Friday, August 27, 2010

Ferdinand Magellan: Bumi Bulat, Bukan Ceper!

pelayaran keliling bola bumi Ferdinand Magellan memberi bukti pertama
bagi sains bahwa Bumi berbentuk bulat, bukan ceper

“The church says the earth is flat, but I know that it is round, for I have seen the shadow on the moon, and I have more faith in a shadow than in the church.” (Ferdinand Magellan)

“Gereja berkata bahwa Bumi ceper, tetapi saya tahu bhw Bumi bulat, sebab saya sudah melihat bayangannya pada Bulan, dan saya lebih percaya kepada sebuah bayangan ketimbang kepada gereja”
(Ferdinand Magellan)
Ferdinand Magellan (c. 1480- 27 April 1521) dilahirkan di Sabrosa, Portugal utara, tetapi kemudian mendapatkan kewarganegaraan Spanyol karena mau bekerja di bawah perintah Raja Charles I dari Spanyol untuk menyelidiki suatu rute pelayaran ke arah barat menuju “kepulauan rempah-rempah” (kepulauan Maluku di Indonesia sekarang). Ekspedisi Magellan yang berlangsung dari 1519 sampai 1522 adalah ekspedisi pertama yang mengarungi Samudera Atlantik masuk ke Samudera Pasifik (yang waktu itu dinamakan “laut damai” oleh Magellan karena airnya yang tenang) melewati Selat Magellan, lalu menyeberangi untuk pertama kalinya Samudera Pasifik. Ekspedisi ini juga adalah ekspedisi pertama lewat laut yang berhasil mengelilingi bola Bumi (= pelayaran sirkumnavigasi), meskipun Magellan sendiri tidak sempat menyelesaikan seluruh perjalanan laut ini karena dia terbunuh dalam Perang Maktan di Filipina. Namun, Magellan dalam suatu pelayaran sebelumnya ke arah timur berhasil sampai ke Semenanjung Melayu, sehingga dialah penjelajah laut pertama yang berhasil melintasi semua garis bujur bola bumi.


rute penjelajahan laut Ferdinand Magellan

Dari 237 orang yang berlayar dengan menggunakan 5 kapal laut, hanya 18 yang berhasil menyelesaikan sirkumnavigasi dan balik kembali ke Spanyol pada 1522 dipimpin navigator Basque yang bernama Juan Sebastián Elcano, yang mengambil alih komando ekspedisi setelah kematian Magellan. Tujuh belas orang tiba di Spanyol belakangan: 12 orang ditangkap oleh Portugis di Kape Verde beberapa minggu sebelumnya dan di antara 1525 dan 1527, dan lima orang berhasil selamat di kapal Trinidad.

Ferdinand Magellan pada masanya membuktikan kepada dunia dan kepada semua yang menolak gagasannya bahwa orang dapat berlayar mengelilingi Bumi karena planet biru ini bulat seperti bola. Pelayarannya memberikan bukti positif pertama bagi sains bahwa Bumi ini bulat.

Para pecinta Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, kerap berkeras bahwa orang pada zaman Perjanjian Lama ditulis sudah berpandangan bahwa Bumi ini bulat seperti bola. Sebagai sebuah teks bukti, mereka biasanya mengacu ke Yesaya 40:22, yang dalam Alkitab Terjemahan Baru LAI memuat frasa “bulatan bumi”. Kata Ibrani dalam teks Yesaya ini, yang diterjemahkan dengan “bulatan”, adalah חוּג (chug), dan kata ini tidak tepat jika diterjemahkan dengan “bulatan”, melainkan harus “lingkaran” atau “cakram”. Bandingkan kata Ibrani yang sama dalam Terjemahan Baru LAI dalam Ayub 22:14 (“lingkaran langit”) dan Amsal 8:27 (“kaki langit”). Yang dimaksud dengan chug dalam Yesaya 40:22 adalah suatu bentuk lingkaran cakram yang tipis, bukan suatu bentuk bola padat.

Juga harus diingat bahwa ketika orang yang hidup pada zaman Alkitab ditulis memandang Bulan dan Matahari di angkasa, mereka belum mampu berpikir bahwa kedua benda langit ini berbentuk bola, sebab yang langsung tampak kelihatan oleh mereka (dan juga oleh kita sekarang) dari Bumi adalah baik Bulan maupun Matahari berbentuk sebagai sebuah piring atau sebuah cakram tipis. Selain itu, mereka juga belum mampu berpikir bahwa kalau Bumi berbentuk bulat seperti bola, air laut di belahan belakang atau di belahan bawah bola Bumi tidak akan tumpah atau jatuh ke bawah. Kita yang hidup pada zaman modern saja, yang sudah mengenal daya gravitasi bumi, mampu berpikir bahwa air laut di belahan bumi lainnya tidak akan tumpah. Begitu juga, kalaupun Aristoteles melihat bayangan Bumi pada Bulan ketika terjadi gerhana, mungkin sekali dia tidak membayangkan Bumi ini berbentuk bola, tetapi, paling jauh, berbentuk sebuah piring atau sebuah lingkaran cakram tipis.

Beberapa abad sebelum Masehi, astrologi sudah berkembang luas di Babilonia, dan sistem penangggalan yang membagi satu minggu dalam tujuh hari sudah dikenal, dan sistim penanggalan inilah yang diambil alih oleh para penulis Kejadian 1:1-2:4a (Mazhab Imamat/Priester) ketika mereka mengasalkan sistem penanggalan ini pada penciptaan yang Allah mereka telah lakukan selama enam hari dengan hari ketujuh sebagai hari istirahat buat Tuhan Allah ini. Tidak jelas juga apakah dalam astrologi yang sudah berkembang ini, orang Babilonia sudah mampu memandang Bumi, Bulan dan Matahari serta semua planet lain yang sudah dikenal pada masa itu berbentuk bulat seperti bola.

Begitu juga, kalaupun Aristoteles melihat bayangan Bumi pada Bulan ketika terjadi gerhana, mungkin sekali dia tidak membayangkan Bumi ini berbentuk bola, tetapi, paling jauh, berbentuk sebuah piring atau sebuah lingkaran cakram tipis. Sebelum Aristoteles, seorang filsuf besar yang bernama Sokrates pada abad 4 SM sudah berpendapat bahwa Bulan itu terdiri atas bebatuan dan karang, sementara Ortodoksi Athena berpandangan bahwa Bulan adalah Dewa yang harus disembah. Kita tahu, pada 399 SM Sokrates menerima penghukuman mati dengan meminum racun di sebuah penjara negara di Athena dengan salah satu tuduhannya adalah bahwa dia mengajarkan ajaran-ajaran baru yang bertentangan dengan Ortodoksi Athena.

