan di banyak kawasan timur Syria. Ketiga injil Yahudi-Kristen ini adalah Injil Orang Ebion (aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, isinya kurang lebih sejajar dengan Injil Matius, namun tidak memiliki kisah kelahiran dan silsilah Yesus), Injil Orang Nazorean (aslinya ditulis dalam bahasa Aram, isinya kurang lebih sejajar dengan Injil Matius) dan Injil Orang Ibrani (aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, jenisnya serupa dengan Injil Yohanes).
Kekristenan Yahudi perdana ini, meskipun tidak dalam segala hal seragam, dapat kita sebut sebagai kekristenan Ebion (dari kata Ibrani ebyon = orang miskin) yang bersama-sama memegang dan mempertahankan sejumlah keyakinan religius dan praktik beragama. Komunitas-komunitas Ebion ini merupakan sisa-sisa dari suatu bentuk kekristenan Yahudi paling tua yang bermula di Yerusalem sebagai gereja induk, yang didirikan oleh Yakobus si Adil, saudara Yesus (lihat Markus 6:3; Galatia 1:19; Injil Orang Ibrani 9.4), bersama para rasul lainnya. Bagi kekristenan Ebion, saksi pertama kebangkitan Yesus bukanlah Petrus atau Maria Magdalena, melainkan Yakobus (Injil Orang Ibrani 9; bdk 1 Korintus 15:7) sebagai soko guru utama Gereja Induk Yerusalem (Galatia 2:9). Dokumen yang menjadi sumber terpenting untuk mengenal kekristenan Ebion ini, di samping tiga injil yang sudah disebut di atas, adalah Pseudo-Klementin (tahun 200 M).
Sebagaimana Gereja Induk Yerusalem ini menaati Hukum Taurat Yahudi dengan sangat ketat, kekristenan Ebion juga demikian. Mereka mempertahankan kuat-kuat monoteisme Yahudi. Mereka percaya pada Kitab Suci Ibrani (Tenakh) dan Hukum Taurat sebagai wahyu Allah sejauh Kitab Suci dan Hukum ini sudah dibersihkan dari “penyimpangan-penyimpangan” yang muncul dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa Israel sejak zaman Musa. Mereka beribadah pada hari Sabat, selain pada hari Minggu sebagai Hari Tuhan, dan mereka juga memelihara dan merayakan semua hari suci Yahudi, khususnya perayaan Paskah Yahudi setiap tahun. Kristologi yang mereka pegang berbeda dari kristologi yang umumnya dipegang kekristenan Barat. Mereka menolak doktrin tentang kelahiran perawan. Bagi mereka, Yesus adalah seorang manusia biasa, yang dilahirkan wajar dari seorang ayah dan seorang bunda insani. Yesus diangkat atau diadopsi menjadi Anak Allah pada waktu dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Kepercayaan kristologis semacam ini disebut adopsionisme. Yesus mereka pandang juga sebagai Nabi Sejati Allah yang ditugaskan bukan untuk mati di kayu salib untuk menghapus dosa dunia, melainkan untuk mengajar orang Israel untuk hidup benar sesuai dengan apa yang dituntut Tenakh atau Taurat Musa yang “asli” yang dulu telah diberikan kepada Musa di Gunung Sinai, yang sudah dibersihkan dari penyimpangan-penyimpangan yang ada di dalamnya, antara lain dari gambaran tentang Allah yang antropomorfis, dari semua pemakaian kata ganti majemuk orang pertama untuk Allah (“kita”, “kami”). Karena Bait Allah di Yerusalem telah dihancurkan pada tahun 70 M, komunitas Kristen Ebion memandang semua kultus pengurbanan di Bait Allah telah tidak berlaku lagi bagi mereka, bahkan mereka memandang semua ritus ini tidak termasuk bagian asli Hukum Musa.
Jadi, kekristenan Ebion adalah suatu bentuk kekristenan Yahudi perdana yang monoteistik murni, yang menghayati keselamatan sebagai sesuatu yang diperoleh melalui ketaatan total pada Taurat Musa. Bagi mereka, semua yang diajarkan oleh Rasul Paulus, yang membebaskan orang Kristen dari kewajiban melaksanakan Taurat Musa, adalah suatu pengkhianatan terhadap agama Yahudi; dan karenanya mereka sangat membenci rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini. Jadi sudahlah jelas, pada abad-abad pertama ada bentuk-bentuk kekristenan yang bisa dengan apik dan lancar mengintegrasikan panggilan untuk mengikut Yesus Kristus sebagai sang Mesias dengan panggilan untuk mengamalkan perintah-perintah Taurat Musa. Soteriologi salib bukanlah satu-satunya soteriologi Kristen.
Soteriologi nomosentris (= terpusat pada hukum Taurat) yang dihayati komunitas Yahudi-Kristen Ebion ini tentu tidak menarik hati orang Kristen pada umumnya, dulu maupun kini, yang sudah menyerahkan dirinya sepenuh-penuhnya pada soteriologi salib yang diwartakan Rasul Paulus, yang telah membebaskan orang Kristen dari tuntutan Hukum Taurat. Mereka biasanya menilai bahwa karena agama Kristen adalah “agama rakhmat” (religion of grace) yang menawarkan orang untuk menerima rakhmat ilahi melalui iman mereka, dan bukan “agama perbuatan” (religion of work), maka Hukum Taurat tidak berlaku lagi, sebab Hukum ini, jika diikuti, mengharuskan orang berkonsentrasi bukan pada rakhmat ilahi, melainkan pada setiap perbuatannya untuk menjaganya tetap selaras dengan semua tuntutan Taurat. Hemat saya, penilaian ini salah.