Kalaupun pada beberapa abad Sebelum Masehi sudah ada keyakinan bahwa Bumi, Bulan dan Matahari berbentuk bulat seperti bola, keyakinan ini tentu baru sebagai sebuah hipotesis yang belum terbukti secara empiris. Bahkan pada abad pertama, penulis teks Kisah Para Rasul pun masih berpikir bahwa Bumi ini memiliki “ujung” sehingga ditulislah olehnya sebuah perintah pekabaran Injil “sampai ke ujung Bumi” (KPR 1:8). Bahkan pada masa Ferdinand Magellan hidup (abad 15-16), Gereja Katolik Roma masih berpandangan bahwa Bumi ini ceper, sebuah pandangan yang justru dilawan olehnya.

Jadi, berterimakasihlah kepada Magellan, karena dialah orang pertama yang membuktikan bahwa Bumi ini berbentuk sebuah bola, yang di permukaannya darat dan samudera tertata dalam suatu keseimbangan alamiah.


Sunday, August 22, 2010

Problem Teodise (6): Penderitaan Muncul Karena Allah Jahat dan Memihak!

Bahkan kisah tentang penjatuhan tulah kesepuluh hanya pantas dipandang sebagai suatu takhayul tentang suatu Allah yang brutal dan sadistik
Teodise adalah suatu kepercayaan pada keadilan, kemahabaikan dan kemahakuasaan Allah YME terhadap umat yang menyembah-Nya. Dalam mencari problem teodise, adakah sesuatu yang relevan, yang dapat muncul dari kisah-kisah keluaran dari Mesir dalam kitab Keluaran?

Umumnya para pemakai Perjanjian Lama dengan tidak kritis memandang kisah eksodus dari Mesir beserta kisah-kisah sebelumnya tentang penimpaan sepuluh tulah kepada orang Mesir dalam kitab Keluaran 7-14 sebagai kisah-kisah nyata tentang Allah yang maha kuasa yang telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan konon selama 430 tahun di tanah Mesir (12:40). Di lingkungan gereja-gereja di Indonesia, tidak sedikit pendeta atau pastor atau pekabar injil memakai kisah-kisah eksodus ini dalam khotbah-khotbah mereka dalam ibadah memperingati hari kemerdekaan Indonesia pada setiap tanggal 17 Agustus. Meskipun sebetulnya sama sekali tidak ada kesejajaran antara peristiwa-peristiwa yang dikisahkan dalam bagian kitab Keluaran ini dan perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dari tangan imperialis Belanda, para pengkhotbah itu terus saja memakai kisah-kisah ini dalam khotbah-khotbah 17 Agustusan mereka!



problem Allah yang berat sebelah dalam teodise

Banyak pakar kajian kritis biblika dengan tepat meragukan bahkan menolak sama sekali historisitas semua peristiwa yang diceritakan dalam bagian kitab Keluaran ini, mulai dari penjatuhan sepuluh tulah sampai penyeberangan Laut Merah. Kalau orang membaca dengan teliti kisah penyeberangan Laut Merah ini, dia akan menemukan bahwa penyebab Laut Merah terbelah dua adalah “angin timur yang bertiup dengan keras” (14:21). Pikirkan saja minimal teks 14:21 ini. Jika air laut yang sangat besar volumenya, dan tentu saja juga dalam, bisa dibelah dua oleh angin timur ini semalam suntuk, kekuatan angin ini tentu sangat dahsyat. Nah, logika kita menyatakan, di tengah terjangan angin timur yang sangat dahsyat ini mustahil orang Israel (konon berjumlah 600.000 lelaki, belum termasuk anak-anak dan perempuan!) bisa dengan tenang dan mudah menyeberangi Laut Merah yang sudah terbelah dua! Jika mereka nekad masuk ke dalam terjangan dahsyat angin ini, mereka pasti akan ditiup terbang melayang bak daun-daun kering lalu jatuh dan mati! Jadi, dengan sedikit memikirkan bagian teks ini saja kita sudah bisa menyimpulkan bahwa kisah penyeberangan ini adalah suatu kisah fiktif.


Figur Musa dalam kisah-kisah ini—khususnya dalam kisah tentang pembelahan air Laut Merah menjadi dua sehingga seluruh orang Israel bisa melintasi laut ini dengan berjalan di tanah kering (Keluaran 14:15-31)— ditampilkan sebagai sosok heroik tiada taranya. Tak salah jika para ahli memandang seluruh kisah eksodus ini sebagai suatu epik suci yang ditulis bukan dengan tujuan untuk melaporkan suatu peristiwa sejarah faktual, melainkan untuk mengagungkan Nabi Musa sebagai sang nabi pemerdeka bangsa Israel dari kekuasaan orang Mesir yang telah terlalu lama menindas dan menyepelekan mereka. Kita tak perlu mencari-cari berbagai penjelasan alternatif untuk bisa menerima kisah-kisah ini sebagai kisah-kisah sejarah, misalnya, seperti diusulkan beberapa penafsir, bahwa yang orang Israel seberangi bukanlah Laut Merah, the Red Sea, tetapi the Reed Sea, Laut Alang-alang (Alkitab TB LAI: Laut Teberau) yang dangkal, yang pada waktu sedang surut dapat diseberangi dengan sangat mudah.



YHWH, Tuhan pencemburu yang berperang bagi Israel

Ya, kisah-kisah eksodus dari Mesir ini memberitakan tentang YHWH bangsa Israel sebagai Tuhan pembebas dan penolong yang telah berkarya dengan kemahakuasaan-Nya membawa Israel keluar dari tanah perbudakan. Nabi Musa dalam kisah-kisah ini tampil sebagai sang hero Israel tanpa tandingan selamanya, yang melalui kepemimpinannya dan kemampuannya membuat banyak mukjizat, Allah telah memerdekakan bangsa Israel dari cengkeraman tangan bangsa Mesir dan menjadikan mereka suatu bangsa merdeka yang kelak akan memiliki tanah sendiri. Oleh Allah sendiri, Nabi Musa “diangkat sebagai Allah bagi Firaun” (7:1). Ya, dalam kisah-kisah ini Allah tampil sebagai Allah yang maha baik dan maha kuasa yang telah melepaskan bangsa Israel dari penderitaan dan nestapa berat, yang dilukiskan telah “berperang melawan Mesir” demi membela orang Israel (14:14, 25). Jelas, dalam situasi dibela dan ditolong oleh Allah semacam ini, tidak ada problem teodise bagi bangsa Israel: YHWH mereka adalah YHWH yang mahakuasa, mahaadil, mahabaik dan mahapembebas, Tuhan yang telah memerdekakan mereka dari azab perbudakan.