Dalam sistem kepercayaan Kristen yang dibangun para penulis Perjanjian Baru, perbuatan manusia atau ketaatan pada Taurat juga menentukan keselamatan manusia atau mencirikan apakah seseorang itu sudah berada di dalam kawasan keselamatan atau masih di luar kawasan keselamatan. Tentu pertama-tama saya menunjuk pada kekristenan Yakobus yang dibangun begitu Yesus wafat, yang telah memberikan kepada kita Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru, yang di dalamnya dengan kuat dikatakan bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya mati” (2:17), dan bahwa “iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (2:22), dan bahwa “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (2:24). Selain itu, meskipun Rasul Paulus sangat menekankan iman sebagai jalan untuk orang dibenarkan di hadapan Allah, sang Rasul ini juga menegaskan bahwa pada akhirnya setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah (Roma 2:6-8; 14:12; 2 Korintus 5:10; lihat juga Wahyu 22:12).
Selanjutnya, kita juga perlu memerhatikan kekristenan Yahudi lainnya, yang lahir di Mesir pada permulaan era Kristen, akhir tahun 40-an atau awal tahun 50-an abad pertama Masehi, ketika Kaisar Klaudius berkuasa (tahun 41-54). Catatan tertua tentang keberadaan kekristenan Yahudi di Mesir ini ditemukan dalam Kisah Para Rasul 18:24-25, yang menyebut seorang Yahudi yang bernama Apolos yang berasal dari Aleksandria di Mesir, yang telah datang ke Efesus. Ditulis di situ bahwa Apolos “sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci” dan “telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan” dan “dengan teliti mengajar tentang Yesus.” Dokumen-dokumen tua yang perlu diperhatikan untuk mengenal kekristenan ini adalah Pseudo- Klementin (khususnya Homilies I.9.1; II.4.1), Surat Barnabas, 2 Klemen, Injil Orang Ibrani, Injil Orang Mesir, Epistula Apostolorum, Orakulum Sybill, Testimoni Kebenaran (NHC 9,3), Apokalipsis Petrus.
Dalam tulisannya, Historia Ecclesiastica, Eusebius menyimpulkan bahwa kekristenan Yahudi di Mesir “tampaknya berasal dari orang-orang Yahudi dan mengikuti sebagian besar adat-istiadat Yahudi” (II.17.2-3). Kristologi Logos dikembangkan oleh komunitas Kristen Yahudi di Mesir ini; menurut kristologi ini sang Logos tetap sama, tak berubah, dalam bentuk apapun yang dipilihnya untuk dia menampilkan diri (lihat khususnya Epistula Apostolorum 13-14; 17, 28; bdk Orakulum Sybill 6.16-17). Yang penting untuk kita catat adalah bahwa kekristenan Yahudi di Mesir ini, di samping terfokus pada adat-istiadat Yahudi, juga menaruh perhatian besar pada kehidupan Yesus, khususnya pada ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Yesus serta kisah-kisah tentangnya, yang ditarik baik dari dokumen-dokumen kanonik maupun dari dokumen-dokumen apokrif. Perhatian pada kehidupan Yesus ini memenuhi teks keempat dokumen apokrif yang sudah disebut di atas: Epistula Apostolorum, Orakulum Sybill, Testimoni Kebenaran dan Apokalipsis Petrus. Dalam keempat dokumen ini, Rasul Paulus pada dasarnya ditolak; bahkan dalam Apokalipsis Petrus sang rasul diserang. Bahkan bagi penulis Apokalipsis Petrus, berita Rasul Paulus tentang “seorang yang mati”, maksudnya: Yesus Kristus yang disalibkan sebagai jalan mendamaikan Allah dengan manusia, adalah suatu “penyebaran berita yang menyesatkan.” Jelas, soteriologi salib ajaran Rasul Paulus tidak diterima oleh kekristenan Yahudi di Mesir ini.
Kalau soteriologi salib terpusat pada azab dan kematian Yesus, atau kita dapat menamakannya soteriologi nekrosentris, soteriologi yang terpusat pada kematian (nekros = mati), kita juga bisa mengembangkan suatu soteriologi yang terpusat pada kehidupan Yesus, soteriologi biosentris. Terpusat pada kehidupan Yesus juga berarti terpusat pada kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus. Jadi, baik komunitas Kristen-Yahudi yang melahirkan Injil Tomas maupun komunitas Yahudi-Kristen Mesir sama-sama menghayati suatu soteriologi biosentris. Kita tidak kekurangan bahan untuk membangun suatu soteriologi biosentris untuk menggantikan soteriologi doloris atau soteriologi nekrosentris.
Kalau kematian Yesus dilihat dari sudut pandang soteriologi biosentris, kematiannya ini sungguh jadi bermakna dan bersignifikansi lain: kematian Yesus adalah suatu peristiwa paradigmatis yang mulia, berharga dan layak ditanggung, karena merupakan suatu akibat atau risiko dari suatu kehidupan yang dijalani dan diisi dengan tindak kebajikan dan kerahiman ilahi, yang ditujukan kepada sesama manusia! Dengan memandang pada kehidupan dan kematian Yesus sebagai suatu model kejuangan, semua pejuang dan aktivis sosial dan HAM pada masa kini, yang memberikan kehidupan mereka bagi rakyat yang miskin dan tertindas, akan didorong untuk dengan rela dan berani terus-menerus membela rakyat sekalipun berisiko mati dibunuh. Melepaskan soteriologi salib yang doloris, tetapi juga terilhami dan terdorong oleh kematian Yesus untuk bertindak, bukanlah sesuatu yang tidak bisa dilakukan! Tanpa soteriologi salib seseorang masih bisa menjadi seorang Kristen yang tangguh, menjadi pengikut Yesus Kristus yang tidak takut terhadap risiko mati dibunuh di tengah perjuangannya.
Jadi, soteriologi salib yang dikonstruksi Rasul Paulus dan penulis-penulis Perjanjian Baru lainnya jelas bukanlah soteriologi tertua satu-satunya yang diwariskan komunitas-komunitas Kristen perdana kepada orang Kristen masa kini. Sudah diperlihatkan di atas, tersedia cukup soteriologi alternatif yang kalau dijalani dan dihayati dengan sungguh-sungguh, seseorang masih bisa tetap Kristen meskipun dia tidak lagi menganut soteriologi salib.
Bertolak dari Rasul Paulus, kita masih harus bergerak mundur lebih jauh ke murid-murid perdana Yesus dan bahkan kepada Yesus sendiri. Agama yang Yesus dan para muridnya hayati pasti bukanlah agama seperti yang dibangun Rasul Paulus dan para penulis Perjanjian Baru umumnya, melainkan agama Yahudi atau Yudaisme, persisnya Yudaisme yang disebut sebagai Yudaisme Bait Allah Kedua (second Temple Judaism), Yudaisme yang dianut ketika Bait Allah Kedua (Bait Allah Herodes Agung) belum dihancurkan pada tahun 70 abad pertama Masehi dalam Perang Yahudi I melawan Roma (66-73 M). Nah, penting bagi kita untuk mengetahui apa yang dimaksud dan dialami oleh mereka, Yesus dan para murid perdananya, sebagai keselamatan, dalam konteks religio-kultural Yudaisme ini. Soteriologi jenis apa yang mereka anut dan hayati, yang mereka dapat ambil dan olah dari sistem kepercayaan Yudaisme ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sepenuhnya, perlu dibuat sebuah buku tersendiri yang terfokus pada pengkajian Yesus sejarah (the historical Jesus) dalam konteks Yudaisme Bait Allah kedua.
Pada kesempatan ini, saya mau mengingatkan bahwa saya sudah menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret menghayati soteriologi teosentris, bahwa soteriologi salib bukanlah soteriologi yang diciptakan dan diajarkannya. Kalau kita memahami dan menghayati Allah sebagaimana Yesus pahami dan kisahkan dalam, antara lain, perumpamaan tentang anak yang hilang, kita masuk ke dalam sebuah pengalaman keselamatan yang terpusat pada Allah, sang Bapa, keselamatan yang teosentris, sebagaimama juga dihayati Yesus. Kalau kita bisa memanggil Allah dengan sebutan akrab yang biasa Yesus pakai, yaitu sebutan “Bapa” (atau “Abba”), sebagaimana termuat dalam Doa Bapa Kami, kita sudah menjadi Kristen meskipun kita tidak lagi memegang soteriologi salib. Di dalam sebutan “Bapa” inilah terkandung sari pati teologi yang secara mendasar dihayati Yesus.
Dari kehidupan Yesus, soteriologi biosentris, yang kontras dengan soteriologi nekrosentris, bisa kita bangun. Umumnya orang dikenang dan dikenal bukan karena kematiannya, tetapi karena kehidupannya. Kita perlu mempelajari dan menemukan, melalui kajian mendalam dan meluas, bagaimana Yesus dari Nazaret memahami kehidupannya sendiri, apa visinya tentang kehidupannya sendiri dan tentang kehidupan pada umumnya, dan bagaimana dia menjalani dan mengisi kehidupannya sendiri, dalam hubungannya dengan Allah, Bapanya, dengan sesamanya, dengan alam sekitarnya dan dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Sudah saya tulis di buku ini bahwa Yesus dari Nazaret adalah seorang yang mencintai dan merawat kehidupan, kehidupannya sendiri dan kehidupan orang lain, dan kehidupan dunia ini. Dan, dengan kita mencintai kehidupan, memelihara dan merawat kehidupan, menyembuhkan dan menyehatkan kehidupan, kita menjadi orang yang mengikuti Yesus, menjadi orang Kristen, meskipun kita menolak soteriologi salib yang nekrosentris.
Nah, terlihat sudah kalau kekristenan itu sebetulnya memiliki kekayaan soteriologi. Soteriologi salib adalah salah satunya, dan sayangnya juga merupakan suatu soteriologi yang terburuk yang patut dilepaskan dari kesadaran semua orang Kristen. Melepaskan soteriologi salib tidak lantas membuat seseorang kehilangan kekristenannya, malah akan makin mendekatkan dirinya pada Yesus dari Nazaret, pada Allah yang dia percayai yang dipanggilnya “Abba”, dan pada sesama yang dicintainya, pada kehidupan, dan, lebih istimewa lagi, akan makin mendekatkan dirinya kepada dirinya sendiri yang kini dilihatnya berpotensi untuk menyelamatkan dirinya sendiri melalui perbuatan-perbuatannya.