Tetapi, jangan sekali-kali diabaikan, bagi orang Mesir, keluarnya bangsa Israel dari tanah mereka harus mereka bayar dengan begitu banyak penderitaan berat, mulai dari tulah pertama (seluruh air di Mesir berubah menjadi darah) sampai tulah kesepuluh (berupa kematian seluruh anak sulung orang Mesir dan seluruh anak sulung binatang)! YHWH Israel dilukiskan menjadi sang Dalang dari semua penderitaan bangsa Mesir! Tentu saja kisah-kisah penjatuhan sepuluh tulah itu terlalu fantastis untuk dapat diterima sebagai kisah-kisah sejarah faktual. Bahkan kisah tentang penjatuhan tulah kesepuluh hanya pantas dipandang sebagai suatu takhayul tentang suatu Allah yang brutal dan sadistik: Allah melewati rumah-rumah orang Israel karena pada kedua tiang pintu dan ambang atasnya telah diborehi darah anak domba jantan sehingga seluruh anak sulung orang Israel luput dari kematian; tetapi sebaliknya sang malaikat elmaut memasuki rumah-rumah orang Mesir karena rumah-rumah ini tidak ditandai oleh darah anak domba jantan lalu membunuh semua anak sulung Mesir, anak sulung manusia dan anak sulung hewan.


Pertanyaan pentingnya bukanlah apakah betul semua kisah eksodus ini kisah dongeng, melainkan: Apakah kita harus dengan senang memegang suatu teodise yang membuat kita yakin dan percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang mahakuasa, mahakasih, mahaadil dan mahapenolong, sementara untuk membuat kita mengalami semua kebaikan, kemahakuasaan, keadilan dan kasih Allah ini , sang Allah ini harus berlaku keras, jahat, keji dan penuh nafsu membunuh terhadap orang lain yang kita tidak senangi, yang kita nilai telah berbuat jahat dan tidak adil kepada kita? Orang lain ini bisa orang yang kita cap telah sesat dalam beragama, bisa orang yang menganut suatu paham ideologis berbeda, bisa umat beragama lain, bisa seorang homoseksual, bisa suku lain, atau pun bangsa lain. Apakah kita harus menerima suatu Allah yang memihak seseorang atau suatu bangsa tertentu, tetapi menjahati, menghancurkan dan membunuh seseorang lain atau suatu bangsa lain? Inilah sisi lain yang kelam dari satu mata uang logam teodise!



Mars (Ares), dewa perang bangsa Romawi,
konon dialah sang ayah Romulus dan Remus, para pendiri Roma

Tentu saja, karakter Allah yang semacam ini bukan diwahyukan, tetapi dikonsep oleh seseorang atau oleh suatu umat yang telah mengalami suatu kenyataan bahwa lawan-lawannya atau lawan-lawan umat ini telah kalah telak dalam suatu peperangan yang dilangsungkan di dalam nama Allah ini. Allah semacam ini dikonsep sebagai suatu Allah suku tertentu, yang menolak dan membenci suku-suku asing, dan yang akan mendatangkan penderitaan dan kebinasaan pada suku-suku asing ini jika mereka berbuat tidak adil terhadap suku atau umat milik-Nya sendiri. Dalam pengonsepan teologi yang jelek semacam ini, alam dan semua fenomenanya pun digambarkan memihak umat kesayangan Allah semacam ini, dan melawan musuh-musuh mereka.

Dan Allah xenofobis semacam ini makin terlalu jahat dan keji jika Dia dipandang sebagai sang Aktor utama yang membuat bangsa asing lainnya dan khususnya sang raja bangsa asing ini mengeraskan hati untuk terus berbuat tidak adil dan tidak baik terhadap bangsa atau umat kepunyaan Allah ini. Keadaan seperti ini terjadi pada Firaun, Raja Mesir, yang hatinya konon telah “dikeraskan oleh Allah” bangsa Israel dan mengakibatkan dia tidak mau melepaskan bangsa Israel meninggalkan tanah Mesir (Keluaran 7:3, 13; 8:15; 9:12; 10:1, 27; 11:10; 14:8; 14:17) sehingga ada suatu alasan untuk sang Allah ini berlaku jahat kepada seluruh orang Mesir! Apakah jalan diplomasi yang telah gagal harus diakhiri dengan suatu peperangan dan pertumpahan darah yang dilakukan oleh atau atas nama Allah bangsa Israel sendiri?

Kita harus tak puas dan harus tidak setuju pada suatu teodise yang di dalamnya Allah diubah menjadi suatu Allah suku atau Allah bangsa tertentu, yang dengan keji melenyapkan suatu suku atau bangsa lain yang Dia tidak sukai! Kita pada zaman sekarang dalam era globalisasi memerlukan bukan lagi suatu Allah suku, tetapi suatu Allah yang mengasihi seluruh umat manusia di muka bumi, suatu Allah yang bukan Allah partikular tetapi Allah yang universal. Allah yang universal semacam ini, yang menyayangi seluruh bangsa manusia, adalah Allah yang dipercaya si penulis kitab Yunus dalam kanon Perjanjian Lama (lihat khususnya Yunus 4:10-11).


Jika kita harus berpijak pada suatu moralitas universal yang membela kehidupan semua orang di seluruh muka Planet Bumi, maka kita harus berada di pihak korban; dan dari sudut pandang para korban, Allah sukuistik semacam ini harus dinilai sebagai suatu allah yang jahat dan keji, yang mendatangkan penderitaan dan kebinasaan atas orang-orang yang tidak berada di pihak-Nya dan tidak berada di pihak umat yang dibela-Nya.
Allah yang memihak semacam ini, adalah Allah yang menjadi sumber penderitaan dan azab umat manusia. Kalau semula bangsa Israel adalah korban perbudakan oleh pemerintah Mesir, maka ketika Allah mereka berpihak kepada mereka, mereka pun mengorbankan bangsa Mesir! Tindakan saling mengorbankan adalah suatu lingkaran setan yang harus diputus. Bukan tindakan semacam ini yang perlu kita lakukan, melainkan tindakan mencari dan mewujudkan rekonsiliasi terus-menerus antar pihak-pihak yang bersengketa. Suatu Allah sukuistik harus tidak boleh dibiarkan ikut campur dalam proses rekonsiliasi ini.

Orang yang taat beragama dan yang percaya pada teodise seringkali lupa bahwa ada orang lain yang dia telah buat menderita, sengsara dan binasa, dan perbuatan jahatnya ini dia legitimasi dengan suatu teologi tentang Allah yang berada di pihaknya dan yang melawan dan berperang terhadap orang lain yang dia tidak sukai, dan yang memberi dia kemenangan dan keselamatan di atas kekalahan dan kebinasaan orang lain! Teodise semacam ini sudah seharusnya dibuang jauh-jauh, dan agama yang mengajarkannya harus dikritik dengan keras dan ditolak. Parahnya, dengan menjamur dan menguatnya fundamentalisme religius di mana-mana, teodise semacam ini laku keras dan terus melahirkan orang beragama yang dikuasai nafsu untuk melumat dan membunuh orang lain yang berbeda atau yang dinilainya telah merugikan dirinya, sementara sangat meyakini bahwa Allahnya penuh kemurahan dan cinta kepada dirinya sendiri. Sebuah ironi, kekonyolan dan kedunguan yang timbul dari suatu teodise yang tidak seimbang!


by Ioanes Rakhmat


Wednesday, May 5, 2010

Problem Teodise (5): Penderitaan Timbul Supaya Allah Dimuliakan?

Jalan selanjutnya yang telah diusulkan untuk mengatasi problem teodise adalah memandang penderitaan ditimpakan allah karena allah ini mau kekuasaan dan kemuliaannya dinyatakan melalui dan di dalam penderitaan manusia dan dengan demikian manusia akan mengakui kekuasaan dan kemuliaan allah ini.

Dalam Injil Yohanes kita temukan sebuah episode di mana Yesus dikisahkan memecahkan problem teodise dengan sudut pandang ini. Bacalah Yohanes 9. Dituturkan di situ bahwa ketika murid-murid Yesus melihat seorang buta sejak lahirnya, mereka bertanya kepada Yesus, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (ayat 2). Pertanyaan ini menunjukkan pemahaman mereka bahwa penderitaan timbul karena dosa manusia, seperti telah diulas sebelumnya.

Tetapi Yesus menjawab mereka dengan suatu sudut pandang yang sama sekali lain, katanya, “Bukan dia dan juga bukan orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ayat 3). Lalu Yesus dengan cara-cara tertentu mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir ini. Jadi, “pekerjaan-pekerjaan Allah” yang dimaksudkan Yesus adalah tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa, yang sanggup mendatangkan mukjizat kesembuhan. Melalui mukjizat penyembuhan mata orang yang buta sejak lahir ini, Yesus tentu berharap orang banyak, dan khususnya si buta yang telah disembuhkan itu, akan mengakui kekuasaan allah lalu memuliakannya.

Apakah jalan keluar ini telah menyelesaikan problem teodise? Hemat saya, sama sekali tidak, malah menimbulkan persoalan-persoalan baru.

Pertama, kalau allah mendatangkan penderitaan kepada manusia supaya manusia mengakui kekuasaan allah lalu memuliakan diri allah ini di dalam penderitaannya ini, maka perilaku allah ini ibarat perilaku seorang ayah yang karena ingin kekuasaannya dan kehormatan atau kemuliaannya diakui anak-anaknya, ayah ini menyiksa anak-anaknya atau membawa anak-anaknya dengan paksa ke dalam penderitaan. Ayah macam apakah ini? Ya, jelas, ayah semacam ini bukanlah ayah yang baik, tetapi ayah yang karena gila kehormatan diri menjadi kejam. Allah semacam ini juga ibarat seorang raja lalim yang karena ingin rakyatnya mengakui kedaulatannya dan mau memuliakan dirinya, raja ini melakukan segala sesuatu yang dapat menyengsarakan rakyatnya. Sang raja ini berpikir dengan keliru bahwa kalau rakyatnya terus menerus disengsarakan olehnya, rakyatnya ini akan ketakutan kepadanya lalu tunduk tanpa daya. Anak atau rakyat yang diperlakukan dengan kejam oleh seorang ayah atau oleh seorang raja tentu akan lebih mungkin melawan dan memberontak ketimbang patuh. Jadi, jalan keluar ketiga ini ternyata malah menjadikan allah bukan sebagai sang bapak atau sang monarkh yang adil, bijaksana dan pengasih dan penyayang, melainkan sebagai sang bapak atau sang monarkh yang kejam dan sewenang-wenang.

Kedua, pemecahan ketiga ini problematis karena membuat orang yang sedang menderita bukan dengan rasional dan realistik mencari jalan-jalan sendiri untuk mengatasi penderitaannya, melainkan dengan pasif menunggu allah membuat mukjizat untuk melepaskan dirinya sepenuhnya dari penderitaan. Orang yang beriman kepada allah dengan segenap hati dan percaya total pada adanya mukjizat, seringkali mengabaikan kenyataan kehidupan dan tidak mau memakai otaknya untuk berpikir dengan benar. Ketika mukjizat yang ditunggu-tunggunya tidak terjadi, si mukmin yang sedang menderita ini kebanyakan malah bukan tunduk menghormati allah melainkan akhirnya mulai mengutuki allahnya. Selain itu, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan modern, semakin banyak orang tidak lagi mempercayai bahwa mukjizat itu dapat terjadi. Orang modern percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini tidak bisa melanggar hukum-hukum alam, kapanpun dan di manapun juga. Jadi tidak mungkin terjadi bahwa orang yang kedua matanya buta sejak lahir itu tiba-tiba menerima sepasang mata baru yang sehat walafiat karena kekuasaan allah. Sepasang mata bayi yang sehat saja, kita tahu, harus berproses melewati waktu panjang sebelum dapat digunakan untuk melihat dengan terang dan baik. Untuk mata bisa memahami objek yang dilihatnya, mata juga memerlukan proses edukasi yang memakan waktu panjang juga, yang harus dijalani si pemilik mata.

Ketiga, kita tahu kemampuan psikis dan fisikal manusia untuk menanggung penderitaan itu terbatas. Memang ada orang yang daya tahan psikis dan fisikalnya luar biasa besar ketika sedang menghadapi penderitaan dan deraan kehidupan. Tetapi, pada umumnya kebanyakan orang tidak dapat tahan lama-lama menanggung penderitaan. Penderitaan yang terlalu lama dialami dan terlalu menyiksa lebih mungkin membuat orang mengalami gangguan kejiwaan, lalu menjadi penghuni rumah sakit jiwa, ketimbang makin sanggup memuji allah.

Nah, dengan tiga alasan di atas cukuplah saya menyatakan bahwa problem teodise tidak dapat diselesaikan sekalipun orang mau menyatakan bahwa lewat penderitaan orang saleh allah mau menyatakan kekuasaan dan kemuliaannya.