Semoga semua hal yang sudah ditulis di atas berhasil meredakan kegelisahan yang barangkali sempat muncul dalam sanubari banyak orang Kristen ketika mereka sedang membaca buku ini, dan belum tuntas sampai pada bagian penutup ini. Semoga juga kalangan Muslim di Indonesia, karena buku ini, menjadi tersadarkan bahwa soteriologi-soteriologi alternatif yang ditawarkan buku ini memperlebar peluang untuk bisa berjalan bersama dengan umat Kristen dalam mengejawantahkan keselamatan bagi kehidupan manusia pada umumnya.
Perjalanan masih panjang ke depan. Marilah, kita berjalan terus, berziarah terus, menuju sang Surya pencerah yang masih jauh dari jangkauan.
Saturday, January 16, 2010
Manajemen Pikiran (6)
(Tulisan ini telah terbit di Koran Tempo edisi 21 Januari 2010 hlm. A10 di rubrik Pendapat, dengan judul Iman Adalah Pikiran; atau klik di sini.)
Orang beragama sejak kecil umumnya diindoktrinasi oleh para rohaniwan dari berbagai agama untuk selalu mengutamakan iman dibandingkan akal budi ketika mereka sedang menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan mereka, atau ketika mereka sedang mencari pengetahuan objektif yang dapat diandalkan bagi kehidupan manusia.
Ketika seorang beragama sedang menghadapi suatu kesulitan berat, pengasuh rohaninya umumnya mengajarkannya untuk jangan bergantung pada akal budi sendiri, melainkan harus hanya dengan iman bergantung penuh dan pasrah pada Allah Yang Mahakuasa, dan menyerahkan semua persoalannya kepada-Nya. Yang dimaksud dengan “iman” dalam hal ini tentu adalah rasa percaya yang dikuat-kuatkannya sendiri dalam hatinya kepada Allah yang dilihat sebagai suatu figur Bapa atau Ibu pelindung dan penolong.
Tentu sikap berpasrah total kepada Allah bisa memberi suatu ketenteraman pada diri orang beragama yang sedang bermasalah berat dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tetapi rasa tenteram yang ditimbulkan oleh kepasrahan total bisa merupakan suatu rasa tenteram yang palsu, keliru dan berbahaya, karena membuat si mukmin tidak mau lagi memikirkan persoalannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mau lagi mencari jalan keluar secara rasional. Rasa tenteram yang semacam ini bisa berbahaya bagi dirinya karena menyebabkannya menunda menyelesaikan persoalannya dan membuat persoalannya makin menumpuk, makin rumit, dan makin membelit dan mematikan dirinya dari waktu ke waktu. Rasa tenteram semacam ini tidak produktif karena juga membuatnya bukan makin aktif mencari solusi persoalannya, melainkan membuatnya makin pasif dan akhirnya mematikan semua fungsi kreatif otaknya.
Para rohaniwan biasanya juga meminta umat mereka untuk beriman hanya kepada kebenaran Kitab Suci ketika mereka menjumpai konflik atau benturan antara apa yang ditulis dalam Kitab Suci dan apa yang menjadi pandangan sains modern tentang sesuatu hal. Yang dimaksud dengan “beriman” di sini adalah meyakin-yakinkan hati dan pikiran sebisa-bisanya dan sekuat-kuatnya, menyugesti diri sedalam-dalamnya dalam ketakwaan kepada Allah dan kepada suatu akidah keagamaan, bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci adalah benar sementara yang menjadi pandangan sains modern adalah salah.
“Beriman” secara demikian juga merugikan dan membahayakan diri si mukmin. Sebab pada satu pihak beriman semacam ini akan mendorong dirinya untuk selalu berupaya berargumentasi dengan cara pseudo-ilmiah untuk mempertahankan bahwa apa yang harfiah ditulis Kitab Suci adalah benar, sedangkan pandangan sains tentang hal yang sama adalah salah. Para pembela dogma kreasionisme dalam berbagai agama dewasa ini adalah contoh orang-orang semacam ini, orang-orang yang atas nama kewibawaan ilahi suatu Kitab Suci menolak pandangan-pandangan astrofisika, kosmologi, Darwinisme dan biologi modern!
Pada pihak lainnya, beriman semacam ini juga akan memaksa si mukmin untuk menjalani kehidupan dalam dua dunia yang berbeda dan berbenturan satu sama lain. Pada satu pihak dia harus hidup dalam suatu “dunia sakral” yang mengharuskannya membela dan mempertahankan mati-matian segala hal yang (dalam keyakinannya) ditulis oleh Allah dalam Kitab Suci. Tetapi pada pihak lainnya, di “dunia sekularnya” dia harus juga menerima pandangan-pandangan sains modern yang bertabrakkan dengan apa yang ditulis dalam suatu Kitab Suci tentang hal yang sama. Pandangan-pandangan sains modern ini diajarkan di sekolahnya dan harus diterimanya jika dia mau menjadi seorang nara didik yang berpikiran normal dan akhirnya bisa lulus dengan baik dari pendidikan formalnya. Inilah suatu bahaya psikologis patologis berupa keterpecahan kepribadian yang dialami setiap mukmin yang tidak bisa menempatkan dengan benar kedudukan suatu Kitab Suci keagamaan yang bukan kitab sains dan yang tidak mengajarkan sains, dan kedudukan sains modern sebagai pemandu kehidupan manusia dalam mencari kebenaran pengetahuan objektif dari berbagai hal yang mengitari kehidupan manusia setiap hari dalam kosmos yang sangat luas.
Untuk menghindari kekeliruan dan bahaya seperti yang sudah digambarkan di atas dalam pendidikan keagamaan, sudah seharusnya kita memandang bahwa iman dan rasio adalah dua hal yang sesungguhnya sama-sama diproses di dalam organ serebral maha penting dalam rongga kepala kita yang melahirkan dan mengatur pikiran kita, dan bahwa karena itu iman adalah pikiran juga. Jadi, jika kita dapati iman seorang mukmin tertentu sebagai iman yang membuta, kita harus memandang iman semacam ini juga sebagai pikiran yang membuta. Pikiran yang membuta adalah pikiran yang tidak di-manage dengan benar menuju suatu pencerahan. Begitu juga, iman yang naif, yang membuat seseorang mengambil sikap “asal percaya saja terhadap apa yang ditulis dalam Kitab Suci!”, adalah juga pikiran yang naif. Pikiran yang naif adalah pikiran yang tidak di-manage dengan kritis dan dengan saksama. Demikian juga, jika iman sekelompok mukmin membawa masyarakat ke dalam bahaya dan menjadikan kehidupan masyarakat tidak sehat, maka kita harus menyatakan bahwa pikiran mereka berbahaya dan sakit, dan pikiran semacam ini membuat masyarakat juga sakit atau dibawa ke dalam bahaya.
Dengan memandang dan memperlakukan iman sebagai pikiran, maka ketika kita menyatakan suatu ketidaksetujuan atau perlawanan kita terhadap suatu perilaku beriman seorang atau sekelompok orang beragama yang tidak betul atau yang mengancam kesehatan dan keutuhan masyarakat, kita bukan sedang berperkara dengan Allah Yang Mahakuasa yang diklaim melindungi kelompok ini, melainkan dengan pikiran-pikiran insani mereka yang keliru. Mereka keliru karena mereka telah lama diindoktrinasi dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan dan anti-sains, dan yang karenanya membahayakan dan memecahbelah masyarakat dan mengancam peradaban manusia yang dibangun di atas rasionalitas manusia.
Friday, December 11, 2009
Menurut Papa, Masa Depan Yang Ada Harus Dijalani Dengan Tenang dan Dengan Tetap Berpikiran Rasional
oleh Areta S. Kh. Rakhmat
Siswi kelas 3 SMP Penabur, Jakarta
Ayah kami, Ioanes Rakhmat, adalah sosok seorang ayah yang tegas dalam segala sesuatunya. Orangnya rajin, tekun dan sudah berusaha bekerja mencari nafkah sejak beliau masih duduk di bangku sekolah SMA dulu. Beliau adalah orang yang cerdas, berpikiran luas, kritis, dan tak suka dibatasi dalam pemikirannya. Papa tidak sungkan dan sangat gigih dan berani dalam membela pikirannya demi, katanya, kemajuan masyarakat dan demi kebenaran yang kata papa tidak pernah bisa dikuasai seorang pun sepenuh-penuhnya.
Papa memiliki banyak prestasi sejak muda dan saat ini telah memperoleh gelar kesarjanaan yang tinggi. Hal tersebut sangatlah mengagumkan. Kami sangat kagum dengan pikirannya yang luas. Kami sungguh mengetahui bahwa pikirannya itu benar, dan kami percaya bahwa yang dilakukan atau ditulis oleh papa kami hanyalah apa yang dianggapnya benar dan tidak mengada-ada. Kami mendukungnya dalam hal itu, dan kami tahu bahwa semua itu benar dari cerita dan wejangan beliau berpanjang lebar, bukan satu atau dua kali, yang disampaikannya teristimewa kalau kami sedang dalam perjalanan pulang dari kota Bandung yang kadang-kadang kami kunjungi dalam satu atau dua bulan sekali. Kami sangat kagum atas pemikirannya yang luas yang suka dibeberkannya kepada kami. Menurut papa banyak sekali hal baik di dunia ini yang sebenarnya dapat dicapai jika semua orang memiliki ilmu pengetahuan yang luas serta cenderung menjalani kehidupan dengan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebaikan.
Menurut beliau, seharusnya segala yang tertera dalam Alkitab itu, jika merupakan fakta, harus bisa ditumpukan pada ilmu pengetahuan. Jadi, bukan hanya sekadar suatu kepercayaan belaka yang tak masuk akal jika dipikirkan dengan logika. Seorang Kristen memang berpegang pada Alkitab sebagai pedomannya, namun menurutnya tak semua hal dalam Alkitab dapat diterima. Ada banyak hal di dalamnya yang memang harus dipikirkan kembali dengan menggunakan aturan logika. Menurut saya itulah cara berpikir seorang pemikir seperti papa. Namun bukan berarti semua orang akan dapat dan harus ikut berpikir sesuai dengan pandangan papa itu. Seorang Kristen sudah sepatutnya mengimani apa yang tertera dalam Alkitab jika apa yang tertera di situ berguna buat kehidupan manusia. Tidak hanya dalam agama Kristen, dalam agama-agama lain yang memiliki Kitab Suci yang berbeda pun seharusnya demikian. Dalam bermasyarakat pun kita tidak boleh membeda-bedakan orang-orang yang berbeda agama, karena sesungguhnya sebagai manusia kita semua ini sama. Menurut saya, tak ada agama yang salah, juga tak ada agama yang paling benar. Masing-masing umat beragama mempunyai satu Allah sendiri yang mereka yakini, yang tidak sama dengan Allah umat beragama lain.