Saturday, April 17, 2010

Problem Teodise (4):
Penderitaan Timbul Karena Dosa Manusia

Mengapa manusia, bahkan manusia yang sangat saleh, menderita dalam dunia ini kendatipun ada Allah yang dipercaya maha kasih, maha adil, dan maha kuasa? Jawaban yang keempat adalah: penderitaan itu dialami manusia sebagai suatu hukuman Allah atas dosa manusia. Karena manusia berdosa, maka Allah menghukum manusia dengan menimpakan kepadanya penderitaan dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai tingkatan. Jadi di sini, penderitaan dipahami berasal dari suatu allah penghukum.

Bahtera Nuh dan bianglala:
allah penyelamat sekaligus allah penghukum!


Kita semua tahu mitos tentang banjir besar atau air bah yang melanda seluruh bumi pada zaman Nabi Nuh. Bacalah sekali lagi Kejadian 7-9. Sebelum air bah ini didatangkan, Allah konon berkata kepada Nuh, demikian, “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kejadian 6:13). Bayangkan, semua makhluk telah melakukan tindakan dosa berupa kekerasan! Karena dosa berbuat kekerasan ini, semua makhluk mau dilenyapkan sang allah penghukum ini, bahkan sang Allah pemurka ini juga mau melenyapkan bumi! Penderitaan yang membinasakan ini ditimpakan oleh Allah kepada semua makhluk, bukan hanya kepada manusia, dan bahkan kepada bumi yang sebetulnya sebagai sebuah benda mati tidak bisa berbuat dosa. Di seluruh Alkitab, tidak ada kisah lain yang mendongengkan pembinasaan yang sekejam ini oleh Allah atau yang lebih kejam dari yang ditimpakan kepada generasi Nuh. Lupakan Nuh yang katanya sangat saleh; fokuskan pikiran pada segala makhluk dan bumi yang segera mau dibinasakan allah! Yang dibinasakan dan dihukum mati oleh allah jauh, jauh lebih banyak daripada yang diselamatkan!

Kita tidak boleh berkata, ya kan sudah pantas kalau Allah menghukum segenap manusia, bahkan segenap makhluk, karena semua makhluk ini, kecuali Nuh, sudah berbuat dosa! Mengapa kita tidak boleh berkata seperti itu? Mengapa kita tidak boleh mempertahankan teodise dengan memandang penderitaan manusia sebagai sesuatu yang timbul karena dosa manusia terhadap allah? Ada tiga alasannya.


Pertama, kalau Allah itu memang maha pengasih (seperti dipertahankan dalam teodise), maka Allah ini juga harus mengasihi manusia yang berdosa, bukan membinasakannya. Juga, kalau Allah maha adil, dia harus memberi peluang pada manusia berdosa untuk berubah menjadi baik, sebab keadilan Allah juga mengharuskan Allah menyelidiki segala penyebab yang membuat manusia berbuat dosa, dan menangani penyebab-penyebab ini sebagai akar yang menyebabkan manusia berbuat dosa.


Kedua, dengan berkata seperti itu, kita akan memandang semua orang yang terkena bencana dan penderitaan sebagai manusia berdosa atau manusia durhaka, padahal banyak penderitaan dan bencana dialami manusia di dunia ini bukan karena kesalahan manusia itu sendiri, melainkan karena sebab-sebab lain yang berada di luar kekuasaan mereka untuk mengelakkannya, misalnya karena kecelakaan atau bencana alam yang dahsyat yang menimpa baik orang yang saleh maupun orang yang tidak saleh, atau karena perbuatan jahat orang lain.


Ketiga, kalau kita berpandangan seperti itu, maka kita akan mempertahankan terus konsep tentang suatu allah yang kejam dan penghukum. Konsep tentang Allah yang kejam dan penghukum ini sudah tidak sesuai dengan filsafat pendidikan modern dan psikologi pembangunan mental manusia. Dalam pandangan modern, seorang yang bersalah atau berdosa, dalam peringkat relatif tinggi atau peringkat relatif rendah, bukan harus dibinasakan atau dibunuh melalui penghukuman mati, melainkan harus di-re-edukasi, di-re-formasi, lalu diresosialisasi. Kita dulu menyebut penjara, sekarang tidak lagi, melainkan menyebutnya Lembaga Pemasyarakatan Khusus sebagai suatu tempat untuk reedukasi, reformasi dan resosialisasi manusia yang melanggar norma-norma umum hidup bermasyarakat yang beradab.


Jadi, mempertahankan teodise dengan mengasalkan penderitaan manusia pada diri suatu allah penghukum atas manusia yang berdosa, menimbulkan persoalan serius pada konsep manusia tentang allah. Dalam teodise yang semacam ini, allah menjadi allah penghukum, dan allah yang semacam ini jauh kalah baik jika dibandingkan manusia modern yang mau melakukan reedukasi, reformasi lalu resosialisasi terhadap warga masyarakat yang sudah menyimpang dari kaidah-kaidah bermasyarakat yang beradab.


Jelas, kita sulit menerima konsep tentang suatu allah penghukum dan pembinasa manusia yang berdosa. Allah yang semacam ini lebih banyak dikonsep oleh manusia primitif yang belum mengenal filsafat pendidikan humanistis dan psikologi modern pembangunan mental dan akhlak manusia.

Sunday, April 4, 2010

Problem Teodise (3):
Penderitaan sebagai "Kawah Candradimuka"

Gatot Kaca, putera Bima dan Dewi Arimbi.
Konon Gatot Kaca digodok di Kawah Candradimuka


Problem ketiga teodise muncul ketika orang beragama menyatakan bahwa seorang mukmin mengalami penderitaan karena dia sedang mengalami ujian atau pencobaan allah lewat penderitaannya itu. Penderitaan berat ini bisa ditimpakan oleh allah sendiri langsung kepadanya atau bisa juga oleh suatu perantara lain yang dipakai allah untuk mengujinya.

Dalam sudut pandang ini, penderitaan berat dilihat sebagai suatu “Kawah Candradimuka” yang ke dalamnya seorang mukmin dilemparkan untuk menggodoknya menjadi seorang mukmin yang tangguh setelah dia lulus ujian dan penggodokan. Dalam kebudayaan berbagai suku bangsa ada banyak kisah sejenis kisah Kawah Candradimuka. Konon, menurut epik Mahabharata, Kawah Candradimuka adalah kawah tempat para dewa merebus Gatotkaca sampai dia jadi bak bertulang besi, berotot kawat, dan kebal terhadap segala senjata, bahkan bisa terbang pula seperti sebuah pesawat Jet. Dalam kisah-kisah tentang dunia persilatan dari negeri Tirai Bambu, sang suhu konon sengaja menggojlok calon muridnya dengan memberi tugas-tugas sangat berat yang semula kelihatannya tak ada hubungannya dengan ilmu silat yang sedang dicari si calon murid. Ternyata semua tugas berat yang sebetulnya sangat mendera si calon murid, mulai dari memikul dua tong air besar bolak-balik sekian puluh kali setiap hari dari sebuah sumur ke suatu tempat lain yang jauh, sampai makan hanya boleh satu kali sehari berupa segenggam nasi, adalah semacam Kawah Candradimuka tempat penggodokan mental dan jasmani si calon murid sebelum dia belajar ilmu silat yang sebenarnya.

Tentu kita sepakat bahwa di dalam Perjanjian Lama terdapat sebuah kitab yang seluruhnya sebenarnya adalah sebuah narasi fiktif tentang teodise, yang menggambarkan penderitaan sebagai suatu ujian terhadap kesalehan seseorang. Yakni Kitab Ayub. Konon Ayub adalah seorang yang “saleh, jujur, takut akan tuhan dan menjauhi kejahatan” (1:1,8; 2:3), dan tidak ada seorang lain pun di bumi yang seperti dia (1:8b; 2:3). Tuhan allah sangat memuji diri Ayub di hadapan Iblis. Tetapi Iblis berpendapat lain; menurutnya Ayub dapat sangat saleh karena dia mendapat banyak sekali berkat material dari allah dan karena allah juga selalu membentenginya. Iblis menantang allah untuk mengambil kembali semua berkat material ini dari Ayub, bahkan juga mengambil nyawa semua anaknya, yakni tujuh putera dan tiga puteri. Jikalau allah melakukan hal ini, maka, kata Iblis, Ayub akan pasti mengutuki allah (1:11).

Lalu allah mengizinkan Iblis untuk melenyapkan semua kepunyaan Ayub, kecualinya nyawanya sendiri. Ternyata allah benar, penderitaan berat kehilangan semua miliknya tidak membuat Ayub mengutuki allah. Ditulis bahwa “dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh allah berbuat yang kurang patut” terhadap dirinya (1:22). Jadi, Ayub lulus ujian berat, dan imannya semakin teruji dan tergodok. Dalam kedukaan dan perkabungannya, Ayub sanggup berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dan dengan telanjang pula aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (1:21).

Iblis ternyata tidak berhenti di situ saja. Kali lain, ketika Iblis berada di hadapan allah dan allah kembali memuji-muji Ayub (2:3), Iblis menyatakan bahwa jika allah mengulurkan tangan dan menjamah tulang dan daging Ayub, maka Ayub akan pasti mengutuki allah (2:5). Kali ini kembali allah menyerahkan diri Ayub ke dalam kekuasaaan Iblis, kecuali nyawa Ayub. Maka Iblis pun menimpakan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batok kepalanya (2:7). Melihat keadaan yang menimpa Ayub ini, yang terus-menerus menggaruk-garuk badannya dengan sekeping beling sambil duduk di tengah-tengah abu, isteri Ayub berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah allahmu dan matilah!” (2:9). Dengan luar biasa Ayub menjawab isterinya, katanya, “Engkau berbicara seperti seorang perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (2:10).

Tetapi setelah itu, ketika ketiga sahabatnya mendatangi Ayub dan membuka percakapan panjang dengannya, Ayub anehnya berubah total. Sahabat-sahabat Ayub mempertahankan bahwa allah selalu benar dan selalu adil dalam setiap tindakannya terhadap orang-orang yang saleh, karena allah selalu bermaksud mendidik mereka (5:17), dan bahwa tidak seorang pun dapat “menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa” (11:7; 37:23). Dalam pandangan mereka, allah akan membinasakan orang-orang fasik, dan bukan orang saleh, dan penderitaan yang menimpa Ayub terjadi karena dosa Ayub yang besar (22:1-10). Tetapi bagi Ayub, ketiga temannya ini adalah “tabib-tabib palsu” (13:4), para “penghibur sialan” (16:2) yang berkata-kata dengan “tipu daya” (21:34), yang sedang “menghina dan menyiksa dirinya” (19:3).

Di hadapan mereka, Ayub mulai mengutuki hari kelahirannya (3:1-12). Ayub meminta agar allah segera melepaskan tangannya dan menghabisi nyawanya (6:9). Ayub bertanya apa dosa yang telah diperbuatnya kepada allah sehingga allah menjadikan dirinya sasarannya (7:20). Kata Ayub, orang “yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan Allah” (9:22). Tetapi Ayub membantah allah, katanya, “Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku” (10:2, 7), dan menegaskan dengan yakin bahwa dirinya benar, tidak bersalah dan tidak berdosa (13:18, 23; 31:1-40). Ayub menyatakan allah bermaksud membunuh dirinya, tetapi dia menyatakan bahwa dia mau membela perilakunya di hadapan allah (13:15). Dalam penderitaannya Ayub melihat bahwa Allah sedang “menerkam dan memusuhinya” (16:9; 19:11) dan “merobek-robek dan menyerang dirinya” (16:14). Di hadapan para pembela allah itu, Ayub menegaskan bahwa “allah telah berlaku tidak adil dan telah menebarkan jala” terhadap dirinya (19:6; 27:2) dan telah meninggalkannya (29:5) serta telah menghancurkan dan membawanya kepada maut (30:22-23), sementara orang-orang fasik dibiarkan allah hidup dalam kemakmuran, kesenangan dan keamanan dan berumur panjang (21:1-15). Karena itu, Ayub menyatakan pemberontakannya terhadap Allah yang semacam ini (23:2).

Nah, sekarang kita perlu bertanya, apakah penderitaan berat yang dizinkan allah ditimpakan kepada Ayub oleh Iblis telah berfungsi sebagai Kawah Candradimuka, yang menggodok dan semakin mematangkan kesalehan Ayub kepada Allah? Apakah setiap penderitaan berat sebagai suatu ujian dan cobaan dari allah akan pasti dapat ditanggung seorang mukmin dalam batas-batas kekuatannya, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Perjanjian Baru bahwa “pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab allah setia dan karena itu dia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Korintus 10:13 )? Ternyata tidak!

Dalam penderitaannya, Ayub memberontak kepada allah! Iman dan kesalehannya hancur lebur ketika didapatinya allah begitu kejam terhadap dirinya. Bukankah Ayub memang berhak “berontak” dan “mengutuki” allah karena allah telah sampai hati menyebabkan sepuluh anak kandungnya tewas dengan mengerikan? (1:18-19). Allah yang mengizinkan Iblis menghancurkan seluruh kehidupan Ayub dirasakan oleh Ayub sendiri sebagai suatu allah yang telah menyerang dan menghancurkan dirinya. Baginya, allah yang semacam ini bukan lagi allah yang maha pengasih dan maha penyayang dan maha pelindung. Allah yang semacam ini adalah allah yang tidak bermoral, yang tidak tahu membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk; dan karena sifatnya yang tidak bermoral ini, allah yang semacam ini tidak bisa merasakan betapa buruk dan kejinya penderitaan berat yang dialami Ayub atas izin dan kehendaknya!