Roda kehidupan memang selalu berputar. Tak mungkin seseorang bisa berada di puncak terus sepanjang kehidupannya. Prinsip itulah yang diyakini dan diterapkan papa dalam menjalani kehidupannya. Jadi, kalaupun sekarang ini beliau harus pensiun dari gereja, hal tersebut tak dijadikannya sebagai suatu beban ataupun suatu hal yang ditakuti. Menurut papa, masa depan yang ada harus dijalani dengan tenang dan dengan tetap berpikiran rasional. Saya menyetujuinya. Demikian pendapat saya untuk menutup tulisan pendek ini. Semoga papa dan warga gereja suka membacanya.
Thursday, December 10, 2009
Kita Membutuhkan Lebih Banyak Lagi Sosok seperti Pak Ioanes Sehingga Keberagamaan Yang Kita Jalani Akan Makin Lebih Cerdas, Kritis dan Dinamis . . .
oleh Noviany Lucian Thenu
Anggota Gereja Kemah Abraham
Ketika saya bertemu pertama kali dengan Pak Ioanes Rakhmat di acara kelas midrash Gereja Kemah Abraham asuhan Abuna Jusuf Roni , saya melihatnya sebagai suatu sosok yang tidak takut untuk berpikir kritis dan seorang yang konsisten dalam pemikiran. Sosok pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan di dalam mendorong jemaat untuk lebih membuka wawasan dalam berpikir dan makin bertumbuh dalam iman. Menurut saya, jemaat yang bertumbuh adalah jemaat yang bisa berpikir kritis dan bisa menunjukkan jati diri sebagai orang Kristen melalui perbuatan-perbuatan nyata di tengah masyarakat yang majemuk di negeri Indonesia dewasa ini.
Salah satu pandangan Pak Ioanes yang membuat saya tertarik adalah bahwa kekristenan Yahudi perdana perlu dikenal dengan benar oleh gereja-gereja di Indonesia sekarang ini. Kenyataannya adalah selama ini informasi dan data mengenai Judeo-Christianity susah ditemukan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Dalam sepuluh kali tatap muka kelas midrash yang di bawakan oleh Pak Ioanes, yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, informasi dan analisis teks-teks kuno tentang kekristenan Yahudi telah diberikannya dengan sistimatis dan mencerahkan. Hemat saya, Pak Ioanes telah berhasil memberi banyak pemaparan yang sangat menarik mengenai konflik-konflik yang terjadi antara para pembela kekristenan Yahudi awal yang mempertahankan Taurat Musa dan Rasul Paulus yang memberitakan suatu injil lain yang membebaskan orang Kristen dari Taurat Musa.
Semua pengetahuan yang saya dapat tentang kekristenan Yahudi perdana selama pertemuan sepuluh kali itu membuat saya menginsafi bahwa sejak awalnya gereja Kristen itu memang majemuk, tidak satu warna dan tidak satu aliran, dan karenanya tidak ada satu aliran pun yang boleh mengklaim diri sebagai aliran yang terbenar.
Melalui Pak Ioanes, saya makin terbina untuk menjadi seorang Kristen yang tidak fanatik, beriman membuta, tetapi menjadi seorang Kristen yang toleran terhadap perbedaan berbagai macam pokok teologis, sambil terus-menerus membentuk jati diri yang makin dewasa yang dicirikan oleh ketenangan bersikap dan keterbukaan pikiran. Itulah hal berguna yang saya telah terima dari Pak Ioanes, meskipun saya belum lama mengenalnya, sejak beliau akrab dengan Abuna Jusuf Roni.
Walaupun tidak dapat dipungkiri juga, kadang kala pemikiran-pemikiran yang dipaparkan Pak Ioanes cukup menggoncangkan kehidupan beragama seseorang, khususnya seseorang yang ingin bertahan mati-matian dalam kepercayaannyan yang lama.
Saat ini dan untuk masa yang akan datang, kita membutuhkan lebih banyak lagi sosok seperti Pak Ioanes di Indonesia, sehingga keberagamaan yang kita jalani akan makin lebih cerdas, kritis dan dinamis.
Kiranya Tuhan selalu memberikan hikmat dan kebijaksanaan kepada Pak Ioanes Rakhmat sehingga di masa yang akan datang pemikiran-pemikirannya bukan saja membuka cakrawala dan memberikan pencerahan kepada umat Kristen, tetapi juga bisa memperkokoh fondasi-fondasi iman yang dinamis.
Selamat memasuki masa emeritasi bagi Pak Ioanes.
Tuesday, December 8, 2009
Bagi Pak Io, Iman Itu Harus Dikoreksi Oleh Akal Budi…. Mengapa?
Sebuah opini seorang sahabat tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat oleh Hendi Rusli,
mahasiswa STT Cipanas
Rabu siang tanggal 7 Oktober 2009 yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke HP saya. Kaget sekaligus bangga membaca sebuah SMS dari seorang sahabat yang saya kagumi. Dalam pesan itu, Pak Io (begitu orang menyapanya sebagai tanda keakraban) meminta saya untuk menulis sebuah opini singkat tentangnya untuk buku acara kebaktian emeritasi beliau pada 23 November 2009 yang akan datang. Dengan senang hati saya terima tawaran beliau.