Kesimpulannya: memandang suatu penderitaan berat sebagai sebuah ujian iman dan kesalehan yang dikenakan allah terhadap seorang mukmin memerlukan suatu konsep tentang allah yang tidak bermoral dan suka bertindak sewenang-wenang. Betapa tidak! Ayub telah menjadi seorang korban dari allah yang suka bermain-main dengan Iblis sebagai simbolisasi kejahatan dan kondisi kehidupan tanpa moralitas! Tentu seorang mukmin bisa menjadi lebih dewasa lewat kesulitan-kesulitan yang dialami dalam kehidupannya. Kita tentu setuju dengan hal ini. Tetapi apa yang dialami Ayub bukanlah sekedar suatu kesulitan yang bisa makin mendewasakan dirinya, tetapi sebuah bencana, deraan dan kehancuran total kehidupan yang didatangkan allah yang semula disembahnya!

Anda yang mengenal Kitab Ayub mungkin akan berkeberatan terhadap kesimpulan di atas, dengan menyatakan bahwa pada akhirnya allah tokh memulihkan kesehatan Ayub dan mengembalikan dua kali lipat semua kekayaan yang pernah dimilikinya, termasuk memberikannya kembali sepuluh anak (42:7-17). Keberatan semacam ini dapat dijawab dengan dua poin berikut. Pertama, tuturan Ayub 42:7-17 ini tidak bisa dijadikan sebagai suatu alasan untuk mengabaikan dan menihilkan penderitaan berat Ayub dan perlawanannya sebelumnya kepada allah ketika dia menderita sakit luar biasa dan telah kehilangan segalanya. Sebuah tindak malpraktek seorang dokter tetap harus membuat dirinya dituntut secara hukum kendatipun si pasien yang menjadi korban kemudian tertolong! Kedua, penulis Kitab Ayub mau mempertahankan sebuah teodise bahwa allah yang maha kuasa, maha berdaulat dan maha perkasa atas segenap ciptaannya berhak menimpakan penderitaan kepada Ayub (38:1-41:25) karena penderitaan berat dari allah dimaksudkan allah untuk mendidik Ayub, dan Ayub dipaksa harus bisa menerima tindakan allah ini (42:1-7). Bagi si penulis Kitab Ayub, problem teodise tidak ada, sebab allah yang mahakuasa berhak berbuat apa saja, termasuk bertindak keji, terhadap semua ciptaannya, termasuk terhadap manusia yang beriman kepadanya. Jika memang demikian, ini adalah suatu teodise yang sangat mengerikan dan gagal mempertahankan sifat maha kasih allah, dan sebaiknya jika suatu agama mengajarkan teodise semacam ini, orang yang berpikiran sehat tidak perlu memeluk agama jenis ini.



Monday, March 29, 2010

Problem Teodise (2):
Penderitaan Muncul Karena Allah Bersembunyi!

Elie (=Eliezer) Wiesel, novelis termashyur, di bln Januari 2009. Kata Wiesel, ketika jutaan orang Yahudi dibunuh di kamp-kamp konsentrasi Nazi dalam era PD II, Allah Yahudi telah ikut terbunuh sehingga bangsa Yahudi disengsarakan tanpa Allah penolong

Sebuah jalan keluar lain dari problem teodise dapat ditemukan dalam gambaran Alkitab tentang Allah yang menyembunyikan diri dari kehidupan orang saleh. Selama Allah masih bersama dengan orang saleh, Allah berfungsi sebagai suatu benteng atau sebuah perisai yang melindungi mereka dari segala penderitaan, penganiayaan dan semua musuh (lihat antara lain 2 Samuel 22:2-4; Mazmur 18:3-4; Yeremia 16:19a). Jika Allah menyingkir dari orang saleh, maka orang saleh ini rentan diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat kodrati maupun adikodrati, yang membuat mereka tersiksa dan teraniaya.

Dari kisah fiktif dalam Perjanjian Lama tentang Ayub yang sangat saleh, kita tahu bahwa penderitaan menerpa Ayub tak habis-habisnya ketika Allah menyingkir dari kehidupan Ayub dan Setan dibiarkan Allah berkuasa atas dirinya (Ayub 1:12; 2:6). Selama Ayub masih dalam penjagaan dan perlindungan allah, Ayub sukses besar dan makmur dalam segala segi kehidupannya. Ketika Allah menarik diri dan menjauh dari Ayub, sekian azab menghancurkan seluruh kehidupan Ayub.

Penulis Mazmur 89:47-52 dengan berat mengeluh bahwa dia menerima berbagai macam penghinaan dari segala bangsa ketika Allah bersembunyi dari dirinya terus-menerus. Penulis Mazmur 10:1 bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, Ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?”

Dalam suatu momen kegiatannya selaku seorang nabi Allah, nabi Yesaya sampai menyatakan bahwa Allah telah menyembunyikan diri-Nya (Yesaya 45:15), mungkin karena bangsa Israel tidak bisa melihat bagaimana Allah mereka bekerja, sehingga mereka tidak bisa melihat tangan Allah Yang Maha Esa (45:5, 14) sedang menggerakkan Koresh, Raja Persia, sebagai Mesias pilihan Allah sendiri (44:28; 45:1, 13).

Menurut penulis Injil Markus, ketika Yesus menanggung azab di kayu salib, di manakah Allah yang Yesus biasa panggil dengan akrab sebagai sang Abba, sang Bapa? Menurut penulis injil ini, ketika Yesus mengerang kesakitan di kayu salib, Allah telah meninggalkan dirinya, sehingga Yesus pun menderita sendirian. Dalam kesakitannya, Yesus berteriak keras kepada Allahnya ini, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang artinya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34). Yesus sengsara di kayu salib karena Allah telah menyingkir darinya. Seandainya Allah masih bersama Yesus, dia tidak akan mati disalibkan. Yesus di sini, dalam tuturan Markus, terperangkap dalam sebuah problem teodise: Mengapa Allah meninggalkan orang yang saleh seperti dirinya ini sehingga dia menderita?