Kurang lebih sudah satu setengah tahun saya mengenal Pak Io. Dia dikenal sebagai seorang pemikir Kristen liberal, humanis, dan ahli tafsir Perjanjian Baru. Usia persahabatan yang kami jalani dapat dikatakan masih relatif muda. Namun, sungguh pun demikian kami adalah dua orang teman yang selalu berbagi, saling percaya dan juga saling menyediakan waktu.
Beberapa tahun sebelum berkenalan dengan Pak Io, saya telah banyak membaca tulisan-tulisan beliau. Baik dalam jurnal-jurnal teologi, artikel-artikel maupun dalam tulisan-tulisannya di beberapa blognya. Beliau memang sudah cukup dikenal sebagai seorang penerjemah buku dan juga seorang penulis. Pemikiran-pemikiran beliau begitu tajam, sistematis dan kritis. Semua orang yang mau menggunakan nalarnya pasti senang membaca tulisannya.
Namun di sisi lain, banyak orang yang berpandangan negatif tentang beliau yang dianggap mereka sebagai seorang yang liberal, tidak beriman, kontroversial dsb. Menurut hemat saya, mereka yang beranggapan demikian sesungguhnya tidak mengenal Pak Io. Siapa yang dapat mengukur iman seseorang? Dan apakah pengalaman iman orang lain harus sama dengan pengalaman iman saya? Atau dengan pengalaman iman Saudara? Tentunya tidak! Bagi Pak Io, iman itu harus dikoreksi oleh akal budi…. Mengapa? Karena iman seseorang dibentuk oleh dogma-dogma keagamaan yang dapat salah, yang seringkali mengkotak-kotakkan, memenjarakan pikiran dan eksklusif, menyingkirkan yang berbeda. Akal budi dapat mengoreksi dan menuntun iman yang membabi-buta, sempit, dan merasa paling unggul, kepada iman yang inklusif, pluralis, terbuka dan universal. Dan Pak Io sudah mencapai tingkat iman yang sedemikian itu.
Selama saya mengenal dan bersahabat dengan Pak Io, relasi kami satu sama lain sangat baik. Kependetaan beliau tidak nampak dalam suatu kerangka yang formalistik dan juga tidak dipandangnya sebagai suatu jabatan yang sakral, sebab baginya yang sakral hanya Tuhan seorang; sementara kebanyakan orang membanggakan jabatan kependetaan ini. Gelar doktor dan jabatan kependetaannya tidak menjadi jarak bagi relasi kami, meskipun saya berstatus sebagai seorang mahasiswa di STT Cipanas. Dia menganggap saya setara dengannya, menghargai pendapat saya dan menggembalakan nalar saya supaya saya dapat berpikir kritis.
Pemahaman beliau mengenai dogma-dogma yang saya pegang selama ini begitu berbeda. Hal ini sungguh memberi banyak pembaharuan dan pencerahan bagi kehidupan beriman dan bernalar saya. Banyak di antara tulisan-tulisan beliau telah dan sedang mengubah paradigma saya dalam berteologi. Mungkin juga paradigma banyak orang. Kita pun seharusnya perlu belajar seperti beliau, berani berpikir dan menerobos batas-batas dogma yang seringkali mengekang dan memenjarakan nalar kita. Gereja dapat berkembang, dinamis dan terbuka terhadap perubahan dan perkembangan zaman jika para pemimpinnya melakukan hal yang sama.
Akhir kata saya mengucapkan selamat kepada Pak Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat yang telah menyelesaikan tugas dan pelayanan strukturalnya di Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat. Semoga pelayanan Bapak selanjutnya dan seterusnya di manapun dan kapanpun dapat menjadi berkat, dirasakan dan membekas pada orang-orang yang Bapak tantang untuk terus-menerus berpikir kritis. Harapan saya, Bapak dapat mengembangkan terus pemikiran-pemikiran Bapak yang mencerahkan untuk menjadikan makin banyak orang (Kristen dan non-Kristen) cerdas beragama, kritis dan progresif. Kiranya Tuhan Memberkati.
Monday, December 7, 2009
Pak Ioanes ... Hidup dalam Ketegangan antara Fides dan Saeculum
Sebuah opini seorang rekan tentang Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat Budiman Heryanto,
Pendeta GKI dan pembaca blog-blog Ioanes Rakhmat
Saya pertama kali mengenal Pak Ioanes Rakhmat (IR) waktu masih di SMA lewat majalah Kairos. Saya rutin meminjam majalah itu dari seorang penatua di GKI Guntur Bandung, tempat saya berjemaat. Saya tertarik pada pemikiran Pak IR. Waktu itu dia sedang terlibat debat dengan seorang warga GKI di kolom Surat Pembaca. Artikel serialnya tentang Yesus sejarah selalu saya ikuti. Walau dengan banyak pertanyaan di kepala.