Pada waktu bangsa Yahudi dianiaya dan dibantai oleh rezim Hitler yang berkuasa atas negeri Jerman dari 1933 sampai 1945 selama Perang Dunia II, orang Yahudi bergumul amat sangat di mana Allah mereka berada. Sekian jawaban diberikan oleh bangsa Yahudi, oleh para ahli teologi mereka. Kita kenal Elie Wiesel. Dia adalah seorang Yahudi yang selamat dari Holokaus setelah masuk ke kamp-kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Buna, Buchenwald dan Gleiwitz, yang kemudian termashyur di dunia melalui novel-novelnya, khususnya melalui satu novel pertamanya tentang Holokaus yang berjudul Night, dan seorang peraih Hadiah Nobel Perdamaian pada 1986. Apa kata Wiesel tentang di mana Allah berada ketika jutaan orang Yahudi dianiaya, disengsarakan dan dibunuh oleh Nazi? Dalam suatu bagian novel Night ini, Wiesel bukan hanya menyatakan Allah tersembunyi, tetapi Allah sungguh-sungguh telah terbunuh. Tulisnya, “Tak kan pernah kulupakan momen-momen itu yang telah membunuh Allahku dan jiwaku dan mengubah mimpi-mimpiku menjadi debu.” Ya, bagi Wiesel, Allah telah tiada, karena terbunuh, sehingga bangsa Yahudi menderita azab besar tanpa penolong!

Dengan menyatakan bahwa Allah tidak hadir, bahwa Allah menjauh, bahwa Allah bersembunyi, bahwa Allah telah terbunuh, maka penderitaan yang menimpa orang-orang saleh jelas tidak dapat diasalkan pada diri Allah ini. Penderitaan dialami orang saleh bukan karena Allah yang menimpakannya kepada mereka. Bukan! Tetapi karena ada kekuatan-kekuatan lain yang dengan bebasnya menyengsarakan umat, tanpa bisa dihentikan oleh Allah karena Allah memang sedang tidak hadir di tempat ketika penderitaan menerjang umat Allah. Apakah argumen semacam ini berhasil mengatasi problem teodise, dan tidak menimbulkan sejumlah problem lain? Hemat saya, tidak, berdasarkan beberapa alasan berikut.

Pertama, kalau Allah bisa tersembunyi, bisa tidak hadir, bisa tiada, maka hilanglah sifat maha hadir dan maha penolong Allah yang sebetulnya ingin dipertahankan dengan kuat dalam teodise.

Kedua, kalau Allah bisa tidak hadir, dan sebagai ganti diri-Nya ada kekuatan-kekuatan lain yang jahat, yang sedang berkuasa atas diri umat Allah, maka hilanglah juga sifat maha kuasa Allah.

Ketiga, kalau karena Allah bersembunyi umat menjadi sengsara atau rentan terhadap serangan penderitaan, maka Allah yang semacam ini dapat diibaratkan sebagai seorang ayah yang tidak bertanggungjawab, tega hati dan pengecut, yang lari bersembunyi ketika anak-anaknya sedang atau akan dianiaya orang-orang jahat. Konsep tentang Allah yang semacam ini sama sekali tidak bisa diperdamaikan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mau ditegakkan dalam suatu masyarakat yang bertanggungjawab.

Keempat, orang ateis adalah orang yang menyatakan bahwa Allah tidak ada. Kalaupun para agamawan berpendapat bahwa Allah memang ada pada diri-Nya sendiri, orang ateis tidak memerlukan Allah ini sebagai sang pelindung maha kuasa mereka. Dari 6, 78 milyar penduduk dunia dalam dekade pertama abad XXI ini, 1,1 milyar adalah orang ateis. Apakah semua orang ateis dalam jumlah sangat besar ini dengan demikian tidak terlindung dan karenanya akan selalu didera kekuatan-kekuatan jahat sehingga mereka sengsara? Kenyataannya tokh tidak demikian! Artinya: ketidakhadiran Allah tidak otomatis akan menimbulkan penderitaan bagi manusia. Manusia pada dirinya sendiri dan melalui sains dan teknologi dapat melindungi diri dari banyak bentuk penderitaan. Ketidakhadiran Allah malah bisa membuat orang makin mandiri, makin dewasa dan makin tegar dalam menjalani kehidupan dalam dunia ini.

Kelima, jika seorang saleh menginginkan kehidupannya terbebas dari segala bentuk penderitaan dengan terus-menerus meminta Allah tetap hadir untuk melindungi dirinya, maka bisa terjadi si orang saleh ini akan menolak semua bentuk perlindungan dan pertolongan yang dapat diupayakan manusia melalui sains dan teknologi modern. Banyak sekali orang saleh di dunia ini dengan fanatik (baca: dengan bodoh) menolak pertolongan medis apapun karena mereka hanya bergantung pada Allah mereka melalui doa-doa dan ritual-ritual mereka untuk kesembuhan penyakit mereka atau penyakit sanak famili mereka. Akibatnya, ya dari antara mereka atau dari antara sanak famili mereka banyak yang mati karena “iman” yang bodoh dan tidak cerdas! Supaya hal buruk ini tidak terjadi, orang beriman perlu menyadari dan menerima bahwa “iman kepada Tuhan” itu memiliki batas-batas yang tidak boleh dilewati, jika mereka menginginkan kehidupan yang sehat.

Keenam, ihwal hadir atau tidak hadirnya Allah sebetulnya bukan ditentukan oleh diri Allah itu sendiri, tetapi ditentukan sendiri oleh manusia secara subjektif dalam teologi yang dikonsepnya sendiri. Bisa terjadi dalam suatu bencana dahsyat, seorang mukmin akan mengklaim bahwa dia merasa Allah ada di tengah kehidupannya, sementara seorang mukmin lainnya akan menyatakan bahwa Allah telah meninggalkan dirinya. Jadi, hemat saya, daripada memperdebatkan apakah Allah hadir atau Allah absen di dalam suatu kesulitan yang sedang menimpa manusia, jauh lebih konstruktif jika kita semua mau bertindak secara rasional untuk mengatasi berbagai macam penderitaan yang sedang menimpa umat manusia melalui berbagai macam kerja nyata kita di dalam masyarakat.

Ketujuh, jika kehadiran dan penyertaan Allah dipercaya sebagai sumber semua kemakmuran, kesenangan dan keberhasilan, maka konsep teologis semacam ini bisa berbahaya buat kehidupan etis manusia. Bahayanya di mana? Bahayanya: orang bisa berpura-pura melupakan bahwa harta kekayaan yang mereka miliki sebenarnya bersumber dari tindak pidana korupsi atau perbuatan melanggar hukum lainnya; lalu, sebagai gantinya, mereka akan mengklaim bahwa semua harta kekayaan dan sukses mereka itu diperoleh sebagai berkat-berkat Allah yang maha baik dan maha hadir dalam kehidupan mereka. Jadi, di sini teologi dibuat untuk melegitimasi perbuatan tidak bermoral.

Itulah tujuh masalah yang muncul jika problem teodise mau diselesaikan dengan konsep tentang Allah yang tersembunyi atau tidak hadir.