Keinginan saya menempuh studi teologi semakin terdorong oleh pandangan-pandangan Pak IR. Tapi, ketika saya masuk di tahun 1998 ke suatu sekolah teologi di Jakarta, Pak IR sedang studi di Belanda. Karena itu saya tidak menikmati pengalaman mengeksplorasi teologi biblika bersama Pak IR. Ada kalangan yang menyebut Pak IR seperti Rudolf Bultmann; seorang teolog besar kebangsaan Jerman yang dianggap liberal. Orang mudah menganggap seseorang liberal bahkan sesat tanpa pernah memeriksa secara utuh pemikirannya. Seperti Bultmann yang kadung dicap liberal karena upaya demitologisasi yang disalahpahami sebagai “penghilangan yang sakral, yang misteri, dalam pembacaan Alkitab”. Saya berpikir, pasti GKI bangga memiliki seorang pendeta seperti diri Pak IR. Setahu saya, hanya ada 2 orang penekun kajian Yesus sejarah di Indonesia, yakni Romo Martin Harun, dan Pak IR.
Perjumpaan tatap muka kali pertama saya dengannya terjadi saat dia kembali dari Belanda sekitar tahun 2002. Dia banyak diam dan kami belum saling mengenal. Baru pada tahun 2005 setelah dia merampungkan disertasi doktornya, kami saling mengenal. Lewat disertasinya yang unik bagi saya, saya makin mengenal Pak IR. Dia menantang dan mematahkan teori John Dominic Crossan, pakar Yesus sejarah kenamaan dari Amerika Serikat dan salah seorang pendiri komunitas Jesus Seminar.
Belakangan ini, Pak IR aktif menjadi penerjemah, pembicara dan penulis. Ada tiga blog pribadi di Internet yang dia bangun; dan satu blog kolektif. Blog pertama, The Freethinker Blog, dibangun untuk memublikasikan pemikirannya dalam bidang biblika dan teks-teks keagamaan di luar kanon Alkitab. Blog kedua, The Critical Voice Blog, didirikan untuk memublikasi pemikiran dan keprihatinannya yang lebih meluas di bidang-bidang keagamaan, sosial, politik, sains, seni, dst. Blog ketiga, The Jesus Blog, dia bangun atas dorongan banyak pihak yang ingin mendalami kajian Yesus sejarah dan kajian Yesus kontekstual. Yang terakhir, dia bangun sebuah blog kolektif, The Countertheocracy Blog, yang berhasil menggalang duapuluhan cendekiawan Indonesia yang menghendaki Indonesia tetap majemuk dan mengusung Pancasila dan demokrasi dan bersifat non-teokratis.
Ada beberapa tulisan Pak IR yang mempertajam kesadaran orang tentang politik agama yang sedang dijalankan lewat berbagai produk hukum di Indonesia belakangan ini. Pak IR meluaskan visi dan pokok penelitiannya, dari kajian biblika, ke kajian Yesus sejarah, lalu ke kajian kekristenan Yahudi perdana sampai ke kajian politik dan kemanusiaan. Hal ini mengingatkan saya pada pemikiran seorang teolog besar Katolik kebangsaan Belgia, Edward Schillebeeckx, yang menyatakan bahwa teologi adalah suatu janji dan ikatan kepada kehidupan, kepada semua yang menjerit demi kehidupan.
Dengan ini semua, apa yang Pak IR cari? Rupanya dia mencoba menemukan aksentuasi iman dalam ranah sekular, atau malah sebaliknya, menemukan yang sekular dalam ranah keimanan. Seperti ditelaah oleh Charles Taylor, dalam The Secular Age (2008), dalam masyarakat sekular agama tidak pernah benar-benar hilang. Yang terjadi adalah masyarakat sekular hanya melakukan represi terhadap agama. Agama mengendap di bawah permukaan. Teori Sigmund Freud mengenai alam bawah sadar sangat relevan untuk menjelaskan hal ini. Agama itu seperti mimpi buruk yang ditekan ke alam bawah sadar sekularisme. Tetapi pengalaman-pengalaman yang direpresi ke alam bawah sadar sesungguhnya tidak benar-benar terkungkung. Ada momen-momen tertentu di mana pengalaman-pengalaman itu bocor dan mencuat ke luar. Represi terhadap alam bawah sadar selalu merupakan represi yang gagal. Agama yang dipinggirkan dan direpresi selalu menemukan berbagai cara untuk tampil kembali ke permukaan. Tetapi sesuatu yang telah mengalami peminggiran dan represi itu tidak muncul kembali dalam bentuk yang benar-benar sama dengan bentuk sebelumnya. Trend beragama yang muncul dalam era globalisasi ini adalah sesuatu yang lain dari agama sebelumnya. Jonathan Benthall menyebut semua hal ini dengan istilah “para-religion”. Para-religion adalah suatu cara baru presentasi doktrin agama; seolah-olah presentasi ini mengandung karakter sebuah agama tradisional tetapi sesungguhnya berbeda. Barangkali Pak IR memang sedang menggeluti para-religion ini.
Pak IR, meskipun tampil tanpa selubung sebagai seorang pemikir liberal, bagaimana pun juga dia adalah seorang gembala gereja. Dia hidup dalam ketegangan antara fides dan saeculum; antara iman dan dunia. Tidak menampik dunia, bahkan memperhitungkannya dengan serius, tetapi tidak juga melepaskan ranah “misteri” dari iman itu sejauh dia memandang misteri ini ada. Selamat memasuki masa emeritasi, Pak IR. Selamat menggembalakan umat dan dunia “dalam kemasan yang baru”.
Subscribe to:
Posts (Atom)